You are on page 1of 17

IMPLEMENTASI MULTIMODAL LEARNING MELALUI

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS)


BERBASIS WEB UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN
PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Oleh:
Arif Yoga Pratama*
Penelitian Eksperimen PTJJ

*Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta


ABSTRAK

Dewasa ini banyak siswa Indonesia menggunakan Teknologi Komunikasi Informasi


(TIK) secara besar-besaran, termasuk penggunaan aplikasi web 2.0 seperti Facebook, Twitter,
YouTube dan lain-lain, yang memungkinkan setiap pengguna dari aplikasi tersebut untuk
berinteraksi dan saling berbagi konten satu sama lain. Perkembangan teknologi yang begitu
pesat dewasa ini memberikan berbagai alternatif media yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mendukung model suatu
pembelajaran salah satunya yaitu melalui media internet berbasis web. Kombinasi antara
model pembelajaran kooperatif pemanfaatan teknologi internet berbasis web sebagai media
berbagi dalam suatu komunitas (Sharing Online Community) diharapkan mampu
meningkatkan prestasi dan motivasi peserta didik dalam mempelajari ilmu kimia.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun desain pembelajaran melalui
Multimodal Learning pada model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair Share
(TPS) berbasis web dan mengetahui pengaruhnya terhadap motivasi dan prestasi belajar
peserta didik. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Eksperimen dengan subjek penelitian
kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 SMA Negeri 1 Mlati, Sleman Yogyakarta tahun ajaran
2013/2014 yang masing-masing berjumlah berjumlah 25 siswa. Teknik pengumpulan
data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara, dan angket. Analisis data
yang digunakan antara lain analisis data kualitatif, yakni reduksi data, penyajian data, dan
penyimpulan, serta analisis data kuantitatif yakni penilaian aktivitas belajar kimia dan
respons siswa terhadap implementasi pembelajaran Multimodal Learning berbasis web.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada motivasi dan
prestasi belajar peserta didik antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Kata kunci : e-Learning, Multimodal, Motivasi, Prestasi Belajar.


PENDAHULUAN

Kualitas pendidikan merupakan salah satu hal penting yang mesti menjadi
perhatian setiap bangsa dalam membangun kesejahteraan. Pendidikan secara filosofis
berperan sebagai upaya dalam proses meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Namun, dalam kenyataannya, kehidupan masyarakat berkembang sangat pesat
sedangkan dunia pendidikan ketinggalan dalam menyerap ilmu dan teknologi
(Setiawan, 1984). Berbagai bentuk model pembelajaran dapat digunakan untuk
meningkatkan pengalaman belajar ke arah yang lebih baik (Ibrahim, 2003). Model
pengajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaksnya
(pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model pengajaran
tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan
tujuan pembelajaran lain. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan
dalam hal ini yaitu model pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana siswa


belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda.
Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan saling
membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah
satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Model pembelajaran
kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar konstruktivis sosial yang
dikembangkan oleh Vygotsky. Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif
berasal dari hubungan sosial dan cultural. Pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan
bersifat kolaboratif. Artinya, pengetahuan didistribusikan di antara orang dan
lingkungan, yang mencakup objek, artifak, alat, buku, dan komunitas di mana orang
berada. Fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan
dan kerjasama antar individu sebelum fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi itu
terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini adalah
dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif terdiri atas beberapa tipe, salah satunya adalah tipe
Think Pair and Share (TPS). Think Pair and Share (TPS) atau berpikir berpasangan
dan berbagi, merupakan jenis pembalajaran kooperatif yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi peserta didik. Think Pair and Share meghendaki peserta
didik bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih
dicirikan oleh penghargaan kooperatif, daripada penghargaan individual (Ibrahim,
67:2011).
Perkembangan teknologi yang begitu pesat dewasa ini memberikan berbagai
alternatif media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu media
yang dapat digunakan untuk mendukung model suatu pembelajaran salah satunya
yaitu melalui media internet berbasis web. Kombinasi antara model pembelajaran
kooperatif pemanfaatan teknologi internet berbasis web sebagai media berbagi dalam
suatu komunitas (Sharing Online Community) diharapkan mampu meningkatkan
prestasi dan motivasi peserta didik dalam mempelajari ilmu kimia khususnya pada
materi konsep reaksi oksidasi dan reduksi. Sehingga melalui langkah ini juga
diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu adanya penelitiantentang Implementasi


