You are on page 1of 20

Aku mengambil bingkai foto persegi kecil berwarna biru muda yang terletak

diatas meja. Duduk diatas kasur dan mengamatinya, laki-laki di foto itu
tersenyum manis sekali. Tapi ku ingatkan kepada kalian suatu hal yang sangat
berharga, "dont judge a book by the cover."

Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, masih memandang foto itu lekat-lekat.
Kenangan pahit yang susah untuk dilupakan, tapi sangat berharga untuk masa
depan.

'Aku bodoh.' Kata-kata itu dulu sering terlintas di pikiran ku. Jatuh berkali-kali
telah aku rasakan. Tapi mau bagaimanapun sakitnya, aku tetap harus bangkit.
Masih ada secercah harapan tampak dihadapan ku.

Percayalah bahwa sekarang 'aku lebih pintar'. Pepatah memang benar,


pengalaman adalah guru terbaik.

Ku pejamkan mata dan ku yakin kan diriku sendiri. 'Aku juga bisa melakukan
seperti yang kau lakukan.'

Aku membolak-balikkan diriku di depan cermin, memastikan semuanya terlihat


rapi sebelum berangkat ke sekolah. Desain seragam ini lumayan bagus
dipandang mata, terdapat rompi pink dan ada motif kotak-kotak pada rok
selutut-nya. Membuatnya terlihat feminim tapi elegan. Mirip seragam ala drama
korea yang sering ku tonton.

Aku menggendong tas ku dan pergi diantar pak supir. Perjalanannya cukup
lancar, mungkin karena masih pagi. 'SILVER INTERNATIONAL
SCHOOL.' Tulisan itu terpampang sangat jelas dari kejauhan, ukirannya juga
sangat indah, nikmat dipandang oleh mata. Pagar putih itu begitu tinggi
menjulang. Beberapa mobil mewah berjajar di lapangan parkir. Sekolah ini dua
kali lebih besar dibandingkan sekolah lama ku. Aku pamit kepada pak supir dan
turun dari mobil.

Eksterior dan interiornya juga sangat bagus, sekolah internasional.


Aku berjalan dan mencari ruang kepala sekolah yang katanya ada di lantai 2.
Semua orang yang ku lewati menatapku, bahkan ada yang menyapa ku juga tapi
aku tidak memperdulikan mereka. Aku tetap berjalan sampai di depan pintu
ruang kepala sekolah.

Aku mengetuknya dan masuk setelah dipersilahkan. Ruangan ini sangat bagus
dan nyaman, seperti berada di hotel bintang 5. Ku pastikan kepsek itu sangat
betah berlama-lama di ruangannya. Pak kepala sekolah memberitahu apa saja
yang diperlukan oleh siswa baru seperti ku, apa saja yang boleh dan tidak, dan
beberapa peraturan penting lainnya. Sesudah itu, beliau mengantarku ke kelas
ku yang baru, 11 IPA 1.

Ku intip sedikit dari kaca jendela, sepertinya sedang berlangsung pelajaran


Biologi. Aku memberikan ucapan terimakasih kepada kepala sekolah karena
telah bersedia mengantarku sampai ke depan kelas.

Aku mengetuk pintu, dan masuk setelah dipersilahkan. 'Sepertinya kelas yang
nyaman' itu kesan pertama ku saat melihat kelas ini. Guru biologi itu
menyuruhku memperkenalkan diri. Aku menarik napas dan
menghembuskannya perlahan, berusaha tersenyum semanis mungkin.

"Hai, Namaku Jasmine Callia Dulcie." Ucapku memperkenalkan diri. Pesona ku


sepertinya cukup kuat sehingga membuat mereka tidak berkedip.

"Aku pindah dari Bandung ke Jakarta karena pekerjaan orangtua ku." Aku
menatap semua orang di kelas. Semuanya terlihat antusias kepadaku, kecuali
cowo di barisan kedua paling kanan. Ia terus menundukkan kepalanya, menatap
buku tebal itu. Apakah ia pikir buku itu lebih menarik dibandingkan diriku?
Menyebalkan.

"Lo udah punya pacar belum?" Celetuk seorang cowok tengil dari pojok
belakang. Siswa yang lain juga terlihat sangat antusias menunggu jawaban ku.
Sebelah sudut bibirku tertarik.

Bodoh.

Mereka tidak tau siapa aku.

Aku menggelengkan kepala dan menatap cowo tengil itu. Mereka semua
langsung bersorak kegirangan. Setelah perkenalan selesai, aku disuruh guru itu
untuk duduk di barisan ketiga paling kanan yang artinya aku harus duduk di
belakang cowok menyebalkan itu.

