You are on page 1of 70

Kumpulan Cerpen

Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan

Bertolt Brecht / Chinua Achebe / Alain Robbe-Grillet / Ana Maria Shua / David Albahari / Gyrdirn
Eliasson / Hisham Yusuf El Filistiny / Jorge Amado / Juan Rulfo / Julio Cortazar / Liam OFlaherty
/ Nazzar Ibrahim / Parwin Faiz Zadah Malal / Raymond Carver / Sergi Pamies / Sergio Bizzio /
Jean Genet / Miljenko Jergovic / Mo Yan / Etgar Keret / Haruki Murakami
Daftar Isi

Kisah Seorang Pandai - Bertolt Brecht


Hari-hari Sekolah Chike - Chinua Achebe
Pengganti - Alain Robbe-Grillet
Sulap - Ana Maria Shua
Cinta dan Sampah - David Albahari
Inferno - Gyrdirn Eliasson
Jalan Lain - Hisham Yusuf El Filistiny
Keringat - Jorge Amado
Sapi Betina - Juan Rulfo

Pembunuhan Karakter - Julio Cortazar

Penembak Jitu - Liam OFlaherty


Sepatu - Nazzar Ibrahim

Anjing - Parwin Faiz Zadah Malal


Mengapa Kalian Tidak Berdansa ? - Raymond Carver

Mati - Sergi Pamies


Sihir - Sergio Bizzio
Lapar - Jean Genet
Pencurian Apel - Miljenko Jergovic
Obat Mujarab - Mo Yan
Ludwig dan Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan (Musim Semi di Berlin) - Etgar Keret
Hari yang Sempurna untuk Kangguru - Haruki Murakami
Link Tulisan kami temukan di http://ngulikata.blogspot.sg/p/kliping.html

Pengumpul dan Editor : Tim Pengrajin Digital bukuLIAT

Sumber gambar sampul : https://lakonhidup.files.wordpress.com/2014/01/lapar-ilustrasi-yuyun-


nurrachman.jpg

Tim Pengrajin Digital bukuLIAT

facebook twitter

Kotak Surat Tim Pengrajin Digital bukuLiat

bukuliat@gmail.com

5 November 2015
bukuLIAT ...

ini harus kalian ketahui ... apa yang kami lakukan sama sekali tidak ada tendensi kepedulian melestarikan
lingkungan. sebenarnya kami suka menyentuh dan membuka kertas buku lembar demi lembar halaman
demi halaman, bunyi gesekan kertas dan baunya yg khas melahirkan sebuah sensasi tersendiri ... karena
itu kami tidak peduli jika untuk menghasilkan buku harus menebang berpuluh-puluh pohon karena kami
percaya pada teori kekekalan energi. tapi kami akan marah jika berpuluh-puluh pohon ditebang hanya
untuk membuat tisu atau tusuk gigi.

siapa kami ?

kami hanya salah satu dari masyarakat pengumpul dan peramu di dunia maya, kami pun bagian dari para
cyber-crafter yg mengumpul dan mendaur ulang sampah-sampah informasi menjadi sesuatu yg betul-
betul berguna

siapa kami ?

kami bukanlah bagian dari orang-orang yg mencoba beralih dari era paper menuju era paperless. kami
hanyalah orang-orang yg ingin mengakses buku-buku, hanya saja di dunia "yg jauh dari keyboard" tidak
jarang kami diperhadapkan pada pilihan makanan atau buku (sesuatu yg tidak seharusnya diperhadap-
hadapkan) dan tidak jarang (dengan sangat terpaksa) kami memilih buku dengan konsekuensi kami harus
mengencangkan ikat pinggang berhari-hari.

siapa kami ?

rasanya tidak penting untuk memperjelas siapa kami, anggap saja kami adalah anda dan anda adalah
kami ....
yang terpenting adalah ...

apa itu www.bukuliat.info ?

www.bukuliat.info hanyalah salah satu dari sekian banyak perpustakaan di dunia maya yg menyediakan
ebook. ebook-ebook yang berhasil kami kumpulkan dari berbagai sumber di dunia maya. hanya begitulah
kami, tidak lebih !

Catatan:

buat anda yg mempunyai uang lebih kami harap anda tetap membeli buku aslinya demi
mempertahankan kelangsungan hidup penulis, penerbit (khususnya penerbit-penerbit kecil) dan para
distributor.

Ucapan Terima Kasih :

terima kasih untuk mereka-mereka yg telah bekerja keras membuat ebook


terima kasih juga untuk mereka-mereka yg telah meluangkan waktunya untuk meng-upload
ebook-ebook miliknya
... kami juga mengucapkan terima kasih untuk mereka-mereka yg review atau resensi
bukunya telah kami gunakan dalam postingan kami. kami tetap menghormati anda dengan
selalu mencantumkan alamat sumber dari review atau resensi yg kami gunakan.
terima kasih juga buat seluruh netizen yg telah berkunjung dan memanfaatkan apa yg kami
buat, terima kasih telah menjadikan kami sedikit berguna.

PERINGATAN ATAU PEMBERITAHUAN ATAU HIMBAUAN ATAU APALAH NAMANYA :

semua ebook yg kami posting sama sekali tdk diperuntukkan untuk kepentingan komersil, semua postingan kami
sepenuhnya untuk berbagi pengetahuan demi kemajuan ilmu pengetahuan. bagi pihak yg merasa dirugikan
atau/dan tidak suka dengan kehadiran salah satu postingan kami harap menghubungi kami dengan cara
meninggalkan komentar/laporan pada postingan terkait ebook yg dimaksud. kami akan memproses semua
komentar/laporan paling lambat 7 hari setelah komentar/laporan kami baca.
Kisah Seorang Pandai

ALKISAH, hiduplah seorang anak lelaki yang pandai. Sangai pandai. Bahkan luar biasa pandai. Karena kepandaiannya ia
dapat mendengar tanaman yang sedang tumbuh di kesunyian malam, dan bahkan kadal yang sedang batuk sekalipun.
Ya, kepandaiannya masih banyak lagi. Semua orang mempercayainya, dan tentu saja yang paling percaya adalah dirinya
sendiri. Mau tidak mau ia menjadi teladan bagi setiap orang. Ia sendiri juga menyadarinya. Syahdan, suatu ketika ia pun
menjadi orang yang sangat pandai. Ia begitu sangat dihargai. Akan tetapi ia masih punya kepandaian lain yang ratusan..
bukan.. ribuan.. bukan.. ratusan ribu kali lebih terhormat. Oleh karenanya ia pun tidak pernah berpikir lamban seperti
seekor keledai atau unta; yang menurutnya tidak mungkin terjadi sama sekali. Ya, tentu saja tidak mungkin! Ia berkata
pada dirinya sendiri. Ia harus menyadari hal ini. Bukankah begitu?

Anak itu tumbuh dewasa, bertambah bijaksana dan baik. Keluarganya sungguh-sungguh memikirkan masa depannya
dan apakah ada banyak orang sepandai anak ini?

Sementara itu saudara-saudara dan teman-temannya berembuk dan membicarakan persoalan besar sekali lagi: harus
menjadi apa anak muda yang sangat pandai ini? Pertanyaan penting yang sangat mendesak ini juga menghantui dirinya.
Ia bimbang antara menjadi seorang bangsawan sastrawan atau panglima bala tentara.

Kedua pekerjaan ini sama baiknya.

Seorang bangsawan sastrawan? Hmm, kalau ini setiap orang mudah melakukannya. Keluarganya juga tidak
memungkirinya. Ia telah menulis sajak-sajak indah. Bakatnya jelas telah terbukti. Sajak indahnya yang berjudul Cinta
adalah sebuah mahakarya klasik yang terindah. Salah satu baitnya berbunyi demikian:

Cinta yang indah penuh berkah


Dari seluruh hati yang terasa
Adalah naluri nan indah,
Mengalahkan segala derita

telah mendapatkan banyak pujian. Keistimewaan sajaknya yang lain telah ditunjukkannya, yaitu sajak serupa yang
muncul di dalam karya terbarunya berjudul Dangau. Menjadi bangsawan sastrawan sudah dipertimbangkannya.

Yang kedua, menjadi panglima bala tentara. Juga tidak lazim.

Tentu saja di bawah kekuasaan Kekaisaran Perancis-Spanyol, pemuda pandai ini tidak bisa berbuat apa-apa. Mustahil!
Cukup mudah baginya untuk menaklukkan mereka. Karena ia mudah menjalin persahabatan dengan Raja Portugis yang
sedang berkuasa. Maka saat ia kembali ke Spanyol bersama mereka, ia pun bertitah sebagai seorang Kaisar; tentu saja
setelah ia membunuh kaisarnya lebih dahulu. Sangat mudah! Bukankah begitu? Kepandaian militernya ia tunjukkan di
usia sangat muda.

Menjadi panglima bala tentara tidaklah jelek!

Tangannya tampak menimbang-nimbang. Anak pandai ini sekarang terombang-ambing di antara dua pilihan pekerjaan
ke sana ke mari. Dua pekerjaan yang sama-sama mempunyai kejelekan dan kebaikan masing-masing. Bangsawan
sastrawan, sayangnya, harus dapat menulis sesuatu. Panglima bala tentara juga pertama-tama harus mencari seorang
raja yang bodoh, yang nantinya bakal digantikannya.

Lama ia menimbang-nimbang.

Akhirnya ia memutuskan menjadi pegawai di sebuah toko. Dan ia pun melakukannya karena sekali ia memutuskan
bahwa itu akan dilaksanakannya. Beruntung sekali ia kini berada di antara kaleng-kaleng ikan haring dan peti-peti berisi
topi.

Idealnya sekarang adalah menjadi pengusaha. Tapi ia sudah lebih dahulu dikenal sebagai pengemis muda yang sosialis.
Karena kini usianya menginjak lima belas tahun, ia pun mengalami suatu peristiwa. Lelaki muda yang pandai itu jatuh
cinta. Gejala pertamanya adalah eros bunga mawar yang lapar menghinggapi penjaga toko alias bangsawan sastrawan
sehingga membuatnya menulis sebuah sajak.. oh.. oh sajak apa itu? Sajaknya bagaikan sebuah wahyu. Panjangnya dua
puluh bait dengan kalimat panjang-panjang. Tiap bait terdiri dari sepuluh baris, tiap baris terdiri dari dua belas kata.
Sangat kolosal. Mahakarya luar biasa! Tapi itu adalah karya yang pertama. Untuk karya yang kedua ia bersumpah akan
menulis sajak berjudul Mata Hitam Nan Indah untuk wanita itu. Ia pun bersumpah disaksikan cahaya lilin malam yang
terdiam dan juga janggutnya yang panjang, yang sayangnya salah satunya tercabut tidak sengaja. Kemudian mulailah.
Terlihat bangsawan sastrawan kita yang tercinta melakukan satu kesalahan kecil. Ia menjadi malu-malu. Semakin sering
ia bertemu dengan calon istrinya, semakin ia khawatir menjadi jauh dari pergaulannya yang lain.

Bulan demi bulan berlalu. Tahun demi tahun. Dekade demi dekade. Abad demi abad. Ya.. sekarang aku jadi bertindak
terlalu jauh sekali. Semua ini terjadi hanya dalam tempo dua bulan. Kemudian suatu hari saat hujan turun, ia melihat
wanita itu sedang bergandengan tangan dengan lelaki lain. Bagaimana ia akan pulang malam ini ia tidak peduli lagi. Ia
duduk di kamarnya yang kecil seorang diri. Dijauhi Tuhan dan manusia-manusia lainnya. Lalu ia pun menangis.

Pertanda buruk jika seorang lelaki sejati menangis.. Tetapi kemudian ia menjadi kesal dengan janggutnya. Selanjutnya
dicabutnya helai janggut terakhir di dagunya. Ia menjadi murung. Duduk seharian dengan pikiran kacau. Berbaring di
balik peti ikan haring sambil melamun. Melamunkan sebuah persoalan. Persoalan yang tidak biasa. Pokok persoalannya
adalah bagaimana mungkin seseorang yang sangat pandai berpikir lamban?

Lama ia duduk dan berpikir

Karena waktu ia pun menjadi gila. Ia selalu bergumam: Aku tidak berpikir lamban. Kalau sampai hari ini belum mati
juga, maka aku masih terus hidup(*)

Bertolt Brecht (1898-1956) adalah penyair, penulis naskah drama dan sutradara Jerman. Cerita pendek di atas
diterjemahkan dari versi aslinya,Die Geschicte von einem, der nie zu Spat Kam oleh Riva Julianto.

Cerpen Bertolt Brecht (Koran Tempo, 18 Agustus 2013)


Hari-hari Sekolah Chike
ANAK bungsu Sarah laki-laki, dan kelahirannya membawa kegembi raan besar dalam rumah ayahnya, Amos. Si anak
menerima tiga buah nama pada pembaptisannya, yakni: John, Chike, Obiajulu. Nama terakhir berarti pikiran pada
akhirnya adalah ketenangan. Siapa pun yang mendengar nama ini segera tahu bahwa pemiliknya hanyalah seorang
bocah atau seorang anak lelaki. Chike satu-satunya anak lelaki. Orang tuanya punya lima anak perempuan sebelum
dirinya.

Seperti kakak-kakaknya, Chike dididik dalam kebiasaan orang kulit putih, yang mana berarti berlawanan dengan cara
tradisional. Amos telah menghabiskan waktu bertahun-tahun sebelum membawa pulang sebuah lonceng kecil yang ia
gunakan untuk mengumpulkan keluarganya untuk berdoa dan menyanyikan lagu puji-pujian, pertama-tama pada pagi
hari dan terakhir kalinya malam hari. Ini merupakan sebuah kebiasaan orang kulit putih. Sarah mengajarkan anak-
anaknya tidak makan di rumah-rumah tetangganya lantaran mereka mempersembahkan makanan kepada berhala.
Dan dengan begitu ia menyatakan dirinya menentang adat lama yang memperlakukan anak-anak sebagai tanggung
jawab umum semua orang, toh tak peduli seperti apa hubungan di antara orang tua, anak-anak mereka bermain bersama
dan saling berbagi makanan.

Suatu hari seorang tetangga menawarkan sepotong ubi jalar kepada Chike yang baru berusia empat tahun. Si bocah
menggelengkan kepalanya dengan angkuh dan bilang, Kami tidak makan makanan orang kafir. Si tetangga marah
sekali, namun ia mengendalikan diri dan hanya menggerutu bahwa bahkan seorang Osu kini penuh harga diri karena
orang kulit putih.

Dan ia benar. Di masa lalu seorang Osu tak dapat mengangkat kepala kotornya di hadapan orang merdeka. Ia adalah
budak bagi salah satu dewa-dewa suku. Ia orang yang dibedakan, bukan dihormati tetapi dipandang hina dan hampir
diludahi. Ia tak dapat menikahi orang merdeka, dan ia tak dapat menyandang gelar sukunya. Jika ia mati, ia dikuburkan
oleh sesamanya di Semak-semak Buruk.

Sekarang semuanya telah berubah, atau mulai berubah. Tak pelak seorang anak Osu dapat melihat orang merdeka di
bawah hidungnya, dan bicara tentang makanan orang kafir! Orang kulit putih sungguhlah pandai dalam berbagai hal.

Ayah Chike awalnya bukan seorang Osu, tetapi pergi dan menikahi seorang perempuan Osu dalam nama Kristen.
Belum pernah ada seorang laki-laki menjadikan dirinya Osu seperti itu, dengan mata yang terbuka nyalang. Tetapi
Amos pasti hilang ingatan jika tidak gila. Agama baru merasuki kepalanya. Seperti anggur palma. Sebagian orang
meminumnya dan tetap waras. Sebagian yang lain kehilangan setiap pikiran sehat dalam keinginan mereka.

Satu-satunya orang yang mendukung Amos dalam pernikahan gilanya adalah Tuan Brown, seorang misionaris kulit
putih yang tinggal di sebuah atap ilalang, rumah pendeta berdinding tanah merah dan sangat dihormati oleh banyak
warga, bukan lantaran khotbahnya, melainkan karena klinik yang ia jalankan di salah satu ruangannya. Amos muncul
dari rumah pendeta Tuan Brown yang sangat terlindungi itu. Beberapa hari kemudian ia memberi tahu ibunya yang
sudah janda, yang baru-baru ini masuk Kristen dan mendapat nama Elizabeth. Rasa syok hampir membunuh perempuan
itu. Ketika ia sembuh, ia berlutut dan memohon Amos untuk tidak melakukan hal ini. Tetapi Amos tak mau mendengar;
telinganya tertutup rapat. Akhirnya, dalam keputusasaan, Elizabeth pergi mencari bantuan dukun.

Dukun ini seorang lelaki berkekuatan besar dan bijak. Sambil duduk di lantai gubuknya memukuli tempurung kura-kura,
dengan selapis kapur putih di seputaran matanya, ia melihat tak hanya masa kini, tapi juga apa yang telah lewat dan yang
akan terjadi. Ia dipanggil manusia empat mata. Bergegaslah Elizabeth tua bertandang, si dukun mengulurkan untaian
kerang-kerangnya dan dikatakannya kepada Elizabeth apa tujuan kedatangan perempuan itu menemuinya. Putramu
bergabung dengan agama orang kulit putih. Dan kau juga pada masa tuamu tatkala kau tahu lebih baik. Dan apa kau
mengira anakmu terserang penyakit jiwa? Mereka yang bertemu dengan kerumunan semut api harus bersiap-siap
mengunjungi cicak. Ia memberi kerang-kerangnya sebuah angka waktu dan menulis dengan jari di atas mangkuk pasir,
dan terus menerus bicara sendiri. Berhenti! ia meraung, dan seketika ia pun terdiam. Dukun ini kemudian berkomat-
kamit membaca sejumlah mantera dan terputus-putus melafalkan pepatah secara susul-menyusul seperti kerang-kerang
dalam untaian sihirnya.

Akhirnya ia memberikan pengobatan. Para leluhur marah dan harus diredakan dengan seekor kambing. Elizabeth tua
melakukan ritual, tetapi putranya tetap saja gila dan menikahi seorang gadis Osu bernama Sarah. Elizabeth tua pun
meninggalkan agama barunya dan kembali kepada kepercayaan suku mereka.

Ah, kita menyimpang dari pokok cerita. Tetapi ini penting untuk mengetahui bagaimana ayah Chike menjadi seorang
Osu, karena bahkan sampai hari ini tatkala semuanya serba terbalik, cerita seperti ini masihlah sangat langka. Sekarang
kembali pada Chike yang menolak makanan orang kafir pada waktu berumur empat tahun, atau mungkin lima.
Dua tahun kemudian ia masuk sekolah dusun. Tangan kanannya kini dapat melewati kepalanya mencapai telinga kiri
yang membuktikan ia telah cukup besar untuk mengikuti pelajaran orang kulit putih yang misterius. Ia senang sekali
pada pensil dan buku barunya, dan terutama pada kemeja putih dan celana pendek linen seragam sekolahnya. Namun
pada masa-masa perkenalan baru sepanjang hari pertama, pikiran mudanya tertinggal dalam banyak kisah tentang guru-
guru dan tongkat mereka. Dan ia mengingat lagu yang kakak perempuannya nyanyikan, sebuah lagu yang
memiliki refrain agak mencemaskan:

Onye nkuzi ewelu itali piagbusie umuaka.


Salah satu cara memberi tekanan dalam nyanyian Ibo adalah dengan dilebih-lebihkan, sehingga guru pada saat
pengulangan lagu tak boleh memaksa anak-anak hingga membuat mereka kehilangan minat. Tetapi tanpa ragu si guru
memaksa mereka. Dan Chike sangat memikirkan hal itu.

Sebagai anak kecil, Chike dikirim untuk apa yang disebut kelas agama tempat mereka menyanyi, dan kadang-kadang
menari, katekismus. Ia mencintai riuh kata-kata dan ia mencintai irama. Selama pelajaran katekismus berlangsung, kelas
dibentuk melingkar untuk menanggapi pertanyaan guru. Siapakah Caesar? tanyanya lantang, dan lagu pun pecah tiba-
tiba dengan hentakan-hentakan kaki.

Siza bu eze Rome


Onye nachi enu uwa dum.

Tak menjadi persoalan bagi mereka yang hidup di abad dua puluh. Caesar tak lagi menguasai dunia.

Dan kadangkala, mereka bahkan menyanyi dalam bahasa Inggris. Chike sangat menyukai Ten Green Bottles. Mereka
jadi terampil berkata-kata tapi mereka hanya mengingat baris pertama dan terakhir. Bagian tengah lagu
disenandungkan, pelan dan seperti berkomat-kamit:

Ten grin botr angin on dar war,


Ten grin botr angin on dar war,

Hm hm hm hm hm,

Hm hm hm hm hm hm,

An ten grin botr angin on dar war.

Dengan cara ini, tahun pertama pun terlewati. Chike naik ke Taman Kanak-kanak, tempat tugas secara alami lebih serius
dikerjakan.

Kita tak perlu mengikuti mereka meneruskan Taman Kanak-kanak. Itu bakal membuat penuh sebuah cerita tersendiri.
Toh, tidak ada bedanya dari cerita anak-anak yang lain. Di Sekolah Dasar, bagaimana pun, karakter pribadinya mulai
ditunjukkan. Ia mengembangkan kebencian yang kuat pada aritmatika. Namun ia mencintai kisah-kisah dan lagu-lagu.
Dan ia menyukai, terutama sekali, bunyi kata-kata Inggris. Beberapa di antara mereka dengan gampang mengisi soal-
soal dengan girang. Periwinkles ibarat sebuah kata. Ia sekarang ingat bagaimana mempelajarinya atau apa persisnya
itu. Ia punya maksud sendiri yang samar-samar untuknya dan itu sesuatu yang berhubungan dengan tempat
menyenangkan.

Guru Chike gemar menyusun kata-kata panjang. Ia menyatakan diri sebagai lelaki yang sangat terpelajar. Hiburan
favoritnya menyalin kata-kata kunci-pecahan dari Kamus Etimologi Chambers-nya. Hanya di waktu lain ia
mendapatkan tepuk tangan dari kelasnya dengan mematahkan argumen seorang anak yang terlambat dengan
pengetahuan tak terbantahkan. Katanya: Penundaan adalah pembelaan orang malas. Pengetahuan sang guru
menunjukkan dirinya pada setiap pelajaran yang ia ajarkan. Pelajarannya mengesankan. Chike selalu ingat pelajaran
metode penyebaran bibit. Menurut guru, terdapat lima metode: oleh manusia, oleh binatang-binatang, oleh air, oleh
angin dan oleh mekanisme penguapan. Murid-murid yang lupa semua metode mengingat mekanisme penguapan.
Chike secara alamiah terkesan pada kata-kata sang guru yang meledak-ledak. Tetapi kenyamanan tempat menyenangkan
yang kata-katanya diperuntukkan baginya merupakan persoalan berbeda. Kalimat pertama dalam Metode Baru
Bacaan-nya cukup sederhana dan masih memenuhi mereka dengan sedikit luapan kegembiraan: Dahulu ada seorang
penyihir. Ia tinggal di Afrika. Ia pergi ke China untuk mendapatkan sebuah lampu. Chike membacanya berulang-ulang
di rumah dan kemudian membuat lagunya. Lagu itu merupakan sebuah lagu yang tak bermakna. Periwinkles termasuk
di dalamnya, dan juga Damascus. Namun itu tak ubahnya sebuah jendela, yang melaluinya Chike melihat di kejauhan
sesuatu yang asing, dunia baru yang ajaib. Dan ia bahagia. (*)

Catatan:

Osu: Orang buangan/terusir. Memiliki persembahan kepada dewa, Osu adalah tabu dan dilarang bercampur dengan
orang merdeka dalam banyak hal (penerjemah).

Chinua Achebe lahir di Nigeria, 1930. Ia dibesarkan di Dusun Ogidi, sebuah pusat misionaris Anglikan pertama di bagian
timur Nigeria dan mendapat pendidikan di University College, Ibadan. Achebe mempublikasikan puisi, novel, cerpen,
esei, dan buku anak-anak. PuisinyaChristmas in Biafra memenangi Commonwealth Poetry Prize dan novelnya Anthills of
the Savannah merupakan salah satu finalis Booker Prize 1987.

Cerpen ini diterjemahkan oleh Sunlie Thomas Alexander dari judul asli Chikes School Days dalam kumpulan
cerpennya Girls at War and Other Stories (1973).

Cerpen Chinua Achebe (Suara Merdeka, 31 Oktober 2010)


Pengganti
ANAK sekolah itu sedikit melangkah ke belakang dan mendongak ke arah cecabang paling rendah. Lalu dia melangkah
ke depan, mencoba meraih cabang yang nampak dapat dijangkaunya; dia berjingkat dan merentangkan tangannya
setinggi mungkin, tapi gagal meraih cabang itu. Setelah beberapa kali gagal, dia rupanya menyerah. Dia menurunkan
tangannya dan melanjutkan menatap sesuatu di antara dedaunan.

Lalu dia kembali ke kaki pohon, mengambil posisi yang sama seperti sebelumnya; lututnya sedikit ditekuk, tubuh bagian
atasnya meliuk ke kanan, dan kepalanya ditundukkan ke arah bahunya. Dia masih memegang tas buku di tangan kirinya.
Mustahil melihat tangan sebelahnya, yang mendukung dirinya menentang pohon, atau mukanya, yang hampir
menempel ke kulit pohon, seolah mencermati rincian yang ada sekitar 130 senti di atas tanah.

Anak itu lagi-lagi berhenti sejenak saat membaca nyaring, tapi kali ini ada jarak, mungkin bahkan hentian, dan dia
terkesan tengah berusaha menandai akhir paragraf. Anak sekolah itu berdiri tegak untuk memeriksa kulit pohon yang
lebih tinggi.

Bisikan terdengar di kelas. Guru laki-laki itu menggerakan kepalanya dan melihat sebagian besar muridnya sedang
menatap, daripada mengikuti bacaan lisan pada buku mereka; bahkan murid yang sedang membaca nyaring tetap
menatap ke bangku guru dengan nada tanya atau ketakutan yang samar. Guru berkata sungguh-sungguh:

Apa yang kau tunggu?


Diam-diam muka anak-anak itu menunduk dan anak itu mulai lagi membaca, dengan suara bersungguh-sungguh yang
sama, tanpa ekspresi dan sedikit pelan, memberi tekanan yang sama pada masing-masing kata dan memberi jarak yang
datar pada bacaan selanjutnya:

Oleh karena itu, malam itu, Joseph de Hagen, salah seorang letnan Philippe, pergi ke istana Uskup Agung dengan dalih
memenuhi panggilan. Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara.

Di pinggir jalan yang lain, anak sekolah itu mengintai lagi dedaunan pada cecabang yang rendah. Guru menggebrak
bangku dengan telapak tangannya:

Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya, koma, dua orang bersaudara.


Mencari-cari bagian itu di dalam bukunya sendiri, dia membaca nyaring, sambil melebih-lebihkan tanda baca:

Mulai dari: Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara sudah ada di sana, jadi mereka bisa, bila
diperlukan, melindungi diri mereka dengan alibi ini. dan perhatikan pada yang sedang kau baca.

Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara sudah ada di sana, jadi mereka bisa, bila diperlukan,
melindungi diri mereka dengan alibialibi mencurigakan sebenarnya, namun itulah jalan terbaik yang ada pada mereka
saat initanpa membiarkan sepupu mereka yang mencurigakan itu.

Suara datar itu tiba-tiba berhenti, di tengah-tengah kalimat. Murid lainnya, yang telah mengangkat matanya ke arah
orang-orangan kertas yang menggantung di tembok, segera kembali melihat buku. Guru melirik dari jendela kembali
kepada anak yang sedang membaca nyaring, di sisi seberang ruang, di jajaran pertama dekat pintu.

Baiklah, lanjutkan! Tidak boleh berhenti di sana. Kamu nampaknya tidak memahami bacaanmu!
Anak itu menatap guru, dan di belakangnya, sedikit ke kanan, ada orang-orangan kertas putih itu.

Kau mengerti, atau tidak?


Ya, kata anak itu kurang yakin.
Ya, Pak, guru memperbaikinya.
Ya, Pak, anak itu mengulang.
Guru melihat teks dan bertanya: Apa artinya kata alibi untukmu?

