Вы находитесь на странице: 1из 12

LAPORAN PENDAHULUAN

STROKE HAEMORAGIC
Disusun untuk memenuhi tugas praktek keperawatan 9
Keperawatan kegawatdaruratan

CHANDRA H.P.P
(PO.62.20.1.15.116)

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia


Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangkaraya
Jurusan Keperawatan
Prodi DIV Keperawatan Reguler II
2017
1. KONSEP DASAR

A. Pengertian
Menurut Geyer (2009) stroke adalah sindrom klinis yang ditandai dengan
berkembangnya tiba-tiba defisit neurologis persisten fokus sekunder terhadap
peristiwa pembuluh darah.
Stroke hemoragik dapat terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami
ruptur sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subaraknoid atau langsung ke
dalam jaringan otak. (Price & Wilson, 2006).

B. Patofisiologi
Stroke disebabkan penurunan suplai darah ke otak yang disebabkan oleh
kecelakaan, hipertensi, karena pada intinya stroke hemoragik disebabkan oleh
pembuluh darah yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau
ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intra kranial yang
tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila
berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Disamping
itu, darah yang mengalir ke subtansi otak atau ruang subarachnoid dapat
menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak atau penekanan pada daerah
tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada, sehingga terjadi
nekrosis jaringan otak. Kematian sel-sel otak berpengaruh terhadap penurunan
fungsi dan kinerja otak, otak memiliki dua fungsi yaitu sensorik dan motorik,
akibat awal dari stroke adalah hemiparesis kontralateral (kelumpuhan separuh
anggota ekstremitas atas dan bawah yang bersilangan dengan hemisfer yang
terkena). Akibat yang muncul pertama kali dari hemiparesis kontralateral adalah
gangguan mobilitas fisik atau ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari.

C. Tanda dan Gejala


1. Kehilangan motorik
Hemiplegis,hemiparesis.
Paralisis flaksid dan kehilangan atau penurunan tendon profunda
(gambaran lklinis awal ) .
2. Kehilangan komunikasi
Disartria
Difagia
Afagia
Afraksia
3. Gangguan konseptual
Hamonimus hemia hopia (kehilanhan sitengah dari lapang pandang).
Gangguan dalam hubungan visual-spasial (sering sekali terlihat pada
Pasien hemiplagia kiri )
Kehilangan sensori : sedikit kerusakan pada sentuhan lebih buruk
dengan piosepsi , kesulitan dalam mengatur stimulus visual , taktil dan
auditori.
4. Kerusakan aktivitas mental dan efek psikologis :
Kerusakan lobus frontal :kapasitas belajar memori ,atau fungsi
intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin mengalami kerusakan
disfungsi tersebut. Mungkin tercermin dalam rentang perhatian
terbatas, kesulitan dalam komperhensi,cepat lupa dan kurang
komperhensi.
Depresi, masalah psikologis-psikologis lainnya. Kelabilan emosional,
bermusuhan, frurtasi, menarik diri, dan kurang kerja sama.
5. Disfungsi kandung kemih :
Inkontinansia urinarius transia.
Inkontinensia urinarius persisten / retensi urin (mungkin simtomatik
Dari kerusakan otak bilateral).
Inkontinensia urin dan defekasi berkelanjutan (dapat menunjukkan
Kerusakan neurologisekstensif)

D. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mendapatkan diagnosis dan penentuan jenis patologi stroke,
segera ditegakkan dengan:
1. Skor Stroke: Algoritma Gajah Mada

Penurunan Nyeri kepala Babinski Jenis Stroke


kesadaran
+ + + pendarahan
+ - - Pendarahan
- + - pendarahan
- - + Iskemik
- - - iskemik
2. Pemeriksaan Penunjang
Untuk membedakan jenis stroke iskemik dengan stroke perdarahan
dilakukan pemeriksaan radiologi CT-Scan kepala. Pada stroke hemoragik
akan terlihat adanya gambaran hiperdens, sedangkan pada stroke iskemik akan
terlihat adanya gambaran hipodens.
Pemeriksaan radiologi
a. CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk
ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak.
b. MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik.
c. Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti
aneurisma atau malformasi vaskuler.
d. Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung,
apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah
satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke.
Pemeriksaan laboratorium
a. Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah dijumpai pada
perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya
warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari
pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin.
c. Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi
hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalajm serum
dan kemudian berangsur-angsur turun kembali.
d. Pemeriksaan darah lengkap : untuk mencari kelainan pada darah.

E. Penatalaksanaan Medis
Terapi umum Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume
hematoma >30 mL, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan ke-
adaan klinis cenderung memburuk.
Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20%
bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130 mmHg, dan
volume hema- toma bertambah. Bila terdapat gagal jantung, tekanan darah harus
segera diturunkan dengan labetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai
20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapril iv 0,625-1.25
mg per 6 jam; kaptopril 3 kali 6,25-25 mg per oral.
Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala dinaikkan
300, posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian manitol (lihat penanganan
stroke iskemik), dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg).
Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik, tukak lambung
diatasi dengan antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhi- bitor pompa proton;
komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotik
spektrum luas.
Terapi khusus Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang ber- sifat
vasodilator. Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu
pada pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum
berdiameter >3 cm3, hidro- sefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau
serebelum, dilakukan VP-shunting, dan perdarah- an lobar >60 mL dengan tanda
peningkatan tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi.
Pada perdarahan subaraknoid, dapat digunakan antagonis Kalsium (nimodipin)
atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun gamma knife) jika
penyebabnya adalah aneu- risma atau malformasi arteri-vena (arteriove- nous
malformation, AVM).

