You are on page 1of 9

1

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN DEMAM


BERDARAH DI KELURAHAN TANJUNG KARANG MATARAM

Idamaryani, Dewi Suryani, Rika Hastuti Setyorini


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
Abstract
Background: Dengue hemorrhagic fever (DHF) remains a global public health issue, especially in the tropics
and subtropics areas. DHF is a mosquito borne disease and the incidence in NTB tends to increase each year.
This is presumably due to lack of knowledge on dengue, consequently causes low preventive attitudes in the
community. This study aims to determine knowledge and preventive practices regarding dengue and to assess
the association between dengue knowledge and preventive practice amongst mothers in Tanjung Karang.
Methods: This study was an observational analytical, cross sectional study design. Data were collected through
an interview using a structured questionnaire. A total of 100 mothers from Tanjung Karang were involved in the
study during the period of December 2015 until February 2016. Data were analysed by Chi-square (x2) statistical
test (p value < 0.05 considered significant).
Results : The majority of age group in this study were 40-49 years ( 29 % ) with the highest educational level
was primary school ( 35 % ) and the majority were housewife ( 66 % ). More then half of respondents ( 87 % )
had a poor level of knowledge, and only 41 % of the respondents had good preventive practice of dengue. This
study reveals association between level of knowledge and prevention behaviors of mother against Dengue in
Tanjung Karang (p value = 0.027).
Conclusion : These findings suggest that poor knowledge would be translated to poor preventive practice on
dengue. Thus a sustainable and inexpensive awareness program to increase knowledge and preventive practice
are required. Future campaign should focus on a more detailed information regarding knowledge and preventive
meassures.
Keywords : Knowledge, Prevention Behaviors , Mothers , DHF

Abstrak
Latar Belakang: Demam berdarah dengue masih menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di daerah tropis
dan subtropis. DBD merupakan penyakit yang yang diperantarai oleh vektor nyamuk dengan insidensi demam
berdarah di NTB cenderung meningkat tiap tahunnya. Masalah ini terjadi karena pengetahuan masyarakat
terutama Ibu mengenai Demam Berdarah yang kurang sehingga menyebabkan ketidakpedulian masyarakat
dalam pencegahan DBD. Tingkat pengetahuan yang baik ataupun buruk dapat mempengaruhi perilaku
pencegahan yang dapat menghindarkan dari resiko terkena Demam Berdarah Dengue. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan Ibu mengenai DBD, serta mengetahui
hubungan antara tingkat pengetahuan Ibu dengan perilaku pencegahan terhadap DBD di Kelurahan Tanjung
Karang.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan
data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner. Sebanyak 100 Ibu yang berada di wilayah
Kelurahan Tanjung Karang terlibat dalam penelitian ini selama periode Desember 2015 sampai Februari 2016.
Data di analisa secara univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi-Square (x2).
Hasil: Karakteristik responden berdasarkan usia paling banyak pada umur 40-49 tahun (29%) dengan tingkat
pendidikan tertinggi lulusan SD (35%) dan pekerjaan terbanyak Ibu Rumah Tangga (66%). Sebagian besar
responden (87%) memiliki tingkat pengetahuan yang buruk dan hanya 41% responden yang mempunyai perilaku
pencegahan yang baik terhadap DBD. Penelitian ini menunjukkan adannya hubungan antara tingkat
pengetahuan dan perilaku pencegahan DBD pada Ibu di Kelurahan Tanjung Karang (P value = 0,027).
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang buruk di translasikan terhadap perilaku
pencegahan yang buruk pula. Dengan demikian masih perlu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan
perilaku Ibu terkait pencegahan DBD di Kelurahan Tanjung Karang yang bersifat berklanjutan dan cost effective.
Dengan demikian maka upaya promosi sebaiknya lebih spesifik memberikan informasi terkait pengetahuan dan
upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam rumah tangga.
Kata Kunci : Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Ibu, DBD

PENDAHULUAN sebagian besar Negara di Asia (WHO, 2015).