Anak itu melihat orang-orangan kertas, kemudian pada dinding kosong, tepat di depannya, lalu pada buku yang
tergeletak di bangkunya; dan kemudian ke dinding lagi, selama semenit penuh.

Jadi?
Tidak tahu, Pak, kata anak itu.
Perlahan guru melihat ke murid lain di kelas itu. Seorang anak mengacungkan tangannya, di dekat jendela belakang.
Guru menunjuknya, dan anak itu berdiri di samping kursinya:

Alibi menyebabkan orang berpikir mereka sedang berada di sana, Pak.


Apa maksudmu? Siapa mereka?
Dua orang bersaudara itu, Pak.
Mereka ingin orang berpikir bahwa mereka sedang di mana?
Di istana Uskup Agung, Pak.
Dan di mana mereka sebenarnya?
Anak itu berpikir sejenak sebelum menjawab.

Namun mereka sebenarnya berada di sana, Pak, hanya saja mereka ingin pergi ke tempat lain dan menyebabkan orang
berpikir bahwa mereka masih di sana.

Larut malam, tersembunyi di balik topeng hitam dan terbungkus dalam mantel besar, dua orang bersaudara itu
meluncurkan tangga tali yang panjang ke jalan kecil dan sunyi.

Guru sedikit mengangguk-angguk beberapa kali, seolah persetujuannya yang setengah hati. Setelah beberapa saat, dia
berkata: Baik.

Sekarang kamu harus meringkas seluruh bagian bacaan itu untuk kita semua, demi temanmu yang bisa jadi tidak
mengerti.

Anak itu memandang ke jendela. Kemudian dia melihat sekilas pada bukunya, lalu mendongak lagi ke arah bangku
gurunya.

Di mana harus mulai, Pak?


Mulailah dari awal bab.
Tanpa duduk dulu, anak itu membalik-balik halaman-halaman bukunya, dan setelah diam sebentar, mulai meringkas
konspirasi Philippe de Cobourg. Meski sering berhenti dan mulai lagi, anak itu melakukannya hampir dengan jelas. Di
sisi lainnya, dia terlalu menekankan hal-hal remeh, alih-alih dengan susah menyebutkan, atau bahkan menghilangkan,
bagian-bagian sangat penting. Karena dia cenderung membicarakan tindakan daripada motif politik mereka, tentu akan
sangat sulit bagi seorang pendengar yang belum tahu untuk menerka alasan kisah itu atau pertautan antara berbagai
peristiwa, atau antara tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Guru membiarkan pandangannya menjelajahi jendela.
Anak sekolah itu ke bawah cabang pohon yang paling rendah; dia menyimpan tasnya di kaki pohon dan melonjak-lonjak,
merentangkan satu tangan ke atas. Karena berpikir bahwa semua upayanya gagal, dia berdiri lagi tak bergerak, menatap
dedaunan yang tak teraih. Philippe de Cobourg mendirikan kemah bersama prajuritnya di tepian Sungai Neckar. Murid-
murid, yang tidak lagi diharuskan mengikuti bacaan, semuanya mendongakkan kepalanya dan diam-diam memandang
orang-orangan kertas yang menggantung di dinding. Orang-orangan itu tak bertangan atau kaki, tapi hanya empat
tungkai yang dicopot dengan kasar dan kepala bulat, terlalu besar, yang diikat dengan benang. Beberapa inci lebih tinggi,
di ujung lain benang itu, terlihat bola kecil dari remasan kertas hisap yang bertumpu ke dinding.

Namun anak yang sedang bercerita kehilangan arah ceritanya di antara rincian yang sepenuhnya tak berarti, jadi pada
akhirnya guru menghentikannya:

Cukup, katanya, kita cukup tahu mengenai hal itu. Duduklah dan kita mulai lagi membaca dari awal halaman:
Namun Philippe dan para pengikutnya.

Seluruh kelas, seperti yang seorang itu, bertelekan pada bangkunya, dan pembaca baru mulai membaca, dengan suara
yang sama sekali tanpa ekspresi seperti teman sekelasnya, meski dengan teliti memperhatikan koma dan titik:
Namun Philippe dan para pengikutnya tidak menyetujui gagasan ini. Bila kebanyakan anggota Majelisatau bahkan
bila hanya faksi para baronmencabut hak istimewa yang diberikan kepada mereka, ya, kepada mereka dan dia, karena
bantuan berharga yang mereka berikan untuk kepentingan Sang Pangeran saat pemberontakan, maka untuk selanjutnya
bisa jadi mereka tidak bisa, ya, mereka atau dia, menuntut pendakwaan tersangka baru, atau penghapusan hak milik
tanah kebangsawanan tanpa pengadilan. Sangatlah penting bahwa serangkai perundingan, yang nampak mulai begitu
tidak menguntungkan bagi maksudnya itu, diakhiri sebelum hari penentuan. Oleh karena itu, malam itu, Joseph de
Hagen, salah seorang letnan Philippe, pergi ke istana Uskup Agung dengan dalih memenuhi panggilan. Sebagaimana
yang dinyatakan sebelumnya, dua orang bersaudara itu sudah ada di sana.

Muka-muka itu masih dengan setia mendongak ke bangku. Guru menatap jendela. Anak sekolah itu bersandar ke pohon,
asyik memeriksa kulit pohon. Perlahan dia membungkuk, seolah mengikuti garis yang tergurat di batang pohondi sisi
yang tidak terlihat dari jendela-jendela sekolah. Sekitar 130 senti setengah di atas tanah, gerakannya terhenti dan dia
memiringkan kepalanya ke satu sisi, dalam posisi yang sama dengan yang sebelumnya dia diami. Satu demi satu, muka-
muka di kelas itu memandang.

Murid-murid menatap gurunya, lalu ke jendela. Namun jendela itu berkaca suram, dan, di atasnya, mereka hanya dapat
melihat pucuk-pucuk pohon dan langit. Tidak ada seekor lalat atau seekor kupu-kupu pun muncul di kaca jendela.
Segera semua mata lagi-lagi terpaku pada orang-orangan dari kertas putih berbentuk lelaki itu. (*)

Alain Robbe-Grillet (1922-2008) adalah penulis Prancis. Eksponen gerakan Nouveau Roman (Novel Baru). Pengganti
di-Indonesia oleh Atep Kurnia dari terjemahan Inggris Bruce Morrisette The Replacement.

Cerpen Alain Robbe-Grillet (Koran Tempo, 1 April 2012)


Sulap
LAMPU-LAMPU diredupkan dan pengeras suara dipasang senyaring-nyaringnya.

Ayo, semua melompat-lompat dengan satu kaki! terdengar seruan menggelegar para penghibur yang berpakaian
seperti tikus. Dan anak-anak itu, bak robot-robot kesetanan, melompat-lompat penuh semangat dengan satu kaki.

Ingatkah betapa gilanya kita waktu berumur tujuh tahun? ayah gadis yang berulang tahun itu bertanya kepada salah
satu ibu dari anak yang diundang hadir ke pesta tersebut seraya tersenyum senang, sengaja berteriak keras ke telinga
perempuan itu agar bisa mendengarnya.

Memangnya kenapa? Waktu itu kan tidak ada TV, sahut si perempuan, tanpa mengharap jawabannya akan
kedengaran.

Mereka tak menyadari bahwa Silvia, gadis yang berulang tahun, telah mengundurkan diri dari suasana yang
membingungkan itu dan sedang bercakap-cakap dengan salah satu penghibur yang berpakaian kelinci. Lampu-lampu
kembali diterangkan.

Silvia ingin menunjukkan pada kita semua sebuah permainan sulap, ujar Tuan Kelinci. Dia akan membuat salah
seorang dari kita menghilang!

Siapa yang ingin kau buat menghilang? tanya Nona Tikus.


Adik perempuanku, sahut Silvia lewat mikrofon.
Carolina, seorang gadis kecil berusia lima tahun, tampak lucu menggemaskan bak sekeping kancing di baju merah
mudanya, dengan penuh percaya diri maju ke depan. Jelas sekali bahwa mereka berdua telah berlatih permainan itu
sebelum pesta karena gadis kecil itu membiarkan kakak perempuannya meletakkannya di bawah meja dan menarik
taplak mejanya hingga ujungnya menyentuh lantai.

Abrakadabra! Alakazam! Selesai sudah!


Ketika mereka menyingkap taplak meja, Carolina sudah raib. Anak-anak bahkan tidak terkesan sama sekali dengan
pertunjukan sulap itu: mereka sudah jemu dan hanya ingin segera menyantap kue ulang tahun. Namun, orang-orang
dewasa sungguh terpesona menontonnya. Orang tua Silvia saling bertukar pandang penuh kebanggaan.

Sekarang, buat dia muncul kembali, pinta Nona Tikus.


Aku tidak tahu caranya, sahut Silvia.Aku mempelajari trik sulap itu dari TV dan Ayah menyuruhku mengganti saluran
sebelum mereka menceritakan bagaimana caranya memunculkan kembali orang yang kuhilangkan.

Mereka semua tertawa dan Nona Tikus menjulurkan tangannya ke kolong meja untuk menggapai Carolina. Tetapi
Carolina tidak ada di sana. Mereka mencarinya ke dapur, kamar mandi lantai atas, di bawah tumpukan bantal, di
belakang ruang belajar. Mereka mencari dengan teliti, menelusuri seluruh ruang atas, inci demi inci, tanpa
menemukan gadis kecil itu.

Di mana Carolina, Silvia?tanya ibundanya, agak khawatir.


Dia menghilang! jawab Silvia. Sekarang aku ingin meniup lilin. Aku mau potongan kue ulang tahun di ujung yang
banyak lapisan gula bekunya!

Ayah kedua gadis itu berdiri di tangga selama permainan sulap ditampilkan dan tak seorang pun bisa menuruni tangga
tanpa dia ketahui. Namun, mereka tetap meneruskan pencarian ke lantai bawah.

Carolina tidak ditemukan di mana pun.

Pukul sepuluh malam, lama setelah tamu terakhir meninggalkan rumah dan setiap sudut rumah dijelajahi berulang-
ulang, mereka mulai menelepon kantor polisi dan rumah sakit.
BETAPA bodohnya aku malam itu, ujar Silvia dewasa bertahun-tahun kemudian kepada sekelompok teman yang
datang untuk menemaninya pada hari kematian suaminya.Betapa menyenangkannya kalau aku punya seorang adik
perempuan di saat sesulit ini!

Lalu, sekali lagi, Silvia menangis tersedu-sedu. (*)

Ana Maria Shua adalah penulis Argentina. Ia menulis novel, cerita pendek, puisi, naskah drama, esai dan naskah film.
Cerita di atas diterjemahkan oleh Atta Verin dan Anton Kurnia berdasarkan versi Inggris Steven J. Stewart.

Cerpen Ana Maria Shua (Koran Tempo, 21 Maret 2010)


Cinta dan Sampah

KETIKA Magda berkata kepadaku bahwa hubungan kami telah berakhir, aku tidak berpikir tentang sampah.
Dia berkata begitu dengan tiba-tiba, amat lancar, saat kami makan malam dan seharusnya merayakan ulang
tahun kebersamaan kami yang kelima sejak awal berpacaran.

Aku baru saja berdiri, mengangkat gelas, dan menyatakan hendak bersulang, saat dia memotong, "Turunkan
gelas dan tutup mulutmu--aku punya hal penting yang mau kukatakan kepadamu."

Suaranya sekonyong-konyong jadi terdengar dingin sehingga aku merasa kupingku membeku. Aku duduk,
menaruh gelas, dan menatap Magda. Tak bisa kuterka apa yang bakal dikatakannya. Seulas senyum masih
saja bermain di bibirku. Magda menggeser letak botol anggur, bubuk garam, asbak, vas bunga--pokoknya
segala yang terletak di antara kami--lalu berkata, "Kurasa sebaiknya kamu berhenti cengengesan."

Suaranya begitu dingin sehingga aku tahu aku tak punya pilihan lain. Dengan jemariku kuusap bibirku yang
membeku dan terus menatapnya. "Ini tak akan lama," ucapnya lalu melanjutkan berbicara selama lebih dari
dua puluh menit.

Dia mengatakan hal-hal yang biasa diucapkan orang dalam situasi semacam itu: bahwa kami pernah
berbahagia bersama, sungguh luar biasa kami pernah punya kesempatan untuk lebih saling mengenal, ada
saat-saat yang akan dia kenang selamanya, betapa memalukan kami sampai harus berpisah, tapi hidup ini
punya aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi.

"Pendeknya," dia bilang, "ini akhir hubungan kita dan kini aku harus pergi." Dia kembali memindahkan asbak
sehingga berada di antara kami, mematikan rokoknya di asbak, dan beranjak pergi.

Pramusaji menghampiri meja setelahnya dan bertanya kepadaku apakah aku mau memesan sesuatu untuk
hidangan penutup. "Kenapa tidak," ujarku dan memesancrepes isi cokelat. Pramusaji itu mengangguk,
mengosongkan asbak lalu menaruhnya di dekatku. Tak ada orang lain sama sekali di seberang meja. Saat
itulah, tepatnya, gagasan tentang sampah melintas di benakku.

Itu semua bermula kala aku meminta pakaian dalam yang dia pakai pada malam ketika kami bercinta untuk kali
pertama. Sebenarnya, malam itu dia tidak mengenakan pakaian dalam. Sebab, saat melakukan percumbuan
awal, kami melepas seluruh pakaian kami. Setelahnya, saat dia hendak berpakaian, kuraih celana dalam dan
kutangnya seraya berkata, "Tinggalkan ini di sini." Magda memprotes, beralasan dia tak sanggup berjalan di
tengah kotatanpa pakaian dalam. Namun, akhirnya dia menyerah. "Mau kamu apakan pakaian dalam itu?"
Kukatakan kepadanya hal pertama yang melintas di benakku, "Ini awal mula museum cinta kita."

Demikianlah kisahnya bagaimana aku menjadi kurator museum cinta kami dan terus memantau hubungan
Magda dan diriku. Setiap potongan kertas, tisu, tiket bioskop, kartupos, label pakaian, stoking robek,kantong
teh celup kamomil bekas, pena yang sudah habis tintanya, bekas bungkus pasta gigi, resep kue cokelat yang
buruk fotokopiannya, baju renang yang dia pakai saat kami berlibur di Yunani, guntingan foto-foto, selimut dari
pesawat, kaleng-kaleng kosong--kubawa semuanya ke apartemenku dan kusimpan di dalam kotak-kotak
penyimpanan serta album foto.

Aku membingkai dan menata semua itu di atas rak-rak. Aku bahkan punya herbarium tempat mengawetkan
bunga-bunga dan dedaunan dari tetumbuhan miliknya dan dari buket yang dia terima dalam berbagai peristiwa.
Di sebuah kotak, aku bahkan memelihara rayap-rayap yang harus kutangkap dengan amat susah-payah.
Kusimpan mereka karena dia memiliki fobia terhadap binatang-binatang itu. Dalam berbagai buku dan fail,
kusimpan catatan dan rekam data yang amat rinci tentang semua benda itu: selain deskripsi tentang setiap
benda, kucatat juga di mana dan bagaimana hingga benda-benda itu menjadi bagian museum kami, serta di
mana tepatnya letak benda-benda tersebut di apartemenku.

Hal terakhir itu sunguh amat penting karena selama lima tahun kami berkencan--yang berarti selama itu pula
museum ini berdiri dan beroperasi--apartemenku telah menjadi gudang beragam kantong, kotak, fail, lemari
penyimpanan data, dan rak, atau-- seperti yang sering kukatakan kepada Magda--"labirin cinta kita yang
menakjubkan."

Kini aku berdiri di dalam labirin itu--dan rupanya Magda telah lama menemukan jalan ke luar dari situ--dan
menatap heran saat ternyata semua benda itu kini telah kehilangan kilaunya. Segala yang hingga kemarin
merupakan pengingat dan rekaman cinta kami, kini telah menjadi sekadar beban kenangan, limbah tak
berguna, sampah. Dan jika sebelumnya hatiku akan terenyuh setiap kali teringat pada, katakanlah, sehelai
kertas tisu yang digunakan Magda untuk menyeka keningnya, kini yang ada hanyalah bau busuk yang meruap
dari sebuah kantong yang dipenuhi tisu-tisu bekas dia pakai. Kusadari, cinta ternyata tak hanya buta, tapi
juga tuli, menumpulkan penciuman, serta menghambat indra perasa dan peraba.

Apartemenku terletak di lantai lima sebuah gedung yang tak dilengkapi lift. Saat aku membuangi apa yang
hingga belum lama ini menjadi koleksi museum cintaku, otot-ototku terasa ngilu akibat kerja keras. Kukutuk
cinta dan Magda dan takdir yang telah mempertemukan kami serta sebab yang telah memisahkan kami. Diriku
sendiri, secara alamiah, tak kusebut di dalamnya. Sebab, setahuku, ini bukanlah kesalahanku. Memang
benar, seiring bertambah dahsyatnya koleksi museum cinta kami, aku lebih berkembang menjadi seorang
kurator ketimbang seorang kekasih. Tapi aku melakukan semua itu justru demi cinta, bukan untuk merongrong
cinta kami. Seandainya Magda bersedia mendengarkan aku, segalanya pasti akan jauh berbeda. Tapi kini
semua sudah terlambat.

Aku berdiri di sisi tong sampah besar, membuka kotak terakhir dan membuang sisa koleksi museum: baju
dalam Magda yang talinya sudah putus; kotak kentang McDonald's berminyak (dengan kata "Budapest" tertulis
di sudut; bebat lutut Magda yang kotor (dua pasang); satu dus besar kondom (belum dipakai; yang sudah
dipakai, karena Magda bersikeras menolak, tak kusimpan); piyama yang dikenakan Magda ketika kali pertama
dia mengatakan bahwa dia mencintaiku; hasil tes dokter yang memastikan dia hamil (tapi ternyata tidak); hasil
tes dokter yang memastikan dia tidak hamil (tapi ternyata hamil); secarik kertas yang ditulis Magda: kamu dan
aku? (dan aku tak tahu kata-kata apa yang mendahului pertanyaan itu); dan banyak lagi barang yang satu
demi satu, tanpa pandang bulu, kulemparkan ke dalam tong sampah besar untuk menjalani proses
transformasi tragis dari koleksi museum yang bernilai menjadi remah sampah kota yang tak bermakna.

Aku takjub sendiri pada betapa cepatnya saat cinta lenyap bersamaan dengan hati yang berbalik seperti
kaos kaki, meski aku yakin ini bukan salahku. Sampah itu berguna, terutama jika didaur ulang. Namun, cinta
yang tak berbalas sungguh tak ada gunanya. Itu hanyalah dedak yang bisa membelenggu hati. Tak lebih.
Sampah masih lebih baik.

David Albahari adalah penulis kelahiran Serbia, 1948. Pada 1994 ia hijrah ke Calgary, Kanada.
Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan bahasa Inggris Ellen Elias-
Bursac.
Disalin dari karya David Albahari, dan dialihbahasakan oleh Anton Kurnia
Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" pada 12 April 2015
Inferno

KAMI baru saja pindah ke sebuah apartemen di pinggiran kota dengan segala kerepotan angkut-mengangkut barang dan
kami terpaksa melakukan hal-hal yang tak akan kau pedulikan jika kau tak merasa punya kewajiban sosial. Pada hari
ketujuh setelah kami pindah, istriku berkata kami harus pergi ke Ikea untuk membeli sebuah kursi berlengan yang akan
serasi dengan sofa baru kami dibandingkan dengan kursi yang lama. Aku tak menyatakan keberatan walaupun aku
sungguh tak melihat ada yang salah dengan kursi lama kami.

Ingat kursi yang pernah kutunjukkan kepadamu? ujarnya.


Kursi yang mana?
Yang ada di katalog.
Tidak, sahutku.
Kau tak pernah ingat apa pun.
Mungkin, sergahku.
Hari itu berlalu dengan menggantung lukisan-lukisan dan menata buku-buku di rak. Menjelang waktu minum kopi, kami
akhirnya pergi untuk membeli kursi yang dimaksudkan istriku. Tercium tanda-tanda awal musim gugur di udara:
dedaunan mulai luruh dari pepohonan dan cabang-cabang telanjang menampilkan bayangan samar di atas bumi dalam
pendar cahaya matahari senja. Lalu lintas amat tak menyenangkan pada jam itu. Kota kecil ini selalu berusaha keras
meniru kota besar. Kunyalakan radio. Bob Dylan menyanyikan sebuah lagu dari album Street Legal. Aku menyimak
seraya menatap lurus ke depan dari balik kacamata gelapku.

Kau selalu melamun saat menyetir, kata istriku seraya mengecilkan suara radio.
Oh, ya? sahutku acuh tak acuh.
Ya, selalu.
Mobil-mobil SUV berseliweran menyalip kami, satu demi satu. Lalu sanatorium tua di Vifilsstadir muncul, dikelilingi
rerumputan kuning dan gerombolan pepohonan, mengingatkanku pada sebuah gedung kosong di pedesaan, barangkali
di suatu tempat di Swediasetidaknya aku selalu teringat Margit Siderholm ketika menyetir melewati daerah ini. Selepas
sanatorium, tampak sebuah bukit lonjong berbalut semak-semak yang kecokelatan di bawah sinar mentari musim gugur.
Gedung Ikea menjulang di kejauhan. Tak seorang pun paham bagaimana mereka mendapat izin membangun gedung
tepat di samping jalan-jalan setapak indah alamiah kawasan reservasi Heidmark, tapi di sanalah bangunan raksasa itu
kini mengangkang dan jelaslah sudah terlambat untuk melakukan apa pun soal itu.

Bikin sakit mata, ujarku.


Sakit mata apanya? tanya istriku, menatapku.
Ikea, sahutku.
Ah, tidak, tukasnya. Lalu dia menambahkan, Parkir sedekat-dekatnya dengan toko.
Gedung itu menampilkan bayangan biru pudar di atas mobil saat aku memarkirkannya dan melangkah keluar. Kami
masuk melalui pintu otomatis. Kini pintu otomatis sudah tak seru lagi: mereka semua dikendalikan secara jarak jauh.
Bahkan Chaplin pun tak akan bisa membuat lawakan dengan itu. Hanya ada sedikit pelanggan di dalam toko, semuanya
berkerumun di eskalator, menatap ruang hampa saat mereka naik. Sukar disimpulkan apakah tatapan mereka
menyiratkan optimisme akan sebuah masa depan cerah, rasa terima kasih pada desain Swedia, atau hanya kehampaan
yang tak berpengharapan. Aku dan istriku berdiri di atas undakan terpisah di atas eskalator, menatap ke arah yang
berlainan.

.
SETIBA di bagian ruang tamu, kami berkeliling di antara kursi-kursi dan aneka sofa, tapi tak berhasil menemukan kursi
yang dicari istriku. Sejujurnya, aku sama sekali tak ingat seperti apa kursi yang dimaksudnya, tapi aku tak
menunjukkannya dan aku berpura-pura mencari-carinya di seantero toko. Seorang lelaki muda berkaus kuning berjalan
mendekat. Istriku melambai kepadanya.

Kursi ini, ujarnya.


Kursi yang mana? tanya si pramuniaga.
Yang ini, katanya seraya mengeluarkan katalog dari tas tangannya, membuka halamannya, dan menunjuk kursi yang
dimaksud.

Oh, yang itu sudah habis terjual.


Sudah habis?
Ya.
Kalian selalu kehabisan apa saja.
Hm, tentu saja tidak selalu, kataku, mencoba menengahi.
Ya, selalu, ujarnya keras kepala.
Saya akan memeriksanya untuk Anda, kata si pramuniaga. Saat berlalu, dia menoleh ke belakang kepada kami
sehingga dia menabrak ujung sebuah sofa. Dia terhuyung, tapi terus berjalan.

Seperempat jam telah lewat, tapi lelaki itu tak kunjung kembali. Tak ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang
tampaknya karyawan toko ini. Kenyataannya, sedikit sekali orang yang berkunjung ke bagian sofa. Seakan-akan tempat
ini tak terpakai. Sejenak aku merasa seolah-olah terperangkap dalam sebuah dongeng anak-anak karya Jens Sigsgaard.

Aku duduk di atas sebuah sofa kulit cokelat yang terasa sangat nyaman bagiku. Namun, istriku tetap berdiri tak sabar
sepanjang waktu, mencari-cari di sekujur permukaan toko dengan tatapan setajam elang.

Mereka hanya mempekerjakan orang-orang tolol di sini, cetusnya.


Oh, ayolah, benarkah? tukasku.
Ya, jelas.
Akhirnya kami berhenti menunggu dan berjalan menyusuri toko dengan mengikuti jalur bertanda, membiarkan anak
panah berpikir untuk kami. Kami tak berhenti untuk melihat apa pun di sepanjang jalan.

KAMI sampai di restoran yang menyambut kami dengan aroma bola daging cincang Swedia dan aku baru menyadari
bahwa ternyata aku lapar. Aku berdiri menimbang-nimbang di depan pintu masuk, menatap ke dalam ruangan. Tak ada
banyak orang di dalam: beberapa gelintir duduk menghadap meja, yang lainnya mengantre di konter, menunggu bola
daging cincang, kentang, saus daging, dan selai buah beri disendokkan ke atas piring mereka.

Matahari musim gugur menyinari ruangan itu dan aku menemukan diriku menatap seorang lelaki yang sedang duduk
menyendiri menghadapi sebuah meja di tepi jendela. Bahunya agak bungkuk, rambutnya kemerahan, janggutnya tipis,
dan dia mengenakan mantel hitam berkerah tegak yang sabuknya terjuntai ke lantai. Dia sedang minum bir. Matanya
menatap gelas seakan-akan dia tak dapat melihat hal lain atau seolah-olah gelas itu sebuah cermin yang memantulkan
seluruh dunia.

Aku merasa mengenal lelaki itu, tapi tak segera mampu mengingatnya secara tepat. Lalu tiba-tiba aku menyadarinya. Dia
August Strindberg.

Strindbergyang paling takut pada neraka daripada hal-hal lain, sebuah ketakutan yang sering digambarkannya dalam
berbagai tulisannyaterdampar di sini setelah kematiannya, di sebuah gerai cabang Ikea di Islandia. Inilah lelaki yang
menyatakan bahwa Lund adalah neraka di atas dunia, tapi sesungguhnya hanya tahu sedikit tentang Islandia dan tak
tahu apa-apa tentang Ikea yang memang belum ada pada saat dia masih hidup. Saat aku menatapnya, dia sekan-akan
menyusut dan terus menyusut di balik gelasnya, dikutuk sepanjang masa. Lelaki inilah yang telah menulis di dalam
catatan hariannya, Siapa pun yang berkata bahwa hidup ini indah, berarti dia babi atau orang tolol.

Lihat di sebelah sana, ujarku kepada istriku seraya menunjuk ke seberang ruangan.
Mana?
Di sana, dekat jendela.
Siapa itu?
August Strindberg.
Dia manajer toko? tanyanya, acuh tak acuh. Lalu dia menukas, Seharusnya aku berbicara kepadanya tentang tokonya
yang mengecewakan.

Bukan, dia pengarang, jelasku. Lalu, aku buru-buru menambahkan, Dulu.


Lelaki tua itu, kan?
Ya.
Istriku menatapku tajam. Kamu berpura-pura bisa melihat hantu?

Setidaknya aku pernah menonton Sonata Hantu, drama yang ditulisnya.


Kamu ngomong apa sih?
Itu memang dia, kataku.
Istriku mencekal lengan jaketku dan menyeretku ke arah pintu otomatis.

BAYANGAN di tempat parkir makin gelap dan udara kini terasa lebih sejuk. Kami masuk ke dalam mobil dan aku
menyetir perlahan. Tadinya aku hendak menyalakan radio, tapi kemudian memutuskan untuk membatalkannya.

Aku tak akan pernah kembali ke sana, ujar istriku seraya memasang sabuk pengaman dengan gerakan mengentak.
Jangan pernah berkata tak akan pernah, sahutku penuh keberanian. Benakku kembali pada Strindberg: bagaimana dia
duduk di sana, tanpa harapan pengampunan, sabuk mantel hitamnya menjuntai ke lantai bagai rantai, tapi kerah
tegaknya tak menyerupai sayap iblis.

