You are on page 1of 100

45

BAB IV

DATA DAN ANALISA

4.1 Data Perencanaan

1. Lokasi bangunan : Kota Malang

2. Fungsi bangungan : Gedung Perkuliahan

3. Sistem struktur : Sistem Ganda (Dual System)

4. Jenis tanah : Tanah Sedang

5. Jumlah lantai : 8 lantai

6. Lebar bangunan : 18,00 m

7. Panjang bangunan : 36,00 m

8. Tinggi bangunan : 31,50 m

a. Lantai dasar : 0,00 m

b. Lantai 2 : 5,00 m

c. Lantai 3 : 9,00 m

d. Lantai 4 : 13,00 m

e. Lantai 5 : 17,00 m

f. Lantai 6 : 21,00 m

g. Lantai 7 : 25,00 m

h. Atap : 31,50 m

9. Data mutu bahan

a. Mutu beton (fc) : 35 MPa

b. Mutu baja polos (fy) : 240 MPa

c. Mutu baja ulir (fy) : 400 MPa


4.2
Gambar Rencana

Gambar 4.1 Denah plat lantai


46
47

Gambar 4.2 Denah plat atap


48

Gambar 4.3 Denah kolom danbalok lantai 2 s.d 5


49

Gambar 4.4 Denah kolom dan balok lantai 6 s.d 7


50

Gambar 4.5 Denah kolom dan balok atap


51

Gambar 4.6 Potongan As melintang


52

Gambar 4.7 Potongan As memanjang


53

Gambar 4.7A Pemodelan 3D ETABS

Gambar 4.7B Denah Pemodelan 3D ETABS


54

4.3 Perencanaan Dimensi Balok

Pendimensian balok didesain berdasarkan panjang bentang antar

1 1 1 2
kolom atau tumpuan yaitu = 10
. 15 dan = 2
3 , dengan

L adalah bentang balok. (W.C . Vis dan Gideon H. Kusuma 1993)

4.3.1 Dimensi Balok Melintang

a. Bentang 8,00 m = 800 cm

hmin = . L = . 800 = 53,333 cm

hmax = . L = . 800 = 80 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 70 cm

bmin = . h = . 70 = 35 cm

bmax = . h = . 70 = 46,667 cm

maka lebar (b) balok diambil = 40 cm

Balok melintang dengan bentang 8,00 m direncanakan

dengan dimensi 40/70 cm

Balok anak arah melintang direncanakan :

hmin = . L = . 600 = 40 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 50 cm

bmin = . h = . 50 = 25 cm

maka lebar (b) balok diambil = 25 cm

Balok anak melintang dengan bentang 6,00 m direncanakan

dengan dimensi 25/50 cm


55

b. Bentang 10,00 m = 1000 cm

hmin = . L = . 1000 = 66,667 cm

hmax = . L = . 1000 = 100 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 80 cm

bmin = . h = . 80 = 40 cm

bmax = . h = . 90 = 60 cm

maka lebar (b) balok diambil = 40 cm

Balok melintang dengan bentang 10,00 m direncanakan

dengan dimensi 40/80 cm

Balok anak arah melintang direncanakan :

hmin = . L = . 600 = 40 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 50 cm

bmin = . h = . 50 = 25 cm

maka lebar (b) balok diambil = 30 cm

Balok anak melintang dengan bentang 6,00 m direncanakan

dengan dimensi 30/50 cm

4.3.2 Dimensi Balok Memanjang

a. Bentang 4,00 m = 400 cm

hmin = . L = . 400 = 26,667 cm


56

hmax = . L = . 400 = 40 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 40 cm

bmin = . h = . 40 = 20 cm

bmax = . h = . 40 = 26,667 cm

maka lebar (b) balok diambil = 25 cm

Balok melintang dengan bentang 4,00 m direncanakan

dengan dimensi 25/40 cm

Balok anak arah melintang direncanakan :

hmin = . L = . 400 = 26,667 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 40 cm

bmin = . h = . 50 = 25 cm

maka lebar (b) balok diambil = 25 cm

Balok anak melintang dengan bentang 4,00 m direncanakan

dengan dimensi 25/40 cm

b. Bentang 6,00 m = 600 cm

hmin = . L = . 600 = 40 cm

hmax = . L = . 600 = 60 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 60 cm

bmin = . h = . 60 = 30 cm

bmax = . h = . 60 = 40 cm
57

maka lebar (b) balok diambil = 35 cm

Balok melintang dengan bentang 6,00 m direncanakan

dengan dimensi 35/60 cm

Balok anak arah melintang direncanakan :

hmin = . L = . 600 = 40 cm

maka tinggi (h) balok diambil = 50 cm

bmin = . h = . 50 = 25 cm

maka lebar (b) balok diambil = 25 cm

Balok anak melintang dengan bentang 6,00 m direncanakan

dengan dimensi 25/50 cm

4.4 Perencanaan Plat Lantai

Perencanaan plat lantai dibagi menjadi 9 tipe plat lantai, antara lain :

1. Tipe S1 : 6,00 m x 3,33 m

2. Tipe S2 : 6,00 m x 2,67 m

3. Tipe S3 : 4,00 m x 3,33 m

4. Tipe S4 : 4,00 m x 2,67 m

5. Tipe S5 : 3,00 m x 2,00 m

6. Tipe S6 : 4,00 m x 2,00 m

7. Tipe S7 : 2,39 m x 2,00 m

8. Tipe S8 : 3,33 m x 2,00 m

9. Tipe S9 : 2,00 m x 2,00 m


58

Perhitungan pelat lantai dihitung pada plat yang memiliki bentang

terbesar yaitu pelat lantai type S1 dengan bentang 6,00 m x 3,33 m.

4.4.1 Dimensi plat lantai

Direncanakan :

Mutu beton fc : 35 MPa

6,00 m
Mutu baja fy : 240 MPa

Dimensi balok memanjang : 35/60 cm

Dimensi balok melintang : 40/80 cm


3,33 m
Ly : 6,00 m

Lx : 3,33 m

Ketebalan plat minimum untuk > 2,0 tidak boleh kurang dari :

ln 0,8 + 1400
=
36 + 9

dan tidak boleh kurang dari 90 mm. (SNI 2847-2013, pasal 9.5.3.3)

dimana :

ln = panjang bersih dalam arah panjang diukur dari muka ke muka

balok

= rasio batang bersih dalam arah panjang (ln) terhadap arah pendek

(Sn)

ln = Ly 2( b)

= 600 2( 40 )

= 560 cm
59

Sn = Lx 2( b)

= 333 2( 35 )

= 298 cm

= 1,879

Tebal minimum plat tidak boleh kurang dari :

,
h =
( . , )

= 10,219 cm

dan tidak boleh kurang dari 90 cm (SNI 2847-2013 pasal 9.5.3.3)

Maka, tebal plat lantai direncanakan (hf) = 12 cm

Kontrol tebal plat > 2,0

,
h =
( , )

. ,
120 =
. , ( , )

. ,
120 =
, ( , )

,
120 =
, ,

,
120 =
, ,
60

,
120 + 9,395 =
,

9,395 = 157,930 120

,
= = 4,037 > 2,0
,

= 4,037 > 2,0 maka tebal plat rencana = 12 cm memenuhi syarat.

4.4.2 Pembebanan plat lantai

Beban Mati (qd)

Berat sendiri plat 0,12 x 2400 = 288 kg/m2(hf)

Berat spesi 0,02 x 2100 = 42 kg/m2

Berat keramik 0,01 x 2400 = 24 kg/m2

Berat Plafond dan penggantung = 19 kg/m2

Berat Mechanical, Electrical = 50 kg/m2 +

Total beban mati (qd) = 423 kg/m2

Beban Hidup (ql)

Beban hidup (SNI 1727 tabel 4-1) = 192 kg/m2

Reduksi 20% (SNI 1727 pasal 4.7.3) = 38,4 kg/m2 -

Total beban hidup (ql) = 153,6 kg/m2

Beban Berfaktor (qf)

qf = 1,2 qd + 1,6 ql

= (1,2 x 423) + (1,6 x 153,6)

= 753,36 kg/m2
61

4.4.3 Perhitungan momen plat

6,00
= = 1,8
3,33

Diketahui, Tabel Momen Pelat Persegi : (Gideon H. Kusuma, 1993)

Mu = 0,001 . qf . Lx2 . X

dimana :

Mu = momen ekternal berfaktor

qf = beban berfaktor

Lx = bentang pendek plat

X = koefisien momen (tergantung nilai Ly/Lx dan kondisi tumpuan

plat, lihat tabel momen plat)

Maka :

Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 53 = 442,758 Kgm = 4,42758 kNm

Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 15 = 125,309 Kgm = 1,25309 kNm

Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 81 = 676,669 Kgm = 6,76669 kNm

Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 54 = 451,112 Kgm = 4,51112 kNm

4.4.4 Penulangan plat lantai

a. Data perencanaan :

tulangan = 10 mm

tselimut = 20 mm

b = 1000 mm

, ,
min = = = 0,0058

62

dx = hf - tselimut (1/2 x tulangan)

= 120 20 (1/2 x 10)

= 95 mm

dy = hf - tselimut tulangan - (1/2 x tulangan)

= 120 20 10 (1/2 x 10)

= 85 mm

b. Perhitungan rasio :

, . .
b =

, . , .
=

= 0,07083

Dimana tidak boleh > 0,5 b (SNI 2847-2013 Lampiran B.8.4.2)

0,5 b = 0,0354

, ,
min (1) = = (SNI 2847-2013 Pasal 10.5.(1))

= 0,00616

, ,
min (2) = = (SNI 2847-2013 Pasal 10.5.(1))

= 0,00583

Dimana min tidak boleh kurang dari min (1) dan tidak lebih kecil dari

min (2) , maka min = 0,00616

c. Penulangan lapangan arah X

Mu = 442,758 Kgm = 4,42758 kNm

Faktor reduksi () = 0,75 (SNI 2847-2013 pasal 9.3)

1 = 0,85 0,05 = 0,80 (SNI 2847-2013 Ps. 10.2.7.3)


63

Rn =
. .

, .
=
, . .

= 0,654 Mpa

m =
, .

=
, .

= 8,067

. .
= 1 1

. , . ,
= 1 1
,

= 0,00276

Maka, diperoleh = 0,00276 < min = 0,00616 < 0,5 b = 0,0354

dipakai min = 0,00616

Asperlu = min . b . dx

= 0,00616 . 1000 . 95

= 585,200 mm2

Dipakai tulangan pokok 10 130 ( Tabel tulangan, Gideon 1993)

Asada = . . . tulangan2

= . . 3,14 . 102

= 603,846 mm2 > Asperlu = 585,200 mm2 OK


64

d. Penulangan lapangan arah Y

Mu = 125,309 Kgm = 1,25309 kNm

Faktor reduksi () = 0,75 (SNI 2847-2013 pasal 9.3)

1 = 0,85 0,05 (SNI 2847-2013 pasal 10.2)

= 0,80

Rn =
. .

, .
=
, . .

= 0,185 Mpa

m =
, .

=
, .

