You are on page 1of 10

Pemerintah Ingin Meningkatkan Peringkat

Kemudahan Usaha (Ease of Doing Business) di


Indonesia
Demi memudahkan mereka yang ingin memulai usaha pemerintah membuat
dan merevisi sejumlah aturan terkait proses mendirikan PT (Perseroan
Terbatas). Salah satu terobosan pentingnya adalah dari 465 item perizinan
dan pelimpahan izin yang dikeluarkan oleh PTSP (Pelayanan Terpadu Satu
Pintu) DKI Jakarta, sekarang tidak lagi memerlukan Surat Keterangan Domisili
Usaha. Apa saja aturan terbaru lainnya dan apa implikasinya?

Presiden Jokowi menginginkan agar peringkat kemudahan usaha di Indonesia


yang dirilis World Bank setiap tahun peringkatnya bisa naik dari 109 di tahun
2016 menjadi 40 di 2017. Pemerintah menyadari bahwa perekonomian
Indonesia akan dapat berkembang dengan baik (sustain) bila mampu menarik
investor baik lokal maupun asing untuk berinvestasi disini. Untuk itu,
kemudahan untuk memulai usaha (ease of doing business) menjadi perhatian
utama. Mulai dari proses mendirikan PT, izin domisili usaha, hingga
permohonan SIUP dan TDP, sekarang dipermudah. Sejauh ini baru Pemda
DKI yang merespon dengan baik. Easybiz merangkum sejumlah aturan
terbaru mulai dari level Peraturan Pemerintah hingga Surat Edaran dan
Keputusan Kepala BPTSP DKI.
1. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar
Perseroan Terbatas
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar
Perseroan Terbatas (PP 7/2016) ini adalah jawaban bagi pengusaha pemula,
UMKM, dan startup yang selama ini mengalami kendala saat akan mendirikan
PT karena keterbatasan modal. Di Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (UUPT) diatur bahwa modal dasar sebagai
syarat pendirian PT adalah Rp 50 juta. Dari jumlah tersebut, 25%-nya harus
sudah disetorkan. Nah, di peraturan pemerintah paling anyar ini, bagi mereka
yang memiliki kekayaan bersih sesuai dengan kriteria Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (UMKM) maka modal dasarnya tergantung kesepakatan para
pendirinya. Kriteria UMKM sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2008 tentang UMKM adalah yang memiliki aset maksimal Rp 50 juta, tidak
termasuk tanah dan bangunan usaha, serta omzet. Diharapkan, relaksasi
aturan mengenai modal dasar ini dapat mendorong pertumbuhan UMKM di
Indonesia yang selama ini kebingungan untuk menentukan besaran modal
dasar. Sementara itu, untuk ketentuan modal yang disetor penuh tetap 25%
dari modal dasar sebagaimana disebutkan diatas. PP 7/2016 ini juga
menegaskan bahwa undang-undang yang mengatur kegiatan tertentu dapat
menentukan jumlah modal dasar minimum yang lebih besar.
Update: Per 14 Juli 2016, PP 7/2016 sudah dicabut dan digantikan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal
Dasar Perseroan Terbatas.
Implikasi:
Kalau selama ini UMKM lebih memilih untuk mendirikan CV (Persekutuan
Komanditer) dibandingkan PT dengan alasan modalnya pas-pasan, maka
dengan diundangkannya PP 7/2016 ini bisa jadi pendirian PT adalah opsi
yang lebih baik. Prosedur dan syarat mendirikan PT di Jakarta sekarang
semakin mudah. Toh, untuk yang memenuhi kualifikasi UMKM kasarnya
dapat menentukan berapapun modal dasar yang disanggupi. Keuntungan
mendirikan PT adalah adanya pemisahan harta kekayaan antara pemegang
saham dengan perusahaan. Kalau ada kerugian, maka tanggung jawab
pemegang saham hanyalah sebatas modal dia di perusahaan tersebut.
Sementara karena tidak berbadan hukum, untuk CV kalau rugi bisa merembet
hingga harta pribadi pemiliknya.
Implikasi lainnya adalah proses untuk mendapatkan SIUP. Dengan modal
dasar dibawah Rp 50 juta, maka meski telah mendirikan PT, hanya bisa untuk
SIUP dengan klasifikasi mikro. Untuk klasifikasi SIUP mikro, sebenarnya tidak
ada keharusan mendirikan perusahaan berbadan hukum karena perusahaan
peroranganpun diperbolehkan. Padahal, dengan ketentuan sebelumnya di
UUPT dengan modal dasar Rp 50 juta bisa mendapatkan SIUP kecil.
2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail
Tata Ruang dan Peraturan Zonasi
Sejatinya, aturan ini memang tidak baru karena telah diundangkan sejak 2
tahun yang lalu. Namun ada beberapa poin penting yang harus dipahami
karena secara hierarki menjadi acuan sejumlah aturan dibawahnya. Misalnya,
Perda ini mengatur pembagian kawasan menjadi zona sesuai dengan fungsi
dan karakteristiknya dan memberlakukan ketentuan hukum yang berbeda
untuk setiap zonanya. Kemudian, salah satu ruang lingkup Perda ini adalah
untuk pengaturan zonasi yang salah satunya zonasi untuk perkantoran,
perdagangan, dan jasa. Ditentukan bahwa zonasi perkantoran adalah zona
yang diperuntukkan bagi sub zona atau kegiatan perkantoran, perdagangan,
dan jasa untuk mendukung efisiensi perjalanan, memiliki akses yang tinggi
berupa jalur pejalan kaki yang terhubung dengan jaringan transportasi massal
dan jalur penghubung antar bangunan, dan didukung dengan fasilitas umum
dan pasokan energi dengan teknologi yang memadai. Untuk industri rumah
tanggapun, berdasarkan Perda ini, harus berada di zonasi industri.

