You are on page 1of 5

LATIHAN KE-3

NAMA : AVITA POPPY YUWONO

NIM : 123160023

1. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan kejahatan korporasi


dan berikan contoh dalam praktek nyata kejahatan tersebut?
Kejahatan Korporasi adalah kejahatan yang dilakukan oleh para karyawan
atau pekerja terhadap korporasi, korporasi yang sengaja dibentuk dan
dikendalikan untuk melakukan kejahatan.

Menurut Black's Law Dictionary Kejahatan korporasi adalah segala tindak


pidana yang dilakukan oleh dan oleh karena itu dapat dibebankan kepada
sebuah korporasikarena kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pegawai dan
karyawannya (Penetapan harga, pembuangan limbah), seringkali dikenal
sebagai kejahatankerah putih.

Conto dari kejahatan Kasus Korporasi dalam Bidang Ekonomi/Perbankan

Kasus Pencucian Uang/Pembobolan Dana Nasabah Citibank

Setelah digegerkan oleh kasus Bank Century beberapa waktu lalu, kali ini
Indonesia kembali digegerkan dengan pembobolan dana nasabah Citibank.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse dan Kriminal
(Bareskrim) Polri menahan tersangka Inong Malinda Dee berusia 47 tahun yang
menjabat sebagai Senior Relationship Manager di Citibank, karena diduga
melakukan tindak pidana perbankan dan pencucian uang dari uang nasabah
yang dipegangnya. Dana nasabah itu lalu dialirkan ke berbagai rekening milik
Malinda maupun perusahaan.

Salah satu perusahaan yang menerima aliran dana itu yakni PT Sarwahita
Global Management. Pejabat Citibank yang diduga turut terlibat mendirikan PT
Sarwahita Global Management (SGM) bersama Malinda Dee telah diberhentikan
sementara waktu oleh pihak Citibank. Pejabat tersebut adalah Reniwaty Hamid.

Sementara itu, dua orang lainnya yang juga diduga turut mendirikan PT
Sarwahita Global Management yakni Gesang Situmorang dan Dennis Roy
Sangkilawang sudah tidak lagi menjadi pejabat Citibank. Gesang telah pensiun
sementara Dennis telah mengundurkan diri. Polri menetapkan status saksi pada
Reniwati Hamid dalam kasus pencucian uang dengan tersangka Malinda Dee.
Polri mengaku masih fokus kepada Malinda dan belum membidik direksi PT
Sarwahita lainnya.

Malinda dilaporkan oleh Citibank karena adanya pengaduan atau keluhan


tiga nasabah bank tersebut yang kehilangan uang, sehingga total kerugian
sementara yang di alami tiga nasabah sebesar Rp16,6 miliar. Wanita yang lahir
di Pangkal Pinang pada 5 Juli 1965, sudah 20 tahun bekerja di bank milik
Amerika Serikat dan telah tiga tahun melakukan aksi kejahatan perbankan
tersebut. Citibank mengakui terbongkarnya dugaan kejahatan pembobolan dana
nasabah oleh Malinda Dee bukan temuan audit internal perusahaan tapi laporan
nasabah.

Direktur Kepatuhan Citibank Yesica Effendi menceritakan kronologi


terbongkarnya kasus ini bermula pada 9 februari 2001 di mana seorang nasabah
menanyakan kepada Malinda Dee tentang berkurangnya dana pada rekening
oleh transaksi yang tidak dikenali.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Anton
Bachrul Alam mengatakan modus yang dilakukan Malinda dengan sengaja telah
melakukan pengaburan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa
slip transfer. Seorang teller Citibank yang berinisial D telah ditetapkan sebagai
tersangka dan dua kepala teller Citibank Landmark yang berinisial W dan N
sudah dimintai keterangan, sementara pihak-pihak yang diduga terlibat kasus ini
juga terus dikejar. Sedangkan saksi-saksi yang telah diperiksa hingga kemarin
ada 25 orang. Anton merinci saksi-saksi itu tiga orang nasabah Citibank yang
melaporkan aksi Malinda ke bank, 18 karyawan Citibank, dan sisanya berasal
dari PT Sarwahita Global Management.

