You are on page 1of 38

BAB I PENDAHULUAN

Secara garis besar limbah dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama adalah limbah organik, terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, peternskan, rumah tangga, industri dll, yang secara alamimudah terurai (oleh aktivitas mikroorganisme). Kedua limbah anorganik, yaitu limbah yang berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau hasil samping proses industri. Limbah anorganik tidak mudah hancur (lapuk). Sebagian zat anorganik secara tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnyan hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Ketiga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), merupakan sisa suatu usaha yang mengandung bahan berbahaya (beracun), baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak (mencemarkan dan membahayakan) lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, serta makhluk hidup lainnya.

Sampah merupakan sisa – sisa aktifitas makhluk hidup yang identik dengan bahan buangan yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau. Sampah organik seperti dedaunan yang berasal dari tanaman, jerami, rerumputan, dan sisa – sisa sayur, buah, yang berasal dari aktifitas rumah tangga (sampah domestik) memang sering menimbulkan berbagai masalah. Baik itu masalah keindahan dan kenyamanan maupun masalah kesehatan manusia, baik dalam lingkup individu, keluarga, maupun masyarakat. Masalah – masalah seperti timbulnya bau tak sedap maupun berbagai penyakit tentu membawa kerugian bagi manusia maupun lingkungan disekitarnya, baik materi maupun psikis. Melihat fakta tersebut, tentu perlu adanya suatu tindakan guna meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan dan berupaya meningkatkan semaksimal mungkin dampak positifnya.

Proses pengomposan adalah dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba – mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan

1

mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan activator pengomposan.

Kesuburan tanah sangat bergantung pada kandungan organik dalam tanah. Sehingga ukuran kesuburan tanah dapat diukur melalui kadar organik dalam tanah atau dalam ilmu tentang tanah disebut juga dengan sebutan kadar C-Organik. Di kalangan para petani, pemahaman tentang kandungan organik ataupun C-organik kurang dipahami. Namun dalam dunia pertanian hal tersebut dapat dikatakan sebagia salah satu faktor penting dalam mempengaruhi hasil produksi. Oleh karena itu perlu melakukan pengukuran atau pengamatan tentang kadar C-organik dalam tanah agar mengetahui tindakan apa selanjutnya yang akan di buat untuk kesuburan tanah tersebut yang tujuann utamnya adalah meningkatkan hasil produksi.

Kandungan bahan orgnik pada masing – masing horison merupakan bentuk besarnya akumulasi bahan oorganik dalam keadaaan lingkungan yang berbeda.Komponen bahan organik yang penting adalah C dan N.Kandungan bahan organik itu dengan mengalihkan ditentukan secara tidak langsung yaitkan u dengan mengalikan kadar C dengan suatu faktor yang umumnya sebagai berikut :Kandunagn bahan organik =C *1,724.Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka kandungan bahan organik merupakan salah satu indikator tingkat kesuburan tanah.Dan dalam pengapuran berfungsi dlam mempengaruhi kondisi tanah bereaksi masam cukup baik untuk pertumbuhan tanaman.

Fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Gejala-gejala kekurangan N adalah tanaman kerdil, pertumbuhan akar terbatas, dan daun-daun kuning dan gugur. Gejala-gejala kebanyakan N adalah memperlambat kematangan tanaman, batang-batang lemah mudah roboh, dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit. Nitrogen di dalam tanah terdapat dalam berbagai bentuk yaitu protein, senyawa-senyawa amino, Amonium (NH 4 + ), dan Nitrat (NO 3 - ).

2

Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pertumbuhan. Diantara tiga unsur yang biasa mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya nitrogen mempunyai efek paling menonjol.

B. Tujuan

  • 1. Membuat probiotik untuk membantu proses pengomposan,

  • 2. Membuat kompos dari bahan organik,

  • 3. Mengamati suhu dan keasaman kompos dalam proses pengomposan,

  • 4. Mengamati kadar C-organik kompos pada proses pengomposan,

  • 5. Mengamati kadar N kompos pada proses pengomposan,

  • 6. Mengamati rasio C/N pada proses pengomosan,

  • 7. Mengamati kemampua pupuk dalam menyerap air pada kondisi suhu kamar.

  • 8. Mengamati kemampuan pupuk untuk larut dalam air.

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kompos

  • A. Probitik

Probiotik

merupakan

organisme

yang

dapat

dimanfaatkan

untuk

membantu mempercepat digradasi limbah organic. Dengan menambahkanya pada limbah yang akan dikomposkan dapatmempercepat proses pengomposan. Adanya probiotik akan membantu masyarakat untuk mengelola limbah yang dihasilkan, kususnya limbah organic menjadi kompos. (anonim,2011). Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol biologis pada sistem budi daya adalah Menekan pertumbuhan bakteri pathogen, Mempercepat degradasi bahan organik dan limbah, Meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial, Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indigenus yang menguntungkan pada tanaman, misal Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut pospat, Memfiksasi nitrogen, Mengurangi pupuk dan pestisida. Dengan adanya probiotik maka proses degradasi bahan organik akan lancar, sehingga menghasilkan zat-zat yang bermanfaat bagi pertumbuhan. Bahan organik yang mengalami mineralisasi oleh jasad pengurai (probiotik) akan diubah

menjadi bahan anorganik seperti nitrat dan pospat. Probiotik dapat dibagi 2 kelompok yaitu ; bentuk cair merupakan mikroba

dalam bentuk suspensi (inokulan tunggal maupun multikultur) antara lain Lactobacillus, Bacillus sp, Nitrobacteria dan bentuk padat yaitu mikroba

diinokulasi (tunggal atau multikultur) dalam media carier. (Simarmata, 2006).

Prebiotik

dapat

di

gunakan

untuk

berbagai

keperluan

di

kehidupan

manusia seperti Pupuk Organik pada tanah perkebunan dan pertanian,

,
,

Dekomposer/Pengurai Sampah, Penghilang bau WC dan anti sedot WC Pembersih porselen/keramik, Mikroba yang membantu pencernaan manusia dan

hewan, Bahan pembantu Planter Tambak dan Pengendali Amdal/IPAL.

(Murbandono,1992)

  • B. Pengomposan

4

Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan lingkungan yang terkendali (terkontrol) dengan hasil akhir berupa humus dan kompos (Simamora dan Salundik, 2006). Sedangkan menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002) pada dasarnya pengomposan merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikroba agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik dan mikroba tersebut diantaranya bakteri, fungi, dan jasad renik lainnya. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume/bobot awal bahan (Wikipedia Indonesia, 2008). Prinsip pengomposan adalah menurunkan nilai nisbah C/N bahan organic menjadi sama dengan nisbah C/N tanah. Nisbah C/N adalah hasil perbandingan antara karbohidrat dan nitrogen yang terkandung di dalam suatu bahan. Nilai nisbah C/N tanah adalah 10-12. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N sama dengan tanah memungkinkan bahan tersebut dapat diserap oleh tanaman

(Djuarnani dkk, 2005). Dalam proses pengomposan terjadi perubahan seperti 1) karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak, dan lilin menjadi CO2 dan air, 2) zat putih telur amonia, CO2, dan air, 3) peruraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Dengan perubahan tersebut kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan senyawa N yang larut (amonia) meningkat. Dengan demikian C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah (Indriani, 2007).

Ada

dua

mekanisme

proses

pengomposan

berdasarkan

ketersediaan

oksigen bebas, yakni pengomposan secara aerobik dan anaerobik.

a. Pengomposan secara Aerobik

Pada pengomposan secara aerobik, oksigen mutlak dibutuhkan. Mikroorganisme yang terlibat dalam proses pengomposan membutuhkan oksigen dan air untuk merombak bahan organik dan mengasimilasikan sejumlah karbon, nitrogen, fosfor, belerang, dan unsur lainnya untuk sintesis protoplasma sel tubuhnya (Simamora dan Salundik, 2006).

