You are on page 1of 73

PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK DAN ANALISIS DAYA DUKUNG

PADA RUAS JALAN TOL SEMARANG-SOLO STA 22 24,5 DAN


SEKITARNYA, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA
TENGAH

TUGAS AKHIR B

Diajukan sebagai syarat menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di Program


Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi
Bandung

Oleh:

AHMAD JAWWAD FURQON

12013011

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS AKHIR B

PEMETAAN GEOLOGI TEKNIK DAN ANALISIS DAYA DUKUNG


PADA RUAS JALAN TOL SEMARANG-SOLO STA 22 24,5 DAN
SEKITARNYA, KABUPATEN SEMARANG, PROVINSI JAWA
TENGAH

Diajukan sebagai syarat menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di Program Studi
Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung

Pengusul,

Ahmad Jawwad Furqon


NIM 12013011

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T.


NIP. 19700212 199512 1 002

i
SARI

Daerah penelitian terletak pada koordinat 7o 13 41,20 - 7o 15 03,50 LS, 110o 26 34,58
- 110o 28 28,10 BT dan secara administratif meliputi Kecamatan Bawen, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah. Luas daeerah penelitian adalah 6,25 km2 dengan skala peta 1 :
10.000. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk menentukan kondisi geologi teknik
dan untuk menentukan daya dukung batuan dan tanah oada area Jalan Tol Semarang Solo
STA 22 24,5 dan sekitarnya

Geomorfologi daerah penelitian merupakan perbukitan aliran piroklastik dan


perbukitan lipatan dengan kemiringan lereng 0 - 70. Geologi teknik daerah penelitian
dibagi menjadi Satuan Lempung Lanauan, Lanau Pasiran, Satuan Pasir Lanauan, Satuan
Breksi Volkanik dan Satuan Batupasir Batulempung. Nilai daya dukung izin fondasi dangkal
pada kedalaman 0 15,5 m pada BW 2 berkisar 5,62 15,50 ton/m2, BW 3 berkisar
6,96-22,52 ton/m2, BW 9 berkisar 12.04 23,76 ton/m2,dan BW 11a berkisar 6.83
21.11ton/m2. Nilai daya dukung izin fondasi dalam pada kedalaman 0 -34 m pada BW 2
berkisar 7,05 244,01 ton/m2.

Nilai daya dukung dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jenis tanah, aktivitas
lempung, sifat keteknikan dan kondisi air. Tanah nonkohesif akan memberikan nilai daya
dukung yang lebih tinggi dibanding tanah kohesif. Aktivitas lempung yang tinggi
memberikan nilai daya dukung yang rendah.

Kata kunci : Geologi teknik, Jalan Tol Semarang Solo, daya dukung, fondasi

ii
ABSTRACT

The research area is located in coordinates 7o 13 41,20 - 7o 15 03,50 LS, 110o 26


34,58 - 110o 28 28,10 BT and administratively covers two districts, which are Bawen
District, Semarang Regency, West Java. The research area has 6.25 km2 is mapped for the
scale 1 : 10.000. the purpose of this research are to determine the engineering geology
condition and to analyze the bearing capacity of rock and soil in the site plan area of
Semarang Solo Highway STA 22 24,5 and surrounding areas.

Geomorphology of the research area consist of pyroclastic flow hills and folding hils with
slope around 0 - 70. Engineering geology condition of research area can be devided into
Silty Clay Unit, Sandy Silt Unit, Silty Sand Unit, Volcanic Breccia Unit and Sandstone
Claystone Unit. The allowable bearing capacity value of shallow foundation at 0 15.5 m
depth in BW 2 borehole is 5.62 15.50 ton/m2, BW 3 borehole is 6.96 - 22.52 ton/m2,
BW 9 borehole is 12.04 23.76 ton/m2 and BW 11a borehole is 6.83 21.11 ton/m2.
The allowable bearing capacity value of deep foundation at 0 -34 m depth in BW 2
borehole is 7.05 244.01 ton/m2.

The value of bearing capacity is influenced by several factors such as soil type, clay activity,
engineering properties and water condition. The noncohesive soils will give a higher bearing
capacity than cohesive soils. The higher clay activity will makes the bearing capacity value
become lower.

Kata kunci : Engineering geology, Semarang Solo, highway, bearing capacity, foundation

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu
dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung. Tugas akhir ini berjudul Pemetaan
Geologi Teknik dan Analisis Daya Dukung pada Ruas Jalan Tol Semarang - Solo STA
22 24,5 dan Sekitarnya, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Laporan
Tugas Akhir ini merupakan perpaduan hasil penelitian lapangan, pengolahan data sekunder
dan tinjauan pustaka sebagai bagian dari penerapan ilmu geologi khususnya geologi teknik
yang telah penulis dapatkan selama masa perkuliahan.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan, diantaranya adalah:
Ayah, Ibu, Mas Muhammad Nazal Fawwaz, Dzakiyyah Nur Nabila Firdaus,
Muhammad Haidar Mubarak dan kerabat yang telah memberikan dukungan penuh
serta doa yang tidak pernah terputus kepada penulis selama perkuliahan.
Bapak Dr. Eng. Imam A. Sadisun, S.T., M.T., atas kesediaannya menjadi
pembimbing penulis dan atas segala bantuan materi maupun moril dalam proses
pelaksanaan tugas akhir ini.
Pimpinan, para dosen, dan staf Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan
Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung.
PT. Trans Marga Jateng (Persero) atas izin melakukan penelitian. Terimakasih
khususnya terlebih untuk Ibu Nisa, Ibu Ika, dan Mbak Vina atas segala kemudahan
yang diberikan.
Tanoto Foundation yang telah memberikan dan mengelola Beasiswa National
Champion Scholarship yang penulis dapatkan selama melakukan kegiatan
perkuliahan.
Teman teman kosan dan kontrakan maksimal desember: Prasetya Adi Nugraha,
Yokanan Wigar Satwika, Agung Habdillah, Taufiq Ziyan, Adi Setiadi, Nur Qosim
Ghozali, Ahmad Aji Pangestu, Shalehuddin Al Ayyubi, M Ayyub Khairiansyah dan
Muhammad Ghazali Putera atas segalanya.
Tim Pemetaan, Putri Meriyen dan Ichwan Fakhrudin, atas kerjasamanya.

iv
Rekan rekan Ad Hoc GBHP AK KM ITB 2016, BPH HMTG GEA ITB
2015/2016, Kesenatoran HMTG GEA ITB 2015/2016, dan Kongres KM ITB
2016/2017 atas segala pembelajaran khususnya menjadi mahasiswa yang
sesungguhnya.
Rekan-rekan Jalan Lama di Program Studi Teknik Geologi angkatan 2013 yang telah
memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung selama penulis melalui
masa perkuliahan.
Rekan rekan Aurora dan alumni SMA Taruna Nusantara yang selalu menjadi
sumber inspirasi dan lecutan bagi penulis, terkhusus untuk Sabda Alam Maulana dan
Ardistifirully Tanzila Ghasani.
Berbagai pihak yang penulis tidak dapat menyebutkan satu per satu, penulis
mengucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran. Semoga hasil penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat
bagi penulis, oranglain maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Bandung, Oktober 2017


Penulis

Ahmad Jawwad Furqon

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................................... i

SARI ...................................................................................................................................... ii

ABSTRACT ......................................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... iv

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ vi

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ ix

DAFTAR TABEL ............................................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

I.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1


I.2 Maksud dan Tujuan ............................................................................................ 1
I.3 Ruang Lingkup ................................................................................................... 2
I.4 Daerah Penelitian ................................................................................................ 2
I.5 Metodologi dan Tahapan Penelitian ................................................................... 4
I.5.1 Tahap Persiapan dan Perencanaan ....................................................................... 4

I.5.2 Tahap Pengumpulan Data .................................................................................... 4

I.5.3 Tahap Pengolahan Data dan Analisis .................................................................. 6

I.5.4 Tahap Penyusunan Laporan............................................................................. 6

I.6 Sistematika Penulisan ......................................................................................... 6


BAB II DASAR TEORI................................................................................................... 8

II.1 Sifat Fisik dan Mekanik Batuan ......................................................................... 8


II.2 Sifat Fisik dan Mekanik Tanah ........................................................................... 9
II.3 Daya Dukung .................................................................................................... 12
II.3.1 Pengertian Daya Dukung .................................................................................... 12

II.3.2 Pondasi Dangkal dan Dalam .............................................................................. 14

II.3.3 Pengaruh Muka Airtanah terhadap Daya Dukung .............................................. 19

vi
II.3.4 Faktor Keamanan dan Daya Dukung Izin .......................................................... 20

II.3.5 Daya Dukung Batas Fondasi Berdasarkan Nilai N-SPT .................................... 20

BAB III GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN .......................................... 22

III.1 Fisiografi ........................................................................................................... 22


III.2 Stratigrafi Regional ........................................................................................... 23
III.3 Struktur Geologi Regional ................................................................................ 26
BAB IV GEOLOGI TEKNIK DAERAH PENELITIAN ............................................... 28

IV.1 Geomorfologi Daerah Penelitian ...................................................................... 28


4.1.1 Satuan Perbukitan Aliran Piroklastik ............................................................ 30

4.1.2 Satuan Perbukitan Lipatan ............................................................................. 31

IV.2 Satuan Batuan dan Tanah ................................................................................. 32


IV.2.1 Satuan Batupasir Batulempung .................................................................. 32

IV.2.2 Satuan Breksi Piroklastik .............................................................................. 34

IV.2.3 Satuan Lempung Lanauan ............................................................................. 36

IV.2.4 Satuan Pasir Lempungan ............................................................................... 37

IV.2.5 Satuan Lanau Lempungan ............................................................................. 38

IV.3 Kondisi Bawah Permukaan Daerah Penelitian ................................................. 39


IV.4 Struktur Geologi ............................................................................................... 39
IV.5 Bencana Geologi ............................................................................................... 40
IV.6 Sistesis Geologi ................................................................................................ 41
BAB V ANALISIS DAYA DUKUNG BATUAN DAN TANAH ............................... 43

V.1 Data yang Digunakan ....................................................................................... 43


V.2 Fondasi Dangkal ............................................................................................... 43
V.3 Fondasi Dalam .................................................................................................. 45
V.4 Mineral Lempung berdasarkan Nilai Aktivitas ................................................ 47
V.5 Analisis Daya Dukung ...................................................................................... 48
V.5.1 Analisis Fondasi Dangkal .............................................................................. 48

V.5.2 Analisis Fondasi Dalam ................................................................................. 51

vii
V.6 Diskusi .............................................................................................................. 52
V.6.1 Pengaruh Jenis Tanah terhadap Daya Dukung .............................................. 52

V.6.2 Pengaruh Nilai Aktivitas terhadap Daya Dukung ......................................... 53

V.6.3 Pengaruh Muka Airtanah terhadap Daya Dukung......................................... 53

BAB VI KESIMPULAN ..................................................................................................... 55

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 56

LAMPIRAN ........................................................................................................................ 58

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar I.1 Peta wilayah daerah penelitian (Bakosurtanal, 2002). ..................................... 3

Gambar I.2 Peta topografi daerah penelitian dan sekitarnya (Badan Informasi Geospasial,
http://tanahair.indonesia.go.id/home/, diakses pada 9 Maret 2017). ..................................... 3

Gambar II.1 Grafik hubungan UCS dengan Schmidt hammer (Hudson & Harrison, 1997).
9

Gambar II.2 Definisi dari D75, D60, D30, D25, dan D10 (Das, 2010). .................................. 11

Gambar II.3 Keruntuhan daya dukung alami pada tanah (a) general shear failure, (b) local
shear failure, (c) punching shear failure (Vesic, 1973 dalam Das, 2007). ......................... 13

Gambar II.4 Kondisi yang membutuhkan fondasi dalam (Das, 2016). ............................. 16

Gambar II.5 Pendefinisian Qu (Das, 2016) ........................................................................ 17

Gambar II.6 Perhitungan daya dukung yang dipengaruhi oleh muka airtanah (Das, 2016)
19

Gambar III.1 Peta fisiografi (van Bemmelen, 1949) ......................................................... 22

Gambar III.2 Stratigrafi Zona Kendeng Barat (de Genevraye & Samuel, 1972).............. 24

