You are on page 1of 9

Benteng adalah tempat pertama di mana pada cincin pertama dimana kegiatan administratif koloni

berlangsung. Fasilitas lain yang mendukung kekuatan kekuasaan Belanda yang termasuk didalam
benteng adalah barak tentara, rumah bagi pegawai yang telah menikah, gereja, sekolah, dan
gudang. Berdekatan dengan pelabuhan, pada cincin spasial kedua, adalah tempat tinggal bangsa
keturunan Eropa, yang terdiri dari rumah bata dengan pekarangan luas (Gambar l7.9). Cincin
spasial ketiga adalah kawasan perdagangan. Di kawasan ini ekonomi kapitalisme modern yang
kokoh dilakukan untuk mengeduk sumber kekayaan tanah koloni. Cincin kawasan perdagangan
terdiri dari kantor-kantor dagang dan toko-toko. Kawasan ini berdekatan dengan kawasan
pelabuhan dan kawasan administratif. Ketiga kegiatan yang saling menunjang terletak disepanjang
tepian pantai. Pada kawasan perdagangan selain berdiri gedung perusahaan dagang juga terdapat
toko

toko kelontong dan jasa milik masyarakat asing Eropa maupun Asia. Sebagian besar dari toko-
toko yang juga merangkap sebagai tempat tinggal sebagian besar dikuasai oleh keturunan Cina,
India,

Benteng adalah tempat pertama di mana pada cincin pertama dimana kegiatan administratif koloni
berlangsung. Fasilitas lain yang mendukung kekuatan kekuasaan Belanda yang termasuk didalam
benteng adalah barak tentara, rumah bagi pegawai yang telah menikah, gereja, sekolah, dan
gudang. Berdekatan dengan pelabuhan, pada cincin spasial kedua, adalah tempat tinggal bangsa
keturunan Eropa, yang terdiri dari rumah bata dengan pekarangan luas (Gambar l7.9). Cincin
spasial ketiga adalah kawasan perdagangan. Di kawasan ini ekonomi kapitalisme modern yang
kokoh dilakukan untuk mengeduk sumber kekayaan tanah koloni. Cincin kawasan perdagangan
terdiri dari kantor-kantor dagang dan toko-toko. Kawasan ini berdekatan dengan kawasan
pelabuhan dan kawasan administratif. Ketiga kegiatan yang saling menunjang terletak disepanjang
tepian pantai. Pada kawasan perdagangan selain berdiri gedung perusahaan dagang juga terdapat
toko

toko kelontong dan jasa milik masyarakat asing Eropa maupun Asia. Sebagian besar dari toko-
toko yang juga merangkap sebagai tempat tinggal sebagian besar dikuasai oleh keturunan Cina,
India,

atau Arab. Kegiatan perdagangan eceran yang didominasi toko-toko keturunan asing menjadikan
kawasan perdagangan disebut kampung Cina atau Pecinan, kampung Arab dan kampung India.
Selain bangunan pertokoan di kawasan perdagangan juga berlokasi pasar tradisional. Berbagai
hasil laut dan hasil bumi dari hinterland kota dipasarkan di pasar (Gambar 17.10).

Benteng adalah tempat pertama di mana pada cincin pertama dimana kegiatan administratif koloni
berlangsung. Fasilitas lain yang mendukung kekuatan kekuasaan Belanda yang termasuk didalam
benteng adalah barak tentara, rumah bagi pegawai yang telah menikah, gereja, sekolah, dan
gudang. Berdekatan dengan pelabuhan, pada cincin spasial kedua, adalah tempat tinggal bangsa
keturunan Eropa, yang terdiri dari rumah bata dengan pekarangan luas (Gambar l7.9). Cincin
spasial ketiga adalah kawasan perdagangan. Di kawasan ini ekonomi kapitalisme modern yang
kokoh dilakukan untuk mengeduk sumber kekayaan tanah koloni. Cincin kawasan perdagangan
terdiri dari kantor-kantor dagang dan toko-toko. Kawasan ini berdekatan dengan kawasan
pelabuhan dan kawasan administratif. Ketiga kegiatan yang saling menunjang terletak disepanjang
tepian pantai. Pada kawasan perdagangan selain berdiri gedung perusahaan dagang juga terdapat
toko

toko kelontong dan jasa milik masyarakat asing Eropa maupun Asia. Sebagian besar dari toko-
toko yang juga merangkap sebagai tempat tinggal sebagian besar dikuasai oleh keturunan Cina,
India,

atau Arab. Kegiatan perdagangan eceran yang didominasi toko-toko keturunan asing menjadikan
kawasan perdagangan disebut kampung Cina atau Pecinan, kampung Arab dan kampung India.
Selain bangunan pertokoan di kawasan perdagangan juga berlokasi pasar tradisional. Berbagai
hasil laut dan hasil bumi dari hinterland kota dipasarkan di pasar (Gambar 17.10).

