You are on page 1of 43

Kata Pengantar

Alhamdulillah puji dan syukur atas kehadirat allah SWT karena atas berkat
dan rahmatnya, izin dan kuasa-Nyalah penulis dapat menyusun Laporan Praktikum
Geologi Strukutur.

Terima kasih kepada Ibu Dr. Sc. Yayu Indriati Arifin, M.Si selaku dosen
pengampu mata kuliah Mineral Optik yang telah memberikan tugas ini dengan
tujuan untuk syarat kelulusan dalam mata kuliah ini.
Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan dan kesalahan
dalam penyusunan laporan ini, oleh karena itu, penulis menyadari atau
mengharapkan suatu kritikan dan saran untuk dapat menyusun laporan yang lebih
baik dan sempurna pada penyusunan laporan berikutnya.
Semoga dan mudah-mudahan laporan ini dapat memberikan manfaat yang
besar untuk kehidupan sehari-hari terutama dan yang paling utama pada massa kini
dan massa yang akan datang.

Gorontalo, 4 Desember 2017

Rachmat Ramadhan Nur Syamsuri


NIM. 471 416 011

i
Daftar Isi

Kata Pengantar..........................................................................................................i

Daftar Isi...................................................................................................................ii

Daftar Gambar.........................................................................................................iv

Daftar Foto...............................................................................................................v

Daftar Tabel.............................................................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1

1.1. Latar Belakang.......................................................................................1

1.2. Tujuan....................................................................................................1

1.3 Manfaat...................................................................................................2

BAB II GEOLOGI REGIONAL..............................................................................3

2.1. Geomorfologi........................................................................................3

2.2. Stratigrafi...............................................................................................4

2.3. Tektonik dan Struktur Geologi..............................................................6

BAB III METODE PRAKTIKUM..........................................................................9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................20

4.1. Observasi Lapangan.............................................................................20

4.2. Pengamatan Laboratorium..................................................................22

4.2.1 Kandungan Unsur Kimia Batuan...........................................22

4.2.2 Pengamatan Mineral Pada Batuan.........................................29

4.2.2.1 Ortoskop Nikol Sejajar...........................................30

4.2.2.2 Ortoskop Nikol Silang............................................33

BAB V PENTUP....................................................................................................36

5.1. Kesimpulan..........................................................................................36

ii
5.2. Ucapan Terima Kasih..........................................................................36

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran

1. Sketsa Lapangan
2. Data Hasil Analisis Laboratorium
3. Peta Tunjuk Lokasi Observasi Lapangan dan Titik Pengambilan
Sampel
4. Peta Geologi Regional

iii
Daftar Gambar

Gambar.1 Pembagian Zona Fisiografis Provinsi Gorontalo yang mengacu pada


Budi Brahmantyo.....................................................................................................4

Gambar. 2 Peta Geologi Regional Lokasi Praktikum 1:250.000 mengacu pada Peta
.Lembar Kotamoagu, Sulawesi ( T. Apandi dan S. Bachri, 1997)............................6

Gambar. 3 Tiga lempeng besar membentuk Pulau Sulawesi....................................7

Gambar. 4 Peta Geologi Sulawesi.............................................................................8

Gambar. 5 Diagram Alir.........................................................................................19

Gambar. 6 Grafik Unsur Kimia Mafic Enclave.....................................................23

Gambar.7 Kandungan Senyawa Pada Mafic Enclave...........................................24

Gambar. 8 Grafik Unsur Pada Granodiorit............................................................25

Gambar. 9 Grafik Kandungan Senyawa Granodiorit.............................................27

iv
Daftar Foto
Foto. 1 Pengayakan sampel yang sudah menjadi serbuk.......................................10

Foto. 2 Penimbangan sampel oleh neraca analitik..................................................11

Foto. 3 Bagian bawah permukaan sampel harus rata..............................................11

Foto. 4 Kalibrasi alat XRF......................................................................................12

Foto. 5 Hasil pembacaan alat XRF berupa grafik..................................................12

Foto.6 Proses pemotongan sampel.........................................................................13

Foto.7 Sampel batuan setelah dipotong menggunakan mesin potong....................14

Foto.8 Penggosokan sampel batu menggunakan plat baja......................................14

Foto.9 Penggosokan sampel batu memggunakan keramik.....................................15

Foto.10 Lem khusus untuk melekatkan pada kaca preparat....................................15

Foto.11 Pencampuran lem......................................................................................16

Foto.12 Sampel yang ditekan pada kaca preparat menggunakan penghapus..........16

Foto.13 Pengecekan gelembung-gelembung udara menggunakan loop.................17

Foto.14 Penipisan sampel.......................................................................................17

Foto.15 Pengamatan Thin Section menggunakan mikroskop polarisasi................18

Foto.16 Singkapan batuan beku intrusif..................................................................20

Foto. 17 Mafic enclave microgranular dan batuan sampingnya granodiorit..........21


Foto.18 Sesar Turun Menganan..............................................................................22

Foto. 19 Sampel mafic encleave dan granodiorit dalan bentuk bubuk...................27

Foto. 20 Hasil pembacaan alat XRF berupa print out.............................................28

v
Daftar Tabel

vi
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sulawesi bagian utara terletak di sebelah utara garis Lintang Utara 2,


meliputi daerah bagian tengah, lengan timur dan utara Pulau Sulawesi. Bentang
alam daerah bagian utara umumnya berupa pebukitan dan pegunungan dengan
dataran rendah menempati daerah sepanjang pantai yang sempit.

Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan diantara tiga pergerakan


lempeng besar yaitu pergerakan lempeng Hindia-Australia dari selatan kecepatan
rata rata 7 cm/tahun, lempeng Pasifik dari arah timur dengan kecepatan sekitar 6
cm/tahun dan lempeng Asia bergerak relative pasif ke tenggara 3 cm/tahun.

Gorontalo berada diantara dua provinsi, yaitu di sebelah timur Provinsi


Sulawesi Utara dan sebelah barat Provinsi Sulawesi Tengah.

Gorontalo merupakan salah satu daerah yang secara geologi terdapat


struktur sesar yang meomotong wilayah kota Gorontalo serta melintasi danau
Limboto.

Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari
tentang mineral yang terkandung pada suatu batuan. Mineral optik membahas
tentang mineral- mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan
mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifat-
sifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui kondisi geologi di Daerah Pohe dan Sekitrnya, Kota


Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
2. Untuk mengetahui unsur kimia pada batuan dengan menggunakan metode
X-Ray Fluorecence (XRF).
3. Untuk mengethui kandungan mineral pada batuan melalui sifat optic mineral
dengan menggunakan mikroskop polarisasi Olympus.
2

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui kondisi geologi di Daerah Pohe dan Sekitrnya, Kota
Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
2. Mahasiswa mengetahui unsur kimia pada batuan dengan menggunakan
metode X-Ray Fluorecence (XRF).
3. Mahasiswa mengethui kandungan mineral pada batuan melalui sifat optik
mineral dengan menggunakan mikroskop polarisasi Olympus.
3

BAB II

GEOLOGI REGIONAL

2.1. Geomorfolgi

Menurut Budi brahmantyo bahwa secara fisiografis Provinsi Gorontalo di


bedakan menjadi empat zona fisiografis yaitu Zona Pegunungan Utara
Tilongkabila-Boliohuto, Zona Dataran Interior Paguyaman-Limboto, Zona
Pegunungan Selatan Bone- Tilamuta-Modello, dan Zona Dataran Pantai Pohuwato.

1. Zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto umumnya tersusun dari


formasi-formasi batuan produk dari gunungapi yang berumur Mioesen-pliosen,
yang umumnya berupa batuan beku intermedier hingga asam yaitu batuan-
batuan intrusif (diorit,granodiorit, dan beberapa granit). Batuan lainnya yaitu
batuan sedimenter dari gunungapi seperti lava,tuf, breksi atau konglomerat.
2. Zona Dataran Interior Paguyaman Limboto, zona ini membentang luas dari
dataran suwawa sebelah timur, melewati Gorontalo, Danau Limboto hingga
Paguyaman dan Botulantio disebelah barat. Zona ini merupakan cekungan
Gorontalo yang diduga dikontrol oleh struktur sesar normal.
3. Zona Pegunungan Selatan Bone-Tilamuta-Modello yang terdiri dari formasi-
formasi batuan sedimenter gunungapi yang umumnya terdiri dari lava basalt,
lava andesit, breksi, batu pasir dan batu lanau berusia sangat tua di Gorontalo
yaitu Eosen Oligosen dan batuan-batuan intrusi seperti diorit, granodiorit dan
granit berumur Pliosen.
4. Zona Dataran Pantai Pohuwato, zona ini hanya dapat dijumpai pada daerah
pantai selatan pohuwato. Datarn yang terbentang dai marisa sebelah timur
sampai Torosiaje yang merupakan aluial pantai yang sebagian besar
sebelumnya adalah daerah rawa dan zona pasang surut.

Berdasarkan pembagian zona diatas bahwa daerah praktikum termasuk


dalam Zona Pegunungan Selatan Bone. Ke arah utara, daerah ini berabatasan
dengan Zona Interior Limboto
4

Gambar.1 Pembagian Zona Fisiografis Provinsi Gorontalo yang mengacu pada


Budi Brahmantyo.

