You are on page 1of 15

Kebijakan Pemerintah di Bidang Politik Dalam Negeri di Awal Abad XXI

Oleh: Surjadi Soedirdja

I. Pendahuluan

Penetrasi global, perubahan sosial dan politik ayng terjadi di masyarakat sejak masa reformasi ini membawa im
yang sangat luas terhadap kehidupan politik nasional dan orientasi penyelenggaraan pemerintahan. Demokratisas
berjalan sejak awal tahun 1998 telah membuka perpektif baru yang menyangkut interaksi antara pemerintah
masyarakat.

Di samping itu telah terjadi pula perubahan lingkungan baik penetrasi global maupun regional. Terbukan kesem
bagi liberalisasi dalam bidang ekonomi dan bisnis bagaimana pun akan membawa implikasi terhadap liberalisasi
global dan domestik.

Sementara itu gejala munculnya semangat kedaerahan yang membawa dampak yang tidak menguntungkan
persatuan dan kesatuan bangsa di beberapa daerah telah muncul berbagai tuntutan yang mengharuskan peme
untuk memberikan respon yang tepat sehingga mampu mengakomodasi kepentingan persatuan dan kesatuan b
dalam rangka mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia yang sudah terjaga selama lebih dari lima dek

Selanjutnya proses reformasi yang telah bergulir membawa dampak terjadinya transformasi sosial. Transformas
kemudian membawa makna yang sangat positif bagi demokratisasi politik telah membawa dampak yang sang
bagi timbulnya arah, orientasi sosial ini harus dicermati dengan intensif dan sistematis, sehingga pemerintah m
memberikan jawaban yang tepat dan terpercaya terhadap semua tuntutan masyarakat yang timbul.

II. Beberapa permasalahan

1. Dari segi siklus anggaran kita akan mengakhiri pola anggaran lama yang berakhir pada tanggal 31 Maret 200
memasuki pola anggaran baru yang dimulai pada tanggal 1 April 2000. Ciri pola anggaran baru itu mengikuti
kalender, yaitu mulai 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2000. Untuk tahun anggaran 2000 dimul
tanggal 1 April dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2000. Di samping itu juga ada perubahan mengenai
anggaran. Begitu pula mengenai substansi yang diagendakan dalam rencana anggaran akan mengalami be
pergeseran. Hal ini sangat berpengaruh pada kebijakan penyelenggaraan pemerintah.

2. Mengawali era reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara di bawah kepemimpinan Presiden K.H.
Rachman Wahid, kita dihadapkan pada pergeseran paradigma dalam sistem penyelenggaraan pemerintah dar
sentralisasi menjadi pola desentralisasi. Hal itu ditandai dengan pencabutan Undang-Undang No.22 tahun 1999 t
Pemerintah Daerah, yang dilengkapi dengan Undang-Undang No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan
Pemerintah Pusat dan Daerah.

3. Situasi dan kondisi yang menyelimuti perputaran roda pemerintahan dalam negeri yang pelaksana
dipertanggungjawabkan kepada kita semua: di samping ada faktor-faktor yang mendukung, juga ada faktor ham
tantangan bahkan ancaman, ketenteraman dan ketertiban umum. Gejala yang muncul di permukaan mengindik
adanya pihak-pihak tertentu yang memainkan teori kontradiksi, dengan sasaran antara untuk menciptakan k
misalnya mempertentangkan:
- Antar pemeluk agama, antara penganut sekte atau mashab tertentu dalam satu agama;

- Antar suku bangsa (perbedaan norma budaya);

- Antar desa atau kampung;

- Antar orang kaya dan miskin (kesenjangan sosial)

Selain itu, ada indikasi dikotomis; mempertentangkan antara pusat dan daerah, antara sipil dan miliiter, dan
kesatuan dalam tubuh TNI/POLRI serta antara pemerintah dan rakyat. Di samping itu juga dilontarkan ungkapan
dalam pemikiran, pernyataan maupun tindakan yang menginginkan sistem kenegaraan diubah dengan sistem
federal, bahkan menginginkan untuk lepas dari negara kesatuan Republik Indonesia, dengan mendirikan negara s
Situasi itu juga diramalkan dengan pemanfaatan kebebasan menyatakan pendapat baik dengan tulisan, perk
ataupun dengan cara lain seperti untuk rasa, talk showdengan menggunakan media massa -cetak maupun elektr
maupun dengan forum diskusi, seminar dan sebagainya.

Apabila sasaran antara tercapai dengan timbulnya konflik di berbagai bidang baik yang bersifat vertikal m
horizontal, tentu ada sasaran berikutnya yang diinginkan. Kiranya patut dapat diduga, arahnya untuk mendiskre
kepemimpinan nasional; merapuhkan jalannya pemerintahaan di mana kita ada di dalam sistem yang sedang b
ini. Berarti kita semua wajib untuk menyikapi dengan meningkatkan kewaspadaan nasional, persatuan dan ke
bangsa, yang menjamin tetap tegak dan utuhnya penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan, apa pun resikon

4. Penanganan permasalahan yang ditinggalkan pemerintahan terdahulu sangat kompleks dan rumit; baik menya
soal politik, ekonomi, maupun hukum; yang kesemuanya memerlukan energi ekstra dan memerlukan waktu
memadai. Pemerintah berkeinginan untuk segera menyelesaikan permasalahan itu sesuai dengan harapan
banyak; namun perlu disadari bahwa bersamaan dengan permasalahan baru, yang kita rasakan tiada henti-hentin
tiada habis-habisnya. Dalam keadaan yang demikian itulah, kita harus mampu secara cermat dan cepat mela
analisis, sehingga dapat menentukan skala prioritas dalam menangani berbagai permasalahan itu.

5. Berbagai permasalahan yang mewarnai keadaan dan situasi tersebut banyak dimunculkan dengan terselubung
strategis yang secara objektif kita semua berkepentingan. Isu-isu itu seperti demokratisasi, HAM, keadilan, pene
hukum, globalisasi lingkungan hidup, reformasi, KKN, primordialisme dan status quo.

6. Di samping permasalahan yang berskala nasional, masing-masing daerah juga menghadapi permasalahan sendi
yang berdimensi lokal maupun kasus lokal tapi berdampak nasional bahkan internasional.

III. Pilar uama penyelenggaraan pemerintahan

Koridor penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri yang ingin kita bangun; yakni pemerintahan yang demo
yang menjunjung tinggi supremasi hukum, menghormati hak-hak azasi manusia dan dengan dilandasi moral dan
yang baik.

Supremasi hukum menjadi rambu penting atribut ini yang kemudian akan dapat dipakai menjadi ukuran kelayaka
"kebenaran" dan instrumennya adalah produk peraturan perundangan dan segala prosesnya yang benar-benar diku

Penghargaan terhadap hak-hal azasi manusia merupakan salah satu atribut yang memberikan koridor kemanusi
mana peningkatan harkat, derajat dan martabat manusia menjadi sasaran utama dan hak azasi senantiasa di
Semua persoalan harus dimulai dari sesuatu yang baik, tanpa syak wasangka, diniati dengan baik dan dikemba
dalam sistem dan instrumen yang baik pula. Penghargaan HAM tersebut juga antara lain terefleksi dalam art
pengembangan peran serta rakyat dalam berbagai strata dan struktur sosial yang ada sebagai stakeholders.

