You are on page 1of 23

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Jember (2016:39)


menyebutkan bahwa tinjauan pustaka memuat kajian teori, hasil-hasil penelitian
terdahulu (kajian empiris) berkaitan dengan masalah yang dibahas, serta kerangka
konseptual yang merupakan sintesis dari kajian-kajian sebelumnya yang dikaitkan
dengan permasalahan yang dihadapi, dan perumusan hipotesis atau asumsi
(jika diperlukan) sebagai hasil akhir dari kajian teori. Tinjauan pustaka merupakan
alat bagi seorang peneliti untuk menegaskan identitas dan originalitas
penelitiannya dengan bertumpu pada teori-teori, konsep-konsep dan hasil
penelitian terdahulu terkait topik penelitiannya serta kerangka berpikir peneliti
dalam membangun konsep-konsep yang mendasari penelitiannya.
Konsep dasar dalam penelitian berperan penting untuk membangun kerangka
berpikir peneliti. Konsep menurut Silalahi (2012:112) adalah sebagai abstraksi
mengenai fenomena sosial yang dirumuskan dalam generalisasi dari sejumlah
karakteristik peristiwa atau keadaan fenomena sosial tertentu. Berdasarkan definisi
mengenai konsep tersebut dapat ditarik benang merah bahwa konsep merupakan
gambaran umum mengenai fenomena sosial yang terjadi yang dikonstruksi
atas karakter-karakter mengenai suatu fenomena tertentu. Konsep dasar dalam
penelitian ini dibangun atas beberapa teori-teori mengenai kegiatan publik yang
terkait dalam inovasi pelayanan publik yang digagas oleh Kantor Imigrasi
Kabupaten Jember yaitu sebagai berikut.
1. Inovasi.
2. Pelayanan Publik.
3. Penyandang Disabilitas
4. Pelayanan Pembuatan Paspor Ramah Difabel dan Anak.

2.1 Inovasi
2.1.1 Definisi Inovasi
Konsep Inovasi memiliki arti yang cukup luas. Salah satu arti sederhana dari
inovasi adalah sebuah ide yang dianggap baru bagi individu. Inovasi secara umum
dipahami dalam konteks perubahan individu. Rogers (2003:12) menjelaskan inovasi
sebagai berikut.
An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an
individual or other unit of adoption. It matters little, so far as human behavior
is concerned, whether or not an idea is "objectively" new as measured by the
lapse of time since its first use or discovery.

