You are on page 1of 16

LKK 2 BLOK 15 PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN, KOREKSI TAJAM

PENGLIHATAN DAN PEMBUATAN RESEP KACAMATA

2.1 Landasan Teori


Ketajaman penglihatan sentral diukur dengan memperlihatkan sasaran dengan berbagai
ukuran yang terpisah pada jarak standar dari mata. Setiap baris pada Snellen chart ditandai
sebuah angka yang disesuaikan dengan jaraknya, dalam satuan kaki atau meter, dan semua
huruf dalam baris itu dapat dibaca oleh mata normal. Setelah didapatkan visus kedua mata,
dapat dilakukan koreksi apabila visus tidak normal. Menentukan koreksi visus dilakukan
dengan pemeriksaan refraksi menggunakan trial lens hingga didapatkan visus normal.

2.1 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 2 Blok XV FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Pasien simulasi
4. Kursi
5. Trial frame
6. Trial lens
7. Snellen Chart
8. Pinhole
9. Senter

2.2 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam kepada pasien.
2. Memperkenalkan diri sebagai dokter yang bertugas.
3. Menanyakan identitas pasien.
4. Menjelaskan tujuan dan meminta izin pasien.
5. Ruang pemeriksaan harus dengan penerangan cukup.
6. Pasien duduk pada jarak 6 m (20 kaki) menghadap lurus Snellen chart dengan
pandangan mata setinggi bagian tengah dari Snellen chart.
Gambar 1. Cara pemeriksaan visus dengan Snellen Chart
Sumber: www.health.allrefer.com

7. Jika pasien memakai kacamata/lensa kontak, maka minta pasien untuk melepasnya.
8. Biasakan untuk memeriksa mata kanan terlebih dahulu dan minta pasien untuk
menutup mata yang satu dengan menggunakan telapak tangan atau dengan alat (trial
frame + occluder).
9. Pasien diminta untuk melihat lurus ke depan dengan santai.
10. Pasien dipersilahkan untuk membaca huruf/gambar yang terdapat pada Snellen chart,
dari yang paling besar (dari atas) sampai pada huruf/gambar terkecil yang masih
dapat terlihat oleh mata pasien.
11. Jika pasien hanya dapat melihat huruf pada Snellen chart dibaris 5/20, artinya pasien
hanya dapat melihat pada jarak 5 m yang pada orang normal dapat dibaca dari jarak
20m (visus 5/20)
12. Apabila penderita tak dapat melihat huruf/gambar terbesar yang terdapat pada Snellen
chart, maka kita mempergunakan hitung jari.
13. Penderita diminta untuk menghitung jari pemeriksa (satu jari atau dua jari) yang
diletakkan secara horizontal di depan tubuh pemeriksa. Pemeriksa mulai pada jarak 1
m, lalu mundur sampai posisi 2 m di depan pasien, dan seterusnya sampai posisi 6 m.
Jika penderita dapat melihat pada jarak 1m, maka visus dinyatakan dalam 1/60 (dapat
melihat jari pada jarak 1 meter, yang pada orang normal dapat dilakukan pada jarak
60 m).
14. Apabila penderita tak dapat menghitung jari, maka dipergunakan lambaian tangan
pemeriksa pada jarak 1 m. Jika penderita dapat mengidentifikasi arah gerak lambaian
tangan pemeriksa, maka visus dinyatakan 1/300.
15. Apabila lambaian tangan tak terlihat oleh penderita, maka kita periksa visusnya
dengan cahaya (sinar baterai). Apabila pasien dapat melihat sinar tersebut maka visus
dinyatakan dalam 1/~ (satu per tak terhingga). Kemudian sinar diarahkan ke empat
kuadran penglihatan (atas, bawah, kiri, kanan) dan minta pasien menyebutkan arah
datangnya sinar tersebut. Apabila pasien dapat menjawab dengan benar, maka
visusnya dinyatakan dalam 1/~ , proyeksi sinar benar. Bila pasien menjawab salah,
maka visus dinyatakan dalam 1/~ , proyeksi sinar salah.
16. Bila penderita tidak dapat mengidentifikasi cahaya senter maka visus dinyatakan nol
(NLP = no light perception).
17. Setelah diketahui visus kedua mata, dilakukan koreksi dengan trial lens.
18. Pada mata dipasang trial frame, satu mata ditutup dengan occluder (penghalang).
19. Lensa negatif/positif terkecil dipasang pada bingkai.
20. Penderita kembali diminta membaca huruf/gambar pada Snellen chart sampai baris
terbawah.
21. Bila masih belum dapat membaca baris terbawah, lensa diganti dengan ukuran yang
lebih besar, hingga penderita dapat membaca baris terbawah Snellen chart (visus 6/6).
22. Lakukan hal yang sama pada kedua mata.
23. Setelah didapatkan ukuran lensa negatif/positif dengan koreksi terbaik pada kedua
mata, penderita diminta membaca huruf/gambar pada baris terbawah Snellen chart
dengan kedua mata terkoreksi.

