You are on page 1of 4

Buletin Jumat

Edisi No. XXXI


3 Dzulhijjah 1438 H
25 Agustus 2017 M

Ibadah Haji:
Pengamalan Nilai-Nilai Kemanusiaan Universal
Labbaikallhumma Labbaik. Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik.
Innalhamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulk. Laa Syarikalak.

S
aat ini kita telah memasuki bulan pada haji Wada' (haji perpisahan) yang intinya
Dzulhijjah. Bulan yang juga sering menekankan: (a) persamaan; (b) keharusan
disebut sebagai bulan haji. Penyebutan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan
tersebut karena syari'at rukun islam yang orang lain; (c) larangan melakukan
kelima, yakni ibadah haji memang adanya di penindasan atau pemerasan terhadap kaum
bulan Dzulhijjah ini. lemah baik di bidang ekonomi maupun
Ibadah haji dikumandangkan oleh bidang-bidang lain.
Nabiyullah Ibrahim a.s. sekitar 3.600 tahun Kaitan ibadah haji dengan nilai-nilai
lalu. Sesudah masa beliau, praktik-praktiknya kemanusiaan, tentu saja makna kemanusiaan
sedikit atau banyak telah mengalami dan pengamalan nilai-nilainya tidak hanya
perubahan, namun kemudian diluruskan terbatas pada persamaan nilai kemanusiaan.
kembali oleh Baginda Rasulillah Muhammad Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur
Saw. Salah satu yang diluruskan itu adalah yang seharusnya menghiasai jiwa
praktik ritual yang bertentangan dengan pemiliknya. Ia bermula dari kesadaran akan
penghayatan nilai kemanusiaan universal. thrah (jati diri)-nya serta keharusan
Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 199 menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran
menegur sekelompok manusia (yang dikenal di pentas bumi ini.
dengan nama al-hummas) yang merasa Kemanusiaan mengantarkan putra-putri
memiliki keistimewaan sehingga enggan Adam untuk menyadari arah yang dituju
b e r s a t u d e n g a n o r a n g b a n ya k d a l a m serta perjuangan mencapainya.
melakukan wuquf. Mereka wuquf di Kemanusiaan menjadikan makhluk ini
Muzdalifah sedangkan orang banyak di memiliki moral serta berkemampuan
Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi memimpin makhluk-makhluk lain dalam
oleh perasaan superioritas dicegah oleh Al- mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan
Qur'an dan turunlah ayat tersebut: Bertolaklah mengantarkannya menyadari bahwa ia
kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak adalah makhluk dwidimensi yang harus
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya melanjutkan evolusinya hingga mencapai
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS titik akhir. Kemanusiaan mengantarkannya
2: 199). untuk sadar bahwa ia adalah makhluk sosial
Salah satu bukti yang jelas tentang yang tidak dapat hidup sendirian dan harus
keterkaitan ibadah haji dengan nilai-nilai bertenggang rasa dalam berinteraksi.
kemanusiaan adalah isi khutbah Nabi Saw. Makna-makna di atas dipraktikkan
dalam pelaksanaan ibadah haji, baik dalam
Info PUASA SUNNAH acara-acara ritual atau dalam tuntunan
nonritualnya, dalam bentuk kewajiban atau
Puasa Tarwiyah
larangan, dan dalam bentuk nyata atau
8 Dzulhijjah 1438 H | Rabu, 30 Agustus 2017
simbolik. Kesemuanya itu pada akhirnya
mengantarkan jamaah haji hidup dengan
Puasa Arafah
pengalaman kemanusiaan universal. Berikut
9 Dzulhijjah 1438 H | Kamis, 31 Agustus 2017
Edisi No. XXXI 3 Dzulhijjah 1438 H | 25 Agustus 2017 M 1
Pencerahan

