You are on page 1of 36

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata "bawaan" berarti ada saat lahir. Istilah "cacat jantung bawaan" dan
"penyakit jantung bawaan" sering digunakan untuk arti yang sama, tapi "cacat"
lebih akurat. Penyakit jantung merupakan suatu cacat atau kelainan, bukan
penyakit. Sebuah hasil cacat ketika jantung atau pembuluh darah di dekat jantung
tidak berkembang secara normal sebelum kelahiran.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah
gangguan atau kelainan organ jantung saat lahir dan merupakan salah satu
penyebab kematian terbesar akibat dari kelainan saat lahir pada tahun pertama
kehidupan. Menurut March of Dimes, 1 dari 125 bayi yang lahir di Amerika
Serikat memiliki cacat jantung bawaan. Bahkan, ini adalah jenis yang paling
umum dari semua cacat lahir. Di Indonesia, 78 bayi per 1000 kelahiran hidup
dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (Ursula Penny)
Defek septum atrium / Atrial Septal Defect sekundum merupakan 7-10 %
dari seluruh kelainan jantung bawaan, dan lebih sering dijumpai pada wanita (dua
kali pria). Defek septum atrium / Atrial Septal Defect primum hanya 3 % dari
seluruh kelainan jantung bawaan, sedang defek sinus venosus hanya 15 % dari
defek interatrium. ( Rahajoe, 2003).
Di Rumah Sakit Dr. Moewardi khususnya di IBS selama periode Januari
2015 sampai dengan oktober 2016 telah dilakukan operasi bedah jantung terbuka
sebanyak 9 kali yang terdiri dari operasi ASD clossure sebanyak 4 kali, VSD
clossure 2 kali dan MVR sebanyak 3 kali. Karena tindakan yang masih sedikit,
penulis berasusmsi bahwa pengetahuan perawat khususnya di IBS mengenai
asuhan keperawatan bedah jantung, khususnya ASD Clossure masih sedikit. Hal
ini didukung fakta bahwa asuhan keperawatan bedah jantung tidak masuk dalam
materi pelatihan perawat kamar operasi yang ada di RSUD dr. Moewardi, dan
baru satu orang perawat di IBS yang sudah pernah mengikuti pelatihan bedah
jantung. Hal-hal inilah yang melatarbelakangi kami mengangkat tema asuhan
keperawatan intra operatif pasien yang dilakukan tindakan ASD clossure dalam
karya tulis ilmiah ini. Selain itu, kami berharap dengan penulisan karya tulis ini,
dapat menambah pengetahuan penulis dan juga dapat dimanfaatkan oleh rekan-

1
2

rekan sejawat perawat yang lain.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan karya tulis ini adalah untuk memberikan
gambaran asuhan keperawatan intra operatif secara komprehensif pada
pasien bedah jantung ASD Clossure yang merupakan bagian dari asuhan
keperawatan peri operatif bedah jantung.
2. Tujuan khusus
a. Memberikan gambaran tentang konsep dasar ASD dan Prosedur ASD
Clossure.
b. Memberikan gambaran pengkajian keperawatan pada pasien yang
dilakukan prosedur ASD Clossure.
c. Memberikan gambaran diagnosa keperawatan pada pasien yang
dilakukan prosedur ASD Clossure.
d. Memberikan gambaran rencana intervensi keperawatan pada pasien
yang dilakukan prosedur ASD Clossure.
e. Memberikan gambaran pelaksanaan intervensi keperawatan pada pasien
yang dilakukan prosedur ASD Clossure.
f. Memberikan gambaran evaluasi keperawatan pada pasien yang
dilakukan prosedur ASD Clossure.

C. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari 5 bab sebagai berikut :
1. Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan, dan sistematika
penulisan.
2. Bab II Tinjauan Teori, yang berisi pengertian ASD, etiologi,
pathofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis, Prosedur ASD
Clossure dan penatalaksanaan keperawatan.
3. Bab III Tinjauan Kasus yang berisi pengajian, diagnosa keperawatan,
rencana intervensi, implementasi dan evaluasi.
4. Bab IV Pembahasaan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
intervensi dan pelaksannaan serta evaluasi.
5. Bab V berisi kesimpulan dan saran.
3

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian ASD
Atrial Septal Defect / ASD (defek septum atrium) adalah kelainan
jantung bawaan akibat adanya lubang pada septum interatrial (Rahajoe, 2003).
Tiga macam variasi yang terdapat pada ASD berdasarkan letak
lubangnya (Rahajoe, 2003) yaitu :
1. Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum, mungkin
disertai kelainan katup mitral.
2. Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.
3. Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan
Atrium Kanan.

Gambar 2.1. variasi ASD (a) ASD Sekundum (b) ASD Primum (c) ASD tipe
sinus venosus.

B. Etiologi ASD
Seperti halnya penyakit jantung bawaan yang lain, penyebab ASD belum
dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga
mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Faktor-faktor
tersebut diantaranya :
1. Faktor Prenatal :
a. Ibu menderita infeksi Rubella

3
4

b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu menderita IDDM
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor genetic :
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB.
b. Ayah atau ibu menderita PJB.
c. Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down.
d. Lahir dengan kelainan bawaan lain
(Muttaqien, 2009)

C. Pathofisiologi
1. Terjadi aliran "shunting" darah dari atrium kiri menuju atrium kanan
melalui defek / lubang pada sekat atrium (left to right shunt) oleh karena
compliance ventrikel kanan yang lebih besar (bertekanan rendah) dibanding
ventrikel kiri. Besarnya "shunting" bergantung terhadap seberapa besar
perbandingan compliance (relatif) ventrikel kanan terhadap ventrikel kiri,
dan juga bergantung pada besar-kecilnya defek.
2. Akibatnya adalah terjadi kelebihan volume darah (volume-overload) pada
jantung kanan yang pada akhirnya menyebabkan pembesaran atrium dan
ventrikel kanan serta dilatasi arteri pulmonalis. Juga terjadi peningkatan
tekanan pada vaskularisasi paru atau yang dikenal 'hipertensi pulmonal'
akibat kelebihan volume darah pada paru (lung overflow).
3. Beban jantung kanan terus meningkat, sehingga complain ventrikel kanan
terus menurun mengakibatkan shunt dari kiri ke kanan bisa berkurang.
Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler
paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari
kanan ke kiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah
yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.
4. Dilatasi ventrikel kanan mengakibatkan waktu depolarisasi ventrikel kanan
memanjang yang akan memberikan gambaran blok RBBB (right bundle
branch block) pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG)
5

5. Murmur yang terjadi bukan karena "shunting" di atrium, tetapi oleh karena
terjadinya turbulensi darah saat melewati katup arteri pulmonalis (stenosis
relatif katup pulmonal). Oleh sebab itu murmur yang terjadi adalah murmur
sistolik di area auskultasi pulmonal.
6. Gagal jantung kongestif (CHF) dan hipertensi pulmonal seringkali baru
terjadi pada usia dekade III dan IV oleh karena faktor compliance dari
jantung kanan dan arteri pulmonal yang besar.
(Mulyadi, 2014)