2.4 Interpretasi Hasil


a. Visus mata kiri (VOS): normal (6/6), tidak normal (sebutkan nilai visusnya).
b. Visus mata kanan (VOD) : normal (6/6), tidak normal (sebutkan nilai visusnya).
c. Koreksi kelainan refraksi (bila ada): sebutkan jenis lensa dan ukurannya.
LKK 3 BLOK 15 : PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG, TEKANAN BOLA MATA, DAN
FUNDUSKOPI

A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan pemeriksaan lapang pandang mata dengan metode konfrontasi.
2. Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata dengan metode digital (palpasi).
3. Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata dengan menggunakan tonometer Schiotz.
4. Melakukan pemeriksaan funduskopi.
a. Mempersiapkan pasien dan alat.
b. Melakukan pemeriksaan funduskopi pada posisi yang benar.
c. Melakukan interpretasi terhadap hasil yang didapatkan pada funduskopi.

B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG MATA
1.1 Landasan Teori
Perimetri adalah suatu teknik untuk memeriksa lapangan pandang perifer dan sentral. Teknik ini
dilakukan terpisah untuk masing-masing mata, bertujuan untuk mengukur fungsi retina, nervus
optikus (N. II), dan jalur visual intrakranial secara bersama. Sensitivitas penglihatan paling besar di
pusat lapangan bersangkutan dan paling kecil di perifer. Perimetri tergantung pada respons pasien
secara subyektif dan hasilnya akan tergantung pada status psikomotor dan status penglihatan pasien.
Perimetri harus selalu dilakukan dan ditafsirkan dengan mengingat hal tersebut.
Ada 2 metode dasar penyajian sasaran dalam perimetri, yaitu:
1. Perimetri statik
Sebuah objek yang sulit, misalnya cahaya lemah, disajikan pertama kali di lokasi tertentu. Jika
tidak terlihat, ukuran atau intensitas cahaya secara bertahap dinaikkan sampai dapat dideteksi oleh
pasien. Hal serupa dilakukan di lokasi-lokasi lain sehingga sensitivitas cahaya berbagai titik dalam
lapangan dapat dinilai dan digabungkan membentuk profil dari lapangan visual.
2. Perimetri kinetik
Mula-mula diuji sensitivitas seluruh lapangan terhadap satu objek uji, dengan ukuran dan
kecerahan yang tetap, yang digerakkan perlahan-lahan dari perifer ke sentral. Batas daerah
terlihatnya objek uji tersebut oleh pasien disebut isopter. Makin besar isopter, makin baik lapangan
pandang mata itu.
Dalam latihan keterampilan klinik kali ini yang akan dilakukan adalah perimetri kinetik.

1.2 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 2 Blok XV FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Pasien simulasi
4. Kursi
5. Objek (stik hitam dengan ujung berwarna putih berukuran 3mm)

