You are on page 1of 14

FORUM NASIONAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VII

Nama : Bina Lauringga Andora


Nim : 03012051

TUGAS :
1. Apakah beda jaminan dan asuransi kesehatan ?
2. Bagaimana SJSN di Indonesia dan sebutkan peraturan presiden yang mengatur JKN
bidang kesehatan terkait UHC 2019 ?
3. Apa yang diatur di dalam UU No. 23 tahun 2014 terkait pembiayaan tersebut ?
4. Bagaimana peraturan BPJS dan pelaksanaannya di lapangan ?
5. Apa yang dimaksud dengan fraud, berikan contoh fraud dalam JKN ?

Jawaban :
1. Perbedaan Jaminan dan Asuransi
Nilai Premi
Setiap peserta BPJS dan asuransi kesehatan tentunya diwajibkan untuk membayar
iuran atau premi. Nilai iuran BPJS Kesehatan tergolong murah, dan dibedakan
menurut kelas layanan. Iuran untuk kelas 1 sebesar Rp59.500,-, kelas 2 sebesar
Rp42.500,-, dan kelas 3 sebesar Rp25.500,- per bulan.
Sementara nilai premi asuransi kesehatan cenderung mahal dan dibedakan
menurut kelas layanan juga usia. Semakin tua usia peserta, maka semakin mahal
premi asuransinya. Secara nominal, nilai premi asuransi kesehatan swasta antara
yang satu dengan yang lain bisa jadi berbeda. Namun, rata-rata mencapai
Rp300.000,- hingga Rp500.000,- per bulan.
Sistem Layanan
Dalam hal sistem pelayanan, BPJS menggunakan sistem berjenjang dan rujukan.
Untuk memeriksakan kesehatannya, peserta harus melalui fasilitas kesehatan
(faskes) tingkat pertama lebih dulu, yaitu bisa puskesmas, klinik, atau dokter
pribadi. Jika ternyata penyakit yang diderita oleh peserta tidak bisa ditangani oleh
faskes 1, baru dirujuk ke rumah sakit yang bekerjasama. Itupun peserta tidak bisa
memilih sendiri rumah sakit yang diinginkan, tetapi tergantung pada faskes 1
yang membuat rujukan. Meski dalam kondisi darurat, peserta bisa langsung
berobat ke rumah sakit manapun, namun BPJS memberlakukan ketentuan gawat
darurat yang cukup ketat.
Pada asuransi kesehatan, sistem layanan yang diterapkan bersifat langsung.
Artinya peserta bisa berobat langsung ke rumah sakit yang diinginkan tanpa perlu
rujukan. Asal rumah sakit yang dituju telah bekerjasama dengan perusahaan
asuransi yang diikuti. Dengan begitu, peserta bisa memperoleh layanan kesehatan
secara cepat. Bahkan, peserta asuransi kesehatan cenderung lebih diprioritaskan
dibandingkan dengan peserta BPJS.
Batasan Plafon
Penggunaan layanan kesehatan dengan BPJS tidak dibatasi dengan plafon.
Berapapun biaya pemeriksaan dan perawatan yang dibebankan pada peserta akan
ditanggung seluruhnya oleh BPJS. Maka dari itu, peserta tak perlu lagi khawatir
dengan biaya perawatan ketika mengalami gangguan kesehatan, apapun
penyakitnya.
Sebaliknya, biaya perawatan pada asuransi kesehatan dibatasi dengan plafon.
Sebagai contoh peserta membeli premi asuransi dengan plafon Rp20 juta. Jika
peserta sakit dan dirawat dengan total biaya mencapai lebih dari plafon, maka
kelebihan biaya menjadi tanggungan peserta itu sendiri.
Batasan Usia
Peserta BPJS tidak ada batasan usia, dalam arti berapapun usia seseorang tetap
bisa menjadi peserta BPJS. Mulai dari bayi baru lahir hingga manula bisa
mendaftar sebagai peserta BPJS. Selain itu, perbedaan usia maupun gender tidak
mempengaruhi besaran iuran yang harus dibayarkan. Besar iuran tergantung pada
kelas layanan yang diinginkan, kelas 1, 2, atau 3.
Sementara pada asuransi kesehatan terdapat batasan usia. Umumnya asuransi
kesehatan menolak kepesertaan seseorang yang telah memasuki usia tidak
produktif, yaitu 55 tahun ke atas. Logis, karena rentang usia tersebut cenderung
rawan terhadap penyakit, tentu perusahaan asuransi tak mau rugi.
Pre Existing Condition
BPJS tidak memberlakukan pre existing condition. Hal ini dimaksudkan bahwa
BPJS menerima kepesertaan seseorang apapun kondisinya tanpa memperhatikan
riwayat sakit yang pernah diderita. Berbeda dengan asuransi kesehatan yang
menerapkan pre existing condition. Artinya, penyakit yang pernah diderita oleh
peserta sebelum mengikuti asuransi kesehatan tidak akan dijamin
pembiayaannya.

2. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah sebuah sistem jaminan sosial yang
ditetapkan di Indonesia dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 2004. Jaminan sosial
ini adalah salah satu bentuk perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh negara
Republik Indonesia. Peraturan Presiden yang mengatur JKN terkait UHC (Universal
Health Coverage) tahun 2013 adalah Peraturan Presiden No. 19 tahun 2016 tentang
perubahan kedua atas peraturan presiden No 12 tahun 2013 tentang jaminan
kesehatan.

3. UU no 23 tahun 2014
Paragraf 3
Pembiayaan
Pasal 300
(1) Daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat,
Daerah lain, lembaga
keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan masyarakat.
(2) Kepala daerah dengan persetujuan DPRD dapat menerbitkan obligasi Daerah
untuk membiayai
infrastruktur dan/atau investasi yang menghasilkan penerimaan Daerah setelah
memperoleh pertimbangan dari Menteri dan persetujuan dari menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan.

Pasal 301
(1) Daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman utang
luar negeri dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang
keuangan setelah memperoleh pertimbangan dari Menteri.
(2) Perjanjian penerusan pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
antara menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan
dan kepala daerah.

Pasal 302
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai pinjaman Daerah diatur dengan peraturan
pemerintah.
(2) Peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
mengatur:
a. persyaratan bagi Daerah dalam melakukan pinjaman;
b. penganggaran kewajiban pinjaman Daerah yang jatuh tempo dalam APBD;
c. pengenaan sanksi dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban membayar
pinjaman;
d. tata cara pelaporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman setiap
semester dalam tahun anggaran berjalan;
e. persyaratan penerbitan obligasi Daerah serta pembayaran bunga dan pokok
obligasi; dan
f. pengelolaan obligasi Daerah yang mencakup pengendalian risiko, penjualan dan
pembelian obligasi serta pelunasan dan penganggaran dalam APBD.
(3) Daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain.

Pasal 303
(1) Daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kebutuhan
pembangunan prasarana dan sarana Daerah yang tidak dapat dibebankan dalam
1 (satu) tahun anggaran.
(2) Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Perda.
(3) Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersumber dari penyisihan
atas penerimaan Daerah kecuali dari DAK, pinjaman Daerah, dan penerimaan
lain-lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu.
(4) Penggunaan dana cadangan dalam satu tahun anggaran menjadi penerimaan
pembiayaan APBD dalam tahun anggaran yang bersangkutan.
(5) Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditempatkan
dalam rekening tersendiri dalam rekening kas umum Daerah.
(6) Dalam hal dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum
digunakan sesuai dengan peruntukannya, dana tersebut dapat ditempatkan
dalam portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah.