Roger dalam Diffusion of Innovation menjelaskan bahwa inovasi adalah ide,


praktek, atau objek yang dianggap baru baik oleh individu ataupun oleh unit adopsi
yang lain. Pendapat di atas menunjukkan bahwa inovasi sangat erat kaitnnya
dengan sebuah kebaruan. Kebaruan tersebut dapat dinyatakan dalam hal
pengetahuan, persuasi, atau keputusan untuk mengadopsi. Lebih lanjut
OSullivan dan Dooley dalam LAN (2014:17) menyebutkan inovasi adalah
proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan melalui
introduksi suatu hal baru yang memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Pengertian inovasi dalam Permenpan RB No.31 Tahun 2014, adalah
proses kreatif penciptaan pengetahuan dalam melakukan penemuan baru yang
berbeda dan atau memodifikasi dari yang sudah ada. Sedangkan Inovasi menurut
Yogi dalam LAN (2007:115), inovasi biasanya erat kaitannya dengan
lingkungan yang berkarakteristik dinamis dan berkembang. Pengertian inovasi
sangat beragam dan lebih erat kaitannya dengan sektor bisnis. Tetapi kemudian
dalam perkembangan ilmu administrasi publik, inovasi memiliki arti, ranah dan
tujuan yang berbeda, seperti pada tabel 2.1. Tepatnya paradigma New Public
Manajemen yang merupakan perkembangan ilmu administrasi publik yang
mengadopsi nilai-nilai dari manajemen bisnis. Meskipun demikian, organisasi
sektor publik tidak serta merta menerapkan sama persis dengan prinsip organisasi
bisnis. Perbaharuan dalam organisasi sektor publik lebih banyak diterapkan di
bidang pelayanan publik. Dengan demikian inovasi di sektor publik terutama pada
bidang pelayanan publik tidak mutlak harus sebuah penemuan baru dapat berupa
memperbaharui yang sudah ada.
Tabel 2. 1 Perspektif inovasi menurut paradigma-paradigma administrasi
Negara
OPA NPA NPM NPS
Arti Kurang Penting Penting Sangat
penting Penting
inovasi
Ranah Internal Praktik-praktik Hubungan Holistik dan
inovasi Organisasi administrator Organisasi integral
publik publik
yang lebih adil pelanggan
dan
mampu
menyelesaikan
masalah publik
Tujuan Menjalankan Menjalankan Meningkatkan Memenuhi
inovasi sistem dan sistem produktivitas Kepentingan
aturan secara administrasi dan efisiensi publik
efektif yang kerja
sadar akan nilai
dan norma
Sumber: Handbook Inovasi Administrasi Negara (LAN, 2014:14)
Selanjutnya pada perkembangan paradigma administrasi Negara, yang terakhir
adalah new public service (NPS). LAN (2014:12) menyebutkan bahwa NPS
merupakan seperangkat gagasan mengenai peran administrasi Negara dalam sistem
governance yang menempatkan pelayanan publik, tata kelola demokratis, dan
keterlibatan publik di pusatnya. Paradigma ini memiliki tujuan untuk mewujudkan
kepentingan publik. Untuk itu dibutuhkan sebuah inovasi yang seluas-luasnya.
Selanjutnya dalam jurnal yang berjudul Inovasi pelayanan Publik di Kecamatan
Sungai Kunjang Kota Samarinda, Djamrut (2015:1476) menyebutkan
pengertian inovasi di bidang pelayanan publik merupakan ide kreatif teknologi atau
cara baru dalam teknologi pelayanan atau memperbarui yang sudah ada di
bidang aturan, pnedekatan, prosedur, metode, maupun struktur organisasi
pelayanan yang manfaatnya hasil mempunyai nilai tambah baik dari segi kuantitas
maupun kualitas pelayanan. Dengan demikian inovasi di sektor publik terutama
pada bidang pelayanan publik tidak mutlak sebuah penemuan baru, dapat berupa
memperbaharui yang sudah ada. Berdasarkan penjelasan beberapa pendapat para
ahli di atas, dapat dilihat bahwa secara garis besar inovasi yang dijelaskan di atas
memiliki kesamaan baik pada aspek bisnis maupun inovasi organisasi publik
yaitu inovasi dilakukan untuk sebuah perubahan melalui perbaruan yang sudah
ada ataupun penemuan baru. Sehingga peneliti dapat menyimpulkan bahwa
inovasi adalah gagasan berupa penemuan baru dan atau memodifikasi yang sudah
ada, dapat berupa produk, jasa, teknologi, dan administrasi baru yang sesuai
dengan kebutuhan pelanggan dengan tujuan untuk memperbaiki suatu produk
dan jasa yang mampu mendorong suatu perubahan. Dalam hal ini peneliti akan
menekankan pada inovasi dalam upaya perubahan metode dan atau prosedur
administrasi pelayanan publik.
2.1.2 Karakteristik Inovasi
Cepat atau lambat penerimaan inovasi oleh masyarakat sangat tergantung
pada karakteristik inovasi. Karakteristik inovasi menurut Rogers (2003:15-16),
sebagai berikut.
1. Keunggulan relatif (relative advantage)
Keunggulan relatif yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi
penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat di
ukur berdasarkan nilai ekonominya, atau dari faktor status sosial,
kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat
penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya
inovasi.
2. Kompatibilitas (compatibility)
Kompatibel ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai, pengalaman lalu,
dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau
norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang
sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.
3. Kerumitan (complexity)
Kompleksitas ialah, tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah
dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar,
sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh
penerima akan lambat proses penyebarannya.
4. Kemampuan diujicobakan (triability)
Kemampuan untuk diujicobakan adalah suatu inovasi dapat dicoba atau
tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Jadi agar dapat dengan cepat di adopsi,
suatu inovasi harus mampu mengemukakan keunggulanya.
5. Kemampuan untuk diamati (observability)
Yang dimaksud dengan dapat diamati ialah mudah atau tidaknya pengamatan
suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin
cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya bila sukar diamati hasilnya,
akan lama diterima oleh masyarakat.
2.1.3 Tipologi Inovasi
Pemahaman tentang konsep inovasi selama ini tidaklah sesederhana seperti
mendifinisikan dengan sebuah kebaruan saja. Sampai saat ini inovasi telah
berkembang menjadi lebih luas yang tidak hanya mencakup inovasi dalam hal
produk dan proses semata, terutama inovasi di sektor publik. Inovasi di sektor
publik melibatkan banyak aspek yang lebih kompleks. Inovasi dalam pelayanan
publik mempunyai ciri khas, yaitu bersifat intangible yaitu karena inovasi
pelayanan publik dalam organisasi tidak hanya diartikan dengan munculnya suatu
produk baru yang dapat dilihat, tetapi dapat dilihat dari hubungan pelakunya dalam
suatu perubahan. Adapun jenis inovasi dalam sektor publik dapat dilihat pada
gambar 2.1 sebagai berikut.
Gambar 2. 1 Tipologi inovasi sektor publik
Inovasi
layana/pr
oduk

Inovasi Inovasi
proses
sistem pelayanan
Tipologi
Inovasi

Inovasi
Inovasi
metode
kebijakan
pelayanan

Sumber: Muluk (2008:45)

Jenis inovasi sektor publik di atas mengacu pada keberhasilan inovasi, seperti yang
dikemukakan oleh Albury (2003) dalam Muluk (2008:44) yang menyatakan sebagai
berikut.
" Successful innovation is the creation and implementation of new
process, products, services, and methods of delivery which result in
significant improvements in outcomes efficiency, effectiveness or quality.
Inovasi yang berhasil merupakan kreasi dan implementasi dari proses, produk,
layanan, dan metode pelayanan baru yang merupakan hasil pengembangan
nyata dalam hal efisiensi, efektivitas atau kualitas hasil. Adapun penjelasan
tipologi inovasi sektor publik adalah sebagai berikut.
a. Inovasi produk atau layanan berdasarkan pada perubahan bentuk dan desain
produk.
b. Inovasi proses pelayanan berasal dari adanya perubahan kualitas yang
berkelanjutan dan berkombinasi dengan perubahan organisasi, prosedur dan
kebijakan yang dibutuhkan dalam berinovasi. Selanjutnya dalam LAN
(2014:22-23) inovasi proses dapat dipahami sebagai upaya peningkatan
kualitas proses kerja baik internal dan eksternal yang lebih efisien dan
sederhana. Sehingga dapat inovasi yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah adanya perubahan proses pelayanan publik yang lebih efisien dan
sederhana.
c. Inovasi metode pelayanan adalah cara baru berinteraksi dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Metode pelayanan yang biasanya dapat
dirasakan ketika face to face, kini dapat berkembang hanya dengan
menggunakan teknologi digital.
d. Inovasi kebijakan mengacu pada visi, misi, tujuan dan strategi yang baru.
e. Inovasi sistem adalah berkembangnya interaksi sistem yang mencakup cara
baru atau cara yang diperbarui dalam berinteraksi dengan aktor-aktor lain atau
dapat dikatakan adanya perubahan dalam tata kelola pemerintahan.