2.2 Stratigrafi

Stratigrafi regional daerah praktikum ini mengacu kepada Peta Geologi


Lembar Kotamobagu Batuan tertua pada daerah praktikum ialah Formasi Bilungala
(Tmbv) diperkirakan umurnya berdasarkan kandungan fosil dalam batugamping
adalah Miosen awal hingga Miosen akhir. Kemudian terdapat satuan batuan yang
menerobos Gunungapi Bilungala maupun Formasi Tinombo yakni Diorit Bone
(Tmb) yang diperkirakan berumur Miosen Akhir. Terdapat satuan batuan yang
menindih Batuan Gunuapi bilungala dan Breksi Wobudu yang diperkirakan
berumur Pliosen Akhir hingga Plioesen Awal. Kemudian terdapat satuan batuan
hasil endapan yang diperkiran berumur holosen yaitu Aluvium dan Endapan Pantai
(Qal), Batugamping Terumbu (Ql) dan Endapan Danau (Qpl).

Berdasarkan stratigrafi regional bahwa daerah praktikum terusun oleh


formasi batuan yaitu :

1. Batuan Gunungapi Pinogu (TQpv)


5

Terdiri dari perselingan aglomerat, tuf dan lava dan kepingan andesit
dengan ukuran berkisar antara 2-6 cm. Tuf dan tuf lapili di temukan
disekitar sungai bone bersusunan dasitan selain itu sebarannya terdapat
disebalah selatan wilayah cekungan limboto dan daerah Teluk Kuandang
yang diperkirakan berumur Pliosen Akhir Hingga Pliosen Awal dengan
ketebalan 250 meter.

2. Diorit Bone ( Tmb)

Satuan ini teridiri dari diorit masid berukuran sedang sampai kasar dengan
tekstur tidak seragam hipidiomorfik sampai faneroporfiritik dengan hablur
sulung piroksen dan felspar. Terdapat variasi susunan diorit kuarsa,
granodiorit sampai adamelit di mana variasi susunan ini terutama tersusun
oleh andesin, kuarsa dan hornblend

Terdapat juga butir-butir halus susunan mineral yang mirip dengan


andesitan dari Batuan Gunungapi Bilungala, dapat diartikan bahwa Diorit
Bone diduga sebagai magma induk dari Batuan Gunungapi Bilungala oleh
karena itu Diorit Bone Diperkirakn berumur Miosen awal hingga awal
Miosen Tengah. Singkapan dari satuan batuan ini dapat kita jumpai
disebelah timur dan barat Sesar Gorontalo dan dibagian utara cekungan
Limboto.
6

Gambar.2 Peta Geologi Regional Lokasi Praktikum 1:250.000 mengacu pada


Peta Lembar Kotamoagu, Sulawesi ( T. Apandi dan S. Bachri, 1997).

2.3 Tektonik Dan Struktur Geologi

Sulawesi terletak di bagian Indonesia Timur yang terbentuk akibat dari


bertemunya tiga lempeng besar yakni Lempeng Eurasia bergerak kearah Selatan -
tenggara, Lempeng Indo Australia bergerak kearah utara, dan Lempeng Pasifik
bergerak kearah Barat. Hal tersebut melahirkan kondisi geologi Sulawesi sangat
kompleks dan beragam yang terdiri dari kompleks metamorf, terannes opiolit, busur
vulkanik, granitoid belts dan Cekungan sedimen.

Pengaruh lempeng micro dari lempeng Philipina dan lempeng Molucca


membentuk zona subduksi dan persitiwa tektonik lainnya yang sangat sulit untuk
dipahami.
7

Gambar. 3 Tiga lempeng besar membentuk Pulau Sulawesi

Menurut Van Leuwen dari kutipan buku geologi yang ditulis oleh F.
Armstrong tahun 2012 yang berjudul Struktur Geologi Sulawesi mengatakan bahwa
secara litotektonik Sulawesi bagian Utara termasuk dalam Mandala Barat yang
memanjang dari daerah buol sampai Manado sebagai busur Magmatik yang teridiri
dari batuan Vulkanik plutonik berumur Paleogen Quarter.

Menurut MS. Khairuddin dkk. 2011, Zona subduksi di laut dan patahan
Gorontalo merupakan unsur tektonik dan struktur geologi yang cukup
mempengaruhi tatanan geologi daerah Gorontalo. Berdasarkan analisis kekar
bahwa patahan Gorontalo bersifat destral atau menganan.
8

Gambar.4 Peta Geologi Sulawesi


9

BAB III

METODE PRAKTIKUM

Metode yang dilakukan pada praktikum ini ada dua jenis yakni melakukan
pengamatan lapangan, pengamtan di laboratorium dengan analisis menggunakan
alat X-RAY Fluorosence dan pengamatan mineral pada batuan melalui sifat optik
mineral menggunakan mikroskop polarisasi Olympus.

Dalam observasi lapangan adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat
praktikum (pengambilan sampel) yakni : kompas, Global Positioning System
(GPS), palu Geologi, kantong sampel, buku catatan lapangan, alat tulis geologi
(ATG), papan clipboard, peta topografi, kertas HVS. Pada saat di lokasi praktikum
yang dilakukan adalah SOP dan pengumpulan data-data primer yang terdiri
penacatan koordinat lokasi, kondisi cuaca, daerah lokasi dan setelah itu melakukan
pengamatan singkapan dengan melakukan sketsa singkapan, menetukan arah
singkapan, kondisi fisik singkapan, kondisi geomorfologi singkapan. Selanjutnya
melakukan pengamatan batuan dan pengambilan sampel batuan dalm bentuk
bongkahan yang dinamakan Hand-sample untuk analisis pertologi batuan dan
sebagian kecil untuk analisa laboratorium.