Pasal 304
(1) Daerah dapat melakukan penyertaan modal pada badan usaha milik negara
dan/atau BUMD.
(2) Penyertaan modal Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambah,
dikurangi, dijual kepada pihak lain, dan/atau dapat dialihkan kepada badan
usaha milik negara dan/atau BUMD.
(3) Penyertaan modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 305
(1) Dalam hal APBD diperkirakan surplus, APBD dapat digunakan untuk
pengeluaran pembiayaan Daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD.
(2) Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan
untuk pembiayaan:
a. pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo;
b. penyertaan modal Daerah;
c. pembentukan dana cadangan; dan/atau
d. pengeluaran pembiayaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Dalam hal APBD diperkirakan defisit, APBD dapat didanai dari penerimaan
pembiayaan Daerah yang ditetapkan dalam Perda tentang APBD.
(4) Penerimaan pembiayaan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
bersumber dari:
a. sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya;
b. pencairan dana cadangan;
c. hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan;
d. pinjaman Daerah; dan
e. penerimaan pembiayaan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 306
(1) Menteri melakukan pengendalian atas defisit APBD provinsi dengan
berdasarkan batas maksimal deficit APBD dan batas maksimal jumlah
kumulatif pinjaman Daerah yang ditetapkan oleh menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan.
(2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan pengendalian atas defisit
APBD kabupaten/kota dengan berdasarkan batas maksimal defisit APBD dan
batas maksimal jumlah kumulatif pinjaman Daerah yang ditetapkan oleh
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan.
(3) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan pada
saat evaluasi terhadap rancangan Perda tentang APBD.

4. Peraturan BPJS dan Pelaksanaannya


PROSEDUR PELAYANAN KESEHATAN BAGI PESERTA (Permenkes
No 71/2013, Peraturan BPJS Kesehatan No 1 Tahun 2014)
Prosedur pelayanan kesehatan bagi peserta adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan kesehatan bagi peserta dilaksanakan secara berjenjang sesuai
kebutuhan medis dimulai dari Fasilitas Kesehatan tingkat pertama
2. Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama bagi peserta diselenggarakan oleh Fasilitas
Kesehatan tingkat pertama tempat peserta terdaftar
3. Dalam keadaan tertentu, ketentuan sebagaimana dimaksud di atas tidak berlaku
bagi Peserta yang :
- berada di luar wilayah Fasilitas Kesehatan tingkat pertama tempat Peserta
terdaftar; atau
- dalam keadaan kedaruratan medis.
4. Dalam hal Peserta memerlukan Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan
atas indikasi medis, Fasilitas Kesehatan tingkat pertama harus merujuk ke
Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan terdekat sesuai dengan Sistem
Rujukan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan dari
Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama.
6. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas rujukan dari
pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat pertama.
7. Ketentuan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan pada keadaan gawat
darurat, bencana, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, pertimbangan
geografis, dan pertimbangan ketersediaan fasilitas.
8. Tata cara rujukan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
PELAYANAN KEGAWAT DARURAT (EMERGENCY) (Permenkes No. 71/2013,
Peraturan BPJS Kesehatan No 1 Tahun 2014)
a. Pelayanan Gawat Darurat adalah pelayanan kesehatan yang harus diberikan
secepatnya untuk mencegah kematian, keparahan dan atau kecacatan, sesuai
dengan kemampuan fasilitas kesehatan.
b. Peserta yang memerlukan pelayanan gawat darurat dapat langsung memperoleh
pelayanan di setiap fasilitas kesehatan. Kriteria kegawatdaruratan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
c. Peserta yang menerima pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang tidak
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan
yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan setelah keadaan gawat daruratnya
teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan.
d. Biaya akibat pelayanan kegawatdaruratan ditagihkan langsung oleh Fasiltas
Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.
e. Bagi Peserta yang dilayani di UGD yang tidak bekerjasama dengan BPJS
Kesehatan, maka berlaku :
- BPJS Kesehatan memberikan pembayaran kepada fasilitas kesehatan yang
tidak bekerjasama untuk pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang
berlaku untuk fasilitas kesehatan yang setara di wilayah tersebut.
- Tarif pelayanan gawat darurat oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama Rp
100.000 Rp 150.000
- Tarif pelayanan gawat darurat oleh fasilitaas kesehatan tingkat lanjutan sesuai
dengan tarif INA CBGs
- Fasilitas Kesehatan yang belum memiliki penetapan kelas rumah sakit
menggunakan tarif INA CBGs Rumah Sakit kelas D.

