You are on page 1of 11

PRAKTIKUM TAKSONOMI NON VASKULER

MIKROALGA DI PANTAI PANDAWA

DESA KUTUH, KABUPATEN BADUNG, BALI

Oleh:

Stephanie Felitania Lestari 1408305020

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2015
MAKROALGA

I. TUJUAN

Mengidentifikasikan jenis makroalga yang hidup di pantai Pandawa, DesaKutuh,


Kabupaten Badung, Bali.

II. DASAR TEORI


Alga adalah organisme yang masuk ke dalam Kingdom Protista mirip dengan
tumbuhan, dengan struktur tubuh berupa talus. Alga termasuk ke dalam divisi
Thallophyta karena tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Alga merupakan
organisme eukariotik-fotosintetik yang hidup secara soliter ataupun dalam koloni di
tempat-tempat basah. Reproduksi dilakukan secara generatif dan vegetatif. berikut.
Alga kebanyakan hidup di wilayah perairan, baik perairan tawar maupun perairan laut.
Makroalga sebagian besar hidup di perairan laut. Untuk dapat tumbuh, makroalga
tersebut memerlukan substrat untuk tempat menempel/hidup. Makroalga hidup epifit
pada benda-benda seperti, batu, batu berpasir, tanah berpasir, kayu, cangkang moluska,
dan epifit pada tumbuhan lain atau makroalga jenis yang lain. Alga mempunyai pigmen
klorofil sehingga dapat berfotosintesis. Pigmen yang terkandung di dalam alga berbeda-
beda tergantung dari jenis alganya. Jenis pigmen dominan yang terkandung pada
beberapa jenis alga disajikan pada tabel 2.1

Secara umum , berdasarkan ukurannya alga dapat dibedakan atas alga makro dan alga
mikro. Alga makro adalah organisme multiseluler yang besar dengan berat mencapai
200 kg prer tanaman (Indergaard, 1983). Alga mikro adalah organisme mikroskopik
yang biasanya uniseluler atau tergabung dalam filamen-filamen tipis atau koloni.
Makroalga
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang
tinggi, termasuk keanekaragaman hayati lautnya. Salah satu organisme laut yang
banyak dijumpai di hampir seluruh pantai di Indonesia adalah makroalga. Makroalga
merupakan alga yang berukuran besar, dari beberapa centimeter (cm) sampai
bermetermeter.

Makroalga termasuk salah satu sumberdaya hayati laut yang banyak terdapat di
perairan Indonesia. Makroalga memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena
memiliki peranan penting baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Namun demikian,
makroalga juga termasuk organisme yang rentan terhadap perubahan lingkungan yang
dapat mempengaruhi keberadaannya.

Makroalga atau yang sering disebut dengan ganggang laut memiliki fungi yang banyak
seperti untuk produksi makanan, obat-obatan, dan industri kimia lainnya. Kandungan
utama makroalga adalah polisakarida yang dapat mencapai 50% berat sel kering. Jenis
dan komposisi polisakarida yang dihasilkan bersifat spesifik dan bergantung pada
faktor lingkungan.

III. CARA KERJA


i. Lokasi Pengambilan Makroalga
Pantai Pandawa berlokasi di Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan
Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini memiliki pasir berwarna putih
dan pada sisi timurnya terdapat banyak karang berbatu yang ditumbuhi
makroalga. Dahulu pantai ini dikenal sebagai Secret Beach karena lokasinya yang
berada di belakang tebing-tebing tinggi ditumbuhi oleh semak belukar. Nama
pantai Pandawa sendiri diambil dari tokoh pewayangan Panca Pandawa yaitu
Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Patung kelima tokoh ini di ukir
dengan apik pada Tebing di tepi pantai.

ii. Pengambilan Makroalga

Hari, Tanggal : Sabtu, 18 November 2015.

Waktu Pengamatan : Pukul 06.00 WITA - selesai

Alat Kerja :

Toples

Metode Pengambilan :

1. Diambil makroalga yang terlihat di sepanjang pesisir pantai


2. Kemudian makroalga disimpan di dalam toples yang telah berisi air
laut
iii. Pengamatan

Hari, Tanggal : Senin, 23 November 2015

Waktu Pengamatan : Pukul 12.30 14.10 WITA.