Defect Atrium Septum

Tekanan atrium kiri lebih besar daripada atrium kanan

Aliran darah dari atrium kiri ke atrium kanan

Volume-overload jantng kanan

Pembesaran atrium dan ventrikel kanan serta dilatasi arteri pulmonalis

Volume darah paru meningkat

Peningkatan tekanan pada vaskularisasi paru

Hiprtensi pulmonal

Beban jantung kanan meningkat

Tekanan jantung kanan lebih tinggi dari jantung kiri

Sindroma eissenmenger
gambar 2.2. pathofisiologi ASD
6

D. Manifestasi Klinis
Menurut Rahajoe (2003), manifestasi klinis yang muncul pada pasien
ASD sebagai berikut:
1. Pada pemeriksaan fisik: habitus kurus, seringkali pasien datang dengan
tanda dan gejala sesak atau infeksi saluran napas atas berulang.
2. Auskultasi : wide and fixed S2, murmur ejeksi sistolik.
3. EKG : right axis deviation (+90 sampai +180), right bundle branch block
(rsR di V1).
4. Radiologi : kardiomegali dengan RAE dan RVE; MPA prominen, PVM .
5. Pemeriksaan Ekokardiografi : pada pandangan subcostal 4-chamber akan
memperlihatkan defek pada septum atrium dan ditemukan tanda-tanda
adanya left to right shunt (RAE, RVE, PA >)
6. Kateterisasi jantung: memberikan analisa hemodinamik, mengukur aliran,
tekanan, dan tahanan juga fungsi ventrikel, memperjelas diagnosa.
Perjalanan penyakit:
1. Bila diagnosis dapat ditegakkan sebelum usia 3 bulan:
a. defek ukuran kurang dari 3 mm umumnya akan menutup spontan.
b. defek antara 3 sampai dengan 8 mm menutup 80% dalam 1,5 tahun
c. defek lebih dari 8 mm jarang yang menutup spontan.
2. Bayi dan anak umumnya asimtomatik; CHF dan PH muncul pada usia
dekade III dan IV.
3. Sangat jarang terjadi endokarditis dan komplikasi serebral.

E. Penatalaksanaan Medis
Secara umum adanya ASD sedang - besar merupakan indikasi untuk
melakukan penutupan defek secara intervensi bedah atau kateterisasi;
pengobatan (medikamentosa) tidak akan menyebabkan menutupnya lubang
ASD sedang - besar, dan bersifat simptomatik saja.
1. Medikamentosa :
a. Pembatasan aktivitas atau olahraga tidak diperlukan.
b. Bayi dengan tanda-tanda CHF sebaiknya dilakukan terapi
medikamentosa lebih dahulu oleh karena keberhasilan tinggi dan
kemungkinan menutup spontan.
7

2. Bedah :
a. Indikasi operasi adalah bila left to right shunt dengan Qp/Qs 1,5 :1
b. Kontraindikasi operasi PVR ( 10 U/m2 , > 7 U/m2 dengan
vasodilator)
c. Timing operasi: menunggu usia 3 atau 4 thn, karena masih ada
kemungkinan menutup spontan (sebelum usia sekolah)
d. Mortalitas : < 1 %
e. Komplikasi : aritmia, cerebral accident
3. Non Bedah
Dapat dilakukan tindakan penutupan melalui intervensi kateterisasi (ASO -
amplatzer septal occluder) bila syarat dipenuhi.
(Mulyadi, 2014)

F. Prosedur ASD Clossure


1. Persiapan Alat dan Bahan Habis Pakai
a. Persiapan Alat
1) Set
a) Set Basik bedah jantung
b) Set Sternotomi
c) Retractor
d) Sternum saw
e) Defibrillator dan paddle internal steril
f) Set pasang urine
g) Set preparasi kulit
h) Kom
i) Korentang dan gunting steril
j) Handle lamp
k) Handpiece Diathermi
l) Mesin suction
m) Mesin diatermi
n) Kabel pacemaker steril dan generatornya.
2) Linen, yang terdiri dari jas operasi dan duk operasi.
b. Persiapan Bahan habis pakai
8

1) Kassa x ray
2) Plastic alas streril
3) Apron steril
4) Rubber short
5) Tournikuet 2 buah dan cotton tape 2 buah
6) Steril drape
7) Spuit 50 cc
8) Tranfusi set
9) Bone wax
10) Needle counter
11) Couter tip cleaner
12) Blade no 20 dan 11
13) Sternal wire
14) Sternal tube dan konteiner drain
15) Benang:
- Silk no 1 : 3 buah
- Silk 1 tanpa jarum : 1 buah
- Silk 4/0 : 3 buah
- Polyglicolid acid 2/0 : 2 buah
- Monofilamen absobable 3/0 : 1 buah
- benang kanulasi (braided polyester) 3/0 : 5 6 buah
- polipropilene (prolene dll) 5/0 : 3 4 buah
2. Prosedur Tindakan
Tabel 2.1. Prosedur Tindakan ASD Clossure
Tindakan Alat yang dipakai
1. Insisi kulit midsternum 1. Pisau no.20, handpeace diatermi,
diperdalam sampai sternum. pincet debeckey (kasar), hak
gigi, suction, kassa.
Pean panjang atau klem desektor
2. Sternotomi kontrol 2. Sternal saw, bone wax, kassa,
perdarahan dengan diatermi hak gigi 2 buah.
dan bone wax.
3. Pasang retractor Buka 3. Retractor, pinset operator 1
pericardium asisten 2, kekuatan diatermi
turunkan, kassa, suction.
4. Preparasi pericardium untuk 4. Pinset, benang silk 4/0, kassa
9

pathc, tegel dengan benang basah, gunting benang.


silk 4/0
5. Tegel pericardium dengan silk 5. Pinset, benang silk 1, gunting
no 1. benang.

6. Pasang line CPB (bisa 6. Towel klip tumpul 4 buah.


dilakukan diawal).
7. Persiapan kanulasi 7. a. line klemp 3 buah, gunting
- Potong line, occlusion test, line.
pastikan line bebas dari
udara (buble).
- Jahitan kanulasi : b.neddleholder halus 2, pinset,
- Aorta : benang 3/0 2 pean lurus 5, snagel 5 bh,
buah gunting benang.
- SVC : benang 3/0 1
buah
- IVC : benang 3/0 1 buah
- Antegrade Kardioplegik
: benang 3/0 1 buah
8. Kanulasi aorta : tempat 8. Pinset, metzenboum, kanul
kanulasi dibebaskan dari aorta, line clamp, pisau 11,
jaringan perivaskuler. benang sabet, benang silk no 1.
Kanulasi dengan pisau no 11,
kencangkan snagel, ikat
snagel dengan kanul aorta,
keluarkan udara, sambung ke
line aorta, buka kearah mesin
CPB, fiksasi kanu aorta
dengan kulit dengan benang
silk 1
9. Kanulasi SVC dengan pisau 9. Kanul SVC no 28, line clamp,
no 11,dilebarkan dengan pisau 11, metzenboum / long
metzenboum/ longmous, mousquito, benang sabet.
kanul masuk, kencangkan
snagel, ikat snagel dengan
kanul SVC, keluarkan udara,
clamp, sambung ke line vena.
10. Kanulasi IVC dengan pisau no 10. Kanul IVC no 32, line clamp,
11,dilebarkan dengan pisau 11, metzenboum / long
metzenboum/ longmous, mousquito panjang, benang
kanul masuk, kencangkan sabet.
snagel, ikat snagel dengan
kanul IVC, keluarkan udara,
clamp, sambung ke line vena.
11. Pasang cotton tape melingkari 11. Cotton tape 2 bh dibasahi, pinset
SVC dan IVC. panjang, metzenboum, right
angle/prepare ( untuk SVC),
semb clamp (untuk IVC),
10

tournikuet 2 bh, pean 2 bh.


