You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Quran merupakan wahyu Allah swt. yang original yang berfungsi
sebagai pandangan hidup manusia, baik dari segi keagamaan maupun dari
segi sosial kemasyarakatannya. Al-Quran jika dicermati, maka dapat di
ketahui bahwa dua pertiga dari ayat-ayatnya mengandung persoalan kehi-
dupan sosial di dunia dan dengan ayat-ayat Al-Quran dapat diketahui nor-
ma-norma hukum bagi kemaslahatan umat manusia.1 Al-Quran juga ditu-
runkan dengan tujuan untuk menjawab berbagai permasalahan manusia,
baik dari segi ekonomi, sosial hingga politik. Ayat-ayat yang terkandung
didalam Al-Quran telah membahas secara rinci tentang politik yang mana
dulunya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. pada masanya.
Pemikiran politik adalah sebuah pemikiran yang bertujuan untuk mem-
berikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang terjadi pada masyarakat.
Politik pemerintahan dalam Islam didasarkan atas tiga asas, yakni keadilan
penguasa, ketaatan rakyat dan permusyawaratan yang dilakukan antara
penguasa dan rakyatnya.2 Masyarakat dapat dikatakan sebagai masyarakat
politik jika telah memiliki sebuah lembaga kekuasaan khusus, yang dapat
menetapkan hukum dan undang-undang yang telah dibuat oleh lembaga itu
sendiri atau diadopsi yang dapat mengatur perilaku-perilaku masyarakat.
Hukum dan peraturan perundang-undangan tersebut kemudian diaplikasi-
kan pada masyarakat yang kemudian memaksa mereka untuk mematuhi
peraturan tersebut.3
Undang-undang tersebut kemudian diakui dan dipatuhi masyarakat,
serta dianggap memiliki kekuasaan tertinggi dalam masyarakat dan dapat
memberikan hukuman atau sanksi material bagi masyarakat yang tidak

1
M. Saripuddin, Perspektif Kepemimpinan Dalam Islam, Tajdid, 2, (2012).
2
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, (Jakarta: UI Press, 1990), 150.
3
Tijani, Abd. Qadir Hamid, Pemikiran Politik Dalam Al-Quran, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 3.
mematuhi atau melanggar peraturan perundang-undangan tersebut. Secara
spesifik mengkaji tentang sebuah kekuasaan hingga proses bagaimana kita
dapat sampai pada kekuasaan yang ingin dicapai. Selain itu juga mem-
bahas hubungan antara individu dan kekuasaan serta mengkaji Undang-
undang yang mengatur antar organisasi dan lembaga kekuasaan politik.
Tidak jarang seseorang pada masa ini memainkan politik untuk kepenting-
an individu sendiri dengan mengatas namakan agama. Sehingga penting
untuk mengulas kembali makna politik yang sebenarnya berdasarkan pada
Al-Quran serta bagaimana seseorang harus bersikap sebagai seorang pe-
mimpin.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka dapat ditarik rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana politik dalam Al-Quran?
2.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kajian Politik dalam Al-Quran


1. Ayat-ayat Tentang Politik
a) Ayat-ayat tentang khalifah
Quran surat Al-Baqarah ayat 30






Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui".

Quran Surat Al-Fathir ayat 39







Artinya: Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di
bumi. Barang siapa kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa diri-
nya sendiri. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah
kemurkaan disisi Tuhan mereka. Dan kekafiran orang-orang kafir hanya
akan menambah kerugian mereka belaka.
Quran Surat Shad ayat 26








Artinya: Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan
khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara
manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena
akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang
sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka
melupa-kan hari perhitungan.

b) Ayat-ayat tentang Prinsip-prinsip Politik dalam Al-Quran


Quran Surat An-Nisa; ayat 58







Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepa-
damu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

Quran Surat An-Nisa ayat 135










Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang
yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun
terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya
ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.
Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi,
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang
kamu kerjakan.

