You are on page 1of 20

TUGAS PHATT

KEBUTUHAN AIR PADA TANAMAN


PADI VARIETAS BERBEDA DAN BAWANG MERAH

PAPER

Dosen Pengampu : Ir. Sukuryati S. Dewi, MS.

Disusun oleh :

Maki Lukmanul Hakim (20150210084)


Faris Abdu (20150210089)
Randy Akbar Putra (20150210105)
Azmi Hanafiah Dwi P (20150210100)
Urwatul Wusqa (20150210096)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan air suatu tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang
diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (ET-
tanaman) tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang tanah yang luas dengan
kondisi tanah yang tidak mempunyai kendala (lengas tanah dan kesuburan
tanah) dan mencapai potensi produksi penuh pada kondisi lingkungan tumbuh
tertentu. Untuk menghitung ET-tanaman direkomendasikan suatu prosedur tiga
tahap, yaitu:
1. Pengaruh iklim terhadap kebutuhan air tanaman diberikan oleh Eto.
2. Pengaruh karakteristik tanaman terhadapa kebutuhan air tanaman
diberikan oleh koefisien tanaman (KC) yang menyatakan hubungan antara
Eto dan ET tanaman (ETtanaman =Kc.ETo). nilai Kc beragam dengan
jenis tanaman, fase pertumbuhan tanaman, musim pertumbuhan dan
kondisi cuaca yang ada.
3. Pengaruh konndisi lokal dan praktek pertanian terhadap kebutuhan air
tanaman, termasuk variasi lokal cuaca, tinggi tempat, ukuran petak lahan,
adveksi angin, ketersediaan lengas lahan, salinitas, metode irigasi dan
kultivasi tanaman.
Peningkatan produktivitas air akan mengurangi kebutuhan tambahan air
dibidang pertanian, yang dapat dilakukan melalui pengelolaan irigasi.
Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan evapontranspirasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk
tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui
hujan dan kontribusi air tanah. Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh
faktor-faktor berikut : a. penyiapan lahan b. penggunaan konsumtif c. perkolasi
dan rembesan d. pergantian lapisan air e. curah hujan efektif. Kebutuhan air di
sawah dinyatakan dalam mml/hari atau ltl/dt/ha. Kebutuhan air belum
termasuk efisiensi di jaringan tersier dan utama. Efisiensi dihitung dalam
kebutuhan pengambilan air irigasi.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 1


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Jenis Tanaman Budidaya


1. Padi (Oryza sativa L.)

a) Padi Ciherang
Padi varietas ciherang dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian
0-650 mdpl dengan suhu antara 30oC-22,5oC. Curah hujan yang dibutuhkan
untuk tanaman padi rata-rata 200 mm/bulan atau lebih dengan distribusi 4
bulan. Padi varietas ciherang memiliki masa pertumbuhan 115-125 hari
dimana 55 hari sebagai fase vegetatif dan 65 hari sebagai fase generatif
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi). Kebutuhan air untuk penggenangan
lahan pada ekosistem sawah bervariasi untuk setiap fase pertumbuhan
karena disesuaikan dengan umur serta fase pertumbuhan padi. Kebutuhan
air tanaman didefinisikan sebagai jumlah air yang diperlukan untuk
memenuhi kehilangan air karena proses evapotranspirasi tanaman (ETc)
dari tanaman sehat yang tumbuh pada sebidang lahan dengan dengan
kondisi lahan tidak ada kenadal (kesuburan atau kadar lengas). Padi
ciherang memerlukan penggantian lapisan genangan air (WLR) sebanyak
3,33 mm/hari. Tanaman padi memilik koefisien tanaman (Kc) pada fase
pertunasan adalah 0,8, fasevegetatif aktif 1,10, fase generatif 1,30 dan fase
akhir 1,25 (Allen et. al., 1998).

b) Padi Sitibagendit
Varietas Situ Bagendit merupakan salah satu varietas padi
Situbagendit yang telah dilepas di pasaran oleh pemerintah sejak tahun
2003. Varietas ini dapat tumbuh di lahan sawah maupun di lahan kering
dengan tinggi tanaman antara 299 cm 105 cm. Batang dan daun varietas
Situ Bagendit berwarna hijau dengan permukaan daun bertekstur kasar,
sedangkan posisi daunnya tegak. Bentuk gabah panjang ramping dan
berwarna kuning bersih. Tekstur nasi yang dihasilkan cenderung pulen
dengan kadar amilosa 22%. Varietas Situ Bagendit memiliki umur tanam

