You are on page 1of 12

Abstrak

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan kunci bisnis tambang, sehingga


meskipun suatu tambang berjalan dengan baik dimana produksi dan keuntungannya
meningkat tapi kondisi K3 perusahaan tersebut buruk, hal-hal pencapaian tersebut tidak ada
artinya. Sehingga dibutuhkan manajemen K3 yang baik agar aktivitas tambang dapat berjalan
dengan maksimal, efisien, serta aman. Akan dibahas tentang manajemen K3 dan prinsipnya
pada studi kasus kecelakaan tambang emas bawah tanah di Gesowong dan di Chili.

Kecelakaan Tambang Emas Bawah Tanah Milik PT Nusa


Halmahera Mineral, Gesowong.
Kecelakaan tambang emas bawah tanah di unit produksi Terowongan Kencana milik
PT NHM terjadi pada hari Senin, 8 Februari 2016 pukul 22.30 WIT. Sebanyak 50 orang
terjebak dalam runtuhan tersebut, 49 pekerja berhasil dievakuasi namun satu orang lainnya,
Mursalin Sahman (36), masih terjebak dalam reruntuhan di dalam terowongan sedalam 300
meter di bawah tanah. Mursalin Sahman merupakan operator alat berat pengeboran jenis alat
solo drill. Mursalin yang tengah mengendarai alat berat tidak sempat menyelamatkan diri.

Terjadinya insiden ini membuat diberhentikan sementara operasional


tambang emas bawah tanah Kencana Gosowong, Halmahera, Indonesia. Seperti diberitakan
Bloomberg, Selasa (9/2), para pekerja terjebak pada proyek tambang di kedalaman 300 meter
di bawah permukaan tanah. "Kami kini fokus untuk secara cepat dan aman menyelamatkan
para pekerja," terang manajemen Newcrest, dalam pernyataan resminya. Newcrest adalah
pemilik 75% saham NHM. Sementara sisa saham lainnya dimiliki oleh PT Aneka Tambang
Tbk (ANTAM).

Sementara itu dalam rilis yang dikirim ke Malut Post, Manager Komunikasi PT
NHM Herstuti Haryogyo, menjelaskan telah terjadi geoteknik di tambang bawah tanah
kencana. Penyebabnya belum diketahui pasti. Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan
pada sejumlah titik penambangan. Karyawan yang berada di dalam tambang, telah dievakuasi
kecuali Mursalin yang terjebak kurang lebih 300 meter dalam perut bumi. Kami memiliki
bukti bahwa operator yang terjebak masih hidup, tutur Herstuti. Tak ada korban cedera
dalam insiden ini. Dia menjelaskan, saat ini prioritas mereka adalah menyelamatkan
karyawan yang terjebak.
Upaya penyelamatan langsung dilakukan oleh pihak NHM guna menyelamatkan
nyawa Mursalin. Untuk mengetahui Mursalin masih hidup, seorang pekerja berisinatif
berkomunikasi melalui saklar listrik. Dia mematikan dan menyalakan saklar itu dan dibalas
serupa oleh Mursalin di bawah. Respon Mursalin menandakan dia masih hidup di
terowongan itu.

Tim penyelamat, kemudian melakukan upaya lanjutan untuk memastikan Mursalin


masih hidup dengan mengebor sisi lain terowongan yang dianggap terkoneksi. Upaya itu
berhasil pada Selasa (9/2). Pengeboran berhasil menembus lokasi Mursalin berada dengan
menggunakan pipa sepanjang 54 meter dan diameternya 11 cm. dari sinilah diketahui
Mursalin masih hidup dengan berkomunikasi lewat pipa itu. Lewat komunikasi tersebut
Mursalin menuturkan bahwa dia dalam keadaan hidup dan bertahan hidup dengan sisa-sisa
makanan dan air mineral pekerja lain serta menyalakan AC pada alat berat yang
dikendarainya untuk dapat bertahan hidup.

Setelah dapat melakukan komunikasi oleh Mursalin, dipersiapkan pengiriman


tambahan air, makanan, dan komunikasi. Untuk dapat mengevakuasi Mursalin, PT NHM
mendatangkan para ahli dan bantuan dari beberapa tambang lain termasuk beberapa spesialis
tambang yang pernah memimpin proses penyelamatan di tambang bawah tanah. Pada tahap
ini PT NHM belum bisa memberikan kepastian jangka waktu kapan tim penyelamat bisa
mengeluarkan Pak Mursalim. Penyebab insiden ini akan diinvestigasi secara penuh dan
menyeluruh. Tim Inspektur Tambang Indonesia telah berada di lokasi

Pada hari ketiga pengeboran dilakukan di sisi lainnya dengan kedalaman95 meter
dengan diameter yang sama untuk menyuplai makanan..Pada hari kedelapan (15/2) tim
penyelamat masih belum bisa mengevakuasi Mursalin, Tim mengebor tanah hingga ke bawah
tanah tempat Mursalin terjebak.