Metode selanjutnya adalah pengamatan di laboratorium dengan analisis


menggunakan alat X-Ray Fluorosence. Tekhnik analisis X-Ray Fluoresence (XRF)
merupakan tekhnik analisis suatu bahan dengan menggunakan peralatan
spektrometer yang dipancarkan oleh sampel dari penyinaran sinar-X. Sinar-X yang
dianalisis berupa sinar-X karakteristik yang dihasilkan dari tabung sinar-X,
sedangkan sampel yang dianalisis dapat berupa sampel padat pejal dan serbuk.

Dalam pengamatan di laboratorium, adapun tahap prepasi sampel dengan


dengan tahapan sebagai berikut :

a. Melakukan pemanasan sampel


Pemanasan sampel ini dilakukan dengan menggunakan oven khusus
dan dibungkus oleh alumunium foil dengan suhu 100 untuk
menghilangkan kandungan air pada sampel batuan agar supaya pada saat
10

penggerusan dan hasil dari penggerusan (serbuk) tidak melekat pada alat
yang digunakan untuk menggerus sampel.
b. Penggerusan sampel
Penggerusan ini dilakukan dengan menggunakan mortal. Tujuan
dari penggerusan ini adalah membuat sampel dalam bentuk serbuk yang
sangat halus karena dapat mempengaruhi ketelitian waktu penganalisan
sampel, yang mana semakin halus akan semakin mendekati ketelitian. Pada
kegiatan penggerusan sampel diusahakan tidak ada kontaminasi dari
unsur/mineral lain atau alat ini dengan keadaan steril. Sebelumnya mortal
dibersihkan dahulu dengan alkohol dan kertas tisu setiap akan dipakai
c. Pengayakan
Sampel yang telah menjadi bubuk diayak dengan menggunakan
saringan berukuran 100 mesh. Serbuk sampel hasil pengayakan kemudian
dimasukkan kedalam amplop/kemasan, selanjutnya akan diuji dengan
menggunakan alat spektrometer X-Ray Flourescence (XRF).

Foto. 1 Pengayakan sampel yang sudah menjadi serbuk

Sebelum melakukan analisis menggunakan alat X-Ray Flourescence (XRF)


siapkan wadah yang dilapisi bagian bawahnya oleh plastik, usahakan bagian
bawahnya tidak mengkerut supaya pada saat sinar X-Ray di tembak ke sampel tidak
mengalami gangguan. Kemudian timbang sampel sebanyak 5 gram dan masukan
11

ke wadah sampel usahakan pada saat meninmbang dan memasukan sampel semua
dalam keadaan sterildan tidak kontaminasi oleh zat-zat lain.

Foto. 2 Penimbangan sampel oleh neraca analitik

Foto. 3 Bagian bawah permukaan sampel harus rata

Dalam melakukan analisis menggunakan X-Ray Flourescence (XRF) hal


yang perlu di perhatikan adalah melakukan kalibrasi alat supaya sebagai
pembanding dari sampel.
12

Foto. 4 Kalibrasi alat XRF


Setelah di lakukan kalibrasi, masukan sampel batuan yang sudah di timbang
kedalam alat XRF kemudian jalankan mesin sesuai prosedur, tunggu hingga kurang
lebih 15 menit. Hasil pembacaan dari alat tersebut berupa grafik dan print out.

Foto. 5 Hasil pembacaan alat XRF berupa grafik


Metode selanjutnya yaitu pengamatan mineral pada batuan mealui sifat
optik mineral dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Sampel batuan yang
akan di amati menggunakan mikroskop harus mempunyai ketebalan 0.35 mm
13

(Standard Internasional) karena pada ketebalan ini sifat optic dari mineral bisa
diamati.
Langkah yang dilakukan sebelum pengamatan yakni preparasi sampel
dengan tahapan sebagai berikut :
1. Pemotongan Sampel Batuan
Sampel batuan yang telah disiapkan di potong dengan menggunakan
mesin potong khusus hingga di dapatkan bentuk lempengan dengan kedua
permukaan datar. Ukuran rock chip harus berdasarkan ukuran slide glass yang
di gunakan. Ukuran slide glass untuk analisis kimia mineral adalah 2.8 x 4.8cm.
Tandai menggunakan spidol sampel batuan yang akan dipotong dengan ukuran
slide glass. Jenis mesin potong yang tersedia pada laboratorium adalah produksi
Extec Labcut tipe 300E. pada selama pemotongan harus ada air keluar yang
mengarah pada sampel guna menurunkan temperature yang di akibatkan dari
gesekan yang terjadi antara diamond blade dan sampel batu. Selama
pemotongan sampel juga harus di perhatikan kecepatan potong untuk
menghindari terjadinya retakan pada sampel.

