You are on page 1of 12

Artikel Memperluas Kegunaan dari Akuntansi Akrual

Harold Bierman

Masalah mendasar dan sebuah solusi


Untuk mengukur hasil kinerja operasional dalam periode waktu hal yang paling mendasar
adalah sumberdaya atau aset operasional yang digunakanlebih dari satu periode waktu untuk
pembebanannya harus dialokasikan selama periode penggunaannya. Pihak manajemen dapat
memilih metode apa yang digunakan untuk pengalokasiannya. Sumber daya atau aset
operasional dan pendapatan lainnya juga memerlukan pertimbangan dalam pengalokasiannya.
Perbedaan Antara Akuntansi Akrual dan Aliran Kas
Akuntansi akrual tidak mempengaruhi aliran kas kecuali terus menerus terjadi secara
perjanjian atau konsekuensi pajak. Adapun contoh transaksi yang mempengaruhi laba akuntansi
akrual namun tidak mempengaruhi arus kas yaitu beban penyusutan, tagihan utilitas (seperti
listrik, air, telepon) yang belum dibayarkan, penjualan (ditandai dengan penyerahan barang) yang
pembayarannya belum ditagih, piutang yang mungkin tidak dapat tertagih, bunga periodik atas
obligasi zero coupon.Seluruh transaksi tersebut dipertimbangkan dalam penilaian kinerja
manajemen.
Adapun contoh transaksi yang mempengaruhi arus kas namun tidak mempengaruhi laba
akrual yaitu penjualan aset pada nilai buku disertai penerimaan kas, pembelian aset
menggunakan kas, penerbitan utang jangka panjang atau ekuitas (atau pelunasan utang pada nilai
buku atau pembelian ekuitas), penagihan piutang usaha, pembayaran utang usaha.
Berdasarkan jenis transaksi yang telah disebutkan tidak ada satupun yang mempengaruhi
pengukuran kinerja manajemen untuk menentukan kompensasi. Akan tetapi semu jenis transaksi
tersebut mempengaruhi arus kas.

Penggunaan Aliran Kas untuk Evaluasi Investasi


Dalam melakukan evaluasi terhadap investasi dapat menggunakan aliran kas. Arus kas
merupakan input yang digunakan dalam perhitungan NPV (Net Present Value). Apabila
discountrate yang dipilih sudah tepat atau telah mencerminkan cost of capital yang akurat, maka
kriteria NPV (Net Present Value) akan menunjukkan apakah investasinya telah dapat diterima.
Analisis yang dilakukan dengan menggunakan aliran arus kas setiap tahun dari manfaat
sumberdaya, tetapi secara obyektif menetukan pengukuran satu-satunya untuk investasi yang
dapat diterima.

Pendapatan Akrual dan NPV (Net Present Value) untuk Pengukuran Kinerja
Dalam menghitung NPV (net present value)baik dengan menggunakan aliran kas dan
menggunakan eraning tidak terdapat pertentangan. Dapat dilihat bahwa earning dapat menjadi
suatu indikasi mengenai bagaimana keadaan investasi yang terjadi pada setiap tahunnya. Sebagai
catatan untuk biaya bunga berdasarkan kepada nilai buku sumberdaya, dimana hal tersebut dapat
dipertanggungjawabkan untuk mengenakan biaya modal yang digunakan. Apabila biaya bunga
tidak dibebankan maka biaya periode menjadi lebih kecil. Modal tidak dapat dipercaya untuk
suatu proyek tanpa adanya suatu biaya modal.
Apabila laba dalam tahun tertentu positif hal ini berarti pihak manajemen dapat melewati
target return yang telah ditargetkan. Hal ini berbeda dengan penggunaan arus kas tahunan
dimana kita tidak dapat mengetahui apapun mengenai kinerja kecuali apabila arus kas tahunan
yang diharapkan dapat kita ketahui. Bila metode penyusutan yang digunakan berubah, contohnya
yang pada awalnya menggunakan metode garis lurus kemudian menjadi metode jumlah angka
tahun, maka hasil akhir NPV(net present value)tidak berubah dimana yang berubah hanya return
tahunannya.