Terdapat dua opsi untuk dapat menyelamatkan Mursalin. Opsi pertama adalah
Sebelum melakukan proses penyelamatan Mursalin, akan dilakukan pelapisan lubang agar
aman untuk melakukan evakuasi. Diperkirakan pekerjaan pelapisan lubang akan memakan
waktu beberapa hari. Opsi kedua adalah pembuatan terowongan horisontal baru dari akses
utama menuju lokasi Mursalin.

Tim penyelamat terus memonitor geoteknik guna memantau kondisi batuan dan
melakukan penilaian risiko-risiko dalam semua aspek operasi penyelamatan. Memasuki hari
kedelapan ini kesehatan Mursalin dilaporkan masih baik. Dia telah berkomunikasi dengan
keluarganya menggunakan saluran telepon yang baru dipasang. Pada saat itu Manajemen PT
Nusa Halmahera Mineral belum dapat memberikan waktu yang pasti, tetapi pekerjaan
penyelamatan terus dilakukan siang dan malam.

Kesimpulan sementara, diperkirakan runtuhnya terowongan disebabkan adanya


pergerakan batuan yang menutup akses keluar terowongan sehingga Mursalin terjebak hingga
saat ini.

Kecelakaan Tambang Emas Bawah Tanah San Jose, Chili


Kecelakaan tambang ini terjadi pada 5 Agustus 2010, runtuhnya tambang ini
menjebak 33 pekerja pria di bawah tanah. Para penambang bertahan di bawah tanah selama
69 hari. Seluruh 33 penambang diselamatkan dan dibawa ke permukaan pada 13 Oktober
2010, dengan penambang pertama keluar dari kapsul penyelamat Phoenix (Fnix 2) pukul
00.10 CLDT dan penambang terakhir keluar pada pukul 21.55 CLDT.

Tambang San Jos Mine terletak sekitar 45 kilometer (28 mil) di utara Copiap, Chili
utara. Para penambang terjebak di kedalaman 700 m (2,300 kaki) dan berjarak 5 kilometer
(3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk
tambang. Tambang ini memiliki sejarah ketidakstabilan tanah yang pernah mengakibatkan
kecelakaan sebelumnya,
termasuk satu korban
tewas.
Tambang ini dimiliki oleh Compaa Minera San Esteban (Perusahaan Tambang San
Esteban), yang memiliki catatan keselamatan buruk dan telah mengalami serangkaian
malapraktik yang berujung pada tewasnya beberapa pekerja dalam beberapa tahun
terakhir.Antara 2004 dan 2010, perusahaan ini menerima 42 denda karena menyalahi aturan
keselamatan.Tambang ini ditutup tahun 2007 setelah kerabat dari seorang penambang yang
tewas dalam kecelakaan menggugat pimpinan perusahaan, namun tambang ini dibuka
kembali pada 2008 meski gagal memenuhi semua persyaratan. Masalah ini masih diselidiki
menurut komite pertambangan, Senator Baldo Prokurica. Karena keterbatasan dana, hanya
ditugaskan tiga inspektur untuk 884 tambang di Region Atacama.

Kecelakaan serius di tambang besar jarang terjadi, khususnya di tambang milik


perusahaan pertambangan tembaga negara, Codelco, atau perusahaan multinasional.Tetapi,
tambang kecilsepertu San Josmemiliki standar keselamatan yang umumnya
rendah. Pekerja di tambang ini dibayar 20% lebih tinggi daripada tambang-tambang Chili
lainnya karena catatan keselamatan yang buruk.

Keruntuhan dilaporkan terjadi tanggal 5 Agustus 2010 pukul 14.00 CLT. Ketika
keruntuhan terjadi ada dua kelompok penambang. Awan debu terbentuk ketika tambang
runtuh sehingga membutakan beberapa penambang selama enam jam dan mengakibatkan
iritasi mata dan mata merah. Kelompok penambang pertama berada di dekat atau di pintu
masuk tambang dan berhasil keluar dengan selamat. Kelompok utama yang terdiri dari 33
penambang berada jauh di dalam tambang yang meliputi pekerja lokal dan karyawan
subkontrak dari sebuah perusahaan berbeda yang secara normal seharusnya tidak bersama
mereka.