Bebukitan rendah di atas jalanan tampak menyihir dalam terpaan cahaya lembut, jalanan setapaknya yang bersesimpang
saling menyilang di antara pepohonan. Aku ingin berjalan-jalan di sana dengan Strindberg, membebaskannya dari
neraka modern ini. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa aku pernah mengunjungi Lund dan dia keliru tentang
tempat itu.

Tapi tidak. Aku tak pernah kembali. (*)

Gyrdirn Eliasson adalah pengarang Islandia. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia berdasarkan terjemahan
Inggris Victoria Cribb dari bahasa Islandia. Judul cerita diambil dari judul buku otobiografi August Strindberg (1849-
1912), penulis Swedia.

Cerpen Gyrdirn Eliasson (Koran Tempo, 16 September 2012)


Jalan Lain
JAM mendekati tujuh pagi, ketika ia berhenti di akhir antrean, dan mengamati dengan seksama barisan panjang orang-
orang antre yang berkelok-kelok seperti ular. Segera ia tahu bahwa ia datang sangat terlambat. Wajah orang-orang yang
antre tampak sendu, seolah mereka telah tua sebelum masanya. Sebagian mereka saling bertukar pembicaraan sehingga
menggariskan guratan-guratan tertentu pada wajah mereka.
Semua memandang ke arah pintu yang dikunci dengan kawat berduri dari segala sisinya. Mereka menumpahkan
kemarahan lewat sorot mata ke arah pintu laknat itu. Mereka berharap pintu itu cepat dibuka sehingga antrean yang
terus bertambah panjang seiring bergeraknya jarum jam itu terkurangi.

Pada jam delapan, datang dua tentara berhenti di depan pintu. Wajah-wajah putus asa itu sedikit cerah, merasa jalan
keluar itu mendekat. Dengan gerakan tanpa sadar, ia mengeluarkan sigaret dari sakunya. Ia menyalakan rokok kemudian
mengembuskan asapnya, seolah ia berpesta dengan datangnya dua tentara Israel itu.

Suara-suara orang yang antre meninggi, setelah pintu dibuka dan mulai menelan antrean itu secara berurutan. Ia menata
posisinya dari satu posisi ke posisi lain untuk merilekskan bagian tubuhnya yang pegal. Beberapa saat sebelum jarum
jam menunjuk angka 10, satu truk tentara datang dari jalan yang tegak lurus dengan pintu itu. Truk itu berhenti kira-kira
di tengah-tengah barisan orang-orang antre tersebut. Komandan tentara mengitarkan pandangannya pada mereka
dengan penuh kebencian dan kecurigaan. Barisan itu segera merapikan diri, yang lepas dari barisan segera masuk
kembali. Pemandangan ini menekan otaknya yang penat, dalam layar otaknya tergambar nomor 67.

Saat itu, Abdurrahman sedang berumur 10 tahun. Ia berlari telanjang kaki, berpindah-pindah dari satu antrean ke
antrean yang lain. Ia bermain-main. Ia menganggap hal itu sekadar permainan yang diberikan takdir kepadanya, supaya
ia beristirahat dan melepaskan kebosanan dari berbagai jenis permainan yang telah dilakukannya berkali-kali.

Ia juga berkeyakinan bahwa peluru-peluru yang berhamburan di atas kepala orang-orang Palestina tidak berbeda dengan
peluru yang diberondong dalam pesta perkawinan. Ia membayangkan, ia menghela punggung seekor keledai yang
membawa kakek-kakek dan nenek yang berusia lanjut. Keledai yang mendengus-dengus karena kepayahan dan
kehausan melebihi orang yang di punggungnya. Jika ada kakek-kakek atau nenek-nenek terjatuh dari punggung
keledainya. Ia tertawa terbahak-bahak ala anak-anak kecil yang polos. Ia akan semakin terpingkal-pingkal ketika melihat
keledainya lari meloloskan diri dari beban yang berat itu dan menerobos tanah pasir dengan ringkikan suara yang tiada
bandingnya.

Kemudian, Abdurahman ingat bahwa hal itu mungkin saja masih terjadi seandainya kampung halamannya tidak dihapus
dari peta, sebagian dijadikan tempat hiburan dan sebagian lagi dijadikan kandang sapi orang-orang Yahudi yang baru
datang.

Abdurrahman tersadar dari kepekatan hatinya setelah ia membuang kilatan keputusasaannya yang menekan di belakang
punggungnya. Tiba-tiba, ia melihat ada tempat kosong antara dirinya dan orang yang berdiri di depannya. Ia segera
bergerak mengisinya demi menjaga hak dan undang-undang. Kembali ia memandang ke barisan orang-orang antre, ia
melihat puluhan orang berdesak-desakan di depan pintu.

Perhatiannya tertuju pada sosok yang rapi, pakaian baru membalut tubuhnya yang gemuk subur, memegangi salah satu
tangannya, dan bibirnya ndomble agak memanjang. Sosok itu berdiri di samping barisan orang antre dan
memperlihatkan pandangan memelas. Tak perlu lama menunggu, sosok rapi itu segera dipilih tentara Israel untuk
memasuki pintu.

Abdurrahman memperolok suara-suara protes orang yang minta menjaga dan menghormati urutan. Kemudian ia
mengulurkan telapak tangannya secara spontan pada mukanya tatkala ia merasakan ada tonjokan yang mendadak
mendarat di pahanya. Seketika ia ingat tentara penjaga perbatasan yang menamparnya tiga kali, ia ingat dalam ingatan
kilas balik ketiga.

Oh ya! Akhirnya, Abdurrahman ingat. Ia telah memetik buah zaitun yang ditanam oleh kakeknya di kampungnya yang
telah diduduki Israel. Ia dituduh mencuri harta milik tanah Israel. Kemudian tentara-tentara itu menggelandang dirinya
yang saat itu baru berusia 13 tahun ke penjara di garis hijau. Ia dijadikan bulan-bulanan oleh pukulan dan tendangan
mereka. Ia mendekam di penjara itu selama satu minggu, lantas dikeluarkan setelah membayar denda karena didakwa
mengambil harta milik negara.

Otaknya kembali lagi untuk ikut serta dalam antrean sebagaimana sosok-sosok yang lain. Kembali lagi untuk melihat
bagaimana para tentara itu merusak barisan untuk kedua kalinya dan memasukkan teman-teman pejabat kota yang baru
saja datang. Abdurrahman seketika merasakan musim panas yang tiba-tiba merusak sistem antrean dan membuyarkan
harapan orang-orang yang berada pada posisi siap memasuki pintu.

Detik-detik yang berat dan lambat berlalu, berganti jam-jam yang sirna. Tetapi, ia belum juga sampai di tengah barisan.
Ia mengajak bicara orang yang berada di depannya supaya tetap bisa melihat keadaan pintu.

Apa kau kira hari ini kita bisa melewati pintu itu?
Aku khawatir hari ini berakhir seperti hari-hari kemarin dan kita pulang tanpa hasil dan kecewa.
Apakah kamu menghabiskan waktumu berhari-hari di depan pintu ini?
Tentu, apa kau kira urusannya mudah? Di sini tidak ada waktu yang berharga, Sobat!
Tengah hari, barisan maju ke depan sedikit. Abdurrahman mandi keringat, kedua keningnya memerah karena sengatan
matahari. Meskipun barisan orang-orang antre itu menyaksikan kembali adanya penyerobotan-penyerobotan lain,
Abdurrahman berhasil mendekati pintu dengan posisi yang sulit ia percayai. Antara dirinya dan pintu hanya terpaut satu
orang saja.

Ketika waktu mendekati pukul dua siang, barisan itu terdorong ke depan. Orang-orang yang berdiri di depan seakan
tergencet di pintu dan menyebabkan salah satu tentara Yahudi itu marah dan menyerang orang-orang yang di depan
barisan seperti banteng gila. Tentara itu memukuli orang-orang yang di depan bertubi-tubi. Abdurrahman tidak bisa
menghitung berapa kali pukulan itu karena cepatnya.

Sebelum tentara itu menyelesaikan tugas nya, Abdurrahman berpikir tentang pesawat terbang yang meninggalkan
Bandara Ben Goryon dalam waktu bersamaan saat ia bergabung dalam antrean itu. Ia berkhayal, mungkin saja pesawat
itu telah mendarat di kota Beijing atau mungkin saat itu pramugarinya sedang berjalan di antara penumpang membagi-
bagikan kue selamat datang dan berharap para penumpang menikmati saat-saat yang paling indah di negeri Tembok
Raksasa itu.

Abdurrahman heran dengan kenyataan aneh dan pahit ini. Bagaimana mungkin jalan dari Ramallah ke al-Quds harus
melewati pintu berduri ini. Bagaimana ia menghabiskan bagian penting dari hidupnya dengan masuk pintu dan melewati
kawat-kawat berduri dan berdiri lama sekali dalam antrean panjang di depan pintu penghalang. Lalu, ia memutuskan
untuk meninggalkan barisan itu setelah meyakinkan dirinya bahwa semestinya harus ada jalan lain. Harus ada jalan lain!
(*)

Judul asli cerpen ini: Thaariq Aakhar karya Hisham Yusuf El Filistiny, seorang cerpenis berdarah Palestina asli. Lahir di
Umawas, Palestina tahun 1956. Ia dan keluarganya digusur dari desanya tahun 1967, lalu tinggal di kota kecil Al Birah.
Meraih gelar BA dalam sastra Inggris dari Universitas Aleppo, Suriah tahun 1979, dan master pendidikan dari
Universitas Beirut tahun 1998. Selain mengajar di Universitas Al Quds, di kota Ramallah, ia aktif menulis cerpen dan
makalah di berbagai koran dan majalah Palestina.

Diterjemahkan oleh Habiburrahman El Shirazy, sastrawan Indonesia peraih Penghargaan Sastra Nusantara 2009. Ia
adalah penulis novel fenomenal Ayat Ayat Cinta, Bumi Cinta, dll. Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat. Ketua
Liga Sastra Islam Dunia, Maktab Indonesia.

Cerpen Hisham Yusuf El Filistiny (Republika, 8 April 2012)


Keringat
MEREKA menuruni tangga bersamaan. Ketika mereka sampai di pintu keluar, orang asing itu mencoba mengajaknya
bercakap-cakap. Ruap napasnya yang panas menyapu wajah si wiraniaga. Malam ini udara terasa gerah dan lembap, tak
ada angin berembus. Namun, si orang asing pasti sedang kedinginan karena ia terus melesakkan tangannya ke dalam
saku mantel. Matanya lebar dan ujung tulang rahangnya yang persegi tampak runcing.
Anda tinggal di sini?
Ya, lantai dua.
Sewanya tinggi?
Tinggi? Ya, lumayan tinggi, tapi di mana lagi kita bisa mencari yang lebih murah?
Tak ada?
Ujung rahangnya tampak lebih runcing dan tatapannya makin muram saat ia menyahuti pertanyaan itu dengan
pertanyaan. Menatap pasti ke wajah si wiraniaga, ia mengulangi pertanyaannya.

Jadi, menurut Anda tak ada yang lebih murah, ya? Semuanya mahal?
Tadi sudah mencari di loteng?
Ya. Tak ada yang lowong. Semua kamar terisi.
Lelaki asing itu berdiri menatap ke jalanan. Udara masih terasa gerah, tapi dia menggigil. Dia menggerakkan tangannya
dari saku mantelnya dan menggosok-gosoknya dengan keras.

Ya, begitulah, ujarnya tiba-tiba, semua mahal. Saya sudah berutang dua bulan uang sewa kamar. Saya tinggal di
Jalan Kapiten. Ya, betul. Perempuan itu menagih sewa setiap hari. Dia terus mengejar kami. Kami berempat: saya, istri
saya Maria Claradia dari Segiripandan kedua anak lelaki kami. Kurasa tak lama lagi kami akan terpaksa menjadi
gelandangan.

Ia berhenti berbicara, tampak letih, meludah, menarik topinya di atas pelipisnya, lalu meneruskan berkata, Saya dulu
bekerja di pabrik Aurora sampai tempat itu bangkrut. Itu sudah tiga bulan laludan di sinilah saya sekarang, berkeliling,
tak punya pekerjaan. Istri saya menerima cucian, tapi uang yang didapatnya tak mencukupi. Ya, saya harus pindah hari
initapi di mana-mana uang sewanya tinggi dan semua orang minta pembayaran di muka. Bagaimana ini akan
berakhir?

Dia kembali membenamkan tangannya di saku mantel.

Ada kamar yang bisa disewa di sebelah tempat Anda?


Tampaknya tidak. Sudah mencoba cortico di belakang?
Terima kasih. Saya tadi sudah dari sana. Semua penuh.
Dia menatap jalanan tanpa suara, meludah, dan menggosek ludahnya dengan sol sepatunya. Si wiraniaga meraba uang
logam tak seberapa di saku celananya. Sempat terpikir olehnya untuk memberikannya kepada si orang asing. Namun,
kemudian dia merasa malu dan khawatir itu akan melukai perasaan si orang asing. Lelaki itu merapatkan bagian depan
mantelnya, melemparkan tatapan terakhir ke arah tangga, lalu beranjak pergi.

Hm, maaf sudah mengganggu Anda. Selamat malam.


Sejenak lelaki itu tampak bimbang, bingung memutuskan antara menaiki tangga atau turun ke arah jalanan yang
menuruni bukit. Akhirnya dia mengambil keputusan, berjalan menaiki jalan setapak ke arah atas jalanan yang
berlawanan. Si wiraniaga menatapnya dari jauh. Orang asing itu tampak gemetar. Ia bisa melihatnya. Dan walaupun
lelaki itu tak berada di dekatnya lagi, terasa olehnya seakan-akan ujung rahang yang runcing itu masih tampak di
hadapannya, juga suara letih yang berbicara terus-terang, serta ruap napas panas yang menyapu wajahnya. Ia
melambaikan tangan dengan muram. Tiba-tiba saja ia sendiri merasa gemetar kedinginan dalam terpaan udara hangat
yang lembap.
PEREMPUAN Italia yang menyewakan kamar-kamar di lantai dua hari itu mengenakan busana yang menutupi leher dan
lengannya. Pakaiannya begitu panjang sehingga nyaris menyentuh bumi.

Bertubuh jangkung dan bergigi palsu, dia biasanya menggunakan sepasang sepatu hitam dan kacamata berbingkai emas.
Dia sangat angkuh dan nyaris tak pernah berbicara dengan siapa pun, kecuali Fernandez dari bar. Itu pun hanya untuk
menyapa selintas. Terkadang saat Cabaca mengemis di muka pintu, perempuan itu akan melemparkan sekeping uang
logam ke kotak sedekahnya. Si gembel akan menggumamkan campuran rasa terima kasih dan hujatan, Semoga Tuhan
menolongmu dengan mematahkan lehermu di atas tangga ini kapan-kapan, sundal keparat.

Perempuan kulit hitam penjual mingau akan tertawa sepuas hati mendengarnya, tapi perempuan Italia itu tak
mendengar perkataan Cabaca. Dia sudah berlalu menjauh. Perempuan Italia itu juga dikenal sebagai medium arwah.
Saat roh orang mati merasukinya, mereka bilang dia akan menari-nari dengan gerakan tak senonoh dan bernyanyi dalam
bahasanya. Dia adalah penghubung favorit tempat roh para pendeta lancung dan perempuan jalan mengejawantahkan
kehadiran mereka. Mereka menggunakannya sebagai kendaraan untuk menyampaikan kisah-kisah dan kehidupan
mesum mereka dalam upaya memancing rasa iba. Roh-roh berjiwa murni jarang memasukinya. Jika itu terjadi, roh-roh
berjiwa murni itu umumnya berbaur dengan roh-roh tak senonoh yang akhirnya selalu berhasil mendominasi. Itu
sebabnya tempat praktik penghubung roh di Jalan St. Michael itu amat sering dikunjungi orang dan si perempuan Italia
seakan-akan mulai diselubungi lingkar cahaya keemasan di sana.

Kini perempuan Italia itu mengetuk-ngetuk gencar pintu kamar yang disewa si wiraniaga dengan buku-buku jarinya.
Ketukan-ketukan itu terdengar memaksa seperti perintah, tapi pintu tak kunjung terbuka. Perempuan itu terus
mengetuk-ngetuk dibarengi teriakan. Seo Joao! Seo Joao!

Sebuah suara menyahut dari dalam kamar. Tunggu sebentar.

Kala pintu terbuka, perempuan Italia itu berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, tersenyum. Seraut wajah
berewokan menatapnya dari pintu terbuka.

Ini tagihan kamarmu. Seharusnya kamu membayar tanggal 5 setiap bulan. Ini sudah tanggal 18.
Seraya menggosokkan sebelah tangan ke janggutnya, lelaki itu meraih secarik kertas yang disodorkan induk
semangnya. Huruf-huruf berenangan di depan matanya.

Sabarlah, Senhora. Beri aku sedikit waktu lagi. Tak bisakah kau menunggu sampaikatakanlahakhir minggu ini? Aku
ditawari pekerjaan tetap.

Senyum lenyap dari bibir si perempuan Italia. Wajahnya berubah sinis dengan bibir rapat yang mencong sedikit dengan
ekspresi mencemooh.

Aku sudah menunggu terlalu lama, Seo Joao! Sejak tanggal 5! Setiap hari selalu sama dalihmu. Tunggu, tunggu. por la
Madonna! Aku muak dan bosan menunggu! Aku harus menyetor sewa ke pemilik rumah juga, bukan? Memangnya aku
tak perlu makan? Dengar, aku tak bisa menunggu lagi! Aku bukan dinas sosial.

Walau kata bukan yang dilontarkannya nyaris tak terdengar, kata itu mengandung dentang yang kejam.

Terdengar suara bayi menangis di dalam kamar. Lelaki itu mengelus berewoknya.

Tapi Senhora tentu mendengar, ujarnya. Istriku baru melahirkan seminggu lalu. Biaya persalinannya, yah, kau tentu
tahulah Itu sebabnya aku belum bisa membayar sewa kamar. Laluaku kehilangan pekerjaan.

Apa urusannya denganku? Kenapa kamu beranak-pinak? Salahku? Aku mau kamar ini dikosongkan. Kemasi barang-
barangmu. Kalau tidak, kulemparkan kamu ke jalanan. Aku tak mau menunggu lebih lama lagi!

Perempuan itu berlalu dengan langkah kaku. Gaunnya melekat ketat di tubuhnya seperti lem. Joao menutup pintu,
membenamkan wajah di kedua tangannya tanpa berani menatap istrinya yang tengah menangis di dekat si bayi.

Aku akan bikin ribut dengannya suatu hari nanti, bisiknya pada diri sendiri, penuh kesumat.

JOAO kini selalu pulang larut, menunggu saat si perempuan Italia telah terlelap. Usahanya untuk mendapatkan uang,
atau mendapatkan kamar baru dan pindah, tak berbuah. Ia mulai mengeluyuri jalanan, membuang puntung rokok di
sana-sini, melemparkan beberapa sen untuk membelikan istrinya sedikit makanan. Bagi sang istri, hidup ini telah
berubah menjadi neraka. Kini dia nyaris tak bisa pergi ke kamar mandi tanpa mendengar perempuan Italia itu berteriak,
Ayo, pindah! Mandilah di tempat lain!

Dia telah kehabisan air. Untuk memandikan bayinya, dia terpaksa turun ke cortico di belakang bangunan, tempat para
wanita mencuci pakaian. Setelahnya, dia pergi ke toilet. Si perempuan Italia kini mendapatkan kesenangan dengan
mengejar-ngejarnya. Dia menggembok toilet dan menyembunyikan kuncinya saat diintainya perempuan malang itu
datang. Kamar yang dihuni Joao sekeluarga jadi amat jorok, tak terkatakan kotornya. Aroma pesing memualkan dari air
seni dan tinja manusia nyaris tak tertahankan. Joao hanya bisa mengelus-elus janggutnya dengan jijik.

Suatu malam ia menemukan perempuan Italia itu menunggunya saat dia pulang. Kala itu sudah lewat tengah malam.
Perempuan itu menyandarkan punggung ke dinding untuk membiarkan Joao lewat.

Selamat malam, Senhora!


Kamu tak berharap bertemu aku, ya? Aku ingin kamu membayar sewa kamar dan enyah. Jika tidak, aku akan
memanggil polisi besok.

Tapi.
Tak ada tapi-tapian! Aku tak mau mendengarmu berdalih lagi. Sepanjang hari kamu tidur dan saat malam tiba kamu
menyelinap keluar untuk mabuk-mabukan. Aku tak mau membantu gelandangan kapiran. Enyahlah ke jalanan!

Tapi istriku.
Nah, istrimu juga! Dia mengotori kamarku seperti babi betina! Dia tak bisa melakukan sesuatu yang berguna bahkan
sekadar mencuci pakaian sekalipun. Kenapa dia tidak melacur saja? Barangkali itu satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Joao menatap perempuan itu sejenak dengan sepasang bola mata membelalak. Lalu saat efek kata-kata keji perempuan
itu melandanya, ruangan itu berubah gelap di matanya, dan dengan penuh amarah dia melayangkan tinjunya.
Perempuan itu tersungkur ke atas lantai, terkapar seraya merintih-rintih. Namun, saat dia melihat sepasang tangan Joao
mengincar lehernya, dengan terhuyung-huyung dia memaksa bangkit dan berlari sempoyongan menuruni tangga,
menjerit-jerit meminta tolong. Joao menurunkan lengannya dengan lunglai, menggaruk-garuk janggutnya, dan masuk
ke dalam kamarmenanti polisi tiba.

Para polisi dan kuli tinta memercayai sepenuhnya kata-kata si perempuan Italia. Salah satu koran bahkan memuat
fotonyadiambil di Milan puluhan tahun lampau saat dia masih belia. Joao diseret ke penjara.Sementara, barang-
barang miliknyaranjang, kursi, lemaridisita untuk membayar tunggakan uang sewa.(*)

Jorge Amado (1912-2001) adalah penulis novel dan cerita pendek Brasil. Cerita di atas diindonesiakan oleh Anton
Kurnia dari versi Inggris L.C. Kaplan.

Cerpen Jorge Amado (Koran Tempo, 27 April 2014)


Sapi Betina

DI SINI segalanya berubah dari buruk ke makin buruk. Minggu lalu Bibi Jacinta meninggal.
Lalu, pada hari Sabtu, setelah kami memakamkannya dan kami merasa tak lagi terlalu
sedih, hujan mulai turun. Ayahku murka karena seluruh hasil panen gandum yang telah
kering di bawah cahaya matahari menjadi basah kuyup. Badai datang begitu cepat
sehingga kami tak sempat lagi menutupi gandum itu. Yang bisa kami lakukan hanyalah
duduk-duduk berkerumun, menyaksikan hujan menghancurkan hasil panen kami.
Dan kemarin, saat adik perempuanku Techa berulang tahun kedua belas, banjir
menghanyutkan sapi betina yang diberikan ayahku sebagai hadiah ulang tahunnya.
Sungai mulai meluap sebelum subuh tiga malam lalu. Aku tertidur lelap, tapi banjir
menyebabkan suara ribut di tepian sungai sehingga aku terjaga dan terlompat dari
ranjang dengan selimut tercekal di tangan, seolah-olah aku bermimpi atap rumah kami
runtuh. Setelahnya, aku kembali tidur karena aku tahu itu hanya suara arus sungai dan
aku segera terlelap.
Saat aku bangun langit dipenuhi awan hitam dan suara bising sungai terdengar makin
nyaring. Bunyi itu terdengar amat dekat dan mengandung bau busuk banjir yang seperti
bau timbunan sampah.
Saat aku menengoknya, permukaan sungai sudah meluap melebihi tepi-tepinya. Air sungai
naik sedikit demi sedikit sepanjang jalan dan masuk ke dalam rumah seorang perempuan
berjuluk Genderang. Kau bisa mendengar percikan air mengaliri kandang ayam melewati
pintunya. Genderang bergegas hilir-mudik, melemparkan ayam-ayam ke jalanan agar
mereka bisa mencari tempat bersembunyi yang tak bisa dicapai aliran air.
Di sisi lain dekat kelokan sungai, arus banjir tampaknya telah menghanyutkan pohon asem
di ujung bebatuan di rumah Bibi Jacinta karena pohon itu tak terlihat lagi. Itu satu-satunya
pohon asem di desa kami, jadi semua orang tahu inilah banjir terbesar yang melanda
sungai ini selama bertahun-tahun.
Aku dan adik perempuanku kembali pada siang hari untuk menonton banjir. Air sungai
lebih keruh dan lebih kental dan meluap hingga ke batas jembatan semula berada. Kami
bertahan di sana berjam-jam, hanya menonton, tanpa merasa letih. Lalu kami berjalan
sepanjang tepi jurang untuk mendengar apa kata orang. Jauh di bawah, dekat sungai, arus
air menghasilkan suara bising sehingga kita hanya bisa melihat mulut orang-orang yang
terbuka dan mengatup tanpa dapat mendengar kata-kata mereka. Mereka juga melihat ke
sungai di sepanjang tebing dan mencoba mengukur seberapa parah kerusakan yang
disebabkan banjir. Di sanalah aku baru tahu bahwa banjir telah menghanyutkan La
Serpentina, sapi betina yang dihadiahkan ayahku kepada Tacha sebagai hadiah ulang
tahunnya. La Serpentina memiliki sebelah kuping berwarna putih dan sebelah lagi
kemerahan, serta sepasang mata indah.
Aku tak tahu mengapa sapi itu memutuskan mencoba menyeberangi sungai walaupun dia
pasti tahu itu bukan lagi sungai yang sama. La Serpentina tak sebodoh itu. Dia pasti
berjalan dalam tidur dan terhanyut seperti itu tanpa alasan. Saat aku membuka pintu
kandang pada pagi hari dia telah berdiri di sana sepanjang hari dengan mata terpejam,
melenguh dengan cara sapi melenguh saat dia tertidur.
Maka, apa pun yang terjadi padanya, dia pasti tengah tertidur. Mungkin dia terbangun saat
merasakan air menghantam iganya. Dia jadi ketakutan dan mencoba balik ke kandang,
tapi terjangan arus air membuatnya terjengkang dan hanyut oleh banjir. Kuduga dia
berupaya melenguh meminta tolong. Dia hanya bisa melenguh dan hanya Tuhan yang
tahu bagaimana semua itu terjadi.
Kami menemukan seorang lelaki yang melihat sapi betina itu ketika air sungai
menyeretnya. Aku bertanya kepadanya apakah dia tak melihat seekor anak sapi bersama
sapi betina itu. Dia bilang dia tak ingat. Dia hanya ingat melihat seekor sapi bertotol-totol
yang melintas di depannya dalam arus air dengan kuku-kukunya teracung ke langit. Lalu,
sapi itu tenggelam dan dia tak lagi bisa melihat kukunya, atau tanduknya, atau apa pun
dari sapi itu. Dia begitu sibuk menarik cabang-cabang dan dahan-dahan pohon dari air
untuk dibuat kayu bakar sehingga tak punya waktu untuk memperhatikan apakah sapi itu
timbul lagi dari aliran air.
Jadi, kami tak tahu apakah anak sapi itu masih hidup atau dia mengikuti induknya hanyut
di sungai. Semoga Tuhan menolong keduanya jika itu terjadi. Permasalahan rumah tangga
kami bisa makin rumit karena Tacha kini tak punya apa-apa lagi. Maksudku, ayahku telah
bekerja keras untuk membeli La Serpentina saat dia masih anak sapi mungil agar ayahku
bisa menghadiahkannya kepada Tacha. Dengan begitu, Tacha akan memiliki sedikit modal
dan tak akan tumbuh menjadi pelacur seperti kedua kakak perempuanku.
Menurut ayahku, kedua kakakku menjadi pelacur karena kami sangat miskin. Mereka tidak
puas dan mulai menggerutu saat beranjak remaja. Begitu mereka dewasa, mereka mulai
berkeliaran dengan lelaki-lelaki berandal, belajar segala hal buruk. Dan mereka belajar
dengan cepat. Mereka mengerti siulan lirih ketika para lelaki berdiri di luar rumah kami
dan memanggil mereka di tengah malam. Belakangan, mereka bahkan berani
melakukannya saat siang hari. Mereka akan pergi ke sungai beberapa kali sehari dan
terkadang kau akan mengagetkan mereka saat membuka pintu kandang dan tanpa
sengaja menemukan mereka bergumul tanpa busana dengan tubuh si lelaki menindih di
atas.
Akhirnya, ayahku mengusir mereka. Dia telah berusaha mengurus mereka sebisa-bisanya,
tapi akhirnya dia tak tahan lagi dan menendang mereka ke jalanan. Mereka lalu pergi ke
Ayutla atau ke suatu tempat, aku tak yakin ke mana. Tapi aku tahu mereka menjadi
perempuan jalang.
Itu sebabnya ayahku sangat cemas soal Tacha. Dia tak ingin Tacha mengikuti jejak kedua
kakaknya. Ayahku ingin Tacha tumbuh menjadi perempuan baik-baik dan menikahi lelaki
yang baik. Dan La Serpentina akan menjadi tabungan baginya jika dia dewasa. Dengan
sapi itu, Tacha tidak akan terus-menerus memikirkan betapa miskinnya kami. Tapi kini
semuanya menjadi sulit. Padahal, bisa dibilang siapa pun akan berani menikahinya jika
saja dia tetap memiliki sapi cantiknya itu.
Satu-satunya harapan kami adalah bahwa anak si sapi betina masih hidup. Semoga Tuhan
tak membiarkan anak sapi mungil itu mengikuti jejak induknya masuk ke sungai. Sebab,
jika itu yang terjadi, adikku Tacha akan terancam memilih jalan yang salah dan ibuku tak
mau itu terjadi.
Ibuku bilang, dia tak tahu mengapa Tuhan menghukum kami begitu berat dengan
memberinya anak-anak perempuan sejalang itu. Tak pernah ada wanita jalang di dalam
keluarganya sebelumnya sejak neneknya hingga kini. Mereka semua dibesarkan untuk
takut kepada Tuhan serta patuh dan penuh rasa hormat. Dia mencoba mengingat
kesalahan apa yang pernah diperbuatnya sehingga dia sampai melahirkan pelacur demi
pelacur dari rahimnya. Namun, dia tak bisa mengingat dosa atau kejahatan apakah yang
pernah diperbuatnya. Setiap kali dia teringat kedua anak perempuannya itu, dia menangis
dan berkata, Semoga Tuhan memberikan kebaikan kepada mereka.
Namun, ayahku bilang tak ada gunanya memikirkan mereka. Mereka memang jalang. Yang
perlu dicemaskan adalah Tacha. Dia tumbuh begitu cepat dan dadanya mulai kelihatan
ranum seperti kakak-kakak perempuannya, mencuat dan membusung sehingga membikin
kami cemas.
Ya, ujar ayahku, semua lelaki menatapnya penuh minat dan dia membalasnya.
Tunggulah saatnya tiba dan dia pun akan berakhir menjadi jalang seperti kakak-kakaknya.
Maka, Tacha menjadi kecemasan terbesar ayahku.
Dan kini Tacha menangis karena dia tahu sungai telah membunuh La Serpentina. Dia
berdiri di sampingku, berbaju merah, menatap sungai dan menangisi sapi betinanya. Air
mata tak henti mengaliri wajahnya, membuat kita membayangkan dia memiliki sungai di
dalam dirinya.
Aku melingkarkan sebelah tangan merangkulnya untuk menghibur hatinya, tapi dia tak
mengerti. Dia menangis lebih nyaring dan suara isakannya bagaikan arus banjir yang
memukul-mukul tepian sungai. Kini seluruh tubuh Tacha menggigil. Banjir terus meluap
dan percikan air kotor dari sungai mengotori wajah adikku itu. Sepasang payudara
mungilnya bergerak naik turun saat dia tersedu seakan-akan hendak meledak dan
menghancurkannya.(*)

Juan Rulfo (1917-1986) adalah penulis Meksiko. Cerita pendek di atas dialihbahasakan
oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris George Schade.