Aku berjalan perlahan ke meja ku sambil terus menatap cowok menyebalkan


itu. Sampai aku duduk di kursi belakangnya bahkan sampai pelajaran pertama
selesai, ia tetap tidak menengok ke arah ku.

Tuli kali tuh orang, maki ku dalam hati.

Tapi untungnya aku mendapatkan chairmate baik hati bernama Cindy. Ia


mengajak ku ke kantin saat bel istirahat berbunyi. Tipe cewe periang dan cantik.
Sepertinya Cindy termasuk orang populer di sekolah ini karena sejak tadi
banyak yang menyapa-nya.

Aku memesan segelas capucinno dan membayarnya. Harga di kantin ini tidak
mahal, sama seperti layaknya kantin-kantin biasanya, tidak seperti yang ku
bayangkan. Ku lihat cindy sedang berdua dengan seorang laki-laki, mereka
terlihat sangat akrab seperti sepasang kekasih. Ya, aku tau tatapan laki-laki itu,
tatapan sayang kepada Cindy.

Aku datang dan menghampiri meja mereka, bukan bermaksud menggangu tapi
hanya saja aku tidak tau harus duduk dimana karena semua meja kantin ini
sudah penuh.

"Perkenalkan ini pacarku Kevin, dan Kevin ini teman baruku, Jasmine." Cindy
memperkenalkan kita berdua.

"Kevin." Ucapnya.

"Jasmine." Aku membalas jabatan tangan nya lalu duduk.

Setelah mencium punggung tangan Cindy, kevin pergi menuju ke segerombolan


laki-laki di tengah kantin. Ada juga beberapa wanita yang duduk disana.
Mungkin mereka adalah sekumpulan anak populer, pikirku.

Pandanganku beralih ke capucinno di hadapan ku. Rasanya benar-benar pas,


sepertinya capucinno ini akan menjadi salah satu minuman favoritku disini.
"Eh lo! Cewek yang duduk disamping Cindy. Temen gue ada yang mau
ngomong sama lo." Teriak seseorang dari gerombolan itu sambil menunjuk-
nunjuk teman disampingnya. Teman yang ditunjuk hanya tersenyum malu dan
menunduk. Mukanya memerah.

Beberapa teman didekatnya mendorongnya agar berdiri. Dengan malu-malu ia


mulai melangkahkan kakinya dan mengangkat kepalanya. Kedua tangannya
dimasukkan kedalam saku celana dan memasang tampang sok keren.

Aku menundukkan kepala ku, permulaan yang cukup bagus. Cindy menyikutku,
aku melihatnya. Ia tersenyum dan dari ekor matanya, aku tahu, Cindy
menyuruhku untuk menanggapi cowok itu. Kini perhatian seisi kantin terarah
kepadaku dan dirinya.

Cowok itu sudah duduk di depanku tanpa dipersilahkan. Menatapku dengan


intens lalu menyeruput Capucinno ku menggunakan sedotan bekas milik ku.
Wow, dia lebih berani dari yang ku bayangkan.

"Capucinnonya enak ya."

Aku masih diam dan menatap lurus ke matanya. Well, dia ganteng juga.

"Gue Alex. Lebih tepatnya Alexander." Ucapnya memperkenalkan diri.

"Gue Jasmine."

"Boleh pinjam hp lo?" Pandangannya mengarah ke Hp ku yang tergeletak di


atas meja.

Aku mengangguk. Ia pasti akan men -save nomor hp-nya lalu men-call nomor
hp-nya memakai hp ku, cukup klise.

Dan dugaan ku benar, terdengar suara getaran dari saku bajunya.

"Makasih ya." Alex mengembalikan hp ku lalu berjalan menuju gerombolannya


disertai sorakan para temannya.

Hp ku bergetar, satu pesan masuk.


From : Alexander.
"Makasih capucinnonya, manis. Kayak lo."

"Wah.. dia ganteng ya min." Bahkan Cindy yang sudah punya pacar ganteng
seperti Kevin pun masih mengakuinya.

Aku mengangguk, Alex masih memperhatikan ku dari tempatnya.

Cindy memegang kedua bahuku. "Lo harus tau, dia itu waketos disini. Anak 11
IPA 3. Dan masih single."

Smirk ku muncul. Benar-benar permulaan yang sangat bagus.