Setelah keruntuhan terjadi, kelompok penambang yang terjebak mencoba keluar


melalui sistem lorong ventilasi, tetapi tangga yang disyaratkan oleh aturan keselamatan
tambang hilang dan lorong ini tidak berguna selama gerakan geologi tertentu. Perusahaan ini
sebelumnya telah diberikan perintah oleh pihak pengawas untuk memasang tangga sebagai
persyaratan memulai kembali operasi, setelah kecelakaan sebelumnya yang memaksa pihak
berwenang menutup tambang penuh kecelakaan ini.

Pengawas penambang yang terjebak, Luis Urza, mengenali situasi yang terjadi dan
kesulitan dalam upaya penyelamatan apapun, jika mungkin dilakukan, ia mengumpulkan para
pekerja ke dalam sebuah ruangan aman bernama "pengungsian" dan mengatur para pekerja
dan sumber daya yang menipis agar bisa selamat dalam jangka panjang. Penambang
berpengalaman dikirim ke luar untuk mempelajari situasi, pria dengan kemampuan penting
diberi peran penting, dan aturan-aturan lain diberlakukan untuk menjamin keselamatan
penambang selama terjebak dalam waktu yang lama.

Penyelamat berupaya untuk memotong langsung reruntuhan di pintu masuk utama


melalui jalur alternatif, tetapi setiap rute terhalang bebatuan yang jatuh atau terancam oleh
gerakan batu yang sedang berlangsung. Keruntuhan kedua terjadi di tambang ini pada 7
Agustus ketika para penyelamat berusaha membuat akses melalui lorong ventilasi dan
mereka terpaksa menggunakan alat berat.Selain upaya tambahan melalui rute ini dapat
menyebabkan gerakan geologi lanjutna di dalam tambang, usaha untuk mencapai para
penambang yang terjebak melalui lorong ventilasi terhalang dan cara lain untuk menemukan
mereka langsung diusahakan.

Bor perkusi (bor palu putar) digunakan untuk membuat 6 lubang bor selebar 5.5 inci
(15 sentimeter) untuk mencari penambang. Upaya penyelamatan dipersulit oleh peta lama
dan beberapa lubang bor berbelok menjauhi targetkarena batuan keras yang mempersulit
operasi bor tersebut. Pada 19 Agustus, salah satu bor mencapai daerah yang diperkirakan
tempat terjebaknya penambang tetapi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.[

Pada 22 Agustus pukul 07.15 CLT, bor lain mencapai sebuah jalan miring pada
kedalaman 688 meter (2.257 ft), sekitar 20 meter dari ruang penyelamat tempat para
penambang diperkirakan ada di sana.Para penambang telah mendengar suara bor mendekati
mereka berhari-hari dan telah mempersiapkan catatan khusus untuk penyelamat mereka di
permukaan dan menjamin bahwa mereka punya pita perekat untuk merekatkan catatan ke bor
setelah ujungnya muncul ke permukaan. Catatan ini mengejutkan pihak penyelamat ketika
mereka menarik bor sedikit ke atas dan menemukan catatan tersebut, para penambang hidup
selamat lebih lama daripada yang diperkirakan selama ini.

Beberapa jam kemudian, kamera yang dikirim melalui lubang bor berhasil melakukan
kontak dengan para penambang. Mereka memiliki ruang perlindungan seluas 50 meter
persegi dengan dua kursi panjang, tetapi masalah ventilasi telah mendorong mereka untuk
pindah ke terowongan. Selain ruang tersebut, mereka juga memiliki ruang terbuka sepanjang
2 km untuk bergerak. Para penambang menggunakan sekop untuk menggali mencari air
tanah.Ada pula air yang diperoleh dari radiator kendaraan di dalam lorong tambang. Suplai
makanan terbatas dan mereka mengalami penurunan berat badan sebesar 8 hingga 9 kg
. Meskipun suplai darurat dirancang untuk bertahan selama dau atau tiga hari, para
penambang menjatahkan suplai tersebut dan mampu bertahan selama 17 hari tanpa kontak.
Mereka mengonsumsi "dua sendok kecil tuna, seteguk susu dan sebuah biskuit setiap 48 jam"
dan sepotong buah persik. Mereka menggunakan baterai truk untuk memberi tenaga pada
lampu helm mereka.