Quran Surat Al-Maidah ayat 8










Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi
orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi
saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

c) Ayat-ayat tentang pemerintahan


Quran surat Al-Maidah ayat 51






Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meng-
ambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebaha-
gian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Quran Surat An-Nur ayat 55











Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa
Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang
telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
(keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sen-
tausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan se-
suatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah
(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Quran Surat Asy-Syura ayat 38





Artinya: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seru-
an Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan)
dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian
dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Quran Surat Al-Hajj ayat 41






Artinya: (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunai-
kan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

2. Politik Al-Quran
Kata politik diambil dari bahasa Latin, yaitu politicus, dan bahasa
Yunani (Greek) politicos yang berarti berhubungan dengan warga masya-
rakat. Kedua kata diatas berasal dari kata polis yang bermakna city (kota).
Sedangkan Politik menurut bahasa sebagaimana yang dipaparkan oleh
Harold lass Well adalah hal yang berhubungan dengan kekuasaan.4 Kata
politik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki tiga arti, diantara-
nya: (1) pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti
sistem pemerintahan dan dasar pemerintahan, (2) segala urusan dan tinda-
kan mengenai pemerintahan atau terhadap Negara lain, (3) cara bertindak
mengenai suatu masalah atau kebijakan.5
Politik Islam dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Jika di
lihat pada Al-Muhith, siyasah berakar pada kata ssa-yassu, dalam ka-
limat sasa addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama alaiha wa radlaha
wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Al-Siyasah
juga memiliki arti mengatur, mengendalikan, mengurus, atau membuat ke-
putusan, mengatur suatu kaum, memerintah, dan memimpinya. Secara ter-
sirat dalam pengertian siyasah terkandung dua dimensi yang berkaitan satu
sama lain, yaitu: Tujuan yang ingin dicapai melalui proses pengendalian,
dan Cara pengendalian menuju tujuan tersebut. Secera istilah, politik
islam adalah pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara.
Sedangkan dalam Al-Quran kata yang terbentuk dari akar kata sasa-
yasusu tidak ditemukan. Al-Quran menguraikan tentang politik secara se-
pintas dapat ditemukan pada ayat-ayat yang berakar pada kata hukm, yang
pada mulanya berarti menghalangi atau melarang dalam rangka perbai-

4
Sulistiyawati Ismail Gani, Pengantar Ilmu Politik, , (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987), 13.
5
Kementerian Agama RI, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Tafsir Al-Quran
Tematik), (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2012), 35.
kan. Kata lain yang terbentuk dari akar kata hukm adalah kata hikmah
yang pada mulanya berarti kendali. Makna ini sejalan dengan asal makna
dari kata sasa-yasusu-sais-siyasat, yang berarti mengemudi, mengendali-
kan, pengendali, dan cara pengendalian. kata hukm sebagai perbuatan,
berarti membuat atau menjalankan putusan, dan sebagai sifat yang me-
nunjuk kepada sesuatu yang diputuskan. Kata hukm jika dipahami sebagai
membuat atau menjalankan keputusan, maka tentu pembuatan dan upaya
menjalankan itu baru dapat tergambar jika ada sekelompok yang member-
lakukan hukum tersebut.6
Al-Quran juga menegaskan bahwa etika Al-Quran yang berhubungan
dengan politik mengacu pada beberapa hal, yakni: pertama, bahwa politik
itu merupakan akses terhadap sebuah kekuasaan Negara yang secara lahi-
riah berasal dari amanat rakyat, maka kekuasaan itu harus digunakan, dia-
lokasikan dan didistribusikan dengan benar dan adil terhadap rakyat, seba-
gaimana dijelaskan dalam Quran Surat An-Nisa ayat 58. Kedua, bahwa
akses terhadap kekuasaan Negara, pada hakikatnya merupakan sebuah
amanat dari Allah, maka kekuasaan politik itu harus dipertanggung jawab-
kan kepada Allah sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan Allah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan sunnah. Ketiga,
bahwa kekuasaan politik harus digunakan, dialokasikan dan didistribusi-
kan untuk mengharumkan Islam, serta untuk memperkuat, mendukung dan
mendorong kegiatan yang baik dan mencegah tindakan-tindakan yang
mungkar sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Quran Surat Al-Imran
ayat 104:
Keempat, bahwa kekuasaan politik harus digunakan, dialokasi-kan dan
didistribusikan untuk memperkuat kesatuan dan persatuan sebagaimana
yang dijelaskan dalam Quran Surat Al-Imran ayat 103. Kelima, bahwa di
dalam berpolitik harus menghindari saling menghina, merendahkan serta
mencela antar golongan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Quran

