You are on page 1of 4

Al-Qur’an dan Oceanografi

H. Agus Jaya, Lc.M.Hum

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah al-Qur’an al-Ittifaqiah (STITQI)


Indralaya Ogan Ilir Sumsel.

Al-Qur’an memang bukan kitab teknologi, namun demikian al-Qur’an


adalah kitab petunjuk untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,
maka adalah hal yang sangat logis jika di dalam kitab suci ini termuat
petunjuk-petunjuk tersurat dan tersirat yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi guna menunjang terwujudnya fungsi al-
Qur’an sebagai petunjuk. Diantara demikian banyak kajian
teknologi dalam al-Qur’an adalah fenomena dua laut mengalir
berdampingan dengan muatan air yang tawar lagi segar dan air asin
lagi pahit yang keduanya tidak bercampur seolah ada pemisah yang
sangat kokoh antara keduanya. Allah swt berfirman; ”Dan Dialah yang
membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar
lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara
keduanya dinding dan batas yang menghalangi”. QS: Al Furqon: 53.
pada ayat lain, Allah swt juga berfirman: ”Dia membiarkan dua lautan
mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada
batas yang tidak dilampaui masing-masing. (QS: Ar-Rahman: 19-20)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat 30 surat al-Furqon diatas, bahwa
Allah swt menciptakan air tawar yang sangat segar dan air asin yang
sangat pahit, adapun yang dimaksud dengan air tawar mencakup
sungai-sungai, mata air dan sumur-sumur, sedang yang dimaksud
dengan air asin adalah air lautan yang tak mungkin untuk diminum
seperti lautan-lautan yang kita kenal. Dan Allah menciptakan
penghalang antara kedua air tersebut berbentuk daratan yang
mencegah terjadinya percampuran antara keduanya. (2000: 10: 314-
315).
Kata al-bahrain disepakati oleh ulama dalam arti laut dan sungai.
Menurut Thahir Ibn Asyur, yang dimaksud dengan al-bahrain adalah
sungai Eufhrat di Irak dan Teluk Persia di pantai Basrah serta daerah
di sekitar Kerajaan Bahrain dewasa ini. Boleh jadi juga menurutnya
adalah dua laut yang dikenal oleh masyarakat arab ketika itu, yakni
laut Merah-di lokasi seperti Jeddah dan Yunbu’ di Saudi Arabia-dan laut
Oman, yakni sekitar Hardhramaut, Aden, juga beberapa kota lainnya di
Yaman. (Quraish Shihab: 2002: 293)
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
khususnya oceanografi penafsiran ayat diatas mengalami pergeseran
kembali kepada makna harfiah dari ayat bersangkutan, yaitu adanya
bahrain (dua kumpulan air yang sangat banyak) mengalir dan
bersandingan tanpa adanya percampuran yang hal itu bisa terjadi
karena adanya perbedaan kadar salinitas dan perbedaan suhu.
Salah satu kebesaran Allah ialah menciptakan laut sebagai salah
satu sumber kehidupan bagi mahluk ciptaan Nya. Di mana di dalam
terdapat sumber makanan, mencari nafkah, tempat berlayar dan lain
sebagainya. Kira-kira 70,8% permukaan bumi tertutup oleh air laut.
Perbandingan laut yang terdapat di belahan bumi utara dan belahan
bumi selatan. Belahan bumi utara, luas daratan 39% dan luas lautan
61%, sedangkan belahan bumi selatan, luas daratan 19% dan luas
lautan 81%. (Gatot Harmanto: 2007: 248).
Air laut merupakan larutan yang mengandung berbagai garam.
Unsur kimia yang tergabung dalam larutan air laut ialah Khlor (Cl)
55%, Natrium (Na) 31%, Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Belerang (S),
dan Kalium (K). Disamping itu, dalam jumlah kecil terdapat juga
Bromium (Br), Karbon (C), Stronsium (Sr), Barium (Ba), Silikon (Si) dan
florium (F). Air laut mengandung juga larutan berbagai gas seperti
Oksigen (O2) dan gas Asam Arang (CO2). Rasa asin pada air laut
berasal dari garam. Air laut terdiri atas 96% air dan 3% garam (sodium
klorida). Satu persen lagi berupa sejumlah mineral seperti Kalsium dan
Magnesium. (Gatot Harmanto: 2007: 275-276).
Pertemuan air asin dan tawar pertama kali dibuktikan oleh Mr.
Jacques Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam
terkemuka dari Perancis. Ketika ia sedang melakukan eksplorasi di
bawah laut, dan ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-
segar yang sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur
dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding
atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat Mr. Costeau mencari tahu
penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.
Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim,
kemudian ia menceritakan fenomena ganjil itu dan profesor muslim itu
teringat pada ayat Al-Quran tentang bertemuanya dua lautan (QS: Ar-
rahman: 19-20) yang sering diidentikkan dengan terusan Suez.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al-Quran itu, melebihi
kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah
dilihatnya di lautan yang dalam.
Perkembangan oceanografi modern telah menguak tabir
pertemuan dua laut dengan muatan air tawar dan air asin yang tidak
bercampur dengan sangat akurat. Sebagai contoh, air laut Mediterania
bersuhu hangat, berkadar garam lebih tinggi,dan lebih sedikit padat,
bila dibandingkan dengan air laut samudera Atlantik. Ketika air laut
Mediterania masuk ke lautan Atlantik di atas teluk Gibraltar, air laut
Mediterania bergerak beberapa ratus kilometer ke dalam lautan
Atlantik pada suatu kedalaman sekitar 1000 meter dengan
karakteristik yang dimilikinya. Meskipun ada ombak besar, arus-kuat,
dan pasang laut mereka tidak akan bercampur atau melewati
penghalang ini. (Davis: 2008)
Demikian juga arus laut panas (seperti arus teluk) dan arus
dingin (seperti arus labrador). Kedua arus tersebut saling
berdampingan, tapi tidak bercampur satu dengan yang lainnya. (Abu
Sauqi: 2006: 342).
Fakta ilmiah yang ditemukan oleh para oceanografer ini sangat
sesuai dengan informasi al-Qur’an puluhan abad yang lampau. Bisa
dipastikan bahwa semua ini tidak terjadi secara kebetulan, tapi telah
diatur oleh yang Maha Mengatur, Seperti bagaimana Ia mengatur hati
setiap insan untuk menerima kebenaran al-Qur’an yang mulia.
Masihkan hati kita membeku untuk menerima kebenaran al-Qur’an.