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 2


sekitar 110 120 hari yang termasuk salah satu varietas padi yang masa
tanamnya lama (Suprihatno dkk., 2009).
Kemampuan benih padi situbagendit varietas Situ Bagendit untuk
tumbuh baik pada lahan kering maupun lahan sawah tadah hujan masih
relatif lama seperti varietas lainnya. Varietas Situ Bagendit membutuhkan
masa tanam sekitar 3 bulan hingga panen dengan masa perkecambahan
kurang lebih sekitar 2 minggu (Anynomous1, 2013). Pertumbuhan
kecambah padi situbagendit varietas Situ Bagendit yang telah mendapat
perlakuan Asam Giberalat dapat menjadi petunjuk awal tentang kemampuan
varietas tersebut untuk tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan
pertumbuhan padi umumnya.

2. Bawang Merah ( Allium ascalonium L.)


Bawang merah sama seperti bawang putih tidak tahan kekeringan
karena sistem perakarannya yang pendek. Kebutuhan air terutama selama
pertumbuhan dan pembentukan umbi. Bawang merah juga tidak dapat hidup
ditempat yang airnya tergenang. Seperti halnya bawang putih, bawang
merah ditanam pada musim kemarau atau akhir musim hujan dengan
pengairan yang baik (Wibowo, 1994). Dalam pertumbuhannya, tanaman
bawang merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu yang
agak panas dan cuaca cerah, terutama yang mendapat sinar matahari lebih
dari 12 jam. Apabila tanaman bawang merah ditanam ditempat yang
terlindung dapat menyebabkan pertumbuhan umbi yang kecil dan hasilnya
kurang memuaskan (Rahayu dan Berlian, 1999).
Tanaman bawang merah menyukai tanah yang subur, gembur dan
banyak mengandung bahan organik. Tanah yang gembur dan subur akan
mendorong perkembangan umbi sehingga hasilnya besar besar. Selain itu,
bawang merah hendaknya ditanam di tanah yang mudah meneruskan air.
emasaman tanah yang paling sesuai untuk bawang merah adalah yang agak
asam sampai normal (6,0 6,8). Tanah ber pH 5,5 7,0 masih dapat
digunakan untuk penanaman bawang merah (Rahayu dan Berlian, 1999).
Bawang merah dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah dan menyukai
jenis tanah lempung berpasir. Di Indonesia 70 % penanaman dilakukan pada

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 3


dataran rendah di bawah 450 meter. Bawang merah membutuhkan banyak
air tetapi kondisi yang basah menyebabkan penyakit busuk. Tanah yang
cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang
merah (Rismunandar, 1986).

B. Rumus Perhitungan Kebutuhan Air Tanaman


1. Etc (Penggunaan Konsumtif)
Penggunaan air untuk kebutuhan tanaman (consumtive use) dapat
didekati dengan menghitung evapotranspirasi tanaman, yang besarnya
dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur tanaman dan faktor klimatologi. Nilai
evapotranspirasi merupakan jumlah dari evaporasi dan transpirasi. Yang
dimaksud dengan evaporasi adalah proses perubahan molekul air di permukaan
menjadi molekul air di atmosfir. Sedangkan transpirasi adalah proses fisiologis
alamiah pada tanarnan, dimana air yang dihisap oleh akar diteruskan lewat
tubuh tanaman dan diuapkan kembali melalui pucuk daun. Nilai
evapotranspirasi dapat diperoleh dengan pengukuran di lapangan atau dengan
rumus-rumus empiris. Untuk keperluan perhitungan kebutuhan air irigasi
dibutuhkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto) yaitu evapotranspirasi yang
terjadi apabila tersedia cukup air. Kebutuhan air untuk tanaman adalah nilai
Eto dikalikan dengan suatu koefisien tanaman.

ETc = kc x Eto

Keterangan :
ETc = Evapotranpirasi tanaman (mm/hari)
ETo = Evaporasi tetapan/tanarnan acuan (mm/hari)
Kc = Koefisien tanaman
Contoh perhitungan :
Kc padi salibu pada bulan Januari adalah 1,03.
ETo padi ciherang pada bulan Januari adalah 120,84 mm/hari
Maka :