Demam Berdarah Dengue Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia
(DBD/Dengue Hemmoragic Fever) merupakan menempati urutan pertama dalam jumlah
masalah kesehatan yang ditemukan di daerah penderita DBD setiap tahunnya. Sementara
tropis dan subtropis. Dengue dilaporkan itu, sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
pertama kali pada tahun 1950an di Filipina dan World Health Organization (WHO) mencatat
Thailand, dan saat ini dapat ditemukan di negara Indonesia sebagai negara dengan
2

kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini suspek DBD di kota Mataram, didapatkan
dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas dan kejadian demam berdarah tertinggi terdapat di
kepadatan penduduk1, sehingga DBD sampai Kelurahan Tanjung Karang, dimana pada
saat ini masih merupakan masalah kesehatan tahun 2013-2014 di Kelurahan Tanjung
di negara berkembang. Karang terdapat 111 kasus.
Di Indonesia DBD telah menjadi Penelitian yang dilakukan Ayudhya
masalah kesehatan masyarakat selama 50 menunjukkan adanya hubungan antara tingkat
tahun terakhir. Sejak tahun 1968 telah terjadi pengetahuan dengan tindakan pencegahan
peningkatan persebaran jumlah provinsi dan DBD, dimana perilaku seseorang dipengaruhi
kabupaten/kota yang endemis DBD1. Di oleh pengetahuan, sikap, dan keyakinan.
Indonesia, DBD pertama kali ditemukan di Dengan demikian sikap masyarakat yang
Kota Surabaya pada tahun 1968. Saat itu positif akan berpengaruh pada perilakunya
sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang sendiri3. Penelitian yang dilakukan Wong Li
diantaranya meninggal dunia. Sejak awal Pong et al di Malaysia dengan populasi
ditemukan DBD di Indonesia terjadi masyarakat Malaysia menunjukkan adanya
kecenderungan peningkatan kasus secara hubungan antara tingkat pengetahuan dengan
sporandik dari tahun ke tahun, baik dari segi upaya pencegahan DBD, dimana masyarakat
jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit. yang memiliki pengetahuan yang baik
Dengan demikian sering terjadi KLB tiap tahun mengenai DBD memiliki upaya pencegahan
di beberapa wilayah di Indonesia. Pada tahun yang baik pula4.
2007 dilaporkan kasus demam berdarah Berdasarkan uraian tersebut
mencapai 150.000 dan tahun 2014, dilaporkan diperlukan suatu penelitian yang menelaah
641 orang meninggal akibat demam bagaimana hubungan tingkat pengetahuan
berdarah2. DKI Jakarta, Kalimantan Timur, terhadap pencegahan dan perilaku
Bali, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, pencegahan DBD khususnya di kelurahan
Yogyakarta, Jawa Barat dan Papua Barat Tanjung Karang karena sebelumnya belum
merupakan provinsi-provinsi yang pernah ada penelitian terkait dengan hal ini, oleh
tercatat sebagai pemilik lima besar angka karena itu peneliti tertarik untuk melakukan
insiden DBD dalam jangka 4 tahun (2005- penelitian ini yang diharapkan dapat menjadi
2009). Namun, data Depkes RI 2009 salah satu landasan untuk meningkatkan
menyebutkan bahwa daerah risiko DBD dari pengetahuan dan tindakan masyarakat dalam
tahun 2005-2009 adalah Jawa Tengah, mencegah DBD.
Lampung, Sulawesi Tengah dan Gorontalo
sebagai daerah dengan risiko tinggi2. METODOLOGI PENELITIAN
Di Nusa Tenggara Barat, kasus Penelitian ini merupakan penelitian
demam berdarah paling banyak terjadi di Kota observasional analitik menggunakan desain
Mataram, dimana pada tahun 2011 kasus cross sectional. Penelitian dilakukan di
demam berdarah mencapai 164 kasus dan Kelurahan Tanjung Karang pada bulan
pada tahun 2013 meningkat menjadi 467 Desember 2015 hingga dengan Februari 2016.
kasus. Dari data kumulatif jumlah penderita
3