Landasan moral yang baik disyaratkan bagi para penyelenggara negara baik pemerintah maupun warga masy
sehingga tatanan kehidupan manusia berlangsung layak dan dalam jalan kehidupan yang benar, dilandasi keiman
ketaqwaan serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Koridor dengan tiga pilar utama tersebut harus benar-benar dipahami oleh semua pihak sehingga
penyelenggaraan pemerintahan yang secara simultan baik pusat maupun daerah dapat berlangsung dalam s
harmoni.

Perlu dijelaskan pula bahwa refleksi kebutuhan masyarakat yang dapat dicerna dari isyarat yang muncul dalam
rapat kerja dengan wakil-wakil rakyat kita di DPR. Kebutuhan itu ialah rasa kecintaan yang nyata dari peme
kepada warganya; yang dikomunikasikan antara pemerintah dan rakyat dalam bahasa yang benar-benar dimenger
rakyat; serta dilaksanakan dalam suasana keterbukaan dan dapat dipertanggungjawabkan secara fung
administratif, sosial dan moral serta dapat diterima oleh rakyat. Salah satu wujud penting dalam aktualisasi keb
rakyat tersebut antara lain terumuskan dalam Good Government. Menghadapi kedepan hal ini menjadi sangat p
Ciri-ciri good go

Kebijakan Pemerintah di Bidang Politik Dalam Negeri di


Awal Abad XXI
Oleh: Surjadi Soedirdja

I. Pendahuluan

Penetrasi global, perubahan sosial dan politik ayng terjadi di masyarakat sejak masa reformasi ini membawa implikasi
yang sangat luas terhadap kehidupan politik nasional dan orientasi penyelenggaraan pemerintahan. Demokratisasi yang
berjalan sejak awal tahun 1998 telah membuka perpektif baru yang menyangkut interaksi antara pemerintah dalam
masyarakat.

Di samping itu telah terjadi pula perubahan lingkungan baik penetrasi global maupun regional. Terbukan kesempatan
bagi liberalisasi dalam bidang ekonomi dan bisnis bagaimana pun akan membawa implikasi terhadap liberalisasi politik
global dan domestik.

Sementara itu gejala munculnya semangat kedaerahan yang membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi
persatuan dan kesatuan bangsa di beberapa daerah telah muncul berbagai tuntutan yang mengharuskan pemerintah untuk
memberikan respon yang tepat sehingga mampu mengakomodasi kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa dalam
rangka mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia yang sudah terjaga selama lebih dari lima dekade.

Selanjutnya proses reformasi yang telah bergulir membawa dampak terjadinya transformasi sosial. Transformasi yang
kemudian membawa makna yang sangat positif bagi demokratisasi politik telah membawa dampak yang sangat luas bagi
timbulnya arah, orientasi sosial ini harus dicermati dengan intensif dan sistematis, sehingga pemerintah mampu
memberikan jawaban yang tepat dan terpercaya terhadap semua tuntutan masyarakat yang timbul.

II. Beberapa permasalahan

1. Dari segi siklus anggaran kita akan mengakhiri pola anggaran lama yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2000; dan
memasuki pola anggaran baru yang dimulai pada tanggal 1 April 2000. Ciri pola anggaran baru itu mengikuti tahun
kalender, yaitu mulai 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2000. Untuk tahun anggaran 2000 dimulai dari tanggal
1 April dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2000. Di samping itu juga ada perubahan mengenai sistem
anggaran. Begitu pula mengenai substansi yang diagendakan dalam rencana anggaran akan mengalami beberapa
pergeseran. Hal ini sangat berpengaruh pada kebijakan penyelenggaraan pemerintah.

2. Mengawali era reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara di bawah kepemimpinan Presiden K.H.Abdul
Rachman Wahid, kita dihadapkan pada pergeseran paradigma dalam sistem penyelenggaraan pemerintah dari pola
sentralisasi menjadi pola desentralisasi. Hal itu ditandai dengan pencabutan Undang-Undang No.22 tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah, yang dilengkapi dengan Undang-Undang No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antar
Pemerintah Pusat dan Daerah.

3. Situasi dan kondisi yang menyelimuti perputaran roda pemerintahan dalam negeri yang pelaksanaannya
dipertanggungjawabkan kepada kita semua: di samping ada faktor-faktor yang mendukung, juga ada faktor hambatan,
tantangan bahkan ancaman, ketenteraman dan ketertiban umum. Gejala yang muncul di permukaan mengindikasikan
adanya pihak-pihak tertentu yang memainkan teori kontradiksi, dengan sasaran antara untuk menciptakan konflik,
misalnya mempertentangkan:

- Antar pemeluk agama, antara penganut sekte atau mashab tertentu dalam satu agama;

- Antar suku bangsa (perbedaan norma budaya);

- Antar desa atau kampung;

- Antar orang kaya dan miskin (kesenjangan sosial)

Selain itu, ada indikasi dikotomis; mempertentangkan antara pusat dan daerah, antara sipil dan miliiter, dan antara
kesatuan dalam tubuh TNI/POLRI serta antara pemerintah dan rakyat. Di samping itu juga dilontarkan ungkapan, baik
dalam pemikiran, pernyataan maupun tindakan yang menginginkan sistem kenegaraan diubah dengan sistem negara
federal, bahkan menginginkan untuk lepas dari negara kesatuan Republik Indonesia, dengan mendirikan negara sendiri.
Situasi itu juga diramalkan dengan pemanfaatan kebebasan menyatakan pendapat baik dengan tulisan, perkataan, ataupun
dengan cara lain seperti untuk rasa, talk showdengan menggunakan media massa -cetak maupun elektronika-maupun
dengan forum diskusi, seminar dan sebagainya.

Apabila sasaran antara tercapai dengan timbulnya konflik di berbagai bidang baik yang bersifat vertikal maupun
horizontal, tentu ada sasaran berikutnya yang diinginkan. Kiranya patut dapat diduga, arahnya untuk mendiskreditkan
kepemimpinan nasional; merapuhkan jalannya pemerintahaan di mana kita ada di dalam sistem yang sedang berjalan ini.
Berarti kita semua wajib untuk menyikapi dengan meningkatkan kewaspadaan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa,
yang menjamin tetap tegak dan utuhnya penyelenggaraan pemerintahan negara kesatuan, apa pun resikonya.

4. Penanganan permasalahan yang ditinggalkan pemerintahan terdahulu sangat kompleks dan rumit; baik menyangkut
soal politik, ekonomi, maupun hukum; yang kesemuanya memerlukan energi ekstra dan memerlukan waktu yang
memadai. Pemerintah berkeinginan untuk segera menyelesaikan permasalahan itu sesuai dengan harapan rakyat banyak;
namun perlu disadari bahwa bersamaan dengan permasalahan baru, yang kita rasakan tiada henti-hentinya dan tiada
habis-habisnya. Dalam keadaan yang demikian itulah, kita harus mampu secara cermat dan cepat melakukan analisis,
sehingga dapat menentukan skala prioritas dalam menangani berbagai permasalahan itu.