12. Cardiopulmonary By Pass. 12. RL dingin
13. Pasang tegel RA dengan silk 13. Silk 4/0 , needle holder, pinset,
4/0 pada 3 tempat. gunting benang, mousquito
kecil.
14. Cross clamp aorta. 14. Clamp aorta
15. Buka RA, kencangkan tegel, 15. Pinset, metzenboum, suction
evaluasi ASD dan muara vena kardiotomi.
pulmonalis.
16. Tutup ASD dengan perikard 16. Pinset, benang polipropilene
patch, jahit dengan benang 5/0, needle holder halus, gunting
polipropilene 5/0. benang.
17. De Clamp aorta lihat denyut 17. Peddle internal, air hangat.
jantung, siapkan paddle
internal jika diperlukan.
18. Evaluasi kebocoran 18. Benang polipropilene 5/0 .
mulai re-warm
19. Tutup RA dengan benang 19. Pinset, benang polipropilene
polipropilene 5/0 5/0, needle holder halus, gunting
benang.
20. Evaluasi kebocoran RA. 20. Benang polipropilene 5/0.
21. Hemodinamik stabil mulai 21.
weaning CPB
22. Off CPB: clamp kanul vena 22. Line clamp
23. Dekanulasi kanul vena: 23. Pisau 11, gunting benang.
potong ikatan, kendorkan dan
lepas snagel, lepas kanul,
kencangkan jahitan kanulasi,
ikat.
24. kanul kardioplegi: kendorkan 24. Gunting benang
dan lepas snagel, lepas kanul,
kencangkan jahitan kanulasi,
ikat.
25. Evaluasi perdarahan bekas 25. Siapkan benang polipropilene
kanul. 5/0

26. Dekanulasi aorta: clamp kanul 26. Line Clamp, Pisau 11, gunting
aorta, potong ikatan, benang
kendorkan dan lepas snagel,
lepas kanul, kencangkan
jahitan kanulasi, ikat.
27. Evaluasi perdarahan bekas 27. Siapkan benang polipropilene
kanulasi dan secara 5/0, diatermi, bone wax, kassa
keseluruhan.
28. Scrub ners dan sirkulator 28.
mulai menghitung kassa,
instrument dan jarum.
29. Pasang drain substernal (no.32 29. Pisau 11, benang silk no.1 dan
11

atau 28) dan intra pericardium 2/0, pean bengkok, mosquito


(NGT no.10). bengkok, kontener drain.

30. Tutup pericardium. 30. Benang Poliglicolid acid 2/0.


31. Pasang sternal wire. 31. Wire needle holder, wire holder
10 buah, wire cutting.
32. Evaluasi perdarahan bekas 32. Kassa, diatermi, pinset, hak gigi.
wire
33. Tutup sternum 33. Wire needle holder, wire holder
10 bh, wire cutting.
34. Jahit subkutis dengan benang 34. Needle holder, pincet chirrurgis,
poliglicolid acid 2/0 (safil dll) gunting benang, kassa betadine.
35. Jahit kulit dengan benang 35. Needle holder, pinset.
monofilament absorbable 3/0
(monosyn dll).
36. Rawat luka operasi. 36. Pembalut steril (primapore atau
yang lain)
37. Operasi selesai. 37. -
Keterangan :
1. Penghitungan kassa, instrument, dan jarum dilakukan minimal 3 kali, diawal
sebelum operasi, ditengah sebelum tutup thorax, dan diakhir. Setiap ada
penambahan harus selalu dicatat.
2. Dosis heparin 3 mg/kgBB atau 300 iu/kgBB.
3. Kanulasi dan penggunaan suction kardiotomi diperbolehkan setelah ACT
diatas 300.
4. Dosis Protamin 1 1,25 dosis heparin, diberikan setelah off by pass dan
dekanulasi vena, hemodinamik stabil, tidak ada perdarahan aktif
(perdarahan terkontrol).
5. Kardioplegi diberikan setelah cross camp aorta, dosis awal 20 cc/kgBB,
dosis maintenance setengah dosis awal.

G. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat terjadinya infeksi pada ibu selama trimester pertama. Agen
penyebab lain adalah rubella, influenza atau chicken pox.
2) Riwayat prenatal seperti ibu yang menderita diabetes mellitus dengan
ketergantungan pada insulin.
12

3) Kepatuhan ibu menjaga kehamilan dengan baik, termasuk menjaga


gizi ibu, dan tidak kecanduan obat-obatan dan alcohol, tidak merokok.
4) Proses kelahiran atau secara alami atau adanya factor-faktor
memperlama proses persalinan, penggunaan alat seperti vakum untuk
membantu kelahiran atau ibu harus dilakukan SC.
5) Riwayat keturunan, dengan memperhatikan adanya anggota keluarga
lain yang juga mengalami kelainan jantung, untuk mengkaji adanya
faktor genetik yang menunjang.
b. Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap
jantung.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan sama dengan pengkajian fisik yang
dilakukan terhadap pasien yang menderita penyakit jantung pada
umumnya. Secara spesifik data yang dapat ditemukan dari hasil
pengkajian fisik pada penyakit jantung congenital ini adalah:
1. Bayi baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang.
2. Anak terlihat pucat, banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari
hiperemik.
3. Diameter dada bertambah, sering terlihat pembonjolan dada kiri.
4. Tanda yang menojol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum,
sela intrakostal dan region epigastrium.
5. Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinarnik.
6. Anak mungkin sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran
pernafasan atas
7. Neonatus menunjukan tanda-tanda respiratory distress seperti
mendengkur, takipnea dan retraksi.
8. Anak pusing, tanda-tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan
kebutuhan terhadap O2 tidak terpenuhi ditandai dengan adanya
murmur sistolik yang terdengar pada batas kiri sternum.
9. Adanya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada
lengan daripada kaki. Denyut nadi pada lengan terasa kuat, tetapi
lemah pada popliteal dan temoral.
c. Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
13

d. Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:


Inspeksi :
1. Status nutrisi Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang
buruk berhubungan dengan penyakit jantung.
2. Warna : Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung
kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang
sering menyertai penyakit jantung.
3. Deformitas dada : Pembesaran jantung terkadang mengubah
konfigurasi dada.
4. Pulsasi tidak umum : Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
5. Ekskursi pernapasan : Pernapasan mudah atau sulit (mis: takipnea,
dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
6. Jari tabuh : Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung
congenital.
7. Perilaku : Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri
khas dari beberapa jenis penyakit jantung.
Palpasi dan perkusi :
1. Dada : Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan
karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa
saat mampalpasi).
2. Abdomen : Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
3. Nadi perifer : Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat
menunjukkan ketidaksesuaian.
Auskultasi
1. Jantung : Mendeteksi adanya murmur jantung.
2. Frekwensi dan irama jantung : Menunjukkan deviasi bunyi dan
intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
3. Paru-paru : Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
4. Tekanan darah : Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung
(mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)
5. Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian mis; ekg, radiografi,
ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah
14

(jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah),


kateterisasi jantung.
(Misdah, 2001)
2. Pengkajian Pasien Pada Saat Tiba di Ruang Operasi.
Gunakan data dari pasien dan catatan pasien untuk mengidentifikasi variabel
yang dapat mempengaruhi perawatan dan yang berguna sebagai pedoman
untuk mengembangkan rencana perawatan pasien diantaranya:
a) Identifikasi pasien.
b) Validasi data yang dibutuhkan dengan pasien.
c) Telaah catatan pasien antara lain : Informed consent yang benar dengan
tanda tangan pasien, kelengkapan catatan riwayat kesehatan dan
pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan diagnostik, kelengkapan riwayat
dan pengkajian kesehatan, checklist pra-operatif
d) Lengkapi pengkajian keperawatan praoperatif segera meliputi : status
fisiologi, misalnya tingkat sehat-sakit, tingkat kesadaran; status
psikososial misalnya ekspresi kekhawatiran, tingkat ansietas, masalah
komunikasi verbal, dan mekanisme koping; Status fisik misalnya tempat
operasi, kondisi kulit dan efektifitas persiapan, pencukuran, atau
obat penghilang rambut, sendi tidak bergerak.
(Paliama,2001)
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul antara lain:
a. Cemas berhubungan dengan krisis situasional operasi.
b. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entree
prosedur bedah, prosedur invasif.
c. Risiko cidera berhubungan dengan: posisi pasien yang tidak tepat
selama pembedahan, benda asing yang tertinggal, prosedur bedah.
d. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajanan
lingkungan, penggunaan obat dan zat anestesi.
(Doenges,2002)
15