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 4


ETc = 1,03 x 120,84 = 124,47 mm/hari

Kebutuhan air konsumtif ini dipengaruhi oleh jenis dan usia tanaman
(tingkat pertumbuhan tanaman). Pada saat tanaman mulai tumbuh, nilai
kebutuhan air konsumtif meningkat sesuai pertumbuhannya dan mencapai
maksimum pada saat pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai
maksimum dan berlangsung beberapa saat menurut jenis tanaman, nilai
kebutuhan air konsumtif akan menurun sejalan dengan pematangan biji.
Pengaruh watak tanaman terhadap kebutuhan tersebut dengan faktor tanaman
(kc). Nilai koefisien pertumbuhan tanaman ini tergantung jenis tanaman yang
ditanam. Untuk tanaman jenis yang sama juga berbeda menurut varietasnya.
Sebagai contoh padi dengan varietas unggul masa tumbuhnya lebih pendek dari
padi varietas biasa.
ETo adalah evapotranspirasi tetapan yaitu laju evaportranspirasi dari
suatu permukaan luas tanaman rumput hijau setinggi 8 sampai 15 cm yang
menutup tanah dengan ketinggian seragam dan seluruh permukaan teduh tanpa
suatu bagian yang menerima sinar secara langsung serta rumput masih tumbuh
aktif tanpa kekurangan air. Evapotranspirasi tetapan disebut juga dengan
evapotranspirasi referensi/ keluar.

Rumus yang digunakan dalam mencari ETo adalah :

n x (45,7)T+813
ETo =
100

Keterangan :
Eto = Tumlah air yang dievapotranspirasikan tanaman (mm/hari)
n = Lama Penyinaran
T = Suhu (oC)
Contoh Perhitungan :
Lama penyinaran matahari (n) pada bulan Januari adalah 6,42 %.
Suhu (T) pada bulan Januari adalah 23,4oC.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 5


Maka :

6,42 x (45,7)23,4 + 813


= = 120,84 mm/hari
100

2. NFR (Need Field Requiretment)


Kebutuhan air irigasi merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan
dalam perencanaan dan pengelolaan sistern irigasi. Kebutuhan air tanaman
didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada suatu periode
untuk dapat tumbuh dan produksi secara normal.

NFR = Etc + P Re + WLR mm/hari

Keterangan :
Etc : Penggunaan konsumtif (mm/hari)
P : Kehilangan air akibat perkolasi (mm/hari)
Laju perkolasi sangat bergantung pada sifat-sifat tanah. Pada tanah
lempung berat dengan karakteristik pengolahan yang baik, laju perkolasi
dapat mencapai 1 3 mm/ hari. Pada tanah-tanah yang lebih ringan, laju
perkolasi bisa lebih tinggi. Guna menentukan laju perkolasi, tinggi muka
air tanah harus diperhitungkan. Perembesan terjadi akibat meresapnya air
melalui tunggul sawah.
Re : Curah hujan efektif (mm/hari)
WLR : Penggantian lapisan genangan air (mm/hari)
WLR : 3,3
Contoh Perhitungan :
ETc padi ciherang pada bulan Januari adalah 124,47 mm/hari.
Perkolasi tanah andosol adalah 2,2.
Curah hujan efektif pada bulan Januari adalah 194 mm/hari.
WLR padi salibu adalah 3,3

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 6


Maka :

NFR = 124,47 + 2,2 194 + 3,3 = -64,03 mm/hari

3. WDR (Kebutuhan Air Irigasi Padi)


Kebutuhan air irigasi merupakan salah satu tahap penting yang
diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan sistern irigasi. Kebutuhan air
tanaman didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada
suatu periode untuk dapat tumbuh dan produksi secara normal.Analisis
kebutuhan air untuk tanaman padi di sawah dipengaruhi oleh beberapa faktor
berikut ini, (1) pengolahan lahan, (2) penggunaan konsumtif, (3) perkolasi (4)
penggantian lapisan air, dan (5) sumbangan. hujan efektif. Kebutuhan air total
di sawah merupakan jumlah faktor 1 sampai dengan 4, sedangkan kebutuhan
netto air di sawah merupakan kebutuhan total dikurangi faktor hujan efektif.
Kebutuhan air di sawah dapat dinyatakan dalam satuan mm/hari ataupun lt/dt.
Rumus :

NFR
WDR
ef 8,64

Keterangan :
NFR : Kebutuhan air untuk tanaman di lahan tersier (mm/hari)
Efisiensi : Efisiensi irigasi secara keseluruhan (%) asumsi 80%
Koefisien 8,64 adalah faktor karena perubahan satuan dari mm/hari
menjadi ltr/det.
Contoh perhitungan :
NFR padi ciherang pada bulan Januari adalah -64,03
Effisiensi : 80%.
Koefsien : 8,64