5. Berbagai permasalahan yang mewarnai keadaan dan situasi tersebut banyak dimunculkan dengan terselubung isu-isu
strategis yang secara objektif kita semua berkepentingan. Isu-isu itu seperti demokratisasi, HAM, keadilan, penegakan
hukum, globalisasi lingkungan hidup, reformasi, KKN, primordialisme dan status quo.

6. Di samping permasalahan yang berskala nasional, masing-masing daerah juga menghadapi permasalahan sendiri baik
yang berdimensi lokal maupun kasus lokal tapi berdampak nasional bahkan internasional.

III. Pilar uama penyelenggaraan pemerintahan

Koridor penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri yang ingin kita bangun; yakni pemerintahan yang demokratis; yang
menjunjung tinggi supremasi hukum, menghormati hak-hak azasi manusia dan dengan dilandasi moral dan etika yang
baik.

Supremasi hukum menjadi rambu penting atribut ini yang kemudian akan dapat dipakai menjadi ukuran kelayakan akan
"kebenaran" dan instrumennya adalah produk peraturan perundangan dan segala prosesnya yang benar-benar dikuasai.

Penghargaan terhadap hak-hal azasi manusia merupakan salah satu atribut yang memberikan koridor kemanusiaan; di
mana peningkatan harkat, derajat dan martabat manusia menjadi sasaran utama dan hak azasi senantiasa dihargai. Semua
persoalan harus dimulai dari sesuatu yang baik, tanpa syak wasangka, diniati dengan baik dan dikembangkan dalam
sistem dan instrumen yang baik pula. Penghargaan HAM tersebut juga antara lain terefleksi dalam artikulasi
pengembangan peran serta rakyat dalam berbagai strata dan struktur sosial yang ada sebagai stakeholders.

Landasan moral yang baik disyaratkan bagi para penyelenggara negara baik pemerintah maupun warga masyarakat,
sehingga tatanan kehidupan manusia berlangsung layak dan dalam jalan kehidupan yang benar, dilandasi keimanan dan
ketaqwaan serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Koridor dengan tiga pilar utama tersebut harus benar-benar dipahami oleh semua pihak sehingga derap penyelenggaraan
pemerintahan yang secara simultan baik pusat maupun daerah dapat berlangsung dalam sebuah harmoni.

Perlu dijelaskan pula bahwa refleksi kebutuhan masyarakat yang dapat dicerna dari isyarat yang muncul dalam rapat-
rapat kerja dengan wakil-wakil rakyat kita di DPR. Kebutuhan itu ialah rasa kecintaan yang nyata dari pemerintah kepada
warganya; yang dikomunikasikan antara pemerintah dan rakyat dalam bahasa yang benar-benar dimengerti oleh rakyat;
serta dilaksanakan dalam suasana keterbukaan dan dapat dipertanggungjawabkan secara fungsional, administratif, sosial
dan moral serta dapat diterima oleh rakyat. Salah satu wujud penting dalam aktualisasi kebutuhan rakyat tersebut antara
lain terumuskan dalam Good Government. Menghadapi kedepan hal ini menjadi sangat penting. Ciri-ciri good
government yang ditampilkan ialah: partisipatif, aturan main yang jelas, transparan, responsif/tanggap, berorientasi
konsensus, pemerataan, akuntabel dan didukung oleh visi strategis. Secara lebih nyata lagi dalam wujud sehari-hari
adalah sikap dasar dan perilaku yang berubah total dari pola minta dilayani menjadi pola kuasa melayani dengan disertai
sikap yang akomodatif dan komunikatif. Kita sangat sadar bahwa jelas-jelas hal ini tidak mudah biasa dilakukan. Hanya
dengan kesungguhan dan hati yang bersih kita mungkin bisa mencapainya.

IV. Paradigma baru Depdagri

Paradigma baru berkembang menyelimuti sosok dan eksistensi Pemerintah termasuk jajaran Depdagri. Beberapa
paradigma yang muncul itu ialah:

1 Paradigma baru bidang politik

Pola penanganan politik dalam negeri mengalami perubahan besar dengan mereduksi secara signifikan peran pemerintah
dalam memberikan dorongan dan bimbingan pelaksanaan kehidupan politik dalam rangka pemantapan stabilitas politik
dalam negeri. Peran pembinaan politik lebih disandarkan pada pembinaan secara langsung oleh Partai Politik dan jalur-
jalur kekuatan masyarakat sendiri. Untuk itu kegiatan Departemen Dalam Negeri yang dikembangkan meliputi usaha-
usaha fasilitasi kepada daerah dalam penciptaan iklim demokratis melalui sosialisasi, dukungan peraturan perundangan
(seperti pemilihan Kepala Daerah, peningkatan peran DPRD dan lain-lain). Dengan demikian Depdagri telah
meninggalkan format pembinaan politik waktu yang lalu dan memberikan fokus kebijakan Departemen Dalam Negeri
dalam pembinaan pemerintahan dalam negeri yang meliputi upaya mendorong terselenggaranya kehidupan berpolitik di
daerah dengan prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Kegiatan yang dikembangkan
meliputi dorongan mekanisme dialogis, keterbukaan, mengakomodasi dinamika politik masyarakat dalam pengambilan
keputusan di daerah dan sebagainya.

2 Paradigma baru pemerintahan Dalam Negeri

Pergeseran paradigma bidang politik juga membawa implikasi yang sangat mendasar, terutama dalam platform sistem
penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri, yang salah satu inti pokoknya adalah mengenai sistem pemerintahan
daerah. Hal-hal yang mendasar adalah:

1) Penataan kewenangan pemerintah di semua strata pemerintahan secara tegas dinyatakan bahwa daerah memiliki
kewenangan seluruh bidang pemerintahan, kecuali wewenang tertentu yang menjadi ciri dan jaminan eksistensi negara
kesatuan yang tidak memberi peluang adanya negara dalam negara. Kewenangan Pemerintah Daerah yang diinginkan
atau dipertimbangkan atas dasar kebutuhan, kondisi dan situasi ditentukan sendiri oleh daerah. Dengan demikian tidak
akan ada proses penyerahan kewenangan melainkan bahwa kewenangan itu sudah milik daerah. Filosofinya tidak dalam
format penyerahan kewenangan. Rancangan PP tentang penataan kewenangan tersebut sedang dalam proses yang
dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri dan Kantor Menteri Negara Otonomi Daerah.

2) Konstruksi Pemerintah Daerah menggambarkan pemisahan secara tegas antara lembaga Kepala Daerah dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.

3) Penetapan kebijakan daerah yang semula harus memerlukan pengesahan pejabat berwenang Pusat tidak diperlukan
lagi. Jadi, cukup selesai ditetapkan oleh daerah sendiri, hanya saja daerah diwajibkan melaporkan kepada pemerintah
cq.Menteri Dalam Negeri.
4) Pembentukan Kecamatan, Desa dan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

5) Wewenang, hak, kewajiban DPRD termasuk pemilihan Kepala Daerah, diatur dalam Tata Tertib DPRD dengan
mengacu pada pedoman yang ditetapkan pemerintah.