5. Kecurangan (Fraud) dalam Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan adalah tindakan


yang dilakukan dengan sengaja oleh peserta, Petugas BPJS Kesehatan, pemberi
pelayanan kesehatan serta penyedia obat, dan alat kesehatan untuk mendapatkan
keuntungan finansial dari Program Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial
Nasional melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Contoh fraud dalam JKN :
Upcoding berarti berusaha membuat kode diagnosa dan tindakan dari pelayanan
yang ada lebih tinggi atau lebih kompleks dari yang sebenarnya dikerjakan di
institusi pelayanan kesehatan atau sebaliknya . Contoh : Pasien dengan DM tipe 2
dengan komplikasi neuropati, di coding dengan DM tipe 2 dengan berbagai
komplikasi.
Phantom Billing berarti bagian penagihan dari institusi RS membuat suatu tagihan
ke pihak penyelenggara JKN dari suatu tagihan yang tidak ada pelayanannya.
Inflated Bills adalah suatu tindakan membuat tagihan dari suatu pelayanan di RS
menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.
Service unbundling or fragmentation adalah suatu tindakan yang sengaja melakukan
pelayanan tidak langsung secara keseluruhan tapi dibuat beberapa kali pelayanan.
Contoh : Pasien dengan patah tulang femur dan memerlukan pemasangan tiga buah
pen , tapi insitusi pelayanan kesehatan melakukan pemasangan dua pen pada rawat
inap pertama dan pen yang lain dipasang kemudian pada periode perawatan
berikutnya.
Standard of Care berarti suatu tindakan yang berusaha untuk memberikan pelayanan
dengan menyesuaikan dari tarif INA CBG yang ada, sehingga dikhawatirkan
cenderung menurunkan kualitas dan standar pelayanan yang diberikan. Contoh :
Pasien rawat jalan memerlukan pemeriksaan penunjang namun karena tarif rawat
jalannya tidak mencukupi maka tidak dilakukan pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan.
Cancelled Service adalah melakukan pembatalan pelayanan yang rencananya
diberikan dan tetap ditagihkan pada sistem.Contoh : Pasien yang direncanakan untuk
dilakukan operasi kemudian karena beberapa hal tidak jadi dilakukan namun
tindakan operasi tersebut tetap ditagihkan .
No Medical Value adalah melakukan suatu layanan kesehatan yang tidak
memberikan manfaat untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien .Contoh :
Pasien dilakukan pemeriksaan penunjang yang tidak diperlukan.
Unnecessary Treatment berarti melakukan suatu pengobatan atau pemberikan
layanan kesehatan yang tidak dibutuhkan dan tidak diperlukan oleh pasien. Contoh :
Pasien dilakukan operasi appendectomy padahal tidak memerlukan operasi tersebut.
Length of Stay adalah melakukan perpanjangan masa rawat inap di institusi
pelayanan kesehatan untuk mencapai tarif penggantian yang lebih tinggi. Contoh :
Pasien di ICU yang memerlukan ventilator kurang dari 36 jam tapi masa rawat
inapnya dibuat lebih lama lebih dari 72 jam agar mendapatkan tarif yang lebih
tinggi.
Keystroke mistake adalah kesalahan yang dilakukan dengan sengaja dalam
penginputan penagihan pasien dalam sistem tarif untuk mencapai penggantian tarif
yang lebih tinggi. Contoh : Pasien rawat jalan diinput dengan rawat inap agar
mendapatkan penggantian yang lebih tinggi.
SUMMARY REPORT
FORUM NASIONAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VII

Evaluasi Kebijakan Jkn Tahun 2019 :


