You are on page 1of 7

RANGKUMAN FORUM NASIONAL

KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VII

EVALUASI KEBIJAKAN JKN TAHUN 2019


8 sasaran BPJS
1. BPJS kesehatan beroperasi dengan baik.
Sulit tercapai karena data menunjukkan bahwa terjadi defisit yang besar di BPJS
selama 3 tahun pertama pelaksanaannya, deficit ini merupakan indikator
ketidakbaikan operasional BPJS

2. Seluruh penduduk Indonesia mendapat jaminan kesehatan mlealui BPJS


kesehatan.
Sulit tercapai di tahun 2019. Sampai dengan akhir tahun 2016, peserta yang
mendaftar adalah sekitar 170juta, masih kurang 80 juta jiwa. Disamping itu
peserta mandiri-PBPU yang sudah mendaftar sebagian drop-out.

3. Paket manfaat medis dan nonmedis sudah sama, tidak ada perbedaan untuk
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tidak mungkin tercapai. Sampai sekarang belum ada kebijakan yang menyatakan
mengenai Paket Manfaat Dasar yang harus tersedia. Paket mandaat yang
menggunakan tekonologi canggih dan klaim besar-besar hanya dapat
dimanfaatkan oleh penduduk di sekitar kota besar. Perkembangan supply side
sangat berbeda antara daerah yang maju dan yang belum maju. Penyebaran
spesialis baru akan berjalan di tahun 2017. Kebijakan kompensasi sampai tahun
2016 belum berjalan.

4. jumlah dan sebarang fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai untuk


menjamin seluruh penduduk memenuhi kebutuhan medis mereka.
Tidak mungkin tercapai. Sampai pada tahun 2016, hasil monitoring mengenai
supply-side menunjukkan bahwa bekum terjadi keseimbangan pelayanan
kesehatan. Yang terjadi adalah justru sebaliknya, pertumbuhan yang sangat kuat
dalam jumlah RS di Pulau Jawa. Di daerah sulit, dana PBI tidak terpakai karena
masih kekurangan tenaga dan fasilitas kesehatan. Kebijakan kompensasi belum
berjalan.

5. semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara berkala untuk menjamin


kualitas yang memadai dengan harga keekonomian yang layak.
Sulit dicapai. Masih banyak perdebatan tentang harga keekonomian dengan
provider. Konsep CoB dan cost-sharing masih terus menjadi perdebatan. Sistem
kapitasi masih belum memberikan pengaruh pada kinerja.

6. paling sedikit 85% peserta menyatakan puas, baik dalam layanan di BPJS maupun
dalam layanan di fasilitas kesehatan yang dikontrak BPJS.
Mungkin dapat tercapai. Surbei yang dilakukan oleh BPJS memberikan hal ini.
Dukungan dana BPJS sangat dibutuhkan saat sakit. Jaminan dana saat sakit sangat
dibutuhkan masyarakat.

7. paling sedikit 80% tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan menyatakan puas atau
mendapat pembayaran yang layak dari BPJS.
Sulit tercapai. Belum ada data mengenai hal ini. Keluhan dokter dan RS semaking
sering. Debat tentang PMK nomor 64.

8. BPJS dikelola secara terbuka efisien dan akuntabel


Sulit tercapai. Sampai sekarang masyarakat, Kemenkes dan Pemerintah
Provinsi/Kabupaten/Kota masih kesulitan mendapatkan data pelayanan dan data
keuangan dari BPJS. Walupun sudah ada kerjasama yang membaik untuk
penelitian, sebagian peneliti masih kesulitan akses ke data BPJS.

Mengapa pemerataan perlu diperhatikan dengan serius?


- UUD pasal 34 ayat (1) fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh
Negara. Ayat (2) Negara mengembangkan jaminan sosial bagi seluruh rakyat
dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan.
- UU SJSN menetapkan asuransi sosial dan ekuitas sebagai prinsip
penyelanggaraan JKN. Iuran sesuai dengan besaran pendapatan. UU SJSN
menyatakan bahwa subsidi iuran JKN harus untuk orang miskin dan orang
tidak mampu (pasal 14 ayat 2).

Kesimpulan : terjadi perbaikan di daerah yang baik dan daerah yang buruk. Walaupun
keduanya meningkat, kesenjangan antara keduanya juga makin tinggi. Sehingga perlu
pemerataan yang diperhatikan lebih serius.

IDEOLOGI DALAM MONITORING DAN EVALUASI KEBIJAKAN JAMINAN


KESEHATAN NASIONAL MENUJU CAKUPAN SEMESTA

Menurut UU 40/2004 tentang SJSN dan UU 24/2011 tentang BPJS, Indonesia


membangun sistem Universal Coverage menuju Indonesia sehat. Untuk mencapai tujuan
tersebut diperlukannya proses kebijakan. Dalam pembentukan proses kebijakan, terlebih
dahulu dibentuk disain kebijakan yang terdiri dari infrastruktur kebijakan dan instrumen
kebijakan.