Tanggal 23, kontak suara dilakukan dengan penambang. Mereka melaporkan


mengalami beberapa masalah kesehatan. Dokter operasi penyelamatan ini mengatakan
kepada media bahwa "mereka hanya merasa sedikit tidak nyaman, ini lebih dari yang kami
perkirakan setelah 18 hari menetap di tambang, di kedalaman 700 meter dan suhu serta
kelembapan tinggi". Dokter juga melaporkan bahwa para penambang telah diberi larutan
glukosa 5% dan obat untuk mencegah maag yang disebabkan kekurangan makanan. Bahan
makanan dikirim menggunakan kapsul plastik biru sepanjang (1,5 m) yang
dijuluki palomas ("merpati", merujuk pada peran merpati pos) yang memakan satu jam untuk
tiba ke tempat tujuan. Para teknisi melumuri lubang bor dengan gel untuk menjamin
kekukuhan terowongan dan kemudahan akses kapsul. Selain larutan glukosa berenergi tinggi,
tablet rehidrasi, dan obat-obatan, para penyelamat juga mengirim oksigen setelah para
penambang melaporkan ketidakcukupan di dalam tambang. Pengiriman makanan pokok
dimulai beberapa hari kemudian. Dua lubang bor lain selesai dibuatsatu untuk udara penuh
oksigen, satu lagi untuk peralatan konferensi video yang memungkinkan obrolan harian
bersama anggota keluarga.

Tanpa mengkhawatirkan keadaan penambang, para penyelamat terus memberitahu


penambang bahwa menurut rencana penyelamatan awal, upaya penyelamatan dapat memakan
beberapa bulan, dengan tanggal pengeluaran mendekati Natal. Menteri pertambangan
melaporkan bahwa mereka merespon berita negatif dengan baik.

Selain penyelamatan secara teknis yang terus dilakukan oleh regu penyelamat, kondisi
kesehatan fisik dan psikologis para pekerja yang terjebak di dalam tambang juga selalu
diperhatikan dan diobservasi. Salah satunya dengan mengirim Lampu pijar dengan pengatur
waktu dikirim ke bawah agar penambang tetap pada jadwal normal dengan mengikuti hari
dan malam. Selain itu menjaga motivasi dan optimisme mereka, para pekerja membagi
kelompok dalam tugas bergantian selama 3-8 jam untuk menangani palomas, keselamatan
lingkungan dan mencegah longsor batu, komunikasi dan sanitasi. Pakar kesehatan jiwa
mendukung struktur hierarkis mereka untuk mempertahankan ketertiban dan rutinitas para
penambang yang terjebak karena kesehatan jiwa mereka sangat dikhawatirkan.

Prosedur penyelamatan petambang diumumkan pada 12 Oktober 2010 pukul 19.00


waktu lokal (22.00 UTC). Kapsul yang akan digunakan untuk menyelamatkan 33 petambang
bernama Fnix (Phoenix); ada 3 kapsul itu di tempat kejadian. Penyelamat pertama yang
menyelamatkan petambang adalah Manuel Gonzlez Pavez (Codelco) pada 12 Oktober 2010
pukul 23.19 waktu lokal (13 Oktober 2010 pukul 02.19 UTC). Gonzlez sampai di tambang
yang ambruk dan berkomunikasi dengan para petambang pada 23.39 waktu local.

Rencana awalnya adalah mengembalikan kapsul ke permukaan tanpa muatan setelah


mengirim masuk penyelamat pertama, untuk mengirim penyelamat kedua masuk ke dalam
tambang itu sebelum mengeluarkan petambang pertama ke permukaan. Namun para
penyelamat memutuskan untuk mengeluarkan petambang pertama secepatnya setelah
Gonzlez masuk ke dalam. Kapsul itu dicek ulang secara cepat untuk keamanan, dan setelah
15 menit, penambang Florencio valos memulai perjalannya dari tambang; kejadian ini
disiarkan ke penonton televisi dengan sebuah kamera yang dibawa ke dalam tambang oleh
Gonzlez. Sehingga akhirnya, 33 pekerja tambang tersebut dapat dievakuasi keluar dengan
selamat.