Efek Penyusutan Ekonomi


Apabila penyusutan ekonomis tidak diperhitungkan, maka laba akuntansi tidak
mencerminkan perubahan kesejahteraan ekonomi suatu perusahaan dalam periode tersebut.
Sebagai solusi terhadap isu tersebut adalah menggunakan depresiasi ekonomi atau present value
dimana biaya depresiasi didefinisikan sebagai perubahan present value yang menggunakan
internal rate of return sebagai discount rate. Sedangkan apabila depresiasi ekonomi tidak
digunakan kemudian kita mengharapkan untuk memperoleh situasi yaitu akuntansi pendapatan
akrual tidak merefleksikan perubahan dalam kesejahteraan ekonomi pada perusahaan untuk
periode tertentu.
Pengembalian Investasi Berbasis Arus Kas: Pengukuran Kinerja
Apabila investasi setiap tahunnya tumbuh dengan rate yang sama atau kurang dari IRR
investasi, ekuilibrium akan dicapai ketika ROI tahunan sama dengan IRR aset. Sedangkan
apabila investasi tumbuh dengan rate yang lebih cepat dari IRR, maka penghitungan
ekulibriumnya tidak semudah kondisi sebelumnya. Pada akhirnya ROI akan bergantung pada
metode penyusutan yang digunakan. Ketika dikatakan bahwa investasi internal dapat
memberikan hasil evaluasi yang sama baik dengan ukuran arus kas atau laba akrual, praktik
umum yang digunakan adalah penggunaan arus kas, dimana prosesnya lebih mudah dipahami.
Sedangkan apabila kita beralih kepada pengukuran kinerja, maka ROI (dan segala kemungkinan
kesalahannya) menawarkan hasil yang lebih mudah dimengerti daripada ROI berbasis arus kas
yang sama dengan arus kas periode dibagi investasinya.

Penilaian Suatu Perusahaan


Sama halnya dengan mengevaluasi suatu investasi, dalam melakukan penilaian terhadap
suatu perusahaan untuk mendapatkan harapan dari arus kas atau earning. Penggunaan arus kas
satunya harus mengurangi periode investasi yang dibutuhkan untuk menopang aliran kas masa
mendatang. Kalau earnings digunakan nilai buku sumber daya yang dihargai harus ditambah
dengan nilai sekarang dari earnings untuk memperoleh nilai sekarang dari perusahaan.

Kesimpulan
Untuk menentukan apakah sebuah perusahaan dapat dikatakan memiliki profitabilitas
yang baik dalam jangka pendek, bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang akuntan, hal ini
cenderung mustahil untuk dilakukan. Tugas akhir dari arus kas yaitu menilai perbedaan peluang
ekonomis, hal ini bertujuan untuk menilai pilihan mengenai going concert dan keuntungan
menggunakan aliran arus kas. Pasar modal merupakan bukti dari kemampuan pengukuran
income accounting dalam mengatasi permasalah yang berkaitan dengan penerapan praktek
akuntansi yang berbeda.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengukuran income accounting harus dikembangkan
sehingga dapat mengatasi permasalah-permasalah yang terjadi. Selain itu untuk mengevaluasi
kinerja perusahaan dalam suatu periode diperlukan perhitungan arus kas yang obyektif.
Walaupun sampai saat ini belum terdapat penelitian mengenai penerapan accrual accounting,
namun pengukuran pendapatan dari operasional perusahaan dalam satu periode dapat dipercaya.
Terdapat dua langkah penting untuk memperbaiki accrual earning accounting yaitu Pertama,
dengan mengakui bahwa depresiasi akan mengurangi nilai dari suatu asset, dan Kedua,
membebankan semua modal yang digunakan selama suatu periode pada pengukuran pendapatan
untuk merefleksikan kinerja manajemen dengan tepat.