4. Intervensi Keperawatan
a. Cemas berhubungan dengan krisis situasional operasi.
Intervensi yang dapat dilakukan :
1) Identifikasi tingkat rasa takut / cemas.
2) Bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga
3) Catat ekspresi yang berbahaya
4) Tenangkan klien dan dengarkan keluhan dengan penuh perhatian
5) Jelaskan semua prosedur tindakan yang akan dilakukan
6) Orientasikan pasien terhadap ruangan yang ditempati
7) Bandingkan jadwal operasi, gelang identitas, dan tanda tangan
persetujan tindakan.
8) Cegah pemajanan tubuh yang tidak diperlukan selama pemindahan.
9) Kolaborasi pemberian obat-obatan anti cemas.
b. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entree prosedur
bedah, prosedur invasif.
1) Tetap pada fasilitas kontrol infeksi, sterilisasi, dan prosedur/kebijakan
aseptik.
2) Ui kesterilan semua alat.
3) Identifikasi kemungkinan gangguan pada tehnik aseptikdan atasi
dengan sesegera mungkin.
4) Siapkan lokasi operasi sesuai prosedur yang berlaku.
5) Periksa kulit terhadap infeksi yang sudah terjadi.
6) Tampung sisa cairan atau sampah terkontaminasi sesuai prosedur
yang berlaku.
7) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis maupun durante operasi.
c. Risiko cidera berhubungan dengan: posisi pasien yang tidak tepat selama
pembedahan, benda asing yang tertinggal, prosedur bedah.
1) Lepaskan gigi palsu atau kawat gigi dan informasikan kepada petugas
yang lain.
2) Lepaskan perhiasan sebelum mulai operasi.
3) Perikas identitas pasien, cocokkan dengan gelang, jadwal dan catatan
medik pasien.
16

4) Stabilkan kereta pasien maupun meja operasi waktu pemindahan


pasien.
5) Antisipasi gerakan, jalur, dan selang yang terpasang selama
pemindahan.
6) Amankan pasien di meja operasi dengan sabuk pengaman pada paha
sesuai kebutuhan.
7) Siapkan peralatan dan bantalan untuk posisi yang dibutuhkan.
8) Pastikan keamanan elektrikal dari alat-alat yang akan digunakan.
9) Letakkan elektroda penetral (ground plate diathermi) pada jaringan
yang berotot/berlemak tebal dan terhindar dari paparan cairan.
10) Pastikan dan catat jumlah pemakaian kassa, alat, jarum dan pisau
dengan benar.
d. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajanan
lingkungan, penggunaan obat dan zat anestesi.
1) Catat suhu pasien sebelum operasi.
2) Kaji suhu lingkungan dan modifikasi sesuai kebutuhan, misalnya
selimut penghangat atau pendingin.
3) Sediakan selimut penghangat saat darurat dibutuhkan
4) Kolaborasi untuk pemasangan alat pantau suhu pada pasien.
(Doenges,2002)
17

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan saat menerima pasien di ruang transit IBS yaitu
pada tanggal 9 April 2106 jam 09.30 WIB dengan melihat catatan
perkembangan dan form serah terima pasien serta dengan pengkajian langsung
kepada pasien dan keluarga.
Dari pengkajian didapatkan identitas pasien berinisial M, jenis kelamin
laki-laki umur 40 tahun. Pasien masuk rumah sakit tanggal 6 April 2016
dengan diagnosa medis ASD primum.
Keluhan Utama pasien datang ke rumah sakit dengan diagnosa ASD
primum yang akan dilakukan operasi penutupan ASD, saat dilakukan
pengkajian klien tidak mengeluh apa-apa.
Dari catatan medik pasien didapatkan riwayat penyakit sekarang lebih
kurang 4 bulan yang lalu sebelum masuk RS pasien mengeluh perut kembung
kemudian periksa ke dokter spesialis penyakit dalam dan di diagnosa
pembesaran jantung. Kemudian dirujuk ke dokter spesialis jantung lalu dirawat
selama 10 hari. Setelah dilakukan Echocardiografi diketahui pasien mengalami
kebocoran jantung. DOE tidak ada, PND tidak ada, ortopneu tidak ada.
Riwayat Kesehatan Dahulu pasien tidak ada riwayat DM, hipertensi
mauapun nyeri dada. Pasien anak keenam dari 10 bersaudara, saudara yang lain
sehat semua dan tidak ada yang mempunyai penyakit serupa.
Pasien masuk ke IBS jam 9.30 WIB. Serah terima data kesehatan dan
kelengkapan persiapan operasi meliputi dokumen rekam medik pasien, lembar
inform consent yang sudah terisi dan ditandatangani pasien, Lembar konsultasi
ke bagian THT dan Gigi, hasil pemeriksaan penunjang (laborat,
echocardiografi dan foto rongent).
Pasien mengatakan agak takut masuk ke ruang operasi karena ini
merupakan pengalaman pertama, wajah tampak cemas dan sorot mata melihat
sekeliling. Tidak ada keluhan yang lain. Tanda Vital didapatkan tekanan darah
120/70 mmHg, frekuensi nadi 88 X/menit, frekuensi pernapasan 16 X/menit,

17
18

suhu 36,5o C, Pulsasi Perifer positif. Kerusakan integritas kulit tidak ada.
Terpasang infus RL 20 tetes permenit, injeksi ceftriaxon 1 gram sudah
diberikan jam 09.00 wib. Pasien sudah puasa mulai jam 10 malam dan sudah
dilakukan lavemen. Persiapan darah PRC 4 kolf, FFP 4 kolf dan TC 4 kolf.
Pemeriksaan penunjang didapatkan hasil sbb:
1. Hasil Echo tanggal 29 Maret 2016 :
ASD Primum besar dengan L to R shunt dengan PH moderate, MR, PR,
TR moderate. EF 74%
2. Hasil rongent Thorax : CTR 50 %, segmen Aorta normal, segmen
Pulmonal menonjol, pinggang jantung mendatar, apex downward,
infiltrate (-).
3. Hasil laboratorium tanggal 6 April 2016 :
Hb : 16.3 gr/dL Prot.Tot: 7,6 g/dL pH : 7,42
Ht : 50 % Glob : 3,1 g/dL PO2 : 98 mmHg
Lekosit : 5370 /mmk Alb : 4,5 g/dL PCO2 : 37 mmHg
Trombosit : 265 SGOT : 19 IU/L HCO3 : 23,9 meq/L
GDS : 126 mg/d SGPT : 21 IU/L SaO2 : 98,8%.
Ureum : 20 mg%; Mg : 2,4 mmol/L BE : 0,4 mmol/L
Creatinin : 1,1 mg% Cl : 101 mmol/L Gol darah : B +
BUN : 9,35 mg%; K : 3,7 mmol/L HBSAg : negative
PT : 11,8 detik; Na : 139 mmol/L
APTT : 36 detik Cal.total:2,5 mol/L
4. EKG tanggal 6 April 2016 : SR, RAD, RVH, RBBB (+) komplit.