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 7


Maka :
64,03
WDR = = 0,093
80/100 x 8,64

4. WRP (Kebutuhan Air Irigasi Palawija)


Masa prairigasi diperlukan guna menggarap lahan untuk ditanami dan
untuk menciptakan kondisi kelembaban yang memadai untuk persemaian
tanaman. Jumlah air yang dibutuhkan tergantung pada kodisi tanah dan pola
tanam yang diterapkan. Kriteria Perencanaan Irigasi mengusulkan air untuk
pengolahan lahan sejumlah 50 - 120 mm untuk tanaman ladang dan 100 - 120
mm untuk tanaman tebu, kecuali jika terdapat kondisi-kondisi khusus misalnya
ada tanaman lain yang segera ditanam setelah tanaman padi.
Rumus :

WRP ETc Re
ef 8,64
Contoh perhitungan :
ETc bulan Januari adalah 124,47 mm/hari.
Curah hujan efektif pada bulan Januari adalah 194.
Effisiensi : 80%
Maka :
(124,47 194)
WRP = = 0,101
80/100 x 8,64

5. DR (Kebutuhan Pengambilan)

Kebutuhan pengambilan untuk tanaman adalah jumlah debit air yangdibutuhkan oleh
satu hektar sawah untuk menanam padi atau palawija. Kebutuhanpengambilan ini
dipengaruhi oleh efisiensi irigasi. Efisiensi irigasi adalahperbandingan jumlah air yang benar-
benar sampai ke petak tersier dengan jumlah airyang disadap (Yulianur, 2005 : 26).
Besarnya kebutuhan pengambilan dihitung dengan rumus berikut.

DR = ( IR x A )/Ef lt/dt

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 8


Keterangan :
IR = NFR/ eff
Eff = 80%
IR = Kebutuhan Air Tanaman
A = Luas lahan
Contoh perhitungan :
IR tanaman kacang tanah pada bulan April adalah 0,724.
Luas lahan : 40 ha
Effisiensi : 80%
Maka :

(0,724 40)
= = 0,362/
80/100

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 9


III. PEMBAHASAN
A. Jadwal Tanam

No Parameter Jan Feb Mart April Mei Juni Juli Agt Sept Okt Nop Des

Padi Padi Padi Padi Padi Padi Padi


Padi Bawang
1 POLA TANAM Ciheran Situbagen Situbag Situbag Bawang Bawang Bawang Ciheran Ciheran Ciheran
Situbag Merah
g dit endit endit Merah Merah Merah g g g
endit

2 T ( o C) (data)
23,4 23,41 23,8 23,7 23,5 23,6 22,5 23,2 23,7 23,8 23,8 23,1

3 kc (data) 1,03 1,20 1,20 1,14 1,05 0,50 0,51 0,69 0,90 1,20 1,20 1,07

n (penyinaran pagi-
4 siang-sore (%)
6,42 7,24 8,12 9,15 9,97 10,38 10,17 9,49 8,60 7,58 6,69 6,21
(data)

5 ETo = n(45,7 T + 813) 120,84 136,28 154,33 173,49 188,12 204,85 187,25 177,77 163,06 144,07 127,15 116,04
100
6 ETc = kc x Eto 124,47 163,54 185,20 197,78 197,53 102,43 95,50 122,66 146,75 172,88 152,58 124,16

Curah hujan rata2


7 bulanan ( mm/hr )
194 178,14 185,71 180,86 123,43 53,03 33,29 23,76 38,80 120,43 212 155,57
(data)

Tabel 1. Jadwal Tanam

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 10


Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa jenis tanaman pada bulan pertama sampai
kelima (Januari - Mei) digunakan untuk menanam padi karena memang curah hujan yang
cenderung tinggi, sedangkan pada pada bulan keenam sampai bulan kesembilan (Juni
September) digunakan untuk menanam bawang merah, sedangkan pada bulan kesepuluh
sampai keduabelas (Oktober Desember) digunakan untuk menanam padi kembali, yang
mana siklus musim hujannya akan menyambung ke bulan berikutnya atau bulan Januari.
Pemberauan tidak perlu dilakukan karena tidak terjadi penanaman secara berurutan
dengan komoditas yang sama, sehingga pada tahun tersebut bisa dilakukan penanaman
secara terus menerus, karena pada kondisi seperti ini musim tanam dimulai pada bulan
Oktober bukan dari Januari.