Dalam sistem ini, kurang lebih 2/3 unsur karbon (C) menguap menjadi CO2 dan sisanya 1/3 bagian bereaksi dengan nitrogen dalam sel hidup. Selama

5

proses pengomposan aerobik tidak timbul bau busuk. Selama proses pengomposan berlangsung akan terjadi reaksi eksotermik sehingga timbul panas akibat pelepasan energi (Sutanto, 2002).

Hasil dari dekomposisi bahan organik secara aerobik adalah CO2, H2O (air), humus, dan energi. Proses dekomposisi bahan organik secara aerobik dapat disajikan dengan reaksi sebagai berikut :

Mikroba aerob

Bahan organik

proses pengomposan aerobik tidak timbul bau busuk. Selama proses pengomposan berlangsung akan terjadi reaksi eksotermik sehingga

(Djuarnani dkk, 2005).

CO2 + H2O + Humus + Hara + Energi

b. Pengomposan secara Anaerobik

Dekomposisi secara anaerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia dan biologi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (hampa udara). Proses ini merupakan proses yang dingin dan tidak terjadi fluktuasi temperature seperti yang terjadi pada proses pengomposan secara aerobik. Namun, pada proses anaerobik perlu tambahan panas dari luar sebesar 300C (Djuarnani dkk, 2005).

Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2), dan asam organik yang memiliki bobot molekul rendah seperti asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam laktat, dan asam suksinat. Gas metan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (biogas). Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan dan cairan. Bagian padatan ini yang disebut kompos. Namun, kadar airnya masih tinggi sehingga sebelum digunakan harus dikeringkan (Simamora dan Salundik, 2006).

Pembuatan kompos pada prinsipnya cukup mudah bisa dilakukan dengan cara membiarkan bahan organik hingga malapuk atau menambahkan activator untuk mempercepat proses pengomposan.

  • C. Kadar C-organik

6

Pada dasarnya tanaman memerlukan berbagai unsur hara baik itu unsur mikro, ataupun unsur makro. Unsur C dan N merupakan unsur yang paling penting dalam tanaman. Maka dari itu sebelum orang akan memupuk tanman budidayanya pastilah orang tersebut menghitung keperluan pupuk atau unsur yang diperlukan. (Murbandono,1992.). C-organik bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika, maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organic dilakukan berdasarkan jumlah c-oraganik. (anonymous,2011).

Sumber utama CO2

di alam berasal dari dekomposisi bahan organik

berupa sisa-sisa tanaman ataupun hewan dan dari respirasi invertebrata, bakteri serta fungi. Keperluan seluruh tanaman yang hidup diperkirakan sekitar 80 x 109

ton karbon/tahun. Dengan perediaan CO2 dalam udara sebesar 0,03% volume,

maka CO2 tersebut akan habis diserap tanaman dalam waktu beberapa dekade saja. Berkat adanya daur (siklus) yang menghasilkan CO2, maka kadar gas tersebut relatif stabil (Konova, 1966).

  • D. Kadar N total

Nitrogen merupakan unsure hara makro esensial, menyusun sekitar 1,5% bobot tanaman yang berfungsi terutama dalam pembentukan protein.

(Hanafiah,2005).

Nitrogen (N) merupakan hara makro utama yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk ion NO3 – atau NH4+ dari tanah. Kadar Ntrogen rata-rata dalam jaringan tanaman adalah 2% - 4% berat kering. Dalam tanah, kadar Nitrogen sangat bervariasi, tergantung pada pengelolaan dan penggunaan tanah tersebut. Tanah hutan berbeda dengan tanah perkebunan dan tanah peternakan. Tanaman di lahan kering umumnya menyerap ion nitrat NO3 – relatif lebih besar jika dibandingkan dengan ion NH4+. Ada dugaan bahwa senyawa organik, misalnya asam nukleat dan asam amino larut, dapat diserap langsung oleh tanaman (Tisdale, 1985).

  • E. Rasio C/N

Pembuatan

kompos

adalah

menumpukkan

bahan-bahan

organis

dan

membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang mempunyai nisbah C/N yang rendah (telah melapuk) (Hasibuan, 2006).

7

Bahan-bahan yang mempunyai C/N sama atau mendekati C/N tanah, dapat langsung digunakan sebagai pupuk, tetapi bila C/N nya tinggi harus didekomposisikan dulu sehingga melapuk dengan C/N rendah yakni 10-12 (Rinsemo, 1993). Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan. Besarnya perbandingan antara unsur karbon

dengan nitrogen tergantung pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 :

1 sampai dengan 40 : 1, dengan rasio terbaik adalah 30 : 1. Jika nisbah C/N tinggi, aktivitas biologi mikroorganisme akan berkurang. Selain itu, diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk menyelesaikan degradasi bahan kompos sehingga waktu pengomposan akan lebih lama dan kompos yang dihasilkan akan memiliki mutu rendah. Jika nisbah C/N terlalu rendah (kurang dari 30), kelebihan nitrogen (N) yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tidak dapat diasimilasi dan akan hilang melalui volatisasi sebagai amonia atau terdenitrifikasi (Djuarnani dkk, 2005).

Mikroorganisme

akan

mengikat

nitrogen

tetapi tergantung pada

ketersediaan karbon. Apabila ketersediaan karbon terbatas (nisbah C/N terlalu rendah) tidak cukup senyawa sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan mikroorganisme untuk mengikat seluruh nitrogen bebas. Dalam hal ini jumlah nitrogen bebas dilepaskan dalam bentuk gas NH3 - dan kompos yang dihasilkan mempunyai kualitas rendah. Apabila ketersediaan karbon berlebihan (C/N>40) jumlah nitrogen sangat terbatas sehingga merupakan faktor pembatas pertumbuhan mikroorganisme. Proses dekomposisi menjadi terhambat karena kelebihan karbon pertama kali harus dibakar/dibuang oleh mikroorganisme dalam bentuk CO2 (Sutanto, 2002). Dari hubungan antara C dan N yang hilang dalam proses pengomposan menunjukkan bahwa 85% dari total awal N kompos tersedia bagi mikroba untuk

8

tumbuh dan 70% dari C tersedia hilang sebagai CO2 selama proses immobilisasi (Baca et al., 1993)

2.2. Kemasaman

Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorganisme. Kisaran pH yang baik yaitu sekitar 6,5-7,5 (netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH (Indriani, 2007).

Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral (Wikipedia Indonesia, 2008).

Derajat

keasaman

dapat

menjadi

faktor

penghambat

dalam

proses

pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila :

a. pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.

b.

pH

terlalu

rendah

(di

bawah

6),

kondisi

menjadi

asam dan dapat

menyebabkan kematian jasad renik. Kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0 – 8,0 derajat keasaman bahan

pada permulaan pengomposan umumnya asam sampai dengan netral (pH 6,0 – 7,0) derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah

9

bahan organic menjadi asam organic. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme, dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organic yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekati netral. Seperti factor lainnya derajat keasaman perlu dikontrol selama proses pengomposan berlangsung. Jika derajat keasaman terlalu tinggi atau terlalu basa konsumsi oksigen akan semakin naik dan akan memberikan hasil yang buruk bagilingkungan. Derajat keasaman yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan unsure nitrogen dalam bahan kompos berubah menjadi ammonia (NH3) sebaliknya dalam keadaan asam (derajat keasaman rendah) akan menyebabkan sebagian mikroorganisme mati.

