You are on page 1of 8

Biophotovoltaic: Karakteristik dan Pembuatan Dye-Sensitized Solar Cell

sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan


Tiara Sarah Dewi1 , Rona Dwi Rahmah1 , Nur Azizah Imamah1
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya1
Email : sarahdewi05@gmail.com

Abstrak
Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan seperangkat sel surya berbasis
fotoelektrokimia berbahan dasar semikonduktor yang dilapisi oleh zat warna dengan tujuan
untuk meningkatkan efisiensi konversi sinar matahari menjadi energi listrik. Pada pembuatan
DSSC ini membutuhkan bahan penyusun berupa substrat yaitu kaca ITO, lapisan oksida
(semikonduktor) misalnya TiO2, larutan DYE (pewarna) yang terbuat dari bahan alami,
elektrolit, dan katalis. Teknologi DSSC ini memiliki prinsip kerja sama halnya dengan proses
fotosintesis pada tanaman, dimana zat pewarna akan menyerap cahaya matahari kemudian
molekul dari zat pewarna tersebut tereksitasi sehingga dapat membentuk energi baru, yaitu
energi listrik. Dengan menggunakan teknologi DSSC efisiensi konversinya akan menjadi lebih
besar hingga 10-11% dari penggunaan teknologi sel surya biasa. Keuntungan solar sel DSSC
ini diantaranya biaya fabrikasinya murah, efisiensi penyerapan sinar matahari yang tinggi,
bahan baku berbasis bahan alam sehingga mudah didapat dan ramah lingkungan.
Kata Kunci : Biophotovoltaic, Dye-Sensitized Solar Cell, Sel surya

