You are on page 1of 3

Laporan Tugas Mandiri MPKT A

Oleh Azizah Alkhatami Tanjung, 1706979511

Kecerdasan Emosional

Goleman (1996) menyimpulkan bahwa kecerdasan atau inteligensi sebagai


sebuah konsep yang tampaknya terlalu sempit untuk menjelaskan keberhasilan
atau kesuksesan seseorang. Kesuksesan membutuhkan lebih daripada sekadar
cerdas. Kecerdasan emosionallah yang memungkinkan kecerdasan atau
inteligensi, yang bersifat kognitif, berfungsi secara optimal. Orang dengan
kecerdasan emosional yang tinggi akan mudah mengarahkan kognisinya dalam
berpikir dan memecahkan masalah.

Goleman menemukan lima domain kecerdasan emosi, yaitu:

1. Memahami emosinya sendiri


Apabila individu tidak mampu mengenali perasaannya sendiri, hidupnya
akan dikendalikan oleh perasaan itu. Sementara itu, individu yang
memahami perasaannya akan mampu mengarahkan hidupnya.
2. Mengendalikan emosi
Merupakan kemampuan yang dibangun berdasarkan kesadaran diri agar
sesuai dan dapat diterima oleh lingkungannya. Kemampuan
mengendalikan emosi akan sangat membantu dalam mencegah reaksi
spontan dari Otak Reptil dan memberi kesempatan bagi Neocortex untuk
memegang kendali.
3. Memotivasi diri sendiri
Adalah sebuah kemampuan yang sangat diperlukan untuk dapat
mengarahkan diri dari sasaran. Individu yang mampu memotivasi dirinya
akan setia pada tujuan; kesulitan tidak akan membuatnya berbelok dari
tujuannya. Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri akan
memungkinkan individu menjadi pelajar yang mandiri yang dapat terus
mengembangkan dirinya seumur hidup.

4. Memahami emosi orang lain


Berkaitan dengan kemampuan empati. Memahami emosi orang lain harus
didahului oleh kemauan yang tulus, penerimaan atas orang lain apa
adanya, serta niat baik agar dapat menjalin hubungan yang baik dan
menguntungkan bagi kedua belah pihak.
5. Menjalin hubungan dengan orang lain
Yaitu kemampuan mendengarkan secara efektif dan kemampuan
komunikasi yang efektif.

Kecerdasan Spiritual

Menurut Zohar (2000), dengan kedua kecerdasannya (IQ dan EQ),


manusia mampu memahami situasi dan menampilkan perilaku yang sesuai untuk
menghadapinya, namun dibutuhkan kecerdasan ketiga, yaitu kecerdasan spiritual
untuk membuat manusia melakukan transendensi.

Menurut Cassirer (1944) manusia mempunyai kebutuhan untuk terhubung


dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya itu. Bagi orang-orang beragama,
sesuatu itu biasa dimaksudkan sebagai Allah, Tuha, Dewa, dan lain sebagainya,
sedangkan bagi yang tidak beragama, hal itu sering dikaitkan dengan alam
semesta atau kekuataan-kekuatan hebat lain yang ada. Berbeda dengan spesies
lainnya, manusia memang cenderung mencari jawaban atas berbagai pertanyaan
yang terkait dengan sesuatu yang lebih besar darinya; manusi mempunyai
kecenderungan dan kemampuan berpikir melampaui dirinya (transendental).

Kecenderungan manusia untuk mencari jawaban atas berbagai hal besar


dalam hidupnya menunjukkan bahwa selain sebagai makhluk individual dan
makhluk sosial, pada dasarnya manusia juga merupakan makhluk spiritual.
Kecenderungan tersebut tidak akan mampu terjawab hanya melalui kecerdasan
(IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) semata. Ada kecerdasan ketiga yang
memungkinkannya, yaitu kecerdasan spiritual (SQ), yang oleh Zohar dan
Marshall disebut sebagai kecerdasan tertinggi.

Kecerdasan ini berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan walaupun


tidak identik dengan keberagamaan. Untuk menjalankan keagamaan dengan
penuh kesadaran dan mendapatkan pemahaman agama, dibutuhkan kecerdasan
spiritual, namun kecerdasan spiritual sendiri tidak menjamin ketaatan seseorang
dalam beragama.