ini akan dikemukakan secara sepintas kilas wangi-wangian, bercumbu atau


beberapa hal yang berkaitan dengannya: hubungan suami-istri, dan berhias supaya
setiap jamaah haji menyadari bahwa
1) Nilai Persamaan dalam Ihram manusia bukan materi semata-mata,
Ibadah haji dimulai dengan niat bukan pula birahi; dan bahwa hiasan yang
sambil menanggalkan pakaian biasa dan dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani.
mengenakan pakaian ihram. Dilarang pula menggunting
Tidak dapat disangkal bahwa rambut dan kuku supaya masing-masing
pakaian menurut kenyataannya dan juga menyadari jati dirinya dan mengahadap
menurut Al-Qur'an berfungsi, antara lain, kepada Tuhan sebagaimana apa adanya.
sebagai pembeda antara seseorang atau
sekelompok dengan lainnya. Pembedaan 3) Hijr Isma'il
tersebut dapat membawa antara lain, Ka'bah yang dikunjungi
kepada perbedaan status sosial, ekonomi, mengandung pelajaran yang amat
atau profesi. Pakaian juga dapat memberi berharga dari segi kemanusiaan. Di sana,
pengaruh psikologis kepada pemakainya. misalnya, ada Hijr Isma'il yang arti
Di Miqat Makaniy, tempat ritual harahnya pangkuan Isma'il. Di sanalah
ibadah haji dimulai, perbedaan dan Isma'il putra Ibrahim, pembangun Ka'bah
pembedaan tersebut harus ditinggalkan, ini, pernah berada dalam pangkuan
sehingga semua harus memakai pakaian ibunya yang bernama Hajar, seorang
yang sama. Pengaruh-pengaruh wanita hitam, miskin bahkan budak.
psikologis yang negatif dari pakaian pun Namun demikian, budak wanita ini
harus ditanggalkan sehingga semua diabadikan Allah Swt untuk menjadi
merasa dalam satu-kesatuan dan pelajaran bahwa Allah Swt memberi
persamaan. kedudukan untuk seseorang bukan
Di Miqat, dengan mengenakan dua karena keturunan atau status sosialnya,
helai pakaian berwarna putih-putih tetapi karena kedekatannya kepada Allah
sebagaimana yang akan membalut tubuh Swt. dan usaha-usaha untuk hajar
ketika mengakhiri perjalanan hidup di (berhijrah) dari kejahatan menuju
dunia ini. Seorang yang melaksanakan kebaikan, dari keterbelakangan menuju
ibadah haji akan atau seharusnya peradaban.
dipengaruhi oleh pakaian ini. Seharusnya
ia merasakan kelemahan dan 4) Dibalik Ritual Sa'i
k e t e r b a t a s a n n y a s e r t a Setelah melakukan thawaf yang
pertanggungjawaban yang akan menjadikan pelakunya larut dan berbaur
ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan bersama manusia-manusia yang lain, serta
Yang Mahakuasa, yang di sisi-Nya tiada memberi kesan kebersamaan menuju satu
perbedaan antara seseorang dengan yang tujuan yang sama, yakni berada dalam
lain kecuali atas dasar pengabdian lingkungan Allah Swt, maka dilakukanlah
kepada-Nya. sa'i.
Di sini muncul lagi Hajar, budak
2) Larangan dalam Ibadah Haji wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi
Dengan dikenakannya pakaian Ibrahim a.s. Diperagakan pengalamannya
ihram, maka sejumlah larangan harus mencari air untuk putranya.
diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Keyakinan wanita ini akan
Jangan sakiti binatang, jangan kebesaran dan kemahakuasaan Allah Swt.
membunuh, jangan menumpahkan darah, sedemikian kokoh yang terbukti jauh
jangan mencabut pepohonan. Mengapa? sebelum peristiwa pencarian itu. Ketika ia
Karena, manusia berfungsi memelihara bersedia ditinggal bersama anaknya di
m a k h l u k - m a k h l u k Tu h a n s e r t a suatu lembah yang tandus. Keyakinannya
memberinya kesempatan seluas mungkin yang begitu dalam tidak menjadikannya
untuk mencapai tujuan penciptaannya. b e r p a n g k u t a n g a n d e n g a n h a n ya
Dilarang juga menggunakan menunggu turunnya hujan dari langit.

