You are on page 1of 3

Pada praktikum imunohematologi dan bank darah ini dilakukan pemeriksaan golongan

darah ABO dan rhesus dimana pemeriksaan ini didasarkan pada reaksi antara antigen yang
terdapat pada sel darah dengan antibody pada serum/ plasma sehingga menunjukkan reaksi
aglutinasi. Reaksi antigen-antibodi terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama antigen bergabung
dengan antibodi, dan pada tahap kedua perubahan lebih lanjut terjadi sebagai hasil persatuan
yang mana ditunjukkan dengan terjadinya aglutinasi. Kondisi yang optimal pada tahap pertama
belum tentu sama seperti kondisi yang optimal untuk tahap kedua. Reaksi antibodi antigen
golongan darah biasanya ditunjukkan oleh aglutinasi di tahap kedua, karena pada tahap pertama,
berbagai kondisi tertentu terkadang dibutuhkan untuk menghasilkan aglutinasi di tahap kedua.
Hal ini mungkin diperlukan untuk menangguhkan sel dalam albumin, atau serum manusia, atau
mungkin perlu pencucian sel dan menambahkan pereaksi antiglobulin untuk menghasilkan
aglutinasi(F. Stration 2011).
Eritrosit adalah struktur kompleks yang mengandung banyak antigenik dengan komponen
khas. Ini ditandai dengan terdapatnya berbagai jenis golongan darah. Akibatnya, jika eritrosit
digunakan sebagai antigen, baik pada Manusia atau hewan, banyak antibodi yang berbeda dapat
diproduksi dan hal ini dapat dipisahkan satu sama lain dengan penyerapan dan berbagai cara
lainnya. Dalam proses Cell Grouping reaksi yang terjadi didasarkan pada antigen yang terdapat
di permukaan sel darah merah, dan antibodi terhadap antigen tersebut sehingga dapat ditentukan
golongan darah. Antigen adalah zat kimia yang kompleks zat yang pada umumnya merupakan
protein, meski banyak antigen non protein sudah diketahui. Terkadang proteinnya mungkin
sangat kompleks dan mungkin mengandung banyak antigen yang berbeda. Sedangkan Antibodi,
adalah protein yang terdapat dalam serum darah yang diproduksi sebagai hasil stimulus antigenik
yang bereaksi dengan antigen. Antigen dan antibodi bereaksi bersama secara khususnya (meski
tidak mutlak secara khusus, seperti yang akan terlihat nanti) untuk memberi hasil yang bisa
diamati, dan reaksi yang bisa diamati akan terjadi sangat tergantung pada keadaan antigen atau
sifat dari antigen pada sel darah merah. Dalam kasus sel darah merah antigen dan antibodi yang
sesuai dengan hasil yang dapat diamati aglutinasi atau hemolisis eritrosit (F. Stration 2011).
Dalam praktikum ini suspensi sel darah merah disiapkan dalam konsentrasi 5%, 10% dan
40%. Menurut (Martin GL, 2014) Suspensi 2 persen sampai 5 persen merupakan konsentrasi
antigen optimal untuk aplikasi pemeriksaan laboratorium bank darah seperti ABO dan
crossmatching. Rasio atau perbandingan serum terhadap sel darah merah dapat mempengaruhi
sensitivitas tes aglutinasi. Suspensi sel darah merah 5% merupakan yang umum dalam banyak
prosedur serologis. Dalam praktik dilaboratorium suspensi yang dibuat tidak harus persis 5%;
kebanyakan prosedur uji menggunakan perkiraan untuk mencapai rasio sel-sel yang sesuai.
(Biswas, 2013).Proses pencucian sel darah merah dengan Saline berfungsi untuk menghilangkan
bekas plasma yang mungkin mengandung zat yang bisa mengganggu reaksi antigen-antibodi.
Dimana zat yang dimaksud termasuk antigen terlarut seperti A dan B, yang apabila zat tersebut
terdapat dalam sampel, dapat dapat menetralisir reagen; Mengganggu protein seperti jeli
Wharton, yang mungkin menyebabkannya agregasi sel darah merah secara nonspesifik; dan
substansi lainnya yang menyebabkan rouleaux seperti globulin dan fibrinogen, yang apabila