Cerpen Juan Rulfo (Koran Tempo, 6 Oktober 2013)


Pembunuhan Karakter

DIA mulai membaca novel itu beberapa hari sebelumnya. Dia meninggalkan novel itu
sejenak karena ada beberapa rapat bisnis penting, lalu membukanya lagi saat naik kereta
api di jalan pulang menuju tanah kediamannya. Dia biarkan daya tarik alur cerita dan
pembentukan karakter dalam novel itu tumbuh dalam dirinya. Sore itu, setelah menulis
sepucuk surat yang memberikan kuasa kepada pengacaranya dan mendiskusikan
kepemilikan bersama dengan pengelola tanahnya, dia kembali membaca buku itu dalam
ketenangan ruang kerjanya yang berpemandangan taman dengan pohon-pohon ek. Duduk
berselonjor di kursi bersandaran tangan kesukaannya, dengan punggung menghadap
pintubahkan sekadar kemungkinan adanya gangguan akan membuatnya kesal
dibiarkannya tangan kirinya mengelus berulang-ulang kain beludru hijau pembalut kursi
dan bersiap membaca bab-bab terakhir. Tanpa susah-payah dia mengingat nama-nama
karakter cerita dan gambaran dalam benaknya tentang mereka. Novel itu bisa dibilang
langsung memukaunya sejak mula. Dia merasakan kesenangan yang nyaris keji seiring
terpisahnya dia dengan benda-benda di sekitarnya sebaris demi sebaris, dan pada saat
bersamaan merasakan kepalanya bersandar nyaman pada kursi beludru hijau bersandaran
tinggi, juga menyadari bahwa batang-batang rokok terletak dalam jangkauan tangannya
dan bahwa di luar jendela besar udara senja menari-nari di bawah pohon-pohon ek di
taman. Kata demi kata menggambarkan dilema cabul tokoh lelaki dan perempuan,
membawanya terserap ke titik di mana imaji-imaji terbentuk dan berwujud dengan
segenap warna dan gerak. Dia menjadi saksi pertemuan terakhir di sebuah pondok di
pegunungan. Si perempuan tiba lebih dulu, gelisah. Kini si lelaki masuk, wajahnya terluka
oleh sabetan dahan pohon. Dengan penuh nafsu, si perempuan menyeka darah di pipi si
lelaki dengan ciuman. Namun, si lelaki menampik sentuhannya. Dia tidak datang ke situ
untuk melakukan lagi upacara penuh gairah raksasa yang terlindungi oleh sebuah dunia
penuh daun-daun kering dan jalan setapak tersembunyi di tengah hutan. Sebilah belati
tersimpan di dada si lelaki, tersembunyi rapat-rapat. Percakapan penuh engah dan gairah
berpacu halaman demi halaman seperti liukan ular, dan seseorang merasa itu telah
diputuskan dalam keabadian. Sentuhan demi sentuhan menggelinjangkan tubuh si lelaki,
seolah-olah menjaga agar dia tetap berada di sana, mencegahnya melakukan niat semula.
Mereka memutuskan orang ketiga harus dihancurkan. Tiada yang dilupakan: alibi, bahaya
tak terduga, kesalahan yang mungkin terjadi. Sejak saat ini, masing-masing memiliki tugas
yang harus dilaksanakan secara saksama. Pengecekan hal-hal kecil yang dilakukan dua
kali dan dengan dingin nyaris berakhir sehingga tangan si perempuan bisa mengelus lagi
pipi si lelaki. Hari mulai gelap.

Tanpa saling menatap, terpusat pada tugas masing-masing yang telah menanti, mereka
berpisah di pintu pondok. Si perempuan mengambil jalan menuju utara. Di jalan setapak
yang menuju arah berlawanan, si lelaki menoleh sejenak untuk melihat si perempuan
berlari, rambutnya tergerai dan melayang. Si lelaki lalu berlari, merunduk di antara
pepohonan dan pagar tanaman sampai dia bisa mengenali jalanan berpagar pohon-pohon
ek yang mengarah ke sebuah rumah di sela kabut senja kekuningan. Anjing-anjing
semestinya tidak menyalak, dan memang mereka tidak menyalak. Si pengelola tanah
biasanya tak berada di sana pada jam seperti ini, dan memang tak ada. Si lelaki menapaki
beranda berjarak tiga langkah dan masuk ke dalam rumah. Kata-kata si perempuan
terngiang di telinganya: pertama ada ruangan bercat biru, lalu aula, kemudian tangga
berlapis karpet. Di lantai atas ada dua pintu. Di ruangan pertama tak ada orang, ruang
kedua juga kosong. Pintu ruang minum. Laludengan belati terhunus di tangan, cahaya
menyeruak dari jendela besartampak punggung kursi tinggi bersandaran lengan berlapis
beludru hijau dan kepala seorang lelaki yang sedang duduk di kursi membaca sebuah
novel.(*)

Julio Cortazar (1914-1984) adalah pengarang Argentina. Cerita di atas diterjemahkan


oleh Anton Kurnia dari Continuity of Parks, terjemahanPaul Blackburn dari bahasa
Spanyol.

Cerpen Julio Cortazar (Koran Tempo, 13 Juli 2014)


Penembak Jitu
PETANG bulan Juni yang panjang telah pudar menjadi malam. Selain redup sinar bulan, yang menerobos bongkah-
bongkah awan putih-lembut dan menyiramkan berkas-berkas pucat di jalanan dan perairan gelap di sekitar Liffey, hanya
kegelapan yang menyelimuti Dublin. Di sekitar Four Courts yang terkepung, senjata berat meletup-letup. Di seluruh
penjuru kota itu, senapan mesin dan bedil mencabik-cabik kesunyian malam tanpa henti seperti anjing yang menyalak-
nyalak di sebuah peternakan terpencil. Kaum pendukung Republik dan Free State masih sengit bertempur.
Seorang penembak jitu Republik berjaga di atap sebuah gedung dekat Jembatan OBridge. Senapan teronggok di sisinya
dan tali teropong terkulai di atas bahunya. Wajahnya adalah wajah seorang mahasiswa yang tirus dan mirip pertapa,
namun dengan tatapan seorang fanatik yang berkilat-kilat di matanya. Mata itu dalam dan bijak, mata seorang lelaki
yang telah terbiasa menatap kematian.

Ia tengah makan sandwich dengan lahap. Perutnya belum kemasukan apa-apa sejak pagi. Ia terlalu gugup untuk makan.
Ia memandaskan sandwich, mengambil sebotol wiski dari sakunya, dan meneguk sekali. Ia terdiam
sejenak, menimbang-nimbang apakah ia berani mengambil risiko denganmerokok. Sangat berbahaya. Kerlip api dapat
terlihat dalam kegelapan dan banyak musuh sedang berjaga di luar sana. Ia memutuskan untukmengambil risiko itu.

Setelah menjepitkan sebatang rokok di antara bibirnya, ia menyalakan sebatang korek api, mengisap asap cepat-cepat
dan mematikan korek. Hampir seketika itu juga, sebutir peluru menghantam dinding kecil pembatas atap. Si penembak
jitu mengisap rokok sekali lagi lalu mematikannya. Lalu ia memaki dengan suara pelan dan merayap ke kiri.

Dengan hati-hati, ia mendongak dan mengintip melalui dinding kecil pembatas atap. Kerlipan api terlihat lalu sebutir
peluru mendesing di atas kepalanya. Cepat-cepat ia tiarap. Ia telah melihat kerlipan api di seberang jalan itu.

Ia berguling ke arah cerobong di bagian belakang atap lalu pelan-pelan berlindung di balik cerobong hingga matanya
sejajar dengan bagian atas dinding kecil pembatas atap. Tak terlihat apa punhanya garis tepi atap rumah seberang yang
tampak kabur berlatar langit biru. Musuhnya tersembunyi.

Sebentar kemudian, sebuah mobil lapis baja melintasi jembatan dan melaju pelan di jalan. Mobil itu berhenti di
seberang, sekitar lima puluh yard dari si penembak jitu. Ia dapat mendengar deru mesin mobil itu.

Jantungnya berdetak lebih keras. Itu mobil musuh. Ia ingin menembak, namun ia tahu akan sia-sia saja. Pelurunya tak
akan pernah sanggup mengoyak lempengan baja yang melapisi monster abu-abu itu.

Lalu, dari sudut sebuah gang, muncul seorang wanita tua berkerudung selendang compang-camping. Ia berbicara kepada
tentara yang bersiap di menara senjata mobil itu. Ia menunjuk-nunjuk atap tempat si penembak jitu tiarap. Seorang
informan.

Menara senjata terbuka. Kepala dan bahu seorang lelaki tampak dan menatap ke arah si penembak jitu. Si penembak jitu
membidik dan menembak. Kepala itu tersentak ke dinding menara senjata. Si wanita tua lari tergopoh-gopoh ke
seberang jalan. Si penembak jitu kembali menembak. Wanita tua itu terhuyung sebentar lalu roboh seraya mengerang di
selokan.

Tiba-tiba dari atap gedung seberang jalan sebuah letusan terdengar dan si penembak jitu melemparkan senapannya
seraya menyumpah-nyumpah. Senapannya terlempar dengan suara berisik di atap. Si penembak jitu berpikir bunyi
gaduh itu bisa membangkitkan orang mati. Ia berkisar untuk meraih senapan itu tetapi ia tak mampu mengangkatnya.
Lengannya tak terasa. Aku tertembak, gumamnya.

Tiarap di atap, ia merangkak kembali ke dinding kecil pembatas atap. Dengan tangan kirinya, ia meraba lengan
kanannya yang terluka. Darah mengucur membasahi lengan bajunya. Tak ada rasa sakithanya sensasi tanpa rasa,
seolah-olah lengan itu telah terpotong.

Cepat-cepat ia menghunus belati dari saku, membukanya di dinding pembatas atap, lalu mengoyak lengan bajunya.
Sebuah lubang menganga di tempat peluru itu masuk. Di sisi lainnya tidak ada lubang. Peluru itu bersarang dalam
tulang.

Tulangnya pasti sudah hancur. Ia menekuk siku di bawah luka itu. Sikunya terkulai begitu saja. Ia mengertapkan gigi
untuk mengatasi rasa sakit.

Lalu, setelah mengeluarkan perban, ia menyobek bungkusan itu dengan belati. Ia membuka leher botol yodium dan
menuang cairan dingin itu pada lukanya. Rasa perih yang hebat meluapi sekujur tubuhnya. Ia meletakkan kapas di atas
luka dan melilitkan perban di atasnya. Ia menyimpulkan perban itu dengan giginya.
Lalu ia tiarap tanpa bergerak di samping dinding kecil pembatas atap, dan, setelah memejamkan mata, ia menghimpun
tekad untuk mengatasi rasa sakit.

Di bawah sana, jalan sepi sekali. Mobil lapis baja telah mundur dengan sigap ke dekat jembatan, dengan kepala
penembak senapan mesin terkulai tanpa nyawa di menara senjata. Mayat wanita tua itu masih teronggok di selokan.

Selama beberapa saat, si penembak jitu tetap bertiarap untuk merawat lengannya yang terluka dan menyusun rencana
untuk meloloskan diri. Dia tidak boleh tetap di atap dalam keadaan terluka saat pagi tiba. Musuh di atap gedung
seberang pasti menutup semua jalan keluar. Ia harus membunuh musuh itu, namun ia tak bisa menggunakan
senapannya. Ia hanya dapat menggunakan revolver. Lalu sebuah rencana terbersit di pikirannya.

Ia melepaskan topi lalu meletakkannya di moncong senapan. Lalu ia mendorong senapan itu perlahan- lahan ke atas
dinding kecil pembatas atap sehingga topi dapat terlihat dari gedung di seberang jalan. Hampir seketika itu juga
terdengar letusan, dan sebutir peluru mengoyak topi itu. Si penembak jitu memiringkan senapannya ke depan. Topi
terjatuh ke jalan. Lalu, sambil memegang bagian tengah senapan, si penembak jitu menjatuhkan tangan kirinya di atap
dan membiarkannya menggelantung tanpa bergerak. Sejenak kemudian, ia melepaskan senapannya ke jalan. Lalu ia
merayap mundur di atas atap seraya menarik tangannya.

Seraya berdiri dengan cepat, ia mengintip dari sudut atap. Siasatnya berhasil. Penembak jitu musuh itu, karena melihat
topi dan senapan yang jatuh, mengira ia telah berhasil membunuh sasarannya. Sekarang ia berdiri di depan barisan
cerobong, menatap ke arah seberang, dengan kepala yang membentuk siluet terlihat dengan jelas berlatar langit barat.

Penembak jitu Republik itu tersenyum dan mengangkat revolvernya ke tepi dinding kecil pembatas atap. Jaraknya
sekitar lima puluh yard tembakan yang sulit dalam cahaya remang dan lengan kanannya sakit bukan kepalang. Ia
membidik. Tangannya gemetar karena gembira. Seraya mengatupkan bibir, ia menghela napas melalui hidung dan
menembak. Ia hampir tuli oleh bunyi letupan itu dan lengannya bergetar oleh rekoil.

Lalu, saat asap menyisih, ia mengintip dan berseru gembira. Musuhnya tertembak. Lelaki itu terhuyung-huyung sekarat
di dinding kecil pembatas atap. Ia berjuang untuk berdiri, namun dengan pelan ia terhuyung ke depan seperti dalam
mimpi. Senapan terlepas dari tangannya, membentur dinding kecil pembatas atap, terpelanting, membentur tiang
sebuah kios tukang cukur di bawah dan kemudian berderak di trotoar.

Lalu lelaki yang sekarat di atap itu semakin terhuyung dan akhirnya jatuh. Badannya berguling-guling di udara dan
berdebum membentur tanah. Lalu mayat itu tergeletak tanpa bergerak.

Si penembak jitu melihat musuhnya terjatuh dan ia menggigil. Gairah pertempuran dalam dirinya telah padam. Ia
tercekam penyesalan. Butir-butir keringat mengucuri keningnya. Lemah karena luka dan puasa yang panjang di hari
musim panas dan berjaga di atap, ia mengalihkan pandangan dari jasad remuk musuhnya yang telah mati itu. Giginya
gemeretak, ia mulai meracau, mengutuk perang, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk semua orang.

Ia menatap revolver yang masih berasap di tangannya, lalu seraya memaki ia melemparkan revolver itu ke atap. Suara
letupan menyusul jatuhnya revolver itu dan peluru mendesing di samping kepala si penembak jitu. Terkejut, ia kembali
merasakan ketakutan. Syarafnya kembali tenang. Kabut ketakutan berhamburan dari pikirannya dan ia tertawa.

Setelah mengambil botol wiski dari sakunya, ia mengosongkan botol itu dengan sekali teguk. Ia merasa nekat karena
pengaruh minuman keras itu. Ia memutuskan untuk meninggalkan atap sekarang dan melapor kepada komandan
kompinya. Sepi ada di mana-mana. Tidak berbahaya jika menyeberang jalan. Ia meraih revolver dan menyarungkannya
lagi. Lalu ia merangkak menuruni jendela loteng rumah di bawahnya.

Saat mencapai gang yang sejajar dengan jalan, tiba-tiba si penembak jitu merasa ingin tahu identitas penembak jitu
musuh yang baru saja dibunuhnya. Ia menganggap musuhnya itu cukup jitu, siapa pun dia. Ia bertanya-tanya apakah ia
mengenal musuhnya itu. Mungkin mereka pernah satu kompi sebelum pemisahan Angkatan Darat. Ia memutuskan
untuk mengambil risiko dengan memeriksa musuhnya itu. Ia mengintip dari sudut Jalan OConnell. Ada tembak-
menembak sengit di hulu jalan, namun di sekitar sini hanya ada kesunyian.

Si penembak jitu melesat menyeberangi jalan. Sebuah senapan mesin menghamburkan peluru yang mencabik-cabik
tanah di sekitarnya namun ia berhasil lolos. Cepat-cepat ia bertiarap di samping mayat itu. Senapan mesin telah sepi.
Lalu si penembak jitu membalikkan mayat itu dan melihat wajah kakak laki-lakinya sendiri.

Liam OFlaherty (1896-1984) adalah penulis novel dan cerita pendek Irlandia. Ia pernah bertempur di pihak Republik
dalam Perang Saudara Irlandia yang berlangsung sebelas bulan, tak lama setelah Irish Free State didirikan pada 6
Desember 1922. Irish Free State mencakup seluruh Irlandia, termasuk daerah yang kini dikenal sebagai Republik
Irlandia Utara. Irish Free State resmi dibubarkan pada 29 Desember 1937. Cerita pendek di atas diterjemahkan oleh An.
Ismanto.

Cerpen Liam OFlaherty (Koran Tempo, 21 Juli 2013)


Sepatu

BOLEH jadi ini gurauan belaka, tapi ini telah menjadi sebuah kisah, kisah semua orang. Tak
seorang pun yang tahu sebabnya Nizar bersikeras pergi ke Ramallah. Situasinya tidak
mendukung--pos-pos pemeriksaan militer, cacian, perjalanan yang sangat meletihkan melintasi
perbukitan dan mengatasi tembok berlumpur. Meski begitu, dengan penuh tekad, Nizar
bersikeras: Ada suatu persolan yang harus dipecahkannya di Ramallah. Ia harus pergi. "Aku bisa
menanggung beban selama di perjalanan... kita sudah terbiasa dengannya... itu sudah jadi hal
yang normal bagi kita. Orang-orang Israel itu tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan itu
telah membalik segalanya yang tidak wajar dalam kehidupan kita menjadi wajar-wajar saja...
apalagi yang bisa kita perbuat? Duduk-duduk saja sampai mati, menanti apa?"

Ia masuk ke dalam mobil dan pergi. Ia harus mencapai Ramallah, dengan cara bagaimanapun
juga.

Mobil-mobil melintasi perbukitan, melalui satu kilometer jalan beraspal dan kilometer berikutnya
jalanan berlumpur. Nizar mengalihkan tatapannya ke perbukitan. Orang-orang selalu menemukan
cara untuk mengitari pos-pos pemeriksaan. Jalan-jalan yang kecil menjadikan mereka ahli dalam
menghindari pos pemeriksaan, perintah, keletihan, dan keadaan buruk lainnya. Mereka bagaikan
sebuah koloni semut yang selalu mendapatkan jalan keluar, solusi, saat rumah dan jalanan
mereka dihancurkan. Mereka cerdik dalam menghindar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Selama
berhari-hari, semut-semut ini menggali dengan mulut dan kaki mereka yang mungil, mengangkut
butiran tanah ke tempat-tempat yang jauh sekali. Mereka membuat lubang yang sangat kecil tapi
cukup. Mereka akan meneruskan perjalanan seakan tidak ada kejadian apa-apa. Boleh jadi
sebentar kemudian, sengaja atau tidak, salah seorang dari mereka akan meruntuhkan lubang itu.
Semut-semut pun berhenti, menggerak-gerakkan antena mereka dengan gelisah, melihat
keributan yang terjadi, merubunginya, lalu meroyakinya lagi dan mulai bekerja.

Di jalanan yang berlumpur, orang-orang terlihat seperti gundukan-gundukan hitam kecil,


bergerak berurutan. Sekumpulan manusia ini berjalan terpincang-pincang, berhenti, berjalan
maju, lalu mundur. Mereka akan menempuh apa pun untuk mencapai tujuan mereka. Mereka
berjalan seakan-akan melalui neraka Dante. Di jalan yang sesungguhnya, mereka berimpit-
impitan. Mereka memanjat dan melompati tembok berlumpur. Sejam kemudian, bisa jadi ada
buldozer-buldozer yang menghancurkan jalan-jalan mereka dengan bebatuan, tanah, dan balok-
balok semen. Bungkalan-bungkalan hitam itu terhenti, memandangi, dan berpaling pada diri
mereka sendiri, pada penderitaan mereka, pada keringat dan air mata mereka, namun lagi-lagi
menemukan jalan yang baru, membuatnya, menjumpainya, dan melanjutkan dengan
kekeraskepalaan mereka yang abadi.
Nizar bergerak seperti yang lain-lainnya. Dicekam amarah, ia menempuh jalan semut seraya
menyerapah. Kakinya terasa nyeri. Ia terjatuh, bangkit, berpegangan pada tangan seorang lelaki
tua dan bersama-sama mereka melanjutkan pendakian yang sulit. Ia harus mencapai Ramallah.
Seketika, barangkali kedatangannya itu sendiri yang menjadi tujuannya--kesanggupannya untuk
menjadi keras kepala, untuk menonjolkan dirinya sehingga kedatangannya saja sudah merupakan
suatu kemenangan, dan itu sudah cukup.

Waktu berjalan dengan lamban. Panas dan berdebu. Tembok, senapan, tentara, pemeriksaan
kartu identitas, antrean panjang, serapah, dan cacian. Segalanya bercampur aduk. Maju atau
mundur deritanya sama saja. Di belakang, ada tembok dan cacian. Di depan, sama saja. Jadi,
majulah ia. Bukankah kedatangannya, kesanggupannya mengatasi derita merupakan perlawanan
terhadap patahnya kesetaraan? Segenap bangsa menemukan jalan melangkahi logika dan akal
sehat yang dengan sendirinya menguatkan logika yang mengatakan, Berjuang atau Mati.

Tenggelam dalam khayalannya, Nizar mendaki pengharapannya dengan kakinya yang menjejak
jemu. Setiap bukit menjadi rintangan yang harus diatasinya, memupuk ketabahannya. Setiap
tawa menjadi cara untuk bertahan, seakan ialah orang bahagia di bumi. Meski begitu ia akan
merasa betul-betul bahagia saat tertawa tergelak-gelak.

Ia terus mengelak dan mendesak, dari mobil ke mobil, dari bukit ke gunung, dari pos
pemeriksaan ke pos pemeriksaan. Ia berjalan terus, sementara jalannya berliku dan menantang,
hingga ia mendapati dirinya dalam keadaan lemas di bangku mobil, terlupa akan apa yang
tengah berlangsung di sekitarnya.

Enam jam selepas subuh bukanlah waktu yang lama, pikirnya dan ia tersenyum. Sebagian orang
menghabiskan sepuluh jam untuk sampai di tempat tujuan mereka, mencapai apa yang harus
dicapai. Ia bergerak semakin dekat ke pos pemeriksaan terakhir di depan kemah pengungsi
Qalandia. Tinggal satu langkah lagi sebelum ia memenangkan perang.

Antrean panjang mobil merentang sepanjang aspal. Mobil Nizar melambat dan berhenti di ujung
barisan. Ia membuka pintu dan turun, melihat-lihat sekelilingnya. Di kedua sisi jalan, semut-
semut bergerak di antara mobil-mobil, dalam debu. Wanita, anak-anak, laki-laki, tua dan muda,
pedagang, pelajar, keledai, semuanya bergerak maju dan mundur. Suara, seruan, bisikan,
permohonan--campuran memusingkan dari orang-orang, dari derita dan daki, dari debu dan
upaya; dan kehidupan.

Ia meninggalkan mobil dan berjalan maju, bergabung dengan iring-iringan pelan di depannya.
Sebuah mobil hitam yang bersih lewat, menimbulkan pusaran debu, meninggalkan serapah pada
jejaknya.

Matahari memanggang puncak kepala orang-orang. Aliran keringat menuruni leher mereka,
menaungi mata mereka. Meski begitu, tidak ada pilihan selain berjalan terus.

Nizar melangkah dengan mantap, sementara telinganya menangkap sedikit-sedikit pembicaraan:


"Mereka tidak akan mengizinkan siapa pun lewat. Hanya mereka yang mendapat surat izin dari
pemerintah."

"Aku harus sampai di Ramallah, ada atau tidak ada surat izin aku tak akan kembali."

Ia mendekati pos pemeriksaan dan berdiri di depan balok-balok semen. Beberapa tentara sedang
berkumpul. Sebagian dari mereka mungkin belum sampai delapan belas tahun usianya. Kumis
mereka saja belum tumbuh. Di depan mereka ratusan pria dan wanita, menanti, mengharap,
berusaha membujuk para tentara dengan apa pun semampu mereka supaya mengizinkan
mereka lewat. Tapi tak ada gunanya permohonan, air mata, usia, penyakit, pendidikan,
universitas, semua itu tak ada gunanya.... "Tidak ya tidak."