Alat Kerja :

Petridis

Metode Pengamatan :

1. Makroalga diamati dengan seksama ciri-ciri yang dimilikinya


2. Makroalga kemudian diidentifikasi

IV. HASIL PENGAMATAN

No Nama Ciri-ciri Gambar

- Hidup berkoloni
- Bentuk thalus menyerupai kerucut Gambar pengamatan

segitiga
- Warna thalus cokelat kehijauan
- Terdapat gradasi warna dari tepi ke
bagian tengah thallus yaitu lebih

Turbinana terang di tepi


1. - Thallus cukup keras dan tebal
decurrens
- Thalus berdaging dan tembus
cahaya
- Permukaan thalus halus dan
terdapat pori-pori
- Permukaan bawah (sisi-sisi
Gambar Literatur
kerucut) berbintik
- Tepi thallus bergerigi
- Sudut pada thalus selalu terdapat
spina
- Thallus tersusun melingkar pada
tangkainya
- Kuncup thallus muda menumpang
pada thallus yang lebih besar
- Tangkai bercabang-cabang
- Tangkai memiliki penonjolan
bekas thallus semasa hidup yang
telah lepas Sumber :
- Warna tangkai ialah cokelat
http://www.algaebase.org/
kehitaman
- Memiliki holdpas (diunduh pada 17 Desember
2015)

Gambar Pengamatan
- Thallus berbentuk lembaran

- Thallus bercabang

- Percabangan dikotom dan ada juga


beberapa yang menggarpu

- Permukaan halus
Gambar Literatur
2. Chondrus sp. - Warna thalus merah

- Thallus muda (bagian ujung)


memiliki warna yang lebih terang

- Ujung thalus rata

- Thallus berair
Sumber :
- Thallus bersifat fleksibel (lentur)
http://study.nmmba.gov.tw
/Modules/Biology

(diunduh pada tanggal 17


desember 2015)

V. PEMBAHASAN

Pada praktikum mengenai makroalga yang hidup di Pantai Pandawa, Desa Kutuh,
Kabupaten Badung, Bali, dilakukukan suatu pengamatan pada tanggal 18 November
2015 dengan mengamati berbagai jenis makroalga yang ditemukan di sekitaran pesisir
pantai dengan permukaan tanah berbatu dan berkarang. Pada hari pengamatan, ternyata
telah ditemukan hampir 20 jenis makroalga yang kemudian diamati dan di identifikasi.
Salah satu jenis makroalga yang ditemukan ialah Turbinana decurrens dan Chondris
sp. yang akan dijelaskan lebih mendalam

1. Turbinana decurrens

Kingdom : Plantae

Divisi : Heterokontophyta

Kelas : Phaeophyceae

Ordo : Fucales

Familia : Sargassaceae

Genus : Turbinaria

Spesies : Turbinaria decurrens

(sumber : Blomquist, H.L. 1945. Development of reproductive structures in the


brown alga Turbinaria turbinata. Botanical Gazette. 106: 290-304)

Turbinana decurrens adalah salah satu spesies dari genus Turbinaria. Genus ini
termasuk ke dalam alga coklat (Phaeophyceae) yang sering dijumpai di laut
beriklim tropikal. Genus ini pada umumnya tumbuh di atas substrat yang berbatu.
Pada kehidupannya di laut, tumbuhan ini sering dijadikan makanan oleh ikan
herbivora dan berbagai jenis echinodermata. Kandungan senyawa kimia yaitu
alginat dan iodin.

Ciri morfologi dari Turbinana decurrens ialah dapat dibedakan daun (thallus),
tangkai dan holdpasnya. Bentuk thalus menyerupai kerucut beralas segitiga
(bangun ruang) dengan warna thalus cokelat kehijauan. Secara mendetail,
pewarnaan pada thalus membentuk gradasi warna dari tepi ke bagian tengah
thallus, yaitu lebih terang di bagian tepi. Thallus cukup keras (tidak fleksibel) dan
tebal. Thalus berdaging dan tembus cahaya. Permukaan bagian atas thalus halus
dan terdapat pori-pori sedangkan permukaan bagian bawah thallus (sisi-sisi
kerucut) berbintik-bintik. Tepi thallus bagian atas bergerigi dan pada setiap sudut
di sisi permukaan bawah thallus selalu terdapat spina. Kuncup thallus muda
menumpang pada thallus yang lebih besar. Thallus tersusun melingkar pada
tangkainya. Tangkai bercabang-cabang dan memiliki penonjolan bekas thallus
semasa hidup yang telah lepas. Warna tangkai ialah cokelat kehitaman. Turbinana
decurrens juga sudah dapat terlihat holdpasnya yang memiliki warna seperti
tangkai dengan ujung bercabang-cabang seperti memiliki tunas-tunas.
Gambar1. Turbinana deccurens. Tunas yang menumpang pada thallus (a).
Permukaan atas thallus (b). Permukaan bawah thallus (c).