Foto.6 Proses pemotongan sampel


14

Foto.7 Sampel batuan setelah dipotong menggunakan mesin potong.


2. Meratakan permukaan sampel
Salah satu permukaan yang mendatar dari batuan dibuat rata dengan
permukaan halus. Untuk meratakan bagian datar digunakan plat baja, keramik
dan bubuk. Bubuk yang digunakan pada plat baja berukuran 150, 400, 800 mesh
dan pada keramik menggunakan bubuk berukuran 1000, 2000, 4000, 6000
mesh. Bagian yang digosok harus rata supaya dalam pengeleman tidak
gelembung yang menggangu dalam pengamtan.

Foto.8 Penggosokan sampel batu menggunakan plat baja


15

Foto.9 Penggosokan sampel batu memggunakan keramik


3. Mengelem sayatan tipis
Bagian permukaan yang sudah di ratakan hingga halus di lekatkan pada
kaca preparat dengan lem khusus. Lem khusus ini memiliki dua jenis yaitu lem
a dan lem b yang harus di campurkan. Dalam pencampuran lem ini harus di
panaskan menggunakan hair dryer yang berguna lem tidak cepat keras, setelah
itu oleskan lem yang sudah tercampur pada sampel batu kemudian letakan pada
kaca preparat dan ditekan pelan-pelan untuk menghindari adanya gelembung-
gelembung udara. Kemudian tunggu selama 1 hari hingga sampel melekat
dengan baik.

Foto.10 Lem khusus untuk melekatkan pada kaca preparat.


16

Foto.11 Pencampuran lem

Foto.12 Sampel yang ditekan pada kaca preparat menggunakan penghapus


17

Foto.13 Pengecekan gelembung-gelembung udara menggunakan loop.


4. Menipiskan sampel
Penipisan sampel ini dilaukan menggunakan cara sebelumnya yakni
menggosok pada plat baja dan keramik dengan bubuk. Apabila ketebalan telah
mencapai 0,035mm, preparat dicek dibawah mikroskop polarisasi nikol
bersilang, dan apabila semua ketebalan telah betul, maka antara semua kristal
kuarsa pada sayatan tipis tidak ada yang menimbulkan warna interferensi yang
lebih tinggi dari kuning orde pertama, juga mineral plagioklas tidak
memperlihatkan warna interferensi lebih tinggi dai putih atau abu-abu orde
pertama.

Foto.14 Penipisan sampel


18

5. Memberikan Nomor pada Sayatan Tipis


Pemberian nomor pada sayatan tipis sangat berguna untuk menandai
sampel.
Setelah melakukan preparasi sampel batuan yang telah menjadi thin
section, selanjutnya adalah pengamatan mineral melalui sifat optik mineral
menggunak mikroskop polarisasi olympus. Dalam pengamtan mineral
menggunakan ortoskop nikol sejajar data yang di perlukan adalah warna,
pleokrisme, bentuk mineral, belahan, pecahan, indeks bias, relief mineral dan
ukuran mineral. Data yang diperlukan dalam pengamatan menggunakan ortoskop
nikol silang adalah warna interferensi, birefrigence (bis rangkap), orientasi optik,
sudut pemadaman dan jenis pemadaman.

Foto.15 Pengamatan Thin Section menggunakan mikroskop polarisasi


19

Diagram Alir
pengumpulan data-data primer yang
terdiri penacatan koordinat lokasi,
kondisi cuaca, daerah lokasi dan setelah
itu melakukan pengamatan singkapan
dengan melakukan sketsa singkapan,
observasi
lapangan menetukan arah singkapan, kondisi fisik
singkapan, kondisi geomorfologi
singkapan. Selanjutnya melakukan
pengamatan batuan dan pengambilan
sampel batuan dalm bentuk bongkahan
yang dinamakan Hand-sample
Melukan tahap
preparasi sampel
batuan

melakukan kalibrasi
alat XRF

XRF

analisis sampel batuan


XRF

hasil data beupa


grafik dan print
out.

Preparasi Thin
Section
analisis
laboratorium

Pengamatan Mineral
menggunakan
ortoskop sejajar

Mikroskop
Polarisasi
Pengamatan Mineral
menggunakan
ortoskpo silang

Gambar. 5 Diagram Alir


20

BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Observasi Lapangan
Secara admnistrasi daerah lokasi praktikum berada di Desa Pohe,
Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo dan secara
astronomi berada pada koordinat koordinat N 03026 dan E 123326 dengan
sistem koordinat WGS.

Berdasarkan pada peta geologi regional lembar kotamobagu bahwa lokasi


praktikum berada pada formasi Batuan Diorit Bone (Tmb) yang merupakan formasi
batuan intrusif.