Derajat

keasaman

yang

terlalu

tinggi dapat diturunkan dengan

menambahkan kotoran hewan, urea, atau pupuk nitrogen. Jika derajat keasaman terlalu rendah bisa ditingkatkan dengan menambahkan kapur dan abu dapur kedalam bahan kompos.

2.3. Temperatur

Pada pengomposan secara aerobik akan terjadi kenaikan temperatur yang cukup cepat selama 3-5 hari pertama dan temperatur kompos dapat mencapai 55- 700C. Kisaran temperatur tersebut merupakan yang terbaik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Pada kisaran temperatur ini, mikroorganisme dapat tumbuh tiga kali lipat dibandingkan dengan temperatur yang kurang dari 550C. Selain itu, pada temperatur tersebut enzim yang dihasilkan juga paling efektif menguraikan bahan organik. Penurunan nisbah C/N juga dapat berjalan dengan sempurna (Djuarnani dkk, 2005). Suhu dan Ketinggian Timbunan pembuaatan pupuk organik, penjagaan panas sangat penting dalam pembuatan pembuatan pupuk organik. Faktor yang menentukan tingginya suhu adalah tingginya timbunan itu sendiri. Bila timbunan yang terlalu dangkal akan kehilangan panas dengan cepat karena tidak adanya cukup material untuk menahan panas tersebut, akibatnya pembuaatan pupuk organik akan berlangsung lebih lama. Sebaliknya jika timbunan terlalu tinggi bisa mengakibatkan material memadat karena berat bahan pembuaatan pupuk organic itu sendiri dan ini akan mengakibatkan suhu terlalu tinggi di dasar timbunan. Panas yang terlalu tinggi menyebabkan terbunuhnya bakteri anaerobik yang

10

baunya tidak enak. Tinggi timbunan yang memenuhi persyaratan adalah 1 sampai 2 meter, ini akan memenuhi penjagaan tanah dan pemenuhan kebutuhan akan udara (Asngad dan Suparti, 2005). Proses pengomposan akan berjalan dengan baik jika bahan berada dalam temperature yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme perombak. Tempertur optimum yang dibutuhkan mikroorganisme untuk merombak bahan adalah 35 – 55 ºC. Namun setiap kelompok mikroorganisme memiliki temperature optimum pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis microorganisme yang terlibat. Pada pengomposan secara aerobic akan terjadi kenaikan temperature yang cukup cepat selama 3 – 5 hari pertama dan temperature tersebut merupakan yang terbaik bagi pertumbuhan microorganisme.pada kisaran temperature ini mikroorganisme dapat tumbuh tiga kali lipat dibandingkan dengan temperature yang kurang dari 55 ºC.selain itu pada temperature tersebut enzim yang dihasilkan juga paling efektif mengurai bahan organic. Penurunan rasio C/N juga dapat berjalan dengan sempurna. Temperature yang tinggi berperan untuk membunuh mikroorganisme pathogen (bibit penyakit) menetralisir bibit Mycobacterium tuberculosis biasa nya akan rusak pada hari ke 14 pada suhu 65 ºC. Virus volio akan mati jika berada pada temperature 54 oC selama 30 menit. Salmonella akan menjadi tidak aktif jika berada pada temperature 60 ºC pada waktu 60 menit. Ascaris lumbricoides, cacing beracun yang ditemukan pada saluran pencernaan babi akan terbunuh pada temperature 60 ºC dalam waktu 60 menit protein microorganisme yang mati ini akan digumpalkan. Karena itu keadaan tetemperatur yang tinggi perlu dipertahankan minimum 15 hari berturut turut. Untuk mempertahankan temperature pengomposan perlu diperhatikan ketinggian tumpukan bahan mentah. Ketinggian tumpukan yang baik adalah 1 – 1,2 dan tinggi maximum adalah 1,5 – 1,8 m. tumpukan bahan yang terlalu rendah akan membuat bahan lebih cepat kehilangan panas sehingga temperature yang tinggi tidak akan tercapai. Selain itu,microorganisme pathogen tidak akan mati dan proses dekomposisi oleh mikroorganisme termofilik tidak akan tercapai. Jika timbunan yang dibuat terlalu tinggi akan menyebabkan pemadatan pada bahan dan temperature pengomposan menjadi terlalu tinggi. Pengomposan pada bahan

11

yang memiliki rasio C/N tinggi seperti jerami padi atau jerami gandum peningkatan temperature tidak dapat melebihi 52C. Keadaan ini menunjukkan bahwa peningkatan temperature juga tergantung dari tipe bahan yang digunakan.

(Zuremi,2010).

2.4. Identifikasi pupuk anorganik

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. (Wikipedia,2013)

Pupuk anorganik adalah pupuk yang terbuat dengan proses fisika, kimia, atau biologis. pada umumnya pupuk anorganik dibuat oleh pabrik. Bahan bahan dalam pembuatan pupuk anorgank berbeda beda, tergantung kandungan yang diinginkan. Misalnya unsur hara fosfor terbuat dari batu fosfor, unsure hara nitrogen terbuat dari urea. Pupuk anorganik sebagian besar bersifat hidroskopis. Hidroskopis adalah kemampuan menyerap air diudara, sehingga semakin tinggi higroskopis semakin cepat pupuk mencair.Pupuk anorganik atau pupuk buatan dapat dibedakan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara misalnya pupuk N, pupuk P, pupuk K dan sebagainya. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara misalnya N + P, P + K, N + K, N + P + K dan sebagainya (Hardjowigeno, 2004).

Kelebihan

pupuk

anorganik

yaitu

hasil

cepat

terlihat

pada

tanaman, kandungan unsur hara jelas, mudah pengaplikasian,tidak bau dan

pengangkutan mudah. Sedangkan kekurangan pupuk anorganik mengakibatkan

12

residu pada tanah,penggunaan tidak bijaksana dapat merusak tanah, Harga mahal, bersifat higroskopis.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

  • 3.1. Waktu Dan Tempat Praktikum

Praktikum kesuburan tanah ini dilaksanakan hari Rabu jam 01.00 - sampai

selesai WIB. Dari Tanggal 22 Maret 2017 sampai 10 Mei 2017, di Laboratorium Ilmu Tanah Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

  • 3.2. Alat dan Bahan

1.

Probiotik

 
  • a. Alat

 

Ember plastik

Autoklaf

Gelas ukur 1 liter

Gelas ukur 100 ml

Timbangan Analitik

  • b. Bahan

 

Urine Sapi

13

Bekatul

Terasi

Tetes tebu (gula jawa)

Air

2. Pengomposan

  • a. Alat Ember plastik Autoklaf Gelas ukur 1 liter Gelas ukur 100 ml Timbangan analitik

  • b. Bahan Probiotik Sampah organik

Abu dapur

  • 3. Suhu dan Keasaman

  • a. Alat Thermometer teliti 0,1 o C

Pengukur keaasaman (pH meter) lengkap

Gelas ukur 100 ml

Beker glass 50 ml

Kaca pengaduk

Botol pemancar air

Timbangan analitik

  • b. Bahan

sampah organik(dalam proses pengomposa)

air suling

  • 4. Kadar C-Organik

    • a. Alat Labu takar 50 ml Pipet ukur 10 ml dan 5 ml Gelas ukur 10 ml    

Labu erlenmeyer 250 ml Buret 50 ml Pipet tetes sampai 0,0002 gr Timbangan analitik

14

Botol pemancar air

b.

Bahan

K 2 Cr 2 O 7 1 N

H 2 SO 4 pekat

H 3 PO 4 85 %

FeSO 4 1 N

Indikator Diphenylamine.

