You are on page 1of 4

STUDY KASUS KENAIKAN BBM DI INDONEDIA

Oleh : Heriyanto, S.Pd

Dari sekian banyak pelaku yang terlibat dalam kebijakan dan respon kenaikan harga
BBM, kita dapat memilahnya menjadi 5 kelompok. Pertama, Pihak Pemerintah yang
berposisi sebagai pengambil kebijakan. Kedua, masyarakat biasa yang terdiri dari petani,
pengusaha, nelayan, dan agamawan yang menjadi objek dari kebijakan pemerintah. Ketiga,
Politisi yang berperan mengkritisi kebijakan pemerintah dalam kaitan dampaknya bagi
rakyat. Keempat, akademisi dan pengamat yang coba memberikan tinjauan rasional terhadap
kebijakan kenaikan BBM. Kelima, aktivis mahasiswa dan serikat pekerja, yang cendrung
menghadapi situasi dengan pendekatan demonstrasi turun ke jalan.
Pada bagian ini penulis akan lebih menilisik pada 2 kubu yang berseberangan
yaitu Pihak Pemerintah dengan sebagian Akademisi/Pengamat. Argumen yang disampaikan
oleh Pemerintah, kenaikan BBM merupakan upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan
APBN negara yang banyak dihabiskan oleh subsidi bagi BBM. Naiknya harga minyak dunia
memaksa pemerintah mesti melakukan penyesuaian terhadap harga minyak di dalam negeri.
Meskipun kenaikan berdampak positif dari sisi bertambahnya pendapat negara dari penjualan
minyak mentah, tetap saja belum sebanding dengan subsidi yang dikeluarkan pemerintah
untuk menurunkan harga minyak dalam negeri.
Di sisi lain, para akademisi melihat kebijakan pemerintah menaikan harga BBM
adalah bentuk tunduknya pemerintah terhadap koorporasi asing. Kenaikan BBM dan
kebijakan tak prorakyat lainnya merupakan bentuk kongkrit ideologi tersebut. Alasan
pemerintah menaikan harga BBM karena naiknya harga minyak dunia sangat erat kaitannya
dengan arus globalisasi yang menyeruak beberapa dekade ini. Dalam sebuah definisi
dikatakan, globalisasi pada pokoknya berarti proses interkoneksi yang terus meningkat di
antara berbagai masyarakat sehingga kejadian-kejadian yang berlangsung di sebuah negara
mempengaruhi negara dan masyarakat lainnya. Dunia yang terglobalisasi adalah dunia di
mana peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, budaya dan sosial semakin terjalin erat dan
merupakan dunia di mana kejadian-kejadian tersebut berdampak semakin besar.
Hingga saat ini pemerintah Indonesia masih menjalin kerjasama bantuan dengan Bank
Dunia dan IMF. Menurut IMF, ekonomi pasar bebas menjamin efisiensi lewat kompetisi
atau persaingan dan pembagian kerja. Pembagian kerja dan spesialisasi komoditas ekonomi
akan memungkinkan masyarakat untuk memusatkan perhatian dan pekerjaan pada apa yang
paling baik buatnya. Menurut Bank Dunia, inti globalisasi ekonomi adalah proses sharing
kegiatan ekonomi dunia yang berjalan melanda semua masyarakat di berbagai negara dengan
mengambil tiga bentuk kegiatan, yaitu perdagangan internasional, investasi asing langsung,
dan aliran pasar modal.
Hubungan Indonesia dengan IMF dan Word Bank, pada masa krisis, membuat
pemerintah mesti merealisasikan 10 resep mujarab dari lembaga keuangan internasional itu
yang terkenal dengan sebutan Konsensus Washington. Konsensus ini berisikan:
1. Perdagangan bebas.
2. Liberalisasi pasar modal.
3. Nilai tukar mengambang.
4. Angka bunga ditentukan pasar.
5. Deregulasi pasar.
6. Transfer aset dari sektor publik ke sektor swasta.
7. Fokus ketat dalam pengeluaran publik pada berbagai target pembangunan sosial.
8. Anggaran berimbang.
9. Reformasi pajak.
10. Perlindungan atas hak milik dan hak cipta.
Persetujuan pemerintah terhadap kebijakan ini telah dirasakan dampaknya. Kenaikan
harga BBM merupakan akibat turunan terutama poin 6, 7 dan 8. Banyak yang menyesalkan
tindakan pemerintah menaikan harga BBM karena berasumsi negara kita kaya akan minyak.
Ketika rakyat masih menderita secara ekonomi, kenapa pemerintah tega melakukan kebijakan
yang seolah-olah tidak memikirkan nasib rakyat. Ternyata, kekayaan negara ini yang
semestinya dimiliki oleh sektor publik, telah dikuasai oleh koorporat swasta asing.
Seruan pakar ekonomi yang melihat subsidi BBM tidak mesti dikurangi karena ada
pos-pos pemasukan lain yang bisa menutupi, ternyata tidak juga digubris oleh pemerintah. Di
sinilah kekuatan konsensus no 7 bermain. Subsidi untuk sektor publik tidak boleh diberikan
dalam proporsi yang terlalu besar. Subsidi BBM yang mencapai angka 100-an triliyun
Rupiah, tidak baik bagi Anggaran Berimbang (konsensus no 8), karena akan menghambat
distribusi budget untuk pembangunan sosial lainnya.