Pukul 9.40 WIB pasien masuk Kamar Operasi 2. Setelah dilakukan


prosedur sign in, kemudian dilakukan pembiusan oleh tim anestesi. Juga
dilakukan Pemasangan alat pantau hemodinamik sbb : Monitoring EKG, irama
SR, rate 88 X/menit; ETT nomor 7 dengan kedalaman 21 cm; Urine cateter no.
16; Vena perifer di vena dorsum manus dekstra; Arteri line di arteri radialis
dekstra; CVP di vena subklavia sinistra; Probe temperature di nasal; Probe
saturasi di digiti I manus dekstra.
19

Setelah pemasangan alat pantau hemodinamik didapatkan data


hemodinamik awal pukul 10.05 WIB, tekanan darah 110/70 mmHg, CVP 10
mmHg, nadi 70 X/ menit, Saturasi oksigen 100 %, temperature 360 C.
Pasien diposisikan supine, ganjal bantal pada daerah kepala, kaki dan
bahu, graund plate diatermia dipasang di muskulus gluteus dekstra. Preparasi
kulit daerah insisi dengan chlorhexidine, Bethadine solution 10 %, Alkohol 70
%. Jumlah instrumen dan kasa : Kasa lipat 30, Mosquito 15, Pean 9, towel
klips 12, Blade 2, Jarum 36.
Jalanya operasi dapat dilihat di tabel di bawah ini.
Tabel 3.1.perjalanan operasi ASD Clossure
JAM KEGIATAN HEMODINAMIK
BP HR CVP Sat SH
o
(mmHg) x/mnt (mmHg) (%) C
09.40 Pasien masuk OK II, dilakukan 110/70 70 10 100 36
sign in dan pemasangan alat
pantau hemodinamik dan
anestesi.
10.25 Dilakukan prosedur time out
10.30 dilakukan insisi kulit midsternum 104/64 60 5 100 36,6
10.42 dilakukan sternotomi 101/63 57 5 100 36,3
11.00 buka prikardium tegel dengan 75/51 58 4 100 36,1
benang silk 1 dan preparasi
pericardium untuk patch dengan
tegel benang silk 4/0
11.11 persiapan kanulasi 79/49 61 5 100 36
11.33 kanulasi aorta 86/42 75 3 100 36
11.41 kanulasi vena (double kanul) 90/56 73 4 100 36
11.48 pasang cooton tape melingkari 88/52 82 6 99 36
SVC dan IVC
11.55 cardio pulmonary by pass 72 105 - 100 36
12.00 total by pass 82 asystole - - 35,8
12.03 clamp aorta 71 asystole - 35,3
12.05 pasang tegel RA dengan silk 4/0,
20

kemudian buka RA : ditemukan


ASD dengan diameter 35 mm,
diputuskan untuk ditutup dengan
pericardium patch 50 asystole - - 33
12.08 Tutup ASD dengan perikard
patch jahit benang polipropilene 62 VF - - 33,8
5/0 (premilene) 66 100 - - 34
12.30 Tutup ASD selesai, mulai re-
warm 71 90 34
12.35 De clamp aorta 96/50 90 35,2
12.40 Tutup RA dengan benang 5/0 88/49 105 7 100 35,6
12.50 Off CPB : lancar 95/53 67 8 99 36
AoX time : 30 menit, CPB time : 110/57 54 9 99 36
59 menit
12.51 Dekanulasi vena 120/53 85 7 99 36
12.54 Pasang drain substernal (no 28) 121/54 83 7 100 36,1
dan intra perikard (no 10)
Evaluasi perdarahan
14.00 Dilakukan sign out
14.05 Tutup sternum 125/63 85 7 100 36,1
14.30 Jahit kulit 112/51 83 7 100 36,1
Pasien pindah ICU

Ringkasan tindakan operasi:


Operasi dimulai jam 10.30 WIB selesai jam 14.30 WIB dengan AoX time
30 menit dan CPB time 59 menit. Ditemukan ASD primum dengan
diameter sekitar 35 mm dan dilakukan penutupan ASD dengan
perikardium patch.
Support terapi yang diberikan mulai jam 13.00 WIB adalah Dobutamin
250/50 : 5 mcg/kg/menit,tidak terpasang support alat.
Data hemodinamik akhir jam 14.30 WIB didapatkan tekanan darah
112/51 mmHg, saturasi oksigen 100 %, Nadi 83 X/mnt, temperature
21

36,1oC, CVP 7 mmHg. Perdarahan 700 cc, produk drain 40cc, Urine total
1325 cc jernih.

B. Diagnosa keperawatan
Tabel 3.2 Analisa Data
Tgl/jam Tanda/gejala etiologi masalah
9 April DO: tekanan darah 120/70 mmHg, Krisis situasional Cemas
2016 jam frekuensi nadi 88 X/menit, operasi
09.30 frekuensi pernapasan 16 X/menit.
wajah tampak cemas dan sorot
mata melihat sekeliling
DS: Pasien mengatakan agak takut
masuk ke ruang operasi karena ini
merupakan pengalaman pertama,.
9 April DO : pasien dalam stadium posisi pasien Resiko
2016 jam anestesi, posisi supine, yang mungkin cidera
10.25 dirncanakan tindakan ASD tidak tepat
Clossure dengan pendekatan selama
sternotomi. tekanan darah 110/70 pembedahan,
mmHg, CVP 10 mmHg, HR 70 benda asing yang
X/mnt, Saturasi oksigen 100% mungkin bisa
temperature : 360 C. tertinggal
DS : -
9 April DO : pasien dalam stadium adanya prosedur Resiko
2016 jam anestesi, BP: 110/70 mmHg CVP: invasif dan infeksi
10.30 10 mmHg, HR : 70 X/mnt, tindakan
Saturasi : 100% pembedahan
temperature: 360C. Pasien
terpasang ETT no 8, urine
catheter, vena perifer di dorsum
manus dextra, arteri line di radialis
dextra, cateter CVP di subclavia
22

sinistra. Pasien dilakukan insisi


kulit midsternum
DS : -
9 April DO : pasien telah dilakukan pemakaian mesin Resiko
2016 jam operasi ASD Clossure dengan CPB dan obat- terjadi
14.30 AoX 30 mnt, CPB 59 mnt, pasien obat anestesi penurunan
WIB masih dalam pengaruh obat-obat cardiac
anestesi, terpasang ETT, ventilasi output
dengan ASV 100 %, FiO2 50%,
PEEP 5, RR 14 X/mnt, sat 100%,
BP 112/51 mmHg, HR 83 X/mnt,
CVP 7 mmHg.
DS : -

Dari tabel analisa data diatas, didapatkan diagnosa keperawatan sebagai


berikut:
1. Cemas berhubungan dengan Krisis situasional operasi.
2. Resiko cidera berhubungan dengan posisi pasien yang mungkin tidak tepat
selama pembedahan, benda asing yang mungkin bisa tertinggal.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasif dan tindakan
pembedahan.
4. Resiko terjadi penurunan cardiac output berhubungan dengan pemakaian
mesin CPB dan obat-obat anestesi.
23