Malinda mengatakan, Citibank telah menampung dana pencucian uang


nasabah Malinda selama 10 tahun. Dan selama itu pula para atasan Malinda di
Citibank cabang Landmark sangat mengetahui apa yang dilakukan Malinda
terhadap uang nasabahnya. Pasalnya Malinda menjadi perpanjangan tangan
nasabah untuk mencuci uang tabungan tersebut. Malinda akan menawarkan
jasa lain dengan memindahkan rekening nasabah ke bisnis lain seperti asuransi
dan produk Citibank lainnya.

Dari pencucian uang nasabah ke bisnis lain, nasabah akan mendapatkan


keuntungan. Kartu identitas (KTP) lebih dari satu jadi sarana Malinda Dee
melancarkan aksi penggelapan dana nasabah dan pencucian uang yang
dipraktikkan di delapan bank dan dua perusahaan asuransi. Kepala Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein
mengatakan, pihaknya menemukan 28 transaksi mencurigakan dengan rekening
atas nama Malinda Dee, tersangka penggelapan uang Citibank dan pencucian
uang. Yunus Husein sebelumnya membenarkan ada mantan pejabat yang
dikerjai Malinda. Namun, sang mantan pejabat yang kini telah pensiun itu tidak
melapor ke polisi. Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo memilih
merahasiakan identitas sang mantan pejabat itu.

Berdasarkan keterangan Polri, ada 3 nasabah Malinda yang menjadi


korban. Mereka sudah menjalani pemeriksaan. Polri juga pernah menyampaikan
total uang yang dikuras, untuk sementara mencapai Rp 17 miliar. Polri juga
sudah menyita 4 mobil mewah dan rekening milik Malinda senilai Rp 11 miliar.

Malinda dijerat pasal pencucian uang dan penggelapan. Mobil mewah


masing-masing mobil, Ferrari merah seri F430 Scuderria, Mercedez Benz warna
putih dengan seri E350 dua pintu dan Ferrari merah bernopol B 125 Dee seri
California dan telah dititipkan di Rumah Penitipan Barang Sitaan (Rupbasan).
Mobil disita dari apartemen Pacific Place dan di Capital Residence, mungkin ada
satu mobil yang dikejar yakni Alphard. Selain itu, diduga Malinda juga memiliki
tiga unit apartemen salah satunya di SCBD. Baik mobil mewah dan apartemen
milik Malinda dibeli secara kredit.

2. Jelaskan fraud dalam bidang asuransi kesehatan (Health


Insurance) termasuk tahap-tahap fraudnya, bagaimana
pencegahannya serta berikan contohnya?
Fraud dalam pelayanan kesehatan dilakukan terhadap hal2 atau keadaan
dan situasi yang berhubungan dengan proses pelayanan kesehatan, cakupan
atau manfaat pelayanan kesehatan dan pembiayaannya.
Dalam pelayanan kesehatan juga dikenal yang disebut sebagai abuse yaitu
bentuk lain yang dapat merugikan dalam pelayanan kesehatan. Namun istilah ini
lebih banyak digunakan dalam asuransi kesehatan yang diartikan sebagai
kegiatan atau tindakan yang merugikan dalam pelayanan kesehatan tetapi tidak
termasuk dalam kategori fraud. Abuse dapat berupa malpraktek atau
overutilization.

Berdasarkan Heath Insurance Assosiciation of America (HIAA), fraud


dalam pelayanan kesehatan atau asuransi kesehatan dapat dikategorikan
sebagai berikut:
Fraud oleh peserta asuransi kesehatan sebagai konsumen
Fraud oleh pemberi pelayanan kesehatan (provider)
Fraud oleh perusahaan asuransi

Dengan demikian maka fraud dapat dilakukan oleh para pihak yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan sehingga perlu ditelusuri dari pihak
mana saja yang telah melakukan fraud tersebut. Fraud yang biasa dilakukan
oleh konsumen atau peserta asuransi kesehatan antara lain:

Membuat pernyataan yang tidak benar dalam pengajuan klaim


Membuat pernyataan yang tidak benar dalam hal eligibilitas untuk memperoleh
pelayanan kesehatan atau pada waktu mengajukan klaim.