Multimodal Learning melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Berbasis web untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Peserta Didik.
.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan desain penelitian dua
faktor, dua sampel dan satu kovariabel. Dua faktor yang dimaksud adalah
penggunaan pembelajaran multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe
TPS (Think Pair Share) berbasis web dan model kooperatif tipe TPS (Think Pair
Share). Dua sampel yang dibandingkan adalah kelas yang menggunakan
pembelajaran multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think
Pair Share) berbasis web dan kelas yang menggunakan model kooperatif tipe TPS.
Satu kovariabel yang dikendalikan secara statistik adalah pengetahuan awal kimia
peserta didik yang berupa nilai UAS mata pelajaran Kimia pada kelas XI semester 1
tahun ajaran 2013/2014.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), soal prestasi belajar, dan angket motivasi. Media pembelajaran
yang digunakan yaitu e-book, aplikasi android, prezi, dan powerpoint. Media tersebut
telah divalidasi secara logis oleh dua orang guru kimia dan lima orang mahasiswa
pendidikan kimia. Validasi media oleh mahasiswa menekankan pada aspek tampilan
sedangkan guru menekankan pada aspek konten atau materi di dalam media tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain satu faktor


(penerapan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think
Pair Share) berbasis web, dua sampel (kelas eksperimen dan kelas kontrol), dan satu
kovariabel (nilai murni UAS kimia SMA 1 Mlati kelas XI semester 1). Kelas
eksperimen merupakan kelas yang diberikan perlakuan berupa penerapan multimodal
learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web sedangkan kelas
kontrol merupakan kelas yang diberikan perlakuan berupa penerapan pembelajaran
kooperatif tanpa web. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Mlati pada semester
genap tahun ajaran 2013/2014 dengan menggunakan dua kelas sebagai kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas XI
IPA 1 yang selanjutnya disebut A1 sedangkan kelas kontrol adalah kelas XI IPA 2
yang selanjutnya disebut A2. Penelitian ini mencakup materi pokok kelarutan dan
hasil kali kelarutan (Ksp).
Tujuan dari penelitian ini yaitu, 1) mengetahui apakah ada perbedaan motivasi
peserta didik sebelum dan sesudah menerapkan multimodal learning melalui
pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web, 2) mengetahui apakah ada perbedaan
motivasi motivasi peserta didik sebelum dan sesudah menerapkan pembelajaran
kooperatif tipe TPS tanpa web, 3) mengetahui apakah ada perbedaan motivasi belajar
peserta didik yang menerapkan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif
tipe TPS berbasis we dibandingkan dengan peserta didik yang menerapkan
pembelajaran kooperatif tipe TPS tanpa web, 4) mengetahui apakah ada perbedaan
prestasi belajar peserta didik yang menerapkan multimodal learning melalui
pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web dibandingkan dengan peserta didik
yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS tanpa web jika pengetahuan awal
kimia peserta didik dikendalikan secara statistik.
Pada penelitian ini peneliti membuat perangkat pembelajaran diantaranya
adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus baik pada kelas
eksperimen yang menggunakan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif
tipe TPS berbasis web maupun kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran
kooperatif tipe tipe TPS tanpa web, LKS tentang materi yang disampaikan, latihan
soal, menyusun media pendukung multimodal learning dan soal tes prestasi belajar
kimia.