Review Artikel

Manipulating Profits : How Its Done

Ford S. Worthy

Manajemen laba merupakan sebagai tindakan manajemen untuk memilih kebijakan


akuntansi dari suatu standar tertentu dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan dan atau nilai
pasar perusahaan. Manajemen laba dapat dilakukan dengan memanfaatkan kelonggaran metode
dan prosedur akuntansi, membuat kebijakan kebijakan (discretionary) yang dapat mempercepat
atau menunda biaya biaya dan pendapatan laba agar laba perusahaan lebih kecil atau lebih
besar sesuai dengan yang diharapkan.

Manajemen laba merupakan suatu tindakan yang disengaja, menurut batasan standar
akuntansi keuangan, yang bertujuan untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu.
Termasuk dalam kategori tindakan ini adalah rekayasa kebijakan akuntansi akrual (discretionary
accrual), praktek perataan laba (income smoothing), manipulasi alokasi pendapatan atau biaya,
perubahan metode akuntansi dan perubahan struktur modal.

Worthy (1984) menyatakan bahwa teknik untuk melakukan manajemen laba dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :

1. Perubahan metode akuntansi


Teknik ini dilakukan dengan cara mengubah metode akuntansi yang berbeda dengan
metode sebelumnya, sehingga dapat menaikkan atau menurunkan angka laba, misalnya
dengan melakukan perubahan metode penilaian persediaan dari LIFO ke metode FIFO
atau sebaliknya.
2. Memainkan kebijakan perkiraan akuntansi
Manajemen mempengaruhi laporan keuangan dengan cara memainkan judgement
(kebijakan) perkiraan akuntansi, misalnya kebijakan mengenai perkiraan jumlah piutang
tidak tertagih, biaya garansi, umur aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud dan lain
sebagainya.
3. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Menggeser periode biaya atau pendapatan biasanya sering disebut juga manipulasi
keptusan operasional, contohnya mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian
dan pengembangan sampai periode akuntansi berikutnya, menjual investasi sekuritas
untuk memanipulasi tingkat laba, mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai
periode akuntansi berikutnya, kerja sama dengan vendor untuk mempercepat atau
menunda pengiriman penagihan sampai periode akuntansi berikutnya, mengatur saat
penjualan aktiva tetap yang sudah tidak disepakati, dan lain lain.

Manajemen laba dapat dilihat dengan menilai besarnya total akrual antar perusahaan,
yaitu apabila total akrual suatu perusahaan cukup tinggi dibandingkan dengan rata rata total
akrual perusahaan pada umumnya, maka hal ini dapat digunakan sebagai indikasi terdapatnya
manajemen laba pada perusahaan tersebut.

THE ASSOCIATION BETWEEN CORPORATE DIVIDENDS AND


CURRENT COST DISCLOSURE
Bala G. Dharan
Rice University

Perusahaan ukuran besar dan menengah di Amerika yang telah memenuhi persyaratan
harus mengungkapkan informasi mengenai laba berbasis current cost sesuai SFAS No.33
(FASB, 1979) yang menjelaskan keputusan-keputusan dividen perusahaan.

Para peneliti dan praktsi menyatakan argumen mereka bahwa informasi mengenai data
laba berbasis current cost akan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen untuk
menetapkan kebijakan dividen yang konsisten dengan konsep pemeliharaan modal, dimana hal
ini juga terdapat dalam SFAS No.33. Argumennya adalah dividen-dividen didasarkan pada
pendapatan biaya historis yang tidak mungkin memelihara modal dan dividen-dividen harus
lebih kecil dari pendapatan biaya yang ada sekarang, yang menyatakan bahwa perubahan di
dalam dividen-dividen harus dijelaskan oleh perubahan pendapatan biaya yang ada sekarang
dibanding perubahan pendapatan biaya historis.

Komite Standar Akuntansi di Inggris dalam Standard Accounting Practice No.16


membuat peraturan yang konsisten dengan investment opportunity model atas dividen, dimana
perusahaan dengan peluang investasi yang baik akan membayar lebih sedikit dividen. Perubahan
tingkat dividen akan terjadi selama beberapa periode waktu dan tidak terjadi secara tiba-tiba.
Dimana implikasinya adalah bahwa kenaikan atau penurunan pembayaran dividen dari tahun ke
tahun akan diatur oleh kenaikan atau penurunan current cost bukannya dengan historical cost
earning. Jika current cost earning memproksikan laba operasi yang diharapkan di masa
mendatang, implikasinya adalah terjadi hubungan negatif antara perubahan dividen dan
perubahan current cost earning.