SUPPLY SIDE READINESS : Apakah sumber dari masalah ketidakadilan JKN ?

Jumlah rumah sakit dan spesialis per regional mengalami peningkatan tiap
tahunnya, namun terdapat disparitas yang ekstrim antara kesediaan di regional 1 dengan
regional 5 (Indonesia Timur). Di regional 1, sistem rujukan lebih banyak mengarah pada
rumah sakit tipe A. Sedangkan di regional 5, sistem rujukan banyak pada rumah sakit tipe
B/C. Disparitas yang ekstrim ini salah satunya disebabkan oleh faktor geografis yang
terlalu luas dibandingkan dengan jumlah penduduk yang sedikit. Ratio antara luas
geografis dan jumlah penduduk inilah yang menjadi salah satu karakteristik daerah
Indonesia Timur, seperti di Papua.
Permasalahan lainnya adalah ketersediaan RS berjejaring BPJS. Di regional 5,
oleh karena jumlah RS yang ada juga kurang maka jumlah RS berjejaring BPJS juga
belum banyak. Sedangkan di regional lain, permasalahan yang ada adalah banyak
program yang belum dicover oleh BPJS misalnya KB. Program KB masih dipegang oleh
BKKBN, sehingga sebagai contoh pasien SC yang ingin steril, hanya dicover BPJS SC-
nya saja, tidak dengan operasi steril.
Permasalahan lainnya adalah premi dari tiap regional yang tidak sama oleh karena
akses yang tidak sama di setiap regional, baik fisik RS itu sendiri, logistik, maupun
ketersediaan tenaga kesehatan.
Dari berbagai sumber masalah di atas, dapat diingat bahwa JKN tidak dapat
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di Indonesia, mengingat prinsip utama dari
kesehatan universal adalah tindakan preventif. Menurut Global Strategy of Human
Resources 2013, yang dapat dilakukan adalah mengubah distribusi pelayanan kesehatan
yang ada.
Prinsip JKN adalah berjenjang artinya memang sistem rujukan dilakukan dari
tingkat paling rendah yaitu pelayanan kesehatan primer ke RS tipe D, C, B, dan A.
Namun dalam kondisi tertentu, dimana seorang dokter layanan primer sudah mengetahui
faskes mana yang memiliki kompetensi menangani suatu kasus, atau dalam keadaan
emergensi, maka rujukan dapat langsung ditujukan pada RS tipe A/B, dengan alasan
patient safety. Sebagai kesimpulan, JKN yang sudah berjalan di Indonesia saat ini sudah
berada pada jalur yang tepat, namun masih berjalan sangat lambat.

HASIL EVALUASI: Apakah Perlu Revisi Undang-Undang Jkn Dan Bpjs?


Evaluasi yag dilakukan yaitu mengenai permasalahan-permasalahan tentang
regulasi SJSN dan BPJS, pendanaan dan kontrol pelayanan kesehatan. Adanya
multiinterpretasi dan kekosongan implementasi Undang-Undang menyebabkan terjadinya
tumpang tindih aturan, yaitu antara Permenkes No.71 bahwa FKTP harus oleh
pemerintah dan swasta, Permenkes 75 tahun 2014 bahwa Puskesmas memiliki wewenang
untuk mencapai kecamatan sehat, dan Permenkes No.28 tahun 2011 bahwa pencatatan
swasta harus dilaporkan ke dinas. Ketiga peraturan tersebut tidak saling menunjang.
Peraturan Presiden mengenai Tatanan Nasional banyak terjadi pembenahan yang
merupakan bagian dinamika JKN. Hal ini dipengaruhi oleh riwayat pelayanan kesehatan
sebelumnya dan perilaku masyarakat. JKN sudah ada sejak tahun 2013 (3 tahun 10 bulan
yang lalu) sudah mengalami 3 kali revisi Perpres. Sehingga diperlukan implementasi
untuk merubah pola pikir masyarakat agar paham akan fungsi BPJS. Saat ini sudah
terjadi banyak perubahan yakni adanya fase transisi, dimana JKN (Jaminan Kesehatan
Nasional) terlahir bukan berasal dari Sistem Kesehatan, tetapi dari Jaminan Kerja.
Adanya JKN menunjukkan hubungan konstitusional.
Pada tahun 2016 terhitung 192 juta yang memanfaatkan JKN, 183 juta peserta dan
cenderung terjadi peningkatan. Diperkirakan pada tanggal 1 Januari 2019 terdapat
260.500.000 peserta. Tujuannya adalah sustainabilitas finansial, peserta mendapat
kepuasan atas patient safety, dan upaya maksimal dapat terwujud.
BPJS Kesehatan menjadi regulator karena dalam Undang-Undang masih belum
jelas mengenai tata kelolanya. Sehingga diperlukan perubahan berdasarkan peran masing-
masing. Berdasarkan Permenkes No.36 tahun 2009, peran JKN tidak jelas. Sehingga
Kementrian Kesehatan RI memerlukan Sistem Kesehatan Nasional yang baru sebagai
kerangka kerja regulasi keseluruhan, sehingga orkestrasi menjadi harmonis.