Dari 8 sasaran BPJS yang ditargetkan tahun 2019, antara lain :
1. BPJS beroperasi dengan baik
2. Seluruh penduduk Indonesia mendapat jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan
3. Paket manfaat medis dan non-medis sudah sama, tidak ada perbedaan untuk
wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
4. Jumlah dan sebaran fasyankes sudah memadai untuk menjamin seluruh penduduk
memenuhi kebutuhan medis mereka
5. Semua peraturan pelaksanaan telah disesuaikan secara berkala untuk menjamin
kualitas yang memadai dengan harga keekonomian yang layak
6. Paling sedikit 85% peserta menyatakan puas, baik dalam layanan di BPJS maupun di
faskes yang dikontrak BPJS
7. Paling sedikit 80% tenaga dan fasyankes menyatakan puas atau pembayaran yang
layak dari BPJS
8. BPJS dikelola secara terbuka, efisien, dan akuntabel
Hanya satu sasaran yang dapat dicapai hingga tahun ini yaitu, sasaran ke-6.
Untuk membangun sistem coverage menuju Indonesia Sehat, telah dibentuk blueprint
menuju pencapaian tersebut dalam bentuk :
UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN
UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS
Untuk mencapai tujuan kolektif pada kebijakan publik dapat dipengaruhi mulai dari :
Proses kebijakan
Implementasi kebijakan
Serta konkret kebijakan
Dari 3 hal di atas sangat mempengaruhi 8 tujuan sistem penjamin kesehatan sehingga
validitas rujukan dapat tercapai.
Sepanjang tahun 2013-2016 terdapat peningkatan jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia,
namun distribusinya masih belum merata. Di regional 4 (seluruh Kalimantan kecuali
Kalbar) dan regional 5 (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) masih belum ada RS tipe A.
di Indonesia Timur terdapat 8 RS tipe A dan ada 4 RS Pemerintah.
Pengembangan RS tanpa kelas di Indonesia menjadi RS dengan pemerataan semua
standar masih memerlukan waktu dan diperlukan pula kajian mendalam
Sistem Rujukan : Pada prinsipnya sistem rujukan dilaksanakan untuk memenuhi
kebutuhan pasien. Adapun alurnya yaitu dari fasilitas kesehatan tingkat pertama
kemudian ke RS Tipe D, RS Tipe C, RS tipe B dan terakhir ke RS tipe A. Adapun
terdapat ketentuan dimana dari fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat langsung di
rujuk ke RS tipe B jika menyangkut kesehatan dan kebutuhan pasien.

Ideologi Dalam Monitoring Dan Evaluasi Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional


Menuju Cakupan Semesta
Menurut UU 40/2004 tentang SJSN dan UU 24/2011 tentang BPJS, Indonesia
membangun sistem Universal Coverage menuju Indonesia sehat. Untuk mencapai tujuan
tersebut diperlukannya proses kebijakan. Dalam pembentukan proses kebijakan, terlebih
dahulu dibentuk disain kebijakan yang terdiri dari infrastruktur kebijakan dan instrumen
kebijakan.

SUPPLY SIDE READINESS : Apakah Sumber Dari Masalah Ketidakadilan JKN


Jumlah rumah sakit dan spesialis per regional mengalami peningkatan tiap tahunnya,
namun terdapat disparitas yang ekstrim antara kesediaan di regional 1 dengan regional 5
(Indonesia Timur). Di regional 1, sistem rujukan lebih banyak mengarah pada rumah sakit
tipe A. Sedangkan di regional 5, sistem rujukan banyak pada rumah sakit tipe B/C. Disparitas
yang ekstrim ini salah satunya disebabkan oleh faktor geografis yang terlalu luas
dibandingkan dengan jumlah penduduk yang sedikit. Ratio antara luas geografis dan jumlah
penduduk inilah yang menjadi salah satu karakteristik daerah Indonesia Timur, seperti di
Papua.
Permasalahan lainnya adalah ketersediaan RS berjejaring BPJS. Di regional 5, oleh
karena jumlah RS yang ada juga kurang maka jumlah RS berjejaring BPJS juga belum
banyak. Sedangkan di regional lain, permasalahan yang ada adalah banyak program yang
belum dicover oleh BPJS misalnya KB. Program KB masih dipegang oleh BKKBN, sehingga
sebagai contoh pasien SC yang ingin steril, hanya dicover BPJS SC-nya saja, tidak dengan
operasi steril.
Permasalahan lainnya adalah premi dari tiap regional yang tidak sama oleh karena
akses yang tidak sama di setiap regional, baik fisik RS itu sendiri, logistik, maupun
ketersediaan tenaga kesehatan.
Dari berbagai sumber masalah di atas, dapat diingat bahwa JKN tidak dapat
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di Indonesia, mengingat prinsip utama dari
kesehatan universal adalah tindakan preventif. Menurut Global Strategy of Human Resources
2013, yang dapat dilakukan adalah mengubah distribusi pelayanan kesehatan yang ada.
Prinsip JKN adalah berjenjang artinya memang sistem rujukan dilakukan dari tingkat
paling rendah yaitu pelayanan kesehatan primer ke RS tipe D, C, B, dan A. Namun dalam
kondisi tertentu, dimana seorang dokter layanan primer sudah mengetahui faskes mana yang
memiliki kompetensi menangani suatu kasus, atau dalam keadaan emergensi, maka rujukan
dapat langsung ditujukan pada RS tipe A/B, dengan alasan patient safety. Sebagai
kesimpulan, JKN yang sudah berjalan di Indonesia saat ini sudah berada pada jalur yang
tepat, namun masih berjalan sangat lambat.