Teknik pengambilan sampel yang digunakan sejak Januari 2016 sampai dengan Februari
adalah Konsekutif Samplin. 2016, didapatkan 100 responden dalam
Populasi pada penelitian ini adalah penelitian ini yang dimasukkan dalam analisis.
masyarakat yang tinggal di Kelurahan Tanjung Distribusi karakteristik responden penelitian
Karang. Responden adalah ibu yang memiliki ditampilkan pada tabel 1:
anak yang tinggal di wilayah Kelurahan Tabel 1. Hasil analisis univariat
Tanjung Karang pada periode penelitian yang Karakteristik Responden
memenuhi kriteria inklusi yaitu Ibu, memiliki KARAKTERISTIK N = 100 (%)
anak dan bersedia untuk menjadi responden Umur
dalam penelitian. Variabel dalam penelitian ini 20-29 tahun 11 (11%)
meliputi variabel bebas yakni tingkat 30-39 tahun 26 (26%)
pengetahuan ibu dan variabel terikat yakni 40-49 tahun 29 (29%)
perilaku pencegahan terhadap DBD. 50-59 tahun 23 (23%)
Alat yang digunakan dalam penelitian >60 tahun 11 (11%)
ini adalah daftar pertanyaan (kuesioner). Status Perkawinan
Pengumpulan data dimulai dengan Inform Bercerai mati, cerai
15 (15%)
Consent kepada subjek penelitian untuk hidup
mendapatkan persetujuan untuk menjadi Menikah 85 (85%)
sampel dalam penelitian ini. Kemudian subjek Pekerjaan Ibu
akan diminta menjawab pertanyaan pada PNS/TNI/Polri 3 (3%)
lembar kuisoner, proses ini akan dilakukan Pegawai Swasta 4 (4%)
dengan menggunakan metode wawancara Wiraswasta 18 (18%)
antara peneliti dan ibu rumah tangga. Setelah Petani 1 (1%)
semua pertanyaan terjawab, lembaran Buruh 7 (7%)
tersebut akan dianalisis lebih lanjut. Ibu Rumah Tangga 66 (66%)
Analisis data statistik yang digunakan Lain-lain 1 (1%)
dalam penelitian ini adalah Uji Kolmogorov- Pendidikan Terakhir
Smirnov untuk mengetahui distribusi sampel. Ibu
Uji korelasi menggunakan teknik korelasi Tidak Sekolah 26 (26%)
Bivariat dengan uji t atau P value (nilai sig. 1- SD 35 (35%)
tailed). Teknik Bivariat digunakan untuk SMP 17 (17%)
menganalisis korelasi antara satu variabel SMA 16 (16%)
independen dengan satu variabel dependen Diploma 0 (0%)
dengan uji statistik Chi-Square. Sarjana 6 (6%)
Jumlah Anak
HASIL DAN PEMBAHASAN Anak 1 18 (18%)
Hasil Penelitian Anak 2 32 (32%)
Selama periode penelitian yang telah Anak 3 22 (22%)
dilakukan di Kelurahan Tanjung Karang Anak 4 16 (16%)
lingkungan Batu Ringgit Utara dan Gerisak Anak >4 12 (12%)
4

Penghasilan Keluarga Tabel 4 Hasil Uji Chi-Square


Per Bulan Perilaku Pencegahan
> Rp. 3.500.000 11 (11%) Baik Buruk P
Rp. 2.500.000 - Rp. N % N %
3 (3%)
3.500.000 Tingkat Bai 9 9 4 4 0,0
Rp. 1.500.000 - Rp. Pengeta k % % 27
8 (8%)
2.500.000 huan Bur 32 32 55 55
< Rp. 1.500.000 78 (78%) uk % %
Total 41 41 59 59
Pengetahuan ibu mengenai DBD % %
adalah sesuatu yang diketahui ibu mengenai
DBD, yang meliputi etiologi, gejala, tanda, Pada tabel 4 didapatkan hasil uji
vektor dan perilakunya, serta cara hipotesis tidak ada nilai expected yang <5
pemberantasan dan pencegahan DBD. (hasil terlampir) sehingga bisa dilakukan uji
Distribusi mengenai tingkat pengetahuan ibu Chi-Square. Uji Chi-Square pada tabel diatas
mengenai DBD dapat dilihat pada table 2: didapatkan nilai signifikan P value = 0,027
Tabel 2 Tingkat pengetahuan ibu (<0,05) yang artinya terdapat hubungan antara
rumah tangga mengenai demam berdarah. Tingkat Pengetahuan Ibu sebagai variabel
Tingkat Pengetahuan N = 100% bebas dengan variabel terikat berupa Perilaku
Baik 13 (13%) Pencegahan terhadap DBD.
Buruk 87 (87%)

