You are on page 1of 9

Pengembangan Materi Ajar untuk Siswa BIPA secara Kontekstual

Tri Maryanto

ACS Jakarta

Jalan Bantar Jati, Kelurahan Setu, Jakarta Timur

+62 21 84597175/76

Email: infa@acsjakarta.sch.id

www.acsjakarta.sch.id
PENGEMBANGAN MODEL MATERI AJAR BERBASIS KONTEKSTUAL DALAM
MENULIS KREATIF

Tri Maryanto

Abstrak

Saat ini pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing bukan lagi sebatas pada
orang-orang dewasa asing. Perkembangan global yang terjadi belakangan ini membuat
pembelajaran bahasa Indonesia juga harus diajarkan kepada siswa-siswi asing yang bersekolah di
Indonesia. Tambahan lagi, sekolah-sekolah Internasional (saat ini disebut SPK: Satuan
Pendidikan Kerjasama) diwajibkan untuk mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada
siswanya, baik siswa yang berasal dari Indonesia maupun dari siswa asing. Selain itu, ada
beberapa pihak yang menerapkan silabus pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa asing yang
mempermudah guru-guru di sekolah-sekolah SPK untuk mengukur kemampuan berbahasa
Indonesia siswa-siswanya. Pihak-pihak tersebut seperti Cambridge International Examinations
(CIE) dan International Baccalaureate (IB).
Pengukuran kemampuan berbahasa Indonesia siswa-siswi asing tersebut disesuaikan
dengan standar dari CIE dan IB baik kemampuan membaca, berbicara, maupun menulis. salah
satu kemampuan yang dinilai adalah kemampuan menulis siswa. Kemampuan menulis yang
menjadi tolak ukurnya adalah hasil menulis kreatif siswa dengan batasan jumlah kata yang
diberikan.
Penelitian ini bertujuan ini untuk mengembangkan model materi ajar berbasis kontekstual
dalam pembelajaran menulis kreatif. Pengembangan model ini diharapkan membantu
mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian menulis yang akan mereka lakukan pada akhir
kelas 10. Hasil tulisan kreatif siswa disesuaikan dengan format penulisan yang diminta oleh
pihak penguji dalam hal ini CIE.
Prosedur pengembangan menggunakan model Dick & Carey yang meliputi 1)
mengidentifikasi tujuan pembelajaran, 2) menganalisis pembelajaran, 3) menganalisis siswa dan
konteks, 4) menuliskan tujuan pembelajaran khusus, 5) mengembangkan instrumen dan alat
penilaian, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) menyeleksi dan mengembangkan bahan,
8) mendesain pelaksanaan evaluasi formatif, 9) melakukan revisi program pembelajaran, dan 10)
mendesain pelaksanaan evaluasi sumatif. Setelah melalui beberapa kali revisi, produk akhir
materi ajar ini terdiri dari buku siswa dan buku kerja siswa yang dapat disesuaikan standarnya
dengan Cambridge International Examinations.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan juga perlu dipertimbangkan agar

hasil pendidikan nasional dapat bersaing dengan negara-negara maju. Upaya ke arah

ini kini sudah mulai diwujudkan dengan diperkenalkannya konsep pengelolaan dan

penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik. Pengelolaan dan

penyelenggaraan pendidikan yang awalnya dilaksanakan dan diatur oleh pemerintah

pusat saat ini diarahkan untuk dikembangkan dan dikelola oleh pemerintah daerah.

Desentralisasi pengelolaan pendidikan ini diarahkan oleh Undang-undang No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan,

landasan hukum tersebut mengamanatkan agar kurikulum pendidikan bagi pendidikan

tingkat dasar dan tingkat menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu

kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman

pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Selain Peraturan Pemerintah mengenai pelaksanaan pendidikan yang

desentralistik, pada tahun 2014 Pemerintah mengeluarkan aturan terbaru mengenai

penerapan kurikulum internasional di tingkat SD sampai SMA. Implementasi kurikulum

luar negeri yang termaktub dalam Permendikbud No. 31 tahun 2014 tersebut meminta

sekolah-sekolah yang berlabel internasional untuk mengubah statusnya menjadi Satuan