Tekanan dan kemacetan menjadi-jadi. Salah seorang tentara melempar bom gas, yang
mengeluarkan bunyi teredam sewaktu meledak dalam kerumunan. Orang-orang berlari, terbatuk-
batuk, pingsan, tapi tak ada gunanya. Tidak ya tidak.

Orang-orang mulai merayap lagi. Nizar pun maju. Ia berdiri di depan balok-balok semen, lalu
bergerak maju ke jalan sempit.

"Hei, kamu mau ke mana? Berhenti!"

"Aku ingin lewat."

"Ada surat izin?"

"Tidak, aku tidak perlu surat izin."

"Maka kembalilah. Dilarang masuk."

"Tapi, tuan, aku harus lewat, aku datang dari jauh, ada urusan penting."

"Aku tak peduli. Dilarang masuk. Kembali atau kutembak."

"Kenapa kau mau menembak? Kau lihat kan aku tidak bersenjata?"
"Aku bilang tidak. Dilarang masuk."

Nizar tertegun. Ia berpaling dan memandang kerumunan melalui bulu matanya yang tersaput
oleh debu, lalu mencoba lagi.

"Tolonglah, jika kau menghendaki kartu identitasku sampai aku kembali, ini, ambillah."

"Aku tak menghendakinya. Di sini dilarang lewat. Ini kata-kataku yang terakhir."

"Kenapa, bung? Apa yang kau inginkan dari diriku? Aku harus sampai di Ramallah."

Tentara itu memandang kejauhan dan kembali menatap wajah Nizar. Ini kesempatan untuk
bermain-main dan bersenang-senang. Ia meminta kartu identitas Mizar. Ia menatap kartu
tersebut, lalu pada Nizar.

"Dengar, aku akan membolehkanmu lewat jika kau melepas topimu."

Nizar menatap tentara itu dengan serius, lalu melepas topi dari kepalanya dan melemparnya
jauh-jauh.

"Sekarang, oleh aku lewat?"

Tentara itu tertawa terbahak-bahak. Matanya mengikuti gerakan topi yang terlontar di antara
kerumunan dan lenyap.

"Kita belum selesai. Ada syarat lainnya jika kau ingin lewat."

Nizar merasa ia telah berhasil meruntuhan rintangan awal berupa penolakan mentah-mentah itu.
Ia mulai mengatur siasat, bernegosiasi.

"Ya, apalagi yang kau inginkan?" tanyanya pada tentara itu.

"Kau harus melepaskan sepatumu dan emninggalkannya di sini, dan mengambilnya saat kau
kembali."

Nizar menatap tentara itu. Ini main-main atau tentara itu memang serius?

"Tidak mungkin. Bagaimana aku akan berjalan dalam cuaca panas begini, belum lagi ada
pecahan kaca, lumpur...."

"Baiklah, jadi kau tak mau? Kembalilah ke tempat asalmu."

Nizar mendunduk dan berpaling sedikit. Ia menatap keramaian dalam terik matahari dan debu.
Seketika, penderitaan seumur hidup kembali muncul ke permukaan.

"Baiklah, aku sepakat," ucapnya tegas.

Ia membungkuk, mencopot sepatunya, dan segera menaruhnya pada balok semen, di depan si
tentara yang terkaget-kaget, tanpa menunggu izin untuk maju.
"Hei, tunggu, masih ada syarat lagi."

Nizar berjalan seakan lupa daratan. Jalanan yang berlumpur itu panas akibat matahari.

"Sebelum kau pergi, aku ingin kau membawakanku segelas teh."

Nizar menatap tentara itu, lalu ke arah kakinya. Keringat bercucuran di tepian pipinya, sedikit
gamang di pucuk dagunya sebelum terjun dan akhirnya lenyap dalam debu yang amat panas.

Ia berjalan perlahan dan berlalu. Lima menit kemudian ia kembali dengan segelas besar teh. Ia
memberikannya pada tentara itu, yang mulai menyesapnya, sambil berolok-olok dan tertawa
dengan tentara-tentara lainnya.

Nizar meninggalkan pos pemeriksaan. Akhirnya ia melintasinya dan dalam perjalanannya menuju
Ramallah. Urusan yang penting itu ialah bahwa ia berhasil lewat.

EMPAT jam kemudian, Nizar kembali. Sebelum sampai di pos pemeriksaan, ia mencopot sepatu
barinya. Ia menaruhnya di sebuah kantong plastik. Kesepakatannya yaitu ia harus kembali
dengan bertelanjang kaki.

Ia melangkah ke arah pos pemeriksaan, pada si tentara.

"Hei, kau lihat sendiri aku sudah kembali. Di mana sepatuku?"

Tentara itu tertawa tergelak-gelak, sambil tangannya menunjuk sepatu di samping balok semen.

Nizar berjalan ke arah sepatunya. Ia memasukkan kaki kanan ke dalam sepatu dan merasakan
adanya cairan panas. Ia terkejut dan mengeluarkan lagi kakinya. Ia memegang sepatu itu dan
menatap si tentara yang sedang bersama empat kawannya. Smeuanya mulai tertawa-tawa.

Nizar membalikkan sepatunya. Cairan kuning keruh bercucuran dari dalam sepatu itu. Ia
mengguncangkan sepatu itu beberapa kali. Ia mencoba mengeringkannya dengan koran.
Halaman-halamannya penuh dengan berita dan gambar para pemimpin politik serta konferensi
tingkat tinggi. Ia bangkit dengan tenang, mengenakan sepatu itu, dan berjalan lewat pos
pemeriksaan. Setelah tiga langkah, ia berhenti mendadak. Ia berbalik dan berjalan kembali,
sambil mendekati balok semen.

"Mau apa kau?" tanya si tentara sambil tertawa sekaligus keheranan.

Nizar diam saja. Ia memandangi orang-orang dan mobil-mobil. Ia mencopot sepatunya dan
menahannya di atas balok semen. Ia menatap lurus-lurus mata si tentara.

"Satu kata terakhir," ucapnya tegas, "yang ingin kusampaikan padamu. Selama kau terus
mengencingi sepatu kami dan kami mengencingi tehmu, tidak akan ada perdamaian di antara
kita. Mengerti?"

Nizar lekas berbalik. Ia lenyap dalam keramaian, tanpa alas kaki. *


Nazzar Ibrahim adalah penulis dari Beit Sahour, Palestina. Cerita ini ditulis dalam bahasa
Arab dan diterjemahkan oleh Dyah Setyowati Anggrahita dari versi Inggris Taline Voskeritchian.
Disalin dari karya Nassar Ibrahim dan diterjemahkan oleh Dyah Setyowati Anggrahita
Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" Minggu 4 Oktober 2015
Anjing
PAS empat kilo.
Mendengar kata-kata itu, seulas senyum mengembang di bibir perempuan itu dan dia menatap anak lelakinya.

Penjaga toko itu berkata lagi, Ini uangnya. Delapan rupee.

Perempuan itu menjulurkan tangan dari balik jubahnya dan meraih uang itu dari tangan si penjaga toko. Dalam sinaran
mentari senja, dia bergegas pulang. Dia berjalan tergesa seraya mencengkeram erat lengan anaknya. Cengkeramannya
begitu kuat sehingga bocah lelaki itu tiba-tiba berkata, Ibu, tanganku sakit.

Ini demi kebaikanmu, Nak. Nah, sudah kulonggarkan, ujar sang ibu dengan suara lembut dan penuh kasih.
Setahun telah lewat sejak dia meninggalkan tanah airnya. Kini dia hidup sengsara di negeri orang, siang dan malam.
Pagi-pagi buta dia dan anaknya meninggalkan tenda mereka untuk mengumpulkan kertas bekas di pasar-pasar dan
lorong-lorong hingga sore tiba. Menjelang malam, mereka mampir di sebuah toko untuk menjual kertas-kertas yang
berhasil mereka kumpulkan seharian. Biasanya mereka dibayar empat atau lima rupee, tapi hari ini dia sedang amat
bersemangat sehingga mereka bisa mendapatkan delapan rupee. Namun, ada kalanya dia mengakhiri hari dengan
tangan hampa.

Hari ini dia pulang ke tenda mereka dengan hati ringan. Di jalan pulang dia membeli roti, teh, dan sedikit gula. Itu pun
uangnya masih bersisa dua rupee. Dia berjalan melintasi tenda-tenda berwarna cokelat dan hitam menuju tendanya.
Saat dia menyingkap permadani usang yang tergantung di depan tenda dan melangkah masuk, didengarnya azan magrib
berkumandang. Dia segera berwudu dan mengerjakan salat, lalu mengambil lampu minyak. Menyadari bahwa tak ada
lagi minyak tersisa, dia menoleh kepada anaknya dan berkata, Nak, minyaknya habis. Ambil uang dan botol ini. Beli
minyak di toko. Lekaslah pergi sebelum benar-benar gelap.

Bocah itu bangkit, mengambil uang dan botol minyak, lalu pergi.

Sepeninggal anaknya, perempuan itu duduk dekat perapian dan mencoba menyalakan api. Ketika api akhirnya menyala,
pikirannya mengembara dan kenangan menyiksanya serupa mimpi buruk. Air mata membasahi sepasang matanya dan
lidah api menjilat udara seakan-akan itu api nestapa pengasingan yang selalu membakar hatinya yang luka dan
membuatnya rindu pulang ke kampung halaman.

Siang malam, di tenda yang temaram, dia mencemaskan masa depan yang tak menentu. Dia mengingat masa lalu, masa
yang tak terlalu jauh, hanya setahun ke belakang, mengenang segala yang dimilikinya saat itu: suami penyayang, rumah,
pekerjaan terhormat dan, yang terpenting, sebuah negara. Namun, kini ia tak punya apa pun, kecuali anaknya. Dia tak
tahu apa yang menimpa sanak saudaranya yang lain: di mana mereka berada, masih hidup ataukah sudah mati. Dan ia
sedih karena anaknya tak bisa bersekolah. Dia terkenang hari-hari saat ia mengajar di sebuah sekolah dasar. Sementara,
kini anaknya tak bersekolah. Dia berupaya mengajari sendiri anaknya berbagai hal seraya terus berharap suatu hari dia
bisa bersekolah.

Paginya, saat dia dan anaknya meninggalkan tenda mereka seperti biasa, angin dingin bertiup kencang. Di langit awan
bergulung dan titik-titik hujan mulai jatuh membasahi bumi. Saat awan gelap kian menebal, rasa cemas dan galau
menyergap perempuan itu. Jika hujan turun, mereka tak akan bisa pergi jauh dan hujan deras pasti akan membasahi
kertas-kertas yang terserak. Mereka bergegas ke pasar besar. Saat mereka nyaris tiba, hujan menderas. Mereka berhenti
di depan sebuah toko yang tutup. Si anak menggeser tubuh lekat ke tubuh ibunya dan mereka menunggu hujan reda.
Lewat sejam kemudian, hujan usai dan mereka pun berjalan merambahi jalan-jalan dan lorong-lorong kota, berharap
menemukan kertas kering. Namun, hingga menjelang sore mereka tak berhasil mendapatkannya, padahal mereka belum
makan siang karena uang yang didapat sehari sebelumnya telah habis.

Saat sore tiba anaknya mengeluh kelaparan. Betapa anehnya, setahun ini dia dan anaknya melewati begitu banyak hari
dengan perut lapar. Kerap kali mereka tak punya sisa uang dari pendapatan hari sebelumnya. Dan anaknya terpaksa
harus mengganjal perut hanya dengan sisa air teh hingga sore, bahkan terkadang sampai malam saat mereka pulang ke
tenda dan mendapat sedikit makanan. Dia telah membiasakan anaknya dengan semua ini, tapi belakangan si anak kerap
memprotes rutinitas ini dan terus mengeluh bahwa ia lapar. Dia berupaya menghiburnya, menjelaskan situasi yang
mereka hadapi, tapi tak berhasil.

Dia tak tahu harus bagaimana. Kepada siapa dia bisa meminta pertolonganke toko tempat ia biasa menjual kertas atau
orang-orang yang berlalu lalang? Untuk melakukan hal semacam itu diperlukan keberanian. Bahkan seorang pemberani
pun belum tentu sanggup melakukannya. Sedangkan dia, membayangkan saja dia tak sanggup, apalagi melakukannya
dalam kehidupan nyata. Tapi kini, anaknya makin rewel karena lapar. Beberapa kali dia mencuri pandang ke sebuah toko
dan beberapa orang yang berlalu lalangmenimbang-nimbang untuk meminta bantuan. Namun, ia tak sanggup
melakukannya. Pada saat itu, gagasan lain terlintas di kepalanya, dan dia berkata kepada diri sendiri, Andai saja aku
berani mengetuk pintu rumah seseorang. Setelah dipikirkannya, dia merasa gagasan inilah yang paling mungkin
sanggup dilakukannya.

Dengan memberanikan diri, dia mendekati sebuah rumah. Tangannya gemetar dan tubuhnya dibasahi keringat. Kembali
dia ragu, jadi mengetuk pintu atau tidak. Hatinya terbelah antara kasih sayang seorang ibu dan rasa malu bercampur
takut. Dia kebingungan dan merasakan jantungnya berdegup kencang. Lidahnya kelu. Akhirnya dia mengetuk pintu itu.
Sejenak kemudian, pintu terbuka dan muncullah seorang perempuan tua. Dengan suara bergetar, dia berkata kepada
perempuan tua itu, Anak saya anak saya kelaparan dan saya tak punya uang. Kalau boleh.

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, perempuan tua itu telah berbalik dan seraya masuk kembali ke dalam rumah dia
berkata, Sebentar, masuklah.

Melalui pintu yang separuh terbuka dilihatnya perempuan tua itu kembali. Sebelah tangannya memegang sebuah
mangkuk, sedangkan tangannya yang lain memegang roti. Pada saat itulah dia mendengar suara seorang perempuan
muda dari dalam rumah, Ibu, aku sudah sering bilang, lebih baik lemparkan saja makanan itu pada anjing daripada
diberikan kepada orang-orang Kabul itu.

Ketika si perempuan tua sampai di depan pintu membawa semangkuk sup dan roti, dilihatnya perempuan dan anaknya
itu telah pergi. Dia melangkah keluar melintasi pintu yang separuh terbuka, mencari-cari ke kedua arah. Dilihatnya
mereka telah sampai di ujung lorong. (*)

Parwin Faiz Zadah Malal adalah perempuan penyair dan penulis prosa dari Kandahar, Afghanistan. Kini menetap di
Karachi, Pakistan. Ia menulis dalam bahasa Pashtun. Cerita di atas diterjemahkan Anton Kurnia dari versi Inggris
Anders Wimark.

Cerpen Parwin Faiz Zadah Malal (Koran Tempo, 18 September 2011)


Mengapa Kalian Tidak Berdansa?

DI dapur ia menuang lagi minuman dan menatap ranjang besar di halaman depan rumahnya. Kasurnya
telanjang dan seprai bergaris-garis terkulai di samping dua bantal di atas meja rias. Selain itu, benda-benda
lainnya tampak seperti posisi semula di ruang tidur meja dan lampu baca di samping ranjang di sisinya, meja
dan lampu baca di samping ranjang di sisi istrinya.

Sisinya, sisi istrinya.

Dia merenungkan ini sambil menyesap wiski.

Meja rias itu terpacak beberapa kaki dari kaki ranjang. Dia telah mengosongkan laci-lacinya ke dalam kardus-
kardus pagi itu yang kini teronggok di ruang tamu. Sebuah pemanas air mungil tergeletak di dekat meja rias.
Satu kursi rotan dengan bantal hiasan berdiri di kaki ranjang. Seperangkat lemari dan meja dapur aluminium
menduduki sebagian jalan masuk halaman. Sehelai kain muslin kuning, yang kebesaran hadiah dari
seseorang menyelubungi meja dan ujung-ujungnya terkulai menggantung di sisi-sisi meja. Sebuah tanaman
tak berbunga ditaruh di dalam vas di atas meja. Beberapa kaki dari meja ini berdiri sebuah sofa dan kursi dan
satu lampu sudut. Meja tergeletak di sudut dekat pintu garasi. Segelintir perkakas berada di atas meja itu
bersama sebuah jam dinding dan dua pigura.

Di jalur keluar mobil juga terdapat sebuah kardus berisi cangkir-cangkir, sejumlah gelas, serta piring-piring yang
masing-masing dibungkus koran. Pagi itu ia telah mengosongkan tempat penyimpanan barang-barang. Selain
tiga kardus di ruang tamu, semua barang telah dikeluarkan dari dalam rumah. Dia mencolokkan gulungan
kabel yang terhubung hingga ke luar sana dan semua perangkat elektronik terhubung pada benda itu. Semua
perangkat itu berfungsi, tak beda dengan saat mereka berada di dalam rumah.

Sesekali sebuah mobil melambat dan orang-orang menatap. Tapi tak satu pun berhenti. Yang satu ini pun
tampaknya tak akan berhenti.

Tampaknya sedang ada bazar barang bekas, kata si cewek di dalam mobil kepada si cowok yang menyetir.
Pasangan cewek dan cowok ini sedang melengkapi perabotan di apartemen mungil mereka.

Ayo kita lihat berapa harga yang mereka minta untuk ranjang itu, kata si cewek.

Dan buat TV itu, ujar si cowok. Si cowok memasukkan mobil ke halaman dan berhenti di depan meja dapur.
Mereka turun dari mobil dan melihat-lihat barang. Si cewek menyentuh kain muslin, si cowok mencolokkan
kabel blender dan menekan tombolnya. Si cewek meraih penggorengan, si cowok menyalakan televisi.

Si cowok lalu duduk di atas sofa seraya menonton televisi. Sebatang rokok dia sulut, menatap berkeliling, lalu
melemparkan korek bekas ke rerumputan.

Si cewek duduk di atas ranjang. Dia melepaskan sepatunya lalu berbaring. Dia seakan-akan melihat sebuah
bintang.

Sini, Jack. Cobalah ranjang ini. Bawa salah satu bantal itu, ujarnya.

Bagaimana rasanya? tanya si cowok.

Cobalah, sahut si cewek.

Si cowok melihat berkeliling. Rumah itu gelap.

Aku merasa lucu, kata si cowok.

Lebih baik memastikan apakah ada yang punya rumah.

Si cewek melambung-lambungkan tubuhnya di atas ranjang.

Cobalah dulu ranjang ini, ujarnya.'

Si cowok berbaring di atas ranjang dan menaruh bantal di bawah kepalanya.

Bagaimana rasanya? tanya si cewek.

Keras, katanya.

Si cewek memiringkan tubuh dan meletakkan tangannya di wajah si cowok.

Cium aku, kata si cewek.

Ayo bangun, tukas si cowok.

Cium dulu, ujar sicewek.

Dia memjamkan mata dan memeluk si cowok. Si cowok menukas, Aku akan memeriksa apakah ada orang di
dalam rumah.
Tapi dia hanya bangkit duduk dan tetap diam di situ, seakan-akan sedang menonton televisi. Lampu-lampu
menyala di rumah-rumah sekitar situ dan di jalanan.

Tidakkah lucu jika..., si cewek menyeringai, tapi tak menyelesaikan kalimatnya.

Si cowok tertawa, tapi tanpa alasan yang jelas. Tanpa alasan pula ia menyalakan lampu baca.

Si cewek menghalau seekor nyamuk sementara si cowok bangkit berdiri dan merapikan kemejanya.'

Aku akan memeriksa apakah ada orang di dalam rumah, ujarnya.

Tampaknya sih kosong. Tapi kalau ada orang, aku akan menanyakan apa yang sedang terjadi di sini.

Berapa pun harga yang mereka minta, tawarlah sepuluh dolar lebih rendah. Biasanya begitu, ujar si cewek.

Lagi pula, mereka barangkali sedangn putus asa atau semacamnya.

TV ini bagus, sahut si cowok.

Tanyakan berapa harganya, timpal si cewek.

Si lelaki muncul dari arah samping rumah dengan membawa bungkusan. Dia baru membeli roti, bir, dan wiski.
Ia melihat sebuah mobil di halaman dan si cewek di atas ranjang. Ia juga melihat televisi
menyala dan si cowok di beranda rumah.

Hai, sapa lelaki itu kepada si cewek. Kamu sudah mencoba ranjangnya. Nyaman, kan?

Hai, ujar si cewek seraya bangkit.

Saya hanya mencoba-coba. Dia menepuk-nepuk ranjang itu.

Ranjang yang bagus.

Ya, ranjang yang bagus, sahut si lelaki seraya menaruh kantung belanjaannya lalu mengeluarkan botol bir
dan wiski.

Tadinya kami kira tak ada orang, kata si cowok menimbrung.

Kami tertarik membeli ranjang ini dan mungkin TV. Barangkali juga bufet itu. Berapa harga ranjang ini?

Mungkin lima puluh dolar saja, kata si lelaki.

Bagaimana kalau empat puluh? tawar si cewek.

Bolehlah, sahut si lelaki.

Ia mengeluarkan sebuah gelas karton.


Ia lepaskan koran yang membungkus gelas itu lalu membuka tutup botol wiski.

Kalau TV berapa? tanya si cowok.

Dua lima.

Boleh lima belas? tanya si cewek.

Baiklah. Lima belas, sahut si lelaki. Si cewek menatap si cowok.

Kalau kalian mau minum, ada gelas di dalam kardus, kata si lelaki.

Aku mau duduk di sofa.

Si lelaki duduk di sofa, bersandar, dan menatap si cewek dan si cowok. Si cowok mengambil dua buah gelas
dan menuangkan wiski.

Cukup, ujar si gadis. Aku mau wiskinya dicampur air putih. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di muka
meja.

Ada air minum di wadah air sebelah sana, kata si lelaki.

Nyalakan saja.

Si cowok kembali dengan membawa wiski campur air. Ia berdeham dan duduk di muka meja. Ia menyeringai.
Tapi ia tak minum sedikit pun. Si lelaki menatap sekilas ke televisi. Ia menghabiskan minumannya lalu mengisi
lagi gelasnya. Ia menjulurkan tangan untuk menyalakan lampu sudut. Saat itulah rokoknya terlepas dari jepitan
jemarinya dan jatuh di antara bantal-bantal sofa.

Si cewek bangki t untuk menolongnya mengambil rokok itu.

Mau yang mana lagi? tanya si cowok kepada si cewek.

Si cowok mengeluarkan buku cek dan menggigitnya seraya berpikir.

Aku mau bufet itu, kata si cewek.

Berapa harganya?

Si lelaki mengibaskan tangan. Berapa maunya? katanya.

Ia menatap mereka yang tengah duduk di muka meja. Dalam cahaya lampu ada sesuatu dalam wajah mereka.
Tampak baik atau mungkin tampak licik. Sukar ditebak.

Aku akan mematikan TV dan menyalakan musik, ujarnya. Pemutar piringan hitam ini masih berfungsi.
Murah. Tawar saja. Ia menuangkan lagi wiski dan membuka botol bir.
Semuanya dijual, ujar si lelaki. Si cewek memegang gelas dan si lelaki menuangkan minuman.

Terima kasih, kata si cewek. Anda baik sekali, tambahnya.

Ini bisa bikin teler, ujar si cowok. Ia mengangkat gelasnya dan menggoyang-goyangkannya.

Si lelaki menenggak habis minumannya lalu mengisi lagi gelasnya. Lalu dia mengambil kardus berisi piringan
hitam.

Pilihlah, ujar si lelaki kepada si cewek seraya menyodorkan kardus berisi piringan hitam itu kepadanya.

Si cowok menulisi cek.

Ini, ujar si cewek, memilih secara acak, karena dia tak mengenal nama-nama di label piringan hitam itu. Dia
bangkit sejenak lalu duduk lagi. Dia agak pegal.

Saya pakai cek, tak cukup uang tunai, kata si cowok.

Boleh, sahut si lelaki.

Mereka minum dan mendengarkan musik. Lalu si lelaki mengganti piringan hitam. Mengapa kalian tidak
berdansa, Nak? Ia memutuskan akan mengatakan hal itu dan kemudian benar-benar mengucapkannya.

Mengapa kalian tidak berdansa?

Ah, tidak, sahut si cowok.

Ayolah, ujar si lelaki. Ini halaman rumahku. Kalian boleh berdansa kalau mau.

Dengan lengan berpelukan, tubuh bersentuhan, si cowok dan si cewek bergerak maju mundur di halaman itu.

Mereka berdansa. Ketika musik berhenti berputar, mereka berdansa sekali lagi.

Lalu si cowok berkata, Aku mabuk. Si cewek menukas,

Kamu tidak mabuk.

Aku mabuk, kata si cowok. Si lelaki memutar lagi piringan hitam dan si cowok berkata, Aku mabuk.

Berdansalah denganku, kata si cewek kepada si cowok, lalu kepada si lelaki. Ketika si lelaki bangkit dari
duduknya, si cewek menghampirinya dengan lengan terkembang.

Orang-orang di sana itu menonton kita, ujar si cewek.

Tak apa-apa, kata si lelaki. Ini tempatku, ujarnya.

Biar saja mereka menonton, kata si cewek.


Betul, ujar si lelaki.

Mereka mengira mereka telah melihat segala yang ada di sini. Tapi mereka belum melihat ini, kan? Ia
merasakan dengus napas gadis itu di lehernya.

Kuharap kamu menyukai ranjangmu, katanya.

Si cewek memejamkan mata lalu mengerjap membuka mata. Dia menyurukkan wajahnya ke bahu si lelaki.
Diraihnya lelaki itu lebih dekat ke tubuhnya.

Anda pasti sedang putus asa atau yang semacam itu, kata si cewek.

Beberapa minggu kemudian, gadis itu berkata, Lelaki itu berumur separuh baya. Semua harta bendanya ada
di halaman itu. Sungguh. Kami mabuk dan berdansa. Di halaman. Ya, Tuhan. Jangan
tertawa. Ia memutarkan kami musik dari piringan hitam. Lihatlah pemutar piringan hitam ini. Lelaki itu
memberikannya kepada kami dengan seluruh piringan hitam tua ini. Kamu mau lihat?

Dia terus berceloteh. Dia mengatakan semua itu kepada semua orang. Sebenarnya ada hal lain yang ingin dia
coba ungkapkan. Namun, setelah beberapa waktu, dia tak pernah berhasil mengatakannya. Maka dia pun
berhenti mencoba. (62)

Raymond Carver (1938-1988) adalah cerpenis legendaris Amerika Serikat yang hidupnya
dibayangi oleh ketidakbahagiaan rumah tangga dan kecanduan alkohol. Cerpen di atas
diterjemahkan Anton Kurnia dari Why Dont You Dance? dalam kumpulan cerita What We
Talk About When We Talk About Love. Cerpen ini kemudian difilmkan sebagai Everything Must
Go. Adapun, Birdman, film terbaik di ajang Academy Award 2015 diilhami cerpen lain Carver
yang dijadikan judul buku itu.
Disalin dari karya Raymond Carver yang diterjemahkan Anton Kurnia dari Why Dont You
Dance?
Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 27 September 2015
Mati
AKU harus mengalami mati untuk tahu apakah ada orang yang mencintaiku. Ketika aku hidup, aku tak dikenal, dan
menjadi masalah besar bagiku menyadari betapa kerasnya aku berjuang tanpa keberhasilan apa pun. Di rumah, jika aku
tidak memulai satu percakapan, istri dan anak-anakku merasa bahwa waktu yang harus mereka berikan untukku
semata-mata hanya untuk masalah-masalah praktis. Di tempat kerja, ketika aku tak masuk kerja karena sakit, tak ada
yang menyadari ketidakhadiranku. Oleh karena itu, reaksi yang bermunculan atas kematianku tidak mengejutkanku lagi.
Keprihatinan yang sekadarnya tampak menerpa keluargaku, lebih berupa perasaan kesal yang menyertai situasi seperti
inidan sejumlah kecemasan akan masalah keuangan daripada perasaan kehilangan yang tak terelakkan.
Begitu sudah jelas bahwa mereka akan menerima pembayaran dari asuransi jiwa, anak-anakku kembali bersikap normal
seperti biasa. Hanya ketika anak perempuanku yang paling kecil membelai peti mati murahan tempat aku
disemayamkan di ruangan duka direktur pemakaman, aku baru melihat adanya ekspresi duka cita. Aku membayangkan
dan mengenang masa kecilku karenanya. Sebagian besar orang yang datang ke pemakamanku melihat-lihat arloji
mereka saat pemuka agama menguarkan khotbah panjang lebar yang aku sukai. Tak ada sebulir pun air mata menetes.
Keheningan yang santun selama layatan juga menunjukkan kesan yang sama, ditandai dengan ekspresi duka cita yang
penuh kepura-puraan belaka.