C. Rencana Intervensi Keperawatan


Tabel 3.3 Rencana Intervensi Keperawatan
No. Dx Diagnosa keparawatan Tujuan Rencana Intervensi
1 Cemas berhubungan Rasa cemas pasien berkurang 1. Bina hubungan saling percaya dengan klien dan
dengan Krisis situasional setelah dilakukan tindakan keluarga
operasi. keperawatan selama 15 menit 2. Kaji tingkat kecemasan klien
dengan criteria hasil : 3. Tenangkan klien dan dengarkan keluhan dengan penuh
2. Ekspresi wajah tenang perhatian
3. Tanda-tanda vital dalam 4. Jelaskan semua prosedur tindakan yang akan dilakukan
batas normal 5. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
4. Pasien kooperatif mengurangi takut
6. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,
tindakan yang akan dilakukan
7. Perkenalkan diri saat menerima pasien di kamar
operasi, kenalkan juga team yang lain.
8. Orientasikan pasien terhadap ruangan yang ditempati
9. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsinya.
10. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
11. Monitoring efek samping pemberikan obat anti
kecemasan
12. Lakukan edukasi cara mengurangi cemas
13. Libatkan keluarga terutama orang yang terdekat.
Kolaborasi
14. Pemberian obat-obatan anti cemas
24

2 Resiko cidera berhubungan Tidak terjadi cidera selama 1. posisikan pasien senyaman mungkin sesuai tindakan
dengan posisi pasien yang prosedur operasi yang ditandai operasi yang akan dilakukan
mungkin tidak tepat selama dengan : 2. berikan ganjal pada bagian tubuh yang keras : kepala,
pembedahan, benda asing 1. tidak terdapat kerusakan bahu, kaki.
yang mungkin bisa integritas kulit. 3. Pasang ground diatermi pada daerah yang berlemak
tertinggal. 2. Alat dan bahan habis pakai atau berotot dan terlindung dari cairan, misalnya di
sesuai sebelum dan sesudah glutea.
operasi 4. Hitung alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan,
sebelum dan sesudah prosedur operasi, pastikan tidak
ada yang tertinggal di tubuh pasien.
3 Resiko infeksi Tidak terjadi infeksi setelah 1. Monitor hemodinamik
berhubungan dengan dilakukan tindakan keperawatan 2. Monitor laboratorium (angka lekosit)
selama 3x24 jam dengan 3. Lakukan prosedur operasi dengan prinsip aseptic
adanya prosedur invasif
kriteria hasil : antiseptic.
dan tindakan pembedahan 1. Angka lekosit normal (5rb- 4. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
10rb /uL) prosedur.
2. Tidak terdapat tanda-tanda 5. Lakukan tehnik scrubing, gowning dan gloving dengan
infeksi pada area baik dan benar.
pembedahan dan 6. Lakukan tehnik toileting dan drapping medan operasi
pemasangan alat invasif dengan baik dan benar.
7. Jaga medan operasi dan instrumen operasi tetap steril.
8. Jaga daerah luka dan tempat pamasangan alat invasive
tetap kering dan tertutup.
9. Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada luka
pembedahan dan tempat pemasangan alat invasif.
10. Ganti segera balutan jika basah atau terdapat rembesan.
25

11. Jaga kebersihan lingkungan sekitar klien.


12. Pastikan obat antibiotik profilaksis sudah diberikan
maksimal 1 jam sebelum operasi.
13. Kolaborasi pemberian antibiotik durante operasi.
4 Resiko terjadi penurunan Tidak terjadi penurunan cardiac 1. Monitor dan catat hemodinamik dan tanda-tanda vital
cardiac output output setelah dilakukan pasien tiap 1 jam sekali.
berhubungan dengan tindakan keperawatan selama 2. Monitor produksi urine dan drain tiap 1 jam sekali.
pemakaian mesin CPB dan 1x24 jam dengan kriteria hasil : 3. Monitor dan catat suhu klien, pertahankan pada kondisi
obat-obat anestesi 1. Hemodinamik dan tanda- normal.
tanda vital stabil dan dalam 4. Monitor gambaran EKG.
batas normal 5. Observasi warna dan kehangatan akral, kulit, kaji
2. Balance cairan terkontrol pulsasi perifer.
3. Irama EKG tidak terdapat 6. Monitor perubahan atau peningkatan kesadaran.
kelainan 7. Kolaborasi untuk pemberian cairan untuk
mengoptimalkan CVP/PCWP .
8. kolaborasi dengan dokter jaga untuk pemberian
inotropik dan vasodilator jika diperlukan.
9. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan,
pertahankan keseimbangan.
26

D. Implementasi Keperawatan dan Evaluasi


Tabel 3.4. Implementasi
No Tanggal/jam Implementasi Evaluasi
Dx
1 9-4-2016 1. Menerima pasien dari ruangan, serah terima dengan 9-4-2016 jam 09.40 WIB
Jam 09.30 perawat ruangan, melakukan prosedur chek in. S : pasien mengatakan siap untuk
2. memperkenalkan diri dan tim yang lain kepada dioperasi
pasien. O : ekspresi wajah pasien tenang
3. Menemani pasien selama menunggu dilakukanya Pasien mengerti penjelasan perawat
prosedur. A : masalah teratasi
4. Mempersilahkan pasien untuk mengungkapkan P : lanjutkan intervensi selanjutnya
perasaanya.
5. Memberikan penjelasan pasien terhadap ruangan yang
ditempati.
6. menjelaskan prosedur yang akan dilakukan.
7. Menganjurkan pasien dan keluarga untuk berdoa.
2 9-4-2016 1. Memindahkan pasien ke ruang operasi 2. 9 4 2016 jam 14.30
Jam 09.40 2. memposisikan pasien supine. S:-
3. Melakukan prosedur sign in O : - tidak terdapat kerusakan integritas
4. memberikan ganjal pada kepala, bahu, kaki. kulit,
5. memasang ground diatermi pada glutea dekstra. - jumlah Instrument dan kassa
Jam 10.25 6. Melakukan prosedur time out lengkap
7. menghitung alat-alat dan bahan-bahan yang - Jumlah jarum lengkap
digunakan sebelum operasi. A : masalah teratasi
Jam 14.00 8. Melakukan prosedur sign out, termasuk didalamnya P : teruskan intervensi
menghitung alat-alat dan bahan-bahan yang
27

digunakan, sesudah operasi selesai.


Jam 14.30 9. Mengecek tempat bekas ground diatermi
3 9-4-2016 jam 1. Menyiapkan alat dan bahan-bahan untuk operasi 9-4-2016 jam 14.30
09.30 dengan, mengecek tanggal kadaluwarsanya. S:-
Jam 10.00 2. memastikan obat antibiotik profilaksis sudah O : - hemodinamik stabil, pasien masih
diberikan maksimal 1 jam sebelum operasi. dalam stadium anestesi.
3. melakukan tehnik scrubing, gowning dan gloving BP 112/51 mmHg, HR 83 X/mnt, CVP 7
dengan baik dan benar. mmHg, RR 13, afebril.
4. melakukan tehnik toileting dengan chlorhexidine, Tidak terdapat tanda-tanda infeksi di luka
povidone iodine dan alkohol 70%. operasi dan tempat penusukan alat
5. Melakukan tehnik drapping medan operasi dengan invasive.
baik dan benar. A : masalah teratasi
Jam 10.25 6. Melakukan prosedur time out. P : intervensi diteruskan
7. Selalu menjaga kesterilan operasi.
8. Memonitor hemodinamik selama prosedur operasi.
9. Melakukan perawatan luka operasi.
Jam 14.30 10. operasi dan tempat penusukan alat invasive
4 9-4-2016 jam 1. memonitor hemodinamik dan tanda-tanda vital pasien 9-4-2016 jam 14.30
09.30 tiap 1 jam sekali. S:-
Dan selama 2. Memonitor produksi urine dan drain tiap 1 jam sekali. O : - hemodinamik stabil, pasien masih
durante operasi 3. Memonitor suhu tubuh pasien dalam stadium anestesi.
sampai operasi 4. memonitor gambaran EKG BP 112/51 mmHg, HR 83 X/mnt irama
selesai 5. mengobservasi warna dan kehangatan akral, kulit sinus, CVP 7 mmHg, RR 13, afebril.
6. megkaji pulsasi perifer. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi di luka
7. Kolaborasi untuk pemberian cairan operasi dan tempat penusukan alat
invasive.
28