Untuk mendapatkan hasil-hasil yang sempurna, artikel ini menguji selama tiga tahun data
biaya yang ada sekarang untuk 325 perusahaan amerika dan melaporkan penemuan mereka dari
empat yang berbeda, meskipun sedikit banyak yang terkait, pendekatan riset yaitu pandangan
dari Lintner (1956), Fama dan Babiak (1968) dan yang lainnya menyatakan bahwa yakni
target payout objective and partial adjustment model atas dividen menyatakan bahwa
perusahaan berusaha mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil antara dividen dan
laba berbasis biaya historis. Dengan kata lain, dari tahun ke tahun perubahan dalam dividen
diatur oleh target payout level dan a speed of adjustment factor. Pandangan tersebut menyatakan
bahwa seharusnya tidak ada hubungan cross-sectional antara perubahan laba berbasis current
cost dan perubahan dividen.

HIPOTESIS
Hipotesis yang diusulkan oleh model perawatan modal adalah:

Ho: (Hipotesis pemeliharaan modal) perubahan di dalam dividen-dividen adalah secara positif
dihubungkan dengan perubahan-perubahan di dalam pendapatan biaya yang ada sekarang.
Diskusi-diskusi tersebut menyarankan hipotesis alternatif berikut:

H1: Tidak ada hubungan yang positif diantara perubahan pendapatan biaya yang ada sekarang
dan perubahan dividen.

SAMPEL PENELITIAN
Sampel dari penelitian ini terdiri dari 325 perusahaan yang terdaftar di Survey Businees
week pada bulan Juli 1984 melalui rekaman COMPUSTAT, kecuali enam perusahaan yang
mengubah tahun fiskal mereka diantara tahun 1979 dan 1983. Catatan tambahan menyediakan
distribusi perusahaan di dalam sampel oleh industri. Sampel direpresentasikan oleh 44 kelompok
industri didasarkan oleh 2-digit SIC codes, dengan 15 dari kelompok tersebut memiliki lebih dari
5 perusahaan.

HASIL PENELITIAN
Frekuensi perubahan dividen
Cara sederhana yang dilakukan untuk menguji dividen-dividen yang dihubungkan dengan
pendapatan biaya yang ada sekarang untuk melihat frekuensi dividen meningkat atau dividen
berkurang bergantung pada tanda dari perubahan pendapatan biaya yang ada sekarang. Prosedur
yang digunakan serupa dengan penelitian oleh Fama dan Babiak (1968). Dalam penelitian ini
perusahaan-perusahaan dikelompokkan menjadi 4 kelompok. Hasilnya adalah peningkatan
historical cost earning berhubungan dengan peningkatan dividen. Walaupun begitu perubahan
current cost earning tidak menjelaskan frekuensi perubahan dividen. Hasil penelitian ini
menolak H0 dan mendukung target payout dan partial adjustment model.

Tingkat pertumbuhan dividen


Prosedur yang digunakan adalah dengan pengujian one-way analysis of variance test
dengan tingkat pertumbuhan dividen sebagai variabel dependen. Prosedur pengujian frekwensi
dari perubahan dividen, mengabaikan kemungkinan tingkat pertumbuhan dividen dapat
dihubungkan dengan pendapatan biaya yang ada sekarang.

Hasil untuk tingkat pertumbuhan dividen konsisten dengan hasil frekuensi, dimana
perusahaan dengan peningkatan historical cost earning umumnya memiliki tingkat pertumbuhan
dividen lebih tinggi daripada perusahaan dengan perubahan historical cost earning kurang dari 0
(E < 0). Selanjutnya, tidak terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan dividen antara perusahaan
dengan peningkatan current cost earning dengan penurunan perubahan current cost earning
(C). Adanya fluktuasi hasil tingkat pertumbuhan dividen mengindikasikan tidak ada pola jelas
pengaruhnya dengan data current cost. Hasil ini mendukung target payout dan partial
adjustment model dan tidak mendukung hipotesis nol dari model capital maintenance.