Berdasarkan data tabel 1, puncak curah hujan terjadi pada bulan Januari dengan
rata-rata 194 mm/tahun dan memiliki suhu terendah 22,5C. Terdapat pembagian
intensitas curah hujan yang menarik pada tahun ini, dimana intensitas curah hujan yang
rendah berada diantara bulan-bulan dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Hal ini
cukup menguntungkan karena dengan adanya siklus curah hujan seperti ini maka terjadi
pergantian tanam secara otomotis. Pada kisaran bulan Oktober hingga Mei intensitas
curah hujan tinggi, sehingga pada bulan tersebut dapat dijadikan sebagai musim tanam
pertama dengan menanam padi ciherang dan dilanjutkan dengan menanam padi
situbagendit yang membutuhkan pengairan cukup banyak. Memasuki bulan selanjutnya
yaitu bulan Juni, curah hujan mulai menurun dengan puncak penurunan intensitas curah
hujan yang terjadi pada bulan agustus, yaitu sebesar 23,76 mm/tahun, hal ini
mengakibatkan terjadinya puncak musim kemarau. Bulan Mei terjadi musim peralihan
dengan intensitas curah hujan 123,43mm/tahun. Pada bulan Juni hingga September terjadi
musim kemarau, hal ini ditandai dengan penurunan intensitas curah hujan 53,03 hingga
23,76 mm/tahun. Pada musim ini dapat dijadikan sebagai musim tanam ketiga dengan
tanaman bawang merah yang tidak memerlukan irigasi yang banyak dan kedua tanaman
ini memiliki syarat tumbuh yang sesuai dengan kondisi tersebut.
Pada tanaman padi ciherang dan padi situbagendit, nilai ETc tertinggi terjadi pada
bulan oktober dan bulan dimana bulan tersebut menjadi bulan pertama penanaman padi
ciherang dan bulan ketiga penanaman untuk padi situbagendit. Padi ciherang memiliki
nilai ETc tertinggi mencapai 172,88mm/hari dan padi situbagendit memiliki nilai ETc

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 11


tertinggi mencapai 197,78. Sedangkan tanaman bawang merah nilai ETc tertinggi terjadi
pada bulan keempat penanaman, yaitu dengan nilai ETc 146,75 mm/hari.

B. Musim Tanam I (Padi Salibu)

Luas Kebutuhan
CH Etc
Petak Tanam Fase NFR WDR WRP Air DR
(ha) (mm) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (IR) (lt/dt)
40 1 120,43 172,88 57,95 0,084 0,076 0,724 0,362
40 2 212 152,58 -53,92 -0,078 -0,086 -0,674 -0,337
1
40 3 155,57 124,16 -25,91 -0,037 -0,045 -0,324 -0,162
40 4 194 124,47 -64,03 -0,093 -0,101 -0,800 -0,400
30 1 120,43 172,88 57,95 0,089 0,081 0,773 0,309
30 2 212 152,58 -53,92 -0,083 -0,092 -0,719 -0,288
2
30 3 155,57 124,16 -25,91 -0,040 -0,048 -0,345 -0,138
30 4 194 124,47 -64,03 -0,099 -0,107 -0,854 -0,341
60 1 120,43 172,88 57,95 0,089 0,081 0,773 0,618
60 2 212 152,58 -53,92 -0,083 -0,092 -0,719 -0,575
3
60 3 155,57 124,16 -25,91 -0,040 -0,048 -0,345 -0,276
60 4 194 124,47 -64,03 -0,099 -0,107 -0,854 -0,683
80 1 120,43 172,88 57,95 0,096 0,087 0,828 0,946
80 2 212 152,58 -53,92 -0,089 -0,098 -0,770 -0,880
4
80 3 155,57 124,16 -25,91 -0,043 -0,052 -0,370 -0,423
80 4 194 124,47 -64,03 -0,106 -0,115 -0,915 -1,045

Tabel 2. Musim Tanam I

Musim tanam pertama digunakan untuk budidaya padi salibu yang memiliki umur
tanam kurang lebih 90 hari. Berdasarkan tabel 2, luas tanaman padi ciherang
dibedakan menjadi 4 petak yang masing-masing memiliki luas 40, 30, 60 dan 80 ha.
Pada petakan tersebut memiliki 4 macam fase dimana padi ciherang ditanam pada
bulan Oktober - Januari dengan curah hujan pada fase pertama 120,43 mm/hari, fase
kedua 212 mm/hari, fase ketiga 155,57 mm/hari, dan fase keempat 194 mm/hari,
dengan pengunaan konsumtif air (Etc ) pada fase pertama 172,88 mm/hari, fase kedua
152,58 mm/hari, fase ketiga 124,16 mm/hari dan fase keempat 124,47 mm/hari.
Sehingga menghasilkan kebutuhan air untuk tanaman di lahan tersier (NFR) yaitu
pada fase pertama 57,95 mm/hari, fase kedua yaitu -53,92 mm/hari, fase ketiga -
25,91 mm/har, dan fase keempat -64,03. Sedangkan nilai WDR (kebutuhan air