2.2 Pelayanan Publik


2.2.1 Definisi Pelayanan Publik
Istilah pelayanan dalam bahasa Inggris adalah service. Moenir (2002:26-
27) mendefinisikan pelayanan adalah;
pelayanan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan landasan tertentu dimana tingkat pemuasannya
hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani atau dilayani, tergantung
kepada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pengguna.

Pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan dua pihak dalam hal
ini penerima dan pemberi pelayanan yang saling berinteraksi untuk memenuhi
kebutuhannya. Proses pelayanan tersebut dilakukan secara rutin dan
berkesinambungan yang melibatkan seluruh kehidupan organisasi dalam
masyarakat. Selanjutnya Moenir (2002:16) menyatakan bahwa proses
pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung inilah yang
dinamakan pelayanan. Dari definisi tersebut dapat dimaknai bahwa pelayanan
adalah serangkaian aktivitas yang dapat dirasakan melalui hubungan antara
penerima dan pemberi pelayanan yang menggunakan peralatan berupa organisasi
atau lembaga perusahaan. Hal ini berarti pelayanan memiliki tujuan untuk
membantu orang lain dalam mengurus sesuatu yang dibutuhkan. Pelayanan Publik
dalam KBBI (1990), dirumuskan sebagai berikut.
1. Pelayanan adalah perihal atau cara melayani.
2. Pelayanan adalah kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual
beli barang dan jasa.
3. Pelayanan medis merupakan pelayanan yang diterima seseorang dalam
hubungannya dengan pencegahan, diagnosa dan pengobatan suatu gangguan
kesehatan tertentu.
4. Publik berarti orang banyak (umum) Pengertian publik menurut Syafiie,
dkk (1999:18) yaitu sejumlah manusia yang memiliki kebersamaan berfikir,
perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-
nilai norma yang mereka miliki. Pengertian lain berasal dari pendapat Moenir
(1995:7) yang menyatakan sebagai berikut.
Pelayanan umum adalah suatu usaha yang dilakukan kelompok atau
seseorang atau birokrasi untuk memberikan bantuan kepada
masyarakat dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu.