Khusus berkaitan dengan upaya aktualisasi sistem dan tatanan pemerintahan yang baru tersebut, kita dihadapkan pada
suatu kondisi psikologik yang tidak mudah, di mana di satu sisi peraturan menyebutkan bahwa persiapan aturan
dilakukan dalam satu tahun dan pelaksanaan dalam dua tahun; tetapi di sisi yang lain masyarakat berkeinginan,
sepertinya harus sekarang juga dilaksanakan.

3 Paradigma baru Pembangunan Daerah

Fenomena pembangunan daerah mengalami perubahan cukup prinsip dari filosofi "Pembangunan Daerah" berubah
menjadi "Daerah Membangun". Indikasi yang muncul bercirikan antara lain sifat-sifat kreatif, proaktif dan antisipatif
serta akan terefleksi dalam beberapa hal; dan yang cukup penting dapat diidentifikasi yaitu sebagai berikut:

1) Pada pendekatan dan mekanisme dalam pengambilan keputusan untuk membangun daerah. Tahapan-tahapan proses
pembangunan sejak studi awal, perencanaan sampai kepada pengambilan keputusan dilakukan dalam proses yang lebih
demokratis dan aspiratif serta dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

2) Isu pembangunan menjadi isu yang lebih kredibel dan benar-benar merupakan isu pembangunan yang sesungguhnya
dengan tidak sekedar mencapai target fisiknya tetapi diperhitungkan dengan positifnya, yang terdiri dari permasalahan
kunci daerah dan tujuan pembangunan yang senyatanya.

3) Pembangunan lebih berorientasi regional dalam keseimbangan sektoral. Pembangunan dapat lebih menjawab
permasalahan kunci daerah yang benar-benar faktual.

4) Pembangunan lebih mengandalkan perencanaan yang dinamis sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan
masyarakat, ketimbang perencanaan yang rigid dalam suatu "blue print".

5) Kebutuhan akan komitmen perencanaan dari pimpinan puncak di wilayah yang didukung oleh perencanaan yang
metodis dengan pelaksanaan yang responsif.

Arti penting dari semua itu pada hakekatnya adalah pengembangan potensi diri daerah, masyarakat serta jajaran
Pemerintahan daerah untuk lebih kreatif dalam melakukan improvisasi persepsinya atas pelaksanaan UU Nomor 22 tahun
1999.

4 Paradigma baru peran serta masyarakat

Salah satu bentuk artikulasi pembangunan yang aspiratif itu, diwujudkan dalam bentuk keterlibatan masyarakat menjadi
lebih kental; didorong oleh iklim demokratis dan keterbukaan. Pemerintah terposisi untuk lebih bersifat mendorong; dan
masyarakat tampil menjadi sosok pemeran utama. Gambaran ini merupakan aset budaya yang menjadi modal untuk
berprosesnya perubahan-perubahan di masyarakat sesuai dengan yang kita harapkan. Beberapa ciri yang muncul sebagai
paradigma baru itu, antara lain:

1) Pembangunan dirasakan lebih menjadi milik daerah dalam arti yang utuh sebagai kesatuan masyarakat hukum, tidak
lagi hanya menjadi milik pemerintah daerah.

2) Peran serta masyarakat menjadi maksimal dan lebih mengemuka.

3) Keterlibatan masyarakat dalam berbagai bentuk dan pola stakeholders menjadi participatory yang lebih optimal dalam
prinsip, dalam metode dan dalam penerapannya.

4) Peran serta masyarakat lebih legitimate dengan penguatan legalitas sebagai stakeholders seperti Partai Politik, LSM,
dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya yang tumbuh secara natural, bukan artifisial.

V. Kebijakan umum Depdagri

Dengan perkembangan aspirasi masyarakat kehidupan menjadi lebih demokratis, harapannya lebih jauh adalah
kehidupan politik demokratis yang dilandasi oleh supremasi hukum, hak-hak azasi manusia dan moralitas. Peran
pemerintahan dibatasi dalam upaya menjaga koridor prinsip-prinsip tersebut guna tercapainya kehidupan demokratis
yang ideal dan seimbang.

Pemerintah memberikan fasilitas, dan dorongan bagi daerah dan masyarakat dengan permasalahan khusus secara terus
menerus dan bersama-sama mengupayakan jalan keluar pemecahannya.

Kehidupan demokratis juga akan berlangsung dalam tatanan pemerintahan yang oleh UU Nomor 22 tahun 1999.
Pemerintah/Departemen Dalam Negeri terus mendorong pemberdayaan daerah otonom agar mampu tumbuh dan
berkembang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, aspiratif, partisipatif, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan
potensi dan keanekaragaman daerah.

Mendorong aktualisasi otonomi daerah dengan prinsip-prinsip UU Nomor 22 tahun 1999 dan terus menerus mengikuti
perkembangan aplikasi yang harus dikaji, dibina dan dikembangkan.

Sepenuhnya mendorong upaya-upaya pemulihan kembali perekonomian daerah dan upaya mengatasi dampak krisis
ekonomi di daerah melalui kegiatan pembinaan kelembagaan di daerah, koordinasi dan sebagainya.

Melanjutkan upaya-upaya pembinaan dan pemberdayaan sumberdaya aparatur Departemen Dalam Negeri, melalui
program pendidikan dan latihan serta dukungan fasilitas dasar.

Mencermati kondisi obyektif saat ini, Departemen Dalam Negeri telah mencoba menjawabnya dengan memperhatikan
beberapa kegiatan utama antara lain sebagai berikut:

Pertama, berupaya ikut serta memulihkan situasi dan kondisi yang lebih tenteram di seluruh negeri dengan menciptakan
iklim yang kondusif dan menyejukkan dalam kehidupan masyarakat, dengan cara mengakomodir aspirasi masyarakat
yang berkembang.

Kedua, berupaya ikut mempertahankan dan memelihara integrasi nasional dengan mempercepat persatuan dan kesatuan
bangsa.

Ketiga, melanjutkan dan memacu upaya-upaya proses demokratisasi dengan tetap mematuhi rambu-rambu hukum, hak
azasi manusia dan menjunjung tinggi etika serta moral.

Keempat, meningkatkan kinerja aparatur Departemen Dalam Negeri beserta jajarannya, dalam arti menjadikan perangkat
Departemen Dalam Negeri sebagai pelayan masyarakat yang baik dan bukan dilayani, sehingga peningkatan pelayanan
menjadi prioritas utama.