Regresi Persentase Perubahan Dividen dan Laba


Analisis yang digunakan adalah dengan pengujian regresi dengan persentase perubahan
dividen per saham sebagai dependen variabel. Hasil regresi untuk model ini adalah koefisien dari
variabel current cost earnings tidak signifikan di ketiga tahun. Tambahannya, variabel koefisien
historical cost earning adalah positif signifikan di ketiga tahun, konsisten dengan prediski target
payout model dimana peningkatan historical cost earning menghasilkan peningkatan dividen
dengan asumsi target payout ratio konstan.

Secara keseluruhan, hasil dari regresi perubahan persentase dividen versus earnings,
mengkonfirmasi bahwa penemuan dari kedua tes pertama yaitu current cost earning secara
umum tidak menyediakan kekuatan penjelasan incremental untuk keputusan dividen.

Model Penyesuaian Parsial

Pengujian ini menggunakan perbedaan total dividen sebagai dependen variabel dan
tingkat laba (curent cost earning) sebagai independen variabel. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa target payout dan partial adjustment model secara kuat didukung oleh koefisien yang
diestimasi. Namun koefisien current cost earning tidak signifikan pada 2 tahun (dari 3 tahun
yang diuji), sehingga dapat dikatakan hasil ini tidak mengindikasikan hubungan positif antara
current cost earning dan dividen.
KESIMPULAN

Kesimpulan menyeluruh dari empat hasil pengujian adalah mempengaruhi data biaya
yang ada sekarang tanpa kekuatan yang bersifat menjelaskan meningkat untuk keputusan-
keputusan dividen. Ini adalah konsisten dengan penolakan hipotesis pemeliharaan modal.
Pengujian di sini mengeluarkan/meniadakan kemungkinan dimana manajemen mungkin
mempunyai banyak sumber alternatif mengenai data biaya yang ada sekarang seperti kinerja
seluruh industri dan ukuran-ukuran kompetitif, dan yang lebih penting lagi
mengeluarkan/meniadakan berbagai sumber yang mungkin di dalam laporan keuangan itu
sendiri, ketika metode akuntansi digunakan untuk persediaan dan depresiasi, proporsi aktiva
tetap kepada total harta, dan seterusnya.

Kedua, hubungan yang diramalkan oleh hipotesis pemeliharaan modal antara perubahan-
perubahan di dalam dividen-dividen dan perubahan-perubahan di dalam pendapatan biaya yang
ada sekarang tidak akan linear di dalam semua kisaran nilai-nilai pendapatan biaya yang ada
sekarang.

Ketiga, pengujian frekuensi dan perubahan tingkat dividen dan pengujian-pengujian


model-model deskriptif dari keputusan dividen berasumsi bahwa pendapatan berubah adalah
satu-satunya faktor-faktor yang relevan untuk keputusan-keputusan dividen sedangkan
sesungguhnya mungkin ada banyak faktor-faktor perusahaan spesifik tambahan yang
menjelaskan keputusan-keputusan dividen. Identifikasi faktor-faktor ini mempunyai suatu fokus
mengenai riset di dalam literatur keuangan.