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 12


khusus untuk tanaman padi) pada fase pertama yaitu 0,096 mm/hari, fase kedua -
0,089 mm/hari, fase ketiga -0,043 mm/hari, dan fase keempat -0,106 mm/hari.
Pada musim tanam pertama, nilai ETc tertinggi pada setiap petak terdapat pada
fase/bulan pertama yaitu pada saat fase pertumbuhan awal dengan nilai Etc sebesar
172,88 mm/hari, hal ini disebabkan karena pada fase pertumbuhan awal digunakan
untuk pembentukan organ-organ tanaman atau berada pada fase vegetatif. Etc paling
rendah terdapat pada fase ketiga, yaitu 124,16 mm/hari yaitu terjadi masa generative.

NFR pada setiap petak dan setiap fase bernilai negatif karena curah hujan yang
terjadi di kawasan tersebut sudah memenuhi kebutuhan air yang harus tersedia bagi
tanaman. Jumlah kelebihan air paling banyak terjadi pada bulan ketiga setelah
penanaman, hal ini disebabkan oleh jumlah evapotranspirasi tanaman yang terjadi
pada fase ini rendah.
WDR atau kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi tersebut memiliki
kebutuhan air yang telah terpenuhi dan sudah tersedia bagi tanaman. Kebutuhan air
yang terdapat pada padi memiliki jumlah air dengan kebutuhan yang telah maksimal
atau dapat dikatakan kelebihan yang terjadi pada bulan ketiga setelah penanaman, hal
ini disebabkan oleh jumlah evapotranspirasi tanaman padi pada fase ini rendah.
DR atau debit air tertinggi yang dibutuhkan dalam suatu petak luasan sawah
terjadi pada bulan pertama penanaman. Hal ini terjadi karena koefisien kebutuhan air
tanaman pada bulan pertama lebih tinggi dibandingkan pada bulan-bulan selanjutnya
sehingga debit airnya pun tinggi. Kebutuhan air setiap tanaman tinggi pada bulan-
bulan pertama atau pada fase vegetative disebabkan karena pada fase ini tanaman
mengalami pembentukkan organ-organ dengan laju pertumbuhan yang cukup pesat
untuk menunjang proses metabolisme tanaman.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 13


C. Musim Tanam II (Padi Situbagendit)
1. Padi Situbagendit

Luas Kebutuhan
CH Etc
Petak Tanam Fase NFR WDR WRP Air DR
(ha) (mm) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (IR) (lt/dt)
40 1 178,14 163,54 -9,1 -0,013 -0,021 -0,114 -0,057
40 2 185,71 185,2 4,99 0,007 -0,001 0,062 0,031
1
40 3 180,86 197,78 22,42 0,032 0,024 0,280 0,140
40 4 123,43 197,53 79,6 0,115 0,107 0,995 0,498
30 1 178,14 163,54 -9,1 -0,014 -0,023 -0,121 -0,049
30 2 185,71 185,2 4,99 0,008 -0,001 0,067 0,027
2
30 3 180,86 197,78 22,42 0,035 0,026 0,299 0,120
30 4 123,43 197,53 79,6 0,123 0,114 1,061 0,425
60 1 178,14 163,54 -9,1 -0,014 -0,023 -0,121 -0,097
60 2 185,71 185,2 4,99 0,008 -0,001 0,067 0,053
3
60 3 180,86 197,78 22,42 0,035 0,026 0,299 0,239
60 4 123,43 197,53 79,6 0,123 0,114 1,061 0,849
80 1 178,14 163,54 -9,1 -0,015 -0,024 -0,130 -0,149
80 2 185,71 185,2 4,99 0,008 -0,001 0,071 0,081
4
80 3 180,86 197,78 22,42 0,037 0,028 0,320 0,366
80 4 123,43 197,53 79,6 0,132 0,123 1,137 1,300

Tabel 3. Musim Tanam II (Padi Situbagendit)

