You are on page 1of 9

ALOI (LOGAM PADUAN)

OLEH:
BAGUS SAMRIHASBUGI (05)
BELLA FIRDAUZI NUZULA (06)
BELLA PUTRI EKASANDRA (08)
INGGRIT NINA ARDIANI (14)

SMK PUTRA INDONESIA MALANG


Jl. Barito No. 5, Malang-Jawa Timur
Apabila leburan dari dua macam atau lebih logam dicampur atau leburan suatu logam
dicampur dengan unsur-unsur nonlogam kemudian campuran yang terjadi didinginkan maka
akan diperoleh suatu padatan. Padatan tersebut mungkin merupakan suatu senyawa ionik,
campuran sederhana, atau aloi (alloy). Logam dan paduannya adalah salah satu matrial teknik
yang porsinya paling banyak diperlukan dalam kehidupan. Jika diperhatikan komponen mesin,
maka sekitar 80% dan bahkan lebih terbuat dari logam. Selebihnya digunakan material non
logam seperti keramik, glass, polimer dan bahkan material maju seperti komposit. Alasan adanya
penggunaan logam paduan lebih banyak dari bahan lain atau logam murni adalah karena
perbedaan sifatnya. Berikut adalah perbedaan sifat antara logam paduan dan logam murni:
a. Logam murni

Logam murni yaitu logam yang memiliki kadar kemurnian 99,9%, titik leburnya tinggi,
merupakan penghantar listrik yang baik, dan memiliki daya tahan terhadap karat. Logam
murni kebanyakan tidak digunakan begitu saja tanpa dipadukan dengan logam lain, karena
biasanya sifat-sifatnya belum memenuhi syarat yang diinginkan. Kecuali logam non ferro
murni, platina, emas dan perak tidak dipadukan karena sudah memiliki sifat yang baik,
misalnya ketahanan kimia dan daya hantar listrik yang baik serta cukup kuat, sehingga
dapat digunakan dalam keadaan murni. Tetapi karena harganya mahal, ketiga jenis logam
ini hanya digunakan untuk keperluan khusus. Misalnya dalam teknik proses, laboratorium,
dan keperluan tertentu seperti perhiasan dan sejenisnya. Contoh-contoh logam murni
adalah emas, timah, seng, dan aluminum. Biasanya kaleng menggunakan aluminium
murni, sementara kabel listrik menggunakan tembaga murni.

b. Logam paduan (metal alloy)

Logam paduan (metal alloy) sering digunakan sebagai pengganti logam murni karena pada
logam paduan memiliki sifat yang dapat memberikan keuntungan dan kemudahan sebagai
material pabrikasi seperti kekerasan pada logam paduan dapat ditingkatkan dari kekerasan
logam asalnya, kekuatan tarik dapat diperbesar, daya pemuaian dapat dikurangi, titik lebur
dapat diturunkan atau dinaikkan dibanding logam-logam asalnya. Sifat-sifat tersebut itulah
yang tidak dimiliki logam murni sehingga logam murni dapat ditambahkan unsur logam
lainnya untuk mendapatkan kelebihan-kelebihan dari sifat-sifat tersebut.

Material Logam dikelompokan menjadi dua yaitu


1. Logam Besi (ferrous)
Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, keras, penghantar listrik
dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara
penambangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur.
2. Logam Non Besi (Non Ferrous)
Logam non besi merupakan semua unsur logam yang komposisi utamanya bukan
besi. Logam non besi juga sering digunakan walaupun pada umumnya jarang sekali di
industri. Itu karena Logam besi lebih banyak dipakai semua industri.
Logam Besi (Ferrous) juga terdiri menjadi dua yaitu:
A. Baja (Steel)
Baja paduan adalah baja paduan dengan berbagai elemen dalam jumlah total antara 1,0%
dan 50% berat untuk meningkatkan sifat mekanik. Baja Paduan dipecah menjadi dua kelompok:
1). Baja paduan rendah (low alloy steel)
Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik, yang
akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan untuk meningkatkan
ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan kadar karbon menengah membuat
baja paduan ini sulit untuk las.
Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu:
a). Baja Karbon Rendah (low carbon steel)
Baja ini memiliki komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya
adalah ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas
(martensit) hanya bisa dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan
memiliki keuletan dan ketangguhan yang baik.
b). Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel)
Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% (berat). Dapat dikeraskan
dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah beberapa saat didinginkan ke
dalam air atau sering disebut quenching akan diperoleh fasa yang keras yaitu martensit.
Baja ini terdiri dari baja karbon sedang (plain) dan baja keras. Kandungan karbon yang
relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon
rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol
(crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus,
dan tangguh.
c). Baja Karbon Tinggi (high carbon steel)
Baja karbon tinggi memiliki komposisi karbon antara 0,6- 1,4% (berat).
Kekerasan dan kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. Baja ini cocok
untuk baja perkakas, dies (cetakan), pegas, kawat dengan kekuatan tinggi dan alat potong
yang dapat dikeraskan dan ditemper dengan baik. Khusus untuk baja perkakas biasanya
mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-unsur tersebut bersenyawa
dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga ketahanan aus sangat baik.
2). Baja Paduan Tinggi (high alloy steel)
Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel dan
baja tahan panas. Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi atmosfer.
Unsur utama yang meningkatkan ketahanan terhadap korosi adalah Cr dengan komposisi paling
sedikit 11% (berat). Ketahanan korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan
Mo. Baja tahan karat dibagi menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan
austenitik. Jenis Feritik dan Martensitik bersifat magnetis sedangkan jenis austenitik tidak
magnetis.
Sifat-sifat baja dapat dipengaruhi oleh campuran logam yang ditambahkan. Berikut table
sifat baja berdasarkan campuran yang ditambahkan.

