You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

OKSIGENASI

OLEH :
SRI WULANDARI
0803042

PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES KARYA HUSADA
SEMARANG
2011
Oksigenasi

A. Pengertian
Oksigenasi adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam
proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh
sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup
O2 setiap kali bernapas. Masuknya oksigen ke jaringan tubuh ditentukan
oleh sistem respirasi kardiovaskuler dan keadaan hematologi (Wartonah,
Tarwoto 2003).
Fisiologi jantung mencakup pengaliran darah yang membawa oksigen
dari sirkulasi paru ke sisi kiri jantung dan jaringan serta mengalirkan darah
yang tidak mengandung oksigen ke sistem pulmonar.
Perawat seringkali menemukan klien yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan oksigennya. Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat dilakukan
dengan pemberian oksigen dengan menggunakan kanula dan masker,
fisioterapi dada ,dan cara penghisapan lendir(suction). Tujuan pemberian
oksigenasi adalah : untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada
jaringan, untuk menurunkan kerja paru-paru dan untuk menurunkan kerja
jantung.

B. Penyebab
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penyebab klien mengalami
gangguan oksigenasi, sebagai berikut:
1. Gangguan jantung, meliputi : ketidakseimbangan jantung meliputi
ketidakseimbangan konduksi, kerusakan fungsi valvular, hipoksia
miokard, kondisi-kondisi kardiomiopati, dan hipoksia jaringan
perifer.
2. Gangguan pernapasan meliputi hiperventilasi, hipoventilasi dan
hipoksia.
3. Kapasitas darah untuk membawa oksigen.
4. Faktor perkembangan.
5. Perilaku atau gaya hidup

C. Klasifikasi
Pemenuhan kebutuhan oksigenasi di dalam tubuh terdiri atas tiga
tahapan, yaitu ventilasi, difusi, dan transportasi.
1. Ventilasi
Proses ini merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dan
atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin
tinggi tempat, maka tekanan udara semakin rendah. Demikian pula
sebaliknya, semakin rendah, maka tempat tekanan udara semakin
tinggi.
b. Adanya kemampuan toraks dan paru pada alveoli dalam
melaksanakan ekspansi atau kembang kempis.
c. Adanya jalan napas yang dimulai dari hidung hingga alveoli yang
terdiri atas berbagai otot polos yang kcrjanya sangat dipengaruhi
oleh sistem saraf otonom. Terjadinya rangsangan simpatis dapat
menyebabkan relaksasi schingga dapat terjadi vasodilatasi,
kemudian kerja saraf parasimpatis dapat mcnycbabkan kontriksi
sehingga dapat menyebabkan vasokontriksi atau proses
penyempitan.
d. Adanya refleks batuk dan muntah.
Adanya peran mukus siliaris sebagai penangkal benda asing yang
mengandung interveron dan dapat rnengikat virus. Pengaruh proses
ventilasi selanjutnya adalah complience recoil. Complience yaitu
kemampuan paru untuk mengembang yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor, yaitu adanya surfaktan pada lapisan alveoli vang
berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan dan adanva sisa
udara yang menyebabkan tidak terjadinya kolaps dan gangguan
toraks. Surfaktan diproduksi saat terjadi peregangan sel alveoli, dan
disekresi saat pasien menarik napas, sedangkan recoil adalah
kemampuan untuk mengeluarkan CO2 atau kontraksi
menyempitnya paru.
Apabila complience baik akan tetapi recoil terganggu maka CO2
tidak dapat di keluarkan secara maksimal. Pusat pernapasan yaitu
medulla oblongata dan pons dapat memengaruhi proses ventilasi,
karena CO2 memiliki kemampuan merangsang pusat pernapasan.
Peningkatan CO2, dalam batas 60 mmHg dapat dengan baik
merangsang pusat pernapasan dan bila paCO, kurang dari sama
dengan 80 mmHg maka dapat menyebabkan depresi pusat
pernapasan.