Hasil Evaluasi: Apakah Perlu Revisi Undang-Undang Jkn Dan Bpjs


Evaluasi yag dilakukan yaitu mengenai permasalahan-permasalahan tentang regulasi
SJSN dan BPJS, pendanaan dan kontrol pelayanan kesehatan. Adanya multiinterpretasi dan
kekosongan implementasi Undang-Undang menyebabkan terjadinya tumpang tindih aturan,
yaitu antara Permenkes No.71 bahwa FKTP harus oleh pemerintah dan swasta, Permenkes 75
tahun 2014 bahwa Puskesmas memiliki wewenang untuk mencapai kecamatan sehat, dan
Permenkes No.28 tahun 2011 bahwa pencatatan swasta harus dilaporkan ke dinas. Ketiga
peraturan tersebut tidak saling menunjang.
Peraturan Presiden mengenai Tatanan Nasional banyak terjadi pembenahan yang
merupakan bagian dinamika JKN. Hal ini dipengaruhi oleh riwayat pelayanan kesehatan
sebelumnya dan perilaku masyarakat. JKN sudah ada sejak tahun 2013 (3 tahun 10 bulan
yang lalu) sudah mengalami 3 kali revisi Perpres. Sehingga diperlukan implementasi untuk
merubah pola pikir masyarakat agar paham akan fungsi BPJS. Saat ini sudah terjadi banyak
perubahan yakni adanya fase transisi, dimana JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) terlahir
bukan berasal dari Sistem Kesehatan, tetapi dari Jaminan Kerja. Adanya JKN menunjukkan
hubungan konstitusional.
Pada tahun 2016 terhitung 192 juta yang memanfaatkan JKN, 183 juta peserta dan
cenderung terjadi peningkatan. Diperkirakan pada tanggal 1 Januari 2019 terdapat
260.500.000 peserta. Tujuannya adalah sustainabilitas finansial, peserta mendapat kepuasan
atas patient safety, dan upaya maksimal dapat terwujud.
BPJS Kesehatan menjadi regulator karena dalam Undang-Undang masih belum jelas
mengenai tata kelolanya. Sehingga diperlukan perubahan berdasarkan peran masing-masing.
Berdasarkan Permenkes No.36 tahun 2009, peran JKN tidak jelas. Sehingga Kementrian
Kesehatan RI memerlukan Sistem Kesehatan Nasional yang baru sebagai kerangka kerja
regulasi keseluruhan, sehingga orkestrasi menjadi harmonis.

BAGAIMANA MENGATASI DEFISIT BPJS?