Pembahasan
Distribusi perilaku pencegahan DBD Karakteristik Responden
yang dilakukan oleh responden penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui
Tabel 3 Perilaku Pencegahan Ibu karakteristik responden berdasarkan umur
Rumah Tangga terhadap Demam Berdarah didapatkan bahwa persentase tertinggi
Perilaku N (%) responden terdapat pada umur 40-49 tahun
Pencegahan yaitu 29 responden (29%), dan kategori
Baik 41 (41%) responden yang dipilih adalah yang telah
Buruk 59 (59%) menikah sebanyak 85% yang kebanyakan
bekerja sebagai ibu rumah tangga serta
Penerapan pada uji normalitas memiliki jumlah anak tertinggi adalah 2 orang
menggunakan Kolmogorov Smirnov adalah dari 32 responden (32%) dan persentase
bahwa jika didapatkan nilai P > 0,05 maka jumlah anak terendah adalah >4 (12%).
data yang akan diuji bermakna dan Proporsi ibu rumah tangga dengan tingkat
terdistribusi normal, sedangkan hasil yang pendidikan terbanyak adalah tamat sekolah
didapatkan pada uji normalitas data ini adalah dasar (SD) sebesar (35%), tidak bersekolah
nilai P < 0,05 yang berarti data terdistribusi sebesar (26%), sedangkan tingkat pendidikan
tidak normal. responden setara SMP (17%) dan SMA (16%)
serta hanya sebagian kecil dari responden
5

yang memilii tingkat pendidikan setara sarjana paling rendah atau buruk pada pertanyaan
yaitu 6%. mengenai gejala yang menyertai seperti nyeri
Distribusi responden berdasarkan di bagian belakang mata (3%) dan nyeri otot
penghasilan per bulan di kota Mataram (16%), dan nyeri sendi (25%). Ini bisa terjadi
didapatkan bahwa pendapatan keluarga karena gejala penyerta tidak terlalu dijelaskan.
responden tertinggi adalah > Rp.3.500.000,- Hasil ini sejalan dengan penelitian yang
dan terendah sebesar < Rp.1.500.000,-. dilakukan oleh Shuaib et al yang mengatakan
Proporsi tingkat penghasilan responden paling bahwa pengetahuan yang buruk tentang
besar adalah < Rp. 1.500.000 yaitu sebanyak gejala yang berhubungan dengan demam
78%; >Rp. 3.500.000 sebanyak 11%; Rp. berdarah karena gejala penyerta bukan gejala
1.500.000 Rp. 2.500.000 sebanyak 8%, Rp. umum yang dijelaskan dan responden
2.500.000 Rp. 3.500.000 sebanyak 3%. mungkin bingung dengan kemiripan dari gejala
Upah Minimum Regional kota Mataram adalah yang disebabkan oleh penyakit lain yang sama
Rp. 1.045.000 (RKPD kota Mataram, 2015). dengan gejala DBD6.
Hasil tingkat penghasilan perbulan ini Pengetahuan responden terkait tanda
dipengaruhi oleh pekerjaan dari responden bahaya dikatakan buruk dengan persentase
dan suami yang kebanyakan responden nyeri perut 9%, muntah 21%, perdarahan gusi
bekerja sebagai IRT (66%) dan Suami sebagai dan mimisan 8%. Sebagian besar responden
buruh (40%). (62%) mengetahui lemas dan tidak berdaya
sebagai tanda bahaya DBD. Ketidaktahuan
Tingkat Pengetahuan mengenai DBD responden terhadap tanda bahaya DBD bisa
Berdasarkan data pada tabel 2 dapat menyebabkan terlambatnya penanganan awal.
disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan Hasil ini sejalan dengan penelitian yang di
tentang DBD pada responden didapatkan 13% lakukan oleh Gunasekara et al yang
responden dalam kategori baik dan 87% mengatakan penundaan atau terlambatnya
tingkat pengetahuan buruk. Hasil ini bisa mencari penanganan medis bisa
disebabkan oleh pemahaman yang kurang menyebabkan komplikasi7.
mengenai informasi yang diperoleh. Selain itu Selanjutnya tingkat pengetahuan
tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat responden juga masuk kategori buruk terkait
pendidikan, baik pendidikan formal maupun dengan pengetahuan terhadap penyebab dari
nonformal5, ini sesuai dengan hasil dari DBD, dimana 94% responden menjawab salah
karakteristik responden yang sebagian besar dan hanya 6% responden yang mengetahui
dari responden merupakan ibu rumah tangga Virus sebagai penyebab DBD. Selain itu
dengan tingkat pendidikan hanya tamat SD, banyak responden yang tidak mengetahui
sehingga perlu penjelasan yang lebih spesifik Aedes Aegypti yang menggigit pada saat
agar informasi yang disampaikan dapat subuh hingga sore hari dan hanya 25 % dari
diterima dan dipahami dengan baik oleh responden yang menyadari perilaku dari
responden. vektor. Hasil ini sejalan dengan penelitian
Dari hasil distribusi tingkat yang dilakukan Shuaib6, yang menyatakan
pengetahuan didapatkan tingkat pengetahuan hanya sedikit yang mengetahui perilaku vektor
6