Istriku menunjukkan sikap tenang setelah pemakamanku. Dalam satu minggu, dia mengemas duka citanya dan pakaian-
pakaianku ke dalam kotak kardus yang diserahkannya kepada pengemis yang mengiba-iba di depan Kentucky Fried
Chicken. Dua minggu kemudian, dia menata rambutnya, mengecat kuku kakinya, berhenti merokok, dan mulai tertawa
dengan lebih keras dan lebih sering dari kapan pun.

Ketika masih hidup, aku merasa orang-orang menolak keberadaanku, tetapi sikap-sikap tak acuh yang mereka
perlihatkan kepadaku itu bisa dimaklumi. Dan jika, karena sebuah salah paham, cara mereka tidak memedulikanku
menjadi sedemikian mencolok, aku hanya menunjukkan mimik angkuh dan bersembunyi di balik peribahasa singkat
tentang kepasrahan: Sang Waktu berderap maju; tersenyumlah meski pahit dan tabahlah .

Kadang-kadang, ketika aku merasa terlalu sulit menerima kenyataan bahwa aku dikucilkan, aku akan pergi ke kawasan
Arrabassada dan merokok, berpikir sejenak, dengan mobil-mobil di sekelilingku berisi pasangan-pasangan yang
bersanggama dengan sepenuh energi yang dipompakan darah muda atau semangat perzinaan mereka. Semua itu
diekspresikan lewat suara decat-decit penahan guncangan mobil mereka, desahan-desahan yang teredam jendela mobil,
dan suara-suara cekikikan yang menyuntikkan sebentuk kekuatan kepadaku. Bagaimanapun, itu adalah sebentuk energi.

Aku tewas di perjalanan pulang dari salah satu acara jalan-jalanku tersebut. Aku tak bisa mengatakan bahwa itu
kecelakaan. Saat itu aku sedang mengendarai mobil sehati-hati biasanya sambil mengagumi pemandangan keindahan
kota yang terhampar dari kaki pegunungan dan mendengarkan berita yang disiarkan radio mobilku. Beberapa meter
terakhir sebelum tikungan aku merasa harus melepaskan diri dalam arti yang seluas-luasnya. Itu sama sekali bukan
tindakan bunuh diri, menurutku. Lebih seperti penyakit jiwa tidak bertanggung jawab.

Awalnya aku mengabaikan tanda batas kecepatan. Kemudian mengacuhkan kata stop yang dicat di atas aspal (huruf
pertamanya buram sehingga aku membacanya top). Akhirnya menerabas lampu merah. Beberapa meter memasuki
jalan tol, aku melihat sepasang manusia tua-renta menyeberang jalan. Aku mempercepat laju mobilku untuk
menghindari mereka, tapi tiba-tiba saja mobilku berbelok sendiri memasuki jalur jalan lain. Tidak mengerem. Mobilku
menabrak, merusak pembatas jalan, dan melayang sejauh tiga sampai empat meter sebelum terjungkir dan menghantam
jalur pengendara motor. Ajaibnya, tidak terjadi tabrakan beruntun. Perlu waktu tujuh menit sampai aku mati. Selama itu
aku terkejut karena radio mobilku tetap bekerja, memberikan kekejian sebuah kata penutup. Itulah berita-berita untuk
kali ini, ucap suara seorang perempuan dengan latar belakang musik pengiring yang gegap gempita.

Kematian tidaklah manis atau asin. Ini lebih rumit daripada yang kubayangkan. Mungkin karena selama hidup aku tak
pernah memikirkannya. Rasanya semacam perpaduan kelumpuhan emosi dan badani yang mencegahku dari merasakan
rasa sakit apa pun. Aku merasa seakan disaring kenyataan di sekelilingku melalui sebentuk persepsi yang berbeda dari
apa yang biasa kugunakan sampai saat itu, seakan-akan persepsi itu lebih bergantung kepada orang lain daripada pada
diriku sendiri. Sebelum aku benar-benar dinyatakan mati, aku menghabiskan waktu sejenak di dalam sebuah ambulans.
Atas keahlian seorang perawat pria yang mengidap bau mulut, aku berhasil mempertahankan beberapa denyut vitalku
selama beberapa detik. Lalu, kulepaskan diri dan kusimpulkan bahwa tidak layak segalanya kuperjuangkan dengan
upaya sekeras itu. Persimpangan antara menyelamatkan diri sebagai orang cacat dan sakaratul maut yang mendekat
menyilaukan kesadaranku lewat sebuah penampakan sinar cemerlang.

Penunjuk yang mengarah ke jalan untuk bertahan hidup tampak sangat spektakuler dengan lampu-lampu neon
gemerlap, iklan beli dua-gratis-satu, dan serangkaian papan-papan reklame yang menggiurkan. Jalan tempat kau tak
mungkin kembali, di sisi lain, hanya memampangkan kalimat anjuran dengan sebuah bola lampu enam puluh watt. Aku
memilih tak melakukan apa pun dan hanya menunggu perkembangan baru. Terkondisikan oleh kelembaman yang
terlalu lama, aku melihat diriku sendiri di atas jalan yang temaram. Tentu saja itu akan segera berakhir. Agak di luar
perkiraan, ternyata aku menikmati sebuah kesempatan untuk menyaksikan kehidupan orang-orang terdekatku dan
mereka yang kusayangi. Tak hanya kehidupan mereka berlangsung sangat baik tanpa aku, tetapi nyatanya semakin hari
semakin baik.

Aku menyaksikan anak lelaki tertuaku kini asyik melakukan cybersexdengan seorang lelaki Swiss yang berpura-pura
menjadi seorang pembantu rumah tangga di Brasil. Kusaksikan anak perempuanku kini rajin menggerakkan tubuhnya,
seorang gadis yang selalu punya alasan untuk bermalas-malasan di tempat tidur dan tidak berangkat ke sekolah. Kini dia
bangun pagi sekali dan berenang dengan amat rajin hanya untuk bisa mendekati seorang instruktur olahraga bertubuh
atletis. Dan lihatlah itu, cinta dalam hidupku, tengah mencari-cari bayangan dirinya di jendela-jendela kaca toko untuk
melihat betapa cantiknya dia.

Dan, seakan-akan baru saja mendapatkan kemenangan pertamaku setelah bertahun-tahun lamanya, aku merasa harus
tersenyum karena akhirnya aku bisa membuat mereka semua bahagia. (*)

Sergi Pamies menulis cerita pendek dan novel dalam bahasa Katalan. Cerita di atas diterjemahkan oleh Atta Verin dan
Anton Kurnia dari versi Inggris Peter Bush.

Cerpen Sergi Pamies (Koran Tempo, 17 Januari 2010)


Sihir
AKU bisa membaca pikiran orang, ujar Julian.
Sudah setengah jam Ronnie duduk di ujung tepi sungai, sepasang kakinya berayun-ayun dan tatapan matanya lekat ke
sungai. Saat itu pukul sebelas pagi pada akhir Januari dan panas terik di mana-mana sejauh yang bisa dia lihat. Tampak
dermaga di ujung arus, seorang penduduk seberang sungai naik kano untuk menyeberangi sungai, dan buluh alang-alang
di sisi lain bantaran sungai. Segalanya tampak beriak seakan dicetak pada layar yang tak berwujud tapi tembus pandang.
Ronnie mengangkat tatap matanya dan melihat seorang remaja pria kira-kira seumurnyadua belas tahun. Itu bocah
yang beberapa saat sebelumnya mengamat-amatinya. Seorang bocah berpipi tembam dengan wajah yang sukar
digambarkan dan poni menutupi atas matanya. Ronnie tak mendengar suara langkahnya saat mendekat. Sejenak Ronnie
tampak kaget lalu mengabaikan bocah itu dan kembali menatap sungai. Saat itulah bocah itu bilang dia bisa membaca
pikiran orang.

Mengapa kau berkata aku tampak seperti orang brengsek? lanjut bocah itu kepada Ronnie.
Aku bilang begitu? tukas Ronnie kaget.
Memang tidak. Kau tak mengatakannya, tapi kau berpikir seperti itu, sahut Julian.
Bagi Ronnie tak ada yang tampak mengancam pada diri bocah itu. Tak ada alasan untuk berhati-hati atau curiga
terhadapnya. Melalui bahunya ia menatap sepatu olahraga yang dipakai bocah itu. Tampak masih sangat baru dengan
garis berwarna perak yang berkilau diterpa sinar matahari dan sol hijau dengan cermin akrilik mungil melingkari
ujungnya. Julian mengikuti tatapan Ronnie dan sejenak mereka berdua berdiam diri, mengamati sepatu itu. Lalu Ronnie
mengangkat dagunya ke arah orang dari seberang sungai yang tengah menyeberang dengan kano itu seraya berkata,
Coba, apa yang lagi dipikirkan orang itu?

Aku tak tahu. Dia terlalu jauh, jawab bocah itu seraya menggeleng. Ia diam sejenak lalu menambahkan, Sekarang kau
sedang mengejekku, Ya, tentu saja. Dia memang terlalu jauh! Kalau dia sudah lebih dekat, aku akan mengatakan
kepadamu apa yang ada di dalam pikirannya. Oh, ya, namaku Julian.

Perhatian Ronnie terganggu oleh cara bicara bocah itu: nada suara yang tenang, tanpa keraguan, dan pilihan kata yang
kuno. Ia menatap bocah itu lagi. Bocah itu tampak formal, rapi, dan teratur. Ia memakai celana jeans yang disetrika rapi
dan kaus putih bergambar Donald Bebek. Ronnie mendapat kesan bocah itu anak malang yang ditindas seorang ibu
obsesif yang memilihkannya pakaian-pakaian terburuk di dunia lalu mengharuskannya memakainya. Walau begitu,
bukan ini yang paling berkesan baginya, tapi bayangan sang ibu yang dengan bangga menyisir rambut anaknya dengan
model poni menutupi dahi.

Lalu didengarnya Julian berkata, Tidak seperti itu.

Mulai lagi. Benarkah dia bisa membaca pikiran orang?

Julian tertawa. Tentu saja kau tahu apa yang sedang dipikirkan orang di dalam perahu itu? Ia cemas tak dapat
menonton pertandingan sepak bola. Ia menyeberangi sungai demi menonton pertandingan sepak bola! Ia mendayung
dua ratus meter melawan arus demi menonton sebuah pertandingan sepak bola! Betapa luar biasa, bayangkan, ada
orang-orang yang. Yah, begitulah. Tiba-tiba bocah itu menjadi bersungguh-sungguh. Itu bukti terakhir yang
kuberikan untukmu. Aku bisa membaca pikiran orang dan aku menghampirimu karena aku tahu kau juga memiliki
kemampuan istimewa.

Kata siapa? tanya Ronnie.


Tak ada. Kau sendiri. Aku sedang berjalan-jalan ke arah siniorangtuaku sedang menyiapkan pesta barbekyu di atas
sanadan aku melihatmu. Aku tak sengaja membaca pikiranmu. Kau sedang berpikir untuk menggunakan
kemampuanmu terhadap dirimu sendiri. Kemampuan apa yang kau miliki? Mengapa kau ingin menggunakannya
terhadap dirimu sendiri? Baiklah, apa pun itu, tolong jangan lakukan. Aku menemukanmu dan aku menyelamatkanmu.
Kini kita bersama.

Julian menyatakan ini dengan nada sungguh-sungguh dan bersiap menerima jawaban Ronnie. Ronnie bangkit perlahan
dan menatap langsung mata bocah itu. Lalu ia berkata, Betul. Aku punya kemampuan yang dahsyat dan aku sedang
menimbang-nimbang untuk menggunakannya terhadap diriku sendiri. Tapi kini aku memutuskan untuk
menggunakannya terhadapmu. Aku akan membuatmu menghilang.

Kau sungguh bisa membuat orang lenyap? ratap Julian.


Ronnie mengangkat tangannya dan mengembangkan jari-jarinya seperti cakar di atas wajah Julian. Bocah itu mulai
berkeringat. Alisnya gemetar seperti bibirnya, bahkan cuping telinganya bergetar.

Tidak, tidak. Jangan. Kumohon, ujarnya. Tunggu. Pikirkan dulu.


Aku tak peduli denganmu, bocah gendut! Beri aku waktu sekejap dan kau akan tahu rasa.
Jangan, tunggu! Kau pikir kau bisa menghilangkanku begitu saja dalam sekejap? Ibuku akan membunuhku kalau aku
hilang!

Tak akan. Dia tidak akan pernah melihatmu lagi, ujar Ronnie, cakarnya makin mendekat ke wajah Julian. Julian jatuh
berlutut.

Bangun, perintah Ronnie.


Julian menggeleng, menangis. Ingus keluar dari hidungnya.

Ampuni aku, ratapnya. Aku anak baru di sekitar sini dan aku tak mengenal siapa pun. Aku hanya bosan. Tadinya
kupikir bertemu denganmu akan menyenangkan.

Ronnie meludah ke satu sisi seperti seorang dewasa dan, dengan amat perlahan, melemaskan jari jemarinya lalu
menjatuhkan tangannya ke sisi tubuhnya lagi.

Pergilah, ujarnya. Jika aku sampai melihatmu lagi, kau akan hilang sungguhan.
Julian berjalan beberapa meter ke arah orangtuanya berada tanpa melepaskan pandangan dari Ronnie. Lalu tiba-tiba dia
mengentakkan tumitnya dan berlari sekuat-kuatnya. Tunggang langgang.

Ronnie duduk kembali. Si penyeberang dalam perahu kini makin dekat. Keringat membentuk segi tiga membasahi
kemeja garis-garisnya. Tak diragukan, itu pasti pakaian terbaiknya dan ia memakainya tak hanya untuk menonton
pertandingan sepak bola, tapi juga untuk berdayung menyeberangi sungai. Ronnie mengangkat tangannya ke arah
orang itu dan sekejap kemudian sungai itu menjadi kosong. Bahkan tak tersisa riak gelombang di sungai tempat si lelaki
terakhir kali menghunjamkan dayungnya.

Ronnie mengangkat tangannya ke arah wajahnya sendiri. Ia menganggap gerakan tangan berwujud cakar itu sungguh
menarik. Namun, beberapa kali ia melenyapkan orang tanpa perlu membuat gerakan tangan semenarik itu. Ia
menggunakannya hanya untuk menakut-nakuti orang. Itu ancaman, sekaligus lelucon, karena korban-korbannya tak
percaya ia bisa melenyapkan orang. Dan ia ingin membuat mereka tertawa sebelum mereka lenyap.

Sepasang tangan perempuan yang terasa dingin muncul dari belakang dan menutupi mata Ronnie. Suara Sukigadis
sembilan belas tahunterdengar, Siapa aku?

Suki, sahut Ronnie.


Suki melepaskan tangannya. Sebelum punggung gadis itu menimpa rumput, Ronnie telah menindihnya. Mereka
berkecupan.

Sudah lama menungguku? tanya Suki.


Tidak, mungkin setengah jam.
Aku datang tepat waktu, tapi tadi aku melihatmu bersama orang lain, jadi aku tak jadi mendekat. Siapa itu?
Bukan siapa-siapa. Hanya seorang bocah yang mengaku bisa membaca pikiran orang.
Sungguhan? Dia sungguh bilang begitu?
Sumpah.
Suki terkikik. Ronnie terpesona dengan kikikan Suki. Aku kangen kamu, ujar Ronnie.

Aku juga, sahut Suki. Suki mencium Ronnie begitu bergelora. Di balik punggung Ronnie, sebelum mereka
merenggangkan tubuh untuk kemudian berciuman lagi, Suki membuat si pendayung kano muncul kembali di sungai.
Lelaki itu menepuk jidat seakan-akan baru bangun dari pingsan lalu kembali mendayung. (*)

Sergio Bizzio adalah pengarang, penyair, dramawan, dan penulis skenario Argentina. Sejumlah bukunya telah difilmkan.
Cerita pendek di atas diterjemahkan Anton Kurnia berdasarkan terjemahan Inggris Amanda Hopkins.

Cerpen Sergio Bizzio (Koran Tempo, 14 Agustus 2011)


Lapar
TELAH lama ia menderita karena lapar dan siksaan dingin di sebuah kamar sempit yang tunggakan sewanya belum
terlunasi. Satu malam ia tak tahan lagi. Kelaparan menggerakkannya. Dirasanya pedih itu di lambungnya sesuatu yang
terus meremas-remas alat pencernaannya. Rasa masam naik dari lambungnya ke mulut, lenyap, menelanjangi diri
sebagai sebuah hasrat. Ia berbalik di ranjangnya dan memikirkan Paulo yang telah memberinya dasi berbahan lembut
yang digantungkannya pada sebuah paku di dinding. Persahabatan tak mencegahnya berpikir untuk menjual gombal
sutra usang itu demi mendapatkan uang sekadar pembeli roti. Kepada siapa ia bisa menjualnya? Itu cendera mata, tapi
Paulo akan mengerti jika dasinya digunakan untuk mengenyahkan kelaparan seorang kawan.
Jika kakiku terluka, ia tak akan keberatan aku menghentikan perdarahan dengan dasinya biarpun dasi itu akan rusak
karenanya.

Satu pertanda muncul di tubuhnya, sesuatu serasa jika sesosok tangan lembut melipat ususnya. Ia bangkit. Kamar itu
mungil, sekejap saja ia telah sampai di pintu dan beranjak ke luar. Dengan sedikit gerakan yang dibuatnya untuk
menuruni tangga, terlupakanlah rasa laparnya. Namun, begitu ia sampai di tepi jalan, bimbang hendak berbelok ke kiri
atau kanan, rasa lapar itu kembali mengentaknya dengan kecepatan seekor kuda yang berpacu. Ia merasa seakan
terempas ke bumi diterkam seekor binatang perkasa yang telah menaklukkannya hingga akhir masa. Ia berbelok ke
kanan. Jalanan itu tampak muram. Pepohonan seakan hidup dengan keriangan yang mengerikan. Ia harus
menggantungkan diri pada keajaiban. Di pelataran sebuah rumah, di kisi sebuah jendelaitu kamar si penjaga rumah
ia melihat seekor kucing.

Riton berhenti dan, tanpa membelainya, merengkuh binatang itu. Si kucing diam dalam pelukannya. Rasa senang
memberi Riton sepasang sayap yang mempercepat langkahnya, ditingkahi harapan dan perut yang seolah telah kenyang.
Kucing jantan itu besar dan gemuk. Membantai ia pasti akan sangat sengit.

Mula-mula Riton mencoba membunuhnya dengan palu.

Merasa ganjil karena ia sebagai pembunuh merasa tak terlalu bersalah saat pukulannya meleset dan upaya sia-sia
berikutnya untuk membunuh binatang itu membuatnya merasa sebagai pesakitan, ia melemparkan palu itu. Hanya kulit
si kucing yang tersentuh lemparan palu. Binatang itu bersembunyi di kolong ranjang. Namun, sempitnya kamar itu
membuat Riton dapat segera menangkapnya. Tertawan, binatang itu mencoba mencakarnya. Kucing itu melawan. Riton
membalut tangan kirinya dengan handuk dan mencengkeram buntut si kucing. Tangan kanannya menggaplok kepala si
kucing dengan palu, tapi meleset. Kucing itu hanya terkena punggung palu dan menyerang balik dengan gerakan seekor
ular terdesak. Binatang itu mengeong marah. Dirasanya maut telah dekat. Makhluk itu tahu kematian tak terhindarkan
lagi. Riton kembali menyerang. Tapi luput. Palu itu membentur udara kosong. Ia menyerang lagi. Tapi lagi-lagi gagal.

Jahanam!
Adegan menjadi sunyi dari awal hingga akhir. Riton berjuang dalam sunyi melawan kesunyian itu sendiri, orang-orang
dengan kejahatan kanak-kanak dan pikiran putus asa, serta ketakutan si kucingyang baginya menjelma musuh karena
kebandelan untuk tetap hidup terlepas dari segala kesakitan yang dialaminya, karena keterampilan tubuhnya
menghindari hantaman, karena kulit pelindungnya yang lembut dan sekaligus menyentuh hati Riton. Hatinya dilimpahi
lautan melankoli, yang bunyi gelombangnya memekakkan telinga Riton.

Sesungguhnya ia ingin membelai lembut kucing besar berbulu kelabu itu. Bisa dibayangkannya seorang bocah
memanggul kucing itu, si kucing memanjat bahunya, dan di situ ia duduk muram dekat wajah si bocah, mengeong
senang.

Bersamaan dengan munculnya gagasan membunuh kucing itu dengan palu, tebersit pula gagasan mencekiknya yang kini
kian pasti. Namun Riton tak mau meninggalkan ia demi mencari seutas tali. Ia membuka pasak sabuknya,
melepaskannya dari lubang sabuk celananya, dan dengan satu tangan membuat jerat dari sabuk itu. Si kucing menunggu
dengan hening.

Dengan kaki menjejak kepala mungil itu, Riton menarik ujung sabuknya, tapi ia tak mencekik binatang itu, yang masih
segar-bugar seperti sedia kala. Riton terombang-ambing dalam kelembutan yang mematahhatikan serupa mimpi. Ia
memasang sabuk itu di sebuah paku yang terpasang di dinding dan menggantung si kucing. Kucing itu berupaya
membebaskan diri, mencakar dinding, mencoba memanjat naik. Sekonyong-konyong tubuh Riton menggigil gemetar
saat selintas pikiran menyergapnya bahwa para tetangganya mengintip di balik pintu, menguping upaya pembunuhan itu
dari balik dinding. Bukan karena mereka mendengar pekikan, erangan, rintihan si korban, melainkan karena tindakan
pembunuhan itu sendiri telah memenuhi ruangan dengan kelembutan yang menembus dinding lebih dahsyat daripada
sinar roentgen.
Lalu, Riton menyadari keganjilan pikirannya dan ia melanjutkan menyerang korbannya bersenjatakan palu dengan satu
tangan, sementara tangan yang lain memegangi celananya yang melorot. Kucing itu makin beringas akibat tersudut oleh
bahaya, kesakitan, dan rasa takut. Masih tak ada darah tumpah, tapi Riton telah letih. Lalu ia dirasuki rasa takut bahwa
binatang ini sesungguhnya sesosok setan yang berubah wujud menjadi kucing agar dapat merasuki jiwa manusia dengan
lebih mudah.

Jika dia setan, mampuslah aku!


Ia menimbang untuk menurunkan si kucing, tapi ia takut bahwa setan ituyang bisa berdiri dengan dua kakiakan
merobek perutnya dengan sekali sabetan tongkat trisulanya. Kisah-kisah yang didengarnya bercerita betapa tiga tetes air
suci yang dikibaskan pada seekor kucing jejadian cukup untuk mengembalikan wujud setannya ke dalam bentuk serupa
manusia. Tak ada air suci di kamar itu, atau ranting kayu salib, atau bahkan lukisan komuni pertama. Bagaimana jika ia
membuat tanda salib?

Setan itu masih terus menggantung. Saat berubah wujud serupa manusia mungkin dia akan tetap seukuran kucing. Apa
yang bisa dilakukannya dengan mayat setan seukuran kucing?

Riton tak berani bergerak sebab takut secara tak sengaja membuat tanda salib ke arah si kucing setan. Letih, kuyup
peluh, pucat pasi, saat ia akhirnya melepaskan ikatan kucing itu dan memasukkannya ke dalam kantong terpal yang lalu
ditutupnya, ia menghantamkan palu sekuat-kuatnya pada makhluk misterius yang mengerikan dan terus merintih itu. Si
kucing masih hidup.

Saat Riton yakin kepala mungil itu telah remuk, ia mengeluarkan binatang itu yang ternyata masih menggeliat-geliat
sekarat. Akhirnya, ia memancangkan jasad itu pada paku di dinding dan mengulitinya. Pekerjaan itu memakan waktu
lama.

Rasa lapar, yang sempat lenyap tiba-tiba, kini mendadak kembali ke perut Riton. Kucing itu masih hangat, meruapkan
asap, saat ia memotong kedua pahanya dan merebusnya di dalam panci. Duduk berhadapan dengan onggokan sisa tubuh
binatang itu, dengan kulit serupa sarung tangan berlumur darah, Riton melahap potongan daging yang nyaris masih
mentah, terasa hambar, sebab ia tak punya garam.

Sejak hari itu, Riton menyadari kehadiran seekor kucing menandai tubuhnyatepatnya, perutnya, serupa bordiran
lukisan binatang dalam brokat emas pada gaun kaum perempuan di masa silam. Entah sebab kucing itu memang sedang
sakit atau terjangkit mala selama penyiksaannyadan juga murkaatau dagingnya belum cukup dingin, atau
perkelahian mereka meletihkannya, malam itu Riton merasa kesakitan dari ujung kepala hingga kaki. Ia yakin tubuhnya
telah keracunan dan ia mencoba berdoa khusyuk untuk kucing itu.

Esoknya Riton mendaftar masuk milisi. Betapa menyenangkan bagiku mengetahui ia telah menandai daging terdalam
inti tubuhnya dengan cap kemuliaan yang diperoleh dari rasa lapar. (*)

Jean Genet (1910-1986) adalah penulis Prancis. Cerita di atas diindonesiakan oleh Anton Kurnia dari versi Inggris
William Barrett.

Cerpen Jean Genet (Koran Tempo, 23 Juni 2013)


Pencurian Apel
DI TAMAN kami, ada sebatang apel yang buahnya menerbitkan air liur siapa pun yang melihatnya dari jendela di lantai
dua rumah tetangga kami. Tetangga kami, Rade dan Jela, sering pergi membeli apel di pasar untuk kedua anak
perempuan mereka. Tapi itu sering tak berarti buat mereka. Selezat apa pun apel-apel yang dibeli tak akan lebih
menggiurkan dari yang terlihat dari jendela rumah keluarga itu.
Tiap pagi, begitu Rade dan Jela pergi bekerja, kedua anak mereka akan melompati pagar taman untuk memetik apel
yang sudah sangat ranum. Biasanya aku mengusir mereka dengan melemparkan bongkahan lumpur atau batu.
Singkatnya, aku mempertahankan propertiku, lantaran alasan prinsip dan bukan karena terganggu atau lebih-lebih
karena telah kehilangan apel.

Sebagai balas dendam, gadis yang lebih muda mengadu pada ibuku bahwa nilai matematikaku F. Walhasil, secara tak
terduga ibuku datang ke sekolah dan membuktikan sendiri kebenaran pengaduan musuhku itu.

Beberapa hari berikutnya, dia menyiksaku dengan persamaan kuadrat. Semua urusan tentang xs dan ys itu bikin hidup
serasa tak punya toleransi, jadi aku memutuskan akan membuat perhitungan dengan tetanggaku itu, semampuku, apa
pun caranya.

Inilah yang kulakukan: aku menemukan tempat bersembunyi di taman dan sepanjang hari menanti kedatangan para
pencuri itu. Akhirnya mereka muncul, seperti perkiraanku. Aku segera melompat dari rerimbunan dan menangkap salah
seorang dari mereka dengan menggaet rambutnya dan segera membawanya ke rumah kami. Rencananya aku akan
menguncinya di lemari makanan hingga ibuku pulang dari tempat kerja dan memberinya hukuman. Tapi gadis kecil itu
melawan mati-matian, berteriak-teriak dan memukul-mukul. Pada akhirnya dia lolos juga, hanya meninggalkan di
tanganku sejumput rambut dan sesayat kecil kulit kepalanya. Aku ketakutan, menghambur masuk rumah, dan mengunci
pintu.