= 8,067

. .
= 1 1

. , . ,
= 1 1
,

= 0,00077

Maka, diperoleh = 0,00077 < min = 0,00616 < 0,5 b = 0,0354

dipakai min = 0,00616

Asperlu = min . b . dy

= 0,00616 . 1000 . 85

= 523,600 mm2

Dipakai tulangan pokok 10 130 ( Tabel tulangan, Gideon 1993)


65

Asada = . . . tulangan2

= . . 3,14 . 102

= 603,846 mm2 > Asperlu = 523,600 mm2 OK

e. Penulangan tumpuan arah X

Mu = 676,669 Kgm = 6,76669 kNm

Faktor reduksi () = 0,75 (SNI 2847-2013 pasal 9.3)

1 = 0,85 0,05 (SNI 2847-2013 pasal 10.2)

= 0,80

Rn =
. .

, .
=
, . .

= 0,999 Mpa

m =
, .

=
, .

= 8,067

. .
= 1 1

. , . ,
= 1 1
,

= 0,00424

Maka, diperoleh = 0,00312 < min = 0,00616 < 0,5 b = 0,0354

dipakai min = 0,00616


66

Asperlu = min . b . dx

= 0,00616 . 1000 . 95

= 585,200 mm2

Dipakai tulangan pokok 10 130 ( Tabel tulangan, Gideon 1993)

Asada = . . . tulangan2

= . . 3,14 . 102

= 603,846 mm2 > Asperlu = 585,200 mm2 OK

f. Penulangan tumpuan arah Y

Mu = 451,112 Kgm = 4,51112 kNm

Faktor reduksi () = 0,75 (SNI 2847-2013 pasal 9.3)

1 = 0,85 0,05 (SNI 2847-2013 pasal 10.2)

= 0,80

Rn =
. .

, .
=
, . .

= 0,666 Mpa

m =
, .

=
, .

= 8,067

. .
= 1 1
67

. , . ,
= 1 1
,

= 0,00281

Maka, diperoleh = 0,00281 < min = 0,00616 < 0,5 b = 0,0354

dipakai min = 0,00616

Asperlu = min . b . dx

= 0,00616 . 1000 . 85

= 523,600 mm2

Dipakai tulangan pokok 10 130 ( Tabel tulangan, Gideon 1993)

Asada = . . . tulangan2

= . . 3,14 . 102

= 603,846 mm2 > Asperlu = 523,600 mm2 OK

g. Perhitungan tulangan susut dan bagi

Dalam arah tegak lurus terhadap tulangan utama harus

disediakan tulangan pembagi untuk antisipasi adanya tegangan suhu

dan susut.

Koefisien susut = 0,0014 (SNI 03284720137.12.2.1)

Assusut = 0,0014 . b . h

= 0,0014 . 1000 . 120 = 168 mm2

Dipakai tulangan susut 8 250 (Tabel tulangan, Gideon 1993)

Asada = . . . tulangan2

= . . 3,14 . 82

= 200,960 mm2 > Asperlu = 168 mm2 OK


68

4.4.5 Rekapitulasi penulangan plat

Table 4.1 Rekapitulasi penulangan plat


Penulangan lapangan arah X 10 130 mm
Penulangan lapangan arah Y 10 130 mm
Penulangan tumpuan arah X 10 130 mm
Penulangan tumpuan arah X 10 130 mm
Tulangan bagi 8 250 mm

83,25
166,5
333
83,25
150 300 150
600

Gambar 4.8 Penulangan plat lantai tipe A


69

4.4.6 Tabel penulangan plat

1. Plat tipe S1

Ly = 6,00 m
Lx = 3,33 m

6,00
m
Ly/Lx = 1,8
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 53 = 442,758 Kgm = 4,42758 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 15 = 125,309 Kgm = 1,25309 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 81 = 676,669 Kgm = 6,76669 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 54 = 451,112 Kgm = 4,51112 kNm 3,33
m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 4,42758 0,65412 8,06723 0,00276 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 1,25309 0,18513 8,06723 0,00077 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 6,76669 0,9997 8,06723 0,00424 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 4,51112 0,66646 8,06723 0,00281 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
70

2. Plat tipe S2

Ly = 6,00 m
Lx = 2,667 m

6,00
m
Ly/Lx = 2,2
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 60,4 = 323,657 Kgm = 3,23657 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 14,4 = 77,163 Kgm = 0,77163 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 82,6 = 442,618 Kgm = 4,42618 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 51,8 = 277,574 Kgm = 2,77574 kNm 2,667
m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 3,23657 0,47816 8,06723 0,00201 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,77163 0,114 8,06723 0,00048 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 4,42618 0,65391 8,06723 0,00276 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,77574 0,41008 8,06723 0,00172 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
71

3. Plat tipe S3

Ly = 4,00 m
Lx = 3,33 m

4,00
m
Ly/Lx = 1,2
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 34 = 280,034 Kgm = 2,80034 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 22 = 183,787 Kgm = 1,83787 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 63 = 526,928 Kgm = 5,26928 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 54 = 451,112 Kgm = 4,51112 kNm 3,33
m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 2,84034 0,41963 8,06723 0,00176 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 1,83787 0,27152 8,06723 0,00114 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 5,26298 0,77754 8,06723 0,00328 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 4,51112 0,66646 8,06723 0,00281 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
72

4. Plat tipe S4

Ly = 4,00 m
Lx = 2,667 m

4,00
m
Ly/Lx = 1,5
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 45,5 = 243,815 Kgm = 2,43815 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 16,5 = 88,416 Kgm = 0,88416 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 75 = 401,829 Kgm = 4,01829 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 54 = 292,042 Kgm = 2,92042 kNm 2,667
m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 2,43815 0,36021 8,06723 0,00151 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,88416 0,13062 8,06723 0,00055 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 4,01892 0,59375 8,06723 0,0025 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,92042 0,43146 8,06723 0,00181 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
73

5. Plat tipe S5

Ly = 3,00 m
Lx = 2,00 m

3,00
Ly/Lx = 1,5

m
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 52 = 156,699 Kgm = 1,56699 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 21,5 = 64,789 Kgm = 0,64789 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 94 = 283,263 Kgm = 2,83263 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 75 = 226,008 Kgm = 2,26008 kNm 2,00m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 1,56699 0,2315 8,06723 0,00097 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,64789 0,09572 8,06723 0,0004 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 2,83263 0,41849 8,06723 0,00176 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,26008 0,3339 8,06723 0,0014 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
74

6. Plat tipe S6

Ly = 4,00 m
Lx = 2,00 m

4,00
Ly/Lx = 2,0

m
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 70 = 210,941 Kgm = 2,10941 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 17 = 51,228 Kgm = 0,51228 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 114 = 343,532 Kgm = 3,43532 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 76 = 229,021 Kgm = 2,29021 kNm 2,00m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 2,10941 0,31164 8,06723 0,00131 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,51228 0,07568 8,06723 0,00032 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 3,43532 0,50753 8,06723 0,00213 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,29021 0,33835 8,06723 0,00142 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
75

7. Plat tipe S7

Ly = 2,39 m
Lx = 2,00 m

2,39
Ly/Lx = 1,2

m
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 36 = 108,484 Kgm = 1,08484 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 27 = 81,363 Kgm = 0,81363 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 72 = 216,968 Kgm = 2,16968 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 69 = 207,927 Kgm = 2,07927 kNm 2,00m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 1,08484 0,16027 8,06723 0,00067 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,81363 0,1202 8,06723 0,0005 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 2,16968 0,32054 8,06723 0,00134 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,07927 0,30719 8,06723 0,00129 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
76

8. Plat tipe S8

Ly = 3,33 m
Lx = 2,00 m

3,33
Ly/Lx = 1,7

m
Mlx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 60,5 = 182,313 Kgm = 1,82313 kNm
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 19 = 57,255 Kgm = 0,57255 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 104 = 313,398 Kgm = 3,13398 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 76 = 229,021 Kgm = 2,29021 kNm 2,00m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 1,82313 0,26935 8,06723 0,00113 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,57255 0,08459 8,06723 0,00035 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 3,13398 0,46301 8,06723 0,00194 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,29021 0,33835 8,06723 0,00142 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
77

9. Plat tipe S9

Ly = 2,00 m
Lx = 2,00 m
Ly/Lx = 1,0
= 0,001 x 753,36 x 3,332 x 30

2,00
Mlx = 90,403 Kgm = 0,90403 kNm

m
Mly = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 30 = 90,403 Kgm = 0,90403 kNm
Mtx = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 68 = 201,914 Kgm = 2,01914 kNm
Mty = 0,001 x 753,36 x 3,332 x 68 = 201,914 Kgm = 2,01914 kNm 2,00m

Mu Rn As perlu As Ada As Bagi As Ada


m min max pakai Pokok Bagi
(kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
Mlx 0,90403 0,13356 8,06723 0,00056 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mly 0,90403 0,13356 8,06723 0,00056 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mtx 2,04914 0,30274 8,06723 0,00127 0,00616 0,03542 0,00616 585,200 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
Mty 2,04914 0,30274 8,06723 0,00127 0,00616 0,03542 0,00616 523,600 10-130 603,846 168,000 8-250 200,960
78

4.5 Perencanaan Kolom

Menurut SNI 03-2847-2002 pasal 25.3.1.3 hal 243, persyaratan

dimensi kolom dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

0,3 = (SNI 03-2847-2002. Ps. 25.3.1(3))

dimana :

P = berat total yang dipikul kolom (beban mati dan hidup)

A = luas penampang kolom

fc = mutu beton

Berat total yang dipikul oleh kolom (P) dapat dihitung dengan menggunakan

cara tributary area sehingga didapat dimensi kolom. Kolom yang ditinjau

adalah kolom pada lantai 1 yang menerima beban terbesar karena menahan

beban yang berada lantai diatasnya.