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa merapihkan buku, tak terkecuali
aku. Saat ku periksa buku-buku di laci, ada sebuah surat menyelip. Ku tengok
ke arah kanan-kiri, siapa yang kira-kira menuliskan surat ini.

To : Jasmine Callia Dulcie.

Saat pertama kali ku melihat kamu, aku sudah dapat merasakan kalau
kamulah sebagian dari hidupku. Mau kah kamu menjadi pacarku?

If you say yes, call me!


If you say no, ignore it!

Aku agak shock membacanya. Dia sudah menembak ku saja, bahkan aku tak
mengenal dirinya. Di surat tersebut ia hanya meninggalkan sebuah nomer
telephone. Yang pasti ini bukan Alex, nomornya berbeda.

Sepertinya ini dari seorang tipe cowok pengecut, tidak romantis dan wangi. Ku
akui surat ini sangat wangi. Mungkin ia menyemprotkan sedikit parfum
sebelum menyelipkan di buku ku. Ku simpan surat ini di dalam tas dan berjalan
keluar kelas.

Tiba-tiba seseorang menarik lengan ku, Alex rupanya.


"Pulang bareng gue yuk!" Ajaknya to the point. Kelihatannya ia sangat
berharap.

Aku tersenyum dan mengangguk. Ku dial nomor supir ku untuk menyuruhnya


pulang duluan. Alex menggandeng tanganku menuju ke parkiran mobil. Ia
berhenti di dekat mobil sport berwarna merah yang ku yakini adalah miliknya.

Ia membuka kan pintu untuk ku sambil tersenyum, awal yang manis. Lelaki
seperti Alex cukup sayang untuk di sia-sia kan.

Kami sedikit bercengkrama bersama, kadang dia membuat ku tertawa.


Tingkahnya sangat lucu dan menggemaskan.

Di tengah perjalanan, ia memarkirkan mobilnya di bawah sebuah pohon


rindang, aku mengangkat kedua alis ku dan memandangnya. Ia tersenyum,
memasang musik yang romantis dan mengeluarkan setangkai bunga mawar dari
dalam dashboard mobilnya.

"Would you be my girlfriend?" Satu tangannya memegang bunga dan satu


tangan nya lagi memegang tanganku.

Aku menunduk dan terdiam sejenak. Bodoh, belum ada satu hari ia sudah
terpikat oleh ku.

Aku mengangkat wajahku lalu tertawa keras. Alex mengangkat satu alisnya,
ekspresinya yang serius berubah menjadi bingung yang sangat menggemaskan.

"Yes." Aku mengangguk dan langsung memeluknya.

Alex membalas pelukan ku dan tersenyum kikuk. "Gue sebenarnya bingung


mau ngasih lo bunga mawar atau melati. Tapi biasanya tanda cinta itu mawar,
jadinya gue ngasih lo mawar aja."

Lucu.

Aku tertawa lagi, "Tapi gue punya satu syarat."

"Apapun itu." Matanya menunjukkan sebuah keyakinan.


"Lo gak boleh meng-ekspos hubungan kita jika belum lebih dari 3 hari. Kepada
siapapun itu, hanya cuman kita yang tau. Mau kan?"

Ia mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Gue masih belum siap aja."

Alex tertawa. "Oke, Alex janji. I love you."

"Love you too."

***

Sesampainya dirumah, aku langsung men-dial nomor handphone yang tertera di


surat itu. Nyambung dan langsung diangkat oleh pemiliknya.

"Halo, dengan siapa? Dimana?" Ucap suara dari sebrang.

Berasa ngomong sama mas-mas Delivery Order.

Wait, aku kenal suara itu. Seperti suara cowok tengil yang bertanya apakah aku
sudah punya pacar atau belum.

"Gue Jasmine."

Hening dari sebrang.

Oh, C'mon. Menghabiskan waktu saja.

"Kalau gak ada yang bicara telponnya gue tutup." Ucap ku kesal.

"Tunggu.. tunggu, berarti jawabannya iya kan?"

Yaela, si mas pake nanya lagi.

"Yes, of course." Jawabku malas. "Gue bosen nih dirumah, mau jalan. Ada Mall
bagus gak daerah sini?" Tanyaku dengan nada yang sedikit di manja-manjakan.
"Ada, Mall Metropolitan namanya. Yuk, aku anterin kesana." Tawarnya.

Aku berusaha menolaknya secara halus. "Gak usah, gue ada supir kok. Kita
ketemuan di depan gedung bioskopnya aja gimana?"

"Yaudah, See you there baby." Suaranya terdengar begitu di manja-manjakan.