  • 5. Kadar N total

 
 

a.

Alat

Botol timbangan

Gelas Piala 100 ml

Gelas Arloji

Oven

Labu Kjeldhal 100 ml

Buret 50 ml

Timbangan Analitik

b.

Bahan H 2 SO 4 pekat 0,1 N

Serbuk CuSO 4

K 2 SO 4

Indikator methyl red

NaOH pekat 0,1 N

Air suling.

  • 6. Rasio C/N

 

a.

Alat

Kalkulator

Alat tulis

b.Bahan Data hasil pengukuran C-organik

Data hasil pengukuran N total.

  • 7. Higroskopisitas

 
 

a.

Alat

Timbangan Analitik

Sendok

Bak Plastik

15

  • b. Bahan Pupuk anorganik Kantong Plastik Alat tulis

8. Tingkat Kelarutan

  • a. Alat

Timbangan analitik

SendokBak plastik Kertas Saring Beker glas Air

  • b. Bahan

 

Pupuk anorganik

Gelas

ukur Alat tulis

3.3. Cara kerja

A. Kompos

1.

Probiotik

  • a. Menyiapkan bahan untuk satu paket probiotik,yaitu bekatul 0,75 kg, terasi 0,125 kg, dan tetes tbu 50 ml (gula jawa 5 ons)

  • b. Bahan tersebut di sterilisasi (kecuali gula) menggunakan autoklaf dengan tekanan 1 atm selama 15-20 menit

  • c. Hasil sterilisasi dikeluarkan dari autoklaf,kemudian didinginkan

  • d. Menyiapkan urin sapi sebanyak 500ml

  • e. Setelah hasil rebusan (sterilisasi) dingin,kemudian dimasukkan ke dalam ember plastik dan ditambahkan 500ml urin sapi sambil diaduk sampai rata

  • f. Langkah 1 s/d 5 juga diperlakukan untuk pupuk kandan 500g

  • g. Campuran selanjutnya dibiarkan selama 3 hari dan setiap harinya dilakukan pengadukan

  • h. Setelah 3 hari probiotik siap untuk digunakan

16

2.

Pengomposan

  • a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik.

  • b. Sampah organic dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 5 cm.

  • c. Potongan sampah dicampur secara merata dengan probiotik sebanyak

0,5 liter.

  • d. diaduk-aduk

Sambil

ditambahkan

air sampai dicapai kelembaban

kurang lebih 30% (jika dikepal tidak keluar air tetapi kepalan dibuka akan berurai lagi).

  • e. Selanjutnya dimasukkan kedalam ember dibagi 3 lapis

  • f. Masing-masing lapisan ditaburi dengan abu dapur (total yang diperlukan 0,5 kg) kemudian ember ditutup.

  • g. Setiap hari dilakukan pengukuran pH dan suhu pengomposan sampai

2. Pengomposan a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik. b.

sampah menjadi kompos (C/N 20).

  • 3. Kadar C-organik

    • a. Menimbang bahan kompos kering 0,1g, dimasukkan kedalam labu

takar, b. Menambahkan sebanyak 10 ml dengan pipet ukur, c. Menambahkan 10 ml dengan gelas ukur,
takar,
b.
Menambahkan
sebanyak 10 ml dengan pipet ukur,
c.
Menambahkan
10 ml dengan gelas ukur, dan dikocok

dengan gerakan memutar

  • d. Warna harus tetap merah jingga, apabila warna menjadi hijau atau biru ditambah

2. Pengomposan a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik. b.

dan

2. Pengomposan a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik. b.

(jumlah

penambahan

dicatat), didiamkan lebih kurang 30 menit sampai larutan dingin.

2. Pengomposan a. Mengambil sampah organic sebanyak 5 kg yang telah dipisahkan dari bahan-bahan anorganik. b.
  • e. Menambahkan 5 ml 85% dan 1 ml indicator diphenylamine,

  • f. Menambahkan air suling sampai volumenya 50 ml,

  • g. Mengocok dengan membolak balikkan sampai homogeny dan mengendap,

  • h. dengan

Mengambil

pipet

ukur

5

ml

larutan

jernih , kemiudian

dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer dan ditambahkan air suling 15

ml,

17

i. Larutan dititrasi dengan , sehingga warna menjadi kehijau- hijauan, j. Langkah ini diulang tanpa sempel
  • i. Larutan dititrasi dengan , sehingga warna menjadi kehijau- hijauan,

  • j. Langkah ini diulang tanpa sempel untuk keperluan blangko.

  • 4. Kadar N total

Destruksi

  • a. Ditimbang kompos dengan gelas arloji (kertas) yang bersih dan

keringseberat 250 mg. ditimbang juga analisis kadar air.

  • b. Dimasukkan kedalam labu kjeldal 100 ml dan ditambahkan

2,5 ml.

2,5 ml.

  • c. Dikocok sampai merata dan setelah itu dipanaskan dengan hati- hati sampai asapnya hilang dan warna larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna (pemanasan dalam almari asam) kemudian didinginkan.

Destilasi

  • a. Setelah larutan didalam tabung kjeldal dingin ditambahkan air suling 25-50 ml, kemudian larutan ditambahkan kedalam labu destilasi, cara memasukkan larutan dengan menuangkan beruang-ulang dengan air (dalam hal ini diusahakan butir-butir tanah tidak mask).

  • b. Mengambil gelas piala 100-150 ml dan diisi dengan

i. Larutan dititrasi dengan , sehingga warna menjadi kehijau- hijauan, j. Langkah ini diulang tanpa sempel

0,1

N 10 ml, diberi 2 tetes indkator methilhingga warna menjadi merah.

  • c. Gelas piala ini (b) ditemptkan dibawah alat pendingin destilasi sedemikian rupa hingga ujung alat pendingin tersebut tercelup diatas permukaaan asam.

  • d. Menambahkan dengan hati-hati (dengan gelas ukur) 20 ml NaOH pekat (penmbahan NaOH ini diusahakan melalui dinding labu destilasi). Pekerjaan ini digunakan menjelang saat sebelum destilasi dimulai (tidak boleh lama).

18

  • e. Setelah itu didestilasidimulai dan dijaga supaya larutan yang ada didalam gelas tetap berwarna merah, kalau warna berubah

e. Setelah itu didestilasidimulai dan dijaga supaya larutan yang ada didalam gelas tetap berwarna merah, kalau

hilang segera ditambah lagi 0,1 N dengan jumlah yang

diketahui. Estilasi berlangsung selama sekitar 30 menit (dilihat

nilai larutan itu mendidih).

  • f. Setelah larutan didestilasi, gelas piaa diambi (ingat api baru boleh dipadamkan kalau gelas piala sudah diambil)

  • g. Bilas dengan air suling ujung atas bawah alat pendingin (air suling ini juga dmasukkan dalam gelas piala)

Titrasi

  • a. Larutan dalam gelas piala dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna hampir hilang

  • b. Pekerjaan 1s/d 3 dilakukan juga untuk blangko, yaitu tanpa memakai sampel.

  • 5. Rasio C/N

    • a. Menghitung perbandingan antara C-organik dengan N total.

    • b. Apabila nilai C/N sudah memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai

e. Setelah itu didestilasidimulai dan dijaga supaya larutan yang ada didalam gelas tetap berwarna merah, kalau

pupuk (rasio C/N kompos 20), maka proses pengomposan di hentikan.

  • B. Temperatur dan Keasaman

Pengamatan temperature dan pH dilakukan setiap hari sampai

sampah menjadi kompos (C/N

  • ).