Gambar 4.9 Denah typikal luas area beban kolom


79

Luas area beban kolom = 9,00 m x 6,00 m = 54,00 m2


Dimensi balok :

a. Balok induk (l = 8 m) = 40 x 70 cm

b. Balok induk (l = 10 m) = 45 x 90 cm

c. Balok induk (l = 6 m) = 35 x 60 cm

d. Balok anak = 25 x 50 cm

e. Balok anak = 30 x 50 cm

Mutu bahan :

a. Mutu beton (fc) = 35 MPa = 350 Kg/m2

b. Mutu baja polos (fy) = 240 MPa

c. Mutu baja ulir (fy) = 400 MPa

Beban mati :

a. Lantai atap

Plat = 9 x 6 x 0,10 x 2400 = 12960 kg

Balok (40 x 70 cm) = 0,40 x 0,70 x 2400 x 4 = 2688 kg

Balok (45 x 90 cm) = 0,45 x 0,90 x 2400 x 5 = 4860 kg

Balok (35 x 60 cm) = 0,35 x 0,60 x 2400 x 6 = 3024 kg

Balok (25 x 50 cm) = 0,25 x 0,50 x 2400 x 6 = 1800 kg

Balok (30 x 50 cm) = 0,30 x 0,50 x 2400 x 6 = 2160 kg

Berat plafond dan penggantung = 9 x 6 x 19 = 1026 kg

Berat Mechanical, Electrical = 9 x 6 x 50 = 2700 kg +

Total beban mati lantai atap (qd1) = 31218 kg


80

b. Lantai tipikal

Plat = 9 x 6 x 0,12 x 2400 = 15552 kg

Balok (40 x 70 cm) = 0,40 x 0,70 x 2400 x 4 = 2688 kg

Balok (45 x 90 cm) = 0,45 x 0,90 x 2400 x 5 = 4860 kg

Balok (35 x 60 cm) = 0,35 x 0,60 x 2400 x 6 = 3024 kg

Balok (25 x 50 cm) = 0,25 x 0,50 x 2400 x 6 = 1800 kg

Balok (30 x 50 cm) = 0,30 x 0,50 x 2400 x 6 = 2160 kg

Spesi (2 cm) = 9 x 6 x 0,02 x 2100 = 2268 kg

Keramik = 9 x 6 x 0,01 x 2400 = 1296 kg

Berat plafond dan penggantung = 9 x 6 x 19 = 1026 kg

Berat Mechanical, Electrical = 9 x 6 x 50 = 2700 kg +

Total beban mati lantai tipikal (qd2) = 37374 Kg

Beban hidup (lantai tipikal dan atap):

Beban hidup (SNI 1727) = 9 x 6 x 192 = 10368 kg

Reduksi 20% (SNI 1727 pasal 4.7.3) = 2073,6kg -

Total beban hidup (ql) = 8294,4 Kg

4.5.1 Perhitungan kolom lantai 1 s.d lantai 3

Perencanaan dimensi dhitung dengan beban yang dipikul diatasnya yaitu:

lantai typikal 6 lantai dan lantai atap.

P = 1,2 DL + 1,6 LL

= 1,2 [(6 x 37374)+(31218)] + 1,6 (7 x 8294,4)

= 399451,68 Kg
81

A =
, .

,
=
, .

= 3804,302 cm2

b = diasumsikan 50 cm

,
h =

= 76,086 cm ~ 80 cm

Jadi dimensi kolom lantai 1 s.d lantai 3 = 50 x 80 cm

4.5.2 Perhitungan kolom lantai 4 s.d lantai atap

Perencanaan dimensi dhitung dengan beban yang dipikul diatasnya yaitu:

lantai typikal 3 lantai dan lantai atap.

P = 1,2 DL + 1,6 LL

= 1,2 [(3 x 37374)+(31218)] + 1,6 (4 x 8294,4)

= 225092,16 Kg

A =
, .

225092,16
=
, .

= 2143,735 cm2

b = diasumsikan 40 cm

,
h =

= 53,594 cm ~ 60 cm

Jadi dimensi kolom lantai 4 s.d lantai atap = 40 x 60 cm


82

4.5.3 Rekapitulasi dimensi kolom


Table 4.2 Rekapitulasi dimensi kolom
Lantai Dimensi
Lantai 1 s.d 3 50 x 80 cm
Lantai 4 s.d atap 40 x 60 cm

4.6 Perencanaan dinding struktural

Menurut SNI 03-2847-2013 pasal 14.5.3.1 hal 142, persyaratan

dimensi dinding struktural dapat dihitung menggunakan rumus sebagai

berikut :

Tebal 1/25 tinggi dinding *

Tebal 1/25 panjang dinding * (SNI 03-2847-2013. Ps. 14.5.3.1)

Tebal 100 mm
*) diambil mana yag lebih pendek

Data :

h = 31,5 m

l = 3,80 m

Perencanaan :

3150

126

380

15,2

t 10

Jadi dimensi dinding struktural yang diambil adalah 30 cm


83

4.7 Analisa Beban Gempa Dinamik Respons Spektrum

Analisis beban gempa dinamik respons spektrum ditentukan oleh

percepatan gempa rencana dan massa total struktur. Dalam analisis struktur

terhadap beban gempa, massa bangunan sangat menentukan besarnya gaya

inersia akibat gempa. Massa akibat berat sendiri (self weight) elemen struktur

sudah dihitung secara otomatis oleh program. Jadi hanya perlu input massa

tambahan (berupa plesteran, dinding, keramik, dll).

4.7.1 Kategori resiko dan Faktor keutamaan gempa

Kategori bangunan ditentukan dalam SNI 1726-2013 hal.14,

dimana gedung berfungsi sebagai bangunan sekolah dan fasilitas

pendidikan yang dikategorikan kedalam kategori resiko IV. Sedangkan,

Faktor keutamaan dijelaskan pada Tabel SNI 1726-2012 hal. 15, dimana

untuk bangunan dengan kategori resiko IV mempunyai nilai faktor

keutamaan sebesar 1,5.

4.7.2 Klasifikasi situs

Sebelum melakukan perhitungan gaya gempa yang terjadi, terlebih

dahulu dilakukan penentuan klasifikasi situs berdasarkan kondisi tanah

lapangan yang ditetapkan SNI 1726-2013 hal.17. Hasil data tanah

berdasarkan nilai SPT (Soil Penetration Test) dihitung dengan rumus

sebagai berikut :

Dimana :
= nilai hasil test penetrasi standar rata- rata,
ti = tebal lapisan tanah ke-i,
Ni = hasil test penetrasi standar lapisan tanah ke-i.
84

Hasil perhitungan rata-rata nilai SPT berikutnya disajikan dalam

tabel 4.3 berikut ini :

Table 4.3 Data nilai SPT tanah


Kedalaman SPT (N) ti N
0 0 0 0
1,5 5 1,5 0,3
3 5 1,5 0,3
4,5 12 1,5 0,125
6 13 1,5 0,115385
7,5 50 1,5 0,03
9 80 1,5 0,01875
10,5 24 1,5 0,0625
12 80 1,5 0,01875
13,5 80 1,5 0,01875
15 34 1,5 0,044118
23,63476
16,5 38 1,5 0,039474
18 80 1,5 0,01875
19,5 80 1,5 0,01875
21 80 1,5 0,01875
22,5 80 1,5 0,01875
24 48 1,5 0,03125
25,5 44 1,5 0,034091
27 80 1,5 0,01875
28,5 80 1,5 0,01875
30 80 1,5 0,01875
Jumlah 30 1,269317

Berdasarkan data SPT nilai yang merupakan nilai N rata-rata

SPT pada situs sampai kedalaman 30 m yang bernilai 23,634 sesuai

dengan yang ditetapkan oleh SNI 1726-2013, sehingga klasifikasi situs

yang digunakan berada pada Kelas Situs SS (Tanah Sedang).

4.7.3 Kategori desain seismik

Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, Kementrian Pekerjaan

Umum menyediakan softwere spectra Indonesia yang dapat diakses pada

puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011 .
85

Parameter yang diketahui berdasarkan input kota dan jenis tanah

berdasarkan niilai SPT adalah sebagai berikut :

Table 4.4 Parameter desain seismik


Tanah Sedang
Variabel Nilai
PGA (g) 0,392
SS (g) 0,769
S1 (g) 0,325
CRS 1.003
CR1 0,922
FPGA 1.108
FA 1.192
FV 1.751
PSA (g) 0,435
SMS (g) 0,917
SM1 (g) 0,568
SDS (g) 0,611
SD1 (g) 0,379
T0 (detik) 0,124
TS (detik) 0,62

Kategori desain seismik ditentukan berdasarkan Tabel 6 dan Tabel

7 SNI-1726-2012. Para meter yang dibutuhkan dalam table tersebut adalah

parameter percepatan spektra desain pada periode pendek (SDS), spektra

desain pada periode 1 detik (SD1) dan kategori resiko bangunan.

Berdasarkan tabel diatas diperoleh SDS = 0,611, SD1 = 0,379 dan kategori

resiko bangunan IV maka perencanaan ini masuk dalam ketegori desain

seismik D. Untuk kategori desain seismik D, maka nilai redudansi ()

menurut pasal 7.3.4 SNI 1726-2012 adalah 1,3.

4.7.4 Respons spektrum gempa gencana

Dalam analisis beban gempa dinamik, respons spektrum disusun

berdasarkan respons terhadap percepatan tanah (ground acceleration)

hasil rekaman gempa. Desain spectrum merupakan representasi gerakan

tanah (ground motion) akibat getaran gempa yang pernah terjadi pada
86

suatu lokasi. Hal- hal yang dipertimbangkan adalah zona gempa dan jenis

tanah. Desain kurva respons spektrum untuk koordinat tempat gedung

dengan kondisi tanah sedang adalah sebagai berikut :

Gambar 4.10 Respons spektrum lokasi gedung


Table 4.5 Periode dan percepatan tanah lokasi bangunan

T (detik) SA (g) 1,32 0,267 2,32 0,157 3,32 0,111


0 0,244 1,42 0,249 2,42 0,15 3,42 0,108
0,124 0,611 1,52 0,234 2,52 0,145 3,52 0,105
0,62 0,611 1,62 0,22 2,62 0,139 3,62 0,102
0,72 0,462 1,72 0,208 2,72 0,134 3,72 0,099
0,82 0,412 1,82 0,197 2,82 0,13 3,82 0,097
0,92 0,372 1,92 0,188 2,92 0,125 4 0,095
1,02 0,338 2,02 0,179 3,02 0,121
1,12 0,311 2,12 0,171 3,12 0,118
1,22 0,287 2,22 0,163 3,22 0,114

4.7.5 Penentuan koefisien R, Cd, dan 0

Penentuan koefisien R, Cd, dan 0 berdasarkan tabel SNI 1726-

2013 pasal 7.2.2 hal. 36, dimana R adalah koefisien modifikasi respon, Cd

adalah faktor pembesaran defleksi, dan adalah faktor kuat lebih sistem,

yang ditinjau berdasarkan sistem struktur yang direncakan yaitu sistem


87

penahan gaya gempa Struktur Rangka Pemikul Momen Menengan dan

Dinding Geser (sistem ganda), sehingga diperoleh nilai :

R = 6,5

0 = 2,5

Cd =5

4.7.6 Kombinasi pembebanan berdasarkan SNI 1726-2012

Berdasarkan SNI 03-1726-2012, faktor-faktor dan kombinasi

beban untuk beban mati nominal, beban hidup nominal dan beban gempa

nominal, akan tetapi pada kombinasi yang terdapat beban gempa didalam

persyaratannya harus didesain berdasarkan pengaruh beban seismic yang

ditentukan sesuai pasal 7.4.2 dalan SNI 1726-2012, yaitu :

a. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 5 dalam 4.2.2 atau

kombinasi beban 5 dan 6 dalam 4.2.3, E harus ditentukan sesuai

dengan persamaan berikut:

E = Eh + Ev

b. Untuk penggunaan dalam kombinasi beban 7 dalam 4.2.2 atau

kombinasi beban 8 dalam 4.2.3, E harus ditentukan sesuai dengan

Persamaan 15 berikut:

E = Eh - Ev

Keterangan:

E = pengaruh beban gempa;