Wek, jadi pengen muntah.

"See you." Balasku pelan, tapi masih terdengar.

***

Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk ke Mall tersebut. Kulihat


denahnya dan pergi ke gedung bioskop. Dugaanku benar, dia adalah teman
sekelas ku. Si cowok tengil itu.
Aku ingin memanggilnya, tapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa namanya.
Untungnya dia segera menengok ke arah ku.

Penampilannya tak begitu buruk. Ia memakai celana jeans, kaos berwarna putih
dan kemeja kotak-kotak merah yang dibiarkan terbuka kancingnya. Lengan
bajunya ia gulung hingga siku. Sepatunya juga bagus, bermerk pula.

Ia datang menghampiri ku. "Kita belum kenalan kan? Aku Dimas Pratama.
Panggil aja Dimas."

"Aku Jasmine. Kita langsung nonton yuk!" Aku menjabat tangannya.

"Boleh."

Awalnya Dimas mengajak ku menonton film bergenre romantis. Namun


langsung ku tolak, aku lebih suka yang bergenre horror. Beberapa menit lagi
film dimulai dan sekarang ia sedang membeli beberapa cup popcorn.

Baru beberapa menit film diputar, Dimas sudah terlihat ketakutan. Aku
memegang tangannya untuk sedikit menenangkan nya.
Hantunya belum muncul, tapi Dimas sudah berkali-kali memejamkan matanya.
Bahkan ia sudah bolak-balik pergi ke toilet hanya sekedar untuk buang air kecil.
Dasar, cowok penakut.

Sepertinya Dimas sangat lega kalau filmnya sudah selesai. Terlihat dari raut
wajahnya yang lebih fresh dari sebelumnya.

Aku mengajaknya ke kedai kopi. Minum kopi di sore yang indah bersama
korban pertama seperti nya menyenangkan. Pesanan kami ternyata sama, black
coffe less sugar.

Hanya 5 menit menunggu, kopi kami sudah datang. Aku menghirup aromanya,
sangat ampuh untuk menenangkan pikiran.

"Dim, ada yang mau aku omongin sama kamu." Aku membuka pembicaraan,
kulihat dia sepertinya santai-santai saja.

"Ya. Ngomong aja sayang." Dia menggenggam kedua tanganku.

Wow, tenang sekali dia.

Aku mengucapkan sebuah kalimat sakral itu. "Aku mau kita putus."

Dia kaget bukan main. "Kenapa? Bukannya kita baru aja jadian?"

"Dengar ya baik-baik, aku gak suka cowok pengecut kayak kamu. Sama film
horror aja takut, gimana mau ngadepin dunia yang lebih kejam dari itu. Aku
minta maaf." Ucap ku sok dramatis.

"Aku gak mau kamu dihina sama yang lain karena pernah diputusin hanya
dalam waktu beberapa jam. Jadi aku minta jangan coba-coba kamu kasih tau
yang lain kalau kita pernah pacaran. Aku sudah baik mau memperingatkan mu.
Jika kamu masih melawan, terima sendiri akibatnya." Aku melepas genggaman
tangannya. "Dan satu lagi, makasih karena sudah menemani ku sore ini."

Aku berjalan keluar kedai meninggalkannya. Ekspresinya benar-benar


menyedihkan, cowok yang bodoh. Dia juga hanya diam tidak mengejarku.
"Tapi aku cinta sama kamu." Teriaknya yang membuat para pengunjung kedai
melihat kami.

Segampang itu ya ngomong cinta. Seharusnya kalau cinta ya kejar dong!

Aku terus berjalan tanpa memperdulikan-nya. Sejujurnya, walaupun ia


mengejarku, aku akan tetap menolaknya.

--------

Sendi lutut ku serasa ingin lepas. Bayangkan saja, disuruh lari 15 putaran
lapangan basket di pagi menjelang siang yang panas ini.

Hanya dalam waktu beberapa detik, air dibotol minum ku sudah habis. Dengan
terpaksa aku meminta izin ke guru olahraga untuk membeli minum di kantin.
Ku lihat ada sekumpulan siswa laki-laki kelas 10 memakai seragam olahraga
seperti ku, sepertinya mereka juga sedang istirahat.

Perhatian ku tertarik ke seorang anak yang sedang membeli jus alpukat,


tingginya kira-kira 5 cm diatas ku. Wajahnya sangat imut seperti anak kecil,
berpenampilan rapih dan juga sepertinya anak yang sopan.