a. Proses Pembelajaran Kimia pada Kelas kontrol yang Menerapkan


Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS tanpa web
Pembelajaran kimia di kelas kontrol (A2) menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) tanpa menggunakan web LMS apapun.
Metode ini menghendaki peserta didik dapat berpasangan untuk memecahkan
masalah yang diberikan. tahapan yang harus dilalui pada metode kooperatif tipe TPS
yaitu thingking (berpikir), pairing (berpasangan) dan sharing (berbagi).
Jumlah peserta didik pada kelas ini adalah 25 orang. Pembelajaran di kelas
kontrol dilakukan sebanyak 6 kali pertemuan dengan total 11 jam pelajaran, dengan
rincian 5 kali pertemuan digunakan untuk penyampaian materi dan 1 kali pertemuan
untuk ulangan harian (post test) selama 2 jam pelajaran. Pada kelas kontrol ini,
kegiatan pembelajaran selalu dilakukan secara berpasangan sama seperti pada kelas
eksperimen. Dalam hal ini siswa menentukan sendiri dengan siapa hendak
berpasangan. Data pembagian kelompok terdapat pada lampiran.
Pada pertemuan pertama, sebelum kegiatan pembelajaran menggunakan
metode kooperatif tipe TPS dimulai, pendidik membagikan lembar angket motivasi
yang sama dengan lembar angket yang diberikan pada kelas eksperimen. Lembar
angket motivasi ini bertujuan untuk mengetahui motivasi awal peserta didik.
Selanjutnya memberi penjelasan kepada peserta didik tentang metode pembelajaran
kooperatif tipe TPS dan tahapan-tahapan yang harus dilakukan selama pembelajaran
berlangsung. Pada awal pembelajaran, pendidik membagi peserta didik menjadi 12
kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari dua peserta didik dan satu kelompok
terdiri dari tiga peserta didik. Pada setiap pertemuan peserta didik akan berkelompok
sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
Pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS
tanpa web, pendidik menyampaikan materi yang dipelajari secara garis besar, sebagai
pengetahuan dasar bagi peserta didik. Tahap pertama pada kegiatan pembelajaran
kooperatif tipe TPS adalah thinking atau berpikir. Pada tahap ini pendidik memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk memikirkan jawaban dari soal yang
diberikan. Pada tahap ini, setiap peserta didik mempelajari LKS yang telah diberikan
dan mengerjakan latihan soal-soal yang terdapat pada LKS secara individu.
Pada tahap thingking ini diharapkan peserta didik dapat memahami materi
yang dipelajari dan mampu mengerjakan latihan soal yang diberikan. Pada tahap ini
pendidik memantau dan mengamati satu per satu perkembangan peserta didik dalam
mengerjakan soal yang diberikan. Dalam tahap ini pendidik sedikit mengalami
kesulitan karena beberpa peserta didik sungkan untuk mengunkapkan kesulitan dalam
mengerjakan soal yang diberikan. hal ini sebenarnya dapat menghambat proses
pemahaman dari peserta didik tersebut apabila malu untuk mengungkapkan
kesulitannya yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap hasil evaluasi diakhir
pembelajaran.
Tahap selanjutnya pada kegiatan pembelajaran kooperatif tipe TPS ini adalah
pairing atau berpasangan. Pada tahap ini merupakan tahap peserta didik mulai
berpasangan dan mulai berdiskusi dengan pasangannya tentang masalah yang
diperoleh pada tahap sebelumnya untuk mencapai kesepakatan terhadap jawaban dari
soal tersebut. Hambatan pada tahap ini yaitu ada peserta didik yang memanfaatkan
waktu berpasangan untuk berbicara dengan teman lain diluar kelompoknya dan diluar
topik yang sedang dibahas sehingga pendidik akhirnya memberi teguran atas perilaku
tersebut dan kembali berdiskusi dengan pasangannya sesuai dengan topik yang
sedang dibahas.
Tahap ketiga pada kegiatan pembelajaran ini yaitu sharing atau berbagi. Pada
tahap ini, hasil diskusi yang diperoleh pada tahap pairing disampaikan secara klasikal
kepada seluruh kelompok di depan kelas. Setiap kelompok menyampaikan hasil
diskusinya dengan cara menuliskan jawaban hasil kesepakatan kelompok didepan
kelas. Hambatan pada tahap ini yaitu jumlah kelompok yang berjumlah 12 pasangan
tidak memungkin untuk menuliskan semua jawaban di papan tulis. Solusi atas
masalah ini yaitu diambil beberapa kelompok yang telah mewakili materi yang
dipelajari.
Pada akhir pembelajaran dengan metode kooperatif tipe TPS, pendidik
membagikan lembar angket motivasi yang sama dengan lembar angket motivasi yang
diberikan pada awal pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengetahui motivasi
belajar kimia peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dengan metode kooperatif
tipe TPS.
Kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari selama
kegiatan pembelajaran diukur dengan suatu test yaitu mengerjakan soal prestasi
belajar kimia yang telah divalidasi pada akhir pembelajaran. Soal test prestasi belajar
kimia yang diberikan merupakan soal yang sama dengan soal tes prestasi belajar
kimia pada kelas eksperimen. Dalam mengerjakan soal prestasi belajar kimia ini,
peserta didik mengerjakan secara individu dan tidak diperkanankan untuk
bekerjasama dengan peserta didik lain. Karena waktu yang yang berbeda antara kelas
kontrol dan kelas eksperimen, maka lembar soal tdak dibagikan kepada peserta didik
untuk sementara waktu dan dikembalikan kepada pendidik.
Penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan dampak
positif terhadap motivasi dan prestasi belajar peserta didik. Hal tersebut dapat dilihat
dari rata-rata nilai motivasi dan rata-rata prestasi yang mengalami kenaikan pada
kelas kontrol ini sebelum dan sesudah mendapat perlakuan.