Eh = pengaruh beban gempa horisontal

Ev = Pengaruh beban gempa vertikal


88

Eh adalah pengaruh beban gempa horisontal harus ditentukan sesuai

dengan persamaan dalam pasal 7.4.2.1 SNI 1726-2012 :

EH = . QE

Keterangan :

= faktor redudansi

QE = pengaruh gaya gempa horisontal

EV adalah pengaruh beban gempa vertikal harus ditentukan sesuai dengan

persamaan dalam pasal 7.4.2.2 SNI 1726-2012 :

EV = 0,2 . SDS . D

Keterangan :

SDS = parameter percepatan spektrum respons desain pada perioda

pendek

D = pengaruh beban mati

Untuk redudansi () = 1,3 dan SDS = 0,56, maka hasil penjabaran

dari kombinasi pasal 7.4.2.3 SNI 1726-2012 adalah sebagai berikut :

1. 1,4 D
2. 1,2 D + 1,6 L
3. (1,2+0,2 SDS) D + 1,0 L 1,3 Ex 0,39 Ey
4. (1,2+0,2 SDS) D + 1,0 L 1,3 Ey 0,39 Ex
5. (0,9-0,2 SDS) D 1,3 Ex 0,39 Ey
6. (0,9-0,2 SDS) D 1,3 Ey 0,39 Ex

4.7.7 Kontrol dan analisis

4.7.7.1 Analisis ragam respons spektrum

Pada SNI Gempa 03-1726-2012 Pasal 7.9.3 disebutkan bahwa

untuk struktur gedung yang memiliki waktu getar alami yang

berdekatan atau selisih nilainya kurang dari 15%, harus dilakukan


89

dengan metoda yang dikenal dengan Kombinasi Kuadratik Lengkap

(Complete Quadratic Combination atau CQC). Jika waktu getar alami

yang berjauhan, penjumlahan respons ragam tersebut dapat dilakukan

dengan metoda yang dikenal dengan Akar Jumlah Kuadrat (Square

Root of the Sum of Squares atau SRSS).

Untuk menentukan tipe analisis ragam respons spektrum yang

sesuai, maka selisih dari periode dihitung sebagai berikut :

Table 4.6 Selisih periode (T) setiap mode


Period T
Mode
sec
1 1,737 17,500%
2 1,562 59,400%
3 0,968 40,600%
4 0,562 17,300%
5 0,389 8,100%
6 0,308 7,700%
7 0,231 3,000%
8 0,201 2,500%
9 0,176 3,100%
10 0,145 3,400%
11 0,111 0,300%
12 0,108

Keterangan :
T : Selisih periode/ waktu getar yang dihitung dengan cara
(T1 - T2) x 100% dan seterusnya.

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada Tabel

4.6,terlihat bahwa waktu getar struktur ada yang melebihi 15%, maka

sebaiknya digunakan kombinasi ragam spektrum SRSS sesuai dengan

persayaratan SNI Gempa 03-1726-2002 Pasal 7.2.2.


90

4.7.7.2 Partisipasi massa

Pada SNI Gempa 03-1726-2012 Pasal 7.9.1 disebutkan bahwa

jumlah ragam vibrasi yang ditinjau dalam penjumlahan respons harus

menghasilkan partisipasi massa minimum 90%.

Table 4.7 Jumlah partisipasi massa pada 12 mode (lebih dari 90%)
Mode Period UX UY UZ Sum UX Sum UY Sum UZ
sec
1 1,737 0,009 0,550 0,000 0,920% 55,000% 0,000
2 1,562 0,707 0,007 0,000 71,560% 55,710% 0,000
3 0,968 0,000 0,213 0,000 71,560% 77,020% 0,000
4 0,562 0,001 0,081 0,000 71,640% 85,160% 0,000
5 0,389 0,185 0,001 0,000 90,140% 85,230% 0,000
6 0,308 0,000 0,024 0,000 90,160% 87,670% 0,000
7 0,231 0,000 0,064 0,000 90,170% 94,110% 0,000
8 0,201 0,000 0,014 0,000 90,170% 95,530% 0,000
9 0,176 0,060 0,000 0,000 96,180% 95,540% 0,000
10 0,145 0,000 0,006 0,000 96,180% 96,110% 0,000
11 0,111 0,000 0,002 0,000 96,190% 96,270% 0,000
12 0,108 0,024 0,000 0,000 98,560% 96,310% 0,000

Berdasarkan hasil analisis ETABS yang telah dilakukan, jumlah

partisipasi massa pada Mode ke 12 sudah mencapai 90%.

4.7.7.3 Gaya Geser Dasar Nominal, V (Base Shear)

Pada SNI 1726 2012 pasal 7.9.4.1 hal 62, menyebutkan

bahwa, apabila respons untuk geser dasar ragam (Vt) lebih kecil dari

85% geser dasar (V) maka, gaya harus dikalikan dengan 0,85 .

Berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 7.8.2.1 periode getar suatu

bangunan dibatasi nilai maksimum dan nilai minimum dimana nilai-

nilai tersebut berbeda antara arah x dan arah y bangunan sesuai dengan

parameternya. Perioda fundamental pendekatan, Ta dalam detik untuk


91

struktur dinding geser batu bata atau beton diijinkan untuk ditentukan

dari :
,
Ta =

Cw = . .
,

, ,
= ,
. ,
. ,
,
,

= 0,0162
,
Ta =

,
= 31,5
,

= 1,533 detik

Keterangan:

= luas dasar struktur (m2)

= luas badan dinding geser i (m2)

= panjang dinding geser i (m)

= tinggi dinding geser i (m)

= ketinggian struktur (m)

= jumlah dinding geser dalam bangunan yang efektif dalam

menahan gaya lateral dalam arah yang ditinjau.

Nilai periode getar alami bangunan dari program ETABS adalah

1,737 detik. Karena Ta pada ETABS lebih besar dari syarat maksimal,

maka Ta yang digunakan adalah Ta maksimal yaitu 1,533 detik.

Menurut SNI 1726-2012 pasal 7.8.1.1, penentuan koefisien

respon seismik suatu bangunan sama seperti penentuan periode getar


92

bangunan yaitu terdapat batasan nilai minimum dan nilai maksimum

berdasarkan arah bangunannya.

Csminimal = 0,044 . SDS . I 0,01

= 0,044 . 0,611 . 1,5 0,01

= 0,04

Cshitung =

,
= ,
,

= 0,141

Csmaksimum =

,
= ,
, ,

= 0,057

Keterangan:

SDS = parameter percepatan spektrum respons desain dalam rentang


perioda pendek
I = faktor keutaaan gempa
T = periode bangunan
R = faktor keutamaan gempa
Berdasarkan perhitungan diatas, nilai Cs hitungan adalah 0,141.

Karena Cs hitungan bernilai lebih dari Cs pada batas maksimal, maka

Cs yang dipakai adalah Cs maksimum yaitu 0,057.

Di dalam SNI 1726-2012 pasal 7.8.1 dijelaskan bahwa gaya

geser seismik ditentukan dengan perkalian koefisien respon seismik

dengan berat total gedung.


93

V = .

= 0,057 . 3607228,97

= 205612,0513 kg

Keterangan:

Cs = koefisien respons seismik

W = berat bangunan (dari perhitungan Etabs)

Berdasarkan SNI 1726-2012 pasal 7.8.3 gaya gempa lateral (F)

yang timbul di semua tingkat harus ditentukan dengan persamaan

berikut :

Fx = .

dan

.
=
.

Keterangan:

V = gaya geser struktur

Wx Wi = berat tingkat struktur

hi hx = tinggi dasar sampai tingkat i

k = eksponen terkait dengan periode, T 0,5 maka k = 1 dan

T 2,5 maka k = 2

Dimana, nilai k untuk struktur dengan perioda antara 0,5 dan 2,5

detik harus sebesar 2 atau harus ditentukan dengan interpolasi linier

antara 1 dan 2 (SNI 1726-2012, hal.57)

Table 4.8 Hasil perhitungan interpolasi nilai k untuk T = 1,533 detik


T k
0,5 1
1,533 1,266
2,5 2
94

Rumus interpolasi :

, ,
k =1+ x (2 - 1)
, ,

= 1,266

maka, diperoleh nilai k untuk T = 1,533 detik, k = 1,266

Nilai T dan V baik arah x maupun y adalah sama, sehingga

distribusi vertikal gaya gempa arah x dan arah y bernilai sama.

Perhitungan distribusi vertikal gempa dapat dilihat ada table 4.9

Table 4.9 Distribusi vertikal gaya gempa dan arah pembebanan


Group Hight Self Weight Wx.hxk Cvx Fx 100% 30%
m kg kg kg kg
Lantai 2 5 564868,350 2824341,750 0,021 4288,794 4288,794 1286,638
Lantai 3 9 531604,440 4784439,960 0,041 8360,930 8360,930 2508,279
Lantai 4 13 531604,440 6910857,720 0,065 13320,353 13320,353 3996,106
Lantai 5 17 506427,840 8609273,280 0,086 17594,769 17594,769 5278,431
Lantai 6 21 507236,040 10651956,840 0,112 23040,285 23040,285 6912,085
Lantai 7 25 510094,440 12752361,000 0,141 28938,699 28938,699 8681,610
Atap 1 29 361217,640 10475311,560 0,110 22557,447 22557,447 6767,234
Atap 2 31,5 94175,780 2966537,070 0,022 4564,076 4564,076 1369,223
Jumlah 3607228,970 59975079,180 0,597 122665,353 122665,353 36799,606

Arah gempa yang sebenarnya tidak dapat dipastikan. Untuk

mengantisipasi hal tersebut maka dalam SNI disebutkan bahwa

pembebanan gempa arah utama dianggap efektif sebesar 100% dan

ditambah dengan pembebanan gempa sebesar 30% pada arah tegak

lurusnya. Selanjutnya besarnya gaya tersebut dibebankan pada pusat

massa struktur tiap-tiap lantai tingkat.

Geser tingkat desain gempa disemua tingkat, Vx ditentukan

dengan persamaan :

Vx = Fi
95

Hasil analisis distribusi vertikal dan horisontal gaya gempa

disajikan pada table berikut :

Table 4.10 Distribusi gaya gempa Vertikal (Fx) dan Horisontal (Vx)
Group Hight Fx (100%) Fy (30%) Vx
m kg kg kg
Lantai 2 5 4288,794 1286,638244 5575,432
Lantai 3 9 8360,930 2508,279126 10869,210
Lantai 4 13 13320,353 3996,105831 17316,459
Lantai 5 17 17594,769 5278,430754 22873,200
Lantai 6 21 23040,285 6912,085428 29952,370
Lantai 7 25 28938,699 8681,6097 37620,309
Atap 1 29 22557,447 6767,234172 29324,681
Atap 2 31,5 4564,076 1369,222762 5933,299
Jumlah 122665,353 159464,959

Berdasaran SNI 1726-2012 pasal 7.9.4.2 gaya geser dasar (base


shear) yang didapatkan dari hasil analisa dinamik respons spektrum
minimum adalah sebesar 85% gaya geser dasar yang dihitung
berdasarkan cara statik ekivalen. Apabila gaya geser dasar hasil analisa
dinamik respon spektrum lebih kecil dari 85% gaya geser dasar statik
ekivalen, maka ordinat respon spektrum harus dikalikan dengan faktor
skalanya.