Kebijakan membagi tata ruang kota berdasarkan etnis atau rasial menghasilkan suasana
pemukiman dan bentuk bangunan unik dan berkarakteristik, terutama di pemukiman etnis
CinaArsitektur rumah toko dan klenteng adalah dua bentuk arsitektur bangunan yang menonjol di
kawasan ini. Konsep F eng-shui yang berasal dari negeri asalnya seperti tata letak, bentuk
bangunan, bahan bangunan dan warna diterapkan didalam merancang bangunan di kawasan
Pecinan. Pola ruang dalam untuk tempat tinggal dan bekerja serta ruang terbuka atau halaman
dalam (inner court yard) antara bangunan memberikan arsitektur yang adaptif dengan lingkungan.
Atap berujung runcing di sudut sisinya, wama fasade serta ornamen yang indah dari bangunan-
bangunan menjadikan Pecinan sebagai salah satu kawasan kota yang karakteristik dan ben'dentitas
sampai saat ini (Gambar 17.11).

Benteng adalah tempat pertama di mana pada cincin pertama dimana kegiatan administratif koloni
berlangsung. Fasilitas lain yang mendukung kekuatan kekuasaan Belanda yang termasuk didalam
benteng adalah barak tentara, rumah bagi pegawai yang telah menikah, gereja, sekolah, dan
gudang. Berdekatan dengan pelabuhan, pada cincin spasial kedua, adalah tempat tinggal bangsa
keturunan Eropa, yang terdiri dari rumah bata dengan pekarangan luas (Gambar l7.9). Cincin
spasial ketiga adalah kawasan perdagangan. Di kawasan ini ekonomi kapitalisme modern yang
kokoh dilakukan untuk mengeduk sumber kekayaan tanah koloni. Cincin kawasan perdagangan
terdiri dari kantor-kantor dagang dan toko-toko. Kawasan ini berdekatan dengan kawasan
pelabuhan dan kawasan administratif. Ketiga kegiatan yang saling menunjang terletak disepanjang
tepian pantai. Pada kawasan perdagangan selain berdiri gedung perusahaan dagang juga terdapat
toko

toko kelontong dan jasa milik masyarakat asing Eropa maupun Asia. Sebagian besar dari toko-
toko yang juga merangkap sebagai tempat tinggal sebagian besar dikuasai oleh keturunan Cina,
India,
|

atau Arab. Kegiatan perdagangan eceran yang didominasi toko-toko keturunan asing menjadikan
kawasan perdagangan disebut kampung Cina atau Pecinan, kampung Arab dan kampung India.
Selain bangunan pertokoan di kawasan perdagangan juga berlokasi pasar tradisional. Berbagai
hasil laut dan hasil bumi dari hinterland kota dipasarkan di pasar (Gambar 17.10).

Kebijakan membagi tata ruang kota berdasarkan etnis atau rasial menghasilkan suasana
pemukiman dan bentuk bangunan unik dan berkarakteristik, terutama di pemukiman etnis
CinaArsitektur rumah toko dan klenteng adalah dua bentuk arsitektur bangunan yang menonjol di
kawasan ini. Konsep F eng-shui yang berasal dari negeri asalnya seperti tata letak, bentuk
bangunan, bahan bangunan dan warna diterapkan didalam merancang bangunan di kawasan
Pecinan. Pola ruang dalam untuk tempat tinggal dan bekerja serta ruang terbuka atau halaman
dalam (inner court yard) antara bangunan memberikan arsitektur yang adaptif dengan lingkungan.
Atap berujung runcing di sudut sisinya, wama fasade serta ornamen yang indah dari bangunan-
bangunan menjadikan Pecinan sebagai salah satu kawasan kota yang karakteristik dan ben'dentitas
sampai saat ini (Gambar 17.11).