Campuran Logam Pengaruh terhadap sifat-sifat baja

Menambah Mengurangi

Karbon (C) Kekerasan, kekokohan, sifat Titik lebur, keuletan, regangan,


pengerasan sifat mengelas dan menempa

Silisium (Si) Menambah elastisitas, kekerasan, Sifat mengelas


kekokohan, dan daya tahan karat

Fosfor (P) Leburan encer Daya kekuatan pukul dan


regangan

Sulfur (S) Leburan kental serpihan mudah Daya kekuatan pukul


patah

Mangan (Mn) Kekerasan, kekokohan, daya Sifat membuat serpih


kekuatan pukul, dan daya keausan

Nikel (Ni) Keuletan regangan, kekokohan, Pegangan oleh suhu tinggi


daya tahan karat, tahan listrik dan
suhu tinggi

Khrom (Cr) Kekerasan, kekokohan, daya tahan Regangan


karat, suhu tinggi, dan ketajaman

Varadium (V) Daya tahan lama, kekerasan, dan Daya tahan suhu tinggi
keuletan

Molibdenium (Mo) Kekerasan dan daya tahan lama Regangan dan sifat menempa

Kobalt (Co) Kekerasan dan ketajaman Keuletan mengurangi daya


tahan suhu tinggi

Wolfram (W) Kekerasan, kekokohan, daya tahan Regangan


karat, suhu tinggi, dan ketajaman
B. Besi Cor (cast iron)
Besi cor adalah kelompok paduan besi yang memiliki kadar karbon diatas 1,7% (berat).
Biasanya berkisar antara 3-4,43% (berat). Elemen utamanya selain C dan Si juga ada elemen-
elemen pemadu lainnya seperti Mn, S, P, Mg dan lain-lain dalam jumlah yang sedikit. Sifatnya
sangat getas namun mampu cornya baik dibanding baja. Titik cairnya lebih rendah, ketahanan
korosinya lebih baik, hal ini dikarenakan adanya grafit yang tersebar didalam besi cor.
Berdasarkan jenis matriksnya besi cor terdiri dari besi cor kelabu (gray cast iron), besi cor putih,
besi cor noduler, besticor mampu bentuk (malleable).

Aloi dapat terbentuk apabila dalam padatan yang diperoleh atom-atom yang ada tidak saling
bereaksi serta tidak sekedar bercampur satu dengan yang lain dan masih menunjukkan sifat-sifat
sebagai logam. Aloi disebut juga dengan lakur atau paduan. Aloi dapat merupakan larutan zat
padat (solid solution) dengan komposisi yang bervariasi atau suatu senyawa antarlogam
(intermetalliccompound) dengan komposisi dan struktur internal tertentu. Aloi yang merupakan
larutan zat padat ada dua macam, yaitu aloi selitan (interstitial alloy) dan aloi
substitusi (substitution alloy).
Beberapa aloi yang penting secara komersial

Nama Logam Komposisi (Persen Sifat Contoh Kegunaan


Umum Induk massa)

Alnico Fe Al(8), Ni(14), Co(24), Magnetik Magnet


Cu(3), dan fe(51)

Amalgam Hg Hg(50), Ag(35), dan Mudah dibentuk Pengisi gigi berlubang


gigi Sn (15)

Baja Invar Fe Fe(64), Ni(36), dan Memiliki koefisien Meteran, pita pengukur
C(0,5) muai yang kecil

Baja Fe Fe(98,4-99,8) dan Keras Kerangka Bangunan


Karbon C(0,2-1,6)

Baja Fe Fe(80-86), W (14-20) Sifatnya tidak Alat pemotong dengan


Kecepatan dan C(0,5) berubah pada kecepatan tinggi
Tinggi kecepatan tinggi

Baja Fe Fe(82-90), Mn (10-18) Keras dan tahan Rel kereta api, kendaraan
Mangan dan C(0,5) beban tempur