Sesaat kemudian, aku dengar Rade berteriak-teriak dari jendela rumahnya bahwa dia akan membunuhku. Dia juga
melancarkan ancaman berulang-ulang pada ibuku yang membalasnya dengan tak kalah sengit. Seperti yang sudah
diperkirakan, mereka melancarkan umpatan-umpatan dari jendela selama tiga atau empat jam. Ibuku menyebut Rade
gangster dari Kalinovik. Dia menyebut ibuku wanita jalang yang tak tahu malu.

***

SELAMA 20 tahun berikutnya, mereka tak pernah bertegur sapa, meski aku bilang, dua gadis bersaudara itu tak lagi
datang untuk mencuri. Setiap tahun, Agustus dan September datang dan berlalu, dan apel-apel semakin terlihat indah
dan menggiurkan, tapi dua keluarga yang tinggal berdampingan tanpa saling berhubungan, bahkan untuk sekadar
bersitatap sekilas.

Orang tuaku menua tanpa melupakan umpatan-umpatan keluarga Rade. Saat kedua gadis itu menikah dan pindah
tempat tinggal, suasana di antara kami tetap sama.

Beberapa hari setelah perang dimulai, polisi mendatangi flat Rade dan Jela dan menemukan dua senapan berburu dan
sebuah senjata otomatis. Tentu saja para tetangga lain jadi panik. Mereka mulai berspekulasi tentang siapa yang sedang
diincar Rade untuk dibunuh, dan bagaimana caranya. Selama beberapa tahun dia memang tak keluar dari rumahnya.
Selama itu, apakah dia sedang memancing calon korbannya ke dalam sebuah jebakan?

Jela masih selalu ke pasar untuk mengambil ransum bantuan dan air hingga suatu hari sebuah bom meledak 10 yard dari
dirinya, dan membuatnya kehilangan sebelah tangan.

Tragedi itu membuat Rade keluar rumah agar bisa berkomunikasi dengan orang lain. Untuk kali pertama sejak
bertahun-tahun lamanya, para tetangga melihat sosok Rade secara nyata. Hanya dalam beberapa bulan saja dia tampak
menua, dan lebih menyerupai lelaki berusia 100 tahun saat dia berjalan membawa sepanci kecil sup dan tiga lemon
kisut.

Dia mengunjungi rumah sakit sekali sehari, dengan mata menatap tanah saat berjalan, seolah-olah takut berjumpa
dengan orang lain.

Selama perang pecah di bulan September, pohon apel kami memunculkan buah yang terasa lebih ranum dan lezat dari
yang sudah-sudah. Ibuku bahkan berseloroh, pohon apel terakhir yang buahnya paling lezat hanya tumbuh di Taman
Eden. Aku memanjat pohon apel, dan dari cabang tertinggi aku bisa melihat posisi pasukan Chetnik di Pegunungan
Trebevic. Sambil bergelayutan, aku petik lusinan apel dengan antusiasme serupa Scrooge McDuck yang melempar-
lempar uang ke udara dari kubahnya.
Ketika aku sampai ke tempat apel di ranting yang jaraknya hanya setengah yard dari jendela rumah Rade, tak hentihenti
aku berusaha mencari keberadaan lelaki itu di dalam kamarnya.

Aku gemetar saat bergelayutan pada cabang pohon ketika mendadak Rade beringsut. Aku tak tahu kenapa tapi saat itu
aku tak ingin dia berlalu dari tempatnya.

Apa kabar, Paman Rade?


Hati-hati, Nak, kau terlalu tinggi. Jangan sampai jatuh.
Bagaimana kondisi Bibi Jela?
Baik, dia sedang berjalan-jalan dengan satu tangannya agar dia tetap merasa masih hidup. Para dokter bilang dia akan
segera keluar dari rumah sakit.

Kami bercakap-cakap dalam situasi seperti itu, hanya selama dua menit tapi kurasakan begitu lama. Dengan satu tangan
memeluk cabang, satu tangan lagi mencengkeram tas penuh apel.

Mendadak aku kalut diliputi perasaan mual, dan itu pasti lebih buruk dari tragedi ledakan bom atau penemuan senjata di
rumah orang. Dalam keadaan bergelayutan di pucuk pohon apel yang berhadapan dengan jendela rumah Rade, segala
yang kuketahui tentang diriku sendiri dan orang-orang sekitar seolah-olah tak lagi berarti.

Rade melanjutkan omongannya, Kau tahu, Nak, kalau kau kehilangan sebelah tangan, kau akan selalu merasakan
kehilangan itu dalam waktu yang lama. Ini persoalan psikologis. Kau akan berusaha menipu diri sendiri dengan berpikir
bahwa seolah-olah kau masih memiliki bagian tubuh yang hilang itu. Setiap hari aku memasak sesuatu yang bisa
kubawakan untuk istriku, tapi sebenarnya sudah tak ada lagi kehidupan di situ.

Aku selalu melihat ke sup kacang atau sup bening, lalu melihat ke istriku dan berkata, Jela! tapi dia tak merespons. Lalu
dia bilang, Rade! dan aku pun tak merespons. Kau paham, Nak? Kami masih hidup hanya dengan cukup saling bertemu
satu sama lain dan hanya untuk menyimpulkan bahwa sebenarnya kami tak lagi punya kehidupan. Begitulah.
Kadangkala aku melihat apel-apel itu dan kagum pada kehidupan yang tersimpan di dalam buah-buah itu. Mereka tak
peduli pada semua ini. Mereka tak paham. Aku bahkan tak berani menganggap mereka.

Aku menjulurkan badan ke jendela dan mengangsurkan tas apel. Dia memandangku, agak terkesiap, lalu mulai
menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendadak tenggorokanku tercekat. Ketercekatan itu semakin hebat manakala aku
ingin menggerakkan bibirku. Selama setengah menit aku merasa lumpuh. Andai pasukan Chetnik mencariku, mereka
pasti akan sangat kebingungan. Rade terlihat gemetar seperti seorang lelaki yang tak memiliki apa pun. Dia bahkan lalu
menggigil bagaikan binatang yang ketakutan dan bersedih.

Pada hari berikutnya, Rade mengetuk pintu kami sambil mengucapkan ratusan kata maaf karena menganggu kami. Dia
memberi kami sesuatu yang terbungkus kertas koran dan meninggalkannya dengan tergesa-gesa sehingga aku tak punya
kesempatan berbicara padanya. Bingkisan itu berisi setoples kecil selai apel.

Tak lama setelah itu, Jela keluar dari rumah sakit. Suami dan istri itu kembali lagi hidup di dalam rumah dengan jendela
tertutup. Rade hanya berani keluar untuk mengambil ransum bantuan. Suatu hari, saat berdiri berjajar dengan ibuku,
dia membisikkan kata Terima kasih padanya. Ibuku membalikkan tubuh tepat saat mendengar Rade berkata, sekali
lagi, bahwa apel-apel kami itu menyimpan kehidupan.

***

BEBERAPA bulan berikutnya, serombongan orang berseragam yang menyandang senjata mendatangi Rade dua kali,
membawanya ke suatu tempat dan kemudian mengembalikannya. Para tetangga menyaksikan kedatangan dan kepergian
misterius itu dengan menyingsingkan kain gordin, dan kadangkala mengintip lewat lubang kunci.

Mungkin karena merasa bersalah, mereka berusaha mengingat-ingat soal senjata-senjata yang disembunyikan Rade.
Setengah lusin gossip kembali beredar bahwa kemungkinan Rade ingin membunuh seseorang. Yang lainnya hanya
bergeming, seolah-olah menggunjingkan tetangga mereka akan membuat yang digunjing sakit hati. Dan yang jelas
terlihat adalah mereka ingin mengambil sikap membenci Rade, tapi bagaimanapun itu tak mungkin.

Tak seorang pun tahu siapa yang membunuh Rade dan Jela. Mereka menghilang suatu hari, diam-diam dan tanpa
penjelasan. Mungkin yang akan kukatakan ini keliru, tapi aku hanya ingat dua hal berkenaan dengan Rade yang malang:
selai apelnya dan fakta bahwa tak sekali pun, bahkan di malam kelam, dia berusaha menjulurkan tubuh dari jendela
untuk mencuri sebutir apel. (*)

.
.

Cerpen ini diambil dari kumpulan Sarajevo Marlboro karya Miljenko Jergovic, terbitan Archipelago Press (2004).
Miljenko Jergovic lahir di Sarajevo pada 1966. Ia seorang penyair dan wartawan yang menulis untuk koran
harian Oslobodjenje. Selain Sarajevo Marlboro, ia telah menulis lain kumpulan cerita serta dua novel: Buick
Riviera dan Mama Leone. Karyanya telah diterjemahkan secara luas di seluruh dunia. Cerpen ini diterjemahkan dari
bahasa Bosnia ke bahasa Inggris oleh Stela Tomasevic dengan judul Theft. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh
Saroni Asikin.

Cerpen Miljenko Jergovic (Suara Merdeka, 5 Agustus 2012)


Obat Mujarab
SENJA itu orang-orang bersenjata menuliskan pengumuman di dinding berlabur putih rumah Ma Kuisan yang
menghadap jalanan. Disebutkan, esok pagi akan ada pelaksanaan hukuman mati di tempat biasa: ujung selatan jembatan
Sungai Jiao. Seluruh penduduk desa diwajibkan hadir untuk tujuan pendidikan. Ada begitu banyak hukuman mati tahun
itu sehingga penduduk tak tertarik lagi menyaksikan. Maka, agar orang-orang mau berkumpul, perlu ada perintah
khusus.

Ruangan itu masih gelap pekat saat ayah terjaga lalu menyalakan lampu minyak. Setelah mengenakan jaket, ia
membangunkanku dan menyuruhku bangkit dari ranjang. Saat itu dingin sekali dan aku masih ingin meringkuk di balik
selimut hangatyang ditarik ayah dari tubuhku. Bangun, ujarnya. Orang-orang bersenjata itu ingin urusan mereka
cepat selesai. Jika kita terlambat, kita akan kehilangan kesempatan.

Aku mengekor ayah keluar pintu. Langit timur mulai terang. Jalanan beku dan lengang. Angin barat daya telah menyapu
bersih debu jalanan sepanjang malam sehingga permukaan jalan yang kelabu tampak jelas. Jemari tangan dan kakiku
begitu dingin menusuk sehingga terasa seakan tengah dikunyah kucing. Ketika kami melintasi pelataran keluarga Ma,
tempat sepasukan milisi bermarkas, kami melihat seberkas cahaya di jendela dan mendengar suara teriakan. Ayah
berkata lirih, Jangan hiraukan. Mereka sedang sarapan.

Ayah menyeretku ke atas tepian sungai. Dari sana kami bisa melihat bayangan kelam batu jembatan dan potongan es di
bantaran sungai. Aku bertanya, di mana kita akan bersembunyi?

Di kolong jembatan.
Bagian bawah jembatan itu sepi dan gelap, juga dingin membekukan. Kulit kepalaku terasa gatal. Kutanya ayahku,
kenapa kulit kepalaku gatal?

Kulit kepalaku juga, sahutnya. Mereka menembak begitu banyak orang di sini, sehingga ada banyak hantu penasaran
bergentayangan di bawah sini.

Aku menangkap gerakan makhluk-makhluk aneh dalam kegelapan di kolong jembatan. Itu mereka! pekikku.

Mereka bukan hantu penasaran, tukas ayah. Itu anjing-anjing kelaparan.


Aku terjajar mundur hingga membentur tiang pancang jembatan yang dingin. Terlintas bayangan nenek yang matanya
berkabut oleh selaput katarak sehingga tak dapat lagi melihat. Langit akan sepenuhnya terang begitu tiga bintang selatan
tampak selintas dari kolong jembatan. Ayah menyalakan pipa rokoknya; aroma tembakau segera menyelimuti kami.
Bibirku kebas. Ayah, bolehkah aku berjalan-jalan? Aku kedinginan.

Ayah menukas, gertakkan saja gigimu. Mereka menembak tawanan mereka saat fajar masih merah.

Siapa yang mereka tembak pagi ini?


Aku tak tahu, sahut ayah. Tapi kita akan segera tahu. Kuharap mereka menembak yang masih muda.
Kenapa?
Orang muda punya tubuh yang lebih segar. Itu lebih baik buat kita.
Ada yang ingin kutanyakan lagi, tapi ayah sudah kehabisan kesabaran. Jangan banyak tanya lagi. Segala yang kita
katakan bisa terdengar di atas sana.

Saat kami bercakap-cakap, langit mulai memutih sewarna perut ikan. Anjing-anjing kampung menggonggong nyaring.
Namun, suara mereka tak mampu menyamarkan suara ratapan para perempuan. Ayah bangkit dari tempat
persembunyian dan berdiri sejenak di tepi sungai, memasang telinga ke arah desa. Kini aku gugup. Anjing-anjing liar
yang berkeliaran di kolong jembatan memelototiku seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuhku. Aku tak tahu apa yang
mencegahku minggat dari tempat itu selekas-lekasnya. Ayah kembali merunduk. Kulihat bibirnya gemetar dalam cahaya
remang fajar, entah karena dingin atau takut. Ayah mendengar sesuatu? tanyaku.

Diamlah, bisik ayah. Mereka akan segera tiba. Aku bisa mendengar mereka mengikat para tawanan.
***
Aku bergeser merapat ke arah ayahku dan duduk di atas segerumbul rumput liar. Dengan menyimak saksama, aku bisa
mendengar bunyi genta dari arah desa, bercampur suara parau seorang lelaki, saudara-saudara, pergilah ke ujung
selatan jembatan untuk menyaksikan hukuman mati, tembak tuan tanah, Ma Kuisan, istrinya, kepala desa boneka Luan
Fengshan. Perintah komandan pasukan bersenjata, Komandan Zhang, mereka yang tidak hadir akan dihukum sebagai
kaki tangan setan desa.

Kudengar ayahku menggerundel, mengapa mereka melakukan itu terhadap Ma Kuisan? Untuk apa menembaknya? Dia
orang terakhir yang patut ditembak?

Aku ingin bertanya kepada ayahku mengapa mereka menembak Ma Kuisan, tapi sebelum aku sempat membuka mulut,
kudengar suara bedil dikokang dan sebutir peluru mendesing di kejauhan, meletus di langit entah sebelah mana. Lalu
muncul suara derap kaki kuda menuju arah kami, terus ke ujung jembatan. Ketika menjejak permukaan jembatan, suara
itu berdetak-detak riuh seperti pusaran angin. Ayah dan aku meringkuk mundur, menatap nanar berkas-berkas cahaya
samar matahari yang menyelinap melalui celah di antara bebatuan. Kami berdua ketakutan dan tak tahu pasti apa yang
tengah terjadi. Tak lama kemudian, sekitar separuh waktu sepenghisapan pipa cangklong, kami mendengar orang-orang
berdatangan ke arah kami, berteriak-teriak dan mencarut-carut. Mereka berhenti. Terdengar suara seorang lelaki yang
serupa bunyi bebek meleter, biarkan saja dia pergi. Kita tak mungkin bisa menangkapnya.

Terdengar suara beberapa kali letusan ke arah derap kuda tadi menuju. Bunyi tembakan bergema di dinding kolong
jembatan tempat kami bersembunyi. Telingaku berdenging dan tercium bau tajam mesiu.

Terdengar suara beberapa kali suara si bebek, apa yang kau tembak, Bedebah? Kini dia sudah sampai ke desa sebelah.

Tak kuduga dia akan melakukan hal serupa itu, kata seorang lain. Komandan Zhang, orang itu pasti petani.
Dia anjing bayaran tuan tanah, sergah si bebek.
Seorang berjalan ke arah pagar jembatan dan kencing ke sisi jembatan. Baunya pesing dan menyengat.

Ayo kembali, ujar si bebek. Kita harus melakukan eksekusi.


Ayah berbisik kepadaku bahwa lelaki yang bersuara serupa bebek itu komandan pasukan milisi yang diberi wewenang
oleh penguasa untuk mengeksekusi pengkhianat partai. Dialah Komandan Zhang.

***

Langit mulai bersemu merah jambu di cakrawala timur. Di sana awan yang menggantung tipis perlahan mulai tampak.
Tak lama lagi awan itu pun akan menjadi merah jambu. Kini sudah cukup terang untuk bisa melihat dengan jelas berapa
ekor anjing buduk yang meringkuk kedinginan di tanah dekat tempat kami bersembunyi, juga onggokan pakaian
compang-camping, segumpal rambut, dan sebongkah tengkorak manusia yang telah dimamah. Begitu menjijikkan
pemandangan itu sehingga aku terpaksa memalingkan wajah. Bantaran sungai itu sekering tulang, kecuali beberapa
genangan berselimut es di beberapa tempat. Gerumbul-gerumbul rumput berlapis embun tampak menyemak di tepian
yang landai. Angin utara telah mati. Pepohonan di tepi sungai berdiri kaku tak bergerak dalam udara yang membeku.
Aku menoleh ke arah ayah. Bisa kulihat uap napasnya. Waktu seakan diam. Lalu ayah berkata, mereka datang.

Kedatangan rombongan eksekusi di ujung jembatan diumumkan oleh pukulan genta hingar-bingar dan jejak-jejak kaki
tanpa suara. Lalu terdengar sebuah suara cempreng, Komandan Zhang, seumur hidupku aku telah menjadi orang
baik.

Ayah berbisik, itu Ma Kuisan.

Suara lain, datar dan penuh emosi terdengar, Komandan Zhang, kasihanilah aku. Kami mengundi siapa yang akan
menjadi kepala desa. Aku tak menginginkan jabatan ini menjadi kepala desa. Aku mendapatkan jerami terpendek
dasar sial. Komandan Zhang, kasihanilah, izinkanlah aku melanjutkan hidupku yang brengsek ini. Aku punya ibu
berumur delapan puluh tahun yang harus kurawat.

Ayah berbisik lagi, Luan Fengshan.

Setelah itu, terdengar suara melengking. Komandan Zhang, ketika kau pindah ke rumah kami, aku menjamumu dengan
baik dan menyajikan untukmu anggur terbaik yang kami punya. Aku bahkan mengizinkan anak gadisku yang baru
berumur delapan belas tahun untuk melayanimu. Komandan Zhang, hatimu tak terbuat dari baja, bukan?

Ayah berkata lirih, itu istri Ma Kuisan.

Akhirnya, aku mendengar lenguhan seorang wanita, ah-uh-ih-uh.


Ayah berbisik, istri Luan Fengshan, si gagu.

Dengan suara tenang, seakan-akan tak ada hal yang perlu dicemaskan, Komandan Zhang angkat bicara, kami akan
menembak kalian, tak peduli kalian membantah atau tidak. Jadi sebaiknya tutup mulut kalian. Semua orang pasti akan
mati suatu waktu. Kalian harus pasrah menerimanya agar terlahir kembali sebagai manusia.

Saat itulah Ma Kuisan berseru nyaring ke arah kerumunan khalayak, kalian semua, tua dan muda, aku, Ma Kuisan, tak
pernah berbuat jahat kepada kalian. Kini kuminta kalian membelaku.

Beberapa orang menjatuhkan diri dengan ribut, berlutut, lalu memohon-mohon dan menatap dengan putus asa,
kasihanilah mereka, Komandan Zhang. Biarkan mereka hidup. Mereka semua orang jujur.

Seorang lelaki muda berteriak mengatasi suara ribut khalayak, Komandan Zhang, kuusulkan agar keempat anjing sialan
ini kita suruh bersimpuh dan menjura seratus kali kepada kita di atas jembatan ini. Lalu kita kembalikan kehidupan
mereka yang brengsek itu. Bagaimana?

Ide bagus, Gao Renshan! Komandan Zhang menyahut sinis. Jadi, menurutmu, aku, Komandan Zhang, adalah
monster yang suka membalas dendam, begitu? Seakan-akan kau sudah berpengalaman menjadi komandan milisi!
Kawan-kawan penduduk desa, bangunlah! Terlalu dingin berlutut seperti itu. Kebijakannya sudah jelas. Tak seorang pun
dapat menyelamatkan mereka sekarang. Bangun semuanya!

Penduduk desa, berbicaralah untukku, ratap Ma Kuisan.


Tak perlu banyak cincong, sela Komandan Zhang. Sekarang saatnya.
Minggir, beri jalan! Beberapa pemuda di ujung jembatan, jelaslah mereka anggota milisi, mengosongkan jembatan
dari orang-orang yang berlutut.

Ma Kuisan yang putus asa melayangkan protes ke langit, lelaki tua di langit, apakah kau buta? Apakah aku, Ma Kuisan,
harus membayar perbuatan baik seumur hidupku dengan ditembus sebutir peluru? Zhang Qude, kau bajingan biadab,
kau tak akan mati tenang di atas ranjang. Lihatlah saja nanti! Kau bedebah.

Cukup! Komandan Zhang menghardik. Atau kalian senang mendengar si tua ini memuntahkan racun.
Terdengar derap kaki berlarian melewati jembatan di atas kami. Melalui celah di antara bebatuan, kulihat sekilas orang-
orang melintas.

Berlutut! Seseorang di ujung selatan jembatan berseru.


Minggir semua! Terdengar teriakan dari ujung utara.
Dor dor dor! Tiga letusan membahana.

Suara tembakan itu memekakkan, serasa mengoyak gendang telinga. Sejenak kukira aku akan menjadi tuli. Saat itu
matahari mulai naik di cakrawala, dibingkai cahaya kemerahan yang menyebar ke gumpalan awan seperti kanopi pohon
raksasa. Sesosok tubuh besar tersungkur dari jembatan di atas kami. Seakan melayang perlahan. Namun, ketika
membentur tanah berlapis es di bawah, tubuh itu membentur nyaring lalu teronggok tak bergerak. Aliran darah
mengkristal membanjir dari kepala.

Terdengar suara panik dan gerakan kacau-balau di ujung utaratampaknya itu penduduk desa dipaksa menjadi saksi
hukuman mati dan kini lintang-pukang melarikan diri karena ngeri. Tak terdengar orang-orang bersenjata itu mengejar
penduduk desa yang minggat.

Sekali lagi, derap kaki bergegas melintasi jembatan dari utara ke selatan diikui teriakan Berlutut! di ujung selatan
jembatan dan Minggir! di utara. Lalu bunyi tiga letusan. Tubuh Luan Fengshan, tanpa topi dan mengenakan mantel
compang-camping, tumbang dengan kepala di bawah ke tepi sungai, mula-mula menumbuk jasad Mo Kuisan lalu
terhumbalang ke sampingnya.

Setelahnya, semuanya seakan berjalan teratur. Bunyi tembakan terdengar diikuti jatuhnya dua sosok mayat perempuan
dengan lengan dan kaki terpentang, menumbuk dua jenazah terdahulu.

Aku mencengkeram erat lengan ayah. Sesuatu yang hangat dan basah mengaliri celanaku yang telah usang.

Setidaknya setengah lusin orang berdiri di pinggiran jembatan. Bobot tubuh mereka seakan melesakkan bebatuan di atas
kami. Teriakan mereka memekakkan telinga. Komandan Zhang, perlukah kami memeriksa mereka?
Untuk apa? Cairan otak mereka sudah muncrat ke mana-mana. Jika Kaisar Langit turun sekalipun, dia tidak akan
mampu menyelamatkan mereka.

Ayo kita pergi! Istri tua Guo sudah menyiapkan arak untuk kita.
Mereka melintasi jembatan, menuju utara. Jejak langkah mereka terdengar seperti dentuman. Bebatuan berderak dan
bergoyang, seakan-akan hendak runtuh. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Kini sunyi kembali menerpa.

Ayah mendorongku perlahan. Jangan berdiri bengong seperti orang bego. Ayo lakukan.

Aku menatap sekitar, nanar. Bahkan ayahku sendiri tampak begitu baur dalam pandanganku walau terasa amat dekat.

Hah? Cuma itu yang bisa kukatakan.


Kau sudah lupa, ya? Kita kemari untuk mencari obat untuk nenekmu. Kita harus bergerak cepat sebelum pengambil
mayat datang.

Kata-kata itu masih terngiang di telingaku saat kulihat tujuh atau delapan ekor anjing liar, beraneka warna, beranjak dari
tempat mereka semula di tepi sungai menuju arah kami. Polah mereka mengancam. Sempat terlintas dalam benakku
bagaimana tadi mereka berlari tunggang-langgang seraya menyalak ketakutan saat mendengar suara tembakan.

Aku menyaksikan ayah menyepak lepas beberapa bongkahan batu bata dan melemparkannya ke arah anjing-anjing yang
mendekat. Mereka berlari menjauh. Ayah mengeluarkan belati dari balik jaketnya dan menggoyang-goyangkannya di
udara untuk menakut-nakuti anjing-anjing liar itu. Lengkung cahaya indah keperakan berkilat di seputar siluet gelap
tubuh ayah. Anjing-anjing itu menjaga jarak. Ayah mengencangkan ikat pinggangnya dan menggulung lengan baju.
Awasi aku, ujarnya.

Laksana elang mengerkah mangsa, ayah menyeret mayat kedua perempuan lalu membalikkan jasad Ma Kuisan sehingga
dia telentang. Kemudian ayah berlutut dan menjura ke arah jenazah itu. Tuan Ma, ujarnya lembut. Kesetiaan ada
batasnya. Aku benci harus melakukan ini kepadamu.

Aku seakan-akan melihat Ma Kuisan menjulurkan tangan dan menyeka wajahnya yang berlumur darah. Zhang Qude,
ujarnya dengan seulas senyum tipis. Kau tak akan mati di atas ranjang.

Ayah berusaha membuka kancing mantel kulit Ma Kuisan dengan satu tangan, tapi terlalu gemetar untuk bisa
melakukannya. Hei, Nak, bantu aku, ujarnya. Pegangkan belati ini.

Aku ingat aku menjulurkan tangan untuk meraih belati itu, tapi dia sudah terlebih dahulu mencekalnya dengan gigi-
giginya seraya bergulat membuka kancing kuning bulat di dada Ma Kuisan. Tak sabar, ayah merenggut kancing mantel
itu. Di baliknya tampak semacam rompi berbahan satin yang juga berkancing. Ayah merobeknya pula. Setelah rompi, di
baliknya masih ada kemeja sutra merah. Kudengar ayah mendengus marah. Kuakui aku takjub melihat pakaian lelaki tua
ituumurnya sudah lebih dari lima puluhyang berlapis-lapis. Ayah merobek lapisan baju terakhir itu. Akhirnya perut
buncit dan dada rata Ma Kuisan terpampang. Ayah menjulurkan tangannya, tapi lalu terlonjak bangkit. Wajahnya pucat
sekuning emas. Nak, periksa apakah jantungnya masih berdetak, ujarnya kepadaku.

Kuingat aku menunduk dan menaruh tanganku di dada jasad itu. Walau lemah, kudengar jantungnya masih berdenyut.

Tuan Ma, otakmu sudah muncrat ke mana-mana. Bahkan Kaisar Langit pun tak akan mampu menyelamatkanmu kini.
Jadi, bantulah aku untuk menjadi anak angkatmu, ya? bujuk ayah.

Ayah mencekal belatinya dan menggerakkannya naik turun di sekitar wilayah dada si mayat, mencoba mencari-cari
tempat yang tepat untuk disayat. Kulihat dia menekan belatinya, tapi kulit itu tidak terluka, alot seperti karet. Ayah
menusukkan lagi dengan belatinya, tapi hasilnya sama. Ayah berlutut. Tuan Ma, aku tahu kau tak pantas mati, tapi
Komandan Zhang yang pantas kau balas, bukan aku. Aku hanya mencoba menjadi anak angkatmu.

Ayah mencoba menusukkan belatinya hanya dua kali, tapi seluruh wajahnya telah bermandi peluh. Anjng-anjing liar
sialan itu mulai mendekat lagi ke arah kamimata mereka merah membara, bulu-bulu leher mereka meremang siaga,
seperti duri landak, dan cakar mereka setajam silet mencuat mengancam. Aku menoleh ke ayahku. Cepatlah, anjing-
anjing itu kian dekat.

Ayah bangkit, menggoyang-goyangkan belati di atas kepalanya, dan mengancam anjing-anjing itu seperti orang gila,
mengusir mereka sehingga menjauh sejarak seanak panah. Lalu ia kembali, terengah-engah dan berkata lantang. Tuan
Ma, jika aku tak menyayatmu, anjing-anjing itulah yang akan mengoyakmu dengan taring-taring mereka. Kurasa, lebih
baik aku yang melakukannya daripada mereka.

