You are on page 1of 1

Membeli kebahagiaan

Menyambut ulang tahunnya yang ke-6, Putri diajak ayahnya shopping di sebuah toko mainan.
Tampaknya ia tertarik pada sebuah boneka cantik terbalut baju beludru ungu di rak mainan di
pojok ruangan. Apakah Putri boleh minta ini, Pak? Sang ayah menganggukkan kepala tanda
setuju.

Saat menuju kasir, Putri melihat anak laki-laki seusianya sedang melihat-lihat mainan ditemani
ayahnya. Rupanya tujuan mereka sama. Melihat penampilannya, tampak bahwa mereka berasal
dari kalangan yang status sosial ekonominya di bawah keluarga Putri. Dari kejauhan tampak si
bocah laki-laki itu melonjak kegirangan melihat mainan robot yang terpajang di rak. Mereka lalu
terlihat dalam percakapan yang serius. Namun setelah si ayah membuka-buka dompet, ia
menggeleng-gelengkan kepala.

Putri menyaksikan dengan saksama seluruh adegan tadi. Setelah berpikir sejenak, ia
mengembalikan bonekanya ke tempat semula lalu mengambil robot mainan yang tadi dipilih si
bocah. Setelah itu ia menuju ke kasir. Sambil membayar ia membisikkan sesuatu kepada sang
kasir, yang kemudian segera membungkus mainan tersebut dan menyimpannya di bawah meja.
Putri dan ayahnya berdiri di dekat pintu, menunggu si bocah laki-laki tadi melewati jalur keluar.

Selamat! Kamu terpilih menerima hadiah ini! ujar kasir kepada si bocah lelaki itu seraya
memberinya bungkusan mainan.

Wah, inilah barang yang selama ini kuidam-idamkan, seru si bocah dengan amat gembira
setelah membuka isi bungkusan tersebut.

Sayang, alangkah mulia hatimu, ujar ayah Putri.

Pak, bukankah Ibu menyuruh saya membeli sesuatu yang membuatku bahagia?

Tentu saja, sayang.

Nah, aku baru saja melakukannya, jawab Putri.

Itulah kisah Putri. Sebagai bocah tentu ia belum pernah baca buku The Bliss of the Way. Di
dalamnya Anton Chekov menulis, Manusia diciptakan untuk bahagia. Siapa pun yang
mendapatkan kebahagiaan berhak mengatakan pada dirinya sendiri, Aku telah melakukan
kehendak Tuhan di dunia ini. (*/djs)

(Intisari, Feb 2004)