Fraud oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan (provider) dapat dilakukan baik


oleh individu dalam institusi tersebut misalnya dokter, perawat, dll, maupun
secara intitusi yang secara sengaja melakukan fraud. Bentuk fraud oleh individu
dilakukan secara sengaja untuk meningkatkan insentif bagi yang bersangkutan.
Sementara fraud yang dilakukan oleh institusi memang dilakukan untuk
meningkatkan tagihan klaim yang berarti meningkatkan pendapatan institusi
tersebut.

Bentuk fraud yang biasa dilakukan oleh Pemberi Pelayanan Kesehatan antara
lain:

Pengajuan klaim dengan mencantumkan pelayanan atau tindakan yang tidak


diberikan, misalnya pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap 2 jenis
pemeriksaan tetapi diajukan sebagai 3 jenis pemeriksaan atau lebih.
Melakukan manipulasi terhadap diagnosa dengan menaikkan tingkatan jenis tindakan
misalnya appendiectomy ditagihkan sebagai appendiectomy dengan komplikasi yang
memerlukan operasi besar sehingga menagihkan dengan tarip lebih tinggi.
Memalsukan tanggal dan lama hari perawatan. Hal ini biasanya terjadi dengan
menambahkan jumlah hari rawat dengan cara menambahkan tanggal perawatan
padahal pasien sudah pulang kerumah.
Melakukan penagihan klaim dengan tarip yang lebih besar dari yang seharusnya,
misalnya tagihan alat kesehatan yang lebih besar dari harga regular.
Melakukan klaim obat dengan nama dagang padahal yang diberikan adalah obat
dengan nama generik.
Berdasarkan pengalaman berbagai negara maju, fraud dapat dicegah
antara lain melalui peran semua pihak terkait Pemerintah:

Menetapkan ketentuan hukum atau undang-undang tentang fraud yang


mencantumkan tentang hukuman yang dapat dikenakan kepada yang melakukan
fraud tersebut.
Disamping itu Pemerintah perlu menetapkan standar pelayanan, standar terapi,
standar obat dan alat kesehatan yang dapat menjadi acuan dalam semua tindakan
pelayanan kesehatan. Dengan demikian maka adanya fraud dapat ditelusuri
berdasarkan ketentuan yang sudah ditetapkan.

Pemberi Pelayanan Kesehatan (provider):

Pemberi Pelayanan Kesehatan mempertahankan kepercayaan perusahaan asuransi


terhadap pelayanan yang diberikan dan diwujudkan dalam bentuk pengajuan klaim
yang sesuaidengan pelayanan yang diberikan dan akurat.
Pemberi Pelayanan Kesehatan mempertahankan kepercayaan pasien atau peserta
asuransi dengan memberikan pelayanan sesuai dengan standar2 yang telah
ditetapkan serta manfaat yang seharusnya menjadi hak peserta dengan baik.

Peserta asuransi:

Melengkapi identitas sebagai peserta dengan sebenarnya dan tidak memberi peluang
untuk disalahgunakan oleh yang tidak berhak.
Meminta informasi terhadap pelayanan yang diberikan oleh Pemberi Pelayanan
Kesehatan, dokter dan perawat.

Perusahaan asuransi:

Melakukan investigasi rutin terhadap klaim yang diajukan secara acak dengan
melakukan cross check terhadap medical record.
Melakukan konsultasi kepada Medical Advisory Soard (MAS) terhadap klaim yang
diajukan atau jenis tindakan dan terapi yang diberikan oleh provider. Disamping itu
MAS dapat bertindak sebagai pihak yang memberikan second opinion terhadap
tindakan yang akan diberikan Pemberi Pelayanan Kesehatan kepada pasien.