Gambar III.3 Peta Geologi Regioal Daerah Penelitian (Sumber : Peta Geologi Regional
Lembar Semarang Magelang, Jawa Tengah (Thanden dkk., 1996)) ................................... 26

Gambar III.4 Pola struktur Pulau Jawa (Martodjojo dan Pulonggono, 1994) ................... 27

Gambar IV.1 Peta situasi dan kemiringan lereng (modifikasi peta topografi digital
Bakosurtanal berdasarkan Klasifikasi van Zuidam (1985) daerah Jalan Tol Semarang Solo
STA 22 24,5 dan sekitarnya) ............................................................................................ 29

Gambar IV.2 Pola aliran sungai daerah penelitian ............................................................ 29

Gambar IV.3 Pola kelurusan lembahan dan punggungan daerah penelitian berdasarkan
analisis peta topografi dan DEM ......................................................................................... 30

Gambar IV.4 Morfologi perbukitan yang berarah barat-timur pada bagian selatan daerah
penelitian. Foto diambil dengan drone menghadap ke selatan. ........................................... 30

ix
Gambar IV.5 Sungai Tuntang dengan bentuk lembahan U. .............................................. 31

Gambar IV.6 Morfologi perbukitan yang berarah utara selatan pada bagian utara daerah
penelitian. Foto diambil di lokasi jalan tol menghadap ke timur. ....................................... 31

Gambar IV.7 Sungai dengan bentuk lembahan V. ............................................................ 32

Gambar IV.8 Sekuen bouma yang ada pada daerah penelitian, (a) sekuen Ta Tb dan (b)
sekuen Tb-Td 33

Gambar IV.9 Singkapan breksi piroklastik di proyek jalan tol ......................................... 35

Gambar IV.10 Satuan tanah berukuran lempung (a) singkapan, (b) ukuran lempung. ..... 36

Gambar IV.11 Satuan Tanah Pasir Lempungan (a) singkapan, (b) ukuran pasir. ............. 37

Gambar IV.12 Satuan Tanah Lanau Lempungan (a) singkapan, (b) ukuran pasir. ........... 38

Gambar IV.13 Arah utama tegasan pada 3 lipatan pada daerah penelitian. ...................... 40

Gambar IV.14 Peta Rawan Gempa Bumi Provinsi Jawa Barat (PVMBG, 2010) .. .......... 41

Gambar V.1 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dangkal..................................... 43

Gambar V.2 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-2. ............................................ 44

Gambar V.3 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-3. ............................................ 44

Gambar V.4 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-9. ............................................ 45

Gambar V.5 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-11a. ........................................ 45

Gambar V.6 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dalam. ...................................... 46

Gambar V.7 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dalam. ...................................... 46

Gambar V.8 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-2. 49

Gambar V.9 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-3. 50

Gambar V.10 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-9. 50

x
Gambar V.11 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-11a. 51

Gambar V.12 Grafik hubungan antara persentase fraksi lempung dengan daya dukung izin.
52

Gambar V.13 Grafik hubungan antara nilai aktivitas lempung dengan daya dukung izin. 53

xi
DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Rumus Perhitungan Parameter Fisik (Price, 2009) ............................................. 8

Tabel II.2 Faktor-faktor daya dukung (Terzaghi, 1943 dalam Das, 2016)......................... 15

Tabel II.3 Variasi nilai ( nilai interpolasi oleh Terzaghi, Peck, dan Mesri, 1966 dalam Das,
2016 ) 18

Tabel II.4 Hubungan Ncor dan terhadap densitas relatif pada tanah nonkohesif (Peck, 1974
dalam Murthy, 2007) ........................................................................................................... 21

Tabel II.5 Hubungan Ncor dan qu pada tanah kohesif (Peck, 1974 dalam Murthy, 2007) .. 21

Tabel IV.1 Hasil analisis mikropaleontologi pada Satuan Batupasir Batulempung........ 33

Tabel V.1 Angka aktivitas lempung oleh Skempton (1953, dalam Hunt, 2007) ................ 47

Tabel V.2 Nilai aktivitas berbagai mineral (Das, 2014) ..................................................... 47

xii
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A PETA

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam rangka menunjang sarana prasana transportasi yang menghubungkan 2 (dua)


kota besar di Jawa Tengah, Pemerintah membangun jalan tol penghubung
Semarang dan Solo. Oleh karena itu, jalan ini merupakan sarana penting dalam
peningkatan sosial dan ekonomi nasional, khususnya masyarakat Jawa Tengah.
Pembangunan jalan tol ini juga bagian dari proyek jalan tol yang akan
menghubungkan seluruh kota besar di Pulau Jawa.

Ditinjau berdasarkan topografi, daerah rencana Jalan Tol Semarang Solo memiliki
bentang alam perbukitan dengan lereng yang cukup curam sampai landai. Secara
geologi, daerah ini terletak batuan sedimen Formasi Kerek dan batuan breksi
vulkanik Formasi Kaligetas.

Aspek geologi teknik dan kebencanaan menjadi salah satu faktor penting dalam
menilai kelayakan lokasi rencana pembangunan jalan. Studi geologi teknik ini
dilakukan dalam rangka melakukan kegiatan evaluasi sepanjang Jalan Tol
Semarang Solo STA 22 24,5.

Informasi mengenai kondisi geologi teknik diperlukan, tidak hanya terkait


pembangunan jalan tetapi juga berkaitan dengan konstruksi lainnya. Informasi
mengenai kondisi geologi teknik tersebut dapat dibuat dalam bentuk peta geologi
teknik. Hal tersebut menjadi latar belakang penulis adalah dibutuhkannya pemetaan
geologi teknik dan analisis daya dukung dilakukan sebagai langkah awal sebelum
dan saat konstruksi dibangun.

I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari
selama perkuliahan dan memahami konsep geologi teknik sebagai kajian penting
dalam suatu perencanaan dan tata ruang wilayah yang dirangkai menjadi suatu
1
tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di Program Studi
Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi
Bandung.

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menentukan kondisi geologi teknik yang mencakup geomorfologi, sebaran


serta sifat keteknikan batuan dan tanah, struktur geologi, kondisi air tanah,
dan kebencanaan geologi.
2. Menentukan daya dukung batuan dan tanah untuk fondasi dangkal dan
dalam pada kegiatan konstruksi Jalan Tol Semarang Solo STA 23,3 24,5.

Hasil penelitian ini akan menggambarkan keadaan geologi teknik daerah penelitian
berupa peta lintasan dan lokasi observasi, peta, dan penampang geologi teknik.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan
dalam perencanaan pembangunan dan tata ruang di daerah penelitian khususnya
terkait pembangunan jalan.

I.3 Ruang Lingkup

Penelitian yang akan dilaksanakan melingkupi:

1. Pemetaan geologi teknik yang dilaksanakan pada area sepanjang Jalan


Tol Semarang Solo STA 22 24,5 dan sekitarnya dengan skala
1:10000 yang mengacu pada SNI 03-2849-1992 tentang Tata Cara
Pemetaan Geologi Teknik Lapangan.
2. Penentuan daya dukung tanah dan batuan pada Jalan Tol Semarang -
Solo terpilih yaitu pada STA 23,3 24,5.

I.4 Daerah Penelitian

Daerah penelitian terletak pada koordinat 7o 15 02,59 LS, 110o 27 55,96 BT


sampai dengan 7o 13 41,20 LS, 110o 26 34,58 BT atau 441000 mT, 9198500
mU sampai dengan 438500 mT, 9201000 mS (WGS 84, UTM Zona 49 S) yang
berada di Jalan Tol Semarang - Solo STA 22,5 24 dan secara administratif
meliputi wilayah Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Gambar
2
I.1). Secara topografis daerah penelitian terletak pada ketinggian 350 m sampai 600
m diatas permukaan air laut rata-rata (Gambar I.2). Daerah penelitian termasuk
dalam Peta Geologi Lembar Magelang - Semarang yang dibuat oleh Thanden dkk.,
(1996).

Gambar I.1 Peta wilayah daerah penelitian (Bakosurtanal, 2002).

Gambar I.2 Peta topografi daerah penelitian dan sekitarnya (Badan Informasi
Geospasial, http://tanahair.indonesia.go.id/home/, diakses pada 9
Maret 2017).

3
I.5 Metodologi dan Tahapan Penelitian

Penelitian yang dilakukan terdiri dari dua metode yaitu metode kualitatif dan
metode kuantitatif. Metode kualitatif yaitu melakukan serangkaian kegiatan
lapangan seperti pengukuran struktur geologi, deskripsi sifat fisik batuan/tanah,
kondisi airtanah dan menginventarisasi bencana geologi yang ada. Sedangkan
metode kuantitatif secara khusus yaitu melakukan penghitungan dan analisis daya
dukung batuan dan tanah berdasarkan data lapangan dan data laboratorium.

Metodologi penelitian dibagi menjadi 4 (empat) tahap yaitu tahap persiapan dan
perencanaan, tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data dan analisis, serta
tahap penyusunan laporan tugas akhir (Gambar I.3).

I.5.1 Tahap Persiapan dan Perencanaan

Tahapan ini terdiri dari studi literatur, pemenuhan keperluan administrasi, dan
perencanaan ke lapangan. Studi literatur merupakan kajian pendahuluan untuk
mengetahui kondisi geologi regional dan daerah penelitian, interpretasi peta
topografi, dan citra Digital Elevation Model (DEM). Administrasi diperlukan untuk
pengajuan izin kepada pihak PT. Trans Marga Jateng (Persero) untuk melaksanakan
penelitian dan menggunakan data yang sudah ada. Persiapan dan perencanaan ke
lapangan perlu dilaksanakan sebelum melakukan pengambilan data lapangan yang
terdiri dari mempersiapkan peta dasar, melakukan survei pendahuluan, menentukan
jalur, dan perihal terkait logistik yang diperlukan.

I.5.2 Tahap Pengumpulan Data

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data primer dan juga data sekunder. Data
primer merupakan data yang diperoleh secara langsung di lapangan oleh penulis
sedangkan data sekunder adalah data yang berasal dari sumber lain yang utamanya
adalah pihak PT. Trans Marga Jateng (Persero). Data dibagi menjadi 2 (dua) jenis
yaitu data lapangan dan data laboratorium.

Data lapangan yaitu berupa:

Data Pemetaan Geologi Teknik


4
Pemetaan geologi teknik bertujuan untuk mengetahui unit-unit geologi
teknik. Terdapat empat komponen utama dalam unit geologi teknik yaitu
tanah dan batuan, airtanah, relief, dan proses geodinamik. Pemetaan geologi
teknik bertujuan untuk mendapatkan data geologi dan lingkungan, untuk
selanjutnya dianalisis agar didapatkan gambaran kesesuaian rencana
pembangunan untuk peningkatan kerja Jalan Tol Semarang Solo.
Kegiatan yang dilakukan selama pemetaan yaitu observasi berupa deskripsi
batuan dan tanah, geomorfologi, pengukuran struktur geologi, pengamatan
mata air, pengamatan bencana geologi, dan pengukuran kekerasan batuan
dengan menggunakan Palu Schmidt, pengambilan contoh batuan dan tanah,
dan dokumentasi.
Data Analisis Daya Dukung Batuan dan Tanah

Data Pengeboran dan Standard Penetration Test (SPT) dilakukan pada 16


lokasi hingga kedalaman 30 m. Data yang diambil meliputi data log
pengeboran, sampel terganggu (disturbed sample) dan sampel tak terganggu
(undisturbed sample). Data pengeboran diperlukan untuk mengetahui
kondisi bawah permukaan untuk korelasi perlapisan sedimen. SPT
digunakan untuk mengetahui kekuatan sedimen terhadap penetrasi tabung
SPT sehingga akan diperoleh jumlah pukulan N untuk memasukkan tabung
SPT sedalam 30 cm ke dalam sedimen yang belum terganggu. Nilai SPT
dapat menunjukkan perkiraan batas dan lapisan keras serta dapat
dikorelasikan dengan variasi tanah yang diuji. Hasil pengujian SPT dapat
pula berguna dalam perhitungan daya dukung.