2. Difusi Gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli
dengan kapiler paru dan CO2, di kapiler dengan alveoli. Proses
pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Luasnya permukaan paru.
b. Tebal membran respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel
alveoli dan interstisial keduanya ini dapat memengaruhi proses
difusi apabila terjadi proses penebalan.
c. Perbedaan tekanan dan konsentrasi O 2 hal ini dapat terjadi
sebagaimana O 2, dari alveoli masuk ke dalam darah oleh karena
tekanan O2, dalam rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O 2,
da1am darah vena pulmonalis, (masuk dalam darah secara
berdifusi) dan paCOJ dalam arteri pulmonalis juga akan berdifusi
ke dalam alveoli.
d. Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan saling
mengikat Hb.
3. Transportasi Gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian antara O2
kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Pada
proses transportasi, akan berikatan dengan Hb membentuk
Oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%), sedangkan C02
akan berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%),
dan larut dalam plasma (50%), dan sebagian menjadi HC03 berada
pada darah (65%).
Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya:
a. Kardiac output
Merupakan jumlah darah yang dipompa oleh darah, normalnya 5
liter per menit. Dalam kooondisi patologi yang dapat menurunkan
cardiac output ( misal pada kerusakan otot jantung, kehilangan
darah ) akan mengurangi jumlah oksigen yang dikirm ke jaringan.
Umumnya, jantung mengkompensasi dengan menambahkan rata-
rata pemompaannya untuk meningkatkan transport oksigen.
b. Kondisi pembuluh darah, latihan, dan lain-lain.
Secara langsung berpengaruh terhadap transpot oksigen.
Bertambahnya latihan menyebabkan peningkatan transport O2 ( 20
x kondisi normal ), meningkatkan cardiac uotput dan penggunaan
O2 oleh sel.

D. Patofisilogi/Pathway
Fungsi sistem jantung ialah menghantarkan oksigen, nutrien, dan
subtansi lain ke jaringan dan membuang produk sisa metabolisme selular
melalui pompa jantung, sistem vaskular sirkulasi, dan integritas sistem
lainnya. Namun fungsi tersebut dapat terganggu disebabkan oleh penyakit
dan kondisi yang mempengaruhi irama jantung, kekuatan kontraksi, aliran
darah melalui kamar-kamar pada jantung, aliran darah miokard dan
sirkulasi perifer. Iskemia miokard terjadi bila suplai darah ke miokard dari
arteri koroner tidak cukup dalam memenuhi kebutuhan oksigen organ.
Selain itu, perubahan fungsi pernapasan juga menyebabkan klien
mengalami gangguan oksigenasi. Hiperventilasi merupakan suatu
kondisiventilasi yang berlebih, yang dibutuhkan untuk mengeliminasi
karbondioksida normal di vena, yang diproduksi melalui metabolisme
seluler. Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat
memenuhi kebutuhan oksigen tubuh atau mengeliminasi CO2 secara
adekuat. Apabila ventilasi alveolar menurun, maka PaCO2 akan
meningkat. Sementara hipoksia adalah oksigenasi jaringan yang tidak
adekuat pada tingkat jaringan.
Pathway TB. Primer
Kuman dibatukkan / bersin (droplet nudei inidinborne)
Terisap organ sehat

Menempel di jalan nafas / paru-paru

Menetap / berkembang biak


Sitoplasma makroflag

Membentuk sarang TB Pneumonia kecil


(sarang primer / efek primer)

Radang saluran pernafasan


(limfangitis regional)

Komplek primer

Sembuh Sembuh dengan bekas Komplikasi

TB Sekunder

Kuman dormat (TB Primer)

Infeksi endogen

TB DWS (TB. Post Primer)