Pendahuluan surya sekarang didominasi oleh bahan


silikon, namun mahalnya biaya produksi
Energi surya merupakan salah satu
silikon membuat biaya konsumsinya lebih
energi terbarukan yang banyak
mahal dari pada sumber energi fosil. Sel
dikembangkan saat ini. Salah satu aplikasi
surya yang murah bisa dibuat dari bahan
energi surya adalah pemanfatannya dalam
semikonduktor organik. Hal ini karena
konversi energi cahaya menjadi listrik yaitu
semikonduktor organik dapat disintesis
dengan sel surya. Indonesia sebenarnya
dalam jumlah besar. Meskipun demikian
sangat berpotensi untuk menjadikan sel
efesiensinya jauh dibawah sel surya silikon.
surya sebagai salah satu sumber energi
Oleh karena ini penelitian terhadap material
masa depan, mengingat posisi Indonesia
organik sebagai bahan dari sel surya masih
pada garis khatulistiwa yang
perlu terus dikembangkan.
memungkinkan sinar matahari dapat
optimal diterima di hampir seluruh DSSC dengan sel surya sintesis dye
Indonesia sepanjang tahun. Pengembangan dikembangkan sebagai konsep alternatif
sel surya menjadi sebuah tuntutan ketika piranti fotovoltaik konvensional. Banyak
manusia dihadapkan pada berbagai studi tentang DSSC yang telah
kerusakan lingkungan akibat penggunaan dikembangkan. Material semikonduktor
bahan bakar fosil dan global warming. yang lazim digunakan dalam DSSC adalah
TiO2 (Titanium Oksida) yang memiliki
Sel surya yang banyak digunakan
struktur mesopori. Semikonduktor titania
sekarang ini adalah sel surya berbasis
memiliki energi gap sebesar 3,2 eV dan
teknologi silikon yang merupakan hasil dari
menyerap sinar pada daerah ultraviolet.
perkembangan pesat teknologi
Material ini dipilih selain karena memiliki
semikonduktor elektronik. Walaupun sel
banyak keuntungan diantaranya murah,
pemakaian luas, tidak beracun, serta banyak ditemukan oleh Michael Gratzel dan Brian
pula digunakan sebagai bahan dasar ORegan pada tahun 1991 di cole
pembuatan produk-produk kesehatan serta Polytechnique Fdrale de Lausanne,
sebagai pigmen cat [gratzel]. Swiss. Berbeda dengan sel surya
konvensional, DSSC adalah sel surya
TiO2 yang diaplikasikan pada
fotoelektrokimia yang menggunakan
DSSC harus dipreparasi pada permukaan
elektrolit sebagai medium transport muatan
yang luas sehingga dye terabsorbsi lebih
untuk mengkonversi cahaya matahari
banyak. Hal ini diharapkan mampu
menjadi energi listrik. Efisiensi
meningkatkan photocurrent. Selain itu,
konversinya telah mencapai 10-11% [2].
penggunaan dye mampu menyerap
Penemuan Gratzel tersebut
spektrum cahaya yang lebar dan sesuai
berhubungan dengan penerapan prinsip
dengan pita energi TiO2 [1]. Dye dapat
efisiensi kompleks ruthenium untuk
berupa dye alami maupun dye sintetis. Dye
mengaktifkan semikonduktor oksida, yang
alami lebih mudah didapatkan di alam.
sangat sensitif di daerah cahaya tampak
Pada proses fotosintesis, klorofil (visible region). DSSC terdiri dari sebuah
berperan sebagai penyerap cahaya dan elektroda kerja, sebuah elektroda
mengubahnya menjadi energi kimia yang pembanding dan elektrolit. Zat warna dari
dibutuhkan pada tumbuhan. Sifat dari komleks ruthenium melekat pada pori
klorofil yang mampu menyerap cahaya nanokristal dari film semikonduktor,
merupakan fungsi dari dye pada DSSC. misalnya TiO2 yang merupakan elektroda
Fungsi absorbsi cahaya dilakukan oleh kerja. Sebuah kaca konduktif platina
molekul dye yang terabsorbsi pada sebagai counter electrode dan larutan I3-/I-
permukaan TiO2. Dye yang banyak sebagai elektrolit.
digunakan dan mencapai efisiensi tinggi
yaitu jenis ruthenium complex. Klorofil, 2. Prinsip Kerja DSSC
sebagai sebuah pigmen utama sebagai Prinsip kerja DSSC dimulai dengan
fotosensitizer pada proses fotosisntesis dari eksitasi elektron molekul dye akibat
tumbuhan hijau, yang memiliki absorbsi absorbsi foton. Elektron tereksitasi dari
maksium pada panjang gelombang 670 nm. ground state (S) ke excited state (S*).
Sehingga klorofil merupakan komponen
S + hv S*
utama yang terungkap karakteristik
fotosensitizer pada sinar tampak [1]. Oleh Elektron dari excited state kemudian
karena itu, dalam artikel ini akan dibahas langsung terinjeksi menuju conduction
pengaruh variasi larutan dye dari bahan band (ecb) TiO2 sehingga molekul dye
alam yang berbeda terhadap photocurrent teroksidasi (S + ).
yang dihasilkan, serta karakteristik lapisan
S* + TiO2 (TiO2) e-cb + S+
TiO2 yang baik digunakan agar
meningkatkan efisiensi sel surya DSSC. Dengan adanya donor elektron oleh
elektrolit (I-) maka molekul dye kembali ke
Tinjauan Pustaka
keadaan awalnya (ground state) dan
1. Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) mencegah penangkapan kembali elektron
Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) oleh dye yang teroksidasi.
atau disebut juga sel Grtzel pertama kali
S+ + 3I- S + I3- Gambar 2. Skema pembuatan DSSC[5].