terdapat dalam sampel menyebabkan reaksi nonspesifik dan kesalahan interpretasi.(Keith, 2014)
Pada pemeriksaan golongan darah dan rhesus ini dilakukan pada dua orang probandus.
Probandus pertama atas nama I Wayan Bagus Adigunawan, laki-laki umur 20 tahun dimana hasil
cell grouping pada bioplate yang diteteskan dengan reagen anti A, anti B dan suspense eritrosit
10%, tidak menunjukkan adanya aglutinasi sedangkan pada well yang diteteskan reagen anti D
dan suspense eritrosit 40% menunjukkan adanya aglutinasi dengan derajat aglutinasi (4+). Hal
ini menunjukkan bahwa pada sel darah merah probandus tidak mengandung antigen A dan
antigen B namun mengandung antigen D. Hasil serum grouping menunjukkan aglutinasi pada
well yang diteteskan dengan reagen Sel eri A 10% dan Sel eri B 10% yang kemudian diteteskan
serum dapat diamati derajat aglutinasi masing-masing well (3+) dimana hal ini menunjukkan
pada serum probandus terdapat antibodi terhadap antigen A dan antigen B. Sehingga dapat
diketahui bahwa probandus memiliki golongan darah O dengan rhesus positif (+).
Probandus kedua atas nama I Gusti Ngurah Gede Jaya Atmaja, laki-laki umur 20 tahun
diperoleh hasil cell grouping pada bioplate yang diteteskan dengan reagen anti A, anti B dan
suspense eritrosit 10%, menunjukkan adanya aglutinasi pada anti B dengan derajat (4+).
Aglutinasi juga ditunjukkan pada well yang diteteskan reagen anti D dan suspense eritrosit 40%
dengan nilai derajat aglutinasi 4+, sehingga dapat diketahui bahwa pada sel darah merah
probandus terdapat antigen B dan antigen D. Hasil serum grouping menunjukkan aglutinasi pada
well yang diteteskan dengan reagen Sel eri A 10% yang juga diteteskan serum dapat diamati
derajat aglutinasi well (3+) dimana hal ini menunjukkan pada serum probandus terdapat antibodi
terhadap antigen A. Sehingga dapat diketahui bahwa probandus memiliki golongan darah B
dengan rhesus positif (+). Sedangkan pada kedua tes, bovine albumin 22% yang ditambahkan
suspense sel dengan konsentrasi 40% menunjukkan hasil negative dimana reagent tersebut
berfungsi untuk meningkatkan reaktivitas antibodi dalam pemeriksaan golongan darah, baik
dalam tes aglutinasi langsung atau uji antiglobulin tidak langsung. Bovine albumin sering
digunakan sebagai kontrol untuk pemeriksaan Rhesus, untuk pengujian kompatibilitas, deteksi
antibodi, identifikasi dan titrasi. Bovine albumin juga berfungsi sebagai bahan pelapis
permukaan. Bovine albumin menstabilkan protein / antibody (Mitra 2008).
Seorang tenaga Medical Technologist (Lab) memiliki tanggung jawab untuk melakukan
pengelompokan ABO terhadap donor dan pasien. Medical Technologist (Lab) melakukan tes sel
darah merah dan tes serum lainnya. Jika terjadi ketidaksesuaian dalam pengelompokan sel dan
serum, semua tes harus diulang oleh Teknisi Medis yang sama (Lab) menggunakan reagen baru.
Jika ketidaksesuaian berlanjut, pengumpulan sampel harus diulang untuk mendapatkan hasil
yang benar. Hal ini merupakan tanggung jawab semua staf yang melakukan pengelompokan
ABO untuk memastikan bahwa pereaksi yang dikontrol dengan kualitas dan konsentrasi sel yang
digunakan tepat (Biswas 2013).

Biswas, Kamruzzaman. 2013. STANDARD OPERATING PROCEDURE FOR BLOOD


TRANSFUSION.
F. Stration. 2011. Practical Blood Grouping.
Mitra, J. 2008. JML Range of Blood Grouping... : 13.
Biswas, K. (2013). STANDARD OPERATING PROCEDURE FOR BLOOD TRANSFUSION.
Keith, M. H. and M. A. (2014). Journal of Blood Group Serology and Molecular Genetics V.
Journal of Blood Group Serology.