Pada saat berada di lokasi praktikum, terdapat singkapan yang berada di


sekitar 15 meter ke utara dari jalan menyusuri sungai mati dengan dimensi
singkapan lebar 7 meter dan tinggi 10 meter, singkapan relatif mengarah ke utara.
Kondisi fisik singkapan tidak lapuk dengan warna cerah memiliki morfologi lebat.
Jenis singkapan ini adalah singkapan batuan beku. Pada singkapan ini juga terdapat
Mafic Encleave dengan ukuran kristal yang kecil dan sulit untuk di identifikasi,
sehingga dapat dinamakan mafic enclave microgranular

Foto.16 Singkapan batuan beku intrusif


21

Foto. 17 Mafic enclave microgranular dan batuan


sampingnya granodiorit
Berdasarkan diskripsi lapangan pada batuan beku tersebut, warna dari
batuan tersebut adalah abu-abu cerah yang bertekstur faneritik karena batuan
memiliki butir-butir cukup besar tanpa dilihat di mikroskop dengan struktur masif.
Derajat kristalisasi pada batuan ini terususun seluruhnya oleh massa kristal yaitu
holokristalin dengan hubungan kristal satu dengan lainnya eqigranular (seragam)
dengan sifat batuan felsik. Mineral penyusun pada batuan ini adalah biotite ,
hornblende, quartz dengan plagioklas lebih banyak dari ortoklas maka batuan
tersebut dinamakan granodiorit.

Selain itu terdapat struktur sekunder yang berupa bidang sesar, gores-garis
dan kekar berapasangan yang merupakan data penting jika pada singkapan
dikontrol oleh struktur. Hasil pengukuran dilapangan bahwa kedudukan dari bidang
tersebut adalah strike/dip N 3 E / S 70 E dan nilai dari struktur garis struktur garis
ini adalah trend 162 , Plunge 70 dan pitch 70 maka dapat indikasikan bahwa
pergerakan sesar ini yaitu sesar turun menganan.
22

Foto.18 Sesar Turun Menganan

4.2 Pengamatan Laboratorium

4.2.1 Kandungan Unsur Kimia Batuan

Berdasarkan data hasil analisis dari pengujian menggunakan metode X-Ray


Fluorescene (XRF) di laboratorium Fisika Universitas Negeri Gorontalo untuk
sampel dari batuan granodiorit berupa hasil analisis kualitatif dan kuatitatif. Hasil
analisis kualitatif yaitu mengidentifikasi jenis unsur dan senyawa yang terkandung
dalam sampel yang ditunjukan berupa adanya unsur dan senyawa yang terdeteksi
oleh alat XRF sedangkan analisis kuantitatif yaitu mengidentifikasi jumlah unsur
dan senyawa yang terkandung dalam sampel berupa konsentrasi unsur dalam
bilangan perseratus (%) dari sampel yang di uji. Hasil dari analisis X-Ray
Fluorescene (XRF) dapat dilihat dari grafik dan tabel.

Formula Concentration
(%)

Fe 49.79

O 32.70
23

Ca 7.66

Si 6.50

Mn 1.83

K 1.41

Zr 0.11

Tabel.1 Kandungan Unsur Kimia Mafic Enclave

Concentration
60

50

40

30

20

10

0
Fe O Ca Si Mn K Zr

Concentration

Gambar. 6 Grafik Unsur Kimia Mafic Enclave

Senyawa Concentration
(%)

SiO2 13.76

K20 1.45

CaO 9.18

TiO2 2.74

V2O5 0.55
24

MnO 1.95

Fe2O3 61.93

Rb2O 0.22

SrO 0.72

Y2O3 0.57

ZrO2 0.42

Nb2O5 0.29

MnO3 0.22

Sb2O3 1.72

TeO2 4.16

Tabel.2 Kandungan Senyawa Pada Mafic Enclave

Concentration
70
60
50
40
30
20
10
0

Column1

Gambar.7 Kandungan Senyawa Pada Mafic Enclave

Formula Concentration
(%)
25

O 36.80

Fe 30.20

Si 15.89

Ca 7.50

Te 2.86

K 2.71

Sr 1.43

Ti 1.17

Mn 0.64

Zr 0.36

Cr 0.17

Rb 0.15

Tabel.3 Kandungan Unsur Kimia Granodiorit

Concentration
40
35
30
25
20
15
10
5
0
O Fe Si Ca Te K Sr Ti Mn Zr Cr Rb

Concentration

Gambar. 8 Grafik Unsur Pada Granodiorit


26

Senuyawa Concentration
(%)