Tersebar di sekitar kawasan perdagangan terdapat pemukiman penduduk pribumi yang


menyambung kehidupannya secara tradisional. Melampaui cincin ketiga ruang kota. terhampar
kebun penduduk pribumi dan juga beberapa bangunan industri. Lingkungan yang khas. sektor
kegiatan modern dan tradisional dan cara hidup yang terjadi di cincin kawasan perdagangan dan
perkampungan, membentuk suatu lanskap bentuk kehidupan kota dualistik (Geertz, 1960). Model
kehidupan dualistik adalah pola tipikal dari kegiatan sosial dan ekonomi di kota-kota kolonial.
yang diekpresikan pada kehidupan lingkungan perkotaan (McGee. 1967). Pola kehidupan dualistik
im hampir dapat ditemui

di setiap kota-kota kolonial. baik kota koloni Belanda, Inggris, Spanyol. Portugis. maupun
Perancis

di Asia Tenggara.

Bentuk bangunan pemukiman pribumi di kota-kota kolonial juga memberikan warna tersendiri.
Bangunan-bangunan vernakular di kampung perkotaan yang beradapatasi dengan iklim setempat
membentuk pola bentuk kota yang karakteristik pula. Kampung Tugu dan Kampung Condet di
Batavia adalah salah satu permukiman pribumi yang memberi warna bentuk kota Jakarta. Bentuk
bangunan vernakular memberikan sumbangan yang besar pada arsitektur Indische" yang
berkembang pada masa kolonial. Kondisi tempat tinggal yang berbeda antara bangsa Eropa,
Oriental, dan penduduk pribumi di dalam kota yang mulai memburuk menjadi perhatian penguasa,
Kondisi lingkungan tersebut berkaitan dengan masalah-masalah kota lainnya yang timbul. Sebagai
hasilnya, suatu Undang-undang Desentralisasi ditetapkan pada tahun 1903. Undang-undang
Desentralisasi adalah batu loncatan dari demokratisasi dari pemerintahan Hindia Belanda.
Dibawah Undang Desentralisasi pada tahun 1905, Batavia ditetapkan sebagai pemerintahan kota
pertama di Hindia Belanda. Sejumlah kota pemerintahan dan kabupaten ditetapkan pada tahun-
tahun berikutnya. Pada tahun 1918, terdapat 18 pemerintah kota dan 78 kabupaten di koloni.
Sebagai konsekwensinya pembentukan pemerintah kota, pekerjaan administratif kawasan
dipindah ke pemerintahan lokal.

Selanjutnya, perumahan dan perancangan kota menjadi tugas-tugas pekerjaan teknis seperti
pemeliharan jalan dan jembatan, pengelolaan sanitasi dan kebersihan, air penyediaan bersih,
pengeloan pasar, menjadi tanggung-jawab penting bagi pemerintah kota. Pemerintah kota sadar
akan keadaan buruk penduduk pribumi pada beberapa kawasan kota, tetapi tugas utamanya adalah
melayani kawasan tempat tinggal masyarakat Belanda. Dengan demikian, kebanyakan rencana
pembangunan baru di kota adalah mengakomodasi kawasan tempat tinggal bangsa Eropa.
Tindakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pribumi kurang atau bahkan tidak ada
sama sekali. Selama masa kolonial pemerintah kota sangat kurang memperhatikan tentang kondisi
kehidupan penduduk pribumi di dalam kampung-kampung. Tingkat kualitas lingkungan di
kampung-kampung dapat dengan jalan yang tidak beraspal, tidak adnya penerangan jalan,
kurangnya air bersih, kurangnya fasiltas pendidikan dan kesehatan, serta taman-taman umum.