Implikasi:
Penggunaan bangunan untuk mendirikan perusahaan dengan menyewa
kantor atau ruko harus memperhatikan ketentuan zonasi. Artinya, bila ingin
mendirikan perusahaan maka dalam proses pendirian PT harus diperhatikan
agar alamat kantornya harus berada di zonasi yang disebutkan diatas.

3. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2016 tentang


Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 77/M-
DAG/PER/12/2013 tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan dan
Tanda Daftar Perusahaan Secara Simultan Bagi Perusahaan Perdagangan
Dari waktu ke waktu aturan mengenai SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)
dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan) terus dilakukan penyempurnaan. Intinya
aturan terbaru ini adalah landasan yang memungkinkan permohonan SIUP
dan TDP dapat diajukan secara online dan simultan. Permendag Nomor
77/2013 sebenarnya telah menggariskan penerbitan SIUP dan TDP secara
simultan. Namun dalam praktiknya pemohon harus telah memiliki SIUP
terlebih dahulu untuk mendapatkan TDP. Kalangan dunia usaha tentu
berharap aturan terbaru ini mampu mengubah praktik yang berjalan selama
ini. Proses pendirian PT memang biasanya dipaketkan dengan proses
pengurusan untuk mendapatkan SIUP dan TDP. Di Permendag mengenai SIUP
dan TDP yang terbaru ini juga ditentukan bahwa kedua dokumen tersebut harus
diterbitkan paling lama 2 hari setelah permohonan diterima secara lengkap
dan benar.
Implikasi:
Aturan ini berupaya meminimalisir antrian di kantor Kelurahan, Kecamatan,
dan Walikota. Mereka yang telah memiliki akta pendirian PT dan SK
pengesahan badan hukum sebagai bagian dari proses pendirian PT dan juga
telah memiliki NPWP, seharusnya tidak perlu lagi mengantri untuk
memperoleh SIUP dan TDP sebagai kelengkapan legalitas usaha karena
telah ada sistem online yang dikelola oleh PTSP DKI. Meski patut mendapat
apresiasi yang tinggi, sistem online ini belum berfungsi dengan optimal.
Easybiz telah menggunakannya dan sementara ini sistem belum bisa berjalan
dengan baik. Selain tetap memerlukan tatap muka untuk verifikasi dokumen,
pengurusannyapun sementara ini masih melebihi dari waktu yang ditentukan
dalam Permendag.