  • 1. Pengukuran temperatur

    • a. Menyiapkan alat ukur temperature (thermometer).

    • b. Memasukkan (menancapkan) thermometer kebagian tengah-tengah pengomposan (

e. Setelah itu didestilasidimulai dan dijaga supaya larutan yang ada didalam gelas tetap berwarna merah, kalau

15 cm dari permukaan)

  • c. Setelah 5 menit thermometer diambil dan dicatat temperaturnya.

19

  • d. Pengukuran dilakukan dengan cara yang sama pada bagian tengah antara tepid an tengah gundukan (diambil 2 tempat).

  • e. Tiga hasil pengukuran dibuat rata-rata.

  • 2. Derajat keasaman (pH)

    • a. Mengambil contoh kompos 10 g dimasukkan kdalam beker glas 50 ml.

    • b. Menambahkan air suling sebanyak 25 ml kedalam beker glas.

    • c. Mengaduk air dalam beker glas sampai kompos menjadi larut.

    • d. Lartan dibiarkan mengendap selama kurang lebih 30 menit.

    • e. Setelah mengendap dilakukan pengukuran ph dengan ph meter (kertas lakmus).

    • f. Menyambung eektroda paaz meterannya.

    • g. Elektroda diclupkan pada larutan penyangga ph 7 dan ditekan tombol pada tanda “ON” disesuaikan dengan keadaan tombol “TEMP” pada angka temperature larutan penyangga pH 7, dan atur tombol “CALIB” hingga terbaca pada angka 7,00 pada llayar pH meter.

    • h. Elektroda dicuci pada pancaran air suling dibagian bawahnya sampai bersih.

    • i. Elektroda diclupkan pada larutan penyangga pH 4 dan tekan tombol pada anda “ON” disesuaikan dngan keadaan tombol “TEMP” pada angka temperature larutan penyangga pH 4 dan diatur tombol “SLOPE” hingga terbaca angka 4,00 pada layar ph meter.

    • j. Elaktroda di cuci dengan pancaran air sulling samai bersih

    • k. Dengan mengikut angkah f s/d j maka pH yag diteliti siap diamati.

    • l. Elektroda diclupkan pada arutan kompos, kemudian diamati dan dicatat angka pada monitor menunjukan pada ph meter.

    • m. Pengukuran diulang sebanyak 3 kali dan hasilnya dirata-rata.

  • C. Identifikasi Pupuk An-0rganik

1.

Higroskopisitas

  • a. Menimbang sampel pupuk seberat 10 g.

  • b. Menimbang kantong plastik tempat pupuk.

  • c. Pupuk dimasukkan dalam kantong plastik yang terbuka.

  • d. Kantong plastik berisi pupuk disimpan di tempat yang aman dan di biarkan terbuka.

  • e. Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan cara menimbang pupuk bersama kantong plastiknya.

  • f. Pengamatan dilakukan selama 4 minggu.

  • 2. Tingkat kelarutan

    • a. Menimbang sampel pupuk seberat 10 g.

20

  • b. Memasukkan pupuk ke dalam gelas ukur.

  • c. Menambahkan air ke dalam gelas ukur dengan volume 2 kali lipat volume pupuk.

  • d. Setelah 1 jam larutan pupuk di saring dengan kertas saring.

  • e. Kertas saring dan endapan pupuk diangin-anginkan hingga kering.

  • f. Setelah kering pupuk dan kertas saringnya di timbang.

  • g. Endapan pupuk dibersihkan dan kertas saring ditimbang.

  • h. Dari hasil penimbangan kita dapat mengetahui berapa endapan yang diperoleh.

  • i. Mengitung persentase kelarutan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

21

1.

Probiotik

Dari praktikum dan pengamatan pada acara probiotik yang telah

dilakukan dapat diperoleh hasil gambar sebagai berikut :

1. Probiotik Dari praktikum dan pengamatan pada acara probiotik yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil gambar
  • 2. Kompos Hasil dari pengomposan berbentuk pupuk kompos yang siap digunakan untuk memupuk tanaman sebagai penambah unsur hara tanaman dan tanah. Selain itu dari kompos tersebut juga diamati suhu, pH, serta kadar lengas untuk menghitung kandungan C-Organik, N-Organik serta rasio C/N.

1. Probiotik Dari praktikum dan pengamatan pada acara probiotik yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil gambar

Gambar 1. Hasil pembuatan kompos

Tabel 1. Pengamatan suhu dan kemasaman

  • A. Pengamatan 1

Kel.

Ket.

30/3/17

31/3/17

1/4/17

3/4/17

4/4/17

5/4/17

5/4/17

22

 

Suhu

Suhu

Suhu

Suhu

Suhu

Suhu

Ph

  • 1. Perlakuan : Urine Sapi

 
 

A

27

25

28

29

24

26

8

T

28

29

28

27

26

33

5

B

30

29

30

28

28

31

5

Rata²

28,3

27,6

28,6

28

26

30

6

  • 2. Perlakuan : Pupuk Kandang

 
 

A

32

28

27

26

29

29

8

T

34

28

29

31

31

27

7

B

29

30

26

29

29

29

5

Rata²

31,67

28,67

27,3

28,67

29,67

28,3

6,6

  • 3. Perlakuan : Urine Sapi

 
 

A

26

26

26

27

29

27

7

T

30

30

26

28

34

29

7,2

B

26

28

29

29

27

26

7

Rata²

27,33

28

27

28

30

27,3

7

  • 4. Perlakuan : Pupuk Kandang

 
 

A

31

30

27

27

30

27

7,5

T

33

31

29

30

31

28

7,5

B

31

29

29

26

27

29

8

Rata²

31,67

30

28,33

27,67

29,33

28

7,6

B.

Pengamatan 2

 

Kel.

Ket.

6/4/17

7/4/17

10/4/17

11/4/17

12/4/17

12/4/17

Suhu

Suhu

Suhu

Suhu

Suhu

Ph

  • 1. Perlakuan : Urine Sapi

 

23

 

A

32

27

24

2

28

8

T

30

26

28

29

30

7

B

30

25

28

28

28

7

Rata²

30,6

26

26,6

27,6

28,6

7,3

  • 2. Perlakuan : Pupuk Kandang

 
 

A

28

31

30

29

29

7

T

30

31

28

27

27

7

B

26

38

27

36

30

7

Rata²

28

28,67

28,33

30,6

30,6

7

  • 3. Perlakuan : Urine Sapi

 
 

A

27

26

26

27

29

7

T

28

30

26

28

34

7

B

29

28

29

29

27

7

Rata²

28

28

27

28

30

7

  • 4. Perlakuan : Pupuk Kandang

 
 

A

30

29

28

30

28

7

T

29

28

29

29

29

7

B

28

27

29

28

30

8

Rata²

29

28

28,3

29

29

7,3

Keasaman

Dari praktikum dan pengamatan pada acara keasaman (pH) yang telah

dilakukan ini diperoleh hasil grafik sebagai berikut :

24

Temperatur Dari praktikum dan pengamatan pada acara suhu/temperatur yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar sebagai

Temperatur

Dari praktikum dan pengamatan pada acara suhu/temperatur yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar sebagai berikut :

Temperatur Dari praktikum dan pengamatan pada acara suhu/temperatur yang telah dilakukan ini diperoleh hasil gambar sebagai

kadar C-organik kompos dalam proses pengomposan

25

Perlakuan

Kel.1

Kel. 2

Kel. 3

Kel. 4

Blanko (B)

1.93 ml

2.23 ml

1.93 ml

1.56 ml

Sampel (A)