1.3 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien.
2. Menanyakan identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan.
4. Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan.
5. Pemeriksa dan pasien duduk berhadap-hadapan dengan jarak 60 cm.
6. Bila pemeriksa atau pasien memakai kacamata, harus dilepaskan. Pemeriksa dianggap memiliki
lapang pandang normal.
7. Meminta pasien untuk menutup mata kanannya dengan telapak tangan kanan dan pemeriksa
menutup mata kiri dengan telapak tangan kiri.
8. Pandangan mata masing-masing terfiksasi ke pangkal hidung lawannya.
9. Pemeriksa menggerakkan objek (Spidol white board) secara perlahan, dari perifer ke sentral
pasien.
10. Pemeriksa menggerakkan objek (Spidol white board) secara perlahan, dari atas ke sentral pasien.
11. Pemeriksa menggerakkan objek (Spidol white board) secara perlahan, dari bawah ke sentral
pasien.
12. Dalam setiap pemeriksaan no. 4, 5, 6, pasien diminta mengatakan atau memberi tanda bila sudah
dapat melihat objek tersebut.
13. Bandingkan lapang pandang pasien dengan pemeriksa.
14. Lakukan penilaian pada mata sebelahnya dengan langkah yang sama.

1.4 Interpretasi Hasil


Lapang pandang pasien: normal, melebar, atau menyempit bila dibandingkan dengan pemeriksa.

2. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN TEKANAN BOLA MATA


2.1 Landasan Teori
Tonometri adalah cara pengukuran tekanan cairan intraokuler dengan memakai alat terkalibrasi
yang melekukkan atau meratakan apeks kornea. Makin tegang mata, makin besar gaya yang
diperlukan untuk mengakibatkan lekukan. Ada tiga jenis tonometri, yaitu:
1. Palpasi
Metode ini praktis karena tidak membutuhkan alat apapun namun bersifat subjektif sehingga
tidak bisa diandalkan untuk hasil yang akurat.
2. Schiotz
Tonometer Schiotz mengukur besarnya indentasi kornea yang dihasilkan oleh beban atau
gaya yang telah disiapkan. Makin lunak mata, makin besar lekukan yang diakibatkan pada
kornea. Makin kencang mata, makin kurang lekukan kornea. Metode ini praktis karena
alatnya kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana.
3. Applanasi
Dengan tonometer ini tekanan mata ditentukan oleh beban yang diberikan untuk meratakan
kornea. Pada tekanan intraokuler yang lebih rendah, lebih sedikit beban tonometer yang
dibutuhkan untuk mencapai derajat standar perataan kornea dibandingkan dengan tekanan
intraokuler yang lebih tinggi. Metode ini kurang praktis karena alatnya menempel pada
slitlamp, namun hasilnya lebih akurat.

2.2 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 2 Blok XV FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Pasien simulasi
4. Tempat tidur pemeriksaan
5. Anestesi lokal (pantokain tetes mata)
6. Tonometer Schiotz
7. Beban tonometer Schiotz 7,5 gram dan 10 gram
8. Kapas alkohol
9. Alat tera tonometer Schiotz
10. Tabel tekanan bola mata

2.3 Langkah Kerja


2.3.1 Pemeriksaan Secara Palpasi
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien.
2. Menanyakan identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan.
4. Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan.
5. Penderita dan pemeriksa dalam posisi duduk berhadap-hadapan.
6. Meminta pasien untuk melirik ke bawah.
7. Kedua jari telunjuk pemeriksa melakukan palpasi pada palpebra superior mata kanan
penderita. Setelah itu periksa mata kiri penderita.
8. Pemeriksa menentukan apakah terjadi kenaikan tekanan pada bola mata penderita dengan
menginterpretasikan ketegangan pada sklera dengan menggunakan kedua ujung jari telunjuk
pemeriksa.

Gambar 2. Cara pemeriksaan tonometri dengan palpasi


Sumber: www.betterplace.org

2.3.2 Tonometri Schiotz.


1. Melakukan persiapan yaitu kedua mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi
lokal (pantokain 1 tetes). Bila rasa sakit pada mata telah hilang, baru boleh dilakukan
pemeriksaan.
2. Dilakukan peneraan tonometer pada alat tera.
3. Tonometer dipasangi beban 7,5 gram.
4. Tonometer didesinfeksi dengan alkohol.
5. Penderita diminta tidur telentang.
6. Mata penderita yang akan diperiksa diminta melihat lurus ke atas tanpa berkedip.
7. Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati tepat di atas kornea penderita.

