You are on page 1of 2

Apendisitis adalah inflamasi pada appendiks vermiformis (DynaMed, 2013).

Menurut definisi lain, apendisitis adalah inflamasi bagian dalam dari apendiks
vermiformis yang menyebar ke bagian-bagian lainnya (Craig, 2013). Apendisitis
merupakan penyebab utama nyeri abdomen yang membutuhkan tindakan operasi
segera pada anak-anak (Lee, 2010, Maki, 2013, Huckins, 2013, Saucier, 2013). Di
Amerika Serikat dijumpai 77.000 kasus apendisitis akut pada anak per tahun. Laki-
laki lebih berisiko menderita apendisitis daripada perempuan dengan rasio 1,4:1.
Puncak insidensi apendisitis pada usia 10 20 tahun (DynaMed, 2013).
Patofisiologi dasar apendisitis adalah obstruksi lumen apendiks diikuti oleh
infeksi (Lee, 2013 dan DynaMed, 2013). Bersamaan dengan terjadinya obstruksi,
sekresi mukus terus berlangsung dan meningkatkan tekanan intraluminal. Kemudian
terjadi pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Mukus di dalam lumen berubah menjadi
pus dan tekanan intraluminal terus meningkat. Hal ini menyebabkan distensi apendiks
dan nyeri viseral yang khas di daerah epigastrik atau periumbilikus karena apendiks
dipersarafi oleh pleksus saraf torakal sepuluh (T 10) (Minkes, 2013 dan Saucier,
2013).
Karena tekanan intraluminal terus meningkat, terjadi obstruksi aliran limfe,
yang menyebabkan edema dinding apendiks. Stadium ini dikenal sebagai apendisitis
akut atau fokal (Minkes, 2013). Karena inflamasi semakin hebat, terbentuk eksudat
pada permukaan serosa dari apendiks. Ketika eksudat mencapai peritoneum parietal,
timbul nyeri yang lebih intens dan terlokalisasi pada abdomen kuadran kanan bawah.
Inilah yang disebut gejala klasik apendisitis (Lee, 2013).
Akhirnya, dengan peningkatan tekanan intraluminal yang terus berlanjut,
terjadi trombosis vena dan kegagalan arteri yang menyebabkan gangren dan perforasi
(Lee, 2013).
Jika tubuh berhasil menutup perforasi, nyeri akan berkurang. Walaupun
demikian, gejala tidak sepenuhnya sembuh. Pasien mungkin masih merasa nyeri
abdomen pada kuadran kanan bawah, penurunan nafsu makan, perubahan pola
defekasi (misalnya diare, konstipasi), atau demam intermiten. Jika perforasi tidak
berhasil ditutup, maka akan terjadi peritonitis difus (Lee, 2013).
Pada kasus ini pasien merupakan anak laki-laki usia 11 tahun di mana laki-laki
lebih berisiko menderita apendisitis dan usia pasien merupakan usia puncak insidensi
apendisitis. Pasien dibawa ke IGD RSUD Dr. Moewardi dengan keluhan nyeri perut
kanan bawah sejak 3 jam SMRS. Berdasarkan anamnesis pasien tersebut mengalami
nyeri perut kanan bawah yang timbul tiba-tiba, nyeri terasa mules sampai pasien ingin
menangis. Gejala tersebut merupakan gejala klasik apendisitis. Ditemukan juga gejala
hilangnya nafsu makan, mua dan muntah. Pasien juga pernah mengalami keluhan
yang sama 8 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik pasien tidak ditemukan adanya demam. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan suhu 36,70C per aksila. Kebanyakan anak-anak dengan
apendisitis tidak demam atau subfebris (Minkes, 2013). Pada pemeriksaan abdomen
nyeri maksimal dapat ditemukan di titik McBurney pada abdomen kuadran kanan
bawah (Minkes, 2013 dan DynaMed, 2013) seperti yang ditemukan pada pasien.
Pada pemeriksaan penunjang USG abdomen didapatkan hasil appendiks letak
pre ileal, semi edematous, hypoechoic homogen; nyeri tekan probe positif hilang
timbul dengan kesimpulan appendisitis kronis eksaserbasi subakut. Hasil pemeriksaan
USG yang dilakukan oleh ahli bedah dapat membantu mengidentifikasi apendisitis
dengan sensitivitas 92 % dan spesivisitas 96 %(DynaMed, 2013).
Tatalaksana apendisitis yaitu dengan antibiotik intravena diberikan selama di
rumah sakit, dilanjutkan antibiotik per oral bila pasien sudah cukup sehat untuk
pulang. Apendektomi merupakan terapi definitif pada apendisitis karena dapat dicapai
perbaikan spontan setelah apendektomi (DynaMed, 2013). Pada pasien ini diberikan
terapi injeksiaAmpicillin (50 mg/kgBB/6 jam) ~ 1gr/6 jam. Kemudian dilakukan
laparoskopi appendictomy. Selanjutnya dilanjutkan antibiotik amoxicillin per oral
untuk pulang.