A : masalah teratasi
P : pertahankan kondisi stabil, lanjutkan
intervensi di ICU (serah terima dengan
perawat ICU)
29

BAB IV
PEMBAHASAN

Bab Pembahasan ini penulis akan menguraikan kesenjangan antara konsep


dasar asuhan keperawatan pasien ASD yang dilakukan tindakan ASD Colssure
dengan kasus nyata yang penulis dapatkan. Pembahasana ini mencakup proses
keperawatan yaitu dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa, menyusun rencana
intervensi, melakukan implementasi keperawatan dan evaluasi.
A. Pengkajian
Seperti halnya penyakit jantung bawaan yang lain, penyebab ASD belum
dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai
pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Menurut Muttaqien, 2009,
faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor prenatal yang meliputi ibu
menderita infeksi Rubella, Ibu alkoholisme, Umur ibu lebih dari 40 tahun, Ibu
menderita IDDM, Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu; dan Faktor
genetik yang meliputi: Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, Ayah atau ibu
menderita PJB, Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down, Lahir dengan
kelainan bawaan lain. Dalam pengkajian yang penulis lakukan terhadap pasien
dan keluarga tidak ditemukan faktor faktor tersebut. Tidak ditemukannya
faktorfaktor tersebut bukan berarti faktor faktor tersebut tidak ada, tetapi lebih
dikarenakan sedikitnya sumber sumber yang dapat digali dan minimnya
informasi yang didapat dari keluarga.
Pemeriksaan penunjang pada pasien ASD meliputi pemeriksaan EKG,
rongent thorak, echocardiography,dan kateterisasi jantung. EKG umumnya
terlihat deviasi sumbu QRS ke kanan, hipertrofi ventrikel kanan, dan right bundle
branch block (RBBB). Pada rongent thorak terlihat kardiomegali, segmen
penonjol, vaskularisasi paru meningkat. Pemeriksaan Ekokardiografi pada
pandangan subcostal 4-chamber akan memperlihatkan defek pada septum atrium
dan ditemukan tanda-tanda adanya left to right shunt. PH (Pulmonal Hipertensi)
muncul pada usia dekade III dan IV. (Rahajoe, 2003)
Pemeriksaan EKG pada pasien tn M, ditemukan gambaran yang sesuai
dengan teori yaitu deviasi axis ke kanan (RAD), hipertrofi ventrikel kanan (RVH),

29
30

dan right bundle branch block (RBBB). Hal ini disebabkan, pada pasien ASD
dewasa, resistensi vaskular pulmonal berkurang, dinding ventrikel kanan menipis
dan kejadian pirau kiri ke kanan melalui ASD meningkat. Peningkatan aliran
darah ke jantung sisi kanan akan menyebabkan pembesaran atrium dan ventrikel
kanan serta dilatasi arteri pulmonalis. (Ghanie A,2007)
Hasil Echo tanggal 29 Maret 2016 juga menunjukkan adanya ASD Primum
besar dengan L to R shunt dengan PH moderate, MR, PR, TR moderate. EF 74%.
Hal ini juga sesuai dengan teori yang dipaparkan diatas. Sedangkan hasil rongent
Thorax menunjukkan CTR 50 %, segmen Aorta normal, segmen Pulmonal
menonjol, pinggang jantung mendatar, apex downward, infiltrate (-). Hal ini agak
berbeda dengan teori yang mana hanya penonjolan segmen pulmonal saja yang
terlihat. Adanya dilatasi arteri pulmonalis yang tampak sebagai penonjolan
segmen pulmonal dalam rongent thorax terjadi karena peningkatan aliran darah ke
jantung sebelah kanan melalui ASD. (Ghanie A,2007)
Pengkajian selanjutnya penulis lebih fokus pada persiapan pasien menjalani
operasi, baik persiapan fisik, psikis, maupun adminstratif. Pada pengkajian ini
penulis mendapatkan data persiapan pasien secara fisik maupun administratif
sudah siap, tetapi pasien masih tampak cemas. Hal ini wajar karena ini adalah
pengalaman pertama bagi pasien.

B. Diagnosa keperawatan, Intervensi dan pelaksanaan


Diagnosa yang muncul pada sebelum dilakukan tindakan operasi adalah
cemas. Diagnosa ini muncul selama periode pre operasi, dan disini Penulis masih
mengankat diagnosa ini Kecemasan ini muncul karena kurangnya informasi
yang didapatkan pasien tentang operasi yang akan dijalaninya. Kurang informasi
menjadi salah satu penyebab ansietas pada klien yang akan melakukan operasi
(Black, 2007). Perawat melakukan implementasi sesuai dengan intervensi yang
direncanakan saat serah terima dengan perawat ruangan. Setelah dilakukan
prosedur chek in, perawat memperkenalkan diri dan tim yang lain kepada pasien,
menemani pasien selama menunggu dilakukanya prosedur, mempersilahkan
pasien untuk mengungkapkan perasaannya, memberikan penjelasan pasien
terhadap ruangan yang ditempati, menjelaskan prosedur yang akan dilakukan,
31

menganjurkan pasien dan keluarga untuk berdoa dan mengajarkan teknik nafas
dalam jika pasien merasa cemas. Hal ini dilakukan untuk menciptakan hubungan
dan kenyamanan psikologis bagi pasien (Doenges,2002)
Diagnosa yang muncul pada intra operasi adalah Resiko cidera. NANDA
mendefinisikan Resiko cidera sebagai akibat posisi perioperatif sebagai keadaan
yang rentan mengalami perubahan anatomis dan fisik yang tidak disengaja akibat
sikap tubuh atau peralatan yang digunakan saat prosedur invasif atau bedah yang
dapat mengganggu kesehatan. Faktor risiko diantaranya disorientasi, edema,
gangguan sensorik/persepsi akibat anestesi, imobilisasi, kelemahan otot, dan
obesitas.(NANDA, 2015-2017). Faktor risiko yang ada pada kasus ini adanya
disorientasi, gangguan sensorik/persepsi akibat anestesi dan imobilisasi yang
relatif lama. Juga penggunaan alat-alat seperti diatermi yang memerlukan ground
plate yang bisa menyebabkan luka bakar, dan bahan habis pakai lainya seperti
kassa dan jarum yang mungkin bisa tertinggal di tubuh pasien. Implementasi
yang dilakukan sesuai dengan apa yang direncanakan yaitu memposisikan pasien
senyaman mungkin sesuai tindakan operasi yang akan dilakukan, memberikan
ganjal pada bagian tubuh yang keras: kepala, bahu, kaki. Memasang ground
diatermi pada daerah yang berlemak atau berotot dan terlindung dari cairan, yaitu
di glutea. Hal ini memungkinkan adanya koduktivitas yang maksimal dari ground
diathermi untuk mencegah terjadinya perlukaan akibat alat elektronik
(Doenges,2002). Implementasi yang lain yaitu menghitung alat-alat dan bahan-
bahan yang digunakan, sebelum dan sesudah prosedur operasi, untuk memastikan
tidak ada yang tertinggal di tubuh pasien. Benda asing yang tertinggal di rongga
badan tidak hanya menyebakan peradangan, infeksi, perforasi dan pembentukan
abses, tetapi juga mungkin menyebabkan komplikasi yang membahayakan, yang
mengacu pada kematian.(Doenges,2002)
Diagnosa yang muncul pada intra operasi yang lain adalah resiko infeksi.
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya prosedur invasif dan tindakan
pembedahan. Diagnosa ini dimunculkan karena prosedur operasi ASD clossure
menggunakan pendekatan sternotomi yang dilakukan dengan cara insisi
32