Pengamat dan akademisi memandang kebijakan pemerintah menaikan harga BBM
lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya. Jika kita lihat pandangan para akademisi dan
praktisi yang menolak kenaikan harga BBM maka pemikiran mereka membawa kita pada
persoalan bagaimana fungsi negara dalam hal pemberian pelayanan kepada rakyatnya.
Melisik lebih jauh, tepat kiranya kita menarik analisis-analisis kontra tersebut dalam
pembahasan ideologi politik negara. Dalam filsafat politik kita mengenal istilah welfare state.
Welfare state adalah gagasan yang dirintis oleh Prusia di bawah Otto Von Bismarck sejak
tahun 1850-an. Welfare state adalah bentuk pemerintahan di mana negara di anggap
bertanggungjawab untuk menjamin standar hidup minimum bagi setiap warganya. Konsep ini
telah membuat banyak negara yang menganutnya menjadi negara yang makmur dan kaya,
terutama di negara Amerika Utara dan Eropa Barat. Rakyat di negara tersebut menikmati
pelayanan dari negara di bidang kesehatan dengan program asuransi kesehatan, sekolah gratis
sampai sekolah lanjutan atas bahkan di Jerman sampai Universitas; penghidupan yang layak
dari sisi pendapatan dan standar hidup; serta jaminan hari tua yang memadai; orang
menganggur serta orang yang tidak produktif menjadi tanggungan negara dan sistem
transportasi yang murah dan efisien
Menurut penulis, arus logika yang dibangun oleh pemerintah dalam menaikan harga
BBM dapat diterima dalam kerangka hubungan sebab-akibat dan bisa diakomodir dalam
hitungan ekonomi. Sementara, para pengamat lebih jauh melihat pada titik keberpihakan
pemerintah.
Posisi dilematis pemerintah disebabkan keadaan negara yang serba lemah di segala
bidang. Selain disusupi oleh kaki tangan kepentingan asing, ternyata secara mental bangsa ini
sangat rapuh. Kedatangan globalisasi ekonomi yang punya power teramat kuat telah
menjadikan rakyat dari sebagai korban pemerintah. Hal ini telah diingatkan oleh Noam
Chomsky, Globalisasi yang tidak memprioritaskan hak-hak rakyat (masyarakat) sangat
mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang dapat bersifat oligarkis dan
oligopolitis. Globalisasi semacam ini didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara
dan swasta yang secara umum tidak bertanggung jawab pada publik. Tarik ulur antara
adaptasi ekonomi dunia dengan perlindungan terhadap rakyat menjadi diskursus yang tidak
sederhana. Hal ini membawa kita kepada pertanyaan, apakah fungsi negara terkait dengan
kesejahteraan rakyatnya.
Kenaikan BBM jelas-jelas akan memperberat beban rakyat secara ekonomi.
Akibatnya potensi ketimpangan dan kejahatan sosial meningkat pula. Sekarang kita perlu
jawaban filosofis menghadapi kondisi ini. Jawaban sabar yang seringkali meninabobokan
masyarakat telah menjadikan kemiskinan dan keterpurukan semakin menjadi-jadi.
Negara yang didirikan oleh suatu bangsa, bermaksud untuk mencapai kesejahteraan
bagi rakyat yang bernaung di dalamnya. Upaya menyengsarakan rakyat oleh pemerintah
melalui kebijakan tidak berpihak pada rakyat, secara tidak langsung menciderai tujuan
pendirian negara. Pemerintah yang dipilih oleh rakyat dengan harapan mampu membawa
perubahan kepada kebaikan memegang tanggung-jawab politis yang akan selalu ditagih.
Namun, pemerintah sebenarnya merupakan bentuk dari representasi potret rakyat.
Pemerintah yang mengekor pada kekuatan asing adalah cerminan bahwa rakyat juga belum
mandiri dan merdeka dari desakan kepentingan di luarnya. Pemerintah yang korup dan suka
menjual kekayaan negara, adalah cerminan masyarakat yang opurtunis menghalalkan
berbagai cara untuk memenuhi kepentingan kelompok dan pribadi.
Keterpurukan ekonomi sesungguhnya timbul dari jiwa-jiwa yang masih bermental
budak. Kemalasan yang melanda tubuh bangsa ini teramat kronis, sehingga membuatnya
semakin lemah. Malas dan mental kerupuk, telah menjalar di berbagai sektor. Sehingga
ketika kesulitan dan problematika menghadang, respon yang mengemuka adalah kutukan
akan nasib dan pengharapan yang berlebihan kepada orang lain yang dianggap mampu
membawa dirinya terlepas dari himpitan beban. Keluguan kita akan kebaikan orang lain telah
membawa kita menjadi sapi perahan. Karena terus dihisap dan membiarkan diri terpaku,
bangsa ini semakin lemah dan apa yang dia punyai perlahan telah tergadaikan dengan harga
yang sangat murah.