Sedangkan untuk data laboratorium terdiri dari:

Data sayatan tipis batuan


Sayatan tipis digunakan untuk analisis petrografi yang berfungsi untuk
mengonfirmasi jenis batuan yang diobservasi di lapangan dan mengetahui
komponen komponennya secara lebih rinci.
Data sifat fisik dan mekanik batuan
Sifat keteknikan batuan dibagi menjadi dua jenis data, yaitu data sifat dasar.
Hal tersebut didapatkan berdasarkan jenis pengujian yang berbeda. Data
5
sifat dasar batuan yang digunakan adalah porositas, kadar air, dan berat isi.
Sifat mekanik batuan termasuk kohesi dan sudut geser dalam.
Data sifat fisik dan mekanik tanah

Sifat keteknikan tanah berupa sifat fisik dan sifat mekanik. Data sifat fisik
meliputi berat isi, kadar air, berat jenis, berat kering, angka pori, porositas,
derajat kejenuhan, derajat keseragaman butir serta batas Atterberg. Sifat
mekanik meliputi direct shear test dengan hasil berupa nilai parameter
kohesi dan sudut geser dalam.

I.5.3 Tahap Pengolahan Data dan Analisis

Pada tahap ini dilakukan pengolahan data yang telah dikumpulkan dan kemudian
dilakukan analisis. Pengerjaannya dilaksanakan di kampus yang disertai diskusi
dengan dosen pembimbing dan dengan pemahaman terhadap konsep geologi yang
sesuai untuk mendapatkan model yang tepat. Kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan komputer yang dibantu perangkat lunak Global Mapper, Autocad
2014, Coreldraw, dan ArcGIS 10.

Pada tahap ini juga dilakukan pembahasan terkait masalah yang diiringi studi
pustaka dan diskusi dengan dosen pembimbing.

I.5.4 Tahap Penyusunan Laporan

Tahap ini merupakan tahapan terakhir penelitian yang berupa penyusunan laporan.
Bentuk dari laporan tersebut akan disusun menjadi skripsi. Lampiran akan
disertakan dalam penyusunan laporan ini.

I.6 Sistematika Penulisan

Penulisan laporan penelitian ini berisi pembahasan dengan urutan yang sistematis,
yaitu sebagai berikut :

Bab I, merupakan pendahuluan penulisan yang terdiri dari latar belakang, maksud
dan tujuan, ruang lingkup penelitian, lokasi daerah penelitian, metodologi dan
tahapan penelitian, dan sistematika pembahasan.

6
Bab II, merupakan dasar teori yang berisi tentang sifat keteknikan batuan dan tanah,
pengertian daya dukung, daya dukung pada pondasi dangkal dan dalam, pengaruh
muka air tanah terhadap daya dukung, faktor keamanan dan daya dukung diizinkan,
serta daya dukung batas pondasi berdasarkan nilai N-SPT.

Bab III, merupakan kondisi geologi regionaldaerah penelitian yang berisi


pembahasan tentang fisiografi, stratigrafi regional, dan struktur geologi regional
Bab ini memberikan gambaran awal mengenai daerah penelitian.

Bab IV, merupakan geologi dan geologi teknik daerah penelitian yang berisi
pemaparan data hasil pengamatan di lapangan yang meliputi geomorfologi, sebaran
serta sifat fisik batuan dan tanah, struktur geologi, sifat keteknikan, dan aspek
bencana geologi daerah penelitian.

Bab V, merupakan hasil analisis daya dukung batuan dan tanah pada ruas jalan tol
Semarang Solo terpilih yaitu pada STA 23,3 24,5.

Bab VI, merupakan kesimpulan dari pembahasan keseluruhan laporan tugas akhir
ini.

7
BAB II
DASAR TEORI

II.1 Sifat Fisik dan Mekanik Batuan

Batuan merupakan agregat satu atau lebih mineral yang terbentuk secara alamiah
yang dibagi berdasarkan genesanya. Batuan juga memiliki sifat fisik/dasar dan sifat
indeks batuan. Kondisi alamiah massa dan material batuan harus dipertimbangkan
dalam rekayasa bangunan. Sifat fisik dan mekanik batuan dibagi menjadi dua, yaitu
berupa sifat dasar dan sifat indeks atau penunjuk.

Menurut Price (2009), sifat dasar batuan sangat dipengaruhi oleh mineralogi,
fragmen penyusun, tekstur batuan, kondisi semen, dan kondisi pori. Penentuan sifat
dasar dapat dilakukan dengan uji laboratorium pada intact rock untuk memahami
karakter alami batuan. Sifat-sifat ini diantaranya yaitu porositas, permeabilitas,
berat isi, densitas, specific gravity, dan lain-lain (Tabel II.1).

Tabel II.1 Rumus Perhitungan Parameter Fisik (Price, 2009)

Sifat penunjuk/indeks batuan dapat ditentukan dengan pengujian mekanika batuan.


Sifat ini berhubungan dengan proses-proses yang mengenai batuan dan
perilakunya. Contoh pengujiannya menurut Price (2009) seperti point load test dan
Schmidt hammer. Schmidt hammer merupakan metode non destructive test untuk
menguji kekerasan pada beton dan akhirnya digunakan untuk menguji tingkat

8
kekerasan batuan. Hasil dari perhitungan pada alat akan dikonversi menjadi nilai
UCS (Gambar II.1).

Gambar II.1 Grafik hubungan UCS dengan Schmidt hammer (Hudson & Harrison,
1997).

II.2 Sifat Fisik dan Mekanik Tanah

Menurut Holtz dan Kovacs (1981), tanah adalah lepasan aglomeraat mineral dan
material organik serta sedimen yang ditemukan di atas dari batuan dasar. Tanah
memiliki sifat dasar dan sifat indeks/penunjuk. Deskripsi dan klasifikasi tanah
diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah yang akan timbul berkaitan dengan
suatu pembangunan. Penamaan tanah berdasarkan ukuran butirnya (Price, 2009).
Pendekatan kuantitatif diperlukan untuk mendukung intepretasi geologi yang
umumnya dilakukan secara kualitatif.

Sifat dasar material Price (2009), berupa porositas, berat isi alami, kadar air alami,
dan lain-lain yang berasal dari faktor internal material yang berkaitan dengan
tekstur, volume, dan massa. Perhitungan sifat dasar tanah sama dengan perhitungan
sifat dasar / fisik batuan (lihat Tabel II.1).

Karakteristik dan klasifikasi tanah penting kaitannya dengan penentuan sifat


keteknikan tanah. Salah satu satu karakteristik yang penting bagi tanah adalah
9
plastisitas. Plastisitas akan memberikan gambaran mengenai kemampuan tanah
untuk berdeformasi pada volume tetap tanpa terjadi retakan atau rekahan. Faktor
yang mengontrol sifat keplastisan dari tanah adalah kandungan mineral lempung
atau bahan organik. Hubungan antar partikel mineral lempung ini akan
menghasilkan suatu konsistensi. Hubungan antar partikel ini memiliki faktor
pengontrol yang dominan yaitu kandungan air. Penurunan kadar air akan
menyebabkan gaya tarik antar partikel melemah. Berdasarkan kadar airnya, tanah
digolongkan dalam tiga kondisi yaitu cair, plastis, dan semipadat atau padat.

Dalam keadaan alamiah, tanah berbutir halus berada dalam kondisi plastis. Batas
atas dan batas bawah dari rentang kadar air dimana tanah masih bersifat plastis
disebut batas cair (LL) dan batas plastis (PL). Sedangkan indeks plastisitas (PI)
adalah rentang kadar air dari batas cari dan batas plastis (Das, 2010). Secara umum
persamaan hubungan indeks plastisitas dengan batas dapat dirumuskan sebagai
berikut: = (II.1)

Kadar air tanah yang bersifat relatif terhadap batas cair dan batas plastis dapat
diwakili oleh rasio yang disebut indeks kecairan (LI), dengan persamaan:

(II.2)
=

dengan = isi kelembapan tanah.

Deskripsi dan klasifikasi tanah merupakan hal yang berbeda namun saling
mendukung. Klasifikasi tanah merupakan sistem pengelompokkan dari berbagai
jenis tanah yang memiliki kesamaan sifat suatu kelompok berdasarkan batasan
tertentu. Beberapa faktor klasifikasi tanah adalah besar butir, keseragaman butir,
60
= (II.3)
10

dan gradasi butir (tingkat pemilahan). Faktor lain yang berpengaruh adalah
plastisitas.

= Koefisien keseragaman butir.

10
60 = Diameter bukaan dimana 60% butiran dengan ukuran tersebut atau lebih
halus dapat lolos (Gambar II.2).

10 = Diameter bukaan dimana 10% butiran dengan ukuran tersebut atau lebih
halus dapat lolos (Gambar II.2).

Gambar II.2 Definisi dari D75, D60, D30, D25, dan D10 (Das, 2010).

Berdasarkan persamaan tersebut terlihat bahwa semakin besar gradasi, butiran akan
semakin tidak seragam. Sedangkan koefisien gradasi butir (coefficient if curvature)
dinyatakan dengan :

(30 )2 (II.4)
=
60 10
Keterangan :

= Koefisien gradasi butir.

30 = Diameter bukaan dimana 30% butiran dengan ukuran tersebut atau


lebih halus dapat lolos (Gambar II.2).

11
Berdasarkan persamaan tersebut diketahui bahwa semakin besar koefisien
keseragaman butir dan koefisien gradasi butir menunjukkan semakin baik gradasi
atau semakin buruk pemilahannya dari tanah tersebut. Tanah dengan ukuran butir
halus, maka pengelompokannya didasari oleh sifat plastisitas. Dalam hal ini adalah
hubungan antara indeks plastisitas dan batas cair tanah.

Memahami kekuatan material tanah sangat penting dalam menyelesaian


permasalahan yang berhubungan dengan stabilitas massa dari material tersebut.
Gaya-gaya yang bekerja pada suatu material geologi akan mengubah
ketidakstabilan (instrability) pada daerah di mana material tersebut berada. Maka
dari itu diperlukan suatu pengujian terhadap kekuatan material tanah berupa uji
geser langsung yang digunakan untuk mengestimasi kondisi keseimbangan batas
keamanan rata-rata sepanjang permukaan runtuh suatu material geologi. Tujuan
dari uji geser langsung adalah :

1. Mengetahui kekuatan tanah terhadap gaya horisontal


2. Menentukan parameter kohesi dan sudut geser dalam tanah

II.3 Daya Dukung

II.3.1 Pengertian Daya Dukung

Daya dukung merupakan kemampuan suatu material batuan maupun tanah untuk
menopang beban tanpa menyebabkan keruntuhan atau penurunan (settlement) yang
berlebihan. Tegangan yang berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya penurunan
atau keruntuhan geser (shear failure) yang keduanya dapat mengakibatkan
kerusakan konstruksi bangunann sehingga dibutuhkannya suatu fondasi yang
berfungsi untuk menyalurkan beban bangunan ke tanah dan batuan. Fondasi perlu
didesain sedemikian rupa sehingga mampu menyalurkan beban bangunan tanpa
terjadinya tegangan berlebih. Oleh sebab itu diperlukan ahli geoteknik dan ahli
struktur bangunan yang mampu mendesain dan mengevaluasi serta mengetahui
daya dukung tanah dan batuan.

12
Menurut Das (2016) nilai ketika material mulai mengalami keruntuhan yang sangat
besar disebut daya dukung batas, qu (ultimate bearing capacity). Pada suatu titik
tertentu ketika muatan per unit area sama dengan daya dukung batas, maka akan
terjadi keruntuhan pada tanah yang mendukung fondasi. Sementara itu, permukaan
failure akan merambat ke bawah tanah dan menghasilkan general shear failure.
Jika fondasi berdiri pada tanah dengan kekompakan sedang (pasir dan lempungan)
dan terjadi penurunan maka failure surface pada tanah secara berangsur merambat
keluar fondasi yang disebut local shear failure. Jika fondasi berdiri pada tanah yang
cukup lepas (fairly loose soil) failure surface pada tanah tidak akan menerus ke
bawah permukaan tanah dan ini disebut punching shear failure (Gambar II.3).

Gambar II.3 Keruntuhan daya dukung alami pada tanah (a) general shear failure,
(b) local shear failure, (c) punching shear failure (Vesic, 1973
dalam Das, 2007).

13
II.3.2 Pondasi Dangkal dan Dalam

Fondasi terdiri dari beberapa jenis yaitu fondasi dangkal dan fondasi dalam.
Menurut Das (2007), fondasi dangkal adalah fondasi dengan rasio kedalaman
terhadap lebar fondasi kurang dari empat (D/B <= 4). Jika rasio kedalaman terhadap
lebar fondasi lebih dari 4 (empat) maka termasuk kategori fondasi dalam.