Gambar 3. Cara melakukan pemeriksaan tonometri Schiotz


Sumber: www.medindia.net
8. Pemeriksa membaca angka yang ditunjuk oleh jarum tonometer.
9. Pemeriksa mencocokkan angka yang ditunjukan oleh tonometer dengan tabel tekanan bola
mata.

2.4 Interpretasi Hasil


Pemeriksaan tekanan bola mata:
a. Penilaian metode palpasi (subjektif):
N = tekanan bola mata normal
N+1, N+2, N+3 = tekanan bola mata tinggi (teraba lebih keras)
N-1, N-2, N-3 = tekanan bola mata rendah (teraba lebih lunak)
b. Penilaian metode Schiotz: tekanan bola mata normal 10 21 mmHg

3. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN FUNDUSKOPI


3.1 Landasan Teori
Tujuan dari pemeriksaan funduskopi adalah untuk melihat dan menilai keadaan dan kelainan
fundus okuli. Fundus okuli adalah bagian sebelah dalam bola mata di bagian posterior (dasar bola
mata). Prinsip pemeriksaan ini adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan memberikan
reflek fundus sehingga gambaran pada fundus dapat dilihat yaitu macula lutea, papilla Nervus II, dan
pembuluh darah retina. Bila kita akan memeriksa fundus secara ideal maka sebaiknva pupil
dilebarkan dulu dengan tetes mata midriatikum.
Retina dapat diperiksa dengan oftalmoskop langsung atau tidak langsung. Dengan alat-alat
tersebut, pemeriksa yang ahli mampu memisahkan lapisan-lapisan retina untuk menentukan jenis,
tingkat dan luas penyakit retina. Manfaat oftalmoskop langsung adalah untuk pemeriksaan fundus.
Oftalmoskop langsung yang dipegang tangan menghasilkan pembesaran bayangan monokuler dari
media dan fundus mata. Karena mudah dibawa dan menghasilkan rincian pandangan diskus dan
vaskulatur retina, oftalmoskopi langsung merupakan bagian standar pemeriksaan medis umum selain
pemeriksaan oftalmologi.

3.2 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 3 Blok XV FK UMP
2. Pasien simulasi, yang telah dipastikan tidak menderita glaukoma.
3. Tetes mata midriatikum
4. Oftalmoskop

Gambar 4. Oftalmoskop (Sumber: www.halmapr.com)


5. Kursi
6. Ruang periksa dokter dalam keadaan gelap

3.3 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien.
2. Menanyakan identitas pasien (nama, umur, alamat, pekerjaan).
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan pada pemeriksaan ini.
4. Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan.
5. Apabila pasien mengizinkan, maka persiapkanlah alat dan bahan yang akan digunakan.
6. Pasien duduk dalam kamar gelap.
7. Mata pasien ditetesi dengan tetes mata midriatikum sebanyk 1-2 tetes.
8. Pemeriksa keadaan refraksinya harus emetrop. Bila pemeriksa memakai kacamata maka
harus dilepaskan terlebih dahulu. Kemudian pemeriksa memutar roda lensa pada oftalmoskop
sesuai dengan keadaan refraksinya. Contoh koreksi refraksi pada oftalmoskop:

Pemeriksa Pasien Keterangan


Emetrop Miopia -2 D Roda lensa diputar ke arah S - 2
Emetrop Hipermetropia + 3 D Roda lensa diputar ke arah S +3
Miopia -2 D Hipermetropia +4 D Roda lensa diputar ke arah S +2

9. Pemeriksa duduk/berdiri di samping pasien.


10. Meminta pasien untuk melihat ke arah telinga pemeriksa.
11. Bila mata kanan pasien yang akan diperiksa, maka pemeriksa memegang oftalmoskop dengan
tangan kanan dan melihat fundus mata dengan mata kanan pula.
Gambar 5. Cara melakukan funduskopi
Sumber: www.article.wn.com

12. Pemeriksa mengamati :


a. Papila Nervus II
b. Macula lutea
c. Pembuluh darah retina

Gambar 6. Gambaran yang tampak dengan funduskopi


Sumber: www.drugline.org

13. Lakukan pemeriksaan funduskopi pada mata kiri pasien dengan oftalmoskop di tangan kiri
pemeriksa dan dilihat dengan mata kiri pemeriksa.