Baja Nikel Fe Fe(96-98), Ni (2-4) Keras, elastis, dan Kabel, roda gigi
dan C(0,5) tahan korosi

Baja Fe Fe(5-99), Si (1-5) dan Keras, kuat, dan Magnet


Silikon C(0,5) bersifat magnetik

Duriron Fe Fe(84), Si (145), C(1) Tahan korosi dan Pipa, ceret, dan
dan Mn(1) tahan asam kondensor

Emas 10 Au Au(42), Ag(12-20), Tahan lama Perhiasan


karat dan Cu(38-46)

Emas 18 Au Au(75), Ag(10-20), Tahan lama Perhiasan


karat dan Cu(5-15)

Gunmetal Cu Cu(88), Sn(10), dan Tahan benturan dan Laras senapan, bagian
Zn(2) tekanan dari mesin

Kuningan Cu Cu(67-90), dan Zn (10- Mudah Pipa


33) direnggangkan

Lead shot Pb Pb (99,8) dan As (0,2) Keras dan tahan Selongsong peluru
korosi

Magnalium Al Al (70-90), dan Massa jenisnya Badan pesawat terbang


Mg(10-30) rendah

Monel Ni Ni(60-70), Cu(25-35), Tahan korosi Peralatan, bagian dari


Fe dan Mn dengan mesin
persentase yang
bervariasi

Nikrom Ni Ni (60), Fe(25), dan Memiliki daya tahan Kabel listrik


Cr(15) yang tinggi

Pelat Pb Pb (94) dan Snb(6) Cukup tahan korosi Baterei


baterei
timbel

Perak Cu Cu(60), Zn(25), dan Tahan korosi Teko, keran


Jerman Ni(15)
(albata)

Perak Ag Ag(63), Cu(30), dan Titik lebur yang Solder dengan titik lebur
solder Zn(7) tinggi tinggi

Perak Ag Ag(92,5) dan Cu (7,5) Berkilau Perhiasana


Streling

Perunggu Cu Cu(70-95), Zn(1-25), Mudah dibentuk Medali, bel


dan Sn (1-18)

Perunggu Cu Cu (90) dan Al (10) Kers dan kuat Bak atau rumah mesin
alumunium dan batang penghubung

Pewter Sn Sn ( 70-95), Sb(5-15), Tahan korosi Peralata makanan dan


Pb (0-15) minum

Solder Pb Pb (67) dan Sn (33) Titik lebur rendah Sambungan solder

3AL-2,5V Ti Ti(94,5), Al(3), dan Kuat dan ringan Frame sepeda


V(2,5)

Woods Bi Bi (50), Pb(25), Titik lebur rendah Sistem penyairam air


metal Sn(13), dan Cd(12) otomatis

Salah satu aloi yang banyak digunakan untuk perhiasan adalah emas putih (white gold).
Emas putih bukan platina, emas putih merupakan aloi dari emas dengan nikel atau aloi dari emas
dengan paladium. Emas putih kadang-kadang mengandung unsur logam yang lain seperti perak,
tembaga, atau zink dalam jumlah yang kecil. Emas putih memiliki kilau seperti kilau platina.
Sekarang nikel jarang digunakan untuk membuat emas putih karena nikel dapat memberikan
reaksi tertentu pada seseorang yang menggunakan perhiasan dari emas putih. Emas putih yang
banyak digunakan sebagai perhiasan sekarang kebanyakan merupakan alaoi dari emas dengan
perak dan paladiun. Perhiasan yang terbuat dari emas putih sering kali dilapisi dengan rodium
(Rh) untuk menghasilkan kilau putih yang lebih bagus. Kandungan emas pada emas putih 18
karat adalah sama dengan kandungan pada emas kuning 18 karat.

Pembuatan Aloi
Baja diproduksi dalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat maupun cair, besi bekas
(Skrap) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses pembutan baja, diantaranya adalah:

1. Proses konvertor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk tabung bulat lonjong denga menghadap kesamping.
Sistem Kerja:
Dipanaskan dengan kokas sekitar 1500oc
Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja (1/8 dari volume konvektor)
Kembali ditegakkan
Udara dengan tekanan 1,5-2 atm dihembuskan dari kompresor
Setelah 20-25 menit konvektor dijungkirkan untuk mengeluarkan hasilnya