Baca juga: 9 Keuntungan Mendirikan Untuk Bisnis Anda

4. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 28 Tahun 2016 tentang


Penyederhanaan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan
Aturan ini mengelompokkan persyaratan perizinan dan non perizinan yang
terdiri dari persyaratan dasar, prasyarat, dan persyaratan khusus. Persyaratan
dasar merupakan dokumen yang harus ada dan sama dalam setiap
pengajuan izin dan atau non izin. Prasyarat adalah izin dan atau non izin yang
harus telah dimiliki sebelum pemohon mengajukan izin dan atau non izin
berikutnya. Persyaratan khusus merupakan dokumen tambahan selain
persyaratan dasar yang harus dilampirkan dalam setiap pengajuan izin dan
atau non izin. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 28 Tahun
2016 tentang Penyederhanaan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan
(Pergub 28/2016) ini juga telah menentukan perumpunan yang ditentukan
berdasarkan jenis dan persyaratan izin dan non izin. Perumpunan yang
dimaksud terdiri dari ketataruangan, kajian lingkungan, pembangunan,
kelaikan bangunan, kelaikan aktivitas, usaha, aktivitas usaha, izin aktivitas
perorangan, dan izin atau lisensi praktik perorangan. Untuk detail
perumpunannya bisa dipelajari disini. Namun sebagai contoh untuk rumpun
kelaikan aktivitas maka kelompok izin dan non izinnya, diantaranya adalah
Izin Gangguan Tempat Usaha Berdasarkan UUG/HO Kelas A, B,C, dan D;
Sertifikat Laik Usaha Hotel, Restoran, dan Rumah Makan; Sertifikat Laik
Sehat Usaha Depo Air Minum; dan Rekomendasi Sertifikat Kelayakan
Pengolahan Perikanan. Pergub 28/2016 ini juga bisa dijadikan pegangan
bahwa Izin Gangguan untuk Tempat Usaha masih diperlukan.
Implikasi:
Aturan ini mencoba meminimalisir ketidakseragaman persyaratan untuk
mengurus perizinan yang sering tidak ada acuannya. Karena
banyaknya item perizinan, maka untuk menindaklanjuti Pergub ini akan
disusun katalog perizinan yang akan dijadikan acuan dalam bentuk
Keputusan Kepala BPTSP. Diharapkan, tidak ada lagi perbedaan persyaratan
untuk mendapat suatu perizinan yang sering dijumpai saat pengurusan izin.

5. Surat Edaran Kepala BPTSP Nomor 06/2016 tentang Penerbitan Surat


Keterangan Domisili dan Izin-izin Lanjutannya Bagi Pengguna Virtual Office
Surat edaran ini adalah jawaban untuk mereka yang masih bingung apakah
bisa menggunakan alamat di virtual office untuk memulai bisnis. Sebelumnya
memang ada surat edaran tahun 2015 yang melarang penggunaan virtual
office sebagai domisili usaha. Banyak UMKM dan startup di Indonesia
terutama di Jakarta yang mengalami kesulitan untuk mengurus legalitas dan
perizinan saat mereka memulai bisnis karena tidak memiliki kantor atau ruko
secara fisik. Bagi mereka, menggunakan alamat virtual office adalah
solusinya. Di SE 06/2016 ini jelas bahwa virtual office dapat digunakan sebagai
alamat domisili usaha. Yang perlu diperhatikan adalah bagi badan usaha yang
menggunakan virtual office, maka salah satu direksinya harus memiliki KTP
Jakarta. Selain itu, di dalam surat keterangan domisili yang akan diterbitkan
nantinya harus dicantumkan alamat virtual office dan alamat kegiatan usaha
yang nyata dari perusahaan tersebut, baik berupa rumah tinggal atau kantor.
Perlu digarisbawahi pula bahwa untuk surat keterangan izin usaha dan izin
lanjutan yang menggunakan virtual office masa berlakunya hanya 1 tahun.
Implikasi:
UMKM dan mereka yang ingin memulai bisnis startup dengan dengan
mendirikan badan usaha, misalnya PT, di Jakarta dan menggunakan
alamat virtual office, maka dalam proses pendirian PT-nya harus memastikan
salah satu pendirinya memiliki KTP Jakarta. Pastikan pula virtual office yang
disewa berada di zonasi yang sesuai. Kemudian, mereka yang sebelum ini
domisili direksinya di luar Jakarta dan menggunakan alamat virtual office akan
mengalami kendala saat mengajukan perpanjangan. Implikasi lain yang juga
tak kalah penting adalah izin lanjutan, misalnya Tanda Daftar Usaha
Pariwisata (TDUP) atau Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang
menggunakan alamat virtual office harus diperpanjang setiap tahun. Ini patut
dijadikan bahan pertimbangan mengingat masa berlaku SIUJK sebenarnya
adalah 3 tahun.
6. Keputusan Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP) Nomor 31
Tahun 2016 tentang Pencapaian Target Kemudahan Berusaha (Ease of Doing
Business) Pada Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan di BPTSP Provinsi DKI
Jakarta
Belum banyak yang mengetahui keputusan ini telah menghapuskan persyaratan
adanya Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU) sebagai syarat pelayanan
perizinan dan non perizinan. Dalam proses mendirikan PT, keharusan adanya
SKDU diganti dengan Surat Pernyataan Kedudukan Badan Usaha.
Implikasi:
Dari sekitar 465 item perizinan yang dikeluarkan oleh PTSP DKI Jakarta,
artinya tidak ada lagi yang boleh memasukkan SKDU sebagai persyaratan.
Namun, bila terkait dengan instansi pemerintah yang lain, bisa jadi masih ada
saling sengkarut. Contohnya yang sering terjadi di lapangan adalah untuk
mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dipersyaratkan adanya
SKDU. Tapi ketika mau mengurus SKDU justru diminta NPWP terlebih
dahulu. Pihak BPTSP menjanjikan akan mengkomunikasikan setiap ada
kebijakan baru yang berimplikasi pada perizinan yang dikeluarkan oleh
instansi lain.