F. Terapi Obat dengan implikasi keperawatannya


1. Dantrolene (Dantrium), Tizanidine (Zanaflex), dan Baclofen (lioresel) untuk
mengobatin kejang.
2. Heparin, obat anti trombosis, untuk mencegah pembekuan darah yang
biasanya terbentuk di pembuluh darah kaki.
3. Klorpromazin dan Baclofen, untuk meringankan cegukan yang terjadi secara
konstan pada pasien.
4. Antidepresan untuk pengobatan pada pasien yang mengalami depresi.
2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
Airway.
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya
penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk.
Breathing.
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi.
Sirkulasi
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit
dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
2. Pengkajian Sekunder
Aktivitas dan istirahat
a. Data subyektif :
kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan
sensasi atau paralysis.
Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot).
b. Data obyektif :
Perubahan tingkat kesadaran.
Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis
(hemiplegia) , kelemahan umum
Gangguan penglihatan.
Sirkulasi
a. Data Subyektif: Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung,
disritmia, gagal jantung, endokarditis bakterial), polisitem
b. Data obyektif :
Hipertensi arterial
Disritmia, perubahan EKG
Pulsasi : kemungkinan bervariasi
Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta
abdominal.
Integritas ego
a. Data Subyektif: Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
b. Data obyektif :
Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan ,
kegembiraan.
Kesulitan berekspresi diri.
Eliminasi
a. Data Subyektif:
Inkontinensia, anuria
Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh), tidak
adanya suara usus(ileus paralitik)
Makan/minum
a. Data Subyektif:
Nafsu makan hilang.
Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK.
Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia.
Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah.
b. Data obyektif:
Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum
dan faring)
Obesitas (faktor resiko).
Sensori Neural
a. Data Subyektif:
Pusing / syncope (sebelum CVA / sementara selama TIA).
Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau
perdarahan sub arachnoid.
Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat
seperti lumpuh/mati.
Penglihatan berkurang.
Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada
ekstremitas dan pada muka ipsilateral (sisi yang sama).
Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Status mental : koma biasanya menandai stadium
perdarahan, gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis,
menyerang) dan gangguan fungsi kognitif.
b. Data obyektif :
Ekstremitas : kelemahan / paraliysis (kontralateral) pada
semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang,
berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral).
Wajah: paralisis / parese (ipsilateral).
Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa),
kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif /
kesulitan berkata kata komprehensif, global /kombinasi dari
keduanya.
Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat,
pendengaran, stimuli taktil.
Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik.
Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak
bereaksi pada sisi ipsi lateral.
Nyeri / kenyamanan
a. Data objektif: Sakit kepala, bervariasi intensitasnya .
b. Data subyektif : Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah,
ketegangan otot
Respirasi
a. Data Subyektif: Perokok (faktor resiko)
Keamanan
a. Data obyektif:
Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan.
Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat
objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.
Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah
yang pernah dikenali.
Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan
regulasi suhu tubuh.
Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap
keamanan, berkurang kesadaran diri.

Interaksi social
a. Data obyektif: Problem bicara, ketidakmampuan berkomunikasi.

B. Analisa data
Beberapa data yang dapat menjadi penunjang dalam pengkajian dari keadaan
pasien stroke non hemoragik menurut Wilkinson (2012) diantaranya adalah :
a. Data Objektif : tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap
aktifitas, mengalami keletihan atau kelemahan saat beraktifitas, lebih
banyak melakukan tirah baring, adanya keluhan nyeri pada tubuh saat
beraktifitas, adanya bagian tubuh yang mengalami kesulitan untuk
bergerak.
Masalah keperawatan : Intoleransi aktifitas,
Etiologi : kelemahan umum.
b. Data objektif ditemukan adanya suara nafas tambahan, perubahan irama
dan frekuensi pernafasan, batuk tidak efektif, sianosis, kesulitan berbicara,
penurunan suara nafas, gelisah, seputum berlebih, mata terbelalak.
Masalah keperawatan : ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
Etiologi : disfungsi neuromuskular.
c. Data objektif ditemukan ketidakmampuan pasien dalam : akses kamar
mandi, mengeringkan badan, membersihkan tubuh, mengambil dan
memakai pakaian, mengancingkan baju, melepas pakaian, mengunyah
makanan, membuka wadah makan, mengambil minuman, memegang alat
makan, menelan makanan, hygiene eliminasi yang tepat, menyiram kloset,
memanipulasi pakaian untuk eliminasi.
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri berupa
mandi/hygiene, berpakaian/berhias diri, makan/minum, dan
eliminasi.
Etiologi : gangguan neuromuskular
d. Data objektif : kesulitan membolak balik posisi tubuh, dispnea saat
beraktifitas, keterbatasan rentang gerak sendi, melambatnya pergerakan,
gerakan tidak terkoordinasi.
Masalah keperawatan : hambatan mobilitas fisik di tempat tidur.
Etiologi: gangguan neuromuskular
e. Data objektif yang ditemukan : menolak untuk makan, nyeri abdomen,
bising usus hiperaktif, membran mukosa pucat, rongga mulut terluka,
kelemahan otot yang berfungsi mengunyah dan menelan.
Masalah keperawatan : nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Etiologi kesulitan mengunyah dan menelan
f. Data objektif : kesulitan mengungkapkan pikiran secara verbal,
disorientasi tiga lingkup, tidak dapat berbicara, verbalisasi yang tidak
sesuai, pelo, gagap.
Masalah keperawatan : hambatan komunikasi verbal.
Etiologi : perubahan pada sistem saraf pusat