Aku berjalan ke arahnya dan dengan sengaja menabrakkan diri, jus alpukat yang
dipegangnya tumpah mengenai baju ku dan bajunya. Aku pura-pura memasang
wajah bete.

"Waduh... maaf kak, aku gak sengaja." Ucapnya merasa bersalah.

Aku yang nabrak, pinter. Bukan kamu. Tapi baguslah, ini kesempatan emas.

Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mulai membersihkan baju
ku yang kotor.
"Seragamnya masih baru banget lagi. Kakak anak pindahan ya?" Katanya
menyesal. Noda jus itu melekat di bajuku, memberikan warna hijau dan bau
yang tidak sedap.

"Iya, gue Jasmine."


"Aku Naufal. Kak, ku anter ke koperasi ya. Biar ku beli seragam olahraga yang
baru." Ia masih memperhatikan noda jus yang tidak hilang-hilang.

Wah, tipe anak borju banget nih.

"Duh gausah, lagi pula ini kalau dicuci terus disikat pasti ilang kok. Dan bentar
lagi jam olahraga selesai, jadi aku bisa ganti seragam." Aku tersenyum. Raut
mukanya masih menunjuk kan rasa penyesalan.

Jempol ku memegang kedua sudut bibirnya dan menariknya. "Senyum dong.


Udah gak papa kok, serius. Maafin gue juga ya jadinya lo gak bisa minum jus
alpukat lo. Bagaimana kalau sebagai gantinya, gue traktir lo makan!"

"Ehmm.. biar impas gimana kalau aku traktir kakak. Kakak traktir aku." Naufal
benar-benar terlihat sangat imut saat ini, pipinya minta banget dicubit.

"Pulang sekolah kita ketemuan di cafe dekat sekolah ya?"

Naufal tertawa, "cafe deket sekolah kan ada dua, yang mana kak?"

Aku mengetuk-ngetukkan jari di dagu ku. "Cafe apa ya namanya... hm... cafe
mawar. Iya, cafe mawar."

"Oh, iya aku tau. See you kak." Naufal melambaikan tangannya.

Aku melambaikan tanganku juga, "See you dedek emesh."

Bel pulang berbunyi, aku langsung memasukkan semua buku dan alat tulis
kedalam tas. Buru-buru keluar dan pergi ke ruang perpustakaan. Untungnya aku
ingat kalau ruang perpus sekolah ini masih buka sampai satu jam setelah bel
pulang sekolah, berbeda dengan sekolahku yang dulu. Saat mau keluar kelas,
ada seseorang yang datang dari arah berlawanan menabrak-ku. Tak sengaja
sikut tangan-ku mengenai perutnya. Sedikit kencang kurasa karena sekarang ia
menundukkan kepala dan satu tangannya memegangi perut.
"Aduh.. sorry, sorry gue ga sengaja. Ada yang sakit gak?" Ucapku menyesal
karena memang itu kecerobohan ku, terburu-buru berjalan sambil masih
merapikan buku di tas.

Dia mendongakkan kepalanya, sepertinya sakitnya sudah agak mereda.

Oalah... ternyata Kevin, pasti mau ngajak Cindy pulang bareng nih.

"Enggak papa, ini salah gue juga kok, gue emang lagi gak terlalu fokus hehe. Lo
ada yang sakit gak?" Tanya-nya sok perhatian padahal satu tangannya masih
memegangi perut.

"Gue enggak papa kok, btw gue duluan ya ada urusan penting soalnya. Bye."
Aku segera lari ke ke perpustakaan.

"Bye. Hati-hati." Ucapnya pelan tadi masih terdengar olehku.

Setelah menunggu hampir 45 menit didalam perpus, akhirnya aku


memberanikan diri keluar untuk memastikan apakah sekolah sudah sepi atau
belum. Ternyata dugaan ku benar, hanya tersisa beberapa murid yang sedang
menjalani ekskul bela diri. Aku punya beberapa alasan kenapa aku harus
bersembunyi di perpus dalam waktu lama, yang pertama karena aku malas
pulang bareng Alex dan yang kedua karena aku tidak mau banyak orang tau
kalau aku bertemu dengan Naufal.

Aku berjalan cepat menuju cafe mawar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
sekolah. Kafenya sudah sepi dan kulihat Naufal masih setia menungguku disana
dengan secangkir minuman dihadapannya. Ia memainkan hp-nya sambil
tertawa-tawa, mukanya benar-benar bahagia. Dia jadi lebih tampan menurutku.