Setelah mencapai elektroda TCO, elektron Gambar 2 menunjukkan proses


mengalir menuju counterelektroda melalui fabrikasi DSSC yang diawali dengan
rangkaian eksternal. Dengan adanya katalis pengolesan pasta partikel nano TiO2 yang
pada counter elektroda, elektron diterima berdiameter sekitar 20 nm pada kaca FTO
oleh elektrolit sehingga hole yang terbentuk kemudian diratakan dengan menggunakan
pada elektrolit (I3-), akibat donor elektron batang kaca untuk membentuk sebuah
pada proses sebelumnya, berkombinasi partikel. Substrat yang telah dioleskan
dengan elektron membentuk iodida (I-). kemudian dikalsinasi pada suhu 120
selama 40 menit. Setelah itu direndam
I3- + 2e-cb (counter elektroda) 3I-
dalam larutan zat perwarna kompleks Ru
+ (counter elektroda)
(II) dalam pelarut asetonitril pada suhu
Dengan kata lain, I3- Dihasilkan pada kamar selama 24 jam. Setelah dicuci,
elektroda TiO2 dan digunakan pada counter substrat kaca dilekatkan pada electrode
electrode, dengan demikian penyebarannya counter menggunakan spacer untuk
pada elektrolit saling berhubungan. memberi ruang bagi partikel, kemudian
Demikian pula, I- dihasilkan pada counter elektrolit yodium disuntikkan di tepi kaca
elektroda dan disebarkan ke arah yang FTO [5].
berlawanan dalam elektrolit. Iodida (I-) ini
Struktur Devais
digunakan untuk mendonor elektron
kepada dye yang teroksidasi, sehingga
terbentuk suatu siklus transport elektron.
Dengan siklus ini terjadi konversi langsung
dari cahaya matahari menjadi listrik [3].

Gambar 3. Struktur devais DSSC [6].