VI. Batasan demokrasi Indonesia

1 Penerapan demokrasi di Indonesia sejak tahun 1945 sampai saat ini masih diliputi upaya-upaya mencari bentuknya
yang pas, sesuai budaya bangsa Indonesia. Di awal kemerdekaan hingga sekitar awal tahun 1950-an, kita pernah
mencoba sistem demokrasi parlementer yang pada dasarnya merupakan demokrasi liberal dan berjalan sampai dengan
akhir tahun 1950-an. Setelah Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, kita masuk periode penerapan demokrasi terpimpin
hingga meletusnya G30S/PKI tahun 1965. Selanjutnya bersamaan dengan tampilnya Orde Baru, dikembangkan
demokrasi Pancasila. Tetapi hal ini pun ternyata kurang pas. Fungsi kontrol yang dimainkan oleh legislatif, pers, dan
masyarakat tidak efektif. Dalam praktik, eksekutif sedemikian kuat, pemerintahan sedemikian sentralistis, alokasi dan
distribusi sedemikian timpang, sehingga mengantarkan terjadinya peralihan kekuasaan dari Soeharto kepada Habibie
pada 21 Mei 1998.

Pada saat sekarang ini kita sedang mengalami masa transisi menuju demokrasi. Kita harus mengerahkan tenaga dan
pikiran kita guna menemukan sebuah format demokrasi yang mampu berfungsi dan mengakomodasi kondisi sosial kita
yang multi-etnik.

Inilah kesempatan kita yang terbaik untuk membangun demokrasi.

2 Salah satu kelemahan mekanisme perpolitikan Indonesia, terutama dalam kurun waktu 32 tahun terakhir, adalah
ketidakmampuan mengembangkan interaksi yang bebas dan demokratis di kalangan anggota masyarakat yang multi
kultural. Kelemahan tersebut telah mengantarkan perlunya langkah-langkah reformasi dalam rangka demokratisasi
kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus untuk mengatasi atau memperbaiki kelemahan tersebut. Masalahnya,
bagaimana mengembangkan sistem demokrasi yang akomodatif terhadap masyarakat Indonesia yang multi kultural atau
multi etnik? Karena, hal ini merupakan inti landasan terwujudnya persatuan dan kesatuan.

3 Batasan mengenai demokrasi harus diakui beraneka ragam, yang berarti penerapannya sangat variatif tergantung dari
masing-masing negara di dunia. Namun demikian ada satu batasan yang secara universal dapat dipakai sebagai acuan
karena paling mendekati pemahaman umum (common sense). Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dalam
pidatonya di Gettysburg pada tanggal 19 November 1863 menegaskan, "A Government of the people, by the people, and
for the people shall not perish from the Earth (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tidak akan musnah
dari muka Bumi)." Dari pemahaman ini kita dapat mengetahui bahwa dalam demokrasi "rakyat" merupakan kata kunci
yang harus dipahami, karena rakyatlah yang berdaulat.

4 Bagi Indonesia, rumusan tentang demokrasi tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, ".
Disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang
terbentuk dalam negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat." Boleh dikatakan, dalam rumusan tersebut
tercermin paham dan jiwa demokrasi secara universal, umum dan luas. Tetapi kita yang mempunyai kepribadian, dan
yang bersumber kepada sejarah, kebudayaan dan filsafatnya sendiri, mempunyai ciri-ciri khas dan khusus, karena kalimat
dalam pembukaan UUD 1945 tersebut masih dilanjutkan dengan kalimat, ". dengan berdasarkan Ke-Tuhanan Yang
Maha Esa dst (Pancasila)." Dengan demikian, sistem demokrasi di Indonesia haruslah berdasarkan pada nilai-nilai
Pancasila, yang sudah barang tentu mencakup persatuan dan kesatuan bangsa.

5 Kenyataan kehidupan politik kita menunjukkan bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat yang sangat majemuk
dilihat dari dimensi etnisitas dan kelas sosial. Dan hal itu berpengaruh pada implementasi demokrasi dalam kehidupan
politik kita. Real politik Indonesia menghadapkan kita pada dua hal:Pertama, kemajemukan adalah bagian dari
kehidupan politik Indonesia yang tidak bisa begitu saja dihilangkan. Kedua, pengalaman komparatif menunjukkan bahwa
separatisme tidak menjamin munculnya unit politik yang homogen. Kemungkinan besar bahwa dalam unit-unit wilayah
baru itu akan tetap ada perpecahan. Artinya, kita harus menemukan jalan agar kenyataan multi kultural dan multi etnis itu
bisa dipertemukan dengan ideal demokrasi. Prospek demokrasi Indonesia sangat tergantung pada cara kita menangani
persoalan kemajemukan masyarakat itu. Oleh karenanya, yang perlu dilakukan adalah mencari cara bagaimana
mengakomodasikan realitas politik multi kultural dan multi etnik sehingga terbentuk perpolitikan yang berfungsi
melayani kepentingan semua pihak.

6 Pergaulan politik yang demokratik dalam masyarakat yang secara kultural majemuk memerlukan upaya
menggabungkan hak berpartisipasi secara demokratik dengan toleransi dan kesetaraan. Tiga nilai inilah (kebebasan,
kesetaraan dan toleransi) yang menjadi prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan sebagai landasan pengembangan sistem
demokrasi di Indonesia.

Pemerintah demokratik hanya mungkin kalau komunitas yang melingkupinya mendukung tiga nilai tersebut. Dalam
komunitas seperti itu orang terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan bersemangat kerakyatan, saling berinteraksi
sebagai warga yang setara, dengan hak dan kewajiban yang saling membantu, saling menghormati, saling percaya, setia
kawan, dan saling toleransi; serta menggiatkan perkumpulan kemasyarakatan.

7 Dalam sejarah pemikiran politik Indonesia, ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Para pemimpin yang
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sejak lama sudah membayangkan suatu bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika,
yang multi kultural. Namun penyelewengan di masa lalu yang menekankan kesatuan secara berlebihan sehingga
mengabaikan keragaman dan kemajemukan. Dengan demikian bisa dimengerti jika di era reformasi ini, harapan rakyat
banyak adalah mengetengahkan nilai kebebasan, kesetaraan dan toleransi dalam pergaulan masyarakat.

VII. Pengembangan sistem demokrasi sebagai kebijakan politik dalam negeri

1 Terkait dengan prinsip-prinsip tersebut, telah ditempuh langkah-langkah reformasi dalam pengembangan sistem
demokrasi sebagai kebijakan politik dalam negeri yang menekankan pada pelembagaan politik dan hukum yang
memungkinkan "power sharing" dan "cultural autonomysebagaimana diwujudkan dengan pencabutan paket undang-
undang bidang politik dan menyusun yang baru dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Partai Politik,
Undang-Undang No. 3 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, dan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1999 tentang Susunan
dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD, serta penggantian Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Pemerintahan di Daerah, dan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, dengan Undang-Undang
Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah beserta berbagai peraturan pelaksanaanya. Dengan beberapa dasar hukum tersebut,
diharapkan tersedianya mekanisme politik yang mendorong hal-hal sebagai berikut:

a) Pengelolaan kekuasaan yang jelas antara kekuatan mayoritas dan minoritas dalam bentuk semacam "grand coalitions".
Dalam hal ini harus dihindari adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas. Dengan Pemilu sistem multi partai pada
tanggal 7 Juli lalu, tidak ada kekuatan yang menang mutlak, sehingga pemerintahan mendatang adalah koalisi.

b) Penyebaran kekuasaan antara eksekutif dan legislatif, sekaligus memberdayakan DPR dan DPRD.

c) Distribusi kekuasaan yang adil dalam bentuk perwakilan proporsional.


d) Pemberian kewenangan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah secara utuh dan luas selain bidang-bidang
Pertahanan dan Keamanan, Keuangan (moneter dan fiskal), peradilan, politik luar negeri, agama, dan hal-hal lain yang
bersifat strategis.