Fondasi dangkal dapat dihitung berdasarkan Das (2016) sebagai berikut :

1 (II.5)
Fondasi lajur = + +2

(II.6)
Fondasi kotak = 1,3 + + 0,4

(II.7)
Fondasi lingkaran = 1,3 + + 0,3

dengan c= kohesi tanah

= berat isi tanah

q = Df

B = lebar atau diameter fondasi

Nc, Nq, N = faktor-faktor daya dukung, berupa besaran tak


berdimensi dan merupakan fungsi dari sudut geser dalam (Tabel
II.2).

Menurut Vesic (1977 dalam Das, 2016), fondasi dalam digunakan pada situasi
tertentu seperti berikut:

1. Ketika lapisan tanah bagian atas sangat terkompresi dan terlalu lemah untuk
menopang beban bangunan, sehingga diperlukan fondasi dalam untuk
mentransfer beban ke lapisan yang lebih kuat (Gambar II.4a). Ketika batuan
dasar tidak dapat dijangkau terlalu jauh untuk dapat dijangkau (Gambar
II.4b).
2. Untuk menahan gaya horizontal seperti angina atau gempa bumi (Gambar
II.4c).
14
3. Lapisan tanah bagian atas bersifat ekspansif dan mudah ambles (Gambar
II.4d).
4. Untuk beberapa bangunan seperti tower transmisi untuk menahan uplift
force (Gambar II.4e).
5. Abutment pada jembatan (Gambar II.4f).

Tabel II.2 Faktor-faktor daya dukung (Terzaghi, 1943 dalam Das, 2016)

Material yang digunakan untuk membuat fondasi dalam antara lain baja, beton,
kayu maupun kombinasi ketiganya. Pemilihan material ini didasarkan pada jenis
beban yang ditopang, kondisi tanah, dan airtanah. Secara umum, fondasi dalam
dibagi menjadi dua jenis, yaitu tiang pancang dan tiang bor. Tiang pancang
merupakan fondasi dalam yang dipasang dengan cara fondasi dicetak terlebih
dahulu lalu ditancapkan ke tanah atau batuan dengan cara dipukul, sedangkan tiang
bor merupakan fondasi dalam yang langsung dicetak dengan cara dibor pada tanah
atau batuan setempat lalu dicor dengan semen atau beton.

15
Gambar II.4 Kondisi yang membutuhkan fondasi dalam (Das, 2016).

Mekanisme transfer beban pada fondasi dalam tunggal dengan diameter seragam
(D) dan panjang (L) dipasang di suatu massa tanah yang homogen dengandiberi
beban statis di atasnya diperlihatkan pada Gambar II.5. Secara umum, fondasi
dalam mentransfer beban di atasnya melalui dua bagian, yaitu sepanjang selimut
pile (friction piles) dan ujung pile (end-bearing atau point-bearing piles) (Murthy,
2007). Beban yang ditransfer sepanjang selimut pile disebut dengan beban gesekan
batas (ultimate friction load) atau beban kulit (skin load, Qs), sedangkan beban yang
ditransfer pada ujung pile disebut dengan beban dasar atau beban titik (base load
atau point load, Qp). Jumlah keduanya disebut dengan total beban batas (ultimate
load, Qu) dan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Qu = Qp + Qs = qp Ap + fs As (II.8)

dengan Qu = total beban batas yang ada di atas pile

Qp = daya dukung ujung atau dasar

Qs = daya dukung gesek atau kulit

qp = daya dukung ujung atau dasar per satuan luas


16
Ap = luas permukaan ujung atau dasar pile

fs = daya dukung gesek atau kulit per satuan luas

As = luas permukaan selimut pile

Gambar II.5 Pendefinisian Qu (Das, 2016)

Meyerhof (1976) mengemukakan persamaan untuk menghitung daya dukung ujung


dan daya dukung gesek untuk fondasi tiang pancang, dengan membedakan jenis
tanah menjadi tanah kohesif dan nonkohesif.

Tanah nonkohesif

(II.9)
Qp = 40 N-SPT Ap < 400 N-SPT Ap (kN)

(II.10)
Qs = 2 N-SPT p Li (kN)

Tanah kohesif

(II.11)
Qp = 9 Cu Ap (kN)

Qs = Cu p Li (kN) (II.12)
17
2
Cu = N-SPT310 (kN/m2) (II.13)

Qu = Qp + Qs (II.14)

(II.15)
Qall = +
3 3

dengan Qp = tahanan ujung

Qs = tahanan selimut Cu = kohesi undrained

Ap = luas penampang ujung tiang

Li = panjang lapisan tanah ke-i

D = diameter atau lebar tiang

L = kedalaman tiang

p = keliling selimut tiang

= koefisien adhesi antara tiang dengan tanah ( Tabel II.3)

Tabel II.3 Variasi nilai ( nilai interpolasi oleh Terzaghi, Peck, dan Mesri, 1966
dalam Das, 2016 )

18
II.3.3 Pengaruh Muka Airtanah terhadap Daya Dukung

Jika muka airtanah berada dekat dengan fondasi, maka akan terdapat beberapa
perubahan dalam perhitungan daya dukung (Das, 2016). Perubahan ini bergantung
pada jarak muka airtanah dengan fondasi (Gambar 2.6).

Gambar II.6 Perhitungan daya dukung yang dipengaruhi oleh muka airtanah (Das,
2016)

Kasus I: Jika muka airtanah berada 0 D1 Df, maka

q = beban efektif = D1 + D2 (sat w) (II.16)

dengan sat= berat isi tanah jenuh

w= berat isi air

nilai pada persamaan daya dukung batas digantikan oleh

= sat w (II.17)

Kasus II: Jika muka airtanah berada 0 d B, maka

q = Df (II.18
)
nilai pada persamaan daya dukung batas digantikan oleh

19

= + ( ) (II.19)

Persamaan ini dapat dipakai dengan asumsi tidak ada rembesan di


tanah.

Kasus III: Jika muka airtanah berada d B, maka airtanah tidak berpengaruh
pada daya dukung batas.

II.3.4 Faktor Keamanan dan Daya Dukung Izin

Daya dukung izin, qall (allowable bearing capacity), didefinisikan sebagai nilai
daya dukung batas dibagi dengan nilai faktor keamanan (Das, 2016). Nilai daya
dukung izin dirumuskan dengan persamaan:


= (II.20)

dengan = daya dukung izin per satuan luas

= daya dukung batas per satuan luas

= faktor keamanan

Terkadang, digunakan perhitungan seperti ini :

()
() = (II.21)

dengan

() =qu Df (II.22)

II.3.5 Daya Dukung Batas Fondasi Berdasarkan Nilai N-SPT

Nilai daya dukung batas suatu material dapat pula diketahui melalui SPT (Standard
Penetration Test) yang akan didapat nilai N. Nilai N yang dikoreksi disebut dengan
Ncor, nilai ini menurut Peck (1974, dalam Murthy, 2007) dapat dikorelasikan

20
dengan nilai konsistensi pada tanah kohesif dan nilai densitas relatif pada tanah
nonkohesif (Tabel II.4 dan Tabel II.5)

Tabel II.4 Hubungan Ncor dan terhadap densitas relatif pada tanah nonkohesif
(Peck, 1974 dalam Murthy, 2007)

Tabel II.5 Hubungan Ncor dan qu pada tanah kohesif (Peck, 1974 dalam Murthy,
2007)

dengan qu merupakan nilai UCS (Unconfined Compressive Strength)

21
BAB III
GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN

III.1 Fisiografi

Van Bemmelen (1949) membagi daerah Jawa menjadi 7 jalur / zona fisiografis dari
Utara Selatan (Gambar III.1) sebagai berikut :

1. Zona Gunung Api Kuarter


2. Zona Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa
3. Zona Antiklinorium Rembang-Madura
4. Zona Antiklinorium Bogor-Serayu Utara - Kendeng
5. Zona Kubah dan Perbukitan dalam Depresi Sentral
6. Zona Depresi Sentral Jawa dan Zona Randublatung
7. Zona Pegunungan Selatan

Gambar III.1 Peta fisiografi (van Bemmelen, 1949)

Dilihat dari letak dan kedudukan, daerah penelitian terdiri dari 2 zona, yaitu:

1. Zona Antiklinorium Bogor-Serayu Utara dan Kendeng


Zona Kendeng terletak di selatan laju Randublatung, dengan struktur
yang kuat dan sangat aktif sehingga banyak terjadi perlipatan dan
pensesaran. Zona ini memili panjang 250 km dan lebarnya 40 km, dibagi

22
menjadi 3 bagian berdasarkan stratifrafi dan intensitas tektoniknya (van
Bemmelen, 1949), yaitu :
Kendeng Barat meliputi daerah Gunung Ungaran hingga
Purwodadi dengan singkapan batuan tertua berumur Oligosen
Miosen Bawah dengan Formasi Pelang. Batuannya mengandung
bahan vulkanis. Daerah ini memiliki struktur geologi yang rumit
yaitu banyak sesar sesar sungkup.
Kendeng Tengah meliputi daerah Purwodadi hingga Gunung
Pandan dengan singkapan batuan tertua berumur Miosen
Tengah. Daerah ini terdiri dari sedimen bersifat turbidit (laut
dalam) yang diwakili oleh Formasi Kerek dan Formasi
Kalibeng. Persentase kandungan bahan bahan piroklastik
dalam batauan sedimen menurun ke arah utara.
Kendeng Timur terdiri dari endapan endapan Kenozoikum
Akhir yang tersingkap di antara Gunung Pandan dan Mojokerto.
Di daerah ini hanya terdapat endapan Pliosen dan Pleistosen.
Struktur geologi yang ada berupa antiklin yang memiliki sumbu
menggeser ke utara dan menunjam ke timur.
2. Zona Gunung Api Kuarter
Zona ini terdiri dari gunungapi berumur Kuarter seperti Gunungapi
Slamet, Gunungapi Dieng, Gunungapi Merapi, Gunungapi Sindoro, dan
Gunungapi Ungaran

III.2 Stratigrafi Regional

Menurut de Genevraye & Samuel (1972), Zona Kendeng Barat dibagi menjadi 3
bagian yakni area Ungaran, Northern Flank (bagian utara), dan Southern Flank
(bagian selatan).

Berdasarkan stratigrafi Zona Kendeng bagian barat oleh de Genevraye & Samuel
(1972) , batuan tertua yang tersingkap adalah Formasi Pelang yang terdiri atas napal
dan napal lempungan dengan perselingan kalkarenit, terendapkan di lingkungan
laut terbuka. Formasi ini berumur Oligosen Akhir Miosen Tengah. Selanjutnya,

23
Formasi Kerek terendapkan secara selaras di atas Formasi Pelang dengan umur
Miosen Tengah Miosen Akhir yang terdiri atas perselingan batulempung, napal
lempungan, napal, batupasir tuf gampingan, dan batupasir tufaan. Formasi ini
diendapkan di lingkungan laut terbuka. Formasi kerek tertindih selaras oleh
Formasi Kalibeng berumur Miosen Akhir Pliosen Akhir yang pada bagian
bawahnya dikenal dengan lapisan napal globigerina dengan perselingan batupasir
tufaan dan bagian atasnya tersusun oleh batugamping. Selanjutnya formasi ini
tertidih tak selaras Formasi Pucangan berumur Pleistosen Awal, terendapkan dalam
lingkungan laut tertutup dengan keadaan reduksi dan tersusun atas batupasir
vulkanik dan konglomerat. Formasi ini tertindih selaras oleh Formasi Kabuh yang
berumur Pleistosen Tengah tersusun oleh Konglomerat dan batupasir tufaan serta
terendapkan di lingkungan darat atau sungai. Terakhir, Formasi Kabuh tertindih
secara takselaras oleh Formasi Notopuro yang berumur Pleistosen Akhir yang
tersusun oleh dominan breksi vulkanik serta diendapkan di lingkungan darat (lihat
Gambar III.2).