"Cie, lagi seneng banget nih kayaknya. Btw sorry ya gue lama soalnya ada
urusan mendadak, lo pasti udah lumutan nungguin gue disini hehe." Ucap ku
agak merasa bersalah.

"Ini aku lagi baca-baca cerita humor lucu banget. Enggak masalah kok, mau
pesen apa kak?" Ucapnya sambil memberikan buku menu kepada ku.
Aku membolak-balikan lembar yang ada dibuku menu itu, sebenarnya aku tidak
terlalu lapar karena sudah makan makanan yang diberikan Alex kepadaku tadi
siang. Fyi, karena aku malas ke kantin jadinya Alex membelikan ku nasi goreng
di kantin dan menyuruh seseorang membawakannya kepadaku.

"Hm... aku mau Beef aja sama orange juice. Kalau lo dek?"

"Aku samain aja kayak kakak."

Ternyata makanan dikafe ini lumayan enak juga menurutku. Sajiannya pun
cukup indah.

"Lo anak basket ya?" Tanya ku basa-basi membuka percakapan.

"Iya, kok kakak bisa tau?" Matanya menatapku lembut, Bola mata berwarna
biru tua itu nampak indah membuat siapapun tidak ingin berhenti menatapnya.

"Soalnya pas pelajaran olahraga tadi gue lihat main lo bagus, gak kayak yang
lain. Dan postur tubuh lo juga mendukung."

Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, "Makasih kak, tapi di tim basket banyak
yang main-nya lebih bagus daripada gue." Ucapnya sok merendah.

Aku mengangguk-nganggukan kepala. Wajahnya terlihat semakin imut saat


sedang salah tingkah seperti itu.

"Kakak tau kak David? Anak kelas 12 kapten tim basket sekolah kita."

Aku menggeleng, "Tapi gue sering denger banyak perempuan ngomongin


tentang Dia."

"Ya memang dan bisa dibilang dia primadona di sekolah kita."

"Oh ya?" aku menautkan kedua alis-ku.

Obrolan ini sangat menarik untuk-ku dan sepertinya banyak yang akan menjadi
target-target empuk ku selanjutnya.
Dia mengangguk. "Kalau tim sekolah kita tanding basket, pasti para perempuan
duduk paling depan buat ngeliatin dia. Kata banyak orang selain mainnya
emang bagus, dia juga ganteng. Dan kak David juga pinter banget tapi
sayangnya kelakuannya kurang baik."

Aku tak paham, kurang baik pasti memiliki banyak arti. "Maksudnya kurang
baik?"

"Dia suka bertindak sesukanya sendiri. Sok berkuasa gitu. Tapi sebenarnya dia
baik hati."

Aku mengangguk-ngangguk paham. Setelah mengobrol panjang lebar dengan


berbagai topik menarik lain, akhirnya aku tahu kalau Naufal itu adalah sosok
yang setia, jujur, ramah, sederhana tapi pemalu dan agak manja.

Kami keluar kafe bersama, tanpa sadar aku mengikutinya sampai parkiran.

"Kakak mau bareng sama aku?" Tawarnya.

"Gausah, sopir gue udah nunggu didepan sekolah katanya." Tolak ku halus.
Sebenarnya aku berbohong. Aku tak tahu supirku ada dimana, tapi biasanya ia
akan menunggu di depan sekolah.

"Kalo gitu aku anterin sampai sekolah aja, mau?" tawarnya lagi.

"Boleh deh." Aku naik ke atas motor ninja putihnya, wangi parfumnya
mengingatkan ku pada seseorang di masa lalu yang tidak penting untuk di ingat.

Aku menunjuk sebuah mobil sedan hitam yang terpakir di depan sekolah, "Itu
jemputan gue, gue turun disini aja. Makasih ya tumpangannya."

"No problem kak. See you."

"See you too."

Dia melaju kencang pergi meninggalkanku sendirian, aku membuka pintu mobil
sedan hitam tersebut. Namun pintunya terkunci dan aku baru menyadari
sesuatu, ini bukanlah plat mobilku.
Aku panik dan berusaha untuk tetap tenang. Hari semakin gelap dan aku tidak
tahu jalan pulang. Ku dial nomor supirku berkali-kali namun tidak ada jawaban.
Sial. Karena kesal, aku menendang ban mobil sedan hitam yang ada
dihadapanku.

"Woi, ngapain lo nendang-nendang mobil gue!" Suara teriakan laki-laki itu


terdengar dari arah belakang-ku.

