You are on page 1of 5

ARTIKEL ILMIAH

Disusun untuk memenuhi tugas Manajemen Keperawatan 2

Dosen Pengampu :
Agus Santoso, S.Kp., M.Kep

Disusun Oleh :
Zulfa Nur Aini 22020114120125

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
Pengaruh Preceptorship Terhadap Adaptasi Perawat Baru

Keperawatan merupakan salah satu profesi di bidang kesehatan. Menjadi sebuah profesi,
maka pelayanan yang diberikan harus profesional, sehingga perawat atau ners harus memiliki
kompetensi yang sesuai dengan standar praktik keperawatan Hansiko, et. Al, 2008 dalam Sulung,
2016. Kompetensi sendiri adalah mencakup pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang
dicerminkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2010). Pencapaian dalam
kompetensi, perlu adanya bimbingan (Nursalam 2007, dalam Restuning, dkk 2013). Bimbingan
terjadi antara dua individu, lebih bijaksana, lebih berpengalaman dan memberikan kepada yang
kurang pengetahuan (Niederhauser, et. Al. 2012).
Bimbingan yang dikenal dalam keperawatan di rumah sakit adalah preceptorship.
Menurut Yonge, et. al pada tahun 2011 preceptorship merupakan model pembelajaran di lahan
praktik yang memasangkan peserta didik dengan praktisi yang berpengalaman. Sedangkan
menurut Paton, et. al. tahun 2011, ini merupakan suatu strategi dalam mendukung tujuan
pembelajaran, menciptakan lingkungan yang aman, menjamin etika yang ideal, dan
mengevaluasi kompetensi. Proses dilakukannya preceptorship ini kurang lebih 1-2 bulan. Lama
waktu pelaksanaan biasanya ditentukan oleh pegawai yang mengetahui karakteristik preceptee,
persyaratan yang dibutuhkan dan karakteristik tenpat dimana pelaksanaannya akan dilakukan
(Nursalam, 2008).
Dalam preceptorship kita mengenal preceptor dan preceptee, preceptor adalah seorang
perawat yang mengajar, memberikan bimbingan, dapat menginspirasi rekannya, menjadi tokoh
panutan (role model), serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu untuk jangka
waktu tertentu dengan tujuan khusus mensosialisasikan preceptee pada peran barunya (Mahen
dan Clark dalam Nursalam, 2008). Preceptee adalah individu yang diberi pengajaran oleh
preceptor.
Indriarini, dkk menyatakan bahwa preceptor memiliki tanggung jawab menjadi role
modeling, skill building, critical thinking, dan socialization. Dalam proses pembelajaran, seorang
preceptor harus bisa memberikan lingkungan yang mendukung, kohesif, dan kolaboratif untuk
mengembangkan kemitraan dalam pembelajaran. Kemitraan ini dapat menurunkan tingkat
kecemasan dan meningkatkan produktivitas melalui integrasi informasi yang cepat sekaligus
menjamin kualitas perawatan pasien. Preceptor disini juga bertanggung jawab dalam
mengembangkan kepercayaan diri perawat baru (Halfer, 2007).
Penelitian yang dilakukan oleh Asthon, dan Kathlen dari Amerika Serikat, pentingnya
dilakukan preceptorship adalah kerena adanya ketidakmampuan perawat baru dalam beradaptasi
yang dapat menyebabkan stress, mengakibatkan pelayanan kesehatan menurun sehingga
kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan meningkat yang berdampak keselamatan pada
pasien. Penelitian lain dilakukan di Indonesia, dimana didapatkan hasil bahwa perawat baru
dalam tiga bulan pertama mengalami kesulitan dalam proses adaptasi budaya, sistem kerja, dan
lingkungan. Perawat baru tidak mampu bertahan dengan beberapa alasan seperti rindu dengan
keluarga, melanjutkan studi, diterima sebagai pegawai negeri sipil, maupun alasan pribadi yang
lain. Perawat baru lainnya menyampaikan bahwa belum adanya pengalaman bekerja sebelumnya