Gambar III.2 Stratigrafi Zona Kendeng Barat (de Genevraye & Samuel, 1972)
24
Formasi formasi yang terdapat di daerah penelitian berdasarkan Stratigrafi Zona
Kendeng Barat , yaitu :

1. Formasi Kerek
Formasi Kerek diendapkan selaras di atas Formasi Pelang dan berkembang
baik di Pegunungan Kendeng Barat terdiri atas perselingan batulempung,
napal lempungan, napal, batupasir tuf gampingan, dan batupasir tufaan. Di
daerah Ungaran terbagi menjadi Anggota Merawu dan Anggota Penyatan.
Ketebalan formasi ini lebih dari 1000 m. Formasi ini berumur Miosen
Tengah sampai Miosen Akhir.
2. Formasi ini Notopuro
Formasi ini diendapkan tidak selaras di atas Formasi Kabuh dan Pucangan.
Litologi terdiri dari perlingan batupasir tufan, breksi lahar dan konglomerat
gunungapi yang ada umumnya merupakan endapan darat. Ketebalan dapat
mencapai 300 m di sebelah selatan. Formasi ini berumur Pleistosen Tengah
Akhir.

Menurut Thanden dkk., (1996), daerah penelitian terdiri dari 3 Formasi dari tua ke
muda (lihat Gambar III.3) yaitu :

1. Formasi Kerek (Tmk) terdiri dari perselingan batulempung, napal, batupasir


tufan, konglomerat, breksi vulkanik, dan batugamping. Batulempung,
kelabu muda tua, gampingan, sebagian bersisipan dengan batulanau atau
batupasir, setempat mengandung fosil foram, moluska dan koral koral
koloni. Lapisan tipis konglomerat terdapat dalam batulempung di Kali
Kripik dan di batupasir. Batugamping umumnya berlapis, kristalin, dan
pasiran dengan ketebalan lebih dari 400 meter dengan umur satuan Miosen
Tengah.

2. Formasi Kaligetas (Qpkg) terdiri dari breksi vulkanik, aliran lava, tuf,
batupasir tufan dan batu lempung. Breksi aliran dan lahar dengan sisipan
lava dan tuf halus kasar. Setempak di bagian bawahnya ditemukan
batulempung mengandung moluska dan batu pasir tufan. Batuan gunungapi
yang melapuk bewarna coklat kemerahan dan sering membentuk bongkah
25
bongkah besar. Ketebalan berkisar antara 50 m 200 m. Umur satuan
Pleistosen Awal.

Gambar III.3 Peta Geologi Regioal Daerah Penelitian (Sumber : Peta Geologi
Regional Lembar Semarang Magelang, Jawa Tengah (Thanden
dkk., 1996))

III.3 Struktur Geologi Regional

Menurut Pulunggono dan Martodjojo (1994), Pulau Jawa memiliki tiga arah umum
kelurusan struktur yang dominan (Gambar III.4), yaitu:

1. Pola Meratus, berarah timur laut barat daya. Pola ini diwakili oleh
Sesar Cimandiri, Sesar naik Rajamandala, dan sesar-sesar lainnya di
daerah Purwakarta. Pola ini merupakan pola tertua yang ada di Pulau
Jawa dengan umur Kapur hingga Eosen (80 hingga 52 juta tahun lalu).
Terbentuknya pola Meratus ini diakibatkan oleh adanya tatanan
kompresif, yaitu lempeng samudera India yang menunjam ke bawah
Paparan Sunda dengan orientasi timur laut - barat daya.
2. Pola Sunda, berarah utara selatan. Umumnya pola ini ditemukan di
bagian barat dari Jawa Barat dan tidak terlihat pada daerah timur Pola
26
Meratus. Gerak sesar pola Sunda ini berupa regangan akibat kecepatan
pemekaran Lempeng Hindia-Australia melambat. Pola Sunda terbentuk
pada umur Eosen Akhir Oligosen Akhir (52 hingga 32 juta tahun lalu)
akibat penunjaman subkontinen India yang bergerak ke arah utara. Pola
ini mengaktivasi Pola Meratus, sehingga pola ini berumur lebih muda
dari Pola Meratus.
3. Pola Jawa, berarah barat timur. Pola ini diwakili oleh Sesar Baribis
dan sesar-sesar dalam Zona Bogor (van Bemmelen, 1949 dalam
Pulunggono, 1994). Dengan adanya arah penunjaman baru di selatan
Jawa, pulau Jawa mengalami kompresi yang menghasilkan zona
anjakan-lipatan (Pulunggono dan Martodjojo, 1994). Menurut Soejono
(1989) dalam Pulunggono dan Martodjojo (1994), Pola Jawa ini
umumnya diwakili oleh sesar-sesar naik yang beranjak ke utara atau
timur laut. Pola ini juga mengaktivasi pola-pola yang telah ada
sebelumnya. Hingga saat ini, pola Jawa masih tergolong aktif.

Gambar III.4 Pola struktur Pulau Jawa (Martodjojo dan Pulonggono, 1994)

27
BAB IV
GEOLOGI TEKNIK DAERAH PENELITIAN

IV.1 Geomorfologi Daerah Penelitian

Geomorfologi daerah penelitian diamati melalui peta topografi, DEM, dan pengamatan
secara langsung di lapangan. Daerah penelitian berada pada ketinggian 350 600 m di atas
permukaan laut. Ketinggian terendah berada pada daerah dataran hilir dari sungai tuntang
bagian timur. Wilayah tertinggi berada di bagian barat daerah penelitian yang memiliki
morfologi berupa perbukitan.

Berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng van Zuidam (1985), daerah penelitian memiliki
kemiringan lereng datar hingga curam yaitu 0 70 % seperti ditunjukkan pada (lihat Gambar
IV.1). Berikut penjelasan untuk masing-masing kelas lereng berdasarkan van Zuidam
(1985):

Kelas 0 2 % dicirikan oleh bentuk lereng yang relatif datar atau hampir
datar, tidak ada erosi yang besar, dan pengikisan permukaan terjadi tidak
begitu intensif di bawah kondisi kering.
Kelas 2 7 % dicirikan oleh bentukan lereng yang landai, apabila terjadi
longsor akan menghasilkan pergerakan massa dengan kecepatan rendah,
erosi dan pengikisan terjadi cukup besar.
Kelas 7 15 % dicirikan oleh bentuk lahan dengan kemiringan lereng landai
sampai curam, apabila terjadi longsor akan menghasilkan pergerakan masa
yang berkecepatan rendah, lebih mudah mengalami pengikisan permukaan,
dan erosi terjadi intensif di permukaan.
Kelas 15 30 % dicirikan oleh bentuk lereng yang curam, rawan terhadap
bahaya longsor dengan berbagai tipe pergerakan, terjadi erosi alur dan erosi
permukaan.
Kelas 30 70 % dicirikan oleh bentuk lereng dengan kemiringan curam
sampai terjal, terdapat erosi yang intensif, merupakan daerah rawan erosi dan
longsor dengan kecepatan pergerakan massa secara perlahan.

28
Gambar IV.1 Peta situasi dan kemiringan lereng (modifikasi peta topografi digital
Bakosurtanal berdasarkan Klasifikasi van Zuidam (1985) daerah Jalan Tol
Semarang Solo STA 22 24,5 dan sekitarnya)

Pola aliran sungai merupakan ekspresi dari karakter litologi dan peran kontrol struktur pada
suatu daerah. Analisis pola aliran sungai pada daerah penelitian dilakukan berdasarkan
klasifikasi Howard (1967) dalam van Zuidam (1985). Hasil analisis peta kontur dan DEM
menunjukkan sungai daerah penelitian memiliki pola sungai trelis, paralel, dan dendritik
(Gambar IV.2).

Gambar IV.2 Pola aliran sungai daerah penelitian

Pola kelurusan pada daerah penelitian ditentukan menggunakan peta topografi dan DEM
yang dilihat lebih luas menunjukkan arah umum relatif barat timur dan baratdaya

29
timurlaut (Gambar IV.3). Geomorfologi dibagi menjadi 2 (dua) satuan mengacu pada
klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Brahmantyo dan Bandono, 2006), yaitu:

Gambar IV.3 Pola kelurusan lembahan dan punggungan daerah penelitian berdasarkan
analisis peta topografi dan DEM

4.1.1 Satuan Perbukitan Aliran Piroklastik


Satuan ini dicirikan oleh kontur sangat renggang-rapat dengan kemiringan lereng landai
terjal (0 70 %)(Gambar IV.4). Satuan ini memiliki sungai yang terjal dengan bentuk
lembahan U dan berpola dendritik (Gambar IV.5). Satuan ini tersusun oleh batuan breksi
vulkanik. Proses eksogen yang mempengaruhi satuan ini berupa pelapukan, erosi vertikal
horizontal, dan longsoran. Satuan ini menempati 60% daerah penelitian. Tata guna lahan
secara umum berupa perkebunan kopi, perkebunan coklat, perumahan warga dan hutan.

T B

Gambar IV.4 Morfologi perbukitan yang berarah barat-timur pada bagian selatan daerah
penelitian. Foto diambil dengan drone menghadap ke selatan.

30
U S

Gambar IV.5 Sungai Tuntang dengan bentuk lembahan U.

4.1.2 Satuan Perbukitan Lipatan

Satuan ini dicirikan oleh kontur rapat dengan kemiringan lereng landai terjal (0 70 %)
(Gambar IV.6). Satuan ini memiliki sungai yang terjal dengan bentuk lembahan V dan
berpola trellis dan parallel apabila diamati secara lebih luas (Gambar IV.7). Satuan ini
tersusun oleh batuan batupasir, batulempung dan tanah lempung lanauan. Proses eksogen
yang mempengaruhi satuan ini berupa pelapukan, erosi vertikal, dan longsoran. Satuan ini
menempati 40 % daerah penelitian. Tata guna lahan secara umum berupa perumahan warga
dan akses jalan.

U S

Gambar IV.6 Morfologi perbukitan yang berarah utara selatan pada bagian utara daerah
penelitian. Foto diambil di lokasi jalan tol menghadap ke timur.

31
B T

Gambar IV.7 Sungai dengan bentuk lembahan V.

IV.2 Satuan Batuan dan Tanah


Penamaan dan pengelompokan satuan pada derah penelitian didasarkan pada sifat dan jenis
material. Daerah penelitian dengan urutan dari tua ke muda terdiri dari Satuan Batupasir
Batulempung, Satuan Breksi Vulkanik, Satuan Lempung Lanauan, Satuan Pasir Lanuan dan
Satuan Lanau lempungan (lihat Lampiran A-2).

IV.2.1 Satuan Batupasir Batulempung


IV.2.1.1 Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Batupasir Batulempung ditandai dengan warna kuning pada peta geologi teknik
(lihat Lampiran A-2), terletak di bagian utara dari daerah penelitian dengan persebaran di
sekitar sungai. Satuan ini meliputi 10% dari daerah penelitian yang singkapannya dapat
diamati pada Kandangan, Deres, dan Bawen. Ketebalan satuan ini berkisar antara >400 m.

IV.2.1.2 Ciri Litologi

Satuan Batupasir Batulempung terdiri atas batupasir dengan perselingan batulempung.


Batupasir sebagai komponen utama memiliki ciri berwarna abu terang hingga coklat tua,
ukuran butir halus (0,25 mm), kemas terbuka, terpilah baik, porositas baik, kompak,
karbonatan, memiliki butir kuarsa, fragmen litik, dan biotit dengan matriks mineral lempung.
Batupasir yang tersingkap memperlihatkan struktur perlapisan dengan struktur sedimen
yang menunjukkan Sikuen Bouma hampir lengkap (Gambar IV.8).

32
IV.2.1.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan

Hasil analisis mikropaleontologi pada conto batuan pada lokasi AJF 8.34 menunjukkan
kandungan fosil foraminifera plankton, kisaran umur N14-N17 Biozonasi Blow (1969) atau
Miosen Tengah - Akhir.

Tabel IV.6 Hasil analisis mikropaleontologi pada Satuan Batupasir Batulempung


KISARAN UMUR (KLASIFIKASI BLOW, 1969)
Miosen
Satuan PLIOSEN
Batuan Stasiun Foraminifera Planktonik Tengah Akhir
Batuan
N
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Globorotalia lenguaensis
Batupasir -
Batulempung AJF 8.34 Globigerina nepenthes
Batulempung
Orbulina universa

Berdasarkan kandungan fosil bentonik yaitu Uvigerina sp., Nodosaria sp., Gyroidina sp.
menunjukkan satuan batuan ini diendapkan di lingkungan laut batial atas (200 - 500m).
Kehadiran struktur sedimen berupa perlapisan masif, laminasi paralel, dan convolute dengan
(interval a-b dan b-d) menunjukkan Sikuen Bouma yang menjadikan ciri khas sedimen
diendapkan oleh arus turbidit yang terbentuk pada lereng yang curam (slope). Sehingga
dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan berada pada slope laut dalam.