, .
=

Table 4.11 Base shear statik ekivalen dan dinamik respon spektrum
Load Case/Combo VX VY 85% Statik (x) 85% Statik (y)
kgf kgf kgf kgf
Statik (X) 159464,959 47839,488 135545,215 40663,565
Statik (Y) 47839,488 159464,959 40663,565 135545,215
RS-Unisma (X) Max 345922,700 30848,330
RS-Unisma (Y) Max 30848,330 267310,060

Nilai FS pada RSX dan RSY untuk semua arah kurang dari dari

1 hal ini berarti V dari dinamik respon spekrum telah lebih besar dari

0,85V statik ekivalen. Hal ini telah sesuai pada SNI 1726-2012. Maka
96

dari itu analisis dinamik respon spectrum dapat digunakan untuk

menentukan displacement struktur gedung.

4.7.8 Simpangan antar lantai

Penentuan simpangan antar lantai tingkat desain ( ) harus

dihitung sebagai perbedaan defleksi pada pusat massa di tingkat teratas

dan terbawah yang ditinjau.

Simpangan antar lantai yang diijinkan = 0,010 hsx, untuk

sistem Ganda (duel system) dengan Kategori Desain Seismik D, maka nilai

harus dibagi dengan faktor redudansi = 1,3 (SNI 1726-2013 pasal

7.12.1.1)

Contoh perhitungan pemeriksaan simpangan antar lantai yang

terjadi terhadap simpangan antar lantai maksimum yang dijinkan, sebagai

berikut :

Arah X :

Cd =5

I = 1,5

hsx = 2500 mm

xeatap2 = 0,00272 mm

Pembesaran defleksi :

.
x =

. ,
=
,

= 0,00905 mm
97

Simpangan maksimum yang diijinkan () :


, .
=

, .
= ,

= 19,231 mm

Jadi, simpangan yang terjadi pada lantai atap = 0,00905 mm

simpangan maksimum ijin lantai atap = 19,231 mm.

Arah Y :

hsx = 2500 mm

xeatap2 = 0,00138 mm

Pembesaran defleksi :

.
x =

. ,
=
,

= 0,00461 mm

Simpangan maksimum yang diijinkan () :

, .
=

, .
= ,

= 19,231 mm

Jadi, simpangan yang terjadi pada lantai atap = 0,00461 mm

simpangan maksimum ijin lantai atap = 19,231 mm.

Hasil perhitungan simpangan antar lantai pada tiap lantai

berikutnya disajikan dalam tabel berikut :


98

Table 4.12 Pemeriksaan terhadap syarat simpangan antar lantai dalam arah X
Tinggi tingkat xe x ijin
Tingkat S ijin
mm mm mm mm
Roof 2 2500 0,00272 0,00905 19,231 OK
Roof 1 4000 0,00289 0,00964 30,769 OK
Strory 7 4000 0,00306 0,01019 30,769 OK
Strory 6 4000 0,00312 0,01038 30,769 OK
Strory 5 4000 0,00304 0,01012 30,769 OK
Strory 4 4000 0,00271 0,00904 30,769 OK
Strory 3 4000 0,00227 0,00756 30,769 OK
Strory 2 5000 0,00118 0,00392 38,462 OK

Table 4.13 Pemeriksaan terhadap syarat simpangan antar lantai dalam arah Y
Tinggi tingkat xe x ijin
Tingkat S ijin
mm mm mm mm
Roof 2 2500 0,00138 0,00461 19,231 OK
Roof 1 4000 0,00191 0,00637 30,769 OK
Strory 7 4000 0,00280 0,00932 30,769 OK
Strory 6 4000 0,00345 0,01151 30,769 OK
Strory 5 4000 0,00394 0,01313 30,769 OK
Strory 4 4000 0,00393 0,01309 30,769 OK
Strory 3 4000 0,00405 0,01351 30,769 OK
Strory 2 5000 0,00282 0,00940 38,462 OK

4.8 Analisa beban konstruksi atap baja

1. Data perencanaan (gambar terlampir) :

Kuda-kuda = WF 300x150x6,5x9

= WF 250x125x6x9

Juring = WF 300x150x6,5x9

Gording = CNP 150x50x20x2,3

Kolom Pendek = WF 300x150x6,5x9

Type Atap = Limas

Genteng tegola = 45 kg/m


99

Bentang Kuda-kuda =18 m

Jarak Kuda-kuda = 4,50 m

Jarak Antar Gording = 1,00 m

Sudut miring Atas = 45

2. Analisa beban

Table 4.14 Berat Kuda-kuda atap baja


Panjang Berat
No Uraian Jumlah Volume
(m) (kg/m)
A. Kuda-kuda
1 WF 300.150.6,5.9 14,307 4 36,7 2100,267
2 WF 250x125x6x9 7,556 8 29,6 1789,260
3 WF 250x125x6x9 9,548 4 29,6 1130,483
B. Juring
3 WF 300.150.6,5.9 16,736 4 36,7 2456,844
C. Gording
4 CNP 150.50.20.2,3 104,271 4 4,96 2068,736
Jumlah 9545,593
Total berat kuda-kuda atap baja :

a. Berat sendiri konstruksi = 9545,593 kg

b. Penutup atap = ( x 19,56 x 16,736) x 4 x 35 = 22914,93 kg +

Jumlah = 32260,52 kg

c. Beban mati tambahan

Berat plafond dan penggantung = 19 kg/m2

Berat Mechanical, Electrical = 50 kg/m2 +

Jumlah = 69 kg/m2

Dengan luas plafon 18 x 18 m = 324 m2 x

Jumlah = 22356 kg

Jadi jumlah berat atap dan beban mati tambahan untuk atap baja yang

dipikul oleh kolom adalah 32260,52 kg + 22356 kg = 54616,52 kg


100

4.9 Perhitungan desain balok

Perhitungan balok induk diambil balok B-1 dengan dimensi 40x80 cm

bentang 10,0 m sebagai contoh perhitungan, dan balok induk lainnya

dilakukan dengan perhitungan yang sama yang kemudian disajikan dalam

tabel.

Data perencanaan :

fc' = 35 Mpa p = 22 mm

fy Ulir = 400 Mpa s = 10 mm

fy Polos = 240 Mpa d = 40 mm

h = 800 mm = 0,8 (SNI 2847 Ps 10.2.7.3)

b = 400 mm l = 10000 mm

dimensi kolom K1 :

bk = 500 mm

hk = 800 mm

Fak. Reduksi = 0,9 ( SNI 2847 2013 Ps 9.3.2.1 hal.67)

Tinggi efektif balok (d) = h d s p

= 800 40 10 . 22

= 739 mm

Bentang bersih balok (ln) = l (2 x bk)

= 10000 (2 x 500)

= 9500 mm

Perencanaan desain balok induk dihitung menggunakan momen

output hasil analisis kombinasi beban dari aplikasi ETABS, berikut adalah

tabel resume momen desain balok :


101

Table 4.15 Resume momen balok B-1


Beban Lokasi Momen (kNm)
Tumpuan -427,0391
1,4D
Lapangan 246,4244
Tumpuan -533,5426
1,2D+1,6L
Lapangan 314,1646
Tumpuan -560,2074
1,312D + 1L + 1,3Ex + 0,39Ey
Lapangan 298,4685
Tumpuan -560,2074
1,312D + 1L - 1,3Ex - 0,39Ey
Lapangan 298,4685
Tumpuan -725,9917
1,312D + 1L + 1,3Ey + 0,39Ex
Lapangan 522,6866
Tumpuan -725,9917
1,312D + 1L -1,3Ey - 0,39Ex
Lapangan 522,6866
Tumpuan -587,9254
0,788D + 1,3Ey + 0,39Ex
Lapangan 542,9523
Tumpuan -334,9386
0,788D + 1,3Ex + 0,39Ey
Lapangan 214,8553
Tumpuan -587,9254
0,788D -1,3Ey - 0,39Ex
Lapangan 542,9523
Tumpuan -334,9386
0,788D - 1,3Ex - 0,39Ey
Lapangan 214,8553

Momen tumpuan maksimum = -725,9917 kNm

Momen lapangan maksimum = 542,9523 kNm

4.9.1 Persyaratan SRPMM

Komponen struktur rangka momen menengah harus

memenuhi persyaratan berikut : (SNI 2847-2013 pasal 21.3)

1. Pu Ag fc /10

Pu = 118,2 ((400 x 800) x 35)/10

Pu = 118,2 N 1120000 N ...OK


102

4.9.2 Perhitungan Penulangan Longitudinal Tumpuan

Mu- = 725,9917 kNm

Rn =
. .

, .
= , . .

= 3,693 Mpa

m = , .

=
, .

= 13,445

. .
= 1 1

. , . ,
= ,
1 1

= 0,010

Asperlu = min . b . d

= 0,010 . 400 . 739

= 2923,222 mm2

n =
.

2923,222
=
.

= 7,694 ~ 8 batang tulangan

Asada = . . . tulangan2

= 8 . . 3,14 . 222

= 3039,520 mm2
103

Jumlah tulangan longitudinal pada balok dikontrol dengan

memperhatikan batasan minimal dan maksimal tulangan longitudinal

sebagai berikut :

. . . .
Asmin (1) = =
. .

= 1092,996 mm2

tetapi tidak boleh kurang dari :

, . . , . .
Asmin (2) = =

= 1034,6 mm2

Asmax = 0,025 . b . d

= 0,025 . 400 . 739

= 7390,00 mm2

Periksa persyaratan As :

Asmin < Asada < Asmax

1092,996 mm2 < 3039,520 mm2 < 7390,00 mm2

Periksa syarat Mn :

. , .
= = = 100,169 mm
, . . , . .

100,169
c = = = 125,211 mm
,

t = . 0,003

125,211
= . 0,003
125,211

= 0,014 0,005 penampang terkendali tarik Pasal 10.3.4

sehingga, = 0,9
104

Mn = . ( )

,
= 0,9 . 3039,520 . 400 (739 )

= 754133179,5 Nmm

= 754,133 kNm > Mu = 725,9917 kNm OK

Jadi digunakan tulangan 8D22, As = 3039,520 mm2

Menurut SNI 2847 2013 pasal 21.3.4.1, kuat lentur positif

komponen struktur lentur pada muka kolom tidak boleh lebih kecil

dari sepertiga kuat lentur negatifnya.

1 3

= 1/3 . 754,133 kNm

= 251,378 kNm

As = 0,5 As

= 0,5 . 3039,520

= 1519,760 mm2

digunakan tulangan 5D22, As = 1899,700 mm2

Periksa syarat Mn :

. 1899,700 .
= = = 63,855 mm
, . . , . .