Pelayanan merupakan kegiatan utama pada orang yang bergerak di bidang jasa,
baik itu orang yang bersifat komersial ataupun yang bersifat non komersial. Namun
dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan antara pelayanan yang dilakukan
oleh orang yang bersifat komersial yang biasanya dikelola oleh pihak swasta
dengan pelayanan yang dilaksanakan oleh organisasi non komersial yang biasanya
adalah pemerintah. Kegiatan pelayanan yang bersifat komersial melaksanakan
kegiatan dengan berlandaskan mencari keuntungan, sedangkan kegiatan
pelayanan yang bersifat non-komersial kegiatannya lebih tertuju pada
pemberian layanan kepada masyarakat (layanan publik atau umum) yang sifatnya
tidak mencari keuntungan akan tetapi berorientasikan kepada pengabdian.
Pengertian pelayanan publik dalam UU No.25 Tahun 2009 adalah kegiatan
atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik. Selanjutnya menurut Kurniawan (2005:4) dalam sinambela
(2014:5) menjelaskan bahwa pelayanan publik diartikan, pemberi layanan
(melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada
organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Dapat
digarisbawahi bahwa pelayanan publik merupakan upaya pemenuhan kebutuhan
atau kepentingan publik melalui orang lain atau pemberi layanan. Pelayanan
publik dapat berupa berupa barang ataupun jasa. Berdasarkan penjelasan
beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa pelayanan dapat dibedakan
menjadi dua sesuai dengan tujuannya yaitu komersil dan non komersil. Pelayanan
yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pelayanan publik yang bersifat non-
komersil. Jadi dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalah segala bentuk jasa
pelayanan baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada
prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah di
Pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha
Milik Daerah, dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2.2.2 Unsur-Unsur Pelayanan Publik
Dalam proses kegiatan pelayanan publik terdapat beberapa faktor atau unsur
yang mendukung jalannya kegiatan. Menurut Moenir (1995:8), unsur-unsur
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Sistem, Prosedur dan Metode Yaitu di dalam pelayanan publik perlu adanya
sistem informasi, prosedur dan metode yang mendukung kelancaran
dalam memberikan pelayanan.
b. Personil, terutama ditekankan pada perilaku aparatur; dalam pelayanan publik
aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan
terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat.
c. Sarana dan prasarana, dalam pelayanan publik diperlukan peralatan dan ruang
kerja serta fasilitas pelayanan publik. Misalnya ruang tunggu, tempat parker
yang memadai.
d. Masyarakat sebagai pelanggan, dalam pelayanan publik masyarakat sebagai
pelanggan sangatlah heterogen baik tingkat pendidikan maupun perilakunya.
2.2.3 Azas, Prinsip dan Standar Pelayanan Publik
Secara teoritis, tujuan pelayanan publik pada dasarnya adalah memuaskan
masyarakat. Untuk mencapai kepuasan itu dituntut kualitas pelayanan publik yang
profesional, kemudian Sinambela (2014:6) mengemukakan azas-azas dalam
pelayanan publik tercermin sebagai berikut.
1. Transparansi bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak
yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
2. Akuntabilitas, dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
3. Kondisional, sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima
pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
4. Partisipatif, mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan
pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan
masyarakat.
5. Keamanan Hak, tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku,
agama, ras, golongan, gender dan status ekonomi.
6. Keseimbangan Hak dan kewajiban, pemberi dan penerima pelayanan publik
harus memenuhi hak dan kewajiban masing- masing pihak.
Dalam proses kegiatan pelayanan diatur juga mengenai prinsip pelayanan
sebagai pegangan dalam mendukung jalannya kegiatan. Adapun prinsip pelayanan
publik menurut Keputusan MENPAN No. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang
Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik antara lain sebagai berikut.
a. Kesederhanaan: prosedur pelayanan publik tidak berbelit- belit, mudah
dipahami dan mudah dilaksanakan.
b. Kejelasan: persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik; unit kerja
atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan
pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dan sengketa dalam
pelaksanaan pelayanan publik; rincian biaya pelayanan publik dan tata cara
pembayaran.
c. Kepastian waktu: pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam
kurun waktu yang telah ditentukan.
d. Akurasi: produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
e. Keamanan: proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan
kepastian hukum.
f. Tanggung jawab: pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat
yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan
penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
g. Kelengkapan sarana dan prasarana: tersedianya sarana dan prasarana kerja
dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana
teknologi telekomunikasi dan informatika.
h. Kemudahan akses: tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai,
mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi
telekomunikasi dan informatika.
i. Kedisiplinan, kesopan dan keramahan: pemberi pelayanan harus bersikap
disiplin, sopan dan santun, ramah, serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.
j. Kenyamanan: lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang
tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat
serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan seperti parkir, toilet,
tempat ibadah, dan lain- lain
Azas, prinsip, dan standar pelayanan tersebut diatas merupakan pedoman dalam
penyelenggaraan pelayanan publik oleh instansi pemerintah dan juga berfungsi
sebagai indikator dalam penilaian serta evaluasi kinerja bagi penyelenggara
pelayanan publik. Dengan adanya standar dalam kegiatan pelayanan publik ini
diharapkan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan
dan prosesnya memuaskan dan tidak menyulitkan masyarakat
2.2.4 Faktor Pendukung Pelayanan
Menurut (Moenir 2002 : 88-127) ada beberapa masalah pokok dari
pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, dimana faktor-faktor yang
mempengaruhi pelayanan tersebut antara lain :
1. Tingkah laku yang sopan
2. Cara penyampaian
3. Waktu menyampaikan yang cepat
4. Keramah tamahan
Dalam pelayanan terdapat beberapa faktor pendukung yang penting, antara lain
faktor kesadaran, aturan, organisasi, keterampilan petugas, dan sarana, Urainnya
adalah sebagai berikut :
1. Faktor kesadaran, yaitu kesadaran para pejabat serta petugas yang
berkecimpung dalam kegiatan pelayanan. Kesadaran pegawai pada segala
tingkatan terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya, membawa
dampak sangat positif terhadap organisasi. Ia akan menjadi sumber
kesungguhannya dan disiplin dakan melaksanakan tugas, sehingga
hasilnya dapat diharapkan melalui standar yang telah ditetapkan
2. Faktor aturan, aturan dalam organisasi yang menjadi landasan kerja
pelayanan. Aturan ini mutlak kebenarannya agar orgnaisasi dan pekerjaan
dapat berjalan lancar teratur dan terarah. Agar peraturan dapat mencapai apa
yang dimaksud, maka ia harus dipahami oleh semua orang yang bertugas
dalam bidang yang diatur dengan disertai displin yang tinggi.
3. Faktor organisasi, yaitu merupakan alat serta sistem yang memungkinkan
berjalannya mekanisme kegiatan pelayanan. Sebagai suatu sistem, organisasi
merupakan alat yagn efektif dalam usaha pencapaian tujuan, dalam hal ini
pelayanan yang baik dan memuaskan. Agar organisasi berfungsi dengan
baik perlu ada pembagian, baik dalam hal organisasi maupun tugas
pekerjaan sampai pada jenis organisasi atau pekerjaan yang paling kecil.
4. Faktor pendapatan, pendapatan pegawai yang berfungsi sebagai
pendukung pelaksana pelayanan. Pendapatan yang cukup akan memotivasi
pegawai dalam melaksanakan pekerjaan dengan baik sehingga ia tidak
melakukan penyimpangan yang dapat merugikan organisasi
5. Faktor keterampilan tugas, yaitu kemampuan dan keterampilan para pegawai
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan.
6. Faktor sarana sarana yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas pekerjaan
layanan. Sarana terbagi atas dua macam : pertama, sarana kerja meliputi
peralatan, perlengkapan, dan alat bantu; kedua, fasilitas meliputi segala
kelengkapannya dengan fasilitas komunikasi dan segala kemudahan lainnya
seperti internet dan alat elektronik.