Rahang ayah menegang, matanya mendelik. Dengan penuh tenaga, ia menghujamkan belatinya ke dada Ma Kuisan
dengan bunyi nyaring. Disentakkannya belati itu ke samping. Darah kehitaman mengalir. Namun, belulang iga
menghentikan gerakannya. Aku kehilangan akal, ujarnya saat menarik lepas belati itu, menyekanya dengan mantel
kulit Ma Kuisan. Seraya mencekal gagang belati erat-erat, ia mengoyak terbuka dada Ma Kuisan.

Aku mendengar bunyi menggeluguk dan menyaksikan belati itu mengiris jaringan usus kekuningan yang tampak
berdenyur; seperti ular, serupa belut. Tercium bau tajam meruap.

Ayah tampak seperti orang kesurupan. Ia mengacak-acak isi perut mayat itu. Tangannya mengobok-obok, mencari-cari
sesuatu. Ia mengutuk-ngutuk. Akhirnya, kebingungan, ia melepaskan jasad itu dengan perut bolong, seluruh ususnya
terburai ke luar.

Apa yang ayah cari? Aku ingat aku bertanya dengan cemas.
Kantong empedu. Di manakah letak kantong empedunya?
Ayah memotong diafragma dan mencari-cari di dalam sana hingga tangannya mencekal jantungtampak indah dan
merah. Lalu ia mengorek paru-paru. Akhirnya, di dekat hati, ia menemukan kantong empedu seukuran telur. Dengan
sangat hati-hati, ia memotongnya dari hati dengan ujung belati, lalu ditaruhnya di atas telapak tangannya. Dia
mengamati benda itu. Basah dan licin. Dalam terpaan cahaya matahari, tampak selaput yang lembut menyelubunginya.
Benda yang dicarinya itu mirip segumpal permata ungu yang indah.

Ayah menggenggamkan kantong empedu itu kepadaku. Pegang ini hati-hati. Aku akan mengambil kantong empedu
Luan Fengshan.

Kali ini ayah bertingkah seperti seorang ahli bedah berpengalaman: dingin, cepat, akurat. Pertama, ia memotong tali
rafia yang digunakan Luan Fengshan sebagai sabuk. Lalu ia membuka mantel rudin lelaki miskin itu dan menahan dada
kurus Luan Fengshan dengan kakinya seraya membuat empat atau lima sayatan ringan. Setelahnya, ia membereskan
segala yang menghalanginya, melesakkan tangan, dan memotong kantong empedu Luan seakan-akan itu sebutir aprikot.

Ayo kita pergi, ujar ayah.


Kami berlari di tepi sungai, sementara anjing-anjing liar itu berkelahi memperebutkan jeroan yang terburai. Hanya
selarik pulas kemerahan yang tersisa di tepi matahari. Cahayanya yang menyilaukan menerpa segala benda terbuka di
kolong langit.

***

Nenekku menderita penyakit katarak kronis, menurut Luo Dasham, sang tabib desa. Konon, sumber penyakitnya adalah
hawa panas yang menyeruap dari dalam rongga tubuhnya. Obat mujarab untuk penyakit itu haruslah sesuatu yang amat
dingin dan sangat pahit.

Sang tabib menyingsingkan lengan mantel panjangnya dan beringsut ke arah pintu rumah kami ketika ayah memohon
kepadanya untuk memberinya resep obat mujarab untuk ibunya.

Hmm, obat mujarab, Tabib Luo menyuruh ayah mencari empedu babi. Perasan cairannya bisa digunakan untuk
sedikit membersihkan mata ibunya dari selaput katarak.

Bagaimana kalau empedu kambing? tanya ayah.


Boleh, ujar sang tabib. Bisa juga pakai empedu beruang. Tapi kalau kau bisa mendapatkan empedu manusia ha, ha,
ha jangan kaget kalau ibumu dapat melihat lagi dengan normal seperti sediakala. (*)

Mo Yan adalah pengarang China terkemuka yang memenangkan hadiah nobel sastra 2012. Dia lahir pada 1955 dalam
keluarga petani di China Utara dengan nama asli Guan Moye. Nama Mo Yan adalah nama pena yang bermakna Jangan
Bicara. Novel adikaryanya, Big Breast and Wide Hips,telah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh penerbit
Serambi pada 2011. Cerpen di atas terjemahan Anton Kurnia dari The Cure, hasil terjemahan Howard Goldblatt dari
bahasa Mandarin, termuat dalam antologi Chairman Mao Who Not Amused: Fictions from Todays China,Groove Press,
London, 1996, susunan Howard Goldblatt.

Cerpen Mo Yan (Jawa Pos, 12 Mei 2013)


Ludwig dan Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan (Musim Semi di Berlin)

TAMBAH lagi pepperoninya? usul Ludwig.


Terima kasih, aku sudah kenyang. Kutepuk-tepuk perutku.
Kenyang, seolah terpesona, Ludwig mengulang kata itu, Lama sekali aku baru dengar kata itu lagi.
Dia menatap tajam-tajam pada pengaduk pepperoni di meja yang terbuka seolah-olah tengah menatap seorang kawan
lama yang mengingatkan dirinya pada kenangan indah masa kanak-kanak. Dia seperti tercekam oleh kenangan itu. Saat
itu, selama beberapa waktu selalu terdengar bunyi ledakan dari luar, dan jika kau menekankan wajah pada kaca jendela,
kau akan melihat Gereja Prancis yang terbakar, dan tiang-tiang lampu di tepian jalan ambruk bagaikan para penjaga
yang tertidur saat bertugas. Ludwig berlalu dari jendela dan pada kaca tertinggal jejak minyak dari hidungnya.

Tentara Rusia bangsat itu tak akan berhenti hingga tak ada lagi yang bisa dihancurkan di Berlin ini, desisnya dengan
geram. Pandangannya mengitari ruangan seakan-akan ingin mencari sesuatu yang bisa dia hancurkan. Tapi tak ada apa
pun selain sebuah meja dan dua kursi, dan di atas meja itu hanya ada pepperoni. Ludwig mendekatkan mukanya ke
pepperoni itu, dan membauinya. Setelah pepperoni, yang kita butuhkan itu bir, gumamnya pada diri sendiri, Tapi tak
akan kita temukan di sini.

Dia mengedikkan bahu.

Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? ajak Ludwig. Bagus untuk pencernaan kita.
Kami saling mengangsurkan jaket masing-masing. Ludwig menghilang ke ruang sebelah dan kembali dengan membawa
senapan berburu.

Aku dapat ini dari Opa Gunther untuk hadiah ulang tahunku ketujuhbelas, ujarnya dengan mata bersinar-sinar, Yah
mungkin kita bisa menukarnya dengan sebotol anggur atau beberapa botol bir.

Kami keluar dan seolah-olah kami terlempar ke suatu tempat yang belum pernah sekali pun kami datangi. Jalanan
begitu jelek untuk ukuran Berlin, dan cuacanya begitu dingin pada akhir April seperti sekarang. Ludwig mengapit
senapan ketika dia memakai sepasang sarung tangan wol yang sudah sobek-sobek.

Jalan-jalan ini bisa menghangatkan tubuh kita, bisiknya.


***

KAMI menyusuri bulevar. Ludwig terus-menerus meniup tangannya agar tetap hangat seolah-olah uapnya mampu
menyelusup ke sobekan sarung tangannya. Sedikit lampu jalan yang masih tegak tak lagi menyala, tapi gedung-gedung
yang terbakar di sekitar kami memberikan cahaya yang cukup. Ludwig berhenti di dekat sebuah poster bergambar Der
Fuhrer. Dia menunjuk dan berkata dengan bangga, Dia dan aku belajar di sekolah yang sama di Linz. Dia dua tingkat di
bawahku.

Ludwig memandangi kembali senapannya seolah-olah lupa senapan itu ada dalam kempitannya. Sekali lagi, matanya
menyiratkan bahwa dirinya tengah mengenang sesuatu.

Pada tahun terakhir aku di Linz itulah Opa Gunther memberiku senapan ini. Aku kemudian bersama Anna, gadis
pertama yang benar-benar kusentuh, tambahnya sembari meneliti jari-jemarinya yang mempermainkan untaian
benang dari sobekan sarung tangan. Adolf jatuh cinta padanya. Dia bawakan Anna bunga, permen, dan lukisan
karyanya. Aku kasihan pada lelaki kecil itu. Dia begitu pendek. Setinggi pipi Anna. Ludwig meletakkan tangan kirinya
sejajar dengan pipinya. Lagi pula, dia lebih muda dari kami berdua, lebih tepatnya masih kanak-kanak. Dia belum
punya kumisnya yang lucu itu, ujarnya sembari menunjuk poster.

Ada hal yang sangat menyedihkan dalam kaitannya dengan Anna, caranya mendapatkan hati Anna, meski gadis itu
selalu memperlakukannya dengan sabar dan hormat. Suatu hari Anna datang padaku menunjukkan gambar dirinya yang
dibuat Adolf. Dia menjajarkan gambar itu dengan mukanya. Sama sekali tak mirip. Sungguh, Anna itu cantik, tapi figur
dalam gambar itu jauh lebih cantik lagi. Figur itu sangat sempurna, bak seorang mahadewi, seperti salah
seorang Valkyrie yang kita pelajari dalam kelas sastra. Anna menolak saat aku ingin menyentuh gambar itu. Dia bilang
akan meninggalkanku sebab dia jatuh cinta pada Adolf.

Ludwig mengunjal napas, dan aku terus-menerus memandangi kabut uap yang berkelindan di atasnya. Kau berjiwa
besar, Ludwig, ujar Anna, Kau juga tak bodoh, kecuali memang kau tak punya imajinasi. Tapi Adolf punya. Mata Anna
bersinar-sinar, Adolf itu seorang seniman. Kulewatkan sore itu di atap dengan senapan baru pemberian Opa sambil
membayangkan sekiranya aku membunuh Adolf, membunuh Anna, dan bunuh diri.

Ludwig mengarahkan senapannya ke sasaran yang tak terlihat. Dor! Dor! ujarnya membuat suara tembakan. Dan dia
bilang aku ini tak punya imajinasi, ujarnya sembari tersenyum sedih padaku.

Seorang seniman, rutuknya, Akan kuceritakan kepadamu sesuatu tentang seni, tambahnya dengan geram. Sigfried,
saudara lelaki ibuku selalu membuat patung dari keju. Dia bisa berjam-jam membuat patung. Setiap kali bergabung
dengan kami untuk makan, dia telah membuat patung: kuda, merpati, atau Sombrero. Ibuku akan menjajarkan patung-
patung itu di rak, dan dalam tiga hari pasti baunya sudah tak sedap dan berjamur sehingga kami harus membuangnya.

Ludwig menendang tiang lampu yang ambruk. Senapannya jatuh dan menimpa lantai jalan. Dengan menunduk dia
mengambilnya, dan ketika tegak, matanya bersitatap dengan mataku. Keju itu dibuat untuk dimakan, nadanya
menyiratkan keacuhan.

***

DI Gerbang Alexanderplatz, kami tersandung sesosok tubuh. Dengan malu-mau Ludwig memutar sosok itu dan
mencoba memeriksa nadinya. Tubuh seorang perempuan muda yang gaunnya basah oleh darah. Bahkan sekarang,
sudah mati pun mukanya masih menampakkan kesakitan. Ludwig menyandarkan senapan pada pagar salah satu rumah
dan mengangkat mayat itu. Tak ada lagi tempat untuk menguburnya. Dengan hati-hati, Ludwig meletakkan jasad
perempuan itu di tempat duduk belakang Volkswagen terbuka yang ada di situ. Dia melepas mantelnya untuk menutupi
mayat itu. Lalu dia kembali untuk mengambil senapannya sebelum kami kembali berjalan. Sungguh petang yang aneh,
ujar Ludwig dengan suara bergetar, bersidekap seakan-akan dengan begitu dia mampu menangkal dingin. Kuberikan
jaketku pada perempuan itu, dan aku bahkan tak tahu namanya. Sungguh terkutuk. Dengan suara masih bergetar dia
melanjutkan, Aku bahkan tak tahu warna matanya.

Di dekat puing-puing gedung opera, Ludwig menemukan tiga botol minuman dari prem dan seorang pemabuk. Pemabuk
itu mengenakan pakaian usang dan botol-botol itu telah kosong.

Maaf, Tuan-tuan, ujar si pemabuk sembari menunduk hingga hampir kehilangan keseimbangan. Punyakah Tuan-
tuan sesuatu untuk meredakan rasa sakit laknat yang bersemayam di dalam kepalaku?

Yang kupunya hanya sepasang sarung tangan dan senapan, jawab Ludwig yang terlihat kecewa lantaran botol-botol itu
kosong. Si pemabuk mengukur kaliber senapan dengan jarinya.

Tidak, ini terlalu kecil, ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kukira itu akan membuatku kesakitan.
Pemabuk itu menyandarkan punggung pada tiang lampu dan tergelincir ke posisi duduk, dan mencoba memandangi
gedung opera dengan tatapan nanar. Sungguh tak patut bangunan umum di Berlin dirawat dengan buruk akhir-akhir
ini.Tangan kanannya menarik lipatan celanaku.

Tolong besok ingatkan saya untuk menulis surat protes pada Dewan Kota, ujar Ludwig. Dia masih mencengkeram
botol tapi tanpa minat lagi.

Sekitar satu jam berputar-putar dan tak satu pun kami jumpai orang yang hidup. Jelas sekali suaranya yang gemetaran
yang mengguncang-guncang tubuhnya lantaran dia masih kepikiran perempuan muda itu.

Tentu saja tidak, ujar si pemabuk, Kau belum menjumpai seorang pun karena mereka semua ada di tempat Konser
Simfoni.

Apa yang kaubicarakan? suara Ludwig terasa menyembunyikan kejenuhannya. Lebih dari dua tahun Konser Simfoni
sudah tak dimainkan.

Tapi meriam, ujar si pemabuk sambil menunjuk langit, Aku yakin mereka memainkan lagi Orkestra Simfoni 1812.
Merasa frustrasi, Ludwig melempar botol kosong ke tanah dan meremuknya. Tak ada yang tersisa di kota mati ini,
bisiknya dan memandangku. Bahkan bila kau itu nyata. Kuteliti tanganku lewat cahaya dari api yang membakar Gereja
Prancis. Ludwig benar.

Ars longa, vita brevis, ujar pemabuk itu, sedih.


Maaf? tanya Ludwig sambil menatap bingung.
Tidak, tidak, ujarnya dengan berani, Bukan aku yang harus minta maaf.
***

SUARA batuk dari sosok yang membungkuk ke meja kafe membuat kami berdua melompat. Betapa anehnya Berlin
yang sunyi setelah kau terbiasa dengan bunyi ledakan. Ketika kami berjalan menuju kafe, Ludwig menyisir rambutnya
dengan tangan, seolah-olah akan ke tempat pertemuan penting. Lelaki di meja kafe itu memakai jas hujan kelabu gelap.
Mukanya yang licin tampak tidak ramah, dan mata kecilnya menatap lekat pada papan catur di depannya yang masih
lengkap bidak-bidaknya. Menarik, sangat menarik, gumamnya, Bagaimana mungkin si Putih bisa membuat sekakmat
dalam tiga langkah?

Ludwig memicingkan mata untuk mengingat-ingat. Sontak senyum lebar terlihat di mukanya dan dengan sangat riang
berlari ke arah lelaki berjas hujan itu.

Adolf, kau kan itu, dan tanpa kumis lucumu, awalnya aku tak mengenalimu, ujar Ludwig dengan tertawa,
menjentikkan jari ke bibir atasnya membuat kumis tiruan.

Sungguh, Adolf, betapa gembiranya aku bertemu wajah yang tak asing di kota kosong ini. Aku sudah menyusuri jalan
lebih dari satu jam tanpa menjumpai orang yang masih bernyawa, seolah-olah seluruh kota bermain petak-umpat
denganku.

Hitler terus menatap tajam pada papan catur. Sebagian besar meja lain telah digulingkan dan bidak-bidaknya
berserakan. Adolf, ini aku, Ludwig dari Linz. Kenapa kau tak menjawabku? Ludwig bertanya sambil menepuk lembut
bahu lelaki itu.

Ini sungguh masalah rumit, Hitler berkomat-kamit, masih tampak asyik sendiri, tangan kanannya memijat bagian
belakang lehernya.

Jadi, tak pantaskah kau menjawabku, eh? Ludwig mendesis geram. Maka aku tak akan memaksamu bicara, Fuhrer.
Dia memberi tekanan setiap suku kata pada Fuhrer. Yang kaubutuhkan adalah mendengarkan.

Ludwig menyandarkan senapannya dan mulai bicara dengan nada menceracau. Aku punya adik lelaki: Karl. Kau tak
kenal dia. Dia lebih berbakat ketimbang aku. Orangtuaku mengirim dia belajar di Wina, tapi saat keluargaku bangkrut,
kami pindah ke Jerman. Karl harus menghentikan sekolahnya dan mulai bekerja serabutan. Saat perang pecah, dia
segara jadi sukarelawan untuk SS, dan dalam waktu cepat dia menjadi opsir. Sebelum berdinas militer, dia selalu
menjadi orang yang riang, suka tersenyum, bersiul, dan bintang dalam pesta-pesta. Tapi sekarang, Ludwid melanjutkan
dengan nada sedih, Sekarang, ketika dia berada di jalanan, mukanya tanpa ekspresi, kosong seperti zombi. Tiga bulan
lalu, dia menembak dirinya dengan senjata dinasnya, dan itu semua karena kau, kau bajingan. Ada isakan pada suara
Ludwig, Itu semua karena kau!

Harus kuakui, gumam Hitler, Masalah itu tampak muskil dipecahkan.


Ludwig menatapnya dingin dan menikam. Kau bajingan, desisnya, dan senapan tuanya menyalak.

Aneh benar, ujarku pada Ludwig sembari mencermati papan catur. Bagaimana mungkin kau melakukan sekakmat
saat tak ada raja di papannya?

Ayo pulang, bisik Ludwig, Aku lelah.


***

KAMI berjalan dengan terdiam. Waktu keluar dari Alexanderplatz, Ludwig menyeka wajah lembabnya dengan
punggung tangan. Aku minta maaf atas adegan memalukan di kafe tadi, ujarnya sambil menundukkan kepala. Aku tak
tahu apa yang terjadi padaku. Pasti sejenis kegilaan sesaat. Dan sungguh hina. Aku bahkan tak punya saudara lelaki.

Dia banyak melakukan hal buruk. Dia pantas mati, ujarku untuk menenangkannya.
Mungkin begitu, balas Ludwig, tapi bukan itu alasan aku menembaknya.
Kami berjalan lagi dalam diam di antara bunyi ledakan, dan Ludwig tertawa kecut, mirip suara tersedak. Aku punya
adik lelaki, Karl, katanya menirukan suaranya sendiri, Dan Anna berani bilang aku tak punya imajinasi.
Ada sebuah poster Der Fuhrer di dinding salah satu dari bangunan-bangunan itu. Aku membandingkan gambar itu
dengan lelaki di kafe. Kau benar, Ludwig, ujarku, Dia sungguh tampak lebih bagus tanpa kumis. (*)

Catatan:

Der Fuhrer: Sebutan untuk Adolf Hitler.


Valkyrie: sebutan untuk dewi dalam mitologi Skandinavia yang menentukan serdadu mana yang harus mati dan tetap
hidup dalam peperangan.

Sombrero: topi khas Meksiko


Ars longa, vita brevis: Ungkapan Latin yang berarti Seni berumur panjang, hidup begitu singkat.

Etgar Keret, sastrawan Israel kelahiran 20 Agustus 1967 yang dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel grafis, dan
skenario film dan televisi. Cerpen berbahasa Ibrani ini diterjemahkan Saroni Asikin lewat terjemahan bahasa Inggris
oleh Miriam Shlesinger dalam wordswithoutborders.org.

Cerpen Etgar Keret (Suara Merdeka, 12 Mei 2013)


Hari yang Sempurna untuk Kangguru
ADA empat ekor kangguru di kandangsatu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.
Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti
ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa
dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang
lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk
mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun
hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus
kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan
yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun
aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah
kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang
lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah
ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.

Pada akhirnya, pagi yang kami tunggu-tunggu untuk melihat bayi kangguru datang juga. Kami bangun dari tidur pada
pukul enam pagi, membuka gorden, dan yakin hari itu adalah hari yang sempurna untuk kangguru. Kami buru-buru
membersihkan diri, sarapan, memberi makan kucing, buru-buru mencuci baju lalu mengenakan topi untuk menghalau
sinar matahari, dan kami pun berangkat.

Apa kau pikir bayi kangguru itu masih hidup? pacarku bertanya saat kami di kereta.
Aku yakin ia masih hidup. Tak ada satu berita pun yang mengabarkan bahwa bayi kangguru itu mati. Jika saja ia mati,
aku yakin kita sudah membacanya di koran.

Mungkin saja tidak mati, tapi bisa saja ia sakit dan dirawat di rumah sakit.
Ya, tapi kalau pun itu terjadi, kita sudah membaca di koran.
Bagaimana jika kangguru itu ketakutan dan bersembunyi di sudut kandang?
Apa bayi kangguru punya rasa takut?
Bukan bayinya. Tapi ibunya! Mungkin ia mengalami trauma dan menyudutkan diri bersama bayinya di kandang yang
gelap.

Seorang wanita memang selalu memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Trauma? Trauma macam apa coba
yang bisa menyerang seekor kangguru?

Jika aku tak melihat bayi kangguru hari ini, aku pikir aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi,
katanya.

Kupikir juga begitu.


Maksudku, pernahkah kau melihat bayi kangguru?
Tidak, aku tak pernah melihatnya.
Apa kau yakin kau bakal punya kesempatan lain untuk melihat bayi kangguru?
Aku tak tahu.
Nah, karena itulah aku gelisah.
Ya, tapi dengar dulu, kataku nyerocos balik. Aku tak pernah melihat seekor jerapah melahirkan, atau bahkan melihat
hiu yang berenang-renang. Jadi apa masalahnya dengan bayi kangguru?

Ya karena ia bayi kangguru, katanya. Karena itulah.


Aku pun menyerah dan mulai membalik-balikkan halaman koran. Aku tidak pernah satu kali pun menang-argumen
dengan seorang perempuan.

***

Bayi kangguru itu, sesuai perkiraan, masih hidup dan sehat, ia (entah jantan atau betina) terlihat tampak jauh lebih
besar dibandingkan dengan gambarnya yang dimuat di koran, bahkan ia melompat-lompat di sekitar pagar kandang. Ia
tak lagi seekor bayi kangguru, hanya kangguru mini. Pacarku pun kecewa.

Ia bukan bayi lagi, katanya.


Tentu saja ia masih bayi, kataku mencoba menghiburnya.
Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Ia cuma menggelengkan
kepala. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan tidak bakal mengubah kenyataan
bahwa si bayi kangguru ternyata sudah besar. Jadi aku cuma diam.

Aku bergegas menuju warung kudapan dan membeli dua cokelat es krim, dan ketika aku kembali ia masih bersandar
menghadap kandang kangguru, menatap bayi kangguru itu lekat-lekat.

Ia bukan lagi seekor bayi kangguru.


Kau yakin? kataku seraya memberinya es krim.
Seekor bayi kangguru mesti berada di kantung induknya.
Aku mengangguk dan menjilat es krimku.

Tapi yang ini tidak lagi berada di kantung induknya.


Kami berusaha mengenali induk kangguru. Sang ayah, mudah untuk dilihat, ia tampak paling besar dan begitu tenang di
antara lainnya. Layaknya seorang komposer yang bakatnya telah memudar, ia hanya diam saja, menatapi dedaunan yang
menjadi makanannya. Dua kangguru lainnya adalah betina, terlihat dari bentuk, warna, dan air muka mereka. Salah
satunya mesti ibu si bayi kangguru.

Satu di antara dua kangguru itu mesti ibu si bayi, dan satu lagi bukan, kataku berkomentar.
Um.
Jadi yang mana yang bukan ibunya?
Aku tak tahu, katanya.
Kami tak sadar bahwa ternyata bayi kangguru itu melompat-lompat di pagar kandang, lalu sesekali mengorek-ngorek
tanah untuk alasan yang tidak jelas. Ia (entah jantan atau betina) tampaknya menemukan cara untuk membuat dirinya
sibuk. Si bayi kangguru melompat-lompat di sekitar bapaknya berdiri, mengunyah sedikit dedaunan, dan mengorek-
ngorek lumpur, mengganggu kangguru betina, lalu berbaring di tanah, berdiri lalu melompat-lompat lagi.

Bagaimana bisa kangguru melompat-lompat begitu cepat?


Agar bisa melarikan diri dari musuh?
Musuh apa?
Manusia, kataku. Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan menyantap mereka.
Kenapa bayi kangguru sanggup naik ke kantong ibunya?
Agar bayi kangguru bisa menyelamatkan diri bersama ibunya. Bayi kangguru tidak bisa berlari cepat.
Jadi mereka terlindungi?
Ya, kataku. Sang ibu melindungi anak-anaknya.
Berapa lama sang ibu melindungi anak-anaknya seperti itu?
Aku sadar aku seharusnya membaca beberapa hal tentang kangguru di sebuah ensiklopedia sebelum kami bertamasya
kecil seperti ini. Rentetan pertanyaan seperti ini memang sudah seharusnya aku perkirakan.

Sebulan sampai dua bulan, aku bayangkan.


Tapi bayi itu cuma berumur sebulan sekarang, katanya seraya menunjuk bayi kangguru. Jadi mestinya ia masih di
kantung ibunya.

Ya, aku pikir juga begitu.


Matahari mengangkasa di atas kepala, dan kami tak bisa mendengar teriakan anak-anak di kolam renang di dekat kami.
Sepotong awan putih melintasi kami.

Seorang pelajar tengah bekerja di warung hotdog yang dibentuk layaknya sebuah minivan dengan beberapa kotak
pengeras suara yang mengedarkan alunan suara Stevie Wonder dan Billy Joel saat aku menunggu hotdog yang tengah
dimasak.

Saat aku kembali ke kandang kangguru, pacarku buru-buru berkata, Lihat! menjerit, seraya menunjuk satu di antara
kangguru betina. Kau lihat, bukan? Bayi kangguru di kantong ibunya!

Aku cukup yakin bayi kangguru itu sudah meringkuk di kantung ibunya (anggap saja kangguru betina itu adalah benar-
benar ibunya). Kantung kangguru betina itu benar-benar terisi penuh, dan sepasang telinga mungil dan sepucuk ujung
ekor mengintip dari balik kantungnya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa dan benar-benar membuat
tamasya kami tak sia-sia.

Mungkin terasa berat membawa bayi kangguru di dalam kantung, katanya.


Jangan khawatir, kangguru itu hewan yang kuat.
Betul begitu?
Ya, tentu. Karena itulah mereka bertahan hidup.
Meski hidup dengan panasnya matahari, ibu kangguru tidak menderita. Pacarku terlihat layaknya seorang perempuan
yang baru saja menyelesaikan belanjaan sorenya di supermarket di sekitar wilayah Aoyama yang indah, dan tengah
bersantai istirahat menikmati secangkir kopi di warung kopi.

Ibu kangguru itu benar-benar melindungi bayinya, bukan?


Ya.
Aku bayangkan bayi kangguru itu tidur lelap.
Ya, mungkin saja.
***

Kami menyantap hotdog dan meminum kola seraya berjalan meninggalkan kandang kangguru.

Saat kami pergi, sang ayah kangguru masih menatapi makanannya seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang ibu
kangguru dan bayinya menyatu, istirahat di antara aliran waktu yang tenang, ketika satu kangguru misterius lainnya
melompat-lompat di pagar seolah-olah ingin melarikan dirinya dari kandang.
Hari itu rupanya jadi hari yang panas, hari yang panas pertama bagi kami setelah beberapa waktu yang lama.

Hei, kau ingin minum bir? tanya pacarku.


Ayo. (*)

Dialihbahasakan oleh Habi Hidayat

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013)