Sarang pneumenia kecil


Tuberkel

Reorpsi Meluas Meluas

Sembuh

Perkapuran Jaringan
Keju

Sembuh Kavitas

Meluas Memadat/bekas
Bersih Sembuh

Sarang pneumonia baru


Tuberkuloma

Sistem kardiovaskular ssp

Sirkulasi darah+ suplai O2 sistem pernapasan

Beban tekanan berlebihan Pengaturan CO2+H ++O2 energi


Beban tekanan berlebihan
Transport O2
Hambatan pengosongan
Difusi O2 dan CO2
ventrikel
Pertukaran gas
Beban sistole berlebihan
Preload CO2 + O2

meningkat
Beban jantung meningkat
Gangguan suplai O2

E. Pengkajian
Pengkajian keperawatan tentang fungsi kardiopulmonar klien harus
mencakup :
1. Riwayat keperawatan harus berfokus pada kemampuan klien dalam
memenuhi kebutuhan oksigen. Riwayat keperawatan untuk
mengkaji fungsi keperawatan.
a. Keletihan
Keletihan merupakan sensasi subjektif, yaitu klien
melaporkan bahwa ia kehilangan daya tahan.
b. Dispnea
Merupakan tanda klinis hipoksia dan termanifestasi
dengan sesak napas. Dispnea merupakan sensasi subjektif pada
pernapasan yang sulit dan tidak nyaman.
c. Batuk
Batuk merupakan pengeluaran udara dari paru-paru yang
tiba-tiba dan dapat didengar.
d. Mengi
Mengi disebabkan oleh gerakan udara berkecepatan
tinggi melalui jalan nafas yng sempit.
e. Nyeri
Nyeri jantung tidak menyertai variasi pernapasan. Nyeri
ini paling sering terjadi di sisi kiri dada dan menyebar. Nyeri
pericardium, merupakan akibat inflamasi kantong perikardium,
biasanya tidak menyebar dan dapat terjadi saat inspirasi.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengkaji tingkat
oksigenasi jaringan klien yang meliputi evaluasi keseluruhan
sistem kardiopulmonar.
a. Inspeksi
- Warna membran mukosa
- Penampilan umum
- Tingkat kesadaran
- Keadekuatan sirkulasi sistemik
- Pola pernapasan
- Gerakan dinding dada.
b. Palpasi
- Dinding thorak, adakah pulsasi, rasa nyeri, tumor, cekungan
?
- Pengembangan dinding horak, bandingkan kiri dan kanan
- Taktil fremitus
Getaran meningkat pneumonia, penumpukan secret,
atelektasis yang belum total, infark atau fibrosis paru.
Sedangkan getaran menurun pleural effusion,
pneumothorak, penebalan pleura, emphysema atau
sumbatan bronchus.
c. Perkusi
macam suara ketukan:
sonor.
Suara yang normal terdengar diseluruh lapangan paru-paru.
Redup
Suara yang timbul akibat adanya konsolidasi paru (pemadatan)
: tumor, atalektasis, cairan.
Hipersonor
Suara yang ditimbulkan lebih keras dibandingkan dengan suara
sonor. Akibat adanya udara berlebihan di paru-paru,
pneumothorak, emphysema paru.
Tympani
Akibat adanya udara dalam suatu kantong atau ruang
tertutup.
suara yang terdengar nyaring seperti kalau kita memukul
gendang.
Kalau terdengar di dinding thorak artinya tidak normal.
Normalnya terdengar dibawah diafragma kiri dimana
terletak lambung dan usus besar.

Teknik perkusi
1. Jari tengah diletakkan di dinding thorak
2. Ujung jari tengah tangan yang lain mengetuk dibagian distal
jari tengah yang berada di dinding thorak
3. Gerakan mengetuk hanya dari pergrlangan tangan, setelah
mengetuk segera diangkat.
4. Bandingkan kiri dan kanan.
5. Mulai mengetuk dari bagian atas paru, kemudian menurun.
d. Auskultasi
- Auskultasi sistem kardiovaskuler meliputi : pengkajian
dalam mendeteksi bunyi S1 dan S2 normal/tidak normal,
bunyi murmur, serta bunyi gesekan. Auskultasi juga
digunakan untuk mengidentifikasi bunyi bruit di atas
arteri karotis, aorta abdomen, dan arteri femoral.
- Auskultasi bunyi paru dilakukan dengan mendengarkan
gerakan udara disepanjang lapangan paru. Suara napas
tambahan terdengar, jika suatu daerah paru mengalami
kolaps, terdapat cairan atau terjadi obstruksi.