2.3 Pengertian dan Konsep Penyandang Disabilitas


Penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat yang beragam,
diantaranya penyandang disabilitas yang mengalami disabilitas fisik, disabilitas
mental maupun gabungan dari disabilitas fisik dan mental. Istilah penyandang
disabilitas pun sangat beragam. Kementerian Sosial menyebut penyandang
disabilitas sebagai penyandang cacat, Kementerian Pendidikan Nasional menyebut
dengan istilah berkebutuhan khusus, sedangkan Kementerian Kesehatan menyebut
dengan istilah Penderita cacat, (Eko, 2012:239). WHO mendefinisikan disabilitas
sebagai A restriction or inability to perform an activity in the manner or within the
range considered normal for a human being, mostly resulting from impairment,
(Peter, 2007:123). Definisi tersebut menyatakan dengan dengan jelas bahwa
disabilitas merupakan pembatasan atau ketidakmampuan untuk melakukan suatu
kegiatan dengan cara yang atau dalam rentang dianggap normal bagi manusia,
sebagian besar akibat penurunan kemampuan. Selain pengertian secara umum,
WHO mengemukakan pula definisi disabilitas yang berbasis pada model sosial
sebagai berikut. a) Impairment (kerusakan atau kelemahan) yaitu ketidaklengkapan
atau ketidaknormalan yang disertai akibatnya terhadap fungsi tertentu. Misalnya
kelumpuhan di bagian bawah tubuh disertai ketidakmampuan untuk berjalan
dengan kedua kaki. b) Disability/handicap (cacat/ketidakmampuan) adalah
kerugian/keterbatasan dalam aktivitas tertentu sebagai akibat faktor-faktor sosial
yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memperhitungkan orang-orang yang
menyandang kerusakan/kelemahan terentu dan karenanya mengeluarkan
oranmg-orang itu dari arus aktivitas sosial, (UNESCO, 2009). Pengertian lain
disebutkan pula oleh The International Classification of Functioning (ICF) yaitu
Disability as the outcome of the interaction between a person with impairment and
the environmental and attitudinal barriers s/he may face, (ICF, 2009). Pengertian
ini lebih menunjukkan disabilitas sebagai hasil dari hubungan interaksi antara
seseorang dengan penurunan kemampuan dengan hambatan lingkungan dan sikap
yang ditemui oleh orang tersebut. Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Penyandang
Disabilitas tidak secara eksplisit menjabarkan mengenai disabilitas. Pembukaan
Konvensi menyatakan disabilitas merupakan sebuah konsep yang terus berubah dan
disabilitas adalah hasil interaksi antara orang yang penyandang disabilitas/mental
dengan hambatan, (Sapto, 2008:114) perilaku dan lingkungan yang menghambat
partisipasi yang penuh dan efektif di tengah masyarakat secara setara dengan orang
lain. Disabilitas sebagai hasil interaksi antara masyarakat yang sifatnya tidak
inklusif dengan individual dapat digambarkan sebagai berikut. a) Seseorang yang
menggunakan kursi roda bisa saja mengalami kesulitan dalam mendapatkan
pekerjaan, bukan karena ia menggunakan kursi roda namun karena ada hambatan-
hambatan lingkungan misalnya bis atau tangga yang tidak bisa mereka akses
sehingga menghalangi akses mereka ke tempat kerja. b) Seseorang yang memiliki
kondisi rabun dekat ekstrim yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan lensa
korektif mungkin tidak akan dapat melakukan pekerjaan sehari-harinya. Orang yang
sama yang memiliki resep untuk menggunakan kacamata yang tepat akan dapat
melakukan semua tugas itu tanpa masalah
Secara yuridis pengertian penyandang cacat diatur dalam Pasal 1 ayat (1) UU
Penyandang Cacat sebagai berikut: Setiap orang yang mempunyai kelainan fisik
dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hambatan
baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari: a.
penyandang cacat fisik b. penyandang cacat mental c. penyandang cacat fisik dan
mental Pengertian ini sama dengan pengertian yang tercantun dalam Pasal 1 ayat
(1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1998 tentang Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Dalam UU HAM,
penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat rentan yang berhak
memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya.
Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial,
ditegaskan bahwa penyandang disabilitas digolongkan sebagai bagian dari
masyarakat yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan
memiliki kriteria masalah sosial. Menurut Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan
Aksesinilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, yang dimaksud dengan
penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelemahan/kekurangan
fisik dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan
hambatan baginya untuk melakukan kegiatan kehidupan dan penghidupan secara
wajar. Menurut Convetion On The Rights of Persons With Disabilities (Konvensi
Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) yang telah disahkan dengan
UndangUndang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The
Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang
Disabilitas), penyandang disabilitas termasuk mereka yang memiliki keterbatasan
fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama dimana ketika
berhadapan dengan berbagai hambatan, hal ini dapat mengahalangi partisipasi
penuh dan efektif mereka dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang
lainnya. Konvensi ini tidak memberikan batasan tentang penyandang cacat. Dalam
konvensi ini penyandang cacat disebut sebagai penyandang disabilitas. Adapun
jenis dan penyebab kecacatan bisa disebabkan oleh berbagai faktor yaitu: a) Cacat
didapat (Acquired), penyebabnya bisa karena kecelakaan lalu lintas, perang/konflik
bersenjata atau akibat penyakit-penyakit kronis. b) Cacat bawaan/sejak lahir
(Congenital), penyebabnya antara lain karena kelainan pembentukan organ-organ
(organogenesis) pada masa kehamilan, karena serangan virus, gizi buruk,
pemakaian obat-obatan tak terkontrol atau Karen apenyakit menular seksual.
Menurut UU Penyandang Cacat, berbagai faktor penyebab serta