Na2O 27.7

Mg2O 0.3

Al2O3 0.31

SiO7 24.38

K2O 2.17

CaO 7.05

TiO2 1.19

V2O5 0.16

Cr2O3 0.11

MnO 0.60

Fe2O3 29.19

Rb2O 0.16

SrO 1.28

Y2O3 0.32

ZrO2 0.40

Nb2O5 0.11

MoO3 0.20

CdO 0.33

TeO2 3.87

CeO2 0.11

Tabel. 4 Kandungan Sneyawa Pada Granodiorit


27

Concentration
35

30

25

20

15

10

Concentration

Gambar. 9 Grafik Kandungan Senyawa Granodiorit

Foto. 19 Sampel mafic encleave dan granodiorit dalan bentuk bubuk


28

Foto. 20 Hasil pembacaan alat XRF berupa print out


Berdasarkan hasil observasi lapangan didapatkan batuan granodiorit dengan
mafic enclave. Berdasarkan hasil analisis XRF kedua batuan tersebut kandungan
kimianya mendapati Fe2O3 yang tinggi sebesar 29.19% dan silika 24.38% pada
sampel granodiorit, sedangkan pada sampel mafic enclave menghasilkan
kandungan Fe2O3 sebanyak 61.93% dan SiO2 sebanyak 13.76% maka berdasarkan
persentase data tersebut kedua sampel batuan ini mengandung besi seperti biotite,
hornblende, dan piroksen yang banyak mengandung senyawa Fe2O3.
Pada klasifikasi yang dimasukkan oleh Paccerilo dan taylor (1976) yaitu
diagram plot SiO2-K2O, kedua sampel tidak masuk ke dalam klasifikasi karena
mengandung unsur silika yang rendah, namum jika dilihat dari komposisi kalium
oksida sampel granodiorit termasuk dalam himpunan batuan yang High-K (calk-
29

alkaline) dengan komposisi K2O nya 2.17% dan sampel mafic enclave termasuk
dalam himpunan batuan yang medium K (calc-alkaline).
4.2.2 Pengamatan Mineral Pada Batuan
PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara : Deskripsi Megaskropik Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Jumat/ 1-12-2017 NIM : 471 416 011

1. Warna : Cerah
2. Struktur : Masif
3. Tekstur : Faneritik
4. Sifat batuan : Sifat Batuan
5. Tingkat kristalisasi : Holokristalin
6. Keseragaman : Eqigranular
7. Mineralogi : Biotite, Plagioclase, Hornblende, Quartz
8. Nama Batuan : Granodiorit
9. Genesa : Pembentukan ini berada di bawah
permukaan dengan magma bersifat asam yang kaya silika yang
mendingin dalam bentuk batolit dan stok.
30

4.2.2.1 Ortoskop Nikol Sejajar


PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara : Deskripsi Mikroskopik Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Jumat/ 1-12-2017 NIM : 471 417 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. Ukuran Lensa Objektif : 10x
3. No. Sampel : Rama
4. Warna : Kuning Pucat
5. Pleokroisme : Dwikroik
6. Bentuk Mineral : Euhedral Prismatik
7. Belahan : 1 Arah
8. Pecahan :-
9. Indeks Bias : Nmin < Ncb
10. Relief Mineral : Sedang
11. Penentuan Ukuran Mineral : x= 0,3-0,9 ; y= 0,14-0,86
12. Nama Mineral : Hornblende
13. Petrogenesa : Bentuk kristal dari mineral ini sempurna
karen batas-batas antara mineral jelas diliat dari reliefnyanya sedang, hal ini
membuktikan bahwa dalam pembentukan mineral membutuhkan waktu
yang lama.
31

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara : Deskripsi Mikroskopik Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Jumat/ 1-12-2017 NIM : 471 417 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. Ukuran Lensa Objektif :10x
3. No. Sampel : Rama
4. Warna : Cokelat
5. Pleokroisme :-
6. Bentuk Mineral :
7. Belahan : satu arah
8. Pecahan :-
9. Indeks Bias : Nmn< Ncb
10. Relief Mineral : rendah
11. Penentuan Ukuran Mineral : x= 0,3-0,7; y= 0,24-0,76
12. Nama Mineral : Biotite
13. Petrogenesa : Mineral terbentuk di bawah permukaan
bumi. Kristal dari mieral ini anhedral karena batas-batas mineralnya tidak
jelas. Dan diliat dari reliefnya yaitu rendah membuktikan bahwa proses
pembentukannya cepat.
32

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara : Deskripsi Mikroskopik Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Jumat/ 1-12-2017 NIM : 471 417 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. Ukuran Lensa Objektif :10x
3. No. Sampel :-
4. Warna :-
5. Pleokroisme : anhedral
6. Bentuk Mineral : satu arah
7. Belahan :-
8. Pecahan :-
9. Indeks Bias : Nmin<Ncb
10. Relief Mineral : rendah
11. Penentuan Ukuran Mineral : x=0,43-0,65; y=0,49-0,51
12. Nama Mineral : Quartz
13. Petrogenesa : Pembentukan mineral berada di bawah
permukaan tidak lama diliat dari reliefnya rendah. Bentuk kristal ini
anhedral karena batas-batasnya tidak jelas.