Pendidikan Kerja sama (SPK).1

1
http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/11/permen_tahun2014_nomor031-1.pdf
Kuatnya arus globalisasi saat ini memaksa setiap orang untuk mempunyai

kemampuan-kemampuan yang dapat ditonjolkan. Salah satu kemampuan tersebut

adalah penguasaan bahasa asing. Saat ini penguasaan bahasa asing khususnya

bahasa Inggris oleh pelajar-pelajar Indonesia yang bersekolah di SPK (Satuan

Pendidikan Kerja sama) sudah baik karena setiap pelajaran disampaikan dalam bahasa

Inggris. Selain itu, siswa-siswa yang belajar di sekolah-sekolah ini pun terbiasa

menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka di lingkungan keluarga

dan sekolah. Akibatnya, penguasaan bahasa Indonesia bagi pelajar-pelajar tersebut

sangat kurang. Selain itu, kosa kata bahasa Indonesia yang mereka kuasai biasanya

bersifat informal. Penggunaan bahasa informal tersebut tidak hanya dalam bahasa lisan

saja juga digunakan dalam bahasa tulisan.

Selain siswa-siswa berkewarganegaraan Indonesia yang bersekolah di SPK, ada

juga siswa-siswa asing yang belajar di sekolah-sekolah tersebut karena menggunakan

bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, guru-guru yang mengajarkan pun rata-rata

berasal dari luar negeri. Kemampuan bahasa Indonesia siswa asing tersebut masih

sangat terbatas.

Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2014 telah menjalin kerja sama

dengan Universitas Cambridge membuat sebuah silabus bahasa Indonesia untuk siswa

Indonesia. Silabus ini diberi kode 0538 Bahasa Indonesia. Tetapi, jauh sebelum kerja

sama tersebut, pihak Universitas Cambridge telah membuat silabus lain untuk siswa-

siswa yang baru mengenal bahasa Indonesia, yang disebut dengan Indonesian Foreign

Language/Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (Terminologi yang akan digunakan

adalah BIPA). Ujian silabus ini telah digunakan semenjak tahun 2002. Silabus BIPA
yang dikeluarkan oleh Cambridge International Examination (CIE) adalah salah satu

silabus yang dikenal oleh universitas-universitas ternama di dunia. Silabus ini

memotivasi siswa untuk mengembangkan keterampilan seumur hidup dalam

berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Terdapat temuan-temuan yang melandasi penelitian ini. Selain penggunaan

bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, ada temuan lain mengenai kemampuan

menulis siswa. Dalam analisis kebutuhan terungkap bahwa kemampuan menulis siswa

yang terbatas juga disebabkan tema/ materi-materi menulis yang kurang interaktif dan

menjadi momok yang menakutkan bagi siswa asing yang belajar bahasa Indonesia.

Selain itu, siswa asing yang belajar bahasa Indonesia juga mempunyai kelemahan

dalam penyampaian ide-ide. Kreativitas siswa menjadi terbelenggu karena saat

pengajaran hanya sedikit hal yang bisa dibahas lebih dalam. Ide-ide mengenai budaya

Indonesia yang seharusnya bisa dimasukan ke dalam tulisan mereka, hanya sedikit

yang bisa dicurahkan dalam tulisan mereka. Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya

melakukan pengkajian dan pengembangan materi ajar untuk meningkatkan tulisan yang

baik bagi siswa. Silabus dan materi ajar menjadi salah satu faktor penting dalam

peningkatan kualitas tulisan siswa.

Pengembangan materi ajar menulis yang sesuai dengan konteks perlu

dikembangkan agar kemampuan keterampilan menulis bagi siswa asing dan siswa

yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dapat menulis dengan baik.

Selain untuk persiapan IGCSE, hasil tulisan yang baik juga dapat menentukan jenjang

pendidikan mereka selanjutnya.


Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis tertarik untuk menyusun pengembangan

materi ajar menulis berdasarkan kontekstual.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah pengembangan model materi ajar menulis kreatif

berbasis kontekstual. Materi ajar dalam penelitian ini adalah materi-materi ajar yang

dikembangkan berdasarkan silabus Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing dan

disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan analisis situasi. Materi-materi ini

berupa informasi dalam bentuk penjelasan dan contoh yang berkenaan dengan aspek

kebahasaan dalam menulis dan aspek tulisan. Tambahan lagi, materi tersebut diberikan

latihan-latihan/ tugas untuk memperkaya, meningkatkan, dan menguatkan keterampilan

menulis siswa. Kontekstual yang diangkat dalam penelitian ini berkaitan dengan

budaya dan sosial masyarakat Indonesia sehingga siswa asing yang belajar bahasa

Indonesia mudah memahami konteks budaya dalam masyakarat Indonesia. Tipe tulisan

yang digali dalam penelitian ini lebih terfokus kepada tipe tulisan kreatif berdasarkan

konteks yang diberikan.


BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Pengembangan materi ajar

Dalam kegiatan pengembangan materi ajar, diperlukan pemahaman mengenai

hakikat materi ajar agar paham mengenai rambu-rambu yang harus ditaati dalam proses

pengembangan.

a. Pengertian Materi Ajar

Materi ajar sangat diperlukan dalam sebuah proses belajar mengajar agar tercipta

sebuah kondisi belajar yang kondusif. Materi ajar membantu guru untuk memberikan

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa sehingga tercapai

standar kompetensi yang telah ditentukan. Materi ajar merupakan unsur penting dan

merupakan bagian dari kurikulum. Jika dalam silabus ditentukan arah dan tujuan suatu

isi dan pengalaman sebagai suatu kerangka, maka materi ajar merupakan daging yang

mengisi kerangka tersebut.

Brown mengungkapkan bahwa materi ajar adalah segala sesuatu yang

berhubungan dengan deskripsi secara sistematis mengenai teknik-teknik dan latihan-

latihan yang digunakan dalam pembelajaran di kelas. Definisi ini mencakup buku teks

yang digunakan, materi audio dan visual, permainan-pemainan, atau beragam aktivitas

yang berlangsung di kelas. Hal yang mendasar dalam pengembangan materi ajar yang

sesuai adalah bahwa materi tersebut diorganisasikan dan dideskripsikan secara cukup
baik sehingga guru dapat menggunakannya tanpa kebingungan dan membutuhkan

waktu persiapan yang cukup lama.2

b. Menulis Kreatif

Kreativitas merupakan aspek yang sangat penting dalam setiap usaha manusia,

tidak hanya dalam aspek pembelajaran saja. Melalui kreativitas, manusia akan dapat

menemukan dan menghasilkan berbagai teori, pendekatan, dan cara baru yang sangat

bermanfaat dalam kehidupan. Jika kreativitas sudah tidak ada lagi, kehidupan akan

menjadi sebuah pengulangan terhadap pola-pola yang sama. Begitu juga dalam

menulis yang dilakukan oleh siswa.3

Menulis kreatif merupakan bagian dari hasil atau produk kreativitas yang dalam

proses melibatkan unsur keterampilan. Dalam pelaksanaannya, menulis kreatif

membutuhkan bimbingan dan prosesnya berkesinambungan. Jika bimbingan penulisan

kreatif di sekolah dikembangkan dengan baik maka akan memberikan sumbangan

terhadap pemekaran dan pengayaan pengetahuan budaya Indonesia. Menulis kreatif

bagi pengembangan kemampuan siswa lebih banyak kepada jenis-jenis tulisan fiksi

sehingga siswa mendapatkan banyak hal untuk menambah wawasan mereka.4

2
James Dean Brown, The elements of Language Curriculum: A Systematic Approach to Program Development
(Boston: Heinle & Heinle Publishers, 1995), h. 139.
3
Robert J. Stenberg & Lubart, T.I., Defying the Crowd, Cultivating Creativity in a Cultural Of Conformity (New York:
Simon & Schuster, 1995)
4
Gillie Bolton, Writing Myself: The Therapeutic Potential of Creative Writing, (London: Jessica Kingsley Publisher,
1999)
B. Pembahasan

Pengembangan materi ajar yang dilakukan dalam pengajaran BIPA di sekolah

ACS Jakarta menekankan pentingnya empak aspek kebahasaan untuk dikembangkan.

Kemampuan menulis kreatif dan kemampuan berbicara adalah salah satu aspek yang

proporsionalnya lebih dikembangkan.

Pengembangan aspek berbicara dan aspek menulis disebabkan karena