Pembahasan

Dilihat dari kasus kecelakaan tambang emas milik PT NHM, saat kecelakaan terjadi
dan menyisahkan satu pekerja yang terjebak di dalam reruntuhan terowongan. Pihak
perusahaan langsung tanggap untuk melakukan upaya penyelamatan, hal ini dibuktikan saat
dapat dipastikan bahwa Mursalin masih hidup (saat seorang pekerja berisinatif berkomunikasi
melalui saklar listrik. Dia mematikan dan menyalakan saklar itu dan dibalas serupa oleh
Mursalin di bawah) dilakukan pemboran pada bagian samping, sehingga selang satu hari
setelah kecelakaan terjadi, pemboran dapat mencapai lokasi Mursalin berada dan dapat
melakukan komunikasi dengannya.

Setelah dapat dipastikan dengan benar bahwa Mursalin masih hidup, upaya teknis
untuk dapat mengeluarkan Mursalin terus dilakukan dengan melakukan pengeboran lanjutan,
selain itu kondisi Mursalin di dalam terowongan terus dipantau dan Mursalin juga dikirim
makanan tambahan. Pihak NHM juga medatangkan ahli-ahli dibidang penyelamatan tambang
bawah tanah, observasi terhadap pergerakan geoteknik terowongan juga terus dilakukan.
Dari upaya-upaya penyelamatan yang dilakukan oleh PT NHM dapat dikatakan
bahwa perusahaan telah melakukan penyelamatan yang cepat dan mengutamakan
keselamatan pekerja, segala macam upaya dilakukan agar Mursalin dapat dievakuasi dengan
selamat, selain itu dari kasus ini dapat dilihat bahwa manajemen K3 yang dimiliki oleh PT
NHM sebenarnya cukup baik terlepas dari kecelakaan yang telah terjadi, ini dibuktikan
dengan langsungnya dilakukan upaya penyelamatan pada kecelakaan tersebut.

Sedangkan yang dapat dilihat dari kasus kecelakaan tambang emas di San Jose,
sebenarnya jika tidak ada tuntutan yang besar dari keluarga para pekerja yang terjebak dan
aksi demo yang menuntut agar dilakukan penyelamatan, upaya penyelamatan tidak akan
dilakukan oleh pihak perusahaan dikarenakan mereka tidak punya kemampuan untuk
mengeluarkan para pekerja pada kedalaman 700 m dan menurut pihak perusahaan sangat
tidak mungkin para pekerja dapat bertahan hidup pada kondisi tersebut (Diambil dari sumber
Film 33 yang berdasarkan kisah nyata dari pekerja tambang San Jose).

Dikarenakan tekanan publik yang tinggi akhirnya pemerintah Chili diwakili oleh
Kementrian Pertambangan melakukan upaya evakuasi terhadap para penambang. Dibutuhkan
peralatan yang besar dan canggih untuk dapat menemukan lokasi para penambang, banyak
ahli yang didatangakan dari luar Chili agar dapat membantu proses penyelamatan ini.

Akan tetapi, proses pemboran yang dilakukan membutuhkan waktu yang lama
dikarenakan lokasi yang dituju sangat dalam sehingga membuat pemboran mengalami
pembelokan yang cukup jauh dari lokasi tujuan. Akhirnya dengan segala daya upaya yang
dilakukan, pada tanggal 22 Agustus, bor dapat mencapai tempat pengungsian para pekerja
dan para pekerja memberikan sinyal/tanda bahwa mereka masih hidup.

Setelah mengetahui bahwa pekerja masih hidup, dilanjutkan dengan mengirim


makanan, minuman, obat-obatan, dan keperluaan lainnya bagi para pekerja yan terjebak.
Sampai akhirnya dapat dilakukan evakuasi terhadap ketiga puluh tiga pekerja yang terjebak
di dalam tambang emas tersebut.

Dari kasus tambang San Jose ini dapat dilihat bahwa manajemen K3 yang dimiliki
oleh perusahaan ini sangat buruk, hal ini dibuktikan dengan tidaknya dibangunnya tangga
darurat pada sistem lorong ventilasi yang telah ditetapkan sebagai keselamatan tambang
bawah tanah. Hal lainnya adalah tindakan manajemen perusahaan yang seolah ingin lari dari
tanggung jawabnya saat kecelakaan terjadi dengan mereka tidak langsung melakukan upaya
penyelamatan.
Sebenarnya ada hal lain yang menjadi bukti bahwa manajemen K3 yang dimiliki
tambang San Jose tidak berjalan dengan baik yakni seorang supervisor pekerja sudah
memberi tahu kepada bagian manajemen perusahaan beberapa hari sebelum kecelakan terjadi
bahwa struktur terowonga mengalami pergerakan dan pergesaran dengan adanya bukti bahwa
kaca-kaca yang sengaja ditempel pada sisi-sisi atas terowongan telah berjatuhan tapi laporan
ini tidak ditanggapi dengan serius.