1.5 ml

0.63 ml

1.47 ml

1.08 ml

Kadar C-organik

3.37%

12.53%

0.36%

3.766%

Kadar BO

5.81%

21.6%

0.62%

6.492%

Tabel 2. Kadar C-organik kompos pada berbagai macam perlakuan

probiotik

kadar N

Kel

C1

C2

C3

Total

K1

0.00238

0.4290

2.49

 

Perlakuan

K2

11.84

Kel.1

1.75

Kel. 2

13.19

Kel. 3

Kel. 4

Blanko (B)

K3

5.17

8.2 ml

2.2

8.2 ml

0.5294

8.2 ml

8.2 ml

Sampel (A)

K4

Kadar N Total

5.8 ml

0.0025

1.35%

0.13

5.1 ml

0.95%

7

11.109

0.68%

7.6 ml

0.339%

Tabel 3. Kadar N Total kompos pada berbagai macam perlakuan probiotik

Rasio C/N

 

Kel.1

Kel. 2

Kel. 3

Kel. 4

C

3.37%

12,53%

0.36%

3.776%

N

1.35%

0.95%

0.68%

0.339%

C/N

2.49%

13,19%

0.5294%

11.109%

Tabel 4. Rasio C/N kompos pada berbagai macam perlakuan probiotik

5. Tabel Anova C/N Rasio

 

F

SV

db

db

JK

KT

F hit

tab.05

Ulngan

(3-1)

2

65.24

32.62

1.80

9.55

Perlakuan

(4-1)

3

106.03

35.34

1.95

(3-1)(4-

Eror

1)

6

108.82

18.14

Total

(3x4)-1

11

26

280.09

Higroskopisitas

NO

 

JENIS

KELOMPOK

 

PENGAMATAN

 

Rata-rata

 

AWAL

 

I

II

 

III

 

IV

 

PUPUK

(GR)

     
 
  • 1 10.3

10

10.7

10.96

11.6

10.9

   
  • 1 UREA

 
  • 2 11.16

10

11.62

11.93

11.93

11.66

 
  • 3 10.9

10

11.27

11.33

11.43

10.99

   
  • 4 10.20

10

10.60

10.37

10.17

10.33

 
  • 1 10.2

10

10.7

11

11.6

10.89

   
  • 2 Mpk

 
  • 2 10.8

10

10.83

10.63

10.43

10.67

 
  • 3 10.9

10

10.87

10.8

10.67

10.65

   
  • 4 10.10

10

10.30

10.67

10.23

10.33

 
  • 1 10.3

10

10.7

11.3

11.6

11

   
  • 3 KCL

 
  • 2 10.83

10

11.03

11.2

11.33

11,09

 
  • 3 10.97

10

11.37

11.83

11.83

11.20

   
  • 4 10.33

10

10.37

10.23

10.17

10.28

 
  • 1 10.3

10

10.6

10.89

11.5

11.8

   
  • 4 SP36

 
  • 2 10.76

10

10.63

10.7

10.66

10.68

 
  • 3 10.67

10

10.63

10.57

10.33

10.44

   
  • 4 10.03

10

10.10

10.10

10.07

10.08

 
  • 1 10.2

10

10.56

10.86

11.3

10.74

   
  • 5 ZA

 
  • 2 10.7

10

10.9

10.83

10.56

10.74

 
  • 3 10.67

10

10.53

10.77

10.7

10.53

   
  • 4 10.10

10

10.17

10.33

10.16

10.2

 

Tingkat Kelarutan

 
 

Tingkat kelarutan pada pupuk

 
   

JENIS

SAMP

BERAT KERTAS SARING

 

( A – B )

 

%

 

NO

PUPUK

EL

BASAH ( A )

KERING ( B )

 

KELARUTAN

1

Mpk

1

10

1.1

8.9

89%

2

10

0.5

9.5

95%

3

10

5.75

4.25

42.5%

4

10

1.4

8.6

86%

27

 

KCL

  • 2 10

1

4.5

5.5

55%

 

2

10

5

5

50%

3

10

6

4

40%

 

4

10

1.6

8.4

84%

 

SP36

  • 3 10

1

7.7

2.3

23%

 

2

10

9.1

0.9

9%

3

10

9.65

0.35

3.5%

4

10

1.9

8.1

81%

UREA

  • 4 10

1

0

10

100%

 

2

10

6.6

3.4

34%

3

10

0.85

9.15

91.5%

4

10

1.3

8.7

87%

ZA

  • 5 10

1

0

10

100%

 

2

10

1

9

90%

3

10

0.82

9.18

91.8%

4

10

1.4

8.6

86%

Grafik Tingkat kelarutan pupuk

KCL 2 10 1 4.5 5.5 55% 2 10 5 5 50% 3 10 6 4

4.2 Pembahasan

1.

Probiotik

28

Pada praktikum pengomposan kali bertujuan Membuat probiotik untuk

membantu proses pengomposan, Pada pembuatan probiotik ini, bahan dasar yang

digunakan adalah urin sapi dan pupuk kandang . Hasil probiotik dari kedua bahan

dasar ini nantinya akan digunakan sebagai starter dalam proses pengomposan

sampah organik dan dan hasilnya dibandingkan. Kelompok kami membuat

probiotik dari bahan baku kotoran sapi. Dalam pembuatan probiotik ini gula jawa

tidak disterilisasi karena apabila disterilasi maka kandungan karbohidrat (gula

sederhana) akan berkurang bahkan hilang. Karbohidrat sendiri merupakan substrat

yang digunakan mikroorganisme untuk melangsungkan hidupnya. Probiotik yang

dihasilkan dari urin sapi berwarna coklat kekuningan dan mengeluarkan bau yang

tidak sedap. Bau ini berasal dari urin sapi, terasi dan bekatul yang tercampur

menjadi satu dan menandakan banyaknya mikroorganisme yang tumbuh dan

sudah siap digunakan.

Praktikum pengomposan ini terdiri dari bermacam-macam bahan

diantaranya: pupuk hijau yaitu bahan kompos terdiri dari sisa-sisa tanaman

misalnya jerami dan daun-daun tumbuhan.

Probiotik merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan untuk membantu

mempercepat digradasi limbah organic. Dengan menambahkanya pada limbah

yang akan dikomposkan dapatmempercepat proses pengomposan. Adanya

probiotik akan membantu masyarakat untuk mengelola limbah yang dihasilkan,

khususnya limbah organic menjadi kompos.Pengomposan pada dasarnya

merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat

proses dekomposisi bahan organik. Mikrobia tersebut adalah bakteri, fungi, dan

jasad renik lainnya

Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol biologis pada sistem budi daya

adalah menekan pertumbuhan bakteri pathogen, mempercepat degradasi bahan

organik dan limbah, meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial, meningkatkan

aktivitas mikroorganisme indigenus yang menguntungkan pada tanaman, misal

29

Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut pospat, memfiksasi nitrogen,

mengurangi pupuk dan pestisida.

2. Pengomposan

Acara yang kedua yaitu pengomposan dimana pada proses pengomposan

ini bahan-bahan yang akan digunakan yaitu daun-daun tanaman dari jenis sayur-

sayuran, rerumputan dan jerami, sebelum dilakukan pengomosan daun-daun

tanaman ini dipotong-potong (dicincang) kecil-kecil agar nantinya pada saat

proses pengomposan, kompos lebih cepat matang dan cepat terurai sehingga

proses pengomposan tidak terlalu lama.

Secara garis besar pengomposan dapat dilakukan bebrapa cara tergantung

pada keadaan tempat pembuatan, budaya orang, mutu yang diinginkan, jumlah

kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan selera pembuat

kompos itu sendiri.