C. Diagnosa keperawatan
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum.
2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan disfungsi
neuromuskular.
3. Defisit perawatan diri : mandi/hygiene, berpakaian/berhias diri,
makan/minum, dan eliminasi berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
4. Hambatan mobilitas fisik di tempat tidur berhubungan dengan gangguan
neuromuskular.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan
mengunyah dan menelan.

D. Intervensi
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
a. Tujuan : Menunjukkan toleransi aktifitas yang normal yang ditandai
dengan satulasi oksigien saat beraktifitas.
b. Kriteria Hasil :
Frekuensi pernafasan saat beraktifitas.
Kemampuan berbicara saat beraktifitas fisik
Menampilkan AKS dengan beberapa bantuan.
c. Intervensi :
Kaji tingkat kemampuan pasien dalam ambulasi dan melakukan
AKS.
Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktifitas.
Ajarkan pada pasien dan orang terdekat tentang teknik perawatan
diri.
Ajarkan pasien dan keluarga menggunakan teknik relaksasi selama
aktifitas.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk merencanakan dan
memantau program aktifitas jika perlu.
2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan disfungsi
neuromuskular.
a. Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali normal
b. Kriteria Hasil :
Pasien mampu batuk efektif
Mempunyai jalan nafas yang paten
Mengeluarkan sekret secara efektif
c. Intervensi :
Kaji pola nafas pasien
Beri bantuan O2 dan nebulizer
Beri posisi fowler atau semi fowler
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat
3. Defisit perawatan diri : mandi/hygiene, berpakaian/berhias diri,
makan/minum, dan eliminasi berhubungan dengan gangguan neuromuskular.
a. Tujuan : Pasien mampu beraktifitas di tempat tidur tanpa bantuan orang
lain
b. Kriteria Hasil :
Mampu melakukan perawatan tubuh secara mandiri
Berpakaian dan menyisir rambut secara mandiri
Menunjukkan rambut yang rapi dan bersih
Mampu menggunakan alat bantu untuk makan
Mampu mengenali dan berespon terhadap keinginan berkemih dan
defekasi
c. Intervensi :
Dukung kemandirian dalam melakukan madi dan hygiene, beri
bantuan bila perlu
Tingkatkan kemandirian seoptimal mungkin sesuai kemampuan
pasien
Pantau peningkatan kemampuan pasien dalam beraktifitas
Sediakan alat bantu untuk makan dan minum
Alihkan tirah baring tiap 4 jam sekali
Hindari penggunaan kateter
Kolaborasi dengan tenaga medis lain dalam perencanaan aktifitas
perawatan pasien
4. Hambatan mobilitas fisik di tempat tidur berhubungan dengan gangguan
neuromuskular.
a. Tujuan : Pasien mampu beraktifitas di tempat tidur tanpa bantuan orang
lain
b. Kriteria Hasil :
Pasien mampu berbalik sendiri di tempat tidur atau dengan bantuan
bila perlu
Mampu melakukan rentang pergerakan penuh seluruh sendi
c. Intervensi :
Lakukan pengkajian mobilitas dengan ROM dan uji kekuatan otot
Latih rentang gerak sendi
Beri penguatan positif selama aktifitas
Kolaborasi dengan ahli terapi fisik dalam penyusunan rencana
untuk mempertahankan dan meningkatkan mobilitas di tempat
tidur
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan
mengunyah dan menelan.
a. Tujuan : Menunjukkan status gizi yang baik
b. Kriteria Hasil :
Berat badan stabil atau bertambah
Tekstur kulit baik
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30235/3/chapter%20II.pdf diakses pada 3


oktober 2017

http://digilid.unimus.ac.id//download.php?=4809 diakses pada 3 oktober 2017

http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile.63246/potongan/S1-2013-280540-chapter1.pdf
diakses pada 3 oktober 2017

https://www.strokeassociation.org/idc/groups/stroke-
public/@wcn/@hcm/documents/downloadable/ucm_309710.pdf diakses pada 3 oktober
2017

http://repository.wima.ac.id/3139/3/bab%202.pdf diakses pada 3 oktober 2017

http://www.kalbemed.com/portals6/1_05_185strokegejalapenatalaksanaan.pdf diakses pada 3


oktober 2017