yang menggigit di pagi hingga sore hari karena rumah tangga didapatkan hasil sebagian
kesenjangan dalam pengetahuan responden besar responden menjawab tidak
yang disebabkan kurangnya program menggunakan kelambu (62%) dan kasa pada
pendidikan tentang perlindungan diri terhadap ventilasi untuk mengurangi gigitan nyamuk
nyamuk. (70%) untuk mencegah kontak nyamuk
Selain pengetahuan mengenai apakah dengan manusia. Hasil ini sejalan dengan
antibiotika (seperti Amoxicicillin) dapat penelitian yang dilakukan oleh Yboa et al8,
digunakan untuk mengobati demam berdarah yang menyatakan hanya sebagian kecil dari
hanya 10 responden (10%) yang menjawab responden yang memanfaatkan semprotan
benar dan 90% menjawab salah. Hal ini juga insektisida dan penggunaan kasa pada
dapat disebabkan oleh kurangnya ventilasi sebagai cara untuk mengurangi
pengetahuan ibu rumah tangga selaku nyamuk dan mencegah demam berdarah,
responden tentang indikasi atau tata cara serta strategi ini dapat dianggap mahal
penggunaan dari obat antibiotic seperti mengingat bahwa sebagian besar responden
Amoxicicillin yang tidak dapat digunakan untuk memiliki pendapatan yang rendah8. Oleh
mengobati penyakit yang disebabkan oleh karena itu pemerintah harus memberikan cara-
virus. cara yang lebih efektif dengan penekanan
Pengetahuan responden yang buruk biaya seminimal mungkin untuk mencegah
terkait pengetahuan mengenai DBD ini bisa terjadinya demam berdarah seperti menjaga
disebabkan oleh beberapa faktor seperti cut dan mengontrol lingkungan lebih bersih lagi.
off point 80% yang tinggi, ataupun daftar Selain itu sebagian besar responden
pertanyaan yang terlalu mendetail menggunakan bubuk abate untuk mengurangi
dibandingkan pengetahuan responden yang jentik nyamuk, dan responden telah
telah di dapatkan di Puskesmas dan Media melakukan program 3 M yaitu menguras
Massa. Pengetahuan yang buruk ini bisa (97%), mengubur (64%) dan menutup (92%)
menyebabkan berbagai hal seperti resiko untuk mengeliminasi jentik nyamuk. Hasil ini
terkana DBD tinggi, terlambatnya penanganan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
awal, serta penanganan yang salah seperti Gunasekara et al yang mengatakan bahwa
pemberian antibiotik untuk mengobati DBD. responden merasa perlu untuk menguras
tempat penampungan air dan menutupnya
Perilaku Pencegahan terkait DBD untuk mengurangi perkembangbiakan
Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa nyamuk7.
secara umum perilaku pencegahan DBD yang Hal ini membuktikan bahwa
dilakukan hanya 41% responden yang masuk responden telah mengetahui cara pencegahan
dalam kategori baik dan 59% responden untuk mengurangi jentik nyamuk, namun
kategori buruk. Perbedaan hasil ini bisa sebaliknya hanya sebagian kecil responden
dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang mempraktikkan cara menghindari kontak
responden tentang DBD yang berbeda. nyamuk dengan manusia.
Berdasarkan data hasil distribusi
perilaku pencegahan DBD yang dilakukan ibu
7

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu adanya hubungan antara tingkat pengetahuan