Yang perlu diperhatikan atau diamati dalam proses pengomposan

adalah sebagai berikut:

  • 1. Kelembaban Mikroorganisme dapat bekerja dengan kelembaban sekitar 40-60%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme bekerja optimal.

  • 2. Konsentarasi oksigen Kebutuhan oksigen dalam pembuatan kompos yakni berkisar antara

10-18%.

  • 3. Temperatur

Temperatur

optimum

yang

dibutuhkan

mikroorganisme

untuk

merombak bahan adalah 35-55°C.

  • 4. Perbandingan C/N Perbandingan C/N yang optimum untuk proses pengomposan adalah berkisar antara 25-25.

  • 5. derajat keasaman (pH) Derajat keasaman yang terbaik untuk proses pengomposan adalah pada kondisi pH netral yakni berkisar antara 6-8.

  • 6. Ukuran bahan

30

Ukuran bahan yang dianjurkan pada pengomposan aerobik berkisar

antara 1-7,5 cm.

  • 7. Homogenitas campuran sampah Komponen sampah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos perlu dicampur menjadi homogen atau seragam jenisnya, sehingga diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh karena itu kecepatan pengurai di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.

Dalam praktikum kali ini mahasiswa dibagi menjadi empat

kelompok dimana kelompok 1 dan 3 membuat kompos dengan bahan probiotik

urin sapi kelompok 2 dan 4 membuat kompos dengan bahan probiotik pupuk

kandang. Nantinya bertujuan untuk membandingkan hasil antara kompos bahan

probiotik urin sapi dengan kompos bahan probiotik pupuk kandang. Pada saat

proses pengomposan daun-daun tanaman yang sudah di potong-potong kemudian

di timbang / dibagi rata disetiap kelompok dan mulai dilakukan proses

pencampuran bahan daun-daun tanaman sebanyak 5 kg dengan probiotik 0,5 liter

kemudian diaduk hingga rata dengan kelembaban kurang lebih 30%. Kemudian

bahan kompos yang sudah dicampur rata dimasukkan dalam ember dan di bagi

menjadi tiga lapisan setiap lapisan ditabuti dengan abu guna untuk meningkatkan

dan menjaga derajat keasaman (pH). kompos ditutup rapat dengan plastik

kemudian dilakukan pengamatan suhu dan derajat kesaman (pH) setiap hari

hingga kompos sudah menjadi dan siap pakai unuk memupuk tanaman.

Pada kompos yang telah matang, bahan organik mentah telah

terdekomposisi membentuk produk yang stabil. Untuk mengetahui tingkat

kematangan kompos dapat dilakukan dengan uji dilaboratorium untuk atau pun

pengamatan sederhana di lapang. Berikut ini disampaikan cara sederhana untuk

mengetahui tingkat kematangan kompos adalah sebagai berikut:

  • Dicium/dibaui

Kompos yang sudah matang berbau seperti tanah dan harum,

meskipun kompos dari sampah kota. Apabila kompos tercium bau yang tidak

31

sedap, berarti terjadi fermentasi anaerobik dan menghasilkan senyawa-senyawa

berbau yang mungkin berbahawa bagi tanaman. Apabila kompos masih berbau

seperti bahan mentahnya berarti kompos belum matang.

  • Warna kompos

Warna

kompos

yang

sudah

matang

adalah

coklat

kehitam-hitaman.

Apabila kompos masih berwarna hijau atau warnanya mirip dengan bahan

mentahnya berarti kompos tersebut belum matang.

  • Penyusutan

Terjadi penyusutan volume/bobot kompos seiring dengan kematangan

kompos. Besarnya penyusutan tergantung pada karakteristik bahan mentah dan

tingkat kematangan kompos. Penyusutan berkisar antara 20 – 40 %. Apabila

penyusutannya masih kecil/sedikit, kemungkinan proses pengomposan belum

selesai dan kompos belum matang.

  • 3. Suhu dan keasaman

Pola perubahan temperatur dan tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan

tipe dan jenis mikroorganisme. Pada proses pengomposan dimulai sebagian energi

yang dihasilkan akan meningkatkan suhu. Peningkatan suhu merupakan indikator

adanya proses dekomposisi sebagai akibat hubungan kadar air dan kerja

mikroorganisme. Pada saat bahan organik dirombak oleh mikroorganisme maka

dibebaskanlah sejumlah energi berupa panas. Pada tahap awal pengomposan

miroorganisme memperbanyak diri secara cepat dan menaikkan suhu.

Dari hasil praktikum pembuatan kompos diperoleh rata – rata suhu saat

proses pengomposan, yaitu pada pengomposan yang menggunakan probiotik

urine sapi diperoleh rata – rata suhu 28,12 0 C. Sedangkan pada pengomposan

perlakuan probiotik kotoran sapi adalah 29,14 0 C. Saat pengomposan terjadi naik

turunnya suhu kompos dan itu dikarenakan oleh beberapa faktor, misalnya faktor

lingkungan tempat kompos tersebut disimpan, saat pengukuran suhu bisa saja

32

dibawah AC yang menyala yang bisa menyebabkan suhu kompos tersebut tidak

stabil, bisa juga disebabkan oleh waktu pengamatan yang berbeda – beda.

Hasil pengukuran/pengamatan keasaman (pH) pada saat proses pengomposan

diperoleh data sebagai berikut, yaitu : kelompok 1 dan 4 yang menggunakan

probiotik urine sapi memiliki rata – rata pH sebesar 6,77 dan 7,02 sedangkan

kelompok 2 dan 4 yang menggunakan probiotik yang berbahan dasar kotoran sapi

sebesar 6,89.dan 7,32. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pH pada setiap

kelompok baik itu yang menggunakan probitik urine sapi maupun kotoran sapi,

mengalami naik turun. Hal ini bisa dikarenakan kurang ratanya sampel dalam

pengambilan sampel ataupun berat sampel yang sedikit berbeda, dan juga

banyaknya abu yang ikut terbawa saat pengecekan kadar pH, semakin banyak abu

yang terbawa semakin tinggi kadar pH yang diamati. dan pada saat pengadukan

sampel tidak merata saat akan dicek pHnya menggunakan pH meter, sehingga

dapat mengakibatkan pH berubah – ubah.

Derajat

keasaman

dapat

menjadi

faktor

penghambat

dalam

proses

pembuatan kompos, yaitu dapat terjadi apabila :

  • pH terlalu tinggi (di atas 8), unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan

mikroorganisme.

pH

terlalu

rendah

(di

bawah

6).

Kondisi

menjadi

asam dan dapat

menyebabkan kematian jasad renik.

  • 4. Kadar C-organik

Pada dasarnya tanaman memerlukan berbagai unsur hara baik itu unsur

mikro, ataupun unsur makro. Unsur C dan N merupakan unsur yang paling

penting dalam tanaman. C-organik bahan organik dapat meningkatkan kesuburan

33

kimia, fisika, maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organic

dilakukan berdasarkan jumlah c-oraganik. Sumber utama CO 2 di alam berasal dari

dekomposisi bahan organik berupa sisa-sisa tanaman ataupun hewan dan dari

respirasi invertebrata, bakteri serta fungi.