Untuk melayani kegiatan kemiliteran dan sosial masyarakat pemerintah kota di masa kolonial
membangun lapangan hijau. Pola pembangunan sarana kota ini mengadaptasi pola yang ada di
kotakota asal mereka dan pola alun-alun yang berasal dari kota-kota prakolonial. Karena untuk
kegiatan latihan kemiliteran kebanyakan lapangan hijau terletak di kawasan milter. Di kawasan ini
lapangan hijau merupakan satu kesatuan sarana kota dengan sarana militer lainnya seperti kantor,
barak prajurit, rumah sakit, gudang senjata serta peralatan, dan rumah perwira. Beberapa lapangan
hijau kota masa kolonial saat ini masih dapat dijumpai di beberapa kota militer seperti Magelang,
Malang, Cimahi, Medan, Bandung, dan lain-lainnya. Selain digunakan sebagai tempat kegiatan
latihan kemiliteran, beberapa lapangan. dan taman kota yang dibangun pemerintahan Hindia
Belanda. Taman-taman kota tersebut digunakan untuk kegiatan olah raga, dan rekreasi
masyarakat. Kegiatan masyarakat kota tersebut masih berlangsung sampai saat ini seperti dapat
dilihat di lapangan Weltevreden yang menjadi lapangan Banteng. lapangan Koningsplein yang
menjadi lapangan MONAS di Jakarta, lapangan Karebosi di Makassar. lapangan Merdeka di
Medan. dan lapangan kota-kota kolonial lainnya (Gambar 17.12).

. w." _US)!

, akan untuk kegiatan militer, lapangan kota juga dlrti olahraga pasar malam di;

/i Si ai digugcrbagai kegaitan sosial diadakan di lapangan ?!wa untuk meb xii? m!


Limp. Bagi masyarakat kecil, disekitar lapangan 1 n dangan pohon di &ka

Ki Fla isi/asia] ai kegiatan informal dilalukan diantra dan dibawah rian beberapa kegiatan seh/ir
(:i/ilmouit 9614).le minuman, makanan, dan tukang potong rambut ada ian besar masih dapat kii
[tinggi] Pem . 'umpai pada masa tersebut dan sampai sekarang sebag ii _ Ua bekas kota-kota
kolonial. ll at dl angan ia? __ ! i': ' ,, e. * &", . :? ;p; ": ' " ' , " a & iri * ' ' ' . & ,. ? JAMI-'
__ _ % <= ." 5 <: 1 ** ' Q'. IC: ! LEgmlh '! ' .is 1:59:32: ur-J wa-k " " if" "': '. , : g; x .
'. . * I " ' 4 4 / tk ] 3% (_ % :/ Lp'ch'sgll: a_n-', Sae ;--i. i' 1.

Gambar 17.12 (kiri ke kanan searahjammjam): Ruang terbuka pada masa kolonial. Susana di
anngan Wlteweden sekarang lapangan Banteng

dan lapangan Koningsplein sekarang Lapangfm MONAS di Jakarta, lapangan Karebosi di


Makassar, dan alun-alun kota Samarang (KITLV, 2008)

Meskipun demikian, suasana harmonis ini lambat laun hilang di bekas kota-kota kolonial saat ini.
Peremajaan lapangan kota yang tujuannya imtuk keindahan kota telah menggusur sebagian
pedagang sektor informal ke tempat yang telah disediakan oleh penguasa kota. Sebagian lainnya
mencari tempat yang sifatnya strategis bagi kegiatan mereka. Fenomena ini dapat kita lihat jalan
utama, kawasan pertokoan, sekolah, rumah sakit, kantor, dan di tempat kesibukan lainnya di kota.
Pembangunan kota-kota Hindia Belanda secara luas, pada masa kekuasaan Belanda, tidak subur
tanpa kekuatan birokrasi dan partisipasi arsitek-arsitek Belanda. Beberapa arsitek Belanda datang
ke koloni untuk berpartisipasi dalam pambangunan gedung-gedung sebagai hasil kegiatan
ekonomi pada masa masa liberalisasi yang mulai pada tahun 1870. Praktek dari langgam
lndische pada arsitektur dan perancangan kota yang diadopsi pada abad XVI berkembang pada
beberapa kota melalui keterlibatan arsitek dan perancang kota bangsa Belanda. Sebagai contoh,
berdasarkan pernyataan Wertheim (1957), suatu tipikal kota Indische" digambarkan dengan baik
di Kromoblanda: On the Question

Selain digunakan untuk kegiatan militer, lapangan kota juga digunakan untuk kegiatan sosial bagi
masyarakat. Berbagai kegaitan sosial diadakan di lapangan seperti olahraga, pasar malam dan
kegiatan sosial lainnya. Bagi masyarakat kecil, disekitar lapangan dimanfaatkan untuk melakukan
ekonomi. Berbagai kegiatan informal dilalukan diantra dan dibawah kerindangan pohon di
sekeliling lapangan. Penjual minuman, makanan, dan tukang potong rambut adalah beberapa
kegiatan sektor informal yang kita jumpai pada masa tersebut dan sampai sekarang sebagian besar
masih dapat kita

lihat di lapangan bekas kota-kota kolonial.

of Living Conditions dalam Kromois' Vast Country oleh H.F. Tillema (Wiryomartono, 1995). Pola
tata ruang dipetakan dengan penyatuan antara administratif lokal dan kolonial melalui manifestasi

struktur lapangan utama (Gambar 17.13).