Dengan pemberian kewenangan yang utuh dan luas ini ada jaminan pemerintahan berlangsung secara demokratis,
aspiratif dan efektif, sesuai kondisi sosial budaya masyarakat.

2 Secara konkrit langkah-langkah demokratisasi yang memperhatikan aspek kemajemukan tersebut diwujudkan dengan:

a. Pemberdayaan DPR dan DPRD.

b. Kebebasan pers.

c. Pemilu multi partai secara Luber dan Jurdil.

d. Penegasan dan penegakan netralitas birokrasi publik.

e. Pengurangan jumlah kursi TNI di DPR dan DPRD.

f. Desentralisasi urusan pemerintahan/pemberian otonomi Daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab.

g. Pembagian keuangan yang adil antara Pusat-Daerah.

h. Otonomi Pemerintahan Desa.

i. Implementasi Hak Azasi Manusia yang dimulai dengan pelepasan tahanan politik.

j. Dan lain sebagainya yang berkaitan langsung dengan pemberdayaan masyarakat tingkat bawah.

VIII. Penutup

Pemerintah menyadari bahwa berbagai langkah kebijakan reformasi yang dilakukan belum dapat memuaskan seluruh
pihak. Namun demikian haruslah diakui, telah banyak dilaksanakan perubahan yang dicapai dalam pengembangan sistem
demokrasi. Jika dalam waktu beberapa bulan terakhir ini timbul berbagai gesekan yang cukup panas, hal itu hendaknya
dilihat sebagai bagian dari konsekuensi logis tahap awal (penyesuaian) menuju terwujudnya kehidupan berbangsa dan
bernegara yang demokratis, dan harus tetap dalam konstelasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

vernment yang ditampilkan ialah: partisipatif, aturan main yang jelas, transparan, responsif/tanggap, beror
konsensus, pemerataan, akuntabel dan didukung oleh visi strategis. Secara lebih nyata lagi dalam wujud seha
adalah sikap dasar dan perilaku yang berubah total dari pola minta dilayani menjadi pola kuasa melayani d
disertai sikap yang akomodatif dan komunikatif. Kita sangat sadar bahwa jelas-jelas hal ini tidak mudah
dilakukan. Hanya dengan kesungguhan dan hati yang bersih kita mungkin bisa mencapainya.

IV. Paradigma baru Depdagri

Paradigma baru berkembang menyelimuti sosok dan eksistensi Pemerintah termasuk jajaran Depdagri. Be
paradigma yang muncul itu ialah:

1. Paradigma baru bidang politik

Pola penanganan politik dalam negeri mengalami perubahan besar dengan mereduksi secara signifikan
pemerintah dalam memberikan dorongan dan bimbingan pelaksanaan kehidupan politik dalam rangka pema
stabilitas politik dalam negeri. Peran pembinaan politik lebih disandarkan pada pembinaan secara langsung oleh
Politik dan jalur-jalur kekuatan masyarakat sendiri. Untuk itu kegiatan Departemen Dalam Negeri yang dikemba
meliputi usaha-usaha fasilitasi kepada daerah dalam penciptaan iklim demokratis melalui sosialisasi, duk
peraturan perundangan (seperti pemilihan Kepala Daerah, peningkatan peran DPRD dan lain-lain). Dengan dem
Depdagri telah meninggalkan format pembinaan politik waktu yang lalu dan memberikan fokus kebijakan Depar
Dalam Negeri dalam pembinaan pemerintahan dalam negeri yang meliputi upaya mendorong terselengg
kehidupan berpolitik di daerah dengan prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Ke
yang dikembangkan meliputi dorongan mekanisme dialogis, keterbukaan, mengakomodasi dinamika politik masy
dalam pengambilan keputusan di daerah dan sebagainya.

2. Paradigma baru pemerintahan Dalam Negeri

Pergeseran paradigma bidang politik juga membawa implikasi yang sangat mendasar, terutama dalam platform
penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri, yang salah satu inti pokoknya adalah mengenai sistem pemeri
daerah. Hal-hal yang mendasar adalah:

1) Penataan kewenangan pemerintah di semua strata pemerintahan secara tegas dinyatakan bahwa daerah me
kewenangan seluruh bidang pemerintahan, kecuali wewenang tertentu yang menjadi ciri dan jaminan eksistensi
kesatuan yang tidak memberi peluang adanya negara dalam negara. Kewenangan Pemerintah Daerah yang diin
atau dipertimbangkan atas dasar kebutuhan, kondisi dan situasi ditentukan sendiri oleh daerah. Dengan demikian
akan ada proses penyerahan kewenangan melainkan bahwa kewenangan itu sudah milik daerah. Filosofinya tidak
format penyerahan kewenangan. Rancangan PP tentang penataan kewenangan tersebut sedang dalam proses
dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri dan Kantor Menteri Negara Otonomi Daerah.

2) Konstruksi Pemerintah Daerah menggambarkan pemisahan secara tegas antara lembaga Kepala Daerah d
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

3) Penetapan kebijakan daerah yang semula harus memerlukan pengesahan pejabat berwenang Pusat tidak dipe
lagi. Jadi, cukup selesai ditetapkan oleh daerah sendiri, hanya saja daerah diwajibkan melaporkan kepada peme
cq.Menteri Dalam Negeri.

4) Pembentukan Kecamatan, Desa dan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

5) Wewenang, hak, kewajiban DPRD termasuk pemilihan Kepala Daerah, diatur dalam Tata Tertib DPRD d
mengacu pada pedoman yang ditetapkan pemerintah.

Khusus berkaitan dengan upaya aktualisasi sistem dan tatanan pemerintahan yang baru tersebut, kita dihadapka
suatu kondisi psikologik yang tidak mudah, di mana di satu sisi peraturan menyebutkan bahwa persiapan
dilakukan dalam satu tahun dan pelaksanaan dalam dua tahun; tetapi di sisi yang lain masyarakat berkein
sepertinya harus sekarang juga dilaksanakan.

3 Paradigma baru Pembangunan Daerah

Fenomena pembangunan daerah mengalami perubahan cukup prinsip dari filosofi "Pembangunan Daerah" b
menjadi "Daerah Membangun". Indikasi yang muncul bercirikan antara lain sifat-sifat kreatif, proaktif dan anti
serta akan terefleksi dalam beberapa hal; dan yang cukup penting dapat diidentifikasi yaitu sebagai berikut:

1) Pada pendekatan dan mekanisme dalam pengambilan keputusan untuk membangun daerah. Tahapan-tahapan
pembangunan sejak studi awal, perencanaan sampai kepada pengambilan keputusan dilakukan dalam proses yang
demokratis dan aspiratif serta dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

2) Isu pembangunan menjadi isu yang lebih kredibel dan benar-benar merupakan isu pembangunan yang sesungg
dengan tidak sekedar mencapai target fisiknya tetapi diperhitungkan dengan positifnya, yang terdiri dari permas
kunci daerah dan tujuan pembangunan yang senyatanya.