1. Substrat

Substrat yang digunakan pada


Gambar 1. Skema prinsip kerja DSSC [4]. DSSC yaitu jenis TCO (Transparent
Conductive Oxide) yang merupakan kaca
3. Cara Pembuatan Devais DSSC transparan konduktif. Material substrat itu
sendiri berfungsi sebagai badan dari sel
surya dan lapisan konduktifnya berfungsi
sebagai tempat muatan mengalir. Material
yang umumnya digunakan yaitu
flourinedoped tin oxide (Sn:F atau FTO)
dan Indium Tin Oxide (ITO) hal ini
dikarenakan dalam proses pelapisan
material kepada substrat, diperlukan proses
sintering pada temperatur 400-500C dan
kedua material tersebut merupakan pilihan kompleks komersil berharga sangat mahal.
yang cocok karena tidak mengalami defect Alternatif lain dengan menggunakan dye
pada range temperatur tersebut [7]. dari tumbuhan. Proses fotosintesis pada
tumbuhan telah membuktikan adanya
2. Sebuah metal-oksida / oksida
senyawa pada tumbuhan yang dapat
semikonduktor (TiO2, ZnO atau SnO2)
digunakan sebagai dye, antara lain :
Sebuah metal-oksida / oksida antosianin, klorofil, dan xantofil.
semikonduktor (TiO2, ZnO atau SnO2) Didapatkan efisiensi konversi energi yang
digunakan sebagai kolektor elektron lebih baik pada turunan dyes klorofil
sekaligus sebagai anoda. Penggunaan tersebut karena memiliki gugus carboxylate
oksida semikonduktor dalam [7].
fotoelektrokimia dikarenakan
4. Elektrolit
kestabilannya menghadapi fotokorosi. TiO2
paling banyak digunakan karena Elektrolit berfungsi untuk meregenerasi
efisiensinya lebih tinggi dari yang lain. dye. Elektrolit yang digunakan pada DSSC
TiO2 merupakan bahan semikonduktor terdiri dari iodine (I-) dan triiodide (I3-)
yang bersifat inert, stabil terhadap sebagai pasangan redoks dalam pelarut.
fotokorosi dan korosi oleh bahan kimia. Karakteristik ideal dari pasangan redoks
Film TiO2 memiliki band gap yang tinggi untuk elektrolit DSSC yaitu [7] :
(>3eV) dan memiliki transmisi optik yang
1) Potensial redoksnya secara
baik. Lebar pita energinya yang besar (>
termodinamika berlangsung sesuai
3eV), dibutuhkan dalam DSSC untuk
dengan potensial redoks dari dye
transparansi semikonduktor pada sebagian
untuk tegangan sel yang maksimal.
besar spektrum cahaya matahari. TiO2 yang
2) Tingginya kelarutan terhadap
digunakan pada DSSC umumnya berfasa
pelarut untuk mendukung
anatase karena mempunyai kemampuan
konsentrasi yang tinggi dari muatan
fotoaktif yang tinggi. TiO2 dengan struktur
pada elektrolit.
nanopori yaitu ukuran pori dalam skala
3) Pelarut mempunyai koefisien difusi
nano akan menaikan kinerja sistem karena
yang tinggi untuk transportasi
struktur nanopori mempunyai karakteristik
massa yang efisien.
luas permukaan yang tinggi sehingga akan
4) Tidak adanya karakteristik spektral
menaikan jumlah dye yang teradsorb yang
pada daerah cahaya tampak untuk
implikasinya akan menaikan jumlah cahaya
menghindari absorbsi cahaya
yang terabsorb [8].
datang pada elektrolit.
3. Dye 5) Kestabilan yang tinggi baik dalam
bentuk tereduksi maupun
Dye yang teradsorpsi pada
teroksidasi.
permukaan TiO2 merupakan zat pewarna
yang berfungsi sebagai penyerap (absorbsi) 5. Katalis
cahaya matahari untuk menghasilkan
Katalis dibutuhkan untuk
elektron. Dye yang banyak digunakan dan
merpercepat kinetika reaksi proses reduksi
mencapai efisiensi tertinggi yaitu jenis
triiodide pada TCO. Platina, material yang
ruthenium kompleks. Namun dye jenis ini
umum digunakan sebagai katalis pada
cukup sulit untuk disintesa dan ruthenium
berbagai aplikasi, juga sangat efisien dalam banyak elektron yang disuntikkan dari zat
aplikasinya pada DSSC. Sebagai alternatif, pewarna ke TiO2. Pada saat yang
Kay & Gratzel mengembangkan desain bersamaan, seiring ketebalan film TiO2
DSSC dengan menggunakan counter- terus meningkat, elektron di TiO2 perlu
elektroda karbon sebagai film katalis. bergerak lebih jauh untuk mencapai
Karena luas permukaanya yang tinggi, elektroda kerja. Akibatnya, rekombinasi
counter-elektroda karbon mempunyai terjadi dan pembawa muatan akan berada
keaktifan reduksi triiodide yang pada tingkat yang lebih tinggi. Hasil dari
menyerupai elektroda platina [9]. verifikasi ini menunjukkan bahwa ada
sedikit pengaruh deaktivasi pembawa di
Hasil dan Diskusi
dalam TiO2 dan jumlah kenaikan saat ini
1. Hasil tergantung pada jumlah zat warna yang
teradsorbsi pada ketebalan film sekitar 10
m atau kurang.