Tb Td

Ta
Tc

Tb

(a) (b)

Gambar IV.8 Sekuen bouma yang ada pada daerah penelitian, (a) sekuen Ta Tb dan (b)
sekuen Tb-Td

IV.2.1.4 Kesebandingan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi, struktur sedimen dan umur dari Satuan Batupasir Batulempung
ini, dapat disetarakan dengan Formasi Kerek (Thanden dkk., 1996).

33
IV.2.1.5 Hubungan Stratigrafi

Hubungan stratigrafi Satuan Batupasir Batulempung dengan satuan batuan di bawahnya


tidak diketahui karena satuan ini merupakan satuan tertua di daerah penelitian.

IV.2.1.6 Sifat Keteknikan

Satuan ini mempunyai kekerasan batuan lunak menengah dengan Schmidt Hammer Value
(SHV) 6 14 (20 35 MPa), porositas cukup baik dengan 10 16%, kadar air menengah
0,63 2,21 %, berat isi alami 20,53 28,93 kN/m3, penggalian mudah dilakukan dengan
peralatan nonmekanik, kedudukan MAT bebas dangkal. Satuan ini berpotensi mengalami
lonsoran berupa longsoran (lihat Lampiran C-1 dan C-2).

IV.2.2 Satuan Breksi Piroklastik

IV.2.2.1 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Breksi Piroklastik ditandai dengan warna coklat pada peta geologi teknik (lihat
Lampiran A-2), terletak terutama di Sungai Tuntang pada daerah penelitian. Satuan ini
meliputi 5% dari daerah penelitian yang singkapannya dapat diamati pada Pancuran Satu,
Pancuran Dua, Prenggan, Balekambang, dan Geneng terutama di bagian lereng dan Sungai
Tuntang. Ketebalan satuan ini berkisar antara 0 sampai lebih dari 36 m.

IV.2.2.2 Ciri Litologi


Satuan Breksi Piroklastik terdiri atas breksi dan tuf. Breksi sebagai komponen utama
memiliki warna coklat keabuan dengan fragmen berukuran kerikil bongkah yang terdiri
dari andesit dan basalt. (Gambar IV.9) Fragmen breksi berbentuk menyudut membundar
tanggung yang terpilah buruk - sedang dengan kemas terbuka, porositas baik, matriks berupa
material vulkanik.

Hasil pengamatan sayatan tipis pada masadasar breksi (Lampiran B) menunjukkan bahwa
satuan ini memiliki masadasar tuf gelas sehingga terdapat asosiasi produk vulkanik.

IV.2.2.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan

Fosil penunjuk umur tidak ditemukan sama sekali pada satuan ini. Namun, mengacu pada
Peta Geologi Lembar Semarang Magelang (Thanden dkk., 1996) maka satuan ini

34
kemungkinan merupakan Formasi Kaligetas berumur Pleistosen atau Formasi Notopuro
menurut de Genevraye & Samuel (1972).

Menurut de Genevraye & Samuel (1972) dan Thanden dkk., (1996) daerah penelitian telah
mengalami pengangkatan dan satuan batuan ini diendapkan di lingkungan darat.

U S

Gambar IV.9 Singkapan breksi piroklastik di proyek jalan tol

IV.2.2.4 Kesebandingan Stratigrafi

Berdasarkan ciri litologi dan penyebaran satuan batuan, Satuan Breksi Piroklastik dapat
disetarakan dengan Formasi Kaligetas berumur menurut Thanden dkk., (1996) atau Formasi
Notopuro menurut de Genevraye & Samuel (1972).

IV.2.2.5 Hubungan Stratigrafi

Hubungan stratigrafi Satuan Breksi Piroklastik dengan Satuan Batupasir Batulempung di


bawahnya menunjukkan suatu hubungan yang tidak selaras, hubungan ketidakselarasan
dapat terlihat pada penyebaran lateral satuan ini pada peta geologi teknik, adanya rumpang
waktu antara satuan lain yang lebih tua.

IV.2.2.6 Sifat Keteknikan

Satuan ini mempunyai kekerasan batuan lunak menengah dengan Schmidt Hammer Value
(SHV) 20 22 (32 40 MPa), porositas cukup dengan 10 13%, kadar air menengah 6,2
2,21 %, berat isi alami 20,53 28,93 KN/m3, penggalian mudah dilakukan dengan peralatan

35
nonmekanik, kedudukan MAT bebas dangkal. Satuan ini berpotensi mengalami lonsoran
berupa longsoran (lihat Lampiran C-1 dan C-2).

IV.2.3 Satuan Lempung Lanauan

IV.2.3.1 Penyebaran, Ketebalan, dan Stratigrafi.

Satuan berwarna hijau muda pada peta geologi teknik ini menempati 30% dari total luas
daerah penelitian (lihat Lampiran A-2). Satuan ini terletak di utara daerah penelitian dan
menyebar selain di sungai sungai berarah relatif utara. Ketebalan satuan ini berkisar 5
meter. Satuan ini terdiri tanah residual hasil pelapukan Satuan Batupasir Batulempung
sehingga menutup Satuan Batupasir Batulempung.

IV.2.3.2 Deskripsi Singkapan

Singkapan mempunyai ciri ciri berupa tanah lunak berukuran lempung sampai lanau
berwarna abu abu, membundar, kebolaan tinggi, plastis, kedudukan MAT bebas dangkal,
mudah digali dengan peralatan nonmekanik, dan berpotensi mengalami pergerakan atau
longsor pada lereng terjal (lihat Gambar IV.10)

IV.2.3.3 Sifat Keteknikan

Berdasarkan data laboratorium dan klasifikasi tanah menurut USCS (lihat lampiran C-3),
satuan ini termasuk dalam tanah lempung inorganik (CH) dengan plastistas tinggi dengan IP
(35%), indeks batas cair (66%), porositas sangat baik (49,25%), berat isi alami 12,4 13,78
kN/m3, dan kadar air alami (43,93%).

T B T B

(a) (b)

Gambar IV.10 Satuan tanah berukuran lempung (a) singkapan, (b) ukuran lempung.

36
IV.2.4 Satuan Pasir Lempungan

IV.2.4.1 Penyebaran, Ketebalan, dan Stratigrafi

Satuan berwarna kuning pudar pada peta geologi teknik ini menempati 4% dari total luas
daerah penelitian (lihat Lampiran A-2). Satuan ini terletak di tengah selatan daerah
penelitian dan menyebar selain di sungai dan lereng. Ketebalan satuan ini berkisar 9 12
meter. Satuan ini hasil pelapukan dari breksi piroklastik dan berada di atas Satuan Breksi
Piroklastik.

IV.2.4.2 Deskripsi Singkapan

Singkapan mempunyai ciri ciri berupa tanah pasir lempungan berukuran lempung sampai
pasir berwarna coklat kemerahan, membundar tanggung menyudut, derajat kebolaan
rendah, plastis, kedudukan MAT bebas dalam, mudah digali dengan peralatan nonmekanik
(lihat Gambar IV.11).

IV.2.4.3 Sifat Keteknikan

Berdasarkan data laboratorium dan klasifikasi tanah menurut USCS (lihat lampiran C-3),
satuan ini termasuk dalam tanah pasir lempungan (SC) dengan plastistas sedang dengan IP
(11,27 19,35 %), indeks batas cair (60,25 61,59 %), porositas sangat baik (41,25
59,23%), berat isi alami 13,78 16,73 kN/m3, dan kadar air alami (35,10 42,6%).

T B

Gambar IV.11 Satuan Tanah Pasir Lempungan (a) singkapan, (b) ukuran pasir.

37
IV.2.5 Satuan Lanau Lempungan

IV.2.5.1 Penyebaran, Ketebalan, dan Stratigrafi

Satuan berwarna abu abu pada peta geologi teknik ini menempati 51% dari total luas
daerah penelitian (lihat Lampiran A-2). Satuan ini terletak menyebar di tengah selatan
daerah penelitian dan menyebar selain di sungai dan lereng. Ketebalan satuan ini berkisar 4
6 meter.

IV.2.5.2 Deskripsi Singkapan

Singkapan mempunyai ciri ciri berupa tanah pasir lempungan berukuran lempung sampai
lanau berwarna coklat kemerahan pudar, membundar tanggung menyudut, derajat
kebolaan rendah, plastis, kedudukan MAT bebas dangkal sangat dalam, mudah digali
dengan peralatan nonmekanik (lihat Gambar IV.12). Satuan ini berpotensi mengalami
pergerakan tanah.

IV.2.5.3 Sifat Keteknikan

Berdasarkan data laboratorium dan klasifikasi tanah menurut USCS (lihat lampiran C-3),
satuan ini termasuk dalam tanah lempung lanauan (MH) dengan plastistas tinggi dengan IP
(24,66 33,57 %), indeks batas cair (54,54 61,59 %), porositas sangat baik (49,25
59,23%), berat isi alami 15,60 17,78 kN/m3, dan kadar air alami (35,10 42,6%).

T B

Gambar IV.12 Satuan Tanah Lanau Lempungan (a) singkapan, (b) ukuran pasir.

38
IV.3 Kondisi Bawah Permukaan Daerah Penelitian

Keadaan bawah permukaan daerah penelitian diketahui dengan penampang geologi teknik
dan deskripsi inti bor hasil pengeboran geoteknik di rencana Jalan Tol Semarang Solo STA
23,3 24,5. Penampang geologi teknik dihasilkan dari pengamatan lapangan dan peta
geologi teknik (lihat Lampiran A-2). Selain dari kedua sumber tersebut, hasil deskripsi inti
batuan dan kolom stratigrafi (lihat Lampiran D) juga membantu dalam menarik batas satuan
tanah dan batuan yang tidak terlihat dari pengamatan lapangan.

Pengeboran geoteknik dilakukan pada 13 titik yang tersebar sepanjang ruas Jalan Tol
Semarnag Solo STA 23,3 24,5. Dalam penelitian ini, titik-titik pengeboran yang akan
digunakan yaitu BW-02, BW-03, BW-09, dan BW-11a. Titik BW-02 sebagai titik paling
utara atau arah Semarang dari Tol Bawen, sedangkan titik BW-11a sebagai titik paling
selatan atau arah Solo dari Tol Bawen. Pengeboran umumnya mencapai kedalaman 30 34
meter dari permukaan. Lubang bor terdalam yaitu lubang bor BW- 2 dengan kedalaman 34
meter, diikuti oleh BW-3, BW-9, dan 11a dengan kedalaman 30 meter.

Secara umum, pengamatan di lapangan dan hasil deskripsi batuan inti dari 4 titik bor tersebut
memberikan kondisi bawah permukaan yang mirip. Satuan Batupasir Batulempung tidak
ditemukan. Hal ini diinterpretasikan karena bor belum mencapai ketebalan maksimal dari
Satuan Breksi Piroklastik yang menurut Thanden (1996) memiliki ketebalan 50 200 meter.
Satuan terbawah dalam data bor adalah Satuan Breksi Vulkanik. Selanjutnya, Satuan Pasir
Lempungan menutupi Satuan Breksi Piroklastik. Dan terakhir, Satuan Lanau Lempungan
menutuip Satuan Pasir Lempungan. Ketebalan dan kedalaman tiap satuan berbeda beda
(lihat Lampiran D).

IV.4 Struktur Geologi

Peta Geologi Lembar Semarang Magelang menunjukkan adanya sesar naik yang berada
sekitar 10 kilometer di utara daerah penelitian. Hal ini mengakibatkan adanya lipatan
lipatan sinklin maupun antiklin pada daerah penelitian.

Analisis arah tegasan utama dari 3 lipatan yang ada di daerah penelitian (lihat Lampiran F)
yaitu antiklin Bawen, sinklin Bawen dan antiklin Kandangan menunjukkan arah utara

39
selatan tepatnya N175oE. Kesemuanya lipatan tersebut terbentuk bersamaan. Arah tegasan
utama ini sama dengan Pola Jawa dan berlangsung hingga saat ini (Gambar IV.13).