3. Pemeriksaan Diagnostik
a. EKG, menghasilkan rekaman grafik aktivitas listrik jantung,
mendeteksi transmisi impuls dan posisi listrik jantung.
b. Pemeriksaan stres latihan, digunakan untuk mengevaluasi
respond jantung terhadap stres fisik. Pemeriksaan ini
memberiakn informasi tentang respond miokard terhadap
peningkatan kebutuhan oksigen dan menentukan keadekuatan
aliran darah koroner.
c. Pemeriksaan untuk mengukur keadekuatan ventilasi dan
oksigenasi ; pemeriksaan fungsi paru, BGA.

F. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan
gangguan batuk.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pemasukann oksigen
yang tidak adekuat.
3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas.

G. Rencana Tindakan Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan
gangguan batuk.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan


(NANDA) ( NOC ) (NIC )

Ketidak efektifan Status Respirasi : Manajemen jalan nafas


pembersihan jalan jalan nafas paten/lancar Jaga kepatenan jalan nafas : buka
nafas berhubungan Status Respirasi jalan nafas, suction, fisioterapi dada
dengan : :Ventilasi sesuai indikasi
Obstruksi Jalan nafas efektif Identifikasi kebutuhan insersi jalan
Data Subyektif Status Respirasi : nafas buatan
Klien mengatakan : Pertukaran gas Efektif Monitor pemberian oksigen, vital sign
Sesak nafas Tidak terjadi tiap ....... jam
Sputum tak bisa aspirasi Monitor status respirasi : adanya
keluar suara nafas tambahan.
Data Obyektif Setelah dilakukan asuhan Identifikasi sumber alergi :
Batuk tidak efektif keperawatan selama x obat,makan an, dll, dan reaksi yang
Dispnea /Orthopnea/ 24 jam : biasa terjadi
Sianosis Klien mampu Monitor respon alergi selama 24 jam
Perubahan ritme & mengidentifikasi dan Ajarkan/ diskusikan dgn
frekuensi pernafasan mencegah faktor yang klien/keluraga untuk menghindari
Gelisah dapat menghambat jalan alergen
Suara nafas tambahan nafas Ajarkan tehnik nafas dalam dan batuk
: rales Menunjukkan jalan efektif
,crakles,ronkhi, nafas yang paten : klien Pertahankan status hidrasi untuk
wheezing tidak merasa tercekik, menurunkan viskositas sekresi
Sputum produktif tidak terjadi aspirasi, Kolaborasi dgn Tim medis :
Karakteristik sputum: frekuensi pernafasan pemberian O2, obat bronkhodilator,
dalam rentang normal : obat anti allergi, terapi nebulizer,
TD mmHg N :. Respirasi: insersi jalan nafas, dan pemeriksaan
x/mnt Dewasa:16- laboratorium: AGD
RR. x mnt S..20/mnt Penghisapan jalan nafas
C Tidak ada suara nafas Tentukan kebutuhan penghisapan
abnormal sekret melalui oral maupun tracheal
Mampu mengeluarkan Monitor saturasi oksigen klien dan
sputum dari jalan nafas status hemodinamik selama dan
Menunjukkan setelah penghisapan
pertukaran gas efektif Catat tipe dan jumlah sekresi
- pH : 7.35 7.45 Pencegahan Aspirasi
- PaCO2 : 35 45 % Monitor tingkat kesadaran, reflek
- PaO2 : 85 100 % batuk, muntah dan kemampuan
- BE : + 2 s/d 2 menelan.
meq/L Tinggikan posisi kepala tempat tidur
- SaO2 : 96-97 % 30-45 derajad setelah makan, untuk
( perifer) mencegah aspirasi dan mengurangi
Tidak ada dyspnea dispnea.
dan sianosis, mampu
bernafas dengan mudah
Menunjukkan
ventilasi adekuat Nama Perawat
Ekspansi dinding dada
simetris, tidak ada :
penggunaan otot-otot nafas
tambahan, retraksi dinding ( .............................................)
dada, nafas cuping hidung,
dyspnea, taktil fremitus