permasalahan kecacatan, maka jenis-jenis kecacatan dapat di kelompokkan sebagai
berikut : 1. Penyandang Cacat Fisik a. Tuna Netra adalah seseorang yang terhambat
mobilitas gerak yang disebabkan oleh hilang/berkurangnya fungsi penglihatan
sebagai akibat dari kelahiran, kecelakaan maupun penyakit yang terdiri dari: a) Buta
total, tidak dapat melihat sama sekali objek di depannya (hilangnya fungsi
penglihatan). b) Persepsi cahaya, seseorang yang mampu membedakan adanya
cahaya atau tidak, tetapi tidakdapat menentukan objek atau benda di depannya. c)
Memiliki sisa penglihatan (low vision), seseorang yang dapat melihat benda yang
ada di depannya dan tidak dapat melihat jarijari tangan yang digerakkan dalam jarak
satu meter. b. Tuna Rungu/ Wicara adalah kecacatan sebagai akibat
hilangnya/terganggunya fungsi pendengaran dan atau fungsi bicara baik disebabkan
oleh kelahiran, kecelakaan maupun penyakit, terdiri dari tuna rungu wicara, tuna
rungu, tuna wicara. c. Tuna Daksa adalah cacat pada bagian anggota gerak tubuh.
Tuna daksa dapat diartikan sebagai suatu keadaan rusak atau terganggu, sebagai
akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya
yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan atau dapat
juga disebabkan oleh pembawaan sifat lahir.6 Pada orang tuna daksa ini terlihat
kelainan bentuk tubuh, anggota atau otot, berkurangnya fungsi tulang, otot sendi
maupun syaraf-syarafnya, (Soemantri, 2006:114). Tuna daksa terdiri dari dua
golongan yaitu: 1) Tuna daksa ortopedi, yaitu kelainan atau kecacatan yang
menyebabkan terganggunya fungsi tubuh, kelainan tersebut dapat terjadi pada
bagian tulang, otot tubuh maupun daerah persendian, baik yang dibawa sejak lahir
(congenital) maupun yang diperoleh kemudian karena penyakit atau kecelakaan,
misalnya kelainan. 2) Tuna daksa syaraf, yaitu kelainan yang terjadi pada fungsi
anggota tubuh yang disebabkan gangguan pada susunan syaraf di otak. Otak sebagai
pengontrol tubuh memiliki sejumlah syaraf yang menjadi pengendali mekanisme
tubuh, karena itu jika otak mengalami kelainan, sesuatu akan terjadi pada organisme
fisik, emosi dan mental. Salah satu bentuk terjadi karena gangguan pada fungsi otak
dapat dilihat pada anak cerebral palsy yakni gangguan aspek motoric yang
disebabkan oleh disfungsinya otak.
Dalam Pasal 13 UU Penyandang Cacat dikatakan bahwa setiap penyandang
cacat mempunyai kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai
dengan jenis dan derajat kecacatannya. Menurut Pasal 1 angka 2 UU Penyandang
Cacat dan Pasal 1 angka 2 PP No. 43 Tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan
Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat yang dimaksud dengan derajat kecacatan
adalah berat ringannya keadaan cacat yang disandang seseorang. Pada Pasal 2 PP
No. 43 Tahun 1998 diatur bahwa penentuan jenis dan tingkat kecacatan yang
disandang seseorang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang
kesehatan. Lebih lanjut dalam Pasal 6 Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor: 104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi Medik
dinyatakan bahwa penyandang cacat dapat dibedakan dalam jenis dan derajat
kecacatan yang meliputi cacat fisik, cacat mental dan cacat fisik dan mental. Cacat
fisik meliputi cacat bahasa, penglihatan, pendengaran, skeletal, rupa, visceral dan
generalisata. Cacat mental meliputi cacat intelektual dan cacat psikologi lainnya.
Cacat fisik dan mental mencakup kecacatan baik yang dimaksud dalam kriteria
cacat fisik dan cacat mental. Menurut Pasal 7 Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor: 104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi
Medik mengatur bahwa derajat kecacatan dinilai berdasarkan keterbatasan
kemampuan seseorang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari yang dapat
dikelompokkan dalam: a) Derajat cacat 1 yaitu mampu melaksanakan aktifitas atau
mempertahankan sikap dengan kesulitan. b) Derajat cacat 2 yaitu mampu
melaksanakan kegiatan atau mempertahankan sikap dengan bantuan alat bantu. c)
Derajat cacat 3 yaitu dalam melaksanakan aktifitas, sebagian memerlukan bantuan
orang lain dengan atau tanpa alat bantu. d) Derajat cacat 4 yaitu dalam
melaksanakan aktifitas tergantung penuh terhadap pengawasan orang lain. e)
Derajat cacat 5 yaitu tidak mampu melukakan aktifitas tanpa bantuan penuh orang
lain dan tersedianya leingkungan khusus. f) Derajat cacat 6 yaitu tidak mampu
penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun dibantu penuh orang lain.
Berdasar pengertian-pengertian tersebut, penyandang disabilitas diakui sebagai
bagian integral Bangsa Indonesia, yang tidak terpisahkan dari anggota masyarakat
lainnya.
Penyandang disabilitas mempunyai kedudukan, hak, kewajiban dan peran
yang sama sebagai warga Negara Indonesia. Penyandang disabilitas merupakan
asset negara bidang sumber daya manusia yang mempunyai kelebihan dan
kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Potensi yang dimiliki penyandang
disabilitas dapat dikembangkan sesuai dengan talenta yang dibawa sejak lahir.
Namun karena kecacatan yang disandangnya penyandang disabilitas mengalami
hambatan fisik, mental dan social untuk mengembangkan dirinya secara alami.
Penyandang disabilitas memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan
masyarakat non disabilitas. Sebagai bagian dari warga negara Indoesia, penyandang
disabilitas berhak mendapatkan perlakuan khusus, yang dimaksudkan sebagai
upaya perlindungan dari kerentanan terhadap berbagai tindakan diskriminasi dan
terutama perlindungan dari berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Perlakuan
khusus tersebut dipandang sebagai upaya maksimalisasi penghormatan, pemajuan,
perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia universal. Sebagai bentuk
komitmen lebih lanjut terhadap usaha mendorong terwujudnya hak bagi para
penyandang disabilitas, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi PBB