2. Chondris sp.

Kingdom : Plantae

Divisio : Rhodophyta

Kelas : Florideophytina

Ordo : Gigartinales

Family : Gigartinaceae

Genus : Chondrus

Spesies : Chondrus sp.

(sumber : www.Plantamor.com)

Chondrus sp. tergolong dalam divisi Rhodophyta (ganggang merah) yang relatif
berukuran kecil, hingga mencapai kurang lebih 20 cm. Talus dari ganggang ini
bervariasi mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang silindris,
pipih dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai system percabangan
ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang berupa
percabangan yang kompleks. Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat dan
hijau. (Luning, K, 1990). Chondris sp. tumbuh di habitat yang berbatu, di kolam,
di zona intertidal rendah, dll

Chondrus crispus yang secara umum dikenal sebagai Irish moss digunakan
dalam pembuatan es krim dan berbagai jenis makanan lainnya. Chondrus crispus
memiliki kandungan vitamin A yang tinggi dan digunakan sebagai bahan
makanan di Amerika Serikat, Islandia dan Perancis, sedangkan di Jepang jenis
yang digunakan adalah Chondrus ocellatus.

Ciri morfologi dari Chondris sp. jenis ini adalah tangkai belum dapat dibedakan
dengan daun. Thallus berbentuk lembaran dan bercabang dikotom. Namun
percabangan thallus juga beberapa terdapat yang bersifat menggarpu. Thallus
bersifat fleksibel (lentur) dan berair. Permukaan thallus halus dan berwarna
merah. Tepi thalus rata. Bagian thallus yang lebih tua memiliki warna yang lebih
gelap dibandingkan thallus yang lebih muda, yang terdapat pada daerah tepi atau
ujung-ujung keseluruhan alga.

Gambar 2. Makroalga Chondris sp.

VI. KESIMPULAN
Alga adalah organisme yang masuk ke dalam Kingdom Protista mirip dengan
tumbuhan, dengan struktur tubuh berupa talus. Makroalga termasuk salah satu
sumberdaya hayati laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Makroalga juga
banyak ditemui di pantai Pandawa, DesaKutuh, Kabupaten Badung, Bali. Pada
praktikum Makroalga ini telah dilakukan pengamatan dan dapat diambil kesimpulan
bahwa pada tanggal 18 November 2015, ditemui banyak jenis makroalga. Contoh dua
makroalga yang ditemukan ialah Turbinaria decurrens dan Chondris sp.
Turbinariadecurrens merupakan alga Phaeophyta, dan Chondris sp. adalah jenis alga
dari divisi Rhodophyta. Kedua jenis alga ini memiliki persamaan, yaitu hidup di
batuan berkarang di laut tropikal. Sedangkan perbedaannya ialah pada pigmen yang
dikandungnya, ciri-ciri morfologinya, dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Sulistijo. 1985. Budidaya Rumput Laut . Pewarta Oseana. LON LIPI, Jakarta.

Luning, K. 1990. Seaweed ; Their Environment, Biogeography, and Ecophysiology. John


Willey & Sons, Inc. New York. 527 p.

Afrianto, Eddy dan Evi Liviawati. 1989. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya.
Bhatara, Jakarta.

Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut . Kanisius, Yogyakarta.

Atmadja, W. S., Sulistijo dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut
Indonesia. Puslitbang Oseanologi LIPI, Jakarta.

K. Romimohtarto and S. Juwana. (2007). Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Djambatan, Jakarta

N. A. Campbell. J. B. Reece. And L. G. Mitchell. (2004). Biologi Jilid 3. Edisi kelima 5. Terj.
dari Biology. 5th ed. oleh Manalu, W. Penerbit Erlangga, Jakarta

J. T. Anggadiredja. (2006) . Rumput Laut .Penebar Swadaya, Jakarta

W. S. Atmadja. A. Kadi, Sulistijo. And Rahmaniar. (1996). Pengenalan jenisjenis rumput


laut di indonesia. Pusat penelitian dan pengembangan oseanologi LIPI, Jakarta