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pemasukann oksigen


yang tidak adekuat.
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan
(NANDA) ( NOC ) (NIC )
Tgl : Jam :
Gangguan pertukaran Status respirasi : Manajemen jalan nafas
gas Pertukaran gas Kaji bunyi paru, frekuensi,
berhubungan dengan : adekuat kedalaman, usaha nafas, dan produksi
pemasukan oksigen yang Status respirasi : sputum.
tidak adekuat Ventilasi efektif Identifikasi kebutuhan insersi
Data Subyektif Keseimbangan jalan nafas, dan siapkan klien untuk
Klien mengatakan : elektrolit dan asam tindakan ventilasi mekanik sesuai
Sakit kepala basa indikasi
Gangguan penglihatan / Monitor vital sign tiap ...jam,
visual : pandangan Setelah dilakukan asuhan adanya sianosis, dan efektifitas
kabur keperawatan selama . x pemberian oksigen yang
Kelelahan 24 jam : dilembabkan.
Sesak nafas Menunjukkan pertukaran Jelaskan penggunaan alat bantu
Merasa kebingungan gas efektif yang dipakai klien : oksigen, mesin
- pH : 7.35 7.45 penghisap, dan alat bantu nafas
Data Obyektif - PaCO2 : 35 45 % Ajarkan tehnik nafas dalam,
Dispnea - PaO2 : 85 100 % batuk efektif
Takikardi - BE : + 2 s/d 2 Lakukan tindakan untuk
Sianosis meq/L mengurangi konsumsi oksigen :
Gelisah - SaO2 : 96-97 % kendalikan demam, nyeri, ansietas,
Hipoksia(penurunan Tidak ada dyspnea dan dan tingkatkan periode istirahat yang
PO2) sianosis, mampu adekuat
Hiperkarbia(peningkata bernafas dengan mudah Kolaborasi dgn Tim medis :
n PCO2) Menunjukkan ventilasi pemberian O2, obat bronkhodilator,
Irama / frekuensi adekuat, ekspansi terapi nebulizer / inhaler, insersi jalan
kedalaman nafas dinding dada simetris, nafas
abnormal suara nafas bersih, tidak Manajemen Elektrolit & Asam-basa
Tensi . mmHg ada : penggunaan otot- Pertahankan kepatenan IV line, dan
RR . x /mnt otot nafas tambahan, balance cairan
Nadi x/mnt retraksi dinding dada, Monitor status mental, elektrolit, dan
SpO2 . % nafas cuping hidung, abnormalitas serum
AGD / BGA abnormal dyspnea, taktil fremitus Monitor tanda-tanda gagal nafas :
TTV dalam batas normal hasil AGD abnormal, kelelahan
Menunjukkan orientasi Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
kognitif baik, dan status Monitor status neurologi dan atau
mental adekuat neuromuskular : tingkat kesadaran
Menunjukkan dan adanya kebingungan, parestesia,
keseimbangan elektrolit kejang
dan asam basa Kolaborasi dengan Tim medis untuk
Na : 135 145 meq/L pemeriksaan AGD, pencegahan dan
Cl : 100-106 meq /L penanganan asidosis dan alkalosis:
K : 3,5 5.5 meq/L Respiratorik & Metabolik
Mg :1,5 2,5 meq / L Hemodynamic regulation
Ca : 8,5- 10,5 meq /L Monitor status hemodinamik: saturasi
BUN : 10-20 mg/dl oksigen, nadi perifer, capillary refill,
suhu dan warna ekstremitas, edema,
distensi JVP
Kolaborasi dgn Tim Medis
untuk obat vasodilator dan atau
vasokonstriktor
Nama Perawat

( ..........................................)

3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas.