Pada akhir abad XIX dan berlanjut pada awal abad XX, beberapa arsitek Belanda mulai aktif
menyumbangkan gagasan-gagasan mereka didalam membentruk arsitektur kolonial pada beberapa
kontruksi bangunan dan perancangan kota oleh permintaan pemerintah, penguasa dan sektor
privat. Kebanyakan dari arsitek, disamping mewarisi gagasan Barat dalam rancangannya mereka,
seperti Kota Taman, perlahan-lahan mereka tertarik kepada budaya dan kearifan lokal melalui
pengalaman didalam merancang gedung. Berbagai gedung pemerintah, struktur komersial, pabrik-
pabrik, sekolah,
dan tempat tinggal yang saat ini masih berdiri adalah hasil rancangan mereka.

Beberapa pekerjaan mereka masih terdapat di kota-kota di Jawa maupun di luar pulau Jawa.
Sebagai contoh, suatu model Kota Taman dan prinsip lokal diekspresikan pada rencana-rencana
kota baru. Kota-kota ini. berisi rumah-rumah yang berkarakteristik dengan langgam arsitektur
Art Deco atau arsitektur dekoratif. Rumah-rumah langgam tersebut dengan halaman luas masih
nampak pada

beberapa kota-kota di Hindia Belanda (Gambar 17.14).

Patut menjadi catatan sumbangan para arsitek dari sekolak pendidikan tinggi Belanda yang
mengabdi pada pemerintah dan yang berkarya untuk mencari nafkah di Hindia Belanda
mempunyai pengaruh cukup besar didalam perkembangan arsitektur dan perancangan kota.
Terdapat beberapa arsitek dan perancangan kota Belanda yang hasil karya mereka masih dapat
dinikmati sampai saat ini di beberapa kota (Dana, 1990, Wiryomartono, 1995, Sukada, 1998,
Sumalyo, 199; Heuken dan Pamungkas, 2001 ). Tiap arsitek mempunyai corak arsitekur tersendiri
didalam menuangkan gagasannya didalam merancang bangunan dan kota. Meskipun setiap arsitek
mempunyai karateristik tersendiri didalam menggunakan prinsip-prinsip dari Barat, unsur lokal
dalam arsitektur Indische tetap muncul dalam perancangan mereka Konsep perencangan
fungsionalisme dari Barat mereka terapkan didalam beradaptasi dengan linglnmgan tropis lembab.
Rancangan-rancangan bangunan mereka juga di serasikan dengan bidang kesehatan lingkungan.
Pada bangunan dengan pembukaan lebar, langit-langit tinggi, kisi-kisi udara, serta penahan sinar
matahariSelokan-selokan lebar serta taman-taman yang luas dan rindang mereka bangun agar
supaya masyarakat dapat hidup nyaman dan sehat.

Salah satu perancang kota turunan Belanda yang banyak berkarya dalam merancang kota di
Hindia Belanda adalah Thomas Karsten ( Wiryomartono, 1995). Salah satu gagasan perancangan
kota yang mengadaptasi konsep Kota Taman milik Karsten diterapkan di Semarang.
Pembangunan dan pengembangan kota berdasarkan konsep kota masa depan ini seperti di
Semarang, Malang, Magelang, dan kota-kota lainnya di Jawa diperolehnya setelah dia melihat
ketimpangan-ketimpangan dalam kwalitas lingkungan antara pemukiman masyarakat Eropa dan
penduduk pribumi. Menurut Karsten sementara masyarakat permukiman bangsa Eropa di kawasan
Candi menikmati keadaan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman. penduduk pribumi
bermukim di lingkungan yang berada dibawah nilai

nilai standar kesehatan. kebersrhan. dan kenyaman. Gagasan untuk memperbaiki kondisi
prasarana