3.4 Interpretasi Hasil


1. Papila Nervus II: adakah edema papil, atrofi papil, ekskavasi fisiologis

Gambar 7. Edema papil Gambar 8. Atrofi papil


Sumber: www.eye-web.org Sumber: www.lookfordiagnosis.com
2. Makula lutea: - Reflek fovea (+) bila terlihat cahaya.
- Reflek fovea (-) bila terlihat suram (kemungkinan terjadi edema atau inflamasi).
3. Pembuluh darah retina:
a. Arteri : lurus, berwarna merah terang, ukuran lebih kecil.
b. Vena : lebih berkelok-kelok, warna lebih tua dibanding arteri, ukuran lebih besar.
c. Kelainan pembuluh darah : adakah eksudat, crossing phenomenon.
LKK 4 BLOK 15: ANAMNESIS KELAINAN TELINGA DAN PEMERIKSAAN OTOSKOPI

A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan anamnesis kelainan telinga.
2. Melakukan pemeriksaan telinga dengan menggunakan otoskop dan corong telinga.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR ANAMNESIS KELAINAN TELINGA
1.1 Landasan Teori
Anamnesis adalah kesimpulan hasil wawancara mengenai penyakitnya dengan pasien dan
atau orang lain yang mengetahui tentang sakitnya (autoanamnesa dan alloanamnesa). Berikut ini
adalah langkah-langkah anamnesis mengenai beberapa kelainan telinga yang sering dijumpai di
masyarakat.

1.2 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 4 Blok XV FK UMP
2. Pasien simulasi
3. Ruang periksa dokter

1.3 Langkah Kerja


Lakukan role play dokter dan pasien dengan contoh kasus yang telah disediakan berikut ini:
1. Gangguan pendengaran
a. Mendadak/tidak
b. Unilateral/bilateral
c. Terus menerus/hilang timbul
d. Bertambah/berkurang.
e. Adakah hubungan dengan penyakit lain
f. Riwayat penyakit telinga sebelumnya
g. Riwayat penyakit sistemik/penggunaan obat
2. Tinitus
a. Mendengung nada tinggi, mendesis, pulsatif
b. Terus-menerus/hilang timbul
c. Setelah mendengar suara keras
3. Vertigo
a. Rasa berputar
b. Mual, muntah, tinitus, gangguan pendengaran
c. Lama dan frekuensi serangan
d. Terus-menerus/hilang timbul
e. Riwayat penyakit telinga
f. Adanya penyakit umum: DM, hipertensi, dll
4. Sekret telinga
a. Sifat sekret
b. Ada rasa sakit
c. Lama terjadinya
d. Periodik atau terus-menerus
e. Infeksi lain dari saluran nafas atas
f. Ada bau atau tidak
5. Nyeri telinga
a. Sifat nyeri
b. Berulang atau tidak
c. Nyeri menetap di telinga atau ada penyebaran
d. Adakah gejala pada kepala, leher, dan lainnya

1.4 Kesimpulan
Menyimpulkan hasil anamnesis menjadi kemungkinan-kemungkinan diagnosis, apakah mengarah ke
kelainan telinga atau tidak.

2. PANDUAN BELAJAR PEMERIKSAAN TELINGA


2.1 Landasan Teori
Untuk pemeriksaan telinga ada dua cara, yaitu dengan mata telanjang untuk melihat keadaan
dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retro-aurikuler), tanda radang atau bekas
operasi. Cara selanjutnya dengan menggunakan otoskop untuk melihat liang telinga dan membrana
timpani.

1.2 Media Pembelajaran


1. Penuntun LKK 4 Blok XV FK UMP
2. Pasien simulasi
3. Ruang periksa dokter
2. Otoskop
3. Lampu kepala
4. Corong telinga
5. Aplikator untuk kapas
6. Pengait serumen
7. Pisau bayonet
8. Pinset bayonet

2.3 Langkah Kerja


1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri kepada pasien.
2. Menanyakan identitas pasien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan.
4. Meminta izin pasien untuk melakukan pemeriksaan telinga.

a. Persiapan Pasien:
a. Meminta pasien untuk duduk tegak lurus dengan kepala condong ke depan.
b. Untuk melihat telinga kiri, kepala pasien diputar ke kanan dan sebaliknya.