2 3 Dzulhijjah 1438 H | 25 Agustus 2017 M Edisi No. XXXI


Pencerahan

Tetapi, ia berusaha dengan mondar- Arafah untuk menjadi 'arif (sadar) dan
mondir berkali-kali demi mencari mengetahui.
kehidupan. Menurut Ibnu Sina, apabila
Hajar memulai usahanya dari bukit kearifan telah menghiasi diri seseorang,
Shafa yang arti harahnya adalah kesucian maka Anda akan menemukan orang itu
dan ketegaran, sebagai lambang bahwa selalu gembira, banyak senyum karena
untuk mencapai hidup harus dengan hatinya telah gembira sejak ia mengenal-
usaha yang dimulai dengan kesucian dan Nya. Di mana-mana ia melihat satu saja,
ketegaran dan harus diakhiri di Marwa melihat Yang Mahasuci itu. Semua
yang berarti ideal manusia, sikap makhluk dipandangnya sama (karena
menghargai, bermurah hati, dan memang semua sama, sama
memaa an orang lain. Adakah makna membutuhkan-Nya). Ia tidak akan
yang lebih agung berkaitan dengan mengintip-intip kelemahan atau
pengamalan kemanusiaan dalam mencari mencari-cari kesalahan orang. Ia tidak
kehidupan duniawi melebihi makna- akan cepat tersinggung walau melihat
makna yang digambarkan di atas? yang mungkar sekalipun. Karena
Kalau thawaf menggambarkan jiwanya selalu diliputi oleh rahmat dan
larut dan meleburnya manusia dalam kasih sayang.
hadirat Ilahi atau, dalam istilah kaum su,
al-fana' Allah, maka sa'i menggambarkan 6) Muzdalifah dan Ritual Lempar Jumrah
usaha manusia mencari hidup, yang Dari Arafah, para jamaah akan
dilakukan begitu selesai thawaf agar bergerak ke Muzdalifah untuk
melambangkan bahwa kehidupan dunia mengumpulkan senjata dalam
dan akhirat merupakan suatu kesatuan menghadapi musuh utama, yaitu setan.
dan keterpaduan. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke
Dengan thawaf disadarilah tujuan Mina dan di sanalah para jamaah haji
hidup manusia dan setelah kesadaran itu, melampiaskan kebencian dan
dimulai sa'i yang menggambarkan bahwa kemarahan mereka masing-masing
tugas manusia adalah berupaya terhadap musuh yang selama ini
semaksimal mungkin. Hasil usaha pasti menjadi penyebab segala kegetiran yang
akan diperoleh baik melalui usahanya dialaminya. Batu dikumpulkan di
maupun melalui anugerah Allah Swt, tengah malam sebagai lambang bahwa
seperti yang dialami oleh Hajar a.s. musuh tidak boleh mengetahui siasat
bersama putranya, Isma'il, dengan dan senjata kita.
ditemukannya air zam-zam. ***
Demikianlah, ibadah haji merupakan
5) Memaknai Wuquf di Arafah kumpulan simbol-simbol yang sangat indah.
Di Arafah, padang yang luas lagi Apabila dihayati dan diamalkan secara baik
gersang itu, seluruh jamaah wuquf dan benar, maka pasti akan mengantarkan
(berhenti) sampai terbenamnya setiap pelakunya ke dalam lingkungan Ilahi
matahari. dan kemanusiaan yang benar sebagaimana
Di sanalah jamaah haji seharusnya dikehendaki oleh penciptanya, Allah Swt.
menemukan ma'rifah pengetahuan sejati
tentang jati dirinya, akhir perjalanan Allahumma yassirlanaa wa li ahbaabinaa
h i d u p n ya , s e r t a d i s a n a p u l a i a wa ash-haa-binaa
menyadari langkah-langkahnya selama wa lijami'ilmu'miniina ziyaratan baitika
ini. Di sana pula seharusnya bisa wa nabiyyika wa habibika
menyadari betapa besar dan agung sayyidina muhammadin shallallahu 'alaihi
Allah Swt yang kepada-Nya bersembah wa sallam
seluruh makhluk, sebagaimana
diperagakan secara miniatur di padang
Disarikan dari buku Membumikan Al-Quran
Arafah tersebut. Kesadaran-kesadaran
itulah yang mengantarkannya di padang Karya Prof. M. Quraish Shihab

Edisi No. XXXI 3 Dzulhijjah 1438 H | 25 Agustus 2017 M 3


Tawashow

Kiai Bisri dan Strategi Kiai Wahab

Meski sama-sama pemegang qih yang ketat, Kiai Wahab dan Kiai Bisri berbeda strategi
penerapannya. Kiai Wahab cenderung bergaris lunak, sementara Kiai Bisri bergaris keras.
Suatu hari menjelang Idul Adha seseorang datang menghadap Kiai Bisri. Dia bermaksud
melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi. Namun sebelumnya dia berkonsultasi
dulu dengan Kiai Bisri, apakah boleh berkurban seekor sapi untuk delapan orang? Ketentuan
qih, satu sapi untuk tujuh orang. Padahal jumlah keluarganya ada delapan. Dia ingin di akhirat
nanti satu keluarga itu bisa satu kendaraan agar tidak terpencar.
Mendengar pertanyaan tersebut Kiai Bisri menjawab tidak bisa. Kurban sapi, kerbau
atau unta hanya berlaku untuk tujuh orang.
Kemudian orang itu menawar pada Kiai Bisri, Pak Kiai, apakah tidak ada keringanan.
Anak saya yang terakhir baru tiga bulan. Dengan menjelaskan dasar hukumnya, Kiai Bisri tetap
menjawab, tidak bisa.
Merasa tidak puas, orang itu mengadukan persoalannya kepada Kiai Wahab di Tambak
Beras. Mendengar persoalan yang diadukan orang itu, Kiai Wahab dengan ringan menjawab,
Bisa. Sapi itu bisa digunakan untuk delapan orang. Cuma karena anakmu yang terakhir itu masih
kecil, maka perlu ada tambahan. Mendengar jawaban Kiai Wahab orang itu tampak gembira.
Agar anakmu yang masih kecil itu bisa naik ke punggung sapi, harus pakai tangga.
Sampeyan sediakan seekor kambing agar anak sampeyan bisa naik ke punggung sapi.
Ah, kalau cuma seekor kambing saya sanggup menambah. Dua ekor pun sanggup asal
kita bisa bersama-sama, Kiai.
Akhirnya pada hari kurban, orang tersebut menyerahkan seekor sapi dan seekor kambing pada
Kiai Wahab.

TIM REDAKSI
Pimpinan Umum : Mas Alamil Huda. Pimpinan Redaksi : Moh. Imam Rahmat F.
Layouter : Tauq Ms. Marketing : Susanto, Ahmad Safaat.
diterbitkan oleh Sekretariat : Jl. Asempayung I/32A Surabaya, Email : lazim_1011@yahoo.co.id
Lembaga Amil Zakat & Fanspage FB : LAZIM, Telp. 0856 4820 4531. Website : www.lazimku.com
Infaq Al-Maun (LAZIM)
4 3 Dzulhijjah 1438 H | 25 Agustus 2017 M Edisi No. XXXI