dan sarana kota pada Permukiman, khususnya permukiman bagi penduduk pribumi, disambut baik
oleh Pemerintah kota Semarang. Di samping untuk memperbaiki kwalitas hidup masyarakat yeng
bertempat tinggal di kampung-kampung dengan kehidupan dibawah standar, rancangan Karsten
juga untuk mengatisipasi masalah-masalah sampingan yang kemungkinan timbul, seperti masalah
politik dan sosial, di kota di kemudian hari (Gambar 17.15).
Bagi Thomas Karsten perancangan kota dapat berhasil apabila faktor teknis, estetis dan sosial
dipadukan dalam proses perencanaan, perancangan, dan pembangunan. Untuk itu partisipasi
semua pihak yang terkait dalam proyek pembangunan--arsitek, insinyur sipil, kontraktor,
pengusaha, dan masyarakat calon penghuni sangat diharapkan didalam merealisasikan konsep
permukiman sehat dan nyaman yang dicita-citakan oleh Karsten. Meskipun Karsten mengacu pada
konsep Kota Taman yang berasal dari ideologi Barat, ia masih memperhatikan kaidah-kaidah
regionalisme atau sosio-budaya lokal didalam perancangannya. Salah satu konsep perancangan
permukimannya adalah kehidupan srmhiOSis antara masyarakat berpenghasilan tinggi dan
masyarakat berpenghasilan rendah. Konsep ekonomi ini diwujudkan dalam perancangan ruang
dengan meningkatkan kwalitas kampung yang sebagian besar penduduknya berkecimpung di
kegiatan sektor informal dengan meletakkan

lingkungan perumahan yang besifat formal di sekelilingnya (Wiryomartono, 1995). Untuk


bangunan kegiatan ekonomi dan rumah berukuran besar diletakkan di tepi jalan sedangkan rumah
tinggal biasa dan berukuran kecil diletakkan di belakangnya. Dengan konsep tata ruang ini
kerjasama kegiatan ekonomi dan sosial dapat diwujudkan antara penduduk di sektor formal dan
informal.

Konsep kehidupan mutualistis atau saling memberi manfaat antara penduduk bangsa Eropa,
masyarakat kaya dengan penduduk diwujudkan juga oleh Thomas Karsten di pembangunan kota
Mlaten. Di proyek tersebut Karsten juga mencoba mewujudkan gagasannya di dalam pendekatan
perancangan self help atau kemandirian dalam konsep permukiman (Gambar 17.16). Konsep
kemandirian penghuni dalam memenuhi kebutuhan di tempat tinggalnya muncul kembali pada
dekade-dekade selanjutnya. Sebagai contoh, pada tahun 1970an pemerintah pusat melaksanakan
konsep kemandirian melalui proyek peremajaan kampung di kota-kota di Indonesia di masa Orde
Pembangunan. Didalam membantu penduduk miskin didalam pembangunan perumahan Karsten
juga memperhatikan agar rurrah tidak saja sebagai tempat tinggal tetapi juga sebagai tempat
usaha. Gagasan yang aktual tersebut membuat Thomas Karsten menjadi mitra yang baik dengan
pemerintah kota Semarang. Pemerintah kota lainnya banyak melibatkan dirinya pada
pembangunan kawasan kotanya seperti pengembangan perumahan daerah kota Mlaten seperti di
Malang, Magelang, dan kota-kota lainnya.

Selain Thomas Karsten, pembangunan kota baru di Hindia Belanda dirancang oleh arsitek bangsa
Belanda lainnya. Salah pembangunan kota baru adalah permukiman Menteng di Batavia (Heuken
dan Pamungkas. 2001). Menteng dirancang oleh arsitek F.A.] . Moojen. Awal perkembangan