Kenaikan harga BBM, di satu sisi adalah tantangan bagi masyarakat untuk semakin
meningkatkan taraf hidupnya. Memang ada yang mengatakan kemiskinan yang terjadi saat
ini diakibatkan sistem yang tidak pro rakyat. Namun, jika terus menyalahkan sistem yang
entah sampai kapan akan berubah, tanpa bekerja keras dan memilih menjadi pengemis, sama
saja membunuh diri. Resesi ekonomi yang ditandai ketidakmampuan masyarakat memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari adalah bagian dari sejarah krisi suatu bangsa. Dan tiadalah jalan
untuk menghentikannya kecuali merubah cara memandang hidup.
Di satu sisi kelompok yang pro selalu melandaskan kebijakan ini sebagai arus logika
ekonomi yang wajar terkait arus yang berlaku pada pasar dunia. Sedangkan kelompok yang
kontra dengan penuh gairah menyatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah bentuk tekanan
globalisasi ekonomi dimana pemerintah tidak mampu menghadapi koorporat asing dan tidak
mampu menjalankan fungsi menyejahterakan rakyat sebagaimana konsep negara welfare
state yang menjadi konsep negara ideal menurut kalangan kontra.
Letak ketidakpuasan penulis terhadap tinjauan kelompok yang kontra tersebut adalah
pada masih dangkalnya asumsi yang dikemukan terkait dengan fenomena globalisasi
ekonomi terkait dengan kapitalisme. Dimana arahan yang hendak dicapai suatu tesis bahwa
bangsa ini masih dijajah sehingga perlu ada perlawanan terhadap penjajahan tersebut. selain
itu, tawaran solusi yang ditawarkan cendrung tidak matang, karena masih mengambil asumsi
Marx tentang teori konflik kelas. Dimana untuk melawan kapitalisme perlu adanya mobilisasi
massa dalam hal ini kelas proletar yang menjadi kelompok masyarakat dirugikan oleh
kebijakan kapitalis. Belum lagi, penjelasan tentang posisi negara terkait globalisasi belum
dijelaskan secara rinci.
Menurut penulis ada baiknya kita merujuk pada pandangan Jurgen Habermas terkait
pembahasan filosofis mengenai studi kasus kenaikan harga bbm. Menurut Habermas, saat ini
negara kapitalis yang kita hadapi adalah kapitalis akhir. Dimana kecendrungan yang terjadi
kapitalisme bukan lagi alat hukum ekonomi dan bukan pula sebagai agen sistematik kapitalis
ekonomi. Kapitalisme yang dipahami selama ini meletakan kekuasaan intranegara melalui
koorporasi transnasional telah mereduksi kekuasaan negara. Sedangkan kapitalisme akhir
dihadapkan pada keharusan negara untuk turut campur tangan dalam menjembatani
persaingan pasar yang semakin lebar. Negara dalam kapitalisme akhir diletakan pada posisi
yang kuat sebagai sebuah sistem yang memiliki kekuasaan yang sah. Anggaran menunjukkan
beban konsumsi masyarakat yang secara tidak langsung dibebankan pada produksi (untuk
perumahan, transportasi, kesehatan, waktu, waktu senggang, pendidikan umum, dan jaminan
sosial).
Oleh karena itu, aparat negara mempunyai dua tugas sekaligus yakni dia harus
memungut pajak yang perlu dari keuntungan dan pendapatan serta menggunakannya secara
efisien guna mencegah krisis yang akan menganggu pertumbuhan
Menurut analisis Habermas, letak penentu mekanisme bukan lagi terletak pada pasar.
Namun, di tangan aparatur negaralah yang bisa mengambil alih fungsi penganti dan
pelengkap yang selama dijalankan pasar.defisit dalam rasionalitas administratif terjadi ketika
negara tidak mampu merekonsiliasi dan mengeluarkan perintah yang keluar dari sistem
ekonomi. Inilah yang sebenarnya terjadi pada pemerintah kita. Argumen bahwa situasi
ekonomi dunia berpengaruh besar terhadap kebijakan nasional sebenarnya bisa direduksi efek
negatifnya ketika negara mampu keluar dari sistem yang ada.
Negara bisa melindungi dirinya menjadi korban kapitalis globalisasi ekonomi. Saat ini
terdapat suatu kesadaran umum bahwa distribusi kesejahteraan sosial, sangat bergantung pada
kebijakan pemerintah dan pada negosiasi kompensasi dan kewajiban yang bersifat quasi
politik. Ada suatu persoalan mendasar yang masih perlu dipecahkan oleh pemerintah kita saat
ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Habermas, yaitu bagaimana mendistribusikan produk
sosial secara tidak setara namun sah. Karena keadilan pasar tidak lagi bisa dipegang, maka
program-program penganti multak dibutuhka. Dari asumsi inilah program BLT lahir. BLT
merupakan bentuk kompensasi pemerintah atas ketidakadilan yang terjadi dengan
memberikan perlakuan khusus kepada masyarakat miskin sehingga legitimasi pemerintah
tetap dipertahankan di mata rakyat.