Musim tanam kedua digunakan untuk budidaya padi situbagendit. Padi


situbagendit memiliki umur tanam kurang lebih 120 hari. Berdasarkan tabel 3, luas
tanaman padi situbagendit dibedakan menjadi 4 petak yang masing-masing memiliki
luas 40, 30, 60, dan 80 ha. Pada petakan tersebut memiliki 4 macam fase dimana padi
situbagendit ditanam pada bulan Februari - Mei dengan curah hujan pada fase pertama
178,14 mm/hari, fase kedua 185,71 mm/hari, fase ketiga 180,86 mm/hari dan fase
keempat 123,43 mm/hari dengan pengunaan konsumtif air (Etc ) pada fase pertama
163,54 mm/hari, fase kedua 185,2 mm/hari, fase ketiga 197,78 mm/hari dan fase
keempat 197,53 mm/hari, sehingga menghasilkan kebutuhan air untuk tanaman di
lahan tersier (NFR) yaitu pada fase pertama -9,1 mm/hari, fase kedua yaitu 4,99
mm/hari, fase ketiga 22,42 mm/hari dan fase keempat 79,6 mm/hari. Sedangkan nilai
WDR (kebutuhan air khusus untuk tanaman padi) pada fase pertama yaitu -0,015

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 14


mm/hari, fase kedua 0,008 mm/hari, fase ketiga 0,037 mm/hari dan fase keempat
0,132 mm/hari.
Pada setiap petak difase pertama memiliki NFR sebesar -9,1 mm/hari, hal ini
dikarenakan curah hujan yang terjadi di kawasan tersebut sudah memenuhi kebutuhan
air yang harus tersedia bagi tanaman. Jumlah kelebihan air paling banyak terjadi pada
bulan pertama setelah penanaman, hal ini disebabkan oleh jumlah evapotranspirasi
tanaman yang terjadi pada fase ini rendah. Pada fase kedua hingga fase keempat
memiliki kebutuhan air yang belum terpenuhi sehingga perlu dilakukan irigasi untuk
memenuhi kebutuhan air tanaman.
WDR atau kebutuhan air irigasi untuk tanaman padi tersebut memiliki kebutuhan
air yang telah terpenuhi dan sudah tersedia bagi tanaman pada fase pertama di setiap
petak sebesar -6,898 mm/hari. Pada fase kedua hingga keempat memiliki jumlah air
yang belum terpenuhi sehingga perlu dilakukan irigasi untuk memenuhi kebutuhan
air padi.
DR atau debit air tertinggi yang dibutuhkan dalam suatu petak luasan sawah
terjadi pada bulan kedua penanaman. Hal ini terjadi karena koefisien kebutuhan air
tanaman pada bulan kedua lebih tinggi dibandingkan pada bulan sebelumnya maupun
selanjutnya sehingga debit airnya pun tinggi.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 15


D. Musim Tanam III

Luas Kebutuhan
CH Etc
Petak Tanam Fase NFR WDR WRP Air DR
(ha) (mm) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (mm/hari) (IR) (lt/dt)
40 1 53,03 102,43 49,4 0,071 0,071 0,618 0,309
40 2 33,29 95,5 62,21 0,090 0,090 0,778 0,389
1
40 3 23,76 122,66 98,9 0,143 0,143 1,236 0,618
40 4 38,8 145,75 106,95 0,155 0,155 1,337 0,668
30 1 53,03 102,43 49,4 0,076 0,076 0,659 0,263
30 2 33,29 95,5 62,21 0,096 0,096 0,829 0,332
2
30 3 23,76 122,66 98,9 0,153 0,153 1,319 0,527
30 4 38,8 145,75 106,95 0,165 0,165 1,426 0,570
60 1 53,03 102,43 49,4 0,076 0,076 0,659 0,527
60 2 33,29 95,5 62,21 0,096 0,096 0,829 0,664
3
60 3 23,76 122,66 98,9 0,153 0,153 1,319 1,055
60 4 38,8 145,75 106,95 0,165 0,165 1,426 1,141
80 1 53,03 102,43 49,4 0,082 0,082 0,706 0,807
80 2 33,29 95,5 62,21 0,103 0,103 0,889 1,016
4
80 3 23,76 122,66 98,9 0,164 0,164 1,413 1,615
80 4 38,8 145,75 106,95 0,177 0,177 1,528 1,746