63,855
c = = = 79,819 mm
,

t = . 0,003

79,819
= . 0,003
79,819

= 0,024 0,005(penampang terkendali tarik Pasal 10.3.4 (=0,9))


105

Mn = . ( )

,
= 0,9 . 1899,7 . 400 (739 )

= 483561226,2 Nmm

= 483,561 kNm > Mu = 279,068 kNm OK

4.9.3 Perhitungan Penulangan Longitudinal Lapangan

Menurut SNI 2847 2013 pasal 21.3.4.1, kekuatan momen

negatif atau positif pada sebarang penampang sepanjang panjang balok

tidak boleh kurang dari seperlima kekuatan momen maksimum yang

disediakan pada muka salah satu joint. Kuat lentur terbesar disediakan

konfigurasi penulangan untuk momen negatif.

Mn = 754,133 kNm

1 = 1 5. 754,133 = 150,827 kNm


5 Mn

Diketahui dari hasil analisa Etabs :

Mu = 542,9523 kNm Mn = 150,827 kNm

Digunakan Mu+ = 542,9523 kNm

Rn =
. .

, .
=
, . .

= 2,762 Mpa

m =
, .

=
, .

= 13,445
106

. .
= 1 1

. , . ,
= ,
1 1

= 0,007

Asperlu = min . b . d

= 0,007 . 40 . 739

= 2145,561 mm2

Periksa persyaratan As :

Asmin < Asada < Asmax

1092,996 mm2 < 2145,561 mm2 < 7390,00 mm2

Jadi As perlu yang digunakan adalah Asada

,
n =
.

,
=
.

= 5,647 ~ 6 batang tulangan

Asada = . . . tulangan2

= 6 . . 3,14 . 222

= 2279,640 mm2

Digunakan tulangan 6D22, Asada = 2279,640 mm2

Periksa syarat Mn :

. , .
= = = 76,627 mm
, . . , . .

,
c = = = 95,783 mm
,
107

,
t = . 0,003
,

,
= . 0,003
,

= 0,020 0,005 penampang terkendali tarik Pasal 10.3.4


sehingga, = 0,9

Mn = . ( )

,
= 0,9 . 2279,640. 400 (739 )

= 575032670,2 Nmm

= 575,033 kNm > Mu = 542,9523 kNm OK

Menurut SNI 2847 2013 pasal 21.3.4.1, kuat lentur positif

komponen struktur lentur pada muka kolom tidak boleh lebih kecil

dari sepertiga kuat lentur negatifnya.

1 3

= 1/3 . 575,033 kNm

= 191,678 kNm

As = 0,5 As

= 0,5 . 2279,640

= 1139,82 mm2

n =
.

,
=
.

= 3 ~ 4 batang tulangan
108

Asada = . . . tulangan2

= 4 . . 3,14 . 222

= 1519,76 mm2

Digunakan tulangan 4D22, Asada = 1519,76 mm2

Periksa syarat Mn :

. , .
= = = 51,084 mm
, . . , . .

,
c = = = 63,855 mm
,

t = . 0,003

,
= . 0,003
,

= 0,032 0,005 penampang terkendali tarik Pasal 10.3.4

sehingga, = 0,9

Mn = . ( )

,
= 0,9 . 1519,76 . 400 (739 )

= 390342574,8 Nmm

= 390,342 kNm > Mu = 191,678 kNm OK

4.9.4 Perhitungan Penulangan Transversal

1. Tulangan transversal tumpuan

Berdasarkan analisis dari ETABS, gaya geser rencana :

Vu = 372,8615 kN Fy = 240 Mpa

d = 739 mm

= 0,75 (geser dan torsi)


109

Kekuatan geser beton berdasarkan SNI-2847-2013 Pasal

11.2.1.1 adalah :

Vc = 0,17

= 0,17. 1,0 . 35 .400 .739

= 297294,841 N = 297,295 kN

Vc = 0,75 . 297,295

= 222,971 kN

karena Vu = 372,8615 kN > Vc = 222,971 kN perlu tulangann geser


Vs =
,

, ,
=
,

= 199,854 kN

Vsmax = .

= 35 400 . 739

= 1165862,123 N = 1165,862 kN

Vs = 199,854 kN < Vsmax = 1165,862 kN

dicoba sengkang 310

Av = 3 . .

,
= 3 . . 10 = 235,5 mm2

. .
s =

, . .
=

= 208,994 mm
110

Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 21.3.4.2, spasi sengkang tidak

boleh melebihi yang terkecil dari :

a. = = 207,25 mm

b. 8 x p = 8 x 22 = 176 mm

c. 24 x Ds = 24 x 10 = 240 mm

d. 300 mm

Avmin = 0,062


= 0,06235

= 61,133 mm2

Sehingga Avmin = 61,133 mm2 < Avpasang = 235,5 mm2

Maka dipasang tulangan sengkang 310 - 100 pada tumpuan

2. Tulangan transversal lapangan

Berdasarkan analisis Etabs, gaya geser rencana :

Vu = 346,811 kN Fy = 240 Mpa

d = 829 mm

= 0,75 (geser dan torsi)

Kekuatan geser beton berdasarkan SNI-2847-2013 Pasal

11.2.1.1 adalah :

Vc = 0,17

= 0,17. 1,0 . 35 .400 .739

= 297294,841 N

= 297,295 kN
111

Vc = 0,75 . 297,295

= 222,971 kN

karena Vu = 346,811 kN > Vc = 222,971 kN perlu tulangann geser


Vs =
,

, ,
=
,

= 165,12 kN

Vsmax = .

= 35 400 .739

= 1165862,123 N = 1165,862 kN

Vs = 165,12 kN < Vsmax = 1165,862 kN

dicoba sengkang 210

Av = 2 . .

,
= 2 . . 10 = 157 mm2

. .
s =

. .
=

= 168,63 mm

Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 21.3.4.2, spasi sengkang tidak

boleh melebihi yang terkecil dari :

a. = = 207,25 mm

b. 8 x p = 8 x 22 = 176 mm

c. 24 x Ds = 24 x 10 = 240 mm dan 300 mm


112


Avmin = 0,062


= 0,06235

= 91,699 mm2

Sehingga Avmin = 91,699 mm2 < Avpasang = 235,5 mm2

Maka dipasang tulangan sengkang 310 - 150 pada lapangan

Catatan :

1. Jika jarak tulangan atas dan tulangan bawah (tulangan pokok) di bagian

samping lebih dari 30 cm maka harus dipasang tulangan ekstra (montage).

2. Tulangan ekstra (montage) untuk balok tinggi (h 90 cm) luasnya minimal

10% luas tulangan pokok tarik yang terbesar dengan diameter minimal 8 mm

untuk baja lunak dan 6 mm untuk baja keras.


113

4.9.5 Rekapitulasi penulangan balok B1

Table 4.16 Rekapitulasi penulangan balok B1

Bentang Mu Rn As perlu As min (1) As max As ada As' perlu As' ada
Type Kondisi m perlu Tulangan Tulangan Sengkang
(m) (kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)

B1 Tumpuan 725,991 3,693 13,445 0,010 2923,222 1092,996 7390,000 8 D22 3039,520 1519,760 5 D22 1899,700 310-100
10,00
40/80 Lapangan 542,952 2,762 13,445 0,007 2145,561 1092,996 7390,000 6 D22 2279,640 1139,820 4 D22 1519,760 210-150

Table 4.7 Tabel detail formasi penulangan balok melintang


Posisi Tumpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 40/80
Bentang (m) 10,0
Tulangan atas 8 D22 4 D22
Tulangan samping 4 D13 4 D13
Tulangan bawah 5 D22 6 D22
Sengkang 310 - 100 210 - 150
114

Gambar 4.11 Detail penulangan balok B1 (40/80) bentang 10,0 m


115

Table 4.17 Resume penulangan balok memanjang

Bentang Mu Rn As perlu As min (1) As max As ada As' perlu As' ada
Type Kondisi m perlu Tulangan Tulangan Sengkang
(m) (kNm) (Mpa) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)

B1 Tumpuan 725,991 3,693 13,445 0,010 2923,222 1092,996 7390,000 8 D22 3039,520 1519,760 5 D22 1899,700 310-100
10,00
40/80 Lapangan 542,952 2,762 13,445 0,007 2145,561 1092,996 7390,000 6 D22 2279,640 1139,820 4 D22 1519,760 210-150
B2 Tumpuan 528,228 3,593 13,445 0,010 2454,732 945,094 6390,000 7 D22 2659,580 1329,790 5 D22 1899,700 310-100
8,00
40/70 Lapangan 243,914 1,241 13,445 0,003 936,793 1092,996 6390,000 5 D22 1899,700 759,880 3 D22 1139,820 210-150
BL Tumpuan 714,267 3,633 13,445 0,010 2872,462 1092,996 7390,000 8 D22 3039,520 1519,760 5 D22 1899,700 310-100
4,00
40/80 Lapangan 668,000 3,398 13,445 0,009 2673,450 1092,996 7390,000 8 D22 3039,520 1519,760 5 D22 1899,700 210-150

Table 4.17 Resume penulangan balok memanjang


Bentang Mu Rn As perlu As min As max As ada As' perlu As' ada
Type Kondisi m perlu Tulangan Tulangan Sengkang
(m) (kNm) (Mpa) (mm2) (1)
(mm2) (mm2) (mm2) (mm2) (mm2)
B-2 Tumpuan 329,542 3,581 13,445 0,010 1810,039 699,484 4729,375 7 D19 1983,695 991,848 4 D22 1133,540 210-100
6,00
35/60 Lapangan 151,844 1,650 13,445 0,004 803,301 699,484 4729,375 4 D19 1133,540 566,770 3 D22 850,155 210-150
B3 Tumpuan 192,694 3,678 13,445 0,010 1301,262 488,631 3303,750 5 D19 1416,925 708,463 4 D22 1133,540 210-100
6,00
30/50 Lapangan 63,677 1,215 13,445 0,003 410,102 488,631 3303,750 4 D19 1133,540 425,078 3 D22 850,155 210-150
B4 Tumpuan 147,426 3,377 13,445 0,009 989,431 407,193 2753,125 5 D19 1416,925 566,770 3 D22 850,155 210-100
6,00
25/50 Lapangan 91,518 2,096 13,445 0,005 599,014 407,193 1431,805 4 D19 1133,540 759,880 3 D22 850,155 210-150
B-1 Tumpuan 48,894 1,874 13,445 0,005 412,302 314,754 1431,805 4 D22 1133,540 759,880 3 D22 850,155 210-100
4,00
25/40 Lapangan 15,577 0,597 13,445 0,002 128,379 314,754 1431,805 4 D22 1133,540 759,880 3 D22 850,155 210-150
116

4.9.6 Penulangan balok

Table 4.7 Tabel detail formasi penulangan balok melintang


Tipe Balok B1 B2 BL
Posisi Tumpuan Lapangan Tumpuan Lapangan Tumpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 40/80 40/70 40/80


Bentang (m) 10,0 8,0 4,0
Tulangan atas 8 D22 4 D22 7 D22 3 D22 8 D22 5 D22
Tulangan samping 4 D13 4 D13 2 D13 2 D13 4 D13 4 D13
Tulangan bawah 5 D22 6 D22 5 D22 5 D22 5 D22 8 D22
Sengkang 310 - 100 210 - 150 310 - 100 210 - 150 310 - 100 310 - 150