Kedua kecelakaan tambang ini memiliki beberapa kesamaan yaitu kecelakaan terjadi
pada tambang bawah tanah dan hasil tambang yang dihasilkan adalah emas, jika kita lihat
dari prinsip-prinsip manajemen Keselamatan dan Keamanan Tambang dari kedua perusahaan
ini, prinsip yang menyebutkan bahwa diperlukan peraturan yang jelas dalam penangan
Keselamatan dan Keamanan termasuk tindakan penting dalam keadaan darurat hanya
diterapkan oleh PT NHM dibuktikan dengan tindakan mereka yang responsif dalam upaya
penyelamatan pekerja, hal yang kontradiksi dilakukan oleh perusahaan tambang San-Jose
yang tidak langsung melakukan tindakan penyelamatan.

Prinsip manajemen yang lain yaitu adanya laporan rutin manajemen KK kepada
senior manajer tidak dapat diketahui informasinya apakah sudah dilakukan pada tambang
emas milik PT NHM, sedangkan pada tambang San-Jose tidak dapat pula dikatakan bahwa
laporan yang diberikan oleh supervisor pekerja tentang kondisi geoteknik terowongan
termasuk laporan rutin yang seharusnya dilakukan oleh manajer KK.

Prinsip manajemen KK yang menyebutkan bahwa setiap supervisor divisi harus


bertanggung jawab atas keselamatan pegawai pada divisinya serta harus paham prosedur KK
sehingga akhirnya diberi pelatihan, terlihat dijalankan pada tambang San-Jose dimana
supervisor pekerja tambang pada kecelakaan tersebut bertanggung jawab untuk
mengevakuasi dan memberi perintah untuk segera meninggalkan lokasi penambangan saat
kecelakaan terjadi, terlebih supervisor tersebut ikut terjebak pada terowongan tersebut dan
laporan atas kondisi terowongan yang dia ajukan menjadi salah satu bukti tanggung jawabnya
atas para pekerja di bawah divisinya. Sementara pada tambang Gesowong tidak didaptkan
informasi mengenai hal ini, meskipun adanya upaya seorang pekerja lain yang memastikan
kondisi Mursalin lewat menghidupkan saklar karena tidak bisa dikonfirmasi apakah itu
supervisornya atau pekerja lain.

Prinsip tentang rapat berkala yang harus dilaksanakan untuk membahas KK serta
pengecekan secara rutin tentang kondisi kesehatan pekerja tidak didapatkan informasi
tersebut berdasarkan kedua kejadiaan kecelakaan tambang ini. Prinsip lain yaitu kalkulasi
performa kerja juga tidak dapat dibahas karena tidak adanya informasi yang dicantumkan.

Daftar Pustaka

http://news.blogs.cnn.com/2010/10/13/workers-begin-to-rescue-trapped-chilean-
miners/?hpt=T1&iref=BN1

https://www.theguardian.com/world/2010/aug/23/miners-trapped-alive-chile

http://www.economist.com/blogs/americasview/2010/08/chiles_trapped_miners

http://www.miningweekly.com/article/rescuers-struggle-to-reach-trapped-miners-in-
chile-2010-08-06

http://www.abc.net.au/news/2010-08-24/aussie-drill-expert-called-to-chile-mine-
rescue/955706

http://www.bbc.com/news/world-latin-america-11489439

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/735615-pekerja-terjebak-operasi-tambang-
emas-halmahera-dihentikan

http://jambi.tribunnews.com/2016/02/09/tambang-emas-halmahera-runtuh-pekerja-
terjebak-300-meter-di-bawah-tanah

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/735880-hari-kedelapan-mursalin-
terperangkap-tambang-runtuh

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/735677-mursalin-masih-berjuang-bertahan-
hidup-di-reruntuhan-tambang
TUGAS MANAJEMEN TAMBANG
Prinsip Manajemen K3 Tambang
Studi Kasus Kecelakaan Tambang Emas Gesowong dan Tambang Emas San-Jose
Diajukan untuk memenuhi tugas Manajemen Tambang

Disusun oleh:

Bella Puspa Octaviani NIM: 11160980000044

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2017