Bidang perlapisan yang ditemukan pada daerah penelitian didominasi berarah barat-timur
(lihat Gambar IV.8).

Gambar IV.13 Arah utama tegasan pada 3 lipatan pada daerah penelitian.

IV.5 Bencana Geologi

Secara umum, bencana alam dapat diartikan sebagai bencana alam geologi (geological
hazard) karena faktor geologi menjadi penyebab terjadinya bencana alam. Dengan
memahami bencana alam geologi yang mungkin terjadi di sekitar daerah penelitian,
persiapan menghadapi bencana dapat dilakukan. Hal ini sangat penting terkait keamanan dan
keberlangsungan rekayasa jalan tol serta pemukiman di daerah penelitian. Contoh bencana
alam geologi, yaitu gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, longsoran, dan penurunan
tanah.
Menurut Peta Rawan Bencana Gempa Bumi Provinsi Jawa Tengah yang dibuat oleh Robiana
dkk., (2010), potensi gempabumi daerah penelitian termasuk dalam kawasan rawan bencana
gempa bumi rendah (Gambar IV.14). Kawasan ini berpotensi terlanda goncangan dengan
skala intensitas lebih dari IV V MMI (Modified Mercally Intensity), memiliki percepatan
gempa lebih dari 0,10 0,20 g.

40
Gambar IV.14 Peta Rawan Gempa Bumi Provinsi Jawa Barat (PVMBG, 2010) ..

IV.6 Sistesis Geologi


Sejarah geologi daerah penelitian dimulai sejak Miosen Tengah (N14-N17) dengan
pengendapan Satuan Batupasir Batulempung di lingkungan laut pada batimetri batial atas.
Pada Kala Pliosen Plistosen, jalur subduksi memanjang berarah W-E yang berada di
selatan Pulau Jawa memberikan tegasan utama berarah N-S yang mengakibatkan adanya
deformasi menghasilkan struktur lipatan pada daerah penelitian dan pengangkatan sehingga
lingkungan pengendapan berubah menjadi daratan. Pada Plistosen, diendapkan secara tidak
selaras Satuan Breksi Piroklastik yang berupa aliran piroklastik dari letusan Gunungapi
Ungaran Tua.

Gaya-gaya eksogen setelah itu membentuk morfologi daerah penelitian hingga saat ini.
Pelapukan yang terjadi menyebabkan Satuan Breksi Piroklastik menjadi Satuan Pasir
Lempungan dan Satuan Lanau Lempungan yang menutupi batuan asalnya. Pelapukan juga
terjadi pada Satuan Batupasir Batulempung menjadi Satuan Lempung Lanauan yang
menutupi batuan asalnya.

41
Pada Satuan Batupasir Batulempung telah terjadi proses deformasi yang kuat sehingga
terdapat banyak titik longsor. Sehingga, diperlukan rekayasa terhadap lereng lereng agar
tidak longsor dan tidak mengganggu jalan tol yang sudah beroperasi. Daya dukung izin pada
satuan ini dan hasil pelapukannya (Satuan Lempung Lanauan) diperkirakan lebih rendah
dibandingkan dengan nilai daya dukung pada Satuan Breksi Piroklastik.

Satuan Breksi Piroklastik dan tanah hasil pelapukannya juga memiliki potensi longsor. Hal
ini dikarenakan terjadinya pelapukan yang intensif. Sehingga, perlunya rekayasa lereng
maupun menimbun tanah timbunan untuk menyesuaikan dengan desain jalan tol. Daya
dukung pada satuan ini, semakin ke batuan induknya mempunyai nilai daya dukung izin
yang makin besar. Sehingga, rekomendasi pembangunan adalah pada Satuan Breksi
Piroklastik.

Daya dukung izin akan dibahas secara detail pada Bab V.

42
BAB V
ANALISIS DAYA DUKUNG BATUAN DAN TANAH

V.1 Data yang Digunakan

Pada penelitian ini digunakan dua kelompok data (lihat Lampiran C-1), yaitu:

1. Sifat fisik, yaitu sifat material yang bisa diketahui tanpa memberikan usaha dari luar.
Sifat ini meliputi deskripsi material tanah, densitas, kadar air, berat jenis alami, berat
jenis kering, porositas, derajat kejenuhan, batas cair, batas plastis, indeks plastisitas,
dan ukuran butir.
2. Sifat mekanik, yaitu sifat material yang bisa diketahui dengan cara memberi usaha
dari luar. Sifat ini meliputi nilai kohesi tanah dan sudut geser dalam yang didapat
dari uji kompresi triaksial (triaxial compression test) serta indeks kompresi dan
koefisien konsolidasi yang didapatkan dari uji konsolidasi.

V.2 Fondasi Dangkal


Penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai daya dukung fondasi dangkal dengan
persamaan II.5 di Subbab II.3.2 dengan prosedur perhitungan sesuai dengan Gambar V.1.

Data dan pengolahan daya dukung fondasi dangkal.

Rangkum data uji fisik dan mekanik, meliputi kedalaman, berat isi alami, berat isi
kering, kohesi, dan sudut geser dalam.

Hitung faktor faktor daya dukung Nc, Nq, N (lihat Tabel II.2).

Hitung nilai daya dukung batas () pada tiap kedalaman untuk fondasi lajur.

Hitung nilai daya dukung izin ( ) dengan membagi nilai dengan FS = 3,


lalu dibuat grafik nilai daya dukung fondasi lajur

Gambar V.1 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dangkal.

43
Perhitungan nilai daya dukung dilakukan pada wilayah terpilih dan semuanya terletak pada
Satuan Lanau Lempungan, Satuan Pasir Lempungan dan Breksi Piroklastik. (lihat Lampiran
A-2). Berkaitan dengan pengaruh kondisi airtanah, berdasarkan muka air tanah hasil
pengeboran berada jauh di bawah sehingga seluruhnya dianggap dalam keadaan tak jenuh
air. Setelah dilakukan pengolahan data sesuai dengan prosedur, didapatkan hasil perhitungan
daya dukung fondasi dangkal untuk fondasi lajur (lihat Lampiran E-1). Selanjutnya, dibuat
grafik nilai daya dukung izin pada Gambar V.2 sampai Gambar V.5.

DAYA DUKUNG IZIN FONDASI DANGKAL


BW - 2

qall (t/m)
5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
0
1
2
Kedalman (m)

3
4
5
6
7
8
9
10

Gambar V.2 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-2.

DAYA DUKUNG IZIN FONDASI DANGKAL


BW - 3

qall (t/m)
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
0

2
Kedalman (m)

10

Gambar V.3 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-3.


44
DAYA DUKUNG IZIN PONDASI DANGKAL
BW - 9

qall (t/m)
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
0

1
Kedalman (m)

Gambar V.4 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-9.

DAYA DUKUNG IZIN FONDASI DANGKAL


BW - 11a

qall (t/m)
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
0

4
Kedalman (m)

10

12

14

16

Gambar V.5 Nilai daya dukung izin fondasi dangkal BW-11a.

V.3 Fondasi Dalam


Penelitian ini dilakukan dengan melakukan perhitungan nilai daya dukung fondasi dalam
dengan persamaan II.9 hingga II.15 yang tercantum di Subbab II.3.2 dengan data dan
prosedur perhitungan sesuai dengan Gambar V.6.
45
Data dan pengolahan daya dukung fondasi dalam.

Rangkum data kedalaman beserta jenis lapisan tanah/batuan dan nilai N-SPT.

Hitung nilai tahanan ujung (Qp) dan tahanan selimut (Qs)

Hitung nilai daya dukung izin ( ) dengan membagi nilai Qp dengan FS = 3,


dan Qs yang dibagi FS = 5, lalu dibuat grafik nilai daya dukung fondasi dalam.

Gambar V.6 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dalam.

Penelitian ini melakukan perhitungan nilai daya dukung fondasi dalam berjenis tiang
pancang dengan spesifikasi berupa driven pile beton dengan penampang tiang berbentuk
bulat. Dimensi penampang beton memiliki diameter (untuk penampang bulat) sebesar 1 m.
Setelah dilakukan pengolahan data, didapatkan hasil perhitungan daya dukung fondasi tiang
pancang dengan penampang tiang berbentuk bulat terlampir pada Lampiran E-2. Selanjutnya
dibuat grafik nilai daya dukung izin antara kedua bentuk fondasi tersebut seperti pada
Gambar V.7.

DAYA DUKUNG IZIN FONDASI TIANG PANCANG


BW - 2

Qall (ton)
0 50 100 150 200 250 300
2
6
Kedalaman (m)

10
14
18
22
26
30
34

Gambar V.7 Prosedur perhitungan daya dukung fondasi dalam.


46
V.4 Mineral Lempung berdasarkan Nilai Aktivitas
Analisis ini dilakukan pada sampel sedimen di sumur bor BW-2, BW-3, BW-9 dan BH-11a
dengan menganalisis nilai aktivitas (A). mendefinisikan nilai aktivitas sebagai hasil bagi
indeks plastisitas (IP) dengan fraksi lempung. Fraksi lempung merupakan persentase berat
tanah yang berukuran kurang dari 2 m.

Nilai aktivitas ini bisa dikorelasikan dengan keaktifan mineral lempung dan tipe mineral
lempung berdasarkan Tabel V.1 dan Tabel V.2.

Tabel V.7 Angka aktivitas lempung oleh Skempton (1953, dalam Hunt, 2007)

Tabel V.8 Nilai aktivitas berbagai mineral (Das, 2011)

Berdasarkan data laboratorium berupa indeks plastisitas dan jumlah fraksi lempung, dapat
diketahui nilai aktivitas mineral lempung di masing-masing sumur bor. Sumur bor BW-2,
BW-3, BW-9, dan BW-11a mengindikasikan terdapatnya mineral lempung berupa smektit,
ilit, atapulgit, dan alofan dengan keaktifan mineral lempung dari tidak aktif, normal hingga
aktif.

47
Tabel V.9 Keterdapatan mineral lempung dan keaktifan pada semua bor
Bor Kedalaman A Mineralogi Kondisi
BW - 2 1.5 1.79 Smektit Aktif
3.5 0.89 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Normal
5.5 0.85 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Normal
7.5 0.68 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Tidak Aktif
9.5 0.64 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Tidak Aktif
BW - 3 1.5 2.12 Smektit Aktif
3.5 1.91 Smektit Aktif
5.5 1.54 Smektit Aktif
7.5 1.11 Attapulgit dan Allofan Normal
BW - 9 1.5 1.31 Smektit Aktif
3.5 0.81 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Normal
BW - 11a 1.5 1.82 Smektit Aktif
3.5 1.54 Smektit Aktif
5.5 1.32 Smektit Aktif
7.5 1.02 Smektit, Attapulgit, dan Allofan Normal
9.5 0.98 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Normal
13.5 0.69 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Tidak Aktif
15.5 0.64 Ilit, Attapulgit, dan Allofan Tidak Aktif

V.5 Analisis Daya Dukung

V.5.1 Analisis Fondasi Dangkal

Setelah melakukan pengolahan data sesuai prosedur pada Subbab V.2, didapatkan hasil
perhitungan daya dukung fondasi dangkal pada masing-masing sumur bor terlampir pada
Lampiran E-1. Grafik nilai daya dukung antara fondasi lajur tercantum pada Subbab V.2.
Secara umum pada grafik nilai daya dukung (Gambar V.8 hingga V.11), semakin dalam
peletakan suatu fondasi disertai dengan pengupasan, nilai daya dukung izin cenderung akan
semakin tinggi.

Satuan tanah pada sumur bor BW-2 hingga BW-11a terdiri dari 2 (dua) satuan yaitu Satuan
Lanau lempungan dan Pasir Lempungan (lihat Lampiran E-1). Perbedaan jenis satuan ini
terjadi karena adanya perbedaan persentase fraksi pasir yang signifikan.