Table 4.8 Tabel detail formasi penulangan balok memanjang


Tipe Balok B-2 B3
Posisi Tumpuan Lapangan Tummpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 35/60 30/50


Bentang (m) 6,0 6,0
Tulangan atas 7 D19 3 D19 5 D19 4 D19
Tulangan samping 2 D13 2 D13 2 D13 2 D13
Tulangan bawah 4 D19 4 D19 4 D19 3 D19
Sengkang 210 - 100 210 - 150 210 - 100 210 - 150
117

Table 4.8 Lanjutan


Tipe Balok B4 B-1
Posisi Tumpuan Lapangan Tumpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 25/50 25/40


Bentang (m) 6,0 4,0
Tulangan atas 5 D19 3 D19 4 D19 3 D19
Tulangan samping 2 D13 2 D13 2 D13 2 D13
Tulangan bawah 3 D19 4 D19 3 D19 4 D19
Sengkang 210 - 100 210 - 150 210 - 100 210 - 150
118

Gambar 4.12 Detail penulangan balok B2 (40/70) bentang 8,0 m

Gambar 4.13 Detail penulangan balok BL (40/80) bentang 4,0 m


119

Gambar 4.14 Detail penulangan balok B-2 (35/60) bentang 6,0 m

Gambar 4.15 Detail penulangan balok B3 (30/50) bentang 6,0 m


120

Gambar 4.16 Detail penulangan balok B3 (25/50) bentang 6,0 m

Gambar 4.17 Detail penulangan balok B-1 (25/40) bentang 4,0 m


121

4.10 Perhitungan desain kolom

Perhitungan kolom diambil kolom K1 dengan dimensi 50x80 cm

sebagai contoh perhitungan, dan kolom lainnya dilakukan dengan

perhitungan yang sama yang kemudian disajikan dalam tabel.

Data perencanaan :

fc' = 35 Mpa p = 22 mm

fy Ulir = 400 Mpa s = 12 mm

fySengkang = 240 Mpa d = 50 mm

Es = 200000 Mpa = 0,8 (SNI 2847 Ps 10.2.7.3)

Lu = 5000 mm = 0,65 (SNI 2847 Ps 93.2.2 (b))

Dimensi kolom K1 : Dimensi balok B1 :

bk = 500 mm bb = 400 mm

hk = 800 mm hb = 800 mm

Faktor reduksi = 0,65 ( SNI 2847 2013 Ps 9.3.2.1 hal.67)

Tinggi efektif kolom (d) = h d s p

= 800 50 12 . 22

= 727 mm

Modulus elastisitas beton = 4700 fc

= 4700 35

= 27805,575 Mpa

Perencanaan desain kolom dihitung menggunakan gaya aksial dan

momen output hasil analisis kombinasi beban dari aplikasi ETABS, berikut

adalah tabel resume momen desain kolom K1 :


122

Tabel 4.9 Resume momen kolom K1


Beban Pu (kN) Momen (kNm)
1,4D 3958,9459 -227,9948
1,2D+1,6L 4925,9692 -295,4944
1,312D + 1L + 1,3Ex + 0,39Ey 4933,4717 -333,8252
1,312D + 1L - 1,3Ex - 0,39Ey 4933,4717 -333,8252
1,312D + 1L + 1,3Ey + 0,39Ex 4774,9282 -747,6574
1,312D + 1L -1,3Ey - 0,39Ex 4774,9282 -747,6574
0,788D + 1,3Ey + 0,39Ex 2335,2845 -745,1367
0,788D + 1,3Ex + 0,39Ey 2493,8279 303,3344
0,788D -1,3Ey - 0,39Ex 2335,2845 747,8256
0,788D - 1,3Ex - 0,39Ey 2493,8279 303,3344

Momen maksimum (Mu) = 747,8256 kNm

Aksial maksimum (Pu) = 4933,4717 kN

4.10.1 Persyaratan SRPMM

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh kolom pada struktur

rangka momen menengah sesuai SNI 2847-2013 pasal 21.3.5 hal. 181,

sebagai berikut :

Pu > Ag fc /10

Pu = 4933,472 > ((500 x 800) x 35)/10

Pu = 4933,472 > 1400000 N

Pu = 4933,472 > 1400, kN

Bila gaya desain harus diperbesar untuk memperhitungkan

kekuatan lebih elemen vertikal sistem penahan gaya gempa, maka batas

Ag.fc/10 harus ditingkatkan menjadi Ag.fc/4.

Pu > Ag fc /4

Pu = 4933,472 > ((500 x 800) x 35)/4

Pu = 4933,472 > 3500000 N

Pu = 4933,472 > 3500 kN


123

4.10.2 Pengaruh kelangsingan kolom

Menurut SNI 2847-2013 pasal 10.10.1 hal 78, pengaruh

kelangsingan kolom untuk komponen struktur tekan yang di-bresing

terhadap goyangan menyamping :

.
34 - 22 (M1/M2) 40

Untuk memperoleh nilai panjang efektif (k), diperlukan nilai

faktor kekangan ujung kolom yang ditinjau, yaitu kekangan ujung atas

A dan ujung bawah B yang ditentukan dengan persamaan berikut :

4.10.3 Perhitungan tulangan longitudinal kolom

1. Analisis penampang kolom (500 x 800)

Ig = . .

= . 500 . 8003

= 2,133 x 1010 mm4

, . .
EI =

, . , . 2,133 x 1010
=
,

= 1,582 x 1014 mm4

2. Analisis penampang balok (400 x 800)

Ig = . .

= . 400 . 8003

= 1,707 x 1010 mm4


124

, . .
EI =

, . , . , x 1010
=
,

= 1,265 x 1014 mm4

3. Analisis penampang balok (400 x 700)

Ig = . .

= . 400 . 7003

= 1,143 x 1010 mm4

, . .
EI =

, . , . , x 1010
=
,

= 84,776 x 1012 mm4

4. Analisis penampang kolom (400 x 600)

Ig = . .

= . 400 . 6003

= 7,2 x 109 mm4

, . .
EI =

, . , . 7,2 x 109
=
,

= 53,387 x 1012 mm4

5. Analisis penampang balok (350 x 600)

Ig = . .
125

= . 350 . 6003

= 6,3 x 109 mm4

, . .
EI =

, . , . , x 109
=
,

= 46,713 x 1012 mm4

6. Faktor kekangan ujung yang terjadi pada kolom


A =

27805,575 . 1,582 x 1014 27805,575 . 53,387 x 1012



5000 4000
= 27805,575 . 1,265 x 1014 27805,575 . 84,776 x 1012 27805,575 . 46,713 x 1012

10000 8000 6000

= 1,618

B = 0 (tumpuan jepit)

Dari grafik monogram panjang efektif kolom (k) dengan pengaku pada

SNI 2847 2013 pasal 10.10.7.2 hal. 83, diperoleh faktor k = 1,22
126

7. Menentukan angka kelangsingan kolom

r = 0,3 . h = 0,3 . 800 = 240 mm

lu = Lk hb = 5000 800 = 4200 mm

.
34 - 22 (M1/M2) 40

, .
34 - 22 (358,8132/747,8256) 40

20,842 28,242 40 OK (kolom pendek/tidak langsing)

8. Eksentrisitas

e =

,
=
.

= 0,151 m

= 151,582 mm

9. Kontrol luas tulangan

Ast tidak boleh < 1% Ag atau > 6% Ag (SNI 2847- pasal 21.6.3 hal.191)

Astmin = 0,01 Ag

= 0,01 x (500 x 800)

= 4000 mm2

Astmax = 0,06 Ag

= 0,06 x (500 x 800)

= 19200 mm2
127

10. As direncanakan

Direncanakan pakai tulangan 20 D22

Asada = 20 . .

= 20 . . 22

= 7602,654 mm2

Astmin = 4000 mm2 < Asada = 7602,654 mm2 < Astmax = = 19200 mm2

11. Perhitungan Pnb pendekatan

s = 0,003 (regangan max. beton kondisi seimbang)

y =

= 2 x 10-3

s > y fs = fy

fs = 400 Mpa
s
cb = .d
s + y

0,003
= . 727
0,003 + 0,002

= 436,2 mm

ab = 1 . cb

= 0,8 . 436,2

= 348,96 mm

Pnb = 0,85 . fc . ab . bk

= 0,85 . 35 . 348,96. 500

= 5190780 N = 5190,780 kN
128

Pnperlu =

4933,472
=
,

= 7589,958 kN > Pnd = 5190,780 kN (keruntuhan tekan)

12. Pola keruntuhan tekan (menggunakan pendekatan Whitney)

. . .
Pn = + . .
, ,

7602,654 . . .
= 151,582 + . . 151,582
, ,

= 9610901,225 N = 9610,901 kN

Pr = . Pn

= 0,65 . 9610,901

= 6247,086 kN > Pu = 4933.4717 OK

Dengan demikian penampang tersebut cukup kuat untuk memikul

beban yang diberikan. Hasil yang diperoleh diatas Pn = 6247,086 kN

sudah lebih besar dari nilai Pu = 4933,472 yang dipikul kolom dengan

dimensi 50X80 cm dan tulangan 20 D22.

4.10.4 Perhitungan tulangan transversal kolom

Pu = 4933.4717 kN Fy = 240 Mpa

Vu = 225,3248 kNm

= 0,75 (SNI 2847-2013 Ps 9.3.2.3)

1. Pengecekan tulangan


Vc = 1+ .
. . .

,
= 1+ .
. . 500 . 727
129

= 359718,472 N

= 359,718 kN

Vc = 0,75 . 359,718

= 269,789 kN > Vu = 225,324 kN (tulangan geser minimum)

0,5 Vc = 0,5 . 269,789

= 134,894 kN < Vu = 225,324 kN (tulangan geser minimum)

2. Tulangan daerah plastis (lo)

Berdasarkan SNI 2847-2013 Ps 21.3.5.2 panjang (lo) tidak boleh kurang

dari yang terbesar dari :

a. 1/6 . Lu = 1/6 . 4200 = 700 mm

b. h kolom = 800 mm

c. 450 mm = 450 mm

Berdasarkan SNI 2847-2013 Ps 21.3.5.2 spasi (so) tidak boleh melebihi

yang terkecil dari :

a. 8 . Dp = 8 . 22 = 176 mm

b. 24 . s = 24 . 10 = 240 mm

c. 0,5 . bk = 0,5 . 500 = 250 mm

d. 300 mm = 300 mm

Dicoba memakai tulanga sengkang 512 150 :

Av = 5 . . s2

,
= 5. . 122

= 565,487 mm2
.
Avmin1 = 0,062 .

.
= 0,062 . 35
130

= 114,624 mm2 < Av = 565,487 mm2 OK

Avmin2 = (0,35 . bw . s) / fyt

= (0,35 . 500 . 100) / 240

= 109,375 mm2 OK

Jadi tulangan sengkang yang dipakai 512 150 dipasang

sepanjang 800 mm dari permukaan hubungan balok kolom.