b. Proses Pembelajaran Kimia Pada Kelas Eksperimen yang Menerapkan


Multimodal Learning Kooperatif Tipe TPS berbasis Web
Pembelajaran kimia yang menerapkan multimodal learning melalui
pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web dilaksanakan pada kelas XI IPA 1
sebagai kelas eksperimen. Jumlah peserta didik dalam kelas tersebut adalah 25 orang.
Pembelajaran yang menerapkan multimodal kooperatif tipe TPS berbasis web
dilaksanakan sebanyak 6 kali yaitu 5 kali pertemuan dengan total 11 jam pelajaran
dan 1 kali pertemuan 2 jam pelajaran yang digunakan untuk melakukan tes hasil
prestasi belajar peserta didik.
Pembelajaran kimia pada kelas eksperimen terdiri dari jenis yaitu
pembelajaran face to face (F2F) yaitu pembelajaran yang berlangsung secara tatap
muka dan dilaksanakan di ruang kelas dan pembelajaran online menggunakan LMS
yang dalam penelitian ini digunakan LMS Edmodo sebagai web untuk mendukung
proses pembelajaran online peserta didik. Yang membedakan proses pembelajaran
antara kelas kontrol dan eksperimen adalah waktu untuk melakukan diskusi pada
kelas eksperimen lebih banyak dibandingkan dengan kelas kontrol karena pada kelas
eksperimen tetap terjadi diskusi dan proses pembelajaran diluar jam pelajaran secara
online.
1) Proses pembelajaran Face to Face (F2F)
Proses pembelajaran pada kelas face to face (F2F) pada kelas eksperimen
dilaksanakan secara sama dengan proses pembelajaran pada kelas kontrol.
Perbedaannya yaitu hanya pada penggunaan media elektronik (e-media), pada kelas
eksperimen di setiap pertemuan digunakan metode pembelajaran dan media yang
berbeda-beda (multimodal) sedangkan pada kelas kontrol metode yang digunakan
hanya diskusi dan media yang dipakai hanya berupa powerpoint (unimodal). Namun
baik pada kelas kontrol maupun eksperimen sama-sama menggunakan media fisik
berupa rangkaian alat percobaan pengendapan yang dilaksanakan pada saat praktikum
diluar jam pelajaran yaitu setelah pulang sekolah. Sehingga dalam hal ini penggunaan
media pembelajaran elektronik tidak sepenuhnya menggantikan penggunaan media
fisik melainkan sebagai pengayaan akan materi pelajaran kelarutan dan hasil kali
kelarutan (Ksp), yang pada akhirnya ternyata dapat meningkatkan motivasi dan
prestasi belajar peserta didik dalam mempelajari kimia. Hal ini dapat dilihat dari
peningkatan motivasi dan prestasi belajar peserta didik baik di kelas kontrol maupun
kelas eksperimen.
Kegiatan belajar mengajar di kelas F2F selalu dilakukan dengan metode
diskusi berkelompok berdasarkan model kooperatif tipe TPS. Pembelajaran
kooperatif tipe TPS adalah model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
Dalam penelitian ini, peserta didik dikelompokan secara berpasangan yang heterogen
baik gender maupun kemampuannya. Hal ini diharapkan agar peserta didik yang
berkemampuan tinggi dapat membantu peserta didik yang kesulitan dalam memahami
materi yang disampaikan oleh guru. Setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda
namun mewakili seluruh bagian-bagian yang harus dipahami secara keseluruhan pada
materi kelarutan dan hasil kelarutan. Diakhir pembelajaran, setiap kelompok diminta
untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka.
2) Multimodal Learning melalu pemanfaatan Web (Online)
Untuk melakukan pembelajaran secara online, ada banyak jenis LMS yang
bisa dimanfaatkan oleh pendidik yang dapat digunakan secara bebas biaya (free).
Beberapa contoh LMS yang paling banyak digunakan para pendidik diseluruh dunia
yaitu Moodle, Edmodo, dan Edmodo. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
LMS Edmodo dengan pertimbangan tampilan atau User Interface (UI) dari web
Edmodo memiliki banyak kemiripan dengan media sosial Facebook yang berdasarkan
data yang diperoleh dari wawancara dengan peserta didik pada kelas eksperimen,
sebagian besar peserta didik telah memiliki akun media sosial Facebook. Sehingga
diharapkan peserta didik tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menggunakan
dan memanfaatkan fitur-fitur yang dimiliki oleh LMS Edmodo. Selain itu LMS
Edmodo juga telah memiliki tampilan versi mobile yang berarti LMS tersebut dapat
diinstal pada ponsel pintar (smartphone) yang dimiliki oleh peserta didik. Beberapa
aktifitas yang dapat dilakukan selama proses pembelajaran, baik oleh pendidik,
peserta didik bahkan orang tua dalam menggunakan Edmodo untuk mendukung
proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
Berbagi konten edukasi (Sharing material)
Salah satu manfaat penggunaan Edmodo dalam proses pembelajaran adalah
dapat saling berbagi konten pembelajaran baik itu yang disusun pribadi oleh pendidik
maupun konten pembelajaran yang bersumber dari situs-situs edukasi yang dapat
diunduh melalui internet. Dengan adanya proses saling berbagi ini maka kualitas
pembelajaran akan semakin meningkat seiring bertambahnya referensi dan peserta
didikpun menjadi lebih antusias terhadap proses pembelajaran yang terjadi. Hal ini
dapat dilihat melalui perbedaan motivasi belajar peserta didik pada kelas yang
menerapkan multimodal learning berbasis web memliki motivasi belajar yang lebih
tinggi dibanding kelas kontrol yang melakukan pembelajaran tanpa menggunakan
web sebagai pendukung dari proses pembelajaran tersebut.
Gambar 1 . Tampilan beranda Edmodo dan folder untuk berbagi konten.
Diskusi
Hal yang cukup penting dalam proses pembelajaran adalah terjadi diskusi dua
arah antara pendidik dan peserta didik. Menurut Nana Sudjana (2002: 42), suasana
belajar yang demokratis dimana terjadi diskusi akan masalah yang dihadapi dapat
meningkatkan motivasi belajar dan memberi peluang tercapainya hasil belajar yang
optimal dibandingkan dengan suasana belajar yang kaku dan disiplin yang ketat
dengan otoritas pada guru.
Melalui pemanfaatan Edmodo, peserta didik yang merasa malu atau mungkin
tidak ada waktu untuk bertanya dan berdiskusi dengan guru secara langsung didalam
kelas, dapat memanfaatkan fitur chat and comment yang tersedia sehingga siswa
tersebut dapat bebas memilih untuk melakukan diskusi secara pribadi maupun diskusi
terbuka secara berkelompok seperti pada proses pembelajaran F2F.