mengenai Hak Para Penyandang Disabilitas pada bulan Oktober 2011. Konvensi ini
kemudian diadaptasi ke dalam UU No 19 Tahun 2011. Ratifikasi UNCRPD oleh
Pemerintah Indonesia adalah sebuah tindakan yang memberikan pergeseran
mendasar dari pendekatan kesejahteraan sosial menjadi pendekatan hak asasi
manusia. Termasuk di dalamnya adalah untuk memfokuskan pada penghalang-
penghalang yang menghambat di lingkungan fisik, sosial, budaya dan ekonomi
sehingga para penyandang disabilitas bisa berpartisipasi dan memberikan kontribusi
mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Terlebih lagi, pendekatan
ini juga menerima pemikiran untuk mengadopsi perundang-undangan dan
kebijakan non diskriminatif, yang menekankan pada pentingnya perlakuan dan
kesempatan yang setara.
Secara eksplisit Indonesia juga memiliki Undang Undang Nomor 4 tahun
1997 tentang Penyandang Cacat yang memberikan landasan hukum secara tegas
mengenai kedudukan dan hak penyandang disabilitas. Dalam konsideran UU
Penyandang Cacat ditegaskan bahwa "Penyandang cacat merupakan bagian
masyarakat Indonesia yang juga memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran
yang sama". Selain itu hak-hak fundamental berikut kewajiban penyandang
disabilitas juga ditegaskan dalam Pasal 41 Ayat 2 UU HAM, yang menyebutkan
bahwa : "Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil dan anak
anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus". Begitu pula dengan
Pasal 42 UU HAM yang berbunyi: "Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat
fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan,
dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai
dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan
berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara", (ILO,
2009).
Seperti yang telah diuraikan pada paragraf di atas, penyandang cacat memiliki
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara non disabilitas.
Penyandang disabilitas memiliki hak untuk hidup, dan mempertahankan
kehidupnya. Selain hak untuk hidup, apabila membicarakan isu-isu mengenai hak
asasi manusia, kita juga dapat menemukan bahwa manusia sebagai warga negara
memiliki hak sipil dan politik, serta memiliki hak ekonomi, sosial dan budaya. Hak
Sipil dan politik dipandang sebagai hak-hak yang bersumber dari martabat dan
melekat pada setiap manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh
negara agar manusia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya dalam bidang
sipil dan politik yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara, yang
meliputi hak hidup; hak bebas dari penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi; hak
bebas dari perbudakan dan kerja paksa; hak atas kebebasan dan keamanan pribadi;
hak atas kebebasan bergerak dan berpindah; hak atas pengakuan dan perlakuan yang
sama dihadapan hukum; hak untuk bebas berfikir, berkeyakinan dan beragama; hak
untuk bebas berpendapat dan berekspresi; hak untuk berkumpul dan berserikat; dan
hak untuk turut serta dalam pemerintahan. Hak ekonomi, sosial, dan budaya,
dipandang sebagai hak dasar manusia yang harus dilindungi dan dipenuhi agar
manusia terlindungi martabat dan kesejahteraannya. Pemerintah Indonesia telah
meratifikasi kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya
(International Covenant on Economic, social, and Cultural Right) pada bulan
Oktober 2005. Ratifikasi ini ditandai dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2005 tentang Pengesahan International Convenant on Economic, Social and
Cultural Right (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya).
Dengan demikian, negara wajib menghormati, melindungi dan memenuhi
Hak-hak tersebut kepada warganya. Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang
diatur dalam kovenan tersebut meliputi: Hak atas pekerjaan, Hak mendapatkan
program pelatihan, Hak mendapatkan kenyamanan dan kondisi kerja yang baik,
Hak membentuk serikat buruh, Hak menikmati jaminan sosial, termask asuransi
sosial, Hak menikmati perlindungan pada saat dan setelah melahirkan, Hak atas
standar hidup yang layak termasuk pangan, sandang, dan perumahan, Hak terbebas
dari kelaparan, Hak menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang tinggi, Hak
atas pendidikan, termasuk pendidikan dasar secara cuma-cuma, Hak untuk berperan
serta dalam kehidupan budaya menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan
dan aplikasinya. Instrumen kebijakan hak asasi manusia dan pembangunan ini juga
terkandung dalam Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
Konvensi ini bersifat lintas jenis disabilitas, lintas sektoral dan mengikat secara
hukum. Tujuannya adalah untuk mempromosikan, melindungi dan memastikan
para penyandang disabilitas dapat menikmati secara penuh dan setara semua hak
asasi manusia dan kebebasan fundamental serta mempromosikan penghargaan
terhadap harkat dan martabat mereka. Konvensi ini menandai sebuah pergeseran
paradigma dalam perilaku dan pendekatan terhadap para penyandang disabilitas.
Para penyandang disabilitas tidak dilihat sebagai obyek kegiatan amal, perlakuan
medis, dan perlindungan sosial, namun dilihat sebagai manusia yang memiliki hak
yang mampu mendapatkan hakhak itu serta membuat keputusan terhadap hidup
mereka sesuai dengan keinginan dan ijin yang mereka berikan seperti halnya
anggota masyarakat lainnya. Pasal 9 dari UNCRPD menyatakan bahwa aksesibilitas
merupakan hal penting dalam memberikan kesempatan bagi mereka yang memiliki
disabilitas untuk dapat hidup secara mandiri dan berpartisipasi penuh dalam
kehidupan.
Aksesibilitas sangatlah berhubungan dengan berbagai hal meliputi
aksesibilitas fisik dan aksesibilitas informasi serta komunikasi. Aksesibilitas fisik
merujuk pada akses-akses ke sarana pendidikan, akses masuk ke pengadilan, akses
masuk ke rumah sakit dan akses ke tempat kerja merupakan hal penting bagi
seseorang sehingga bisa menikmati hak asasi manusianya. Ini termasuk di
dalamnya: ramp (selain atau sebagai tambahan dari tangga). Sedangkan