Dengan berbagai kemudahan dan penyederhanan perizinan yang dilakukan


oleh Pemerintah khususnya oleh Pemda DKI, saatnya untuk memulai bisnis
Anda, bukan?

Easybiz adalah anak perusahaan hukumonline.com. Untuk informasi mengenai


prosedur, syarat dan biaya pendirian PT, pendirian CV, serta perizinan usaha,
hubungi Easybiz di Tel: 0817 689 6896 atau email: halo@easybiz.id
Follow twitter kami @easybizID untuk tips seputar bisnis dan perizinan usaha.
Untuk mengetahui penawaran terbaru Easybiz, silakan
kunjungi http://easybiz.id/penawaran
Pemerintah Ingin Meningkatkan Peringkat
Kemudahan Usaha (Ease of Doing Business) di
Indonesia
Demi memudahkan mereka yang ingin memulai usaha pemerintah membuat
dan merevisi sejumlah aturan terkait proses mendirikan PT (Perseroan
Terbatas). Salah satu terobosan pentingnya adalah dari 465 item perizinan
dan pelimpahan izin yang dikeluarkan oleh PTSP (Pelayanan Terpadu Satu
Pintu) DKI Jakarta, sekarang tidak lagi memerlukan Surat Keterangan Domisili
Usaha. Apa saja aturan terbaru lainnya dan apa implikasinya?