- Defisit JKN termasuk dari input merekrut dan pengelolaan dana, proses mengolah dan
outputnya. Kesulitannya karena JKN bersifat asuransi sosial
- Cara mengatasi defisit :
o seluruh penduduk punya BPJS
o bayar iuran tepat waktu
o perilaku masyarakat belum memaksimalkan pelayanan kesehatan tingkat pertama
o persepsi masyarakat ingin di rumah sakit yang high class sehingga biaya
tanggungannya tinggi
- Langkah-langkah :
o optimalkan sisi income
o revisi peraturan perundang-undangan
o kelola cash in dan cash out
- Realita tahun 2014 :
o PBI : peserta banyak namun tidak digunakan dengan maksimal
o Non-PBI : sangat dimanfaatkan
o Pernyataan diatas menimbulkan defisit, sehingga perlu dipikirkan untuk
perencanaan apakah yang non-PBI dipindahkan ke asuransi kesehatan biasa?

Kepuasan Pasien Bpjs & Umum Terhadap Pelayanan Kesehatan


- JKN meningkatkan jumlah kunjungan di FKTP
- Anggapan pasien umum dilayani lebih baik dibandingkan pasien BPJS menghambat
tercapainya universal coverage 2019
- Hasil penelitian : Tidak ada perbedaan kepuasan pasien umum (78,2%) dan JKN
(76,45%)
- Pasien BPJS memiliki gap negative pada dimensi reliability dan responsiveness.
Sedangkan pasien umum memiliki gap negative pada dimensi assurance dan empathy
- Puskesmas memiliki gap negative pada reliability, assurance, empathy. Sedangkan
klinik pratama meiliki gap negative pada reliability, responsiveness, assurance,
empathy
- Kesimpulan : tidak ada perbedaan kepuasan pasien BPJS dan umum kecualipada
dimensi empati, tidakada perbedaan kepuasan layanan antara FKTP Kab. Temanggung
- Pemberi layanan kesehatan sebaiknya secara berkala menilai kepuasan pasien untuk
perbaikan layanan dimasa depan

Bagaimana Peran Pemerintah Daerah Dalam Mengatasi Missmatch Program Jkn?


Berdasarkan angka Dinas Kesehatan DKI Jakarta, jumlah penduduk sebanyak
10.200.000 orang, yang mendaftar 15.600 jiwa. Penduduk DKI murni sebanyak 8.100
memiliki BPJS, baik itu mandiri, APBN atau PBI. Bila dihitung pengeluaran untuk
pembayaran premi pada APBN, PBI yaitu sebanyak 1 trilyun 20 miliar rupiah. APBN
mendapat 208 miyar rupiah, sisanya mandiri. Total yang dikeluarkan untuk membayar premi
adalah 4.8 milyar rupiah. Uang yang kembali berasal dari kapitasi , RSUD, RS swasta,
vertical yang bekerjasama dengan BPJS mendapat biaya untuk rawat jalan sekitar 2.2 trilyun
rupiah, rawat inap sebesar 4.2 trilyun. Jadi totalnya adalah 6.4 trilyun, ditambah baiaya
kapitasi 474 milyar per 1 tahun. Totalnya adalah 6.8 trilyun rupiah. Sehingga uang yang
dikeluarkan sebesar 4.8 trilyun rupiah dan kembali sebesar 6.8 milyar rupiah. Jadi, biaya
yang masuk dibanding biaya premi, memiliki laba kurang lebih 2 trilyun rupiah. Hal ini
menunjukkan terjadi overshoot yang berarti lebih besar daripada pemerimaan JKN.
Hal ini terjadi pula di Sumatera Utara, Jember dan Sumatera Barat. Hal ini terlihat
seperti semakin banyak pasien yang berobat, sehingga pendapatan di fasyankes pun
meningkat. Namun dalam kenyataannya kegiatan pelayanan kesehatan di DKI Jakarta dan di
daerah-daerah lain pun tetap mengutamakan upaya promotif dan preventif, namun karena
adanya banyak faktor menyebabkan upaya promotif dan preventif sangat sulit untuk
dilakukan, sehingga fasyankes terkesan hanya bergerak atau melakukan upaya kuratif saja.
Tetapi pada kenyataannya fasyankes tetap mengutamakan upaya promotif dan preventif
dalam pelayanan kesehatan.