6
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Mizan: Bandung, 1997), 417
Surat Al-Hujurat ayat 11.7 Kemudian Ibn Aqil berpendapat, sebagaimana
yang dikutip oleh Ibnu Qayyim, bahwa politik Islam adalah segala per-
buatan yang menjadikan manusia untuk lebih dekat dengan kemaslahatan
dan jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasullah tidak menetapkannya dan
(bahkan) Allah SWT tidak menentukannya.8 Menurut Sayyid Quthb, seba-
gaimana yang dikutip oleh Munawir bahwa politik pemerintahan dalam
islam didasarkan pada tiga asas, yakni: (1) Keadilan penguasa: (2) Keta-
atan Rakyat: (3) Musyawarah antara penguasa dan rakyat.9
Istilah politik menurut para ulama dimaknai dengan dua arti yaitu: (1)
Makna umum: menangani urusan manusia dan masalah kehidupan dunia
mereka bedasarkan syariat agama. Karena itu dikenal istilah Khilafat yang
berarti perwakilan Rasulullah untuk menjaga agama dan mengatur dunia,
(2) Makna khususnya: pendapat yang dinyatakan pemimpin, hukum dan
ketetapan-ketetapan yang dikeluarkannya, untuk menjaga kerusakan yang
akan terjadi, menghentikan kerusakan yang sudah terjadi atau untuk me-
mecahkan masalah khusus. Nabi saw. dalam aspek politik telah mendiri-
kan tatanan sosial politik Islam di Madinah, namun setelah lebih dari tiga
abad kemudian, para pemikir hukum mulai merumuskan teori politik me-
reka masing-masing secara lebih sistematis.
Menurut Al-Mawardi, konsep politik Islam didasarkan pada adanya
kewajiban mendirikan lembaga kekuasaan, yang dibangun sebagai peng-
ganti kenabian untuk melindungi agama dan mengatur dunia.10 Abu A'la al
Maududi menjelaskan bahwa manusia memerlukan pemerintahan atau
hidup bernegara karena harus melaksanakan amr ma'ruf nahi an mungkar.
Tanpa pemerintahan atau pemusatan kekuasaan, sebuah perkara tidak akan
dapat dilaksanakan dan jika manusia gagal melaksanakannya niscaya bumi
akan hancur akibat berbagai macam kejahatan yang dilakukan manusia.

7
Kementerian Agama RI, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Tafsir Al-Quran
Tematik), 28-29.
8
Abdullah Zawawi, Politik Dalam Perspektif Islam, Ummul Qura, 1, (Maret, 2015, 88.
9
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, 150-151.
10
Okrisal Eka Putra, Politik dan Kekuasaan dalam Islam (Pengantar Studi Politik dalam Aspek
Manajemen Dakwah), Jurnal MD, 1, (Juli-Desember, 2008).
Pemerintahan dalam pelaksanaannya membutuhkan adanya keteladanan
pemimpin Negara, pemimpin politik serta tokoh masyarakat. Pemimpin
dalam Al-Quran dikenal dengan khalifah yaitu orang yang menggantikan
tempat orang lain dalam beberapa persoalan yang menurut istilah adalah
pemimpin yang menggantikan Nabi dalam tanggung jawab umumnya
terhadap pengikutnya.11
Menurut Asy-Syaukani, Al-Quran tidak hanya menggunakan kata
khalifah untuk pengertian pemimpin, tapi juga menggunakan kata imam,
ulu al-amri dan malik.12 Konsep khalifah tidak hanya bermakna sebagai
pengganti generasi, dan pengganti kedudukan kepemimpinan, tapi berko-
notasi fungsional sebagaimana yang dijelaskan dalam Quran Surat Shad
ayat 26 yang menjelaskan tentang fungsi khalifah, pembatasan perbuatan
dan tingkah laku seorang khalifah. Berdasarkan pengertian khalifah yang
tercantum dalam Quran Surat Al-Fathir ayat 39 yang menjelaskan tentang
kedudukan manusia sebagai penegak dan pelaksana hukum juga penguasa
dan pengatur kehidupan di dunia dengan menerapkan hukum Allah. Pada
Quran Surat Hud ayat 61 Allah menjelaskan kedudukan manusia sebagai
pembangun peradaban dengan ungkapan istamara yang berakar pada hu-
ruf ain, mim dan ra. Kata amara ini diartikan dengan dua makna yang
sesuai dengan obyek dan konteks uraian ayatnya.
Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 9 berbicara tentang bumi dan diartikan
membangun bangunan serta mengelolanya untuk mendapatkan manfaat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka kata istamarakum dapat berarti men-
jadikan kamu atau meminta atau menugaskan kamu untuk mengolah
bumi agar memperoleh manfaat. Jika dilihat dari satu sisi, penugasan ter-
sebut merupakan sebuah pelimpahan kekuasan politik dan disisi lain, ma-
nusia dalam menjalankan tugas tersebut harus tetap memperhatikan kehen-