Menteng tahun 1910 dan berakhir pada tahun 1930. Berbeda dengan Mlaten, Menteng merupakan
Kota Taman yang dibangun bagi bangsa Eropa dan masyarakat berpenghasilan tinggi (Gambar
3717) Konsep Kota Taman diwujudkan dengan rumah jenis villa dengan halaman luas, jalan
bersih dan teduh oleh pohon pelindung dan taman yang hijau. Pola kota Menteng berupa lingkaran
kosentrik dengan pusat kota sebagai ruang terbuka. Selain tempat tinggal, di Menteng juga
disediakan sarana perkantoran, perbelanjaan, olah raga, dan rekreasi. Pembangunan Menteng
dilaksanakan secara bertahap berdasarkan wilayah-kawasan perancangan.
Menteng dirancang secara matang oleh Moojen. Pola jalan tidak mengikuti pola lama atau
gridiron, tetapi campuran antara pola kurvelinier dan radial. Pola baru ini menjadi model
perancangan kota-kota taman di Hindia Belanda termasuk permukiman pendahulunya,
pemukiman Candi di Semarang, oleh Thomas Karsten. Menteng merupakan kota taman
berdasarkan konsep Garden City yang dirancang oleh Ebenezer Howard. Di Menteng rumah-
rumah yang di kelilingi taman-taman, jalan di tanam pohon rindang, kolam, kanal air, serta sarana
kota lainnya. Karena merupakan kota taman maka halaman rumah tidak diberi pagar dan kalau
ada adalah berupa pagar hidup dari perdu dan tanaman bunga. Meskipun rancangan sangat ideal
untuk tempat tinggal, dalam perkembangannya pola radial menyebabkan timbulnya masalah
terhadap aspek lalulintas (Heuken, 2001 ). Masalah kota yang timbul adalah terdapatnya
persimpangan jalan serta bertambahnya jarak perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Bentuk rumah-rumah yang mendeliniasi bentuk kota Batavia terdiri dari berbagai langgam
arsitektur. Meskipun demikian bentuk rumah yang dominan adalah langgam villa. Rumah
langgam villa dapat dikenali dengan unsur-unsur arsitekturnya seperti halaman yang luas, bentuk
fasade dekoratif,

terdapat unsur-unsur omamen seperti kaca patri pada jendela, batu krawang, plesteran bermotif,

lantai ubin dekoratif serta atap dengan berbagai bentuk. Selain dirancang untuk kawasan tempat
tinggal, Menteng juga merupakan kawasan yang diperuntukan untuk kegiatan religi, perkantoran,
perbelanjaan dan hiburan. Berbagai bentuk bangunan didirikan untuk kegiatan ini. Prinsip
arsitektur modern seperti fungsionalisme dan rasionalisme banyak digunakan oleh para arSitek
Belanda. Konsep tersebut terutama digunakan untuk merancang gedung-gedung perkantoran dan
perbelanjaan. Selain, daripada kedua langgam tersebut, beberapa gedung berlanggarn arsnektur
dekoratif dan " art deco " dapat ditemukan di Menteng. Langgam yang berasal dan Barat ini dan
yang mulai berkembang padaawal tahun l900an di kota-kota di Eropa dan Amerika berperan
dalam menciptakan bentuk lanskap kawasan Menteng. Langgam Art Deco banyak digunakan
pada bangunan rumah, komersral da bangunan kantor Meskipun demikian, bentuk arsitektur
beberapa bangunan tempat tinggal tidak

luput dari pengaruh arsitektur yang spesiiik ini,(Gambar 17.18).

Sebagai kota taman, Menteng memiliki prasarana kota seperti jalan sepak untuk pejalan kaki dan
kanal untuk menyalurkan air hujan ke sungai disekitarnya. Untuk mewujudkan sebagai kota taman
berbagai jalur-jalur hijau dan duapuluh tiga taman dibangunan oleh pemerintah kota (Heuken,
2001). Berbagai bentuk taman dengan luas tertentu dapat dinikmati oleh masyarakat Menteng
(Gambar 17.19). Selain taman-taman, pemerintah kota didalam usaha menciptakan kota taman,
berbagai bulevar ditanami berbagai pohon rindang. Median dan tepi jalan pada jalan utama
maupun jalan permukiman banyak ditemukan selain pohon rindang juga berbagai jenis tanaman
hias (Gambar 17. l9). Taman yang agak luas ditempatkan di perkantoran, sedangkan yang berskala
kecil diletakkan

di kawasan perumahan. Taman-taman mempunyai fungsi ganda selain sebagai penghijauan kota
juga sebagai tempat sirkulasi kendaraan. Selain berfungsi sebagai tempat rekreasi, danau yang
terletak di kawasan perumahan juga berfungsi sebagai tempat penampungan air di waktu musim
hujan. Penanaman pohon di sepanjang tepi, median jalan serta tepi kanal merupakan juga suatu
jalur hijau untuk mereduksi suhu udara di kawasan ini. Selain taman kota, Menteng juga memiliki
danau

kecil yaitu danau Lembang. Meskipun dalam skala kecil, taman-taman, dan danau merupakan
paruparu kota serta tempat resapan pada saat itu.