3) Pembangunan lebih berorientasi regional dalam keseimbangan sektoral. Pembangunan dapat lebih men
permasalahan kunci daerah yang benar-benar faktual.

4) Pembangunan lebih mengandalkan perencanaan yang dinamis sesuai dengan kebutuhan dan perkemb
masyarakat, ketimbang perencanaan yang rigid dalam suatu "blue print".

5) Kebutuhan akan komitmen perencanaan dari pimpinan puncak di wilayah yang didukung oleh perencanaan
metodis dengan pelaksanaan yang responsif.

Arti penting dari semua itu pada hakekatnya adalah pengembangan potensi diri daerah, masyarakat serta j
Pemerintahan daerah untuk lebih kreatif dalam melakukan improvisasi persepsinya atas pelaksanaan UU Nom
tahun 1999.

4 Paradigma baru peran serta masyarakat

Salah satu bentuk artikulasi pembangunan yang aspiratif itu, diwujudkan dalam bentuk keterlibatan masyarakat m
lebih kental; didorong oleh iklim demokratis dan keterbukaan. Pemerintah terposisi untuk lebih bersifat mend
dan masyarakat tampil menjadi sosok pemeran utama. Gambaran ini merupakan aset budaya yang menjadi modal
berprosesnya perubahan-perubahan di masyarakat sesuai dengan yang kita harapkan. Beberapa ciri yang m
sebagai paradigma baru itu, antara lain:

1) Pembangunan dirasakan lebih menjadi milik daerah dalam arti yang utuh sebagai kesatuan masyarakat hukum
lagi hanya menjadi milik pemerintah daerah.

2) Peran serta masyarakat menjadi maksimal dan lebih mengemuka.

3) Keterlibatan masyarakat dalam berbagai bentuk dan pola stakeholders menjadi participatory yang lebih o
dalam prinsip, dalam metode dan dalam penerapannya.

4) Peran serta masyarakat lebih legitimate dengan penguatan legalitas sebagai stakeholders seperti Partai Politik,
dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya yang tumbuh secara natural, bukan artifisial.

V. Kebijakan umum Depdagri

Dengan perkembangan aspirasi masyarakat kehidupan menjadi lebih demokratis, harapannya lebih jauh
kehidupan politik demokratis yang dilandasi oleh supremasi hukum, hak-hak azasi manusia dan moralitas.
pemerintahan dibatasi dalam upaya menjaga koridor prinsip-prinsip tersebut guna tercapainya kehidupan dem
yang ideal dan seimbang.
Pemerintah memberikan fasilitas, dan dorongan bagi daerah dan masyarakat dengan permasalahan khusus secar
menerus dan bersama-sama mengupayakan jalan keluar pemecahannya.

Kehidupan demokratis juga akan berlangsung dalam tatanan pemerintahan yang oleh UU Nomor 22 tahun
Pemerintah/Departemen Dalam Negeri terus mendorong pemberdayaan daerah otonom agar mampu tumbu
berkembang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, aspiratif, partisipatif, pemerataan dan keadilan
memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

Mendorong aktualisasi otonomi daerah dengan prinsip-prinsip UU Nomor 22 tahun 1999 dan terus menerus men
perkembangan aplikasi yang harus dikaji, dibina dan dikembangkan.

Sepenuhnya mendorong upaya-upaya pemulihan kembali perekonomian daerah dan upaya mengatasi dampak
ekonomi di daerah melalui kegiatan pembinaan kelembagaan di daerah, koordinasi dan sebagainya.

Melanjutkan upaya-upaya pembinaan dan pemberdayaan sumberdaya aparatur Departemen Dalam Negeri, m
program pendidikan dan latihan serta dukungan fasilitas dasar.

Mencermati kondisi obyektif saat ini, Departemen Dalam Negeri telah mencoba menjawabnya dengan memperh
beberapa kegiatan utama antara lain sebagai berikut:

Pertama, berupaya ikut serta memulihkan situasi dan kondisi yang lebih tenteram di seluruh negeri dengan menci
iklim yang kondusif dan menyejukkan dalam kehidupan masyarakat, dengan cara mengakomodir aspirasi masy
yang berkembang.

Kedua, berupaya ikut mempertahankan dan memelihara integrasi nasional dengan mempercepat persatuan dan ke
bangsa.

Ketiga, melanjutkan dan memacu upaya-upaya proses demokratisasi dengan tetap mematuhi rambu-rambu hukum
azasi manusia dan menjunjung tinggi etika serta moral.

Keempat, meningkatkan kinerja aparatur Departemen Dalam Negeri beserta jajarannya, dalam arti menj
perangkat Departemen Dalam Negeri sebagai pelayan masyarakat yang baik dan bukan dilayani, sehingga penin
pelayanan menjadi prioritas utama.

VI. Batasan demokrasi Indonesia

1) Penerapan demokrasi di Indonesia sejak tahun 1945 sampai saat ini masih diliputi upaya-upaya mencari ben
yang pas, sesuai budaya bangsa Indonesia. Di awal kemerdekaan hingga sekitar awal tahun 1950-an, kita
mencoba sistem demokrasi parlementer yang pada dasarnya merupakan demokrasi liberal dan berjalan s
dengan akhir tahun 1950-an. Setelah Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, kita masuk periode penerapan dem
terpimpin hingga meletusnya G30S/PKI tahun 1965. Selanjutnya bersamaan dengan tampilnya Orde
dikembangkan demokrasi Pancasila. Tetapi hal ini pun ternyata kurang pas. Fungsi kontrol yang dimainka
legislatif, pers, dan masyarakat tidak efektif. Dalam praktik, eksekutif sedemikian kuat, pemerintahan sedem
sentralistis, alokasi dan distribusi sedemikian timpang, sehingga mengantarkan terjadinya peralihan kekuasaa
Soeharto kepada Habibie pada 21 Mei 1998.Pada saat sekarang ini kita sedang mengalami masa transisi m
demokrasi. Kita harus mengerahkan tenaga dan pikiran kita guna menemukan sebuah format demokras
mampu berfungsi dan mengakomodasi kondisi sosial kita yang multi-etnik.

Inilah kesempatan kita yang terbaik untuk membangun demokrasi.