Waduh pasti dia yang punya mobil sedan ini. Aku tidak berani membalikkan
badan, mau dikemanakan muka ku sekarang.

"Aw..." aku meringis kesakitan. Ada sesuatu mengenai kepalaku. Saat kulihat
kebawah ternyata sebuah kaleng minuman soda yang kosong. Laki-laki
dibelakang ku tertawa keras seperti mengejek. Pasti kerjaan si pemilik mobil
ini.

Dengan kesal aku mengambil kaleng tadi dan melemparnya balik tapi karena
jaraknya yang lumayan jauh dariku maka lemparanku meleset dan tawanya
semakin keras. Dia berjalan mendekat kearahku, "Impas kan?"

"Impas? Lo bilang impas? muka lo impas. Gue cuma nendang ban mobil lo, tapi
lo malah ngelempar kepala gue pake kaleng. Kalau ban mobil lo rusak, bisa gue
benerin. Tapi kalo kepala gue kenapa-napa , lo gak bakal bisa ganti." Ucapku
tidak terima.

"Lagian ban mobil lo juga gak kenapa-napa kok." Aku melipat kedua tanganku
dan memasang wajah cemberut.

Dia semakin mendekat kepadaku. Kedua tangannya memegang kepalaku


seolah-olah sedang memeriksa ada luka atau tidak, "Kepala lo kayaknya enggak
kenapa-napa tuh."

Aku menjauhkan kedua tangannya dari kepala ku, "Bisa jadi bukan luka luar,
tapi luka dalam gara-gara lemparan lo."

"Kayaknya emang bener deh, lo ada luka dalam. Soalnya otak lo udah rusak
sebelum kena lemparan dari gue. Kalo otak lo bener, gak mungkin nendang-
nendang mobil gue. Mobil gue kan gak punya salah sama lo."
Karena kesal ku injak kakinya, ia meringis kesakitan. Aku tertawa puas,
"Pokoknya lo harus ganti rugi. Anterin gue pulang ke rumah sekarang."

"Ogah." Cowo itu tak menghiraukan ku dan berjalan masuk ke dalam mobil lalu
duduk dibangku kemudi.

Aku tidak mau kalah, aku juga bergegas masuk dan duduk disamping bangku
kemudi.

"Ngapain lo masuk mobil gue, keluar!" bentaknya.

"Enggak mau." Jawabku tidak mau mengalah.

"Keluar." Dia menatapku serius, wajahnya terlihat lebih seksi jika dipandang
dari jarak sedekat ini.

"Enggak."

"Keluar." Kali ini suaranya terdengar lebih berat.

"Enggak. Denger ya, gue hanya mau keluar dari mobil lo kalau udah sampe
dirumah gue." Ucapku sambil memasang seatbelt.

Dia mendengus pasrah, "Iya nyonya keras kepala."

"Kalau dilihat-lihat lo lucu juga ya." Ucapnya sambil tertawa pelan.

Aku masih diam tidak menghiraukannya. Sebenarnya aku senang mendengar


ucapannya.

"Rumah lo dimana?" Tanyanya.

"Perumahan anggrek jaya. Nanti kalau udah masuk perumahannya bakal gue
kasih tau jalannya."

Sesekali ia mengibaskan rambutnya yang berantakan dengan tangan sambil


menyetir. Jika mukanya serius seperti ini, mungkin aku akan jatuh cinta pada
saat pertama melihatnya. Tapi karena sikapnya yang sangat menyebalkan
membuatku sudah ilfill duluan kepadanya.

"Ngomong-ngomong kok gue gak pernah ngelihat lo ya? Lo anak baru atau
emang lo.... ansos? Ga pernah keluar kelas. Mendem aja dikelas."

Aku memandang keluar jendela. "Kepo banget."

Dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat, sepertinya ini triknya untuk
mengancamku.

"Pelan-pelan dong bawa mobilnya. Bahaya tau. Iya-iya gue emang anak baru."

"Nah gitu dong, jawab aja kok susah, btw lo kok tadi sendirian aja?"

"kok daritadi lo kepo banget sih? iya soalnya gue ada urusan sama temen
sebentar. Harusnya gue dijemput sama supir, tapi daritadi gue telponin gak
ngangkat, entah kemana."

"Sebentar? Ini udah jam 5.25, padahal bel pulang kita jam 3 loh. Gue tau,
jangan-jangan sopir lo udah nungguin lo dan karena lo orangnya lelet banget
kayak siput. Jadi dia ninggalin lo deh." Jawabnya dengan nada mengejek.