Dalam sampel dengan ketebalan


film sekitar 14 m, peningkatan jumlah zat
warna yang teradsorbsi dengan peningkatan
Tabel 1. Pengaruh ketebalan film terhadap
pembawa muatan saling bersinggungan
efisiensi listrik [5].
satu sama lain, dan jumlah arus berakhir
pada tingkat yang hampir sama dengan
sampel ketebalan 10 m. Dalam sampel
dengan ketebalan film sekitar 20 m,
pengaruh deaktivasi pembawa menjadi
lebih besar dan jumlah arus menurun
dibandingkan dengan sampel 10 m atau 14
m yang menyerap lebih sedikit pewarna.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa
Gambar 4. Grafik kurva ketebalan film TiO2 yang optimal sekitar
arus dan tegangan terhadap variasi 10 m.
ketebalan TiO2 [5].
Tabel 1 menunjukkan pengaruh
ketebalan film TiO2 terhadap karakteristik
I-V. Gambar 4 adalah grafik dari kurva arus
dan tegangan. Dimana nilai densitas arus
akan secara linear meningkat apabila
ketebalan film TiO2 juga ditingkatkan
sekitar 10 - 14 m, namun akan sedikit
menurun apabila ketebalan film TiO2
berkisar 20 m. Hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut: Pertama, peningkatan Gambar 5. Grafik pengaruh variasi larutan
ketebalan film TiO2 meningatkan area dye terhadap daya yang dihasilkan [10]
adsorbsi zat warna. Oleh karena itu, Saat fotoelektrik TiO2 direndam ke
semakin tebal film TiO2, maka semakin dalam pewarna, maka kekuatan yang
dihasilkan juga akan meningkat. Namun, kartu interpretasi data dapat diketahui
daya yang dihasilkan akan tergantung pada bahwa Kristal yang terbentuk adalah rutile
jenisnya pewarna yang digunakan. Dalam dan anatase. Dari nilai FWHM dan
grafuk telah digunakan pewarna alami
persamaan Scherrer diperoleh ukuran
seperti blueberry, gardenia ragi biru dan
kuning dan ragi merah pada penelitian kristal 20,33 nm [11].
kami saat ini. Dari hasil yang diperoleh Morfologi permukaan lapisan TiO2
pada Gambar 5, Hasil tertinggi yang
dan partikel lain pembentuk pori TiO2 dapat
dihasilkan berasal dari bluberry, diikuti
oleh gardenia kuning, gardenia biru dan dilihat dengan menggunakan instrumen
ragi merah. SEM-EDAX. Hasil permukaan lapisan
yang diperoleh relatif rata dan seragam
dengan struktur berpori, terisi penuh namun
kurang rapat. Hasil pengukuran EDAX
.
terlihat tidak adanya partikel lain
pembentuk struktur nanopori material TiO2.
Hal ini menunjukkan bahwa kaca TCO
yang digunakan bebas dari partikel lain,
serta pelapisan TiO2 sudah sangat baik.
Partikel lain pembentuk struktur nanopori
ini biasanya didapat dari bahan-bahan yang
digunakan dalam pembuatan kaca
(a) konduktif ataupun saat proses pelapisan
TiO2 pada kaca konduktif. Pada hasil
karakterisasi sampel terlihat ada tiga buah
puncak yang menunjukkan jumlah partikel
pembentuk struktur. Namun dari data yang
diperoleh diketahui hanya ada dua partikel
pembentuk struktur yaitu Ti (75,84 %) dan
O (24,26 %). Sedangkan puncak yang satu
(b) lagi meskipun tidak diketahui,
kemungkinan berasal dari kaca TCO [11].
Gambar 5. Hasil pengukuran (a)XRD,
(b)SEM-EDAX [11]. 2. Diskusi
Puncak-puncak karakteristik TiO2 Pada penelitian di jurnal
sangat jelas muncul pada difraktogram sebelumnya [12] telah disintesis DSSC
dengan orientasi pada sudut 2 =25,260 dengan sensitizer dye alami diperoeh
dengan persentase ln T (100%). Puncak- efisiensi sebesar 0,056 % dengan
puncak karakteristik berikutnya muncul menggunakan metode doctor blade
signifikan berturut-turut pada sudut (2) (penumbuhan lapisan TiO2) sedangkan