2) Salah satu kelemahan mekanisme perpolitikan Indonesia, terutama dalam kurun waktu 32 tahun terakhir,
ketidakmampuan mengembangkan interaksi yang bebas dan demokratis di kalangan anggota masyarakat yang
kultural. Kelemahan tersebut telah mengantarkan perlunya langkah-langkah reformasi dalam rangka demokr
kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus untuk mengatasi atau memperbaiki kelemahan tersebut. Masal
bagaimana mengembangkan sistem demokrasi yang akomodatif terhadap masyarakat Indonesia yang multi k
atau multi etnik? Karena, hal ini merupakan inti landasan terwujudnya persatuan dan kesatuan.
3) Batasan mengenai demokrasi harus diakui beraneka ragam, yang berarti penerapannya sangat variatif terg
dari masing-masing negara di dunia. Namun demikian ada satu batasan yang secara universal dapat dipakai s
acuan karena paling mendekati pemahaman umum (common sense). Presiden Amerika Serikat, Abraham L
dalam pidatonya di Gettysburg pada tanggal 19 November 1863 menegaskan, "A Government of the people,
people, and for the people shall not perish from the Earth (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
tidak akan musnah dari muka Bumi)." Dari pemahaman ini kita dapat mengetahui bahwa dalam demokrasi "r
merupakan kata kunci yang harus dipahami, karena rakyatlah yang berdaulat.
4) Bagi Indonesia, rumusan tentang demokrasi tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan
Disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia
terbentuk dalam negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat." Boleh dikatakan, dalam rumusan te
tercermin paham dan jiwa demokrasi secara universal, umum dan luas. Tetapi kita yang mempunyai keprib
dan yang bersumber kepada sejarah, kebudayaan dan filsafatnya sendiri, mempunyai ciri-ciri khas dan k
karena kalimat dalam pembukaan UUD 1945 tersebut masih dilanjutkan dengan kalimat, ". dengan berda
Ke-Tuhanan Yang Maha Esa dst (Pancasila)." Dengan demikian, sistem demokrasi di Indonesia ha
berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila, yang sudah barang tentu mencakup persatuan dan kesatuan bangsa.
5) Kenyataan kehidupan politik kita menunjukkan bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat yang
majemuk dilihat dari dimensi etnisitas dan kelas sosial. Dan hal itu berpengaruh pada implementasi dem
dalam kehidupan politik kita. Real politik Indonesia menghadapkan kita pada dua hal:Pertama, kemaje
adalah bagian dari kehidupan politik Indonesia yang tidak bisa begitu saja dihilangkan. Kedua, penga
komparatif menunjukkan bahwa separatisme tidak menjamin munculnya unit politik yang homogen. Kemun
besar bahwa dalam unit-unit wilayah baru itu akan tetap ada perpecahan. Artinya, kita harus menemukan jala
kenyataan multi kultural dan multi etnis itu bisa dipertemukan dengan ideal demokrasi. Prospek dem
Indonesia sangat tergantung pada cara kita menangani persoalan kemajemukan masyarakat itu. Oleh kare
yang perlu dilakukan adalah mencari cara bagaimana mengakomodasikan realitas politik multi kultural dan
etnik sehingga terbentuk perpolitikan yang berfungsi melayani kepentingan semua pihak.
6) Pergaulan politik yang demokratik dalam masyarakat yang secara kultural majemuk memerlukan
menggabungkan hak berpartisipasi secara demokratik dengan toleransi dan kesetaraan. Tiga nilai inilah (kebe
kesetaraan dan toleransi) yang menjadi prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan sebagai landasan pengemb
sistem demokrasi di Indonesia.Pemerintah demokratik hanya mungkin kalau komunitas yang melingk
mendukung tiga nilai tersebut. Dalam komunitas seperti itu orang terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakat
bersemangat kerakyatan, saling berinteraksi sebagai warga yang setara, dengan hak dan kewajiban yang
membantu, saling menghormati, saling percaya, setia kawan, dan saling toleransi; serta menggiatkan perkum
kemasyarakatan.
7) Dalam sejarah pemikiran politik Indonesia, ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Para pemimpin
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sejak lama sudah membayangkan suatu bangsa yang Bhinneka T
Ika, yang multi kultural. Namun penyelewengan di masa lalu yang menekankan kesatuan secara berl
sehingga mengabaikan keragaman dan kemajemukan. Dengan demikian bisa dimengerti jika di era reforma
harapan rakyat banyak adalah mengetengahkan nilai kebebasan, kesetaraan dan toleransi dalam per
masyarakat.

VII. Pengembangan sistem demokrasi sebagai kebijakan politik dalam negeri

1. Terkait dengan prinsip-prinsip tersebut, telah ditempuh langkah-langkah reformasi dalam pengembangan
demokrasi sebagai kebijakan politik dalam negeri yang menekankan pada pelembagaan politik dan hukum
memungkinkan "power sharing" dan "cultural autonomysebagaimana diwujudkan dengan pencabutan paket un
undang bidang politik dan menyusun yang baru dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Partai P
Undang-Undang No. 3 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, dan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1999 t
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD, serta penggantian Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 t
Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, dan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, d
Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah beserta berbagai peraturan pelaksanaanya. Dengan beberapa
hukum tersebut, diharapkan tersedianya mekanisme politik yang mendorong hal-hal sebagai berikut:

a) Pengelolaan kekuasaan yang jelas antara kekuatan mayoritas dan minoritas dalam bentuk semacam "
coalitions". Dalam hal ini harus dihindari adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas. Dengan Pemilu sistem
partai pada tanggal 7 Juli lalu, tidak ada kekuatan yang menang mutlak, sehingga pemerintahan mendatang
koalisi.

b) Penyebaran kekuasaan antara eksekutif dan legislatif, sekaligus memberdayakan DPR dan DPRD.

c) Distribusi kekuasaan yang adil dalam bentuk perwakilan proporsional.

d) Pemberian kewenangan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah secara utuh dan luas selain bidang-
Pertahanan dan Keamanan, Keuangan (moneter dan fiskal), peradilan, politik luar negeri, agama, dan hal-hal lai
bersifat strategis.

Dengan pemberian kewenangan yang utuh dan luas ini ada jaminan pemerintahan berlangsung secara demo
aspiratif dan efektif, sesuai kondisi sosial budaya masyarakat.

2 Secara konkrit langkah-langkah demokratisasi yang memperhatikan aspek kemajemukan tersebut diwujudkan d

a. Pemberdayaan DPR dan DPRD.

b. Kebebasan pers.

c. Pemilu multi partai secara Luber dan Jurdil.

d. Penegasan dan penegakan netralitas birokrasi publik.

e. Pengurangan jumlah kursi TNI di DPR dan DPRD.

f. Desentralisasi urusan pemerintahan/pemberian otonomi Daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
g. Pembagian keuangan yang adil antara Pusat-Daerah.

h. Otonomi Pemerintahan Desa.

i. Implementasi Hak Azasi Manusia yang dimulai dengan pelepasan tahanan politik.

j. Dan lain sebagainya yang berkaitan langsung dengan pemberdayaan masyarakat tingkat bawah.

VIII. Penutup

Pemerintah menyadari bahwa berbagai langkah kebijakan reformasi yang dilakukan belum dapat memuaskan s
pihak. Namun demikian haruslah diakui, telah banyak dilaksanakan perubahan yang dicapai dalam pengemb
sistem demokrasi. Jika dalam waktu beberapa bulan terakhir ini timbul berbagai gesekan yang cukup panas,
hendaknya dilihat sebagai bagian dari konsekuensi logis tahap awal (penyesuaian) menuju terwujudnya keh
berbangsa dan bernegara yang demokratis, dan harus tetap dalam konstelasi Negara Kesatuan Republik Indonesia