Gambar 2. Tampilan aktifitas diskusi pendidik dan peserta didik


Kuis
Pelaksanaan kuis dalam pembelajaran online menggunakan Edmodo
dimaksudkan agar peserta didik selalu siap dengan materi-materi yang akan
disampaikan didalam kelas. Pemberian kuis dalam proses pembelajaran ada
dua jenis yaitu pemberian kuis sebelum perjalanan dimulai dan pemberian
kuis setelah pelajaran usia diluar waktu proses pembelajaran. Hal ini bertujuan
untuk mengevaluasi dan mengetahui efektifitas pembelajaran yang telah
dilakukan pada hari tersebut. Pemberian kuis secara online tidak dilakukan
setiap pertemuan namun hanya dua kali yaitu pada pertemuan kedua dan pada
pertemuan keempat.

Gambar 3 . Tampilan Kuis pada Edmodo


Polling
Selain melalui kuis, pendidik juga dapat memanfaatkan fitur polling yang
terdapat Edmodo untuk mengevaluasi dan untuk mengetahui efektifitas
pembelajaran yang telah dilakukan. Kemudahan polling pada LMS edmodo
yaitu peserta didik tidak harus online melalui komputer dekstop atau laptop
untuk melakukan voting. Cukup dengan menggunakan smartphone dan
aplikasi Edmodo yang telah diinstal pada ponsel peserta didik, mereka dapat
melakukan voting atas polling yang dilakukan.
Gambar 4 . Tampilan polling versi mobile pada Edmodo

Gambar 5 . Tampilan polling versi web desktop


Pengumpulan Tugas
Hal yang menguntungkan pada saat menggunakan LMS Edmodo adalah
pada saat mengumpulkan tugas yang diberikan oleh pendidik, peserta didik tidak
perlu menggunakan kertas sebagai bahan untuk menulis, namun cukup menggunakan
softfile yang kemudian diunggah pada kolom tugas. Selain itu, dalam proses
pengumpulan tugas, pendidik dapat mengatur batas waktu pengumpulan tugas, yaitu
ketika ada peserta didik yang terlambat mengunggah tugas maka secara otomatis
sistem akan terkunci dan peserta didik tidak dapat mengumpulkan tugas tersebut.
Pengaturan batas waktu pada saat mengumpulkan tugas juga secara tidak
langsung dapat melatih disiplin karena peserta didik diaharapkan lebih baik dalam
mengelola waktu. Untuk mengurangi kemungkinan plagiasi pada saat pengumpulan
tugas, pendidik memberikan soal dalam bentuk uraian dan sebuah software
Plagiarsm Detector yang apabila didapatkan kemiripan lebih dari 80% pada tugas
yang dikumpulkan peserta didik dengan peserta didik lainnya, maka kemungkinan
besar siswa tersebut mencontek pekerjaan teman lain dalam menyelesaikan tugas
yaang menjadi tanggung jawabnya. Namun dalam proses pembelajaran online pada
kelas eksperimen pada penelitian ini tidak ditemukan adanya tugas yang memiliki
keasaamaan persentase melebihi 80%.