Hubungan positif antara perubahan pendapatan biaya historis dan dividen-dividen dan
hubungan positif antara pendapatan biaya historis dan pendapatan biaya yang ada sekarang
melaporkan di dalam naskah ini menyatakan bahwa peneliti-peneliti menguji efek pengembalian
sekuritas, dari pengungkapan-pengungkapan pendapatan biaya yang ada sekarang mungkin harus
dikendalikan karena perubahan dividen disebabkan oleh perubahan-perubahan serentak di dalam
pendapatan biaya historis. Jika tidak, mereka mungkin berbuat salah "efek hasil" sebagai hasil
perubahan dividen untuk efek pengembalian sekuritas dari pengungkapan biaya yang ada
sekarang. Kajian-kajian yang akan datang pada hubungan antara data biaya yang ada sekarang
dan pengembalian sekuritas secara eksplisit mempertimbangkan potensi pengaruh yang
berhubungan dengan perubahan-perubahan di dalam dividen.
Gambaran Teori Akuntansi Positif
Untuk tujuan menjelaskan fenomena konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang ada, akan
dijelaskan sebuah teori yaitu teori akuntansi positif (PAT). Istilah "positif'' mengacu pada teori
yang mencoba untuk membuat prediksi yang baik mengenai peristiwa yang nyata, sehingga,
Teori akuntansi positif (PAT) adalah teori yang berkaitan dengan upaya memprediksi
tindakan-tindakan sebagai pilihan-pilihan dari kebijakan-kebijakan akuntansi yang dilakukan
oleh perusahaan, dan bagaimana perusahaan-perusahaan memberikan respon terhadap standar-
standar akuntansi baru yang dikemukakan.
Berdasarkan pandangan PAT, perusahaan mengorganisir diri mereka dengan cara yang
paling efisien, sehingga untuk memaksimalkan prospek mereka agar perusahaan tetap bertahan.
beberapa perusahaan melakukan tindakan desentralisasi, beberapa perusahaan melakukan
kegiatan di dalam perubahaan sementara perusahaan lain melakukan kontrak kerja terhadap
kegiatan yang sama, beberapa perusahaan membiayai lebih banyak utang daripada yang lain.
Bentuk paling efisien organisasi untuk sebuah perusahaan tertentu tergantung pada faktor-faktor
seperti lingkungan hukum dan kelembagaan, teknologi, dan tingkat persaingan dalam industri.
Faktor tersebut secara bersama-sama menentukan seperangkat peluang investasi yang tersedia
bagi perusahaan, dan juga prospeknya.
PAT juga mengemukakan bahwa kebijakan-kebijakan akuntasi dari perusahaan akan
dipilih sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas mengenai upaya meminimalkan biaya-biaya
melakukan kontrak, sehingga akan diperoleh pengaturan perusahaan yang efisien.
PAT berkeinginan untuk memberikan para manager beberapa keleluasaan untuk memilih
kebijakan-kebijakan akuntansi sehingga mereka dapat melakukan penyesuaian terhadap
lingkungan-lingkungan baru ataupun lingkungan-lingkungan yang belum pernah dilihat
sebelumnya. Meskipun biasanya kebijakan-kebijakan akuntansi yang tersedia bisa digunakan
berdasarkan aturan GAAP, namun berdasarkan fleksibilitas yang dimiliki pihak manajemen
untuk memilih dari serangkaian kebijakan akuntansi tersebut, akan membuka kemungkinan
perilaku oportunis berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Dimana, berdasarkan kebijakan-
kebijakan yang tersedia, para manager bisa memilih kebijakan-kebijakan akuntansi dari
serangkaian kebijakan tersebut untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri. PAT
menganggap bahwa para manager umumnya bersifat rasional (seperti halnya para investor) dan
akan memilih kebijakan-kebijakan akuntansi menurut kepentingan-kepentingan terbaik yang
mereka miliki apabila dimungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
Tiga Hipotesis Teori Akuntansi Positif