48,03 (28%); 22,77 (24); 27,40 (20); 37,80 pada penelitian di artikel kami, dengan
(18%); dan seterusnya. Puncak-puncak menggunakan metode pelapisan TiO2
TiO2 ini dominan dengan persentase dengan batang kaca kemudian di kalsinasi
terbanyak kristal anatase Dengan pada suhu 120 selama 40 menit telah
membandingkan hasil pengukuran dan
didapatkan efisiensi terbaik sebesar 4,68 % [5] Tomohiro Nagata dan Hirohiko
dengan tebal film TiO2 10 m. Murakami, Development of Dye-
sensitized Solar Cells, ULVAC Tech.
Kesimpulan J., 2009.
[6] Yeji Lee dan Jinho Chae, Comparison
Ada banyak faktor yang akan of the photovoltaic efficiency on
mempengaruhi performa dan efisiensi DSSC for nanometer sized TiO2 using
DSSC seperti yang dipilih dari bahan, a conventional sol-gel and
pewarnaan dan ketebalan elektroda. Dari solvothermal methods, J. Ind. Eng.
semua percobaan yang dilakukan, kami Chem. 16, vol. 609614, Jan 2010.
menemukan bahwa ukuran partikel TiO2 [7] Kumara, Maya Sukma Widya, dan
yang terbaik yaitu pada 7 nm dan cocok Drs. Gontjang Prajitno, M.Si, Studi
untuk diterapkan pada penelitian saat ini. Awal Fabrikasi Dye Sensitized Solar
Karena itu, untuk Percobaan berikutnya Cell (DSSC) Dengan Menggunakan
akan dilakukan dengan menggunakan TiO2 Ekstraksi Daun Bayam (Amaranthus
7nm. Hybridus L.) Sebagai Dye Sensitizer
Kami juga menemukan bahwa Dengan Variasi Jarak Sumber Cahaya
dalam persiapan TiO2 photoanode, pewarna Pada DSSC, Digilib ITS Surabaya,
alami yang paling sesuai adalah antosianin 2014.
(blueberry). Diharapkan dengan adanya [8] Karasovec, Berginc, M, dan Topic M,
artikel ini dapat membantu untuk Unique TiO2 paste for high
meningkatkan efisiensi penggunaan DSSC efficiency dye-sensitized solar cell,
Sol. Energy Mater. Sol. Cell, vol. Vol.
pada penelitian selanjutnya.
93, hal. 379 381, 2014.
Referensi [9] Tianxin Wei dan Theodoros
Dimopoulos, Dye-Sensitized Solar
[1] Diah Susanti, Maula Nafi, dan Hariyati Cells: From Materials to Devices,
Purwaningsih, The Preparation of Hindawi Publ. Corp. Int. J.
Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) Photoenergy, vol. ArticleID789801,
from TiO2 and Tamarillo Extract, Int. 2pages, Agu 2013.
Conf. Workshop Chem. Eng. UNPAR [10] A. Nuran, Terauchi Kento,
2013 ICCE UNPAR 2013, vol. Matsutake Daiki, dan Akira Fujiki,
Procedia Chemistry 9 ( 2014 ) 3 The Basic Research on the Dye-
10, 2014. Sensitized Solar Cells (DSSC), J.
[2] Michael Gratzel, Dye-Sensitized Clean Energy Technol., vol. Vol. 3,
Solar Cells, J. Photochem. No. 5, Sep 2015.
Photobiol., vol. Vol. 4, 145-153, 2013. [11] Hardeli dan Suwardani, Dye
[3] Hubert Hug, Michael Bader, Peter Sensitized Solar Cells (DSSC)
Mair, dan Thilo Glatzer, Berbasis Nanopori TiO2
Biophotovoltaics: Natural pigments Menggunakan Antosianin dari
in dye-sensitized solar cells, Appl. Berbagai Sumber Alami, Pros.
Energy 115 2014 216-225, Sep 2014. Semirata FMIPA Univ. Lampung
[2] Wuletaw Andargie Ayalew dan Delele 2013, 2013.
Worku Ayele, Dye-sensitized solar [12] Dahyunir Dahlan, DYE
cells using natural dye as light- SENSITIZED SOLAR CELLS
harvesting materials extracted from (DSSC) DENGAN SENSITISER
Acanthus sennii chiovenda fl ower and DYE ALAMI DAUN PANDAN,
Euphorbia cotinifolia leaf, J. Sci. AKAR KUNYIT DAN BIJI BERAS
Adv. Mater. Devices 1 2016 488-494, MERAH (BLACK RICE), J. ILMU
Okt 2016. Fis. JIF, vol. VOL 8 NO 1, Mar 2016.