Tabel 4. Musim Tanam III

Musim tanam ketiga digunakan untuk budidaya bawang merah yang memiliki
umur tanam kurang lebih 120 hari. Berdasarkan tabel 4, luas tanaman bawang merah
dibedakan menjadi 4 petak yang masing-masing memiliki luas 40, 30, 60, dan 80 ha.
Pada petakan tersebut memiliki 4 macam fase dimana bawang merah ditanam pada
bulan Juni - September dengan curah hujan pada fase pertama 53,03 mm/hari, fase
kedua 33,29 mm/hari, fase ketiga 23,76 mm/hari dan fase keempat 38,8 mm/hari
dengan pengunaan konsumtif air (Etc ) pada fase pertama 102,43 mm/hari, fase kedua
95,5 mm/hari, fase ketiga 122,66 mm/hari dan fase keempat 145,75 mm/hari,
sehingga menghasilkan kebutuhan air untuk tanaman di lahan tersier (NFR) yaitu
pada fase pertama 49,4 mm/hari, fase kedua yaitu 62,21 mm/hari, fase ketiga 98,9
mm/hari dan fase keempat 106,95 mm/hari. Sedangkan nilai WDR (kebutuhan air
khusus untuk tanaman padi) pada fase pertama yaitu 0,082 mm/hari, fase kedua
0,103mm/hari, fase ketiga 0,164 mm/hari dan fase keempat 0,177 mm/hari.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 16


Berdasarkan tabel 4, Etc paling tinngi terjadi pada fase keempat 145,75mm/hari,
hal ini dikarenakan kebutuhan air pada masa vegetatif pertama untuk pertumbuhan
awal dan pembentukan organ tanaman. Pada fase kedua jumlah Etc paling rendah
95,5 mm/hari, hal ini dikarenakan pada fase vegetatif kedua hanya terjadi pembesaran
organ tanaman, sehingga tidak membutuhkan air terlalu banyak. Pada fase ketiga Etc
mengalami peningkatan sebesar 122,66mm/hari yang telah memasuki fase generativ
pertama seperti pembungaan dan pembuahan.
Pada fase pertama, NFR dan WDR menunjukan hasil positif sebesar 49,4mm/hari
dan 0,071mm/hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air di alam belum
mencukupi sehingga perlu penambahan air untuk irigasi pada lahan dan setiap
tanamannya. Pada fase selanjutnya jumlah NFR dan WDR menunjukkan hasil yang
baik karena tidak terjadi minus, hal itu dikarenakan curah hujan yang cenderung sediit
menyebabkan lahan tersebut tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Pada fase
keempat yang terjadi dibulan September yang memiliki intensitas curah hujan 38,80
mm/tahun merupakan musim yang masih ada pada bulan kemarau, sehingga memiliki
nilai NFR dan WDR sama yaitu mencapai 0,177 mm/hari.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 17


IV. KESIMPULAN

Berdasarkan data dan perhitungan untuk kebutuhan air tanaman padi salibu, padi
situbagendit dan kacang tanah, dapat disimpulkan bahwa:

1. Nilai Etc tertinggi rata-rata terjadi pada bulan/fase pertaman penanaman, yaitu pada
saat tanaman mengalami fase vegetative.
2. Nilai NFR, WDR, dan WRP yang bertanda negative menunjukkan bahwa air di lahan
yang berasan dari air hujan sudah mencukupi kebutuhan air lahan dan tanaman
sehingga tidak diperlukan pengairan tamabahan melalui irigasi. Sebaliknya, nilai
NFR, WDR, dan WRP yang bertanda positif menunjukkan bahwa tanaman pada
lahan tersebut membutuhkan tambahan air iringasi untuk memenuhi kebutuhan air
tanaman.
3. Nilai DR tergantung pada koefisien kebutuhan air tanaman dan luasan lahan yang
digunakan.
4. Nilai DR menunjukkan debit air yang dibutuhkan pada luasan lahan per hektar.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 18


Daftar Pustaka

Aji, Syahruroji. 2016. https://eijeiai.wordpress.com/2016/02/20/kebutuhan-air-tanaman-


dan-efisiensi-penggunaan-air/. Diakses tanggl 2 Desember 2016.

Dony, Rahadi. 2008. Metodologi Perhitungan Kebutuhan Air Tanaman.

Girisanta. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Kanisius. Yogyakarta. 103 159 Hal.

Soemarno. 2010. Kebutuhan Air Untuk Tanaman.


http://yanessipil.wordpress.com/2010/03/28/kebutuhan-air-untuk-tanaman/.
Diakses tanggal 2 Desember 2016.

Soenarjo. E. 1991. Padi Buku 3. Badan Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan.
Bogor. 997 Hal.

Anonim.______.http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/irigasidanbangunanair/bab3
-kebutuhan_air_irigasi.pdf. Diakses tanggal 3 Desember 2016.

PHATT | Kebutuhan Air Tanaman 19