b. Teknik Pemeriksaan Telinga dengan menggunakan lampu kepala dan corong


telinga:
a. Lampu ditaruh di kepala.
b. Sinar lampu di fokuskan ke arah telinga yang akan diperiksa.
c. Jari I dan II tangan kiri memegang daun telinga yang akan diperiksa.
d. Pasang corong telinga di liang telinga kanan dan telinga kiri, secara bergantian.
e. Melakukan penilaian terhadap liang telinga dan membrana timpani.

c. Teknik Pemeriksaan Telinga dengan menggunakan Otoskopi:


a. Jari I dan II tangan kiri memegang daun telinga yang akan diperiksa.
b. Melakukan pemeriksaan telinga kanan dan kiri secara bergantian dengan
menggunakan Otoskopi menggunakan tangan kanan untuk melihat membrana
timpani.
c. Melakukan penilaian.

www.treathb.com www.sciencephoto.com

Gambar Cara melakukan pemeriksaan otoskopi

2.4 Interpretasi Hasil


Melakukan penilaian terhadap membran timpani:
a. warna : pink pucat (normal), merah (radang), putih (sklerosis)
b. refleks cahaya: (+) atau (-)
c. kontur: normal, bulging, perforasi, retraksi
Gambar Membran tympani normal
Sumber: www.otoscopy.hawkelibrary.com

TES GARPU TALA

Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu secara
kualitatif dengan menggunakan alat berupa seperangkat garpu tala frekuensi rendah
sampai tinggi 128 HZ-2048 Hz.
Satu perangkat garpu tala memberikan skala pendengaran dari frekuensi rendah hingga
tinggi akan memudahkan survei kepekaan pendengaran. Cara menggunakan garpu tala
yaitu garpu tala di pegang pada tangkainya, dan salah satu tangan garpu tala dipukul
pada permukaan yang berpegas seperti punggung tangan atau siku.

Ada berbagai macam tes garpu tala , diantaranya:


1. Tes Rinne
3. Tes Weber
4. Tes Schwabach

TES RINNE

Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada telinga yang
diperiksa.

Cara Pemeriksaan :
Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, letakkan tangkainya tegak lurus pada planum
mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar, kemudian
cepat pindahkan ke depan MAE penderita. Apabila penderita masih mendengar garpu
tala di depan MAE disebut Rinne positif. Bila tidak mendengar disebut Rinne negatif.

Interpretasi :
- Normal : Rinne positif
- Tuli konduksi : Rinne negatif
- Tuli sensori neural : Rinne positif

TES WEBER

Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita

Cara Pemeriksaan :

Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus
di garis median, biasanya di dahi (dapat pula pada vertex, dagu atau pada gigi
insisivus) dengan kedua kaki pada garis horisontal. Penderita diminta untuk
menunjukkan telinga mana yang tidak mendengar atau mendengar lebih keras . Bila
mendengar pada satu telinga disebut laterisasi ke sisi telinga tersebut. Bila kedua
telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar berarti tak ada laterisasi.

Interpretasi :
- Normal : Tidak ada lateralisasi
- Tuli konduksi : Mendengar lebih keras di telinga yang sakit
- Tuli sensorineural : Mendengar lebih keras pada telinga yang sehat

TES SCHWABACH

Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dengan pemeriksa


yang pendengarannya normal
Cara pemeriksaan :
garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus
pada planum mastoid pemeriksa, bila pemeriksa sudah tidak mendengar, secepatnya
garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Bila penderita masih mendengar maka
schwabach memanjang, tetapi bila penderita tidak mendengar, terdapat 2 kemungkinan
yaitu Schwabah memendek atau normal.
Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik, yaitu tes pada penderita
dulu baru ke pemeriksa.
Garpu tala 512 dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita,
bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada
mastoid pemeriksa, bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal, bila
pemeriksa masih masih mendengar berarti schwabach penderita memendek.

Interpretasi :
- Normal : Schwabach sama dengan pemeriksa
- Tuli konduksi : Schwabach memanjang
- Tuli sensorineural : Schwabach memendek