Presiden Jokowi menginginkan agar peringkat kemudahan usaha di Indonesia


yang dirilis World Bank setiap tahun peringkatnya bisa naik dari 109 di tahun
2016 menjadi 40 di 2017. Pemerintah menyadari bahwa perekonomian
Indonesia akan dapat berkembang dengan baik (sustain) bila mampu menarik
investor baik lokal maupun asing untuk berinvestasi disini. Untuk itu,
kemudahan untuk memulai usaha (ease of doing business) menjadi perhatian
utama. Mulai dari proses mendirikan PT, izin domisili usaha, hingga
permohonan SIUP dan TDP, sekarang dipermudah. Sejauh ini baru Pemda
DKI yang merespon dengan baik. Easybiz merangkum sejumlah aturan
terbaru mulai dari level Peraturan Pemerintah hingga Surat Edaran dan
Keputusan Kepala BPTSP DKI.
1. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar
Perseroan Terbatas
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar
Perseroan Terbatas (PP 7/2016) ini adalah jawaban bagi pengusaha pemula,
UMKM, dan startup yang selama ini mengalami kendala saat akan mendirikan
PT karena keterbatasan modal. Di Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (UUPT) diatur bahwa modal dasar sebagai
syarat pendirian PT adalah Rp 50 juta. Dari jumlah tersebut, 25%-nya harus
sudah disetorkan. Nah, di peraturan pemerintah paling anyar ini, bagi mereka
yang memiliki kekayaan bersih sesuai dengan kriteria Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (UMKM) maka modal dasarnya tergantung kesepakatan para
pendirinya. Kriteria UMKM sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2008 tentang UMKM adalah yang memiliki aset maksimal Rp 50 juta, tidak
termasuk tanah dan bangunan usaha, serta omzet. Diharapkan, relaksasi
aturan mengenai modal dasar ini dapat mendorong pertumbuhan UMKM di
Indonesia yang selama ini kebingungan untuk menentukan besaran modal
dasar. Sementara itu, untuk ketentuan modal yang disetor penuh tetap 25%
dari modal dasar sebagaimana disebutkan diatas. PP 7/2016 ini juga
menegaskan bahwa undang-undang yang mengatur kegiatan tertentu dapat
menentukan jumlah modal dasar minimum yang lebih besar.
Update: Per 14 Juli 2016, PP 7/2016 sudah dicabut dan digantikan
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal
Dasar Perseroan Terbatas.
Implikasi:
Kalau selama ini UMKM lebih memilih untuk mendirikan CV (Persekutuan
Komanditer) dibandingkan PT dengan alasan modalnya pas-pasan, maka
dengan diundangkannya PP 7/2016 ini bisa jadi pendirian PT adalah opsi
yang lebih baik. Prosedur dan syarat mendirikan PT di Jakarta sekarang
semakin mudah. Toh, untuk yang memenuhi kualifikasi UMKM kasarnya
dapat menentukan berapapun modal dasar yang disanggupi. Keuntungan
mendirikan PT adalah adanya pemisahan harta kekayaan antara pemegang
saham dengan perusahaan. Kalau ada kerugian, maka tanggung jawab
pemegang saham hanyalah sebatas modal dia di perusahaan tersebut.
Sementara karena tidak berbadan hukum, untuk CV kalau rugi bisa merembet
hingga harta pribadi pemiliknya.
Implikasi lainnya adalah proses untuk mendapatkan SIUP. Dengan modal
dasar dibawah Rp 50 juta, maka meski telah mendirikan PT, hanya bisa untuk
SIUP dengan klasifikasi mikro. Untuk klasifikasi SIUP mikro, sebenarnya tidak
ada keharusan mendirikan perusahaan berbadan hukum karena perusahaan
peroranganpun diperbolehkan. Padahal, dengan ketentuan sebelumnya di
UUPT dengan modal dasar Rp 50 juta bisa mendapatkan SIUP kecil.
2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail
Tata Ruang dan Peraturan Zonasi
Sejatinya, aturan ini memang tidak baru karena telah diundangkan sejak 2
tahun yang lalu. Namun ada beberapa poin penting yang harus dipahami
karena secara hierarki menjadi acuan sejumlah aturan dibawahnya. Misalnya,
Perda ini mengatur pembagian kawasan menjadi zona sesuai dengan fungsi
dan karakteristiknya dan memberlakukan ketentuan hukum yang berbeda
untuk setiap zonanya. Kemudian, salah satu ruang lingkup Perda ini adalah
untuk pengaturan zonasi yang salah satunya zonasi untuk perkantoran,
perdagangan, dan jasa. Ditentukan bahwa zonasi perkantoran adalah zona
yang diperuntukkan bagi sub zona atau kegiatan perkantoran, perdagangan,
dan jasa untuk mendukung efisiensi perjalanan, memiliki akses yang tinggi
berupa jalur pejalan kaki yang terhubung dengan jaringan transportasi massal
dan jalur penghubung antar bangunan, dan didukung dengan fasilitas umum
dan pasokan energi dengan teknologi yang memadai. Untuk industri rumah
tanggapun, berdasarkan Perda ini, harus berada di zonasi industri.

Implikasi:
Penggunaan bangunan untuk mendirikan perusahaan dengan menyewa
kantor atau ruko harus memperhatikan ketentuan zonasi. Artinya, bila ingin
mendirikan perusahaan maka dalam proses pendirian PT harus diperhatikan
agar alamat kantornya harus berada di zonasi yang disebutkan diatas.

3. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2016 tentang


Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 77/M-
DAG/PER/12/2013 tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan dan
Tanda Daftar Perusahaan Secara Simultan Bagi Perusahaan Perdagangan
Dari waktu ke waktu aturan mengenai SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)
dan TDP (Tanda Daftar Perusahaan) terus dilakukan penyempurnaan. Intinya
aturan terbaru ini adalah landasan yang memungkinkan permohonan SIUP
dan TDP dapat diajukan secara online dan simultan. Permendag Nomor
77/2013 sebenarnya telah menggariskan penerbitan SIUP dan TDP secara
simultan. Namun dalam praktiknya pemohon harus telah memiliki SIUP
terlebih dahulu untuk mendapatkan TDP. Kalangan dunia usaha tentu
berharap aturan terbaru ini mampu mengubah praktik yang berjalan selama
ini. Proses pendirian PT memang biasanya dipaketkan dengan proses
pengurusan untuk mendapatkan SIUP dan TDP. Di Permendag mengenai SIUP
dan TDP yang terbaru ini juga ditentukan bahwa kedua dokumen tersebut harus
diterbitkan paling lama 2 hari setelah permohonan diterima secara lengkap
dan benar.
Implikasi:
Aturan ini berupaya meminimalisir antrian di kantor Kelurahan, Kecamatan,
dan Walikota. Mereka yang telah memiliki akta pendirian PT dan SK
pengesahan badan hukum sebagai bagian dari proses pendirian PT dan juga
telah memiliki NPWP, seharusnya tidak perlu lagi mengantri untuk
memperoleh SIUP dan TDP sebagai kelengkapan legalitas usaha karena
telah ada sistem online yang dikelola oleh PTSP DKI. Meski patut mendapat
apresiasi yang tinggi, sistem online ini belum berfungsi dengan optimal.
Easybiz telah menggunakannya dan sementara ini sistem belum bisa berjalan
dengan baik. Selain tetap memerlukan tatap muka untuk verifikasi dokumen,
pengurusannyapun sementara ini masih melebihi dari waktu yang ditentukan
dalam Permendag.
Baca juga: 9 Keuntungan Mendirikan Untuk Bisnis Anda

4. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 28 Tahun 2016 tentang


Penyederhanaan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan
Aturan ini mengelompokkan persyaratan perizinan dan non perizinan yang
terdiri dari persyaratan dasar, prasyarat, dan persyaratan khusus. Persyaratan
dasar merupakan dokumen yang harus ada dan sama dalam setiap
pengajuan izin dan atau non izin. Prasyarat adalah izin dan atau non izin yang
harus telah dimiliki sebelum pemohon mengajukan izin dan atau non izin
berikutnya. Persyaratan khusus merupakan dokumen tambahan selain
persyaratan dasar yang harus dilampirkan dalam setiap pengajuan izin dan
atau non izin. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 28 Tahun
2016 tentang Penyederhanaan Persyaratan Perizinan dan Non Perizinan
(Pergub 28/2016) ini juga telah menentukan perumpunan yang ditentukan
berdasarkan jenis dan persyaratan izin dan non izin. Perumpunan yang
dimaksud terdiri dari ketataruangan, kajian lingkungan, pembangunan,
kelaikan bangunan, kelaikan aktivitas, usaha, aktivitas usaha, izin aktivitas
perorangan, dan izin atau lisensi praktik perorangan. Untuk detail
perumpunannya bisa dipelajari disini. Namun sebagai contoh untuk rumpun
kelaikan aktivitas maka kelompok izin dan non izinnya, diantaranya adalah
Izin Gangguan Tempat Usaha Berdasarkan UUG/HO Kelas A, B,C, dan D;
Sertifikat Laik Usaha Hotel, Restoran, dan Rumah Makan; Sertifikat Laik
Sehat Usaha Depo Air Minum; dan Rekomendasi Sertifikat Kelayakan
Pengolahan Perikanan. Pergub 28/2016 ini juga bisa dijadikan pegangan
bahwa Izin Gangguan untuk Tempat Usaha masih diperlukan.
Implikasi:
Aturan ini mencoba meminimalisir ketidakseragaman persyaratan untuk
mengurus perizinan yang sering tidak ada acuannya. Karena
banyaknya item perizinan, maka untuk menindaklanjuti Pergub ini akan
disusun katalog perizinan yang akan dijadikan acuan dalam bentuk
Keputusan Kepala BPTSP. Diharapkan, tidak ada lagi perbedaan persyaratan
untuk mendapat suatu perizinan yang sering dijumpai saat pengurusan izin.