aksesibilitas informasi dan komunikasi merujuk ke aksesibilitas pada dunia maya
dengan melihat begitu pentingnya internet dalam mengakses informasi, namun juga
aksesibilitas kepada dokumentasi (braille) atau informasi aural (bahasa isyarat).
Aksesibilitas bagi penyandang cacat berarti kemudahan yang diberikan atau
disediakan bagi penyandang cacat bukan sebagai pengistimewaan, melainkan
mencoba meminimalisir keterbatasan mereka sebagai akibat hilangnya atau kurang
berfungsinya salah satu atau beberapa fungsi anggota tubuhnya. Aksesibilitas
meliputi aksesibilitas fisik dan aksesibilitas non fisik. Aksesibilitas fisik itu seperti
landaian, handrail (susuran tangan, biasa terdapat di tangga-tangga), lebar pintu
yang memenuhi standar universal disain yang berarti dapat dilalui oleh pemakai
kursi roda secara mandiri, suara atau audio serta huruf braille bagi penyandang
tunanetra, serta bahasa isyarat dan tulisan bagi penyandang tunarungu. Sedangkan
aksesibilitas non fisik itu meliputi terbangunnya persepsi positif masyarakat
terhadap keberadaan penyandang cacat bahwa penyandang cacat adalah sama
dengan warga negara lain dalam hal kebutuhan pemenuhan segala aspek kehidupan
dan penghidupan. Oleh karena itu, masyarakat harus mendorong penyandang cacat
agar berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara termasuk dalam hal ini adalah hak untuk membina keluarga dan
mempunyai keturunan. Para eksekutif dan legislator dapat memproduk peraturan
dan perundang-undangan yang aspiratif, akomodatif, serta memberi ruang yang
cukup bagi penyandang cacat untuk menikmati hasil-hasil pembangunan. Dalam
penjelasan atas UU Penyandang Cacat, tercantum pada Pasal 10 ayat (1) bahwa
penyediaan aksesibilitas itu dapat berupa fisik dan non fisik, antara lain sarana dan
prasarana umum; serta informasi dan komunikasi yang diperlukan bagi penyandang
cacat untuk memperoleh kesamaan kesempatan. Hal ini sesuai dengan Peraturan
Standar PBB yang telah diratifikasi oleh Indonesia, dimana isinya adalah sebagai
berikut 1) Akses Terhadap Lingkungan Fisik a) Negara-negara seyogyanya
mengambil langkah-langkah untuk menghilangkan rintangan-rintangan bagi
partisipasi di dalam lingkungan fisik. Langkah-langkah dimaksud seyogyanya
berupa pengembangan standar dan pedoman serta pertimbangan untuk
memberlakukan undangundang demi menjamin aksesibilitas terhadap berbagai
bidang kehidupan di masyarakat, misalnya sehubungan dengan perumahan,
bangunan, pelayanan transportasi umum dan alat transportasi lainnya, jalan raya dan
lingkungan luar ruangan lainnya. b) Negara-negara seyogyanya menjamin agar
arsitek, insinyur bangunan dan pihak-pihak lainnya yang secara profesional terkait
dalam perancangan dan pembangunan lingkungan fisik, mendapatkan akses
terhadap informasi yang memadai tentang kebijaksanaan mengenai kecacatan serta
langkahlangkah untuk menciptakan aksesibilitas. c) Persyaratan aksesibilitas
seyogyanya termuat di dalam desain dan konstruksi lingkungan fisik dari awal
hingga proses perancangannya. d) Organisasi-organisasi para penyandang cacat
seyogyanya dikonsultasi jika akan mengembangkan standar dan norma-norma bagi
aksesibilitas. Organisasi-organisasi ini juga seyogyanya dilibatkan secara langsung
sejak tahap perencanaan awal, jika proyek-proyek pembangunan sarana umum
dirancang, sehingga aksesibilitas yang maksimum dapat terjamin adanya. 2) Akses
terhadap Informasi dan Komunikasi a) Para penyandang cacat dan, bilamana perlu,
keluarganya serta para pembelanya seyogyanya memiliki akses terhadap informasi
lengkap tentang diagnosis, hak-hak dan pelayanan serta program yang tersedia,
pada semua tahap. Informasi semacam ini seyogyanya disajikan dalam bentuk yang
dapat diakses oleh para penyandang cacat. b) Negara-negara seyogyanya
mengembangkan strategi-strategi agar pelayanan informasi dan dokumentasi dapat
diakses oleh semua kelompok penyandang cacat. braille, rekaman dalam kaset,
tulisan besar (large print) dan teknologi lainnya yang sesuai, seyogyanya
dipergunakan untuk memberi akses terhadap informasi dan dokumentasi tertulis
bagi para tuna netra.
Demikian pula teknologi yang sesuai seyogyanya dipergunakan untuk
memberi akses terhadap informasi lisan bagi para tuna rungu atau mereka yang
mengalami kesulitan dalam pemahaman. c) Seyogyanya dipertimbangkan
penggunaan bahasa isyarat dalam pendidikan anak-anak tuna rungu, dalam keluarga
dan masyarakatnya. d) Pelayanan penerjemahan bahasa isyarat seyogyanya juga
disediakan untuk memudahkan komunikasi antara para tunarungu dengan anggota
masyarakat lainnya. Seyogyanya dipertimbangkan pula kebutuhankebutuhan orang
yang mengalami hambatan komunikasi lainnya. e) Negara-negara seyogyanya
mendorong media massa, terutama televisi, radio dan surat kabar, agar
pelayanannya dapat diakses. f) Negara-negara seyogyanya menjamin komputerisasi
informasi dan sistem pelayanan yang diperuntukkan bagi umum dapat diakses atau
diadaptasikan sehingga dapat diakses oleh para penyandang cacat. g) Organisasi-
organisasi para penyandang cacat seyogyanya dikonsultasi jika akan
mengembangkan langkah-langkah untuk membuat pelayanan informasi dapat
diakses. Penyediaan aksesibilitas sangat penting bagi penyandang cacat karena
melalui penyediaan aksesibilitas maka kesamaan kesempatan dapat tercapai.
Aksesibilitas dalam memperoleh pekerjaan bagi penyandang cacat dapat ditinjau
dari dua hal, yaitu paradigma positif warga masyarakat mengenai eksistensi
penyandang cacat sebagai individu dan warga negara yang berhak untuk
memperoleh kesamaan kesempatan tanpa diskriminasi dalam memperoleh
pekerjaan. Yang kedua, sejauh mana paradigma positif tersebut dapat dituangkan
ke dalam suatu produk hukum berupa peraturan-perundang-undangan sehingga
penyandang cacat memiliki ruang yang cukup untuk berinteraksi dalam menuntut
hak asasinya untuk mendapatkan suatu pekerjaan, baik di perusahaan swasta
maupun di pemerintahan (Pegawai Negeri Sipil atau disingkat PNS).