BAGAIMANA MENGATASI DEFISIT BPJS?


- defisit JKN termasuk dari input merekrut dan pengelolaan dana, proses
mengolah dan outputnya. Kesulitannya karena JKN bersifat asuransi sosial
- cara atasi defisit:
o seluruh penduduk punya BPJS
o bayar iuran tepat waktu
o perilaku masyarakat belum memaksimalkan pelayanan kesehatan
tingkat pertama
o persepsi masyarakat ingin di rumah sakit yang high class sehingga
biaya tanggungannya tinggi
- langkah :
o optimalkan sisi income
o revisi peraturan perundang-undangan
o kelola cash in dan cash out
- realita tahun 2014 :
o PBI : peserta banyak namun tidak digunakan dengan maksimal
o Non-PBI : sangat dimanfaatkan
o Pernyataan diatas menimbulkan defisit, sehingga perlu dipikirkan
untuk perencanaan apakah yang non-PBI dipindahkan ke asuransi
kesehatan biasa?

KEPUASAN PASIEN BPJS & UMUM TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN


- JKN meningkatkan jumlah kunjungan di FKTP
- Anggapan pasien umum dilayani lebih baik dibandingkan pasien BPJS
menghambat tercapainya universal coverage 2019
- Hasil penelitian : Tidak ada perbedaan kepuasan pasien umum (78,2%) dan
JKN (76,45%)
- Pasien BPJS memiliki gap negative pada dimensi reliability dan
responsiveness. Sedangkan pasien umum memiliki gap negative pada dimensi
assurance dan empathy
- Puskesmas memiliki gap negative pada reliability, assurance, empathy.
Sedangkan klinik pratama meiliki gap negative pada reliability,
responsiveness, assurance, empathy
- Kesimpulan : tidak ada perbedaan kepuasan pasien BPJS dan umum
kecualipada dimensi empati, tidakada perbedaan kepuasan layanan antara
FKTP Kab. Temanggung
- Pemberi layanan kesehatan sebaiknya secara berkala menilai kepuasan pasien
untuk perbaikan layanan dimasa depan

BAGAIMANA PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENGATASI


MISSMATCH PROGRAM JKN?
Berdasarkan angka Dinas Kesehatan DKI Jakarta, jumlah penduduk sebanyak
10.200.000 orang, yang mendaftar 15.600 jiwa. Penduduk DKI murni sebanyak 8.100
memiliki BPJS, baik itu mandiri, APBN atau PBI. Bila dihitung pengeluaran untuk
pembayaran premi pada APBN, PBI yaitu sebanyak 1 trilyun 20 miliar rupiah. APBN
mendapat 208 miyar rupiah, sisanya mandiri. Total yang dikeluarkan untuk membayar
premi adalah 4.8 milyar rupiah. Uang yang kembali berasal dari kapitasi , RSUD, RS
swasta, vertical yang bekerjasama dengan BPJS mendapat biaya untuk rawat jalan sekitar
2.2 trilyun rupiah, rawat inap sebesar 4.2 trilyun. Jadi totalnya adalah 6.4 trilyun,
ditambah baiaya kapitasi 474 milyar per 1 tahun. Totalnya adalah 6.8 trilyun rupiah.
Sehingga uang yang dikeluarkan sebesar 4.8 trilyun rupiah dan kembali sebesar 6.8
milyar rupiah. Jadi, biaya yang masuk dibanding biaya premi, memiliki laba kurang lebih
2 trilyun rupiah. Hal ini menunjukkan terjadi overshoot yang berarti lebih besar daripada
pemerimaan JKN.
Hal ini terjadi pula di Sumatera Utara, Jember dan Sumatera Barat. Hal ini terlihat
seperti semakin banyak pasien yang berobat, sehingga pendapatan di fasyankes pun
meningkat. Namun dalam kenyataannya kegiatan pelayanan kesehatan di DKI Jakarta
dan di daerah-daerah lain pun tetap mengutamakan upaya promotif dan preventif, namun
karena adanya banyak faktor menyebabkan upaya promotif dan preventif sangat sulit
untuk dilakukan, sehingga fasyankes terkesan hanya bergerak atau melakukan upaya
kuratif saja. Tetapi pada kenyataannya fasyankes tetap mengutamakan upaya promotif
dan preventif dalam pelayanan kesehatan.