Gambar 6 . Tampilan posting Tugas di beranda Edmodo


Penilaian (Grade)
LMS Edmodo menyediakan fitur penilaian yang mendetail mencakup
bagian-bagian apa saja yang menjadi kelemahan bagi masing-masing peserta didik.
Fitur grade memberikan data kepada pendidik kelemahan siswa secara statistik
sehingga diharapkan terjadi perbaikan pada pembelajaran-pembelajaran yang
nantinya akan dilakukan secara face ot face (F2F).
Perkembangan nilai yang diperoleh oleh peserta didik dari waktu kewaktu
juga dapat dipantau secara langsung oleh orang tua tanpa harus berhubungan
langsung dengan guru. Orang tua dapat mengetahuinya secara online dengan cara
memasukkan kode akses tertentu yang diberikan anaknya kedalam kolom parent
register.

Gambar 7. Tampilan Lembar penilaian siswa secara statistik


Keterlibatan Orang (Parents Collaboration)
Kelebihan lain dari proses pembelajaran online melalui Edmodo ini adalah
orang tua dari peserta didik juga dapat terlibat secara tidak langsunng dalam proses
pembelajaran dengan cara memantau perkembangan peserta didik dan berdiskusi
langsung dengan guru tentang kendala-kendala yang dihadapi oleh peserta didik
dalam memahami pelajaran. Namun dalam pemanfaatan fitur Parent Collaboration ini
adalah tidak semua orang tua bisa bergabung dalam pembelajaran online. Dari total
sebanyak 25 peserta didik hanya 5 orang tua yang dapat bergabung langsung dengan
pembelajaran online melalui Edmodo. Sebagian besar kendala yang dihadapi orang
tua untuk bergabung adalah jarang sekali menggunakan internet dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga sebagian besar tidak memiliki email yang menjadi syarat wajib
apabila ingin bergabung ke dalam suatu komunitas pembelajaran online melalui
Edmodo.

c. Efektifitas Penerapan Multimodal Learning Melalui Pembelajaran


Kooperatif Tipe TPS Berbasis Web Terhadap Motivasi Belajar Kimia
Peserta Didik
Motivasi belajar peserta didik diukur menggunakan angket motivasi yang
diambil sebelum dan sesudah perlakuan di semua kelas eksperimen. Data hasil angket
motivasi belajar kimia sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran kemudian
dianalisis menggunakan independent sample t-test. Selain itu, Independent sample t-
test juga berfungsi untuk mengetahui perbedaan peningkatan motivasi belajar peserta
didik di kelas yang mengimplementasikan multimodal learning berbasis web dengan
kelas yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS. Berdasarkan hasil analisis
diperoleh data yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap
motivasi belajar peserta didik di kelas yang mengimplementasikan multimodal
learning berbasis web dengan kelas yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe
TPS.. Gambar 10 berikut ini menunjukkan grafik perbandingan rerata motivasi
belajar peserta didik di kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
Data Kelas
Eksperimen Kontrol
Jumlah 25 25
Rerata Motivasi Awal 121,44 114,6
Rerata Motivasi Akhir 132,28 121,2
p 0,000
Rerata Motivasi
135
130
125
120
115
110
105
Eksperimen
1 Kontrol
2

Motivasi Awal Motivasi Akhir

Gambar 10. Grafik Perbandingan Rerata Motivasi Antara Kelas Eksperimen dengan
Kelas Kontrol

Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan motivasi belajar peserta didik