dengan Perilaku Pencegahan DBD dengan tindakan pencegahan DBD, dimana
Berdasarkan hasil pada tabel 4 perilaku seseorang dipengaruhi oleh
didapatkan hasil uji hipotesis tidak ada nilai pengetahuan, sikap, dan keyakinan. Dengan
expected yang <5 sehingga bisa dilakukan uji demikian sikap masyarakat yang positif akan
Chi-Square. Dan hasil uji hipotesis dengan berpengaruh pada perilakunya sendiri 3. Hasil
Chi-Square didapatkan hasil P = 0,027 (< ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
0,05), dimana dapat di simpulkan bahwa Wong Li Pong et al yang menunjukkan adanya
terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan antara tingkat pengetahuan dengan
Tingkat Pengetahuan ibu rumah tangga upaya pencegahan DBD, dimana masyarakat
dengan Perilaku Pencegahan terhadap DBD. yang memiliki pengetahuan yang baik
Hal ini sesuai dengan penelitian yang mengenai DBD memiliki upaya pencegahan
dilakukan Sungkar et al5, yang menjelaskan yang baik pula4.
bahwa Benthem et al. meneliti tingkat
pengetahuan masyarakat di Thailand Kesimpulan
mengenai pemberantasan dan pencegahan Dari penelitian yang dilakukan, dapat
DBD. Hasilnya menunjukkan masyarakat yang disimpulkan bahwa Tingkat Pengetahuan Ibu
memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang penyakit Demam Berdarah adalah
mengenai DBD memiliki upaya pencegahan buruk, Perilaku pencegahan Ibu di Kelurahan
yang jauh lebih baik. Hasil ini juga sejalan Tanjung Karang terhadap DBD adalah buruk,
dengan Penelitian Chandren et al yang serta terdapat hubungan antara tingkat
menunjukkan ada hubungan yang signifikan pengetahuan tentang penyakit DBD dengan
antara tingkat pengetahuan dan perilaku perilaku pencegahan DBD dimana memiliki
pencegahan, dimana tingkat pengetahuan nilai p value = 0,027 (<0,05).
mempengaruhi perilaku pencegahan demam
berdarah9. Daftar Pustaka
Sebagaimana diungkapkan oleh 1. WHO/TDR. Dengue Guidelines for
Notoatmodjo bahwa pengetahuan merupakan Diagnosis, Treatment, Prevention and
domain yang sangat penting untuk Control. Geneva: World Health
terbentuknya tindakan yang terbuka (overt Organization (WHO) and the Special
behavior)10. Di dalam buku Pendidikan dan Programme for Research and Training
perilaku kesehatan terdapat teori yang in Tropical Medicine (TDR). 2009.
diutarakan Green yang mangatakan bahwa Available from:
pengetahuan merupakan salah satu faktor http://www.who.int/tdr/publications/doc
predisposisi (predisposing factors) yang ikut uments/dengue-diagnosis.pdf
berperan dalam pembentukan perilaku 2. Kementerian Kesehatan RI. Bulletin
manusia11. Pernyataan tersebut diperkuat Jendela Epidemiologi, Volume 2.
dengan hasil beberapa penelitian yang 2010. Available at :
dilakukan sebelumnya, misalnya penelitian http://www.depkes.go.id/download.php
yang dilakukan Ayudhya et al menunjukkan
8

?file=download/pusdatin/buletin/buleti 8. Ybao, B.C., Labrague, L.J., Dengue


n-dbd.pdf Knowledge and Preventive Practices
3. Ayudhya ,A., Ottay, R.I., Kandau, G.D among Rural Residents in Samar
et al., Hubungan Pengetahuan dan Province, Philipines. American Journal
Sikap Masyarakat Tentang Penyakit of Public Helath 2013;1(2):47-52.
Demam Berdarah Dengue Dengan 2013. Available from:
Pencegahan Vektor di Kelurahan http://www.iaesjournal.com/ojs237/ind
Malalayang 1 Barat Kota Manado : ex.php/IJPHS/article/view/2511
Jurnal Kedokteran Komunitas dan 9. Chandren J.R., Wong, L.P., AbuBakar
Tropik: Volume II Nomor 1 Februari S., Practices of Dengue Fever
2014. 2014 Prevention and the Associated Factors
4. Wong, L. P., Shakir, S.M., Atefi, N et among the Orang Asli in Peninsular
al., Factors Affecting Dengue Malaysia. 2015. Available from:
Prevention Practices: Nationwide http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl
Survey of the Malaysian Public. 2015. es/PMC4534093/
Available from: 10. Notoatmodjo, S. Promosi Kesehatan
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
es/PMC4383514/ Cipta; 2007
5. Sungkar, S., Rawina, W., Agnes, K. 11. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan
Pengaruh penyuluhan terhadap perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka
tingkat pengetahuan masyarakat dan Cipta; 2003.
kepadatan Aedes Aegypti di
Kecamatan Bayah, Provinsi Banten.
Makara UI. 2010.
6. Shuaib, F., Todd, D., Campbell-
Stennett, D., et al., Knowledge,
attitudes and practices regarding
dengue infection in Westmoreland,
Jamaica. West Indian Med J. 2010 ;
59(2): 139146. 2010. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl
es/PMC2996104/
7. Gunasekara, T., Velathanthiri, V.,
Weerasekara, M et al,. Knowledge,
attitudes and practices regarding
dengue fever in a sub urban
community. Sri Lanka. Galle Medical
Journal, Vol 17. 2012. Available from:
http://gmj.sljol.info/articles/10.4038/gm
j.v17i1.4355/galley/3518/download/.
9