No Diagnosa Tujuan Keperawatan Rencana Tindakan
Keperawatan ( NOC ) (NIC )
(NANDA)
Ketidakefektifan pola Status pernafasan : Manajemen Jalan Nafas
nafas berhubungan ventilasi Atur posisi tidur untuk
dengan : adekuat memaksimalkan ventilasi.
Status Tanda Vital Stabil Jaga kepatenan jalan nafas:
Hiperventilasi suction, batuk efektif
Hypoventilasi Setelah dilakukan asuhan Kaji TTV, dan adanya sianosis
Deformitas tulang, keperawatan :selama ..... x 24 Pertahankan pemberian O2
dinding dada jam sesuai kebutuhan
Penurunan energi / Sesak nafas berkurang Kaji adanya penurunan ventilasi
kelelahan: Anemia sampai dengan hilang dan bunyi nafas tambahan,
Disfungsi neuro Ekspirasi dada simetris kebutuhan insersi jalan nafas:
muscular: GBS Tidak ada penggunaan otot ET, TT
Kerusakan bantu pernafasan, tidak ada Tentukan lokasi dan luasnya
musculoskeletal: nafas pendek krepitasi di tulang dada
Cedera Tulang Bunyi nafas tambahan tidak Kaji peningkatan kegelisahan,
Belakang ada (wheezing, ronchi, ....) ansietas dan tersengal-sengal
Posisi tubuh yg Tidak ada nyeri dan cemas Monitor pola pernafasan
tidak sesuai TTV dalam batas normal; (Bradipnea, takipnea,
Nyeri - Suhu: 36,3-37,4 C hiperventilasi): kecepatan,
Obesitas - Nadi: Bayi: 140x /menit irama, kedalaman, dan usaha
Anak 2th: 120x /menit respirasi
Data Subyektif Anak 4th: 100x /menit Monitor tipe pernafasan :
Klien mengatakan : Anak 10-14th:85- 90x /mnt. Kusmaul, Cheyne Stokes, Biot
Sesak nafas Laki2dewasa:60-70x/ menit Ajarkan teknik relaksasi kpd
Nafas pendek Premp.dewasa:70-85x /mnt klien dan keluarga.
Cemas Dewasa : 80-85x /menit Kolaborasi Tim medis : untuk
Data Obyektif - TD : program terapi, pemberian
Penurunan tekanan Bayi syst. 60-80 mmHg oksigen, obat bronkhodilator,
inspirasi/ekspirasi Anak > 10th: 90/60 mmHg obat nyeri cairan, nebulizer,
Penggunaan otot Umur 10-30 th: 110/75 tindakan/ pemeriksaan medis,
bantu nafas mmHg pemasangan alat bantu nafas,,
Nafas cuping Umur 30-40 th: 125/85 dan fisioterapi
hidung mmHg ..................................
Ekspirasi Umur 40-60 th: 140/90
memanjang mmHg Nama Perawat
Pernafasan nasal Umur > 60 th: 150/90
faring mmHg
Dyspnea/Orthopne - Eupnoe (pernafasan normal) ( ............................................)
a - Respirasi:
RR: ...... x mnt Bayi: 30-50xmenit
Nadi: ..... x mnt Balita: 30-40x/menit

Tipe Pernafasan : Anak: 22x/menit

Kusmaul, Biot, Dewasa: 10-18 x/ mnt

Cheynestokes.

H. Evaluasi
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan
gangguan batuk.
a. Klien mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat
menghambat jalan nafas
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten
c. Menunjukkan pertukaran gas efektif
d. Menunjukkan ventilasi adekuat
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pemasukann
oksigen yang tidak adekuat.
a. Menunjukkan pertukaran gas efektif
b. Menunjukkan ventilasi adekuat
c. TTV dalam batas normal
d. Menunjukkan keseimbangan elektrolit dan asam basa

3. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi jalan


napas.
a. Sesak nafas berkurang sampai dengan hilang
b. Tidak ada nyeri dan cemas
c. TTV dalam batas normal;