2. Proses dalam Dapur Tinggi


Prinsip dari proses dapur tinggi adalah prinsip reduksi. Pada proses ini zat karbon
monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan besi zat asam pada suhu tinggi. Agar
tidak terjadi pembuntuan karena proses berlangsung maka diberi batu kapur sebagai bahan
tambahan. Bahan tambahan bersifat asam apabila bijih besinya mempunyai sifat basa dan
sebaliknya bahan tambahan diberikan yang bersifat basa apabila bijih besi bersifat asam.
Gas yang terbentuk dalam dapur tinggi selanjutnya dialirkan keluar melalui bagian atas dan
ke dalam pemanas udara. Terak yang menetes ke bawah melindungi besi kasar dari
oksida oleh udara panas yang dimasukkan, terak ini kemudian dipisahkan. Proses reduksi di
dalam dapur tinggi tersebut berlangsung sebagai berikut:
Zat arang dari kokas terbakar menurut reaksi :
C+O2 CO2
Sebagian dari CO2 bersama dengan zat arang membentuk zat yang berada ditempat
yang lebih atas yaitu gas CO.
CO + C 2CO
Di bagian atas dapur tinggi pada suhu 300 sampai 800 C oksid besi yang lebih tinggi
diubah menjadi oksid yang lebih rendah oleh reduksi tidak langsung dengan CO
tersebut menurut prinsip :
Fe O + CO 2FeO+CO
Pada waktu proses berlangsung muatan turun ke bawah dan terjadi reduksi tidak langsung
menurut prinsip :
FeO+CO FeO+CO2
Reduksi ini disebut tidak langsung karena bukan zat arang murni yang
mereduksi melainkan persenyawaan zat arang dengan oksigen. sEdangkan reduksi
langsung terjadi pada bagian yang terpanas dari dapur, yaitu langsung di atas
pipa pengembus. Reduksi ini berlangsung sebagai berikut.
FeO+C Fe+CO
CO yang terbentuk itulah yang naik ke atas untuk mengadakan reduksi tidak
langsung tadi. Setiap 4 sampai 6 jam dapur tinggi dicerat, pertama dikeluarkan
teraknya dan baru kemudian besi. Besi yang keluar dari dapur tinggi disebut besi
kasar atau besi mentah yang digunakan untuk membuat baja pada dapur
pengolahan baja atau dituang menjadi balok-balok tuangan yang dikirimkan pada pabrik-pabrik
pembuatan baja sebagai bahan baku. Besi cair dicerat dan dituang menjadi besi kasar
dalam bentuk balok-balok besi kasar yang digunakan sebagai bahan ancuran untuk
pembuatan besi tuang (di dalam dapur kubah) atau masih dalam keadaan cair dipindahkan
pada bagian pembuatan baja (dapur Siemen Martin).
Terak yang keluar dari dapur tinggi dapat pula dimanfaatkan menjadi bahanpembuatan pasir
terak atau wol terak sebagai bahan isolasi atau sebagai bahan campuran semen. Besi
cair yang dihasilkan dari proses dapur tinggi sebelum dituang menjadi balok besin kasar
sebagai bahan ancuran di pabrik penuangan, perlu dicampur dahulu di dalam
bak pencampur agar kualitas dan susunannya seragam. Dalam bak pencampur
dikumpulkan besi kasar cair dari bermacam-macam dapur tinggi yang ada untuk
mendapatkan besi kasar cair yang sama dan merata. Untuk menghasilkan besi
kasar yang sedikit mengandung belerang di dalam bak pencampur tersebut
dipanaskan lagi menggunakan gas dapur tinggi.
3. Proses dapur cawan
Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi kasar dalam
cawan, kemudian dapur ditutup rapat, lalu di masukkan gas-gas panas yang memanaskan
sekeliling dan muatan dalam cawan akan mencair. baja cair tersebut siap dituang untuk
dijadikan baja-baja istimewa dengan menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan

4. Proses Bassemer (asam)


Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam atau
aksid asam (SiO2), Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak ditambahkan sebab
dapat bereaksi dengan SiO2, SiO2 + CaO CaSiO3

5. Proses Thomas (basa)


Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit kalsium
karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3), besi yang diolah besi kasar putih yang
mengandung P antara 1,7 2 %, Mn 1 2 % dan Si 0,6-0,8 %. Setelah unsur Mn dan Si
terbakar, Pembentukan oksida phospor (P2O5), untuk mengeluarkan besi cair ditambahkan zat
kapur (CaO),
3 CaO + P2O5 Ca3(PO4)2 (terak cair)
Daftar Pustaka
Sherliani, Neny. Aloi (Logam Paduan) http://nenysherliani31.blogspot.co.id/2015/06/logam-
paduan-aloi_0.html diakses: minggu, 14 feb 2016
Hestyawan, Roma. Klasifikasi Logam dan Paduannya.
https://romzneverdie.wordpress.com/metallurgy/klasifikasi-logam-dan-paduannya/ diakses:
minggu, 14 feb 2016
Rahman dkk Besi dan Paduannya. http://dokumen.tips/documents/bktk-logam-besi-dan-
paduannya-tkur-2011.html diakses: minggu, 14 feb 2016
Prakasa, Agung. Makalah Logam. http://mesinusu12.blogspot.co.id diakses: rabu, 17 feb 2016