Pada BW-2, Satuan Lanau Lempungan memiliki nilai daya dukung 5,62 11,10 ton/m2 dan
Satuan Pasir Lempungan memiliki nilai daya dukung 14,44 16,33 ton/m2. Faktor utama
yang mempengaruhi nilai daya dukung izin pada sumur bor ini yaitu sudut geser dalam,
diperlihatkan dengan korelasi positif antara nilai daya dukung izin dengan sudut geser dalam
(Gambar V.8).
48
Pada BW-3, Satuan Lanau Lempungan memiliki nilai daya dukung 6,96 10,95 ton/m2 dan
Satuan Pasir Lempungan memiliki nilai daya dukung 16,34 22,60 ton/m2. Faktor utama
yang mempengaruhi nilai daya dukung izin pada sumur bor ini yaitu sudut geser dalam,
diperlihatkan dengan korelasi positif antara nilai daya dukung izin dengan sudut geser dalam
(Gambar V.9).

Pada BW-9, Satuan Lanau Lempungan memiliki nilai daya dukung 13,24 ton/m2 dan Satuan
Pasir Lempungan memiliki nilai daya dukung 22,40 ton/m2. Faktor utama yang
mempengaruhi nilai daya dukung izin pada sumur bor ini yaitu sudut geser dalam,
diperlihatkan dengan korelasi positif antara nilai daya dukung izin dengan sudut geser dalam
(Gambar V.10).

Pada BW-11a, Satuan Lanau Lempungan memiliki nilai daya dukung 6,83 9,45 ton/m2
dan Satuan Pasir Lempungan memiliki nilai daya dukung 16,10 21,21 ton/m2. Faktor
utama yang mempengaruhi nilai daya dukung izin pada sumur bor ini yaitu sudut geser
dalam, diperlihatkan dengan korelasi positif antara nilai daya dukung izin dengan sudut geser
dalam (Gambar V.11).

Nilai sudut geser dalam yang meningkat diinterpretasikan terjadi karena meningkatnya
persentase fraksi pasir pada sedimen. Sudut geser dalam yang tinggi juga akan berimplikasi
pada tingginya nilai faktor daya dukung Nc, Nq, dan N.

BW - 2
60
Fraksi Pasir (%), Sudut Geser
Dalam (), dan Daya Dukung

50
40
30
Izin (t/m)

20
10
0
1 2 3 4 5
Data ke -

Fraksi Pasir Daya Dukung Izin Sudut Geser Dalam

Gambar V.8 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-2.
49
BW - 3
70

Fraksi Pasir (%), Sudut Geser Dalam (), dan 60

50
Daya Dukung Izin (t/m)

40

30

20

10

0
1 2 3 4
Data ke -

Fraksi Pasir Daya Dukung Izin Sudut Geser Dalam

Gambar V.9 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-3.

BW - 9
60
Fraksi Pasir (%), Sudut Geser Dalam (),

50
dan Daya Dukung Izin (t/m)

40

30

20

10

0
1 2
Data ke -

Fraksi Pasir Daya Dukung Izin Sudut Geser Dalam

Gambar V.10 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-9.
50
BW - 11a
60

Fraksi Pasir (%), Sudut Geser Dalam (),


50

dan Daya Dukung Izin (t/m) 40

30

20

10

0
1 2 3 4 5 6 7
Data ke -

Fraksi Pasir Daya Dukung Izin Sudut Geser Dalam

Gambar V.11 Grafik antara nilai daya dukung izin, fraksi pasir, dan sudut geser dalam pada
BW-11a.

V.5.2 Analisis Fondasi Dalam

Analisis daya dukung fondasi dalam dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data sesuai
prosedur di Subbab V.3. Hasil pengolahan berupa perhitungan daya dukung fondasi dalam
berupa tiang pancang beton dengan penampang tiang pancang berbentuk bulat terlampir
pada Lampiran E-2. Selain itu, dibuat pula grafik nilai daya dukung penampang bulat
tersebut.

Pada sumur bor BH-2 kedalaman 05 m dijumpai Satuan Lanau Lempungan dengan nilai
daya dukung izin sebesar 4,77,1 ton. Lalu pada kedalaman 517 m terdapat Satuan Pasir
Lempungan yang memperlihatkan kenaikan nilai daya dukung izin menjadi 14,883,8 ton.
Kemudian Satuan Breksi Piroklastik dijumpai pada kedalaman 1734 m dengan memiliki
nilai daya dukung izin 134,5 240,2 ton.

Dari uraian di atas, bahwa nilai daya dukung fondasi dalam pada sumur bor BW-2 cenderung
fluktuatif. Daya dukung bernilai lebih rendah pada tanah kohesif yaittu pada Satuan Lanau
Lempungan dibandingkan dengan tanah nonkohesif dan batuan yaitu Satuan Pasir
Lempungan dan Satuan Breksi Piroklastik.

51
V.6 Diskusi

V.6.1 Pengaruh Jenis Tanah terhadap Daya Dukung

Grafik plot antara daya dukung izin fondasi dengan persentase fraksi lempung ditunjukkan
dengan Gambar V.12. Persentase fraksi lempung dapat menunjukkan jenis tanah, tanah
kohesif memiliki persentase fraksi lempung yang tinggi, sedangkan tanah nonkohesif
memilik persentase fraksi lempung yang rendah. Dari grafik terlihat bahwa semakin besar
persentase fraksi lempung, nilai daya dukung izin akan semakin rendah. Sebaliknya, jika
persentase fraksi lempung semakin rendah, nilai daya dukung izin semakin tinggi.

Nilai fraksi lempung tinggi (>40%) memiliki nilai daya dukung lebih rendah dibandingkan
dengan nilai fraksi lempung rendah (<30%). Hal ini berarti jenis tanah memiliki pengaruh
terhadap nilai daya dukung. Tanah nonkohesif memberikan nilai daya dukung yang lebih
tinggi dibandingkan dengan tanah kohesif. Menurut Holtz dan Kovacs (1981), nilai daya
dukung pada fondasi dangkal dan dalam dipengaruhi oleh kuat geser (shear strength) tanah.
Pada tanah nonkohesif kuat geser tanah dikontrol oleh sudut geser dalam, sedangkan pada
tanah kohesif dikontrol oleh nilai kohesi tanah.

Gambar V.12 Grafik hubungan antara persentase fraksi lempung dengan daya dukung izin.

52
V.6.2 Pengaruh Nilai Aktivitas terhadap Daya Dukung

Hubungan antar aktivitas lempung dengan nilai daya dukung izin adalah berbanding terbalik.
Semakin besar nilai aktivitas memberikan nilai daya dukung izin semakin kecil. Hal ini
ditunjukkan dengan Gambar V.13.

Berdasarkan keaktifan mineral lempung, mineral lempung aktif menunjukkan nilai daya
dukung izin berkisar 5,62 hingga 16,34 ton/m2, pada mineral lempung normal berkisar 11,09
hingga 22,40 ton/m2, dan pada mineral lempung inaktif mempunyai nilai daya dukung izin
berkisar 15,31 hingga 21,21 ton/m2.

Berdasarkan Tabel V.3 pada subbab V.4, diketahui bahwa smektit memberikan nilai daya
dukung izin lebih rendah dibandingkan illit, allofan dan attapulgit. Hal ini dikarenakan nilai
aktivitas lempung smektit lebih besar dan sifat smektit yang termasuk expansive clay
sehingga sangat terpengaruh dengan kehadiran air.

Gambar V.13 Grafik hubungan antara nilai aktivitas lempung dengan daya dukung izin.

V.6.3 Pengaruh Muka Airtanah terhadap Daya Dukung

Muka airtanah secara empiris pada persamaan II.16 sampai II.19 pada subbab II.3.3
berpengaruh pada nilai daya dukung izin. Muka airtanah akan berpengaruh pada besaran
perubahan atau koreksi nilai berat isi tanah. Perubahan berat isi tanah ini langsung
berbandinglurus dengan beban efektif dan berat efektif juga berbandinglurus dengan daya
dukung izin. Berat isi tanah dapat berubah menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai
53
awalnya. Jika perubahan berat isi tanah tersebut positif, maka nilai daya dukung juga akan
membesar dan sebaliknya.

Dalam kasus pembangunan jalan tol, yang terjadi adalah seperti kasus III pada subbab II.3.3,
muka airtanah berada jauh di bawah pondasi sehingga muka airtanah tidak mengubah
perhitungan berat isi tanah yang pada akhirnya membuat nilai daya dukung izin menjadi
tidak berubah (lihat Gambar II.6).

54
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan analisis-analisis yang telah dilakukan, penulis menarik sejumlah kesimpulan


sebagai berikut:

1 Parameter yang mempengaruhi kejadian gerakan tanah di lokasi penelitian


terdiri dari empat parameter, yaitu ketinggian, kemiringan lereng, tingkat
kebasahan lahan, dan indeks vegetasi (NDVI) yang secara tidak langsung
merepresentasikan geologi daerah penelitian.

55
DAFTAR PUSTAKA

Abramson, L. W. (2002). Slope Stability and Stabilization Methods. New York: John Wiley
& Sons.
Anbalagan, R. (1992). Landslide Hazard Evaluation and Zonation Mapping in Mountainous
Terrain. Engineering Geology, 32(4), 269-277.
Ayalew, L., Yamagishi, H., Marui, H., & Kanno, T. (2005). Landslides in Sado Island of
Japan: GIS-based Susceptibility Mapping with Comparison of Result from Two
Methods and Verivications. Engineering Geology, 81(4), 432-445.

Bakosurtanal. (2002). Peta Rupa Bumi Indonesia, Lembar Gunung Halu (1208-543) dan
Lembar Ciwidey (1208-544), Skala 1:25.000.
Bernard, J. (2003). Short Notes on The Principles of Geophysical Methods for Groundwater
Investigations. MENTION BOOK OR JOURNAL.
Bowles, J. E. (1984). Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah) (2 ed.).
Jakarta: Erlangga.
Che, V. B., Kervyn, M., Suh, C. E., Fontijn, K., Ernst, G. G. J., del Marmol, M. A., Jacobs,
P. (2011). Landslide Susceptibility Assessment in Limbe (SW Cameroon): A
Field Calibrated Seed Cell and Information Value Method. CATENA, 92, 83-98.
Cruden, D. M. (1991). A Simple Definition of A Landslide. Bulletin of the International
Association of Engineering Geology, 43(1), 2729.
Das, B. M. (2009). Principles of Geotechnical Engineering 7th edition. Stamford: Cengage
Learning.
Herman, D.J.G. dan Liong, G.T.L. (2012). Analisa Stabilitas Lereng Limit Equilibrium vs
Finite Element Method. Jakarta: HATTI-PIT-XVI.
Kartiko, R.D. (2009). Evaluation of Landslide Susceptibility in The Tropical Mountainous
Region of Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tesis Magister
Institut Teknologi Bandung.
KESDM (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), BGR (Bundesanstalt fr
Geowissenschaften und Rohstoffe) Jerman, dan Badan Geologi. (2015). Panduan
Teknis: Analisis Gerakan Tanah dengan Metode Statistik Bivariate Menggunakan
ArcGIS 10.x. Bandung.
Koesmono, M., Kusnama dan Suwana, N. (1996). Geologi Lembar Sindangbarang dan
Bandarwaru, Jawa, Skala 1:100000. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi.
Loke, M. H. (1999). Electrical Imaging Surveys for Environmental and Engineering Studies.
A practical guide to, 2.

56
Pulunggono, A. dan Martodjojo, S. (1994). Perubahan Tektonik Paleogene Neogene
Merupakan Peristiwa Tektonik Terpenting di Jawa. Proceedings Geologi dan
Geotektonik Pulau Jawa. Yogyakarta: Percetakan NAFIRI.
van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia Vol. 1A: General Geology of
Indonesia and Adjacent Archipelagoes. The Hague: Martinus Nijhoff.
van Westen, C. (2012). Use of Weights of Evidence Modeling for Landslide Susceptibility
Mapping. Enschede: International Institute for Geoinformation Science and Earth
Observation (ITC).
Varnes, D. J. (1978). Slope Movement Types and Processes dalam Schuster, R. L. dan
Krizek, R. J. Ed. Special Report 176: Landslides: Analysis and Control.
Transportation and Road Research Board, National Academy of Science,
Washington D. C., 11-33.

Pustaka dalam Jaringan:

http://earthexplorer.usgs.gov/ diunduh pada 18 juli 2016.


http://www.geospasial.bnpb.go.id, diunduh pada 23 Januari 2016.
https://www.google.com/earth/ diunduh pada 2 Februari 2016

57
LAMPIRAN

58