Watts dan Zimmerrman pada tahun 1986,merumuskan prediksi yang dibuat oleh
PAT digolongkan ke dalam tiga buah hipotesis. Hipotesis-hipotesis ini dalam bentuknya
yang bersifat oportunis, oleh karena menurut Watts dan Zimmerman (1990), inilah
sebabnya mengapa ketiga hipotesis tersebut sangat sering diinterpretasikan.
1. Hipotesis tentang rencana bonus: dengan asumsi semua keadaan lainnya tetap sama, para
manager dari perusahaan-perusahaan yang memiliki program-program pemberian bonus
tampaknya akan lebih memilih prosedur-prosedur akuntansi yang mengubah penerimaan-
penerimaan yang dilaporkan dari periode-periode masa mendatang menjadi periode saat ini.
2. Hipotesis tentang perjanjian hutang: dengan asumsi semua keadaan lainnya tetap sama,
maka semakin dekat sebuah perusahaan terhadap perjanjian-perjanjian hutang yang berbasis
akuntansi, maka semakin besar kemungkinannya manager perusahaan tersebut untuk memilih
prosedur-prosedur akuntansi yang mengubah penerimaan-penerimaan yang dilaporkan dari
periode-periode masa mendatang menjadi periode saat ini.
3. Hipotesis biaya yang bersifat politis: dengan asumsi semua keadaan lainnya tetap sama,
semakin besar biaya-biaya yang bersifat politis yang dihadapi sebuah perusahaan, maka
semakin besar kemungkinannya manager perusahaan tersebut untuk memilih prosedur-
prosedur akuntansi yang bersifat menunda penerimaan-penerimaan yang dilaporkan dari
periode saat ini menjadi periode-periode masa mendatang.
Penelitian Emipiris PAT
Teori akuntansi positif menghasilkan banyakpenelitian-penelitian empiris, contohnya
tulisan Lev (1979) yang tidak memberikan rekomendasi-rekomendasi tentang bagaimana
perusahaan-perusahaan dan para investor seharusnya bereaksi terhadap rancangan ketentuan
SFAS 19. Akan tetapi Lev menekanan pada bagaimana para investor telah bereaksi terhadap
kemungkinan dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas yang menggunakan metode biaya-
penuh yang dianggap perlu untuk beralih kepada upaya-upaya sukses.
Banyak riset PAT sudah disediakan untuk menguji keterlibatan ketiga hipotesis yang
digambarkan di atas. Sebagai contoh, hipotesis rencana bonus yang diselidiki oleh Healy (1985),
yang menemukan bahwa manajer perusahaan dengan rencana bonus yang didasarkan pada laba
bersih yang dilaporkan secara sistematis dengan mengadopsi kebijakan-kebijakan akrual dalam
rangka memaksimalkan bonus-bonus yang mereka harap.
Sweeney (1994) melaporkan tentang pengujian hipotesa perjanjian hutang. Dia mengkaji
suatu sampel 130 perusahaan pabrikasi Amerika yang melanggar perjanjian hutang pertama kali
selama periode 1980-89, ditambah sebuah kontrol sampel dari 130 perusahaan dengan ukuran
dan industri yang serupa yang tidak melanggar perjanjian hutang. Sweeney memperoleh
informasi tentang keberadaan dan sifat dari pelanggaran perjanjian hutang dari laporan tahunan
perusahaan, termasuk MD&A. Dia menemukan bahwa yang paling sering melanggar perjanjian-
perjanjian adalah berkaitan dengan pemeliharaan modal kerja dan ekuitas pemegang saham.
hutang-terhadap-ekuitas dan rasio-rasio mencakup bunga yang dilanggar secara relatif jarang.
Sweeney menemukan bahwa permulaan periode delapan tahun, periode lima tahun sebelumnya
terhadap tahun kegagalan, perusahaan yan gagal yang dibuat, pada rata-rata, secara signifikan
mengubah kebijakan akuntansi meningkatkan pendapatan secara fluktuatif dibanding perusahaan
sampel kontrol, dan dampak rata-rata kumulatif pada laba bersih yang dilaporkan dari
perubahan-perubahan ini secara signifikan lebih besar untuk perusahaan yang gagal. Sweeney
juga melaporkan bahwa 130 sampel perusahaan yang gagal, hanya 53 perusahaan benar-benar
membuat perubahan kebijakan akuntansi selama delapan tahun periode seputar pelanggaran.
Dimana,hasil-hasil yang diberikan di atas meskipun kenyataan bahwa 77 perusahaan membuat
tidak ada perubahan-perubahan peningkatkan pendapatan sama sekali. Hal ini menanyakan
menyangkut keadaan umum bentuk oportunis dari hipotesis perjanjian hutang.