5. Surat Edaran Kepala BPTSP Nomor 06/2016 tentang Penerbitan Surat


Keterangan Domisili dan Izin-izin Lanjutannya Bagi Pengguna Virtual Office
Surat edaran ini adalah jawaban untuk mereka yang masih bingung apakah
bisa menggunakan alamat di virtual office untuk memulai bisnis. Sebelumnya
memang ada surat edaran tahun 2015 yang melarang penggunaan virtual
office sebagai domisili usaha. Banyak UMKM dan startup di Indonesia
terutama di Jakarta yang mengalami kesulitan untuk mengurus legalitas dan
perizinan saat mereka memulai bisnis karena tidak memiliki kantor atau ruko
secara fisik. Bagi mereka, menggunakan alamat virtual office adalah
solusinya. Di SE 06/2016 ini jelas bahwa virtual office dapat digunakan sebagai
alamat domisili usaha. Yang perlu diperhatikan adalah bagi badan usaha yang
menggunakan virtual office, maka salah satu direksinya harus memiliki KTP
Jakarta. Selain itu, di dalam surat keterangan domisili yang akan diterbitkan
nantinya harus dicantumkan alamat virtual office dan alamat kegiatan usaha
yang nyata dari perusahaan tersebut, baik berupa rumah tinggal atau kantor.
Perlu digarisbawahi pula bahwa untuk surat keterangan izin usaha dan izin
lanjutan yang menggunakan virtual office masa berlakunya hanya 1 tahun.
Implikasi:
UMKM dan mereka yang ingin memulai bisnis startup dengan dengan
mendirikan badan usaha, misalnya PT, di Jakarta dan menggunakan
alamat virtual office, maka dalam proses pendirian PT-nya harus memastikan
salah satu pendirinya memiliki KTP Jakarta. Pastikan pula virtual office yang
disewa berada di zonasi yang sesuai. Kemudian, mereka yang sebelum ini
domisili direksinya di luar Jakarta dan menggunakan alamat virtual office akan
mengalami kendala saat mengajukan perpanjangan. Implikasi lain yang juga
tak kalah penting adalah izin lanjutan, misalnya Tanda Daftar Usaha
Pariwisata (TDUP) atau Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang
menggunakan alamat virtual office harus diperpanjang setiap tahun. Ini patut
dijadikan bahan pertimbangan mengingat masa berlaku SIUJK sebenarnya
adalah 3 tahun.

6. Keputusan Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP) Nomor 31


Tahun 2016 tentang Pencapaian Target Kemudahan Berusaha (Ease of Doing
Business) Pada Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan di BPTSP Provinsi DKI
Jakarta
Belum banyak yang mengetahui keputusan ini telah menghapuskan persyaratan
adanya Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU) sebagai syarat pelayanan
perizinan dan non perizinan. Dalam proses mendirikan PT, keharusan adanya
SKDU diganti dengan Surat Pernyataan Kedudukan Badan Usaha.
Implikasi:
Dari sekitar 465 item perizinan yang dikeluarkan oleh PTSP DKI Jakarta,
artinya tidak ada lagi yang boleh memasukkan SKDU sebagai persyaratan.
Namun, bila terkait dengan instansi pemerintah yang lain, bisa jadi masih ada
saling sengkarut. Contohnya yang sering terjadi di lapangan adalah untuk
mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dipersyaratkan adanya
SKDU. Tapi ketika mau mengurus SKDU justru diminta NPWP terlebih
dahulu. Pihak BPTSP menjanjikan akan mengkomunikasikan setiap ada
kebijakan baru yang berimplikasi pada perizinan yang dikeluarkan oleh
instansi lain.

Dengan berbagai kemudahan dan penyederhanan perizinan yang dilakukan


oleh Pemerintah khususnya oleh Pemda DKI, saatnya untuk memulai bisnis
Anda, bukan?

Easybiz adalah anak perusahaan hukumonline.com. Untuk informasi mengenai


prosedur, syarat dan biaya pendirian PT, pendirian CV, serta perizinan usaha,
hubungi Easybiz di Tel: 0817 689 6896 atau email: halo@easybiz.id
Follow twitter kami @easybizID untuk tips seputar bisnis dan perizinan usaha.
Untuk mengetahui penawaran terbaru Easybiz, silakan
kunjungi http://easybiz.id/penawaran

Alamat web pembuatan izin perusahaan

http://emerhub.com/indonesia/buat-
pt/?gclid=CjwKEAiAq8bEBRDuuOuyspf5oyMSJAAcsEyWISQwO1sDsjlg0mECQJdZq6j1N_OaCCg0af1gZ
t5DxxoCyZDw_wcB