yang mengikuti multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS
berbasis web diantaranya sebagai berikut:
1). Berdasarkan hasil angkat yang diberikan kepada peserta didik, penerapan
Multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web ini
mampu meningkatkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik. Latifah (2008)
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memperkuat motivasi belajar
peserta didik dengan cara yang berbeda, seperti mendorong pengembangan
kelompok, meningkatkan interaksi sosial dan akademik peserta didik, serta
mendorong partisipasi peserta didik dalam kelompok. Penelitian ini
menunjukkan bahwa rasa ingin tahu peserta didik meningkat secara signifikan
setelah belajar tentang materi kelarutan dan hasil kali kearutan (Ksp)
menggunakan model TPS yang terintegrasi dengan web Edmodo.
2). Implementasi perpaduan pembelajaran konvensional dan web menjadikan
peserta didik mempunyai sarana lebih banyak untuk menggali informasi dan
saling berbagi sehingga tercipta lingkungan pembelajaran yang baik bagi
peserta didik. Imam (2013) menyatakan bahwa Edmodo adalah sebuah
platform jejaring sosial yang dirancang sebagai media interaksi antara guru dan
peserta didik dalam lingkungan belajar online yang aman untuk berbagi data,
informasi dan isi pendidikan dalam bentuk tulisan, dokumen, video, audio, foto,
kalender, link yang dapat didistribusikan baik oleh guru dan peserta didik.
Berdasarkan hasil uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Multimodal
learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS berbasis web efektif digunakan
untuk membuat lingkungan belajar yang menyenangkan karena dapat meningkatkan
motivasi belajar peserta didik.
d. Efektifitas Penerapan Multimodal Learning Melalui Pembelajaran
Kooperatif Tipe TPS Berbasis Web Terhadap Prestasi Belajar Kimia
Peserta Didik
Prestasi belajar peserta didik diukur menggunakan soal prestasi belajar kimia
mengenai materi kelarutn dan hasil kali kelarutan. Soal telah divalidasi baik secara
logis maupun empiris. Soal prestasi ini diberikan setelah pembelajaran selesai
dilakukan. Sebelum menganalisis hasil prestasi belajar peserta didik, sebelumnya
dilakukan uji prasyarat hipotesis yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas
dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berdistribusi normal atau tidak,
sedangkan ji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah sampel memiliki
variansi yang homogen.
Setelah semua data memenuhi prasyarat uji hipotesis, maka dapat dilakukan
uji hipotesis. Uji hipotesis terhadap prestasi belajar peserta didik menggunakan uji
univariate analysis of variance. Uji ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya
perbedaan signifikan terhadap rerata suatu variabel terikat dalam hal ini prestasi
belajar kimia antara dua kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan
mengendalikan variabel yang berpengaruh terhadap variabel terikat. Prestasi belajar
peserta didik diantara kelas eksperimen dan kelas kontrol dikatakan memiliki
perbedaan yang signifikan ketika harga phitung lebih kecil dari () 0,05. Harga
signifikansi uji univariate analysis of variance menggunakan SPSS 16.0 sebesar
0,002 < () 0,05 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar
peserta didik yang mengimplementasikan multimodal learning melalui pembelajaran
kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) berbasis web dengan kelas yang
menggunakan metode kooperatif tipe TPS pada materi Ksp, jika pengetahuan awal
peserta didik dikendalikan secara statistik. Gambar 11 berikut menunjukkan
perbandingan prestasi belajar peserta didik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Grafik Prestasi Belajar


80
70
60
50
40
30
20
10
0
Rerata Prestasi Belajar

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol


Gambar 11. Perbandingan Prestasi Belajar Antarkelas
Pemberian perlakuan yang berbeda pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
menyebabkan perbedaan pada prestasi belajar peserta didik di kedua kelas tersebut.
Pada kelas eksperimen yang menerapkan multimodal learning melalui pembelajaran
kooperatif tipe TPS berbasis web memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada
kelas yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS tanpa menggunakan web.
Hal ini terlihat jelas pada rata-rata prestasi belajar peserta didik di kelas eksperimen
lebih tinggi dibandingkan pada kelas kontrol, yaitu 74,52 dibandingkan dengan 61,16.
Hasil tersebut dapat dipengaruhi oleh intensitas interaksi antara guru dengan peserta
didik pada kelas eksperimen lebih tinggi karena pembelajaran yang dilakukan tidak
hanya pada saat KBM di kelas, namun juga dilakukan diluar kelas menggunakan
LMS edmodo. Selain itu media pembelajaran yang digunakan di kelas eksperimen
lebih bervariasi daripada di kelas kontrol. Peserta didik dapat memilih sendiri media
yang mereka sukai karena guru menyediakan beberapa media pembelajaran yang
dapat mereka gunakan. Karena penggunaan media pembelajaran yang baik dapat
meningkatkan prestasi belajar peserta didik (Sukarno, 2009).
Beberapa faktor lain yang menyebabkan perbedaan prestasi belajar di antara
kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sebagai berikut.
1. Peserta didik yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS
berbasis web dapat berlatih secara mandiri. Pada tahap thinking peserta ddik
dapat secara mandiri mengerjakan latihan soal yang ada di LKS. Rasa ingin tahu
peserta didik terhadap materi meningkat dan berusaha untuk menemukan
jawabannya. Dengan demikian peserta didik lebih memahami dan menguasai
materi yang dipelajari.
2. Peserta didik pada kelas yang menggunakan model pembeajaran kooperatif tipe
TPS berbasis web bekerja sama dengan pasangannya dalam kelompok yaitu pada
tahap pairing. Pada tahap ini peserta didik berpasangan dengan pasangannya
untuk berdiskusi mengenai jawaban dari soal yang telah dikerjakan pada tahap
thinking. Dalam berdiskusi dapat dilakukan baik didalam kelas maupun diluar
kelas (online), setiap kelompok hanya terdiri dari dua orang peserta didik
sehingga memudahkan peserta didik untuk belajar bersama-sama,
berkomunikasi, mengeluarkan pendapat untuk menemukan jawaban yang paling
benar. Dalam kondisi tertentu terkadang peserta didik lebih memahami materi
yang disampaikan apabila diterangkan oleh teman sendiri, peserta didik akan
lebih termotivasi dan bersemangat dalam belajar kimia. Dengan demikia peserta
didik dapat lebih memahami materi yang telah dipelajari, mendapatkan
pengetahuan secara bersama, dan dapat mengerjakan latihan soal yang diberikan.
3. Peserta didik pada kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
TPS berbasis web melakukan presentasi (sharing) mengenai hasil kerja
kelompoknya yang kemudian diterangkan kepada kelompok lain. Pada tahap ini
juga ada alokasi waktu untuk tanya jawab yang membuat peserta didik berlatih
untuk berkomunikasi dan untuk membangun pengetahuan yang dipelajar
sehingga peserta didik dapat lebih memahami materi yang disampaikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.