midsternum yang menimbulkan akses jalan bagi masuknya kuman patogen


penyebab infeksi. Selain itu juga diperlukan pemasangan monitoring invasiv
seperti, iv line, arteriline, cvc, urine cateter. Untuk mengurangi resiko infeksi
maka perawat menjaga prinsip aseptik dan menjaga kesterilan alat dan bahan
yang akan digunakan saat operasi. (Black, 2009)
Diagnosa yang muncul post operasi adalah resiko terjadi penurunan
cardiac output berhubungan dengan pemakaian mesin CPB dan obat-obat
anestesi. Secara garis besar implementasi yang dilakukan sudah sesuai dengan
perencanaan yaitu memonitor hemodinamik dan tanda-tanda vital pasien tiap 1
jam sekali, memonitor produksi urine dan drain tiap 1 jam sekali, memonitor
suhu tubuh pasien, memonitor gambaran EKG, mengobservasi warna dan
kehangatan akral, kulit, megkaji pulsasi perifer, Kolaborasi untuk pemberian
cairan.
Pada kasus ini Penulis tidak mengangkat diagnosa resiko tinggi
perubahan suhu tubuh berhubungan dengan pemajanan lingkungan, penggunaan
obat dan zat anestesi. Hal ini disebabkan pada operasi bedah jantung terbuka,
suhu tubuh dipantau secara ketat dengan memasang probe temperatur. Selama
dilakukan prosedur ini, suhu tubuh dijaga agar selalu dalam keadaan hipotermi,
biasanya 280C sampai dengan 320C. Darah didinginkan selama pintasan jantung
paru dan dikembalikan ke tubuh. Darah yang didinginkan tersebut akan
menurunkan kecepatan metabolisme basal, sehingga kebutuhan oksigen akan
berkurang. Setelah prosedur selessi darah dihangatkan kembali sampai suhu
tubuh mencapai normal kembali. (Smeltzer,2002)

C. Evaluasi
Evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai
keberhasilan suatu intervensi. Evaluasi yang penulis lakukan adalah evaluasi
proses dan evaluasi akhir. Pada diagnosa Cemas dan resiko cidera, penulis bisa
melakukan evaluasi akhir, sedangkan pada diagnosa resiko infeksi dan resiko
penurunan cardiak output penulis tidak dapat melakukan evaluasi akhir.
Untuk masalah kecemasan pasien, setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 15 menit, pasien tampak tenang dan siap untuk dioperasi.
33

Tanda- tanda vital dalam batas normal dan pasien mau mengungkapkan
perasaannya. Hal ini menunjukkan proses keperawatan berhasil mengatasi
masalah pasien. Sedangkan pada diagnosa resiko cedera, setelah selesai operasi
pasien tidak mengalami cedera, hitungan alat, kassa dan jarum sesuai antara
sebelum dan sesudah tindakan, daerah yang tertekan tidak ada warna kemerahan
dan bekas tempat pemasangan ground diatermi tidak terdapat luka bakar.

.
34

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Atrial Septal Defect / ASD (defek septum atrium) adalah kelainan jantung
kongenital dimana terdapat lubang (defek) pada sekat (septum) inter-atrium.
2. Etiologi ASD belum diketahui secara pasti tetapi ada beberapa faktor yang
diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Faktor-
faktor tersebut diantaranya adalah faktor prenatal yang meliputi ibu menderita
infeksi Rubella, Ibu alkoholisme, Umur ibu lebih dari 40 tahun, Ibu menderita
IDDM, Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu; dan Faktor genetik
yang meiputi: Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, Ayah atau ibu
menderita PJB, Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down, Lahir dengan
kelainan bawaan lain
3. Penanganan ASD dapat dilakukan dengan intervensi non bedah yaitu dengan
intervensi kateterisasi (ASO -amplatzer septal occluder) dan dengan tindakan
pembedahan jantung terbuka.
4. Pada contoh kasus yang diangkat, yaitu asuhan keperawatan intra operatif
pada tn. M ini muncul diagnosa keperawatan sebanyak 4 buah yaitu Cemas
berhubungan dengan Krisis situasional operasi, Resiko cidera berhubungan
dengan posisi pasien yang mungkin tidak tepat selama pembedahan, benda
asing yang mungkin bisa tertinggal, Resiko infeksi berhubungan dengan
adanya prosedur invasif dan tindakan pembedahan, Resiko terjadi penurunan
cardiac output berhubungan dengan pemakaian mesin CPB dan obat-obat
anestesi. Hal ini dikarenakan penulis hanya membatasi pada masalah intra
operatif saja, yaitu selama pasien dilakukan tindakan di IBS dari mulai serah
terima sampi pasien dipindahkan ke ICU.
5. Implementasi yang dilaksanakan sudah sesuai dengan perencanaan, yang
bertujuan membantu mengatasi kecemasan pasien, mencegah terjadinya
risiko cedera, risiko infeksi, dan risiko penurunan cardiac output.
6. Evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi proses dan evaluasi hasil. Dua
diagnosa yaitu cemas dan resiko cedera dapat dilakukan evaluasi akhir

34
35

dengan hasil masalah cemas teratasi dan tidak terjadi cidera. Sedangkan pada
diagnosa resiko infeksi dan resiko penurunan cardiak output penulis tidak
dapat melakukan evaluasi akhir karena pasien dipindahkan ke ruang
perawatan intensif (ICU).

B. Saran
1. Perawat khususnya yang bertugas di ruang operasi hendaknya selalu
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam memberikan asuhan
keperawatan intra operatif bedah jantung, khususnya operasi penutupan ASD.
2. Hendaknya pihak rumah sakit dapat memberikan fasilitas untuk perawat agar
mampu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam memberikan
asuhan keperawatan intra operatif bedah jantung, khususnya operasi
penutupan ASD, baik berupa pelatihan maupun sarana kepustakaan.
3. Hendaknya pihak rumah sakit dapat menyusun panduan asuhan keperawatan
bedah jantung sebagai panduan perawat dalam memberikan pelayanan.
36

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, E.M,dkk.Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3.Penerbit Buku
Kedokteran.Jakarta.2002

Ghanie A. Penyakit jantung kongenital pada dewasa. In: Sudoyo AW dkk (ed). Buku
ajar ilmu penyakit dalam. Edisi IV. Jilid III.BP FKUI.Jakarta.2007

Misdah,Herniati.Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Bawaan.Dalam: Buku Ajar


Keperawatan Kardiovaskuler. Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Nasional Harapan Kita.Jakarta.2001

Mulyadi.Penanganan Penyakit Jantung Bawaan Tanpa Operasi.Penerbit Sagong


Seto.Jakarta.2014

Muttaqin, Arief.Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular dan Hematologi.salemba Medika.Jakarta.2009

NANDA International inc.Diagnosa Keperawatan:Definisi & Klasifikasi 2015-


2017,edisi 10.Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta.2016

Paliama, Anthoneta.Perawatan Intra Bedah. Dalam: Buku Ajar Keperawatan


Kardiovaskuler. Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional
Harapan Kita.Jakarta.2001

Rahajoe, Anna U.Defek Septum Atrium.dalam :Buku Ajar Kardiologi.Balai Penerbit


FKUI.Jakarta.2003

Smeltzer,Suzanne C & Brenda G Bare.Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah


Brunner & Suddarth, Edisi 8.Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran.2002

Ursula Penny.jantung bawaan. http://doktersehat.com/jantung-bawaan-pjb/