membuat bingung dalam menjalankan kegiatan di ruangan (Windyastuti, 2016).
Preceptorship ditujukan untuk membantu adaptasi perawat baru agar mampu mengurangi
hal-hal tersebut di atas. Kemampuan adaptasi yang diharapkan adalah perawat baru dapat
berubah dan menyesuaikan diri dengan realitas dari dunia praktik atau yang pendidikan
menunjukkan tingkat kemampuan berpikir kritis yang diharapkan dari lulusan universitas. Proses
preceptorship dapat berjalan dengan maksimal jika preceptor mengetahui fase adaptasi dari
perawat baru (Windyastuti, 2016).
Fase adaptasi perawat baru dibagi menjadi tiga, fase bulan madu adalah tiga minggu
pertam yaitu beralihnya perawat baru dari pendidikan ke dunia kerja, disini preceptor berperan
sebagai pengamat dan pendorong untuk memotivasi dalam bekerja. Kedua, fase shock terjadi
sebulan setelah memasuki dunia kerja, perawat baru akan menemukan banyaknya ilmu yang
dipelajari tidak diterapkan bahkan tidak dihargai di dunia kerja, preceptor disini harus bisa
mengerti adanya tanda dan gejala dari fase ini, dan mendengarkan segala keluhan perawat baru
juga membantu memahamkan bagaimana dunia kerja yang sesungguhnya. Ketiga, fase
pemulihan dan resolusi, perawat baru mulai mampu menyeimbangkan dunia pendidikan dengan
dunia kerja. Fase ini terjadi kurang dari satu tahun, peran seorang preceptor disini adalah
menjadi seorang role model, demonstrator dan pemberi umpan balik (Windyastuti, 2016).
Beberapa penelitian membuktikan bahwa preceptorship ini berdampak baik pada
adaptasi perawat baru, penelitian oleh Tursina, dkk pada tahun 2016 menyatakan bimbingan ini
memiliki pengaruh terhadap peningkatan kompetensi klinik, memperkuat profesionalisme dalam
bekerja, dan mempercepat proses transisi perawat baru. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa
kunci keberhasilan dari preceptorship adalah adanya ikatan yang kuat antara preceptor dengan
preceptee. Penelitian lain oleh Indriarini, dkk menyatakan bahwa preceptorship mampu
membuat perawat baru merasa senang menjalani proses magang.
DAFTAR PUSTAKA
Halfer, 2007 dalam Mukarrohmah. (2016). Hubungan kompetensi preceptor dalam pelaksanaan
program preceptorship dengan self efficay perawat muda dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien. Diakses pada 22 November 2017, dari journal.umsurabaya.ac.id
Indriarini, Rahayu, & Pindani. Pengalaman dukungan preceptor pada perawat baru selama proses
magang di rumah sakit santo borromeus bandung.
Niederhauser, V. (2012). Creating innovative models of clinical nursing education. Journal of
nursing education. 51(11). 603-608.
Nursalam dan Efendi. (2008). Pendidikan dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Mulyasa. (2010). Kurikulum berbasis kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Restuning, dkk. 2013. Upaya peningkatan kompetensi clinical instructor di rumah sakit permata
medika semarang. Dikses pada 22 November 2017, dari
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/3322/6.%20DYAH%20RESTUNI
NG.pdf?sequence=1.
Sulung (2016). Efektifitas metode preceptor dan mentor dalam meningkatkan kompetensi klinik
perawat. Research of applied science and education. V9.i2 (224-235).
Tursina, Ami, dkk. (2016). Pengaruh bimbingan preceptorship model kognitif sosial terhadap
kompetensi klinik pada mahasiswa. Psikopedagogia Jurnal Bimbingan dan Konseling. 5(1).
79-87.
Windyastuti. (2016). Pelatihan preceptorship untuk meningkatkan adaptasi perawat baru di
rumah sakit.