3. Tulangan daerah luas plastis (>lo)

Vs =

225,3248
= = 300,433 kN
,

Vc = 1+ .
. . .

,
= 1+ .
. . 500. 728,5

= 359471,751 N

= 359,472 kN > Vs = 300,433 kN

Karena Vc > Vs untuk batang diluar lo, sengkang tidak dibutuhkan

untuk geser tapi hanya untuk confinement.

Berdasarkan SNI 2847-2013 Ps 11.4.5.1 spasi (so) yang berada diluar

sendi plastis (lo) tidak boleh melebihi :

a. d/2 = 728,5/2 = 364,75 mm

b. 600 mm

Jadi tulangan sengkang yang dipakai 512 200 dipasang

sepanjang lebih dari 800 mm dari permukaan hubungan balok kolom.


131

4.10.5 Persyaratan Strong Culomn Weak Beam

(1,2) (SNI 03-2847-2013 Ps 21.6.2.2)

a. Momen pada kolom

Dari hasil analisa menggunakan PCA COL besarnya Mn kolom K1

adalah 1011,50 kNm

1011,50 1011,50
=
,

= 3112,308 kNm

b. Momen pada balok

Momen pada balok diperoleh dari analisa menggunakan ETABS yaitu:

i. Balok B1 (50x80) lantai 1

Mn = 752,736 kNm

ii. Balok B2 (40x70) lantai 1

Mn = 569,013 kNm

iii. Balok B-2 (35x60) lantai 1

Mn = 350,471 kNm

752,736 569,013 350,471


=
,

= 1858,022 kNm

(1,2)

3112,308 1,2 . 1858,022

3112,308 kNm 2229,626 kNm Strong Column Weak Beam OK


132

4.10.6 Kontrol kebutuhan penulangan torsi kolom

Bedasarkan SNI 03-2847-2013 pasal 11.5.1 pengaruh puntir

untuk struktur non-prategang yang dibebani tarik atau tekan aksial

dapat di abaikan bila nilai momen puntir kurang dari :

Tu < . 0,083 1+
, . .

( . )
25782408 < 0,75 . 0,08335 .( )
1+ , . .

25782408 Nmm < 61305739,474 Nmm

Berdasarkan hasil diatas maka tulangan torsi diabaikan.

4.10.7 Pengecekan dengan diagram interaksi (PCA COL)

a. Data input :

a. General information

Unit = Metric

Desaign = ACI 318-02

Run Axis = About X-Axis

Run Option = Investigations

b. Material properties

Strength (F'c) = 35 Mpa

Elasticity (Ec) = 27805,6 Mpa

Strength (Fy) = 400 Mpa

Elasticity (Es) = 200000 Mpa

c. Rectangular section

Width (Along X) = 500 mm

Depth (Along Y) = 800 mm


133

d. Rainforcement Equal spacing

No. of bar = 20

Bar size = #7 (ASTM A615 = 22,225 mm)

Clear cover = 50 mm (Transverse bar)

e. Loads factored loads

i. Load (P) = 4933,4717 kN


X Moment (M) = 747,8256 kNm
ii. Load (P) = 4189,3793 kN
X Moment (M) = 436,0928 kNm
iii. Load (P) = 3465,2539 kN
X Moment (M) = 374,0699 kNm

b. Output diagram interaksi kolom K1 (50x80)


P ( kN)
(Pmax) (Pmax)

9000

fs=0 7000 fs=0

fs=0.5fy fs=0.5fy
5000
1

3
3000

1000

-1400 -1000 -600 -200 200 600 1000 1400


-1000 M x ( k N m)

(Pmin) -3000 (Pmin)

Gambar 4.18 Diagram interaksi kolom K1 (50x80) cm


134

Tabel 4.10 Detail formasi penulangan kolom K1 (50x80) cm


Tipe Kolom K1
Posisi Tumpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 50x80
Panjang (m) 5,0
Tulangan utama 20 D22 20 D22
Sengkang 512 75 512 - 200
135

Tabel 4.11 Resume penulangan kolom


k.lu/r 34 -
Tinggi kolom Pu Mu r Pn perlu Ast
Type Kondisi A B K 12(M1/M2) Tulangan Sengkang Torsi
(m) (kN) (kNm) (mm) (kN) (mm2)
40
K1 Tumpuan 512 - 150
5,00 4933,472 747,8256 1,618 0 1,22 240 20,842 6235,988 7602,654 20 D22 NOT
(50x80) Lapangan 512 - 200
K2 Tumpuan 412 - 150
4,00 2734,308 321,9719 1,449 0,430 1,25 180 22,222 3606,553 4536,46 16 D19 NOT
(40x60) Lapangan 412 - 200

Tabel 4.12 Detail formasi penulangan kolom


Tipe Kolom K1 K2
Posisi Tumpuan Lapangan Tumpuan Lapangan

Gambar

Dimensi 50x80 40x60


Panjang (m) 5,0 4,0
Tulangan utama 20 D22 20 D22 16 D19 16 D19
Sengkang 512 75 512 200 412 - 150 412 - 200
136

Gambar 4.20 Detail penulangan


Kolom K2 (40x60) cm

Gambar 4.19 Detail penulangan


Kolom K1 (50x80) cm
137
P ( kN)
6000
(Pmax) (Pmax)

fs=0 fs=0
4000

fs=0.5fy fs=0.5fy
1

2000 2

-600 -400 -200 0 200 400 600

M x ( k N m)

(Pmin) (Pmin)
-2000

Gambar 4.21 Diagram interaksi kolom K2 (40x60) cm


138

4.11 Perhitungan desain dinding geser

Perhitungan dinding geser dengan dimensi panjang dinding geser

2,36 m, tinggi 31,5 dan tebal 30 cm serta dimensi kolom 60x80 cm.

Gambar 4.22 Ilustrasi dimensi dinding geser

Data perencanaan :

fc = 40 Mpa p = 22 mm

fy = 400 Mpa s1 = 16 mm

Es = 200000 Mpa s2 = 13 mm

= 0,6 (SNI 2847-3013 Ps 9.3.4 hal: 69)

Perencanaan gaya aksial, momen dan gaya geser berdasarkan hasil output

dari ETABS adalah sebagai berikut :

Pu = 9846,3922 kN

Mu = 33861,395 kNm

Vu = 3948,3377 kN
139

1. Periksa kebutuhan dua layer tulangan

Vc = 0,17 . (SNI 2847-2013 Ps. 21.9.2.2)

= 0,17. 1,0 . 35 .2360 .400

= 949412,484 N

= 949,412 kN

Vc = 949,412 kN < Vu = 3948,3377 kN (dual layer tulangan)

Kuat geser maksimum

Vmax = 0,83 . (SNI 2847-2013 Ps. 21.9.4.4)

= 0,83 . 1,0 . 35 . 2360 . 400

= 4635366,832 N

= 4635,367 kN > Vu = 3948,3377 kN (OK)

2. Kebutuhan tulangan horizontal dan vertikal

Menurut SNI 2847-2013 pasal 21.9.2.1 rasio distribusi tulangan

minimum 0,0025 dan spasi maksimum 45 cm.

Luas dinding geser/ mater panjang :

= 0,4 x 1 = 0,4 m2

Per meter minimal harus ada tulangan sebesar :

= 0,4 x 0,0025 = 0,001 m2 = 1000 mm2

Digunakan tulangan 2 D22

As = 2 . .

= 2 . . 22 = 760,265 mm2

Karena digunakan dual layer, maka jumlah pasangan tulangan yang di

perlukan adalah:
140


= ,

= 1,315 ~ 2 Pasang

s =

= 500 mm

Tidak memenuhi syarat batas spasi maksimum, spasi harus diperkecil

dan tidak boleh melebihi 45 cm, jadi diambil spasi 18,5 cm, maka :


n =

= 12,757 ~ 13 buah

Asada = 13 .

= 13 . 760,265

= 9883,445 mm2
,
t =

= 0,0105 > min = 0,0025 (SNI 2847-2013 Ps. 14.3.3(b))

Asumsi kita gunakan konfigurasi tulangan di point 14.11.1.2,

yaitu dual layer D22 mm, tapi dengan spasi tulangan 18,5 cm.

Kuat geser shearwall:

Vn = ( . . + . (SNI 2847-2013 Ps. 21.9.4.1)

Dimana :
,
= ,

= 13,347
141

= 0,17 untuk 2 (SNI 2847-2013 Ps. 21.9.4.1)

Vn = ( . . + .

= 400.2360 . 0,17. 1,0. 35 + 0,0105 . 400

= 4914212,484 N

= 4914,212 kN > Vu = 3948,3377 kN OK

3. Pengecekan kebutuhan tulangan untuk kombinasi aksial dan lentur.

Data input :

a. General information

Unit = Metric

Desaign = ACI 318-02

Run Axis = About X-Axis

Run Option = Investigations

b. Material properties

Strength (F'c) = 40 Mpa

Elasticity (Ec) = 29725,4 Mpa

Strength (Fy) = 400 Mpa

Elasticity (Es) = 200000 Mpa

c. Section irregular

d. Rainforcement iregular

Bar size = #7 (ASTM A615 = 22,225 mm)

= #8 (ASTM A615 = 25,4 mm)

Clear cover = 50 mm (Transverse bar)


142

e. Loads factored loads

iv. Load (P) = 9846,3922 kN


X Moment (M) = 33861,395 kNm
f. Output diagram interaksi

P ( kN)
(Pmax) (Pmax)
50000

fs=0 fs=0

fs=0.5fy fs=0.5fy

-45000 45000

M x ( k N m)

(Pmin) -15000 (Pmin)

Gambar 4.23 Diagram interaksi shearwall

4. Pengekang (confimnement) pada kolom

Menurut SNI 2847-2013 pasal 21.6.4.3 syarat spasi pengekan tidak

boleh melebihi yang terkecil dari :

a. panjang sisi terpendek = . 600 = 150 mm

b. 6 x diameter tulangan memanjang = 6 . 25 = 150 mm

c. 100 + = 100 + = 150 mm

d. Tidak boleh melebihi 150 mm dan tidak perlu diambil kurang dari

100 mm.
143

Diambil jarak pengekang D13 dengan jarak 100 mm.

Dengan demikian luas tulangan pengekang (confinement) yang

diperlukan berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 21.6.4.4 tidak boleh

kurang dari :

. .
Ash1 = 0,3 . 1

. . .
= 0,3 . 1

= 529,286 mm2

. .
Ash2 = 0,09 .

. .
= 0,09 .

= 427,5 mm2

Dari nilai tersebut diambil nilai yang terbesar yaitu ditetapkan Ash yang

dipakai adalah 529,286 mm2

Dicoba dengan menggunakan pengekang 5D13

Av = 5 . .

= 5 . . 13

=663,661 mm2 > Ash = 529,286 mm2 OK

Jadi dipakai pengekang pada kolom dinding geser 5D13 100 mm.

Sketsa penulangan dinding geser terlihat seperti pada Gambar 4.24 dan

Gambar 4.25.
144

Gambar 4.24 Sketsa penulangan kolom dinding geser

Gambar 4.25 Sketsa penulangan dinding geser