"Sok tau banget sih lo kayak dukun. Lah lo, ngapain baru pulang jam segini?"
Tanyaku dengan sebal.

"Cie.. kepo juga lo sama gue. Gue abis latihan Tae Kwon Do kok."

"Ekskul lo tae Kwon do?" Tanyaku lagi dengan pensaran.

"Yup sama basket juga. Nih udah masuk ke perumahannya, terus kemana lagi?"

"Lurus terus sampai blok F, belok kanan, pagar coklat, rumah nomor 99."
Ucapku menjelaskan, ternyata lebih cepat sampai daripada perkiraanku.

"Makasih ya lo udah mau nganterin gue sampai depan rumah."


"Di kamus gue gak ada yang gratis, jadi pulang sekolah besok lo harus nemenin
gue ke toko buku. Gak pake tapi-tapian. Titik." Ucapnya tak terbantahkan.

Syarat yang menguntungkan bagiku juga, aku tersenyum, "Kalau itu gak
masalah, btw lucu juga ya kita udah ngobrol panjang lebar tapi belum kenalan.
Kenalin, gue Jasmine Callia Dulcie panggil aja Jasmine."

Aku mengulurkan tanganku. Duh bego, dia kan lagi fokus nyetir. Tanpa kuduga
ia malah memberhentikan mobilnya dan membalas uluran tangan ku, "Gue
David, David Prakarsa. Udah sampai, ini rumah yang lo maksud kan?"

Aku melihat keluar jendela, benar ini adalah rumahku.

"Ya. Gue duluan, sekali lagi thanks ya David, Bye."

"Bye."

David?

Anak Basket?

Jangan-jangan dia primadona sekolah yang menyebalkan itu, tanyaku pada diri
sendiri.

Ah, sudahlah. Aku tak peduli.

Aku pamit dan berjalan menuju ruang kelas.

Mine.
.....................................................................................

Langkah ku terhenti, Suara itu terdengar dari belakang ku. Hanya tiga orang
yang memanggilku seperti itu. Papa, Mama dan dia.

Reflek aku berbalik. Ku pandang seorang anak lelaki memekai seragam sma
seperti ku. Dia melangkah perlahan mendekat. Jantungku berdetak semakin
cepat.

Aku harus pergi sekarang juga. Tapi otak, hati dan kaki ku tidak pernah sejalan.
Kaki ini sulit sekali untuk melangkah, gerutu ku kesal dalam hati.

Aku menutup mata, menahan tangis. Apakah ini nyata?

Ini bukan mimpi.

Mata gue cuma kelilipan. Ucapku mengelak.

Jasmine, You are just mine. Lo masih inget kan kata-kata itu?

Aku meringis. lo bedebah kecil yang gak punya hati. Hanya itu yang gue inget
dan gue harap, kita gausah merasa saling kenal. Dan bahkan seumur hidup gue,
gue gak pernah mau kenal lagi sama lo.

Terakhir, gue punya saran. Sebaiknya lo ikut ekskul drama agar kemampuan
akting lo yang sangat sangat mengagumkan itu bisa tersalurkan dengan baik.
Permisi.

Lo pikir gue gak tau apa yang lo lakukan disini. Queen of drama

Aku menelungkupkan kepala. Malas melihat pemandangan didepan kelas.


Julian sekelas denganku.

Tugas kelompok barengan


Bahasa inggris adalah pelajaran terfavorit ku nomor satu. Dengan sangat
antusias aku memahami dan mencatat apa yang miss Elina terangkan. Guru
muda yang cantik, sikapnya pun sopan dan tegas membuatnya disenangi
siapapun. Cara mengajarkannya pun membuat siapa saja cepat paham. Ku akui,
dia wanita yang hebat.

Task :

Teater with classic story.

Deadline : next month.

Setelah saya menerangkan tentang drama. Buat 5 kelompok, masing-masing


kelompok 6 orang. Kelompoknya dibagi berdasarkan absen saja supaya adil.
Sekarang masih ada waktu sekitar 15 menit untuk kumpul bersama kelompok
kalian membahas tugas ini. Sekian dari saya. Thank you for attending my class,
have a good day all.

Miss Elina keluar tanpa menghiraukan protes sebagian murid.

Ketua kelas segera mengambil alih kelas dan membacakan nama-nama setiap
kelompok.

Sekarang kelompok 3. Harry, Ian, Intan, Jasmine, Jerry, dan Julian.

Aku mencatat dan segera bergabung dengan kelompok.

---------------------------------------------------------------

Komite disiplin