1. Ada perbedaan motivasi belajar peserta didik yang signifikan sebelum dan
sesudah menerapkan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe
TPS (Think Pair Share) berbasis web pada materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan (Ksp) kelas XI SMA Negeri 1 Mlati Sleman.
2. Ada perbedaan yang signifikan terhadap motivasi belajar peserta didik yang
menerapkan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS
(Think Pair Share) berbasis web dibandingkan dengan peserta didik yang
menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) tanpa web
pada materi redoks kelas XI SMA Negeri 1 Mlati Sleman.
3. Ada perbedaan yang signifikan terhadap prestasi belajar peserta didik yang
menerapkan multimodal learning melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS
(Think Pair Share) berbasis web dibandingkan dengan peserta didik yang
menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) tanpa web
pada materi redoks kelas X SMA Negeri 7 Purworejo jika pengetahuan awal
kimia peserta didik dikendalikan secara statistik.

B. Saran

Adapun saran untuk penelitian yang lebih lanjut adalah sebagai berikut.
1. Multimodal learning melalui pembelajaran kooperatid berbasis web akan lebih
efektif jika dilakukan disekolah-sekolah yang telah mendukung penuh koneksi
internet seperti Wifi dan LAN sehingga peserta didik tidak kesulitan untuk
saling berhubungan dalam komunitas belajar online yang telah dibuat.
2. Perlu dilakukan penelitian sejenis terhadap materi kimia yang memiliki
karakteristik berbeda dengan materi Ksp.
3. Jika akan dilakukan penelitian yang serupa, sebaiknya media pembelajaran
yang digunakan harus lebih banyak, lebih variatif dan inovatif disesuaikan
dengan materi yang akan disampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. LMS (Learning Management system) for education. [ONLINE]


http://www.id.wikipedia.org /wiki/Learning_Management_System [diakses 20-3-
13 9.00]
Aribah, Khamimatun. Efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair and Share (TPS) Terhadap Prestasi dan motivasu belajar dan
pemahaman konsep kimia peserta didik MA Negeri Yogyakarta III Kelas X
Semester 2 Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi Pendidikan Kimia . UNY. 2012

Herviantoro, Ardiego. 2009. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan


Berbasis Komunitas. Skripsi. FISIP Universitas Indonesia

Ibrahim, R. dan Nana Syaodih S. (2003). Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka


Cipta (Depdikbud).

Lexy , J. Moleong. 2004. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda

Lilik Prihastuti. (2008). Implementasi Pembelajaran Kimia Dalam Menghadapi


Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada SMA di
Wilayah Kulon Progo. Skripsi. Yogyakarta : Jurdik Kimia FMIPA UNY

Rismayanti, Anti. 2012. Mengenal Lebih dekat Edmodo sebagai Media e-learning
dan Kolaborasi. [Ebook] http://www.seamolec.org [diakses pada 15 maret 2013]

Rusmiati. 2011. Penerapan Blended Learning Pada Pembelajaran Fisika SMA Dan
Fisika Dasar di Perguruan Tinggi . Makalah Pasca Sains UNESA

Purbo, Murdiono, dkk. 2011. Perancangan dan Implementasi Content pembelajaran


Online dengan Metode Blanded Learning. Penelitian. Jurusan Teknik Elektro FT
UNSRAT.

Soekarno. 2011. Blended Learning Sebuah Alternatif Model Pembelajaran


Mahasiswa Program Sarjan (S-1) Kependidikan Bagi Guru dalam Jabatan.
Makalah Penelitian. PGSD Universitas Sebelas Maret.

Yusuf, M. 2011. Mengenal Blended Learning. Jurnal Lentera Pendidikan. Vol 14. 20
Desember 2011 232-242

http://www.antaranews.com/berita/325351/menkominfo-internet-lokal-setara-korea-
selatan-jika-wimax-3g-lancar-2013 [diakses pada 3 april 2013 - 8.00 WIB]

http://www.chip.co.id/news/web_internet/4948/kecepatan_internet_indonesia_naik_5
4_persen [diakses pada 3 april 2013 8.30 WIB]

http://blog.edmodo.com [diakses pada 20 maret 2013 pukul 21.00 WIB]