11
Abu Jafar bin Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami Al-Bayan an Tawil Ayi Al-Quran, Juz 1,
(Beirut: Dar Al-Fikr, 1984), 199.
12
Abdul Munim Salim, Konsep Kekuasaan Politik dalam Al-Quran, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1994), 231.
dak Allah sebagai pemberi tugas.13 Allah kemudian mengingatkan manu-
sia yang berkedudukan sebagai abdi atau hamba Allah swt., dalam Quran
Surat Al-Dzariyat ayat 56 agar tidak bangga dengan kedudukan yang telah
Allah berikan di dunia. Allah mengemukakan prinsip-prinsip dasar politik
dalam Al-Quran adalah sebagai berikut:
a) Amanah
Ibnu Jarir mengemukakan pendapatnya bahwa ayat kata amanat
yang terkandung dalam Quran Surat An-Nisa ayat 58 ditujukan pada
para pemimpin umat agar mereka menunaikan hak-hak umat Islam dan
menyelesaikan perkara masyarakat yang diserahkan kepada mereka.
Klasifikasi amanat menurut Al-Maraghi diantaranya: tanggung jawab
manusia terhadap Tuhan, tanggung jawab manusia terhadap sesame
dan tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri. Al-Quran Surat
Al-Anfal ayat 27 juga menjelaskan kewajiban para pejabat untuk me-
nunaikan amanat yang diberikan kepada mereka berupa kekuasaan.
Hal ini sesuai dengan asbabun nuzulnya. Prinsip ini bermakna bahwa
setiap orang yang berkedudukan fungsional dalam kehidupan politik
dituntut untuk melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.14

b) Menetapkan Hukum dengan Adil


Kehidupan bernegara dan berbangsa, baik dibidang hukum, eko-
nomi, politik dan budaya. Karena sikap adil tersebut merupakan ba-
gian dari pentingnya keberadaan suatu hukum dan menjadi etika po-
litik. Menurut Al Razi dalam kitabnya Mafathihul Ghaib bahwa para
ulama bersepakat bahwa yang menjadi pemimpin diharuskan meme-
rintah dengan adil, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Quran
Surat An-Nisa 135.15 Jika seseorang dipilih untuk menjadi penengah
dan memutuskan sebuah perkara, maka seseorang tersebut harus me-

13
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, 424.
14
Kementerian Agama RI, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Tafsir Al-Quran
Tematik),
15
Muhammad Dhiauddin, 2001, Teori Politik Islam, (Jakarta: Gema Insani Press), 266.
nyelesaikan perkara tersebut dengan adil dan bijaksana dan tidak ber-
buat zalim serta menipu dan berpaling dari sebuah kebenaran, sebagai-
mana yang telah dijelaskan dalam Quran Surat An-Nisa ayat 58.16
Selain itu, keadilan juga dijelaskan dalam Quran Surat Al-Maidah
ayat 42, dimana keadilan pada ayat ini dimaknai sebagai pemenuhan
hak-hak yang telah diatur secara sah oleh aturan-aturan hukum dan
ayat ini relevan dengan kekuasaan eksekutif, khususnya kekuasaan
yudikatif.17 Keadilan yang dituntut dalam sebuah pemerintahan bukan
hanya milik sebuah kelompok atau golongan, tapi milik semua masya-
rakat, sebagaimana yang dijelaskan dalam Quran Surat An-Nisa ayat
105.18

c) Musyawarah
Ayat yang menjelaskan tentang wajibnya bermusyawarah dalam
persoalan-persoalan yang sedang dihadapi yaitu Quran Surat Al-
Imran ayat 159. Ayat ini memberikan petunjuk kapada setiap umat
muslim, khususnya pada setiap pemimpin untuk tidak meningga-kan
musyawarah dalam menyelesaikan sebuah persoalan, karena musya-
warah mengandung pandangan dan keinginan masyarakat. Esensi yang
terkandung dalam musyawarah adalah memberi kesempatan kepada
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan dan hak untuk berpar-
tisipasi dalam membuat keputusan yang mengikat, baik dalam bentuk
aturan hukum maupun kebijakan politik.19 Kandungan lain yang terda-
pat pada ayat tersebut adalah berkenaan dengan moral kepemimpinan,
bersifat leah lembut serta memberikan ketentraman dan kemudahan
pada setiap masyarakat.

16
Aidh Al-Qarni, Tafsir Muyassar, terj. Tim Qisthi Press, (Jakarta: Qisthi Press, 2007), 401-402.
17
Victor Situmorang, Intisari Ilmu Hukum Negara, (Jakarta: Bima Aksara, 1987), 69-70.
18
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, 426.
19
Abd Muin Saliun, Fiqh Siyasah (Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran), (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1995), 267.
B. Politik Hukum dan Perundang-undangan