Kadar C-Organik kompos yang menggunakan probiotik pupuk kandang dan

urin sapi yaitu 8,63% . Untuk standar SNI kadar C-Organik mempunyai batas

minimum 9.8% dan batas maksimum 32%. Untuk mengetahui pengaruh

perlakuan macam probiotik terhadap kadar C-Organik kompos maka dilakukan

penukaran data dengan kelompok 1, 2, 3,dan 4. Setelah dilakukan uji analisis

varians diketahui bahwa F-Hitung lebih kecil dari F-Tabel, sehingga tidak ada

beda nyata antar perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan macam probiotik

tidak berpengaruh nyata terhadap kadar C-organik kompos. Keperluan seluruh

tanaman yang hidup diperkirakan sekitar 80 x 109 ton karbon/tahun. Dengan

perediaan CO 2 dalam udara sebesar 1,80% volume, maka CO 2 tersebut akan habis

diserap tanaman dalam waktu beberapa dekade saja. Berkat adanya daur (siklus)

yang menghasilkan CO 2 , maka kadar gas tersebut relatif stabil (Konova, 1966).

  • 5. Kadar N total

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai N-Total yaitu bahan organic,

apabila bahan organiknya tinggi maka nilai N-Total juga tinggi, begitu pula

sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kemas (2005) yang menyatakan

bahwa apabila peningkatan kadar bahan organik terjadi maka N dalam tanah juga

akan meningkat.

Nitrogen terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik.

Bentuk-bentuk organik meliputi NH4, NO3, NO2, N2O dan unsur N. Tanaman

menyerap unsur ini terutama dalam bentuk NO3, namun bentuk lain yang juga

dapat menyerap adalah NH4, dan urea {CO(N2)}2 dalam bentuk NO3.

Selanjutnya, dalam siklusnya, nitrogen organik di dalam tanah mengalami

mineralisasi sedangkan bahan mineral mengalami imobilisasi.Sebagian N

34

terangkut, sebagian kembali scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan

kembali lagi, hilang melalui pencucian dan bertambah lagi melalui

pemupukan.Ada yang hilang atau bertambah karena pengendapan.

N total tanah dilakukan dengan mendestruksi larutan terlebih dahulu

kemudian di destilasi dan yang terakhir adalah dititrasi.Larutan H2SO4 pekat

digunakan untuk mendestruksi untuk mengetahui N total tanah hal tersebut

dilakukan dengan menambahkan serbuk K2SO4 dan CuSO4 1 sendok kecil. Akhir

mendestruksi larutan tersebut yaitu dengan menunggu hingga asap hilang dan

larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil kadar N kompos

dengan probiotik urin sapi kelompok 1 adalah 1,35% dan kelompok 3 yaitu

0,68%. Sedangkan kadar n total probiotik pupuk kandang kel 2 yaitu 0,95% dan

kel 4 yaitu 0,339%. Hal ini dapat terjadi karena masing-masing berbeda dalam

perlakuan pupuk, jadi sumber N juga berbeda dalam jumlah kualitas dan

kuantitasnya. Menurut Darmawijaya (2000) pada tiap horizon tanah terjadi

perubahan N total disebabkan oleh kehilagan N total oleh alih rupa, juga

dipengaruhi tingkat perombakan bahan organik. Sedangkan ke horizon bawah

menunujukkan kenaikan N total ini diduga karena perombakan bahan organik

yang belum intensif.

  • 6. Rasio C/N

Rasio C/Nmerupakan faktor paling penting dalam proses pengomposan. Hal

ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari kegiatan mikroorganisme

yang membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan pembentuk sel, dan

nitrogen untuk membentuk sel. Besarnya nilai C/N tergantung dari jenis sampah.

Proses pengomposan yang baik akan menghasilkan rsio C/N yang ideal sebesar 20

sampai dengan 40, tetapi rasio paling baik adalah 30.

Rasio C/N kompos yang menggunakan probiotik pupuk kandang yaitu

12,1495%

sedangkan

kompos

yang

menggunakan

probiotik

urin

sapi

yaitu

35

1,5097%. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan macam probiotik terhadap rasio

C/N kompos maka dilakukan penukaran data dengan kelompok 1, 2, 3 dan 4.

Setelah dilakukan uji analisis varians diketahui bahwa F-Hitung lebih besar dari

F-Tabel, sehingga ada beda nyata antar perlakuan. Untuk meyakinkan hal tersebut

maka dilakukan uji lanjut DMRT pada taraf 5% dan didapatkan hasilnya.

  • 7. Higroskopisitas

Pupuk anorganik adalah pupuk yang terbuat dengan proses fisika, kimia,

atau biologis. pada umumnya pupuk anorganik dibuat oleh pabrik. Bahan bahan

dalam pembuatan pupuk anorgank berbeda beda, tergantung kandungan yang

diinginkan. Misalnya unsur hara fosfor terbuat dari batu fosfor, unsure hara

nitrogen terbuat dari urea. Pupuk anorganik sebagian besar bersifat hidroskopis.

Higroskopisitas adalah kemampuan menyerap air diudara, sehingga semakin

tinggi higroskopisitas semakin cepat pupuk mencair.

Dalam praktikum ini dilakukan pengujian higroskopisitas terhadap enam

macam pupuk anorganik yaitu ZA, urea, KCL, SP-36, NPK- 16 dan NPK 25. Dari

enam kelompok praktikum di dapat hasil yang berbeda- beda pada uji

higrokopitas .Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa NPK-25 memiliki

higroskopisitas tertinggi dan ZA, Urea, KCL, SP-36, NPK-16 memiliki

higroskopisitas yang relatif sama. Perbedaan higroskopisitas ini disebabkan oleh

bahan pembentuk dan struktur kimia dari pupuk itu sendiri. Higroskopisitas ini

berkaitan dengan daya dan cara simpan dari pupuk anorganik. Pupuk yang mudah

menyerap air akan memiliki daya simpan yang singkat dibandingkan dengan

pupuk yang sukar menyerap air.

  • 1. Tingkat kelarutan pupuk anorganik

Kelarutan adalah kadar jenuh solute dalam sejumlah solven pada suhu

tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solute atau

solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekuler yang homogeni. Kelarutan

suatu zat (solute) dalam solven tertentu digambarkan sebagai like dissolves like

36

senyawa atau zat yang strukturnya menyerupai akan saling melarutkan, yang

penjabarannya didasarkan atas polaritas antara solven dan solute yang dinyatakan

dengan tetapan dielektrikum.

Tinggi rendahnya persen kelarutan dipengaruhi oleh beberapa faktor dari

bentuk fisik misalnya bentuk butiran lebih lembut maka tingkat kelarutan pada

pupuk tersebut akan lebih cepat terlarut dibandingkan dengan yang memiliki

bentuk butiran yang lebih kasar (besar).

BAB V

KESIMPULAN

Dari praktikum yang sudah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.

Probiotik

merupakan

organisme

yang

dapat

dimanfaatkan

untuk

membantu mempercepat degradasi atau penguraian limbah organik.

37

2.

Kompos merupakan pupuk organik sebagai hasil dari proses biologi oleh

aktivitas mikroorganisme decomposer dalam menguraikan (dekomposisi)

bahan organik menjadi humus.

  • 3. Pengomposan adalah penguraian bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus.

  • 4. Proses pengomposan dipengaruhi oleh beberapa hal yang bekaitan dengan aktivitas mikroorganisme selama proses pengomposan berlangsung :

  • a. Ukuran dan jenis sumber bahan organik

d. Kelembaban

  • b. Keseimbangan nutrisi ( Rasio C : N )

e. Keasaman

  • c. Suhu

f. Sirkulasi udara

  • 5. Perlakuan macam probiotik tidak berpengaruh nyata terhadap kadar C- organik kompos dan N total.

  • 6. Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimia, biologi, tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.

  • 7. Pupuk NPK higroskopisitasnya paling tinggi yaitu 13,8.

  • 8. Tingkat kelarutan pupuk dari yang paling tinggi ke rendah:

    • 1. MKP

    • 2. UREA

    • 3. NPK

    • 4. ZA

    • 5. KCL

    • 6. SP-36

38