You are on page 1of 2

HARUSKAH IMUNISASI CAMPAK DAN RUBELLA ?

Sejak awal Agustus 2017 kemarin Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan mulai aktif
mengkampanyekan imunisasi campak dan rubella yang di laksanakan di seluruh Pulau Jawa
mulai dari anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun. Pro kontra imunisasi ini muncul dari
berbagai kalangan, ada yang setuju karena merasa manfaatnya penting untuk kesehatan dan
ada yang ragu-ragu kenapa harus serempak dilaksanakan dan terkesan dipaksakan. Sebelum
itu kita bahas dulu mengenai campak dan rubella. Campak dan rubella merupakan penyakit
yang sama-sama disebabkan oleh virus. Campak disebabkan oleh morbilivirus sedangkan
rubella disebabkan oleh togavirus. Gejala yang muncul dari penyakit campak dan rubella
hampir sama yaitu demam disertai dengan ruam namun anak yang terkena campak terkadang
juga disertai gejala yang lebih parah seperti diare, batuk, sesak dan mata merah.

Oleh karena campak disebabkan oleh virus sebenarnya penyakit tersebut dapat sembuh dengan
sendirinya tergantung dari kekebalan tubuh seseorang melawan virus namun komplikasi dari
penyakit campak yang dapat membuat penyakit lebih parah seperti diare yang dapat
mengakibatkan seseorang dehidrasi, radang paru (pneumonia) dan campak juga bisa
mengakibatkan kecacatan bahkan kematian.

WHO melaporkan pada tahun 2015 ada sebanyak 134.200 kematian akibat penyakit campak
dan pada tahun 2016 dilaporkan 6.890 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 5 orang. Kasus
campak semakin menurun akibat dilaksanakannya imunisasi campak namun dengan kasus
segitu Indonesia belum dikatakan bebas campak karena pada tahun 2020 Kementrian
Kesehatan menargetkan Indonesia bebas campak.

Imunisasi menjadi wajib sebagai salah satu upaya sebagai bentuk perlindungan terhadap
penyakit yang disebabkan oleh virus terutama campak dan rubella. Dilaporkan setiap tahun 2,7
juta anak di dunia meninggal akibat penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Imunisasi
menjadi penting untuk dilakukan agar anak terhindar dari penyakit yang harusya dapat dicegah
dengan imunisasi melihat bahaya yang ditimbulkan dari penyakit tersebut seperti campak dan
rubella yang dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian.
Seorang ibu di Kota Solo, Wijayanti segera mendaftarkan anaknya yang berusi 3.5 tahun untuk
dilakukan imunisasi MR karena pengalaman kakak ipar dan teman dekatnya yang mengalami
keguguran akibat terkena virus rubella. Berikut pengakuannya :

Ya bagi saya, imunisasi ini sangat penting. Pengalaman saya, ada kakak ipar saya yang janin
dalam kandungannya terkena rubella dan janinnya tidak terselamatkan. Begitu juga ada teman
saya yang hamil dengan kondisi janin terkena rubella dan akhirnya bayi lahir kondisi kepala
dan otaknya mengecil. Bagi saya sebagai seorang ibu dengan kondisi hamil dan punya anak
balita, itu pengalaman yang berharga. Kalau ada yang menolak imunisasi karena keraguan
kehalalan vaksin atau munculnya vaksin palsu, ya itu tidak beralasan, pemerintah sudah bekerja
keras untuk menyelamatkan warganya agar terhindar dari penyakit menular atau mematikan.
Pemerintah juga pasti sudah berkoordinasi dengan tokoh agama terkait kehalalan vaksin ini,
ungkapnya.

Melihat bahaya yang ditimbulkan dari penyakit campak dan rubella pemerintah mewajibkan
untuk anak-anak mulai usia 9 bulan sampai 15 tahun untuk di imunisasi MR bahkan sekolah-
sekolah turut menjadi tempat untuk dilakukannya imunisasi MR tersebut agar kasus campak
dan rubella dapat terhindar dan Indonesia bebas campak rubella. Mencegah lebih baik daripada
mengobati, untuk itu kepada semua ibu, orang tua sudah seharusnya kita melindungi anak kita
dari penyakit yang dapat mematikan dan membahayakan tersebut agar anak-anak dapat tumbuh
dengan sehat dan normal di masa pertumbuhannya.

Referensi :

https://www.voaindonesia.com/a/3966800.html

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/08/19/ouvfzv396-mengapa-
harus-ada-imunisasi-campak-dan-rubella-di-negeri-ini