4.2.2.2 Ortoskop Nikol Silang


33

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara IV : Ortoskop Nikol Silang Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Minggu/ 3-12-2017 NIM : 471 416 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. ukuran Lensa Objektif : 10x
3. No sampel : Rama
4. Warna Interferensi : Coklat Tua
5. Birefrigence (bias rangkap) : Orde 1, Atas
6. Orientasi Optik : -, Substraksi (length slow
7. Sudut pemadaman & jenis pemadaman : 28
8. Kembaran :-
9. Nama Mineral : Biotite
10. Keterangan : Biotite dibedakan dari phlogopite
dengan warna gelap dan sudut aborsi kuat. Dari hornblende coklat umum
dibedakan dengan sudut pemadaman yang kecil dan perbedaan belahan.
Biotite sering teralterasi menjadi chlorite, juga menjadi vermiculite. Biotite
mineral yang tersebar luas dan umum, terdapat dalam batuan beku hampir
seluruh tipe, juga dalam schists dan gneiss dan zona metamorf kontak. Biotite
umum dalam sedimen detrital
34

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara IV : Ortoskop Nikol Silang Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Minggu/ 3-12-2017 NIM : 471 416 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. ukuran Lensa Objektif : 10x
3. No sampel : Rama
4. Warna Interferensi : Abu-abu
5. Birefrigence (bias rangkap) : Orde 1, Bawah
6. Orientasi Optik : +, Adisi (Fast)
7. Sudut pemadaman & jenis pemadaman : 0
8. Kembaran :
9. Nama Mineral : Hornblende
10. Petrogenesa : Hornblende berbeda dari augite
dalam belahan, pleokroisme dan sudut pemadaman. Hornblende coklat
menyerupai biotite mempunyai belahan yang baik (satu arah) dan paralel sudut
pemadamannya. Hornblende sangat umum didapatkan dan merupakan.mineral
yang tersebar luas dalam berbagai tipe batuan beku, juga dalam schist, gneiss
dan amphibolite.
35

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK

Acara IV : Ortoskop Nikol Silang Nama : Rachmat R.N.S


Hari/Tanggal : Minggu/ 3-12-2017 NIM : 471 416 011

1. Ukuran Lensa Okuler : 7x


2. Ukuran Lensa Objektif : 10x
3. No sampel : Rama
4. Warna Interferensi : Kuning
5. Birefrigence (bias rangkap) : Orde 3, Atas
6. Orientasi Optik : +, Adisi (Fast)
7. Sudut pemadaman & jenis pemadaman : 37
8. Kembaran :-
9. Nama Mineral : Quartz
10. Keterangan : Cordierite sering membuat
kekeliruan dengan quartz, tetapi cordierite biaxial. Quartz adalah mineral
ubiquitous, terdapat dalam berbagai tipe batuan sebagai mineral utama,
asesories atau sekunder dan.mineral detrital.
36

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan analisis alat X-Ray Flouroscene


(XRF) dan pengamatan mikroskop bahwa bahwa pada sampel batuan granodiorit
dan mafic enclave ini memiliki kandungan Fe2O3 masing-masing 29.19% dan
61.93% maka mineral penyusunnya berupa biotie, hornblende dan piroksen

5.2 Ucapan Terima Kasih

Dengan penuh kerendahan dan ketulusan hati penulis menghaturkan ucapan


terima kasih kepada :

1) Dr. Sc. Yayu Indriati Arifin, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah
Geokimia
2) Mohamad Mokoginta selaku ketua asisten koordinator Laboratorium
John Ario Katili Universita Negeri Gorontalo.
3) Kak Fauzul Dan Kak Eki Selaku Asisten Mata Kuliah Mineral Optik
4) Ka Arlan selaku Asisten laboratorium Fisika Universitas Negeri
Gorontalo
5) Teman-teman yang selalu bersemangat dalam praktikum terutama
kelompok 3 Tia dan Lia
6) Teman-Teman seperjuangan Geologi angkatan 2016 : Akbar, Afdal,
Ikal, Yayat, Ito, Ayi, Fitar, Naser, Sutriyono, Adrianto, Fahmy, Adit,
Ayib, Della, Tya, Mini, Sari, Veronica, Dewi, Indri, Sisi, Lia, Nani,
Maya, Azizah.
Daftar Pustaka
Bachri, S., Sukindo, dan Ratman N. 1994. Geologi Lembar Tilamuta, Sulawesi
skala 1:250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung
Bachri, S., Sukindo, dan Ratman N. 1997. Peta geologi Lembar Kotamobagu
Sulawesi skala 1:250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Bandung.

Brahmantyo, B. 2009. Ekspedisi Geografi Indonesia. Bandung

MS. Khairudin, Hutagalung Ronald dan Nurhamdan. 2011. Perkembangan


Tektonik dan Implikasi Terhadap Potensi Gempa dan Tsunami Di Kawasan
Pulau Sulawesi. Makassar

Somopotan F. Armstrong. 2012. Struktur Geologi. Sulawesi. Perpustakaan


Kebumian Institut Teknologi Bandung.