You are on page 1of 12

ARTIKEL ILMIAH

MODIFIKASI PERENCANAAN SISTEM STRUKTUR GEDUNG HOTEL ARUM


LOMBOK DENGAN METODE FLAT SLAB DAN SHEAR WALL

DESIGN MODIFICATION SYSTEM STRUCTURE OF ARUM LOMBOK HOTEL


WITH FLAT SLAB METHOD AND SHEAR WALL

Tugas Akhir
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-1 Jurusan Teknik Sipil

Oleh :

INDRO PRATOMO
F1A 011 064

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MATARAM
2015
ARTIKEL ILMIAH

MODIFIKASI PERENCANAAN SISTEM STRUKTUR GEDUNG HOTEL ARUM


LOMBOK DENGAN METODE FLAT SLAB DAN SHEAR WALL

Oleh :
Indro Pratomo
F1A 011 064

Telah diperiksa dan disetujui oleh :

PEMBIMBING UTAMA,
Tanggal, November 2015

SUPARJO, ST .,MT
NIP. 19670814 199412 1 001

PEMBIMBING PENDAMPING
Tanggal, November 2015

I WAYAN SUGIARTHA, ST.,MT


NIP. 19690620 199702 1 001

Mengetahui
Ketua Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Mataram

JAUHAR FAJRIN, ST.,M.Sc(Eng),Ph.D


NIP. 19740607 199802 1 001
ARTIKEL ILMIAH

MODIFIKASI PERENCANAAN SISTEM STRUKTUR GEDUNG HOTEL ARUM


LOMBOK DENGAN METODE FLAT SLAB DAN SHEAR WALL

Oleh :
Indro Pratomo
F1A 011 064

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji


Pada tanggal 18 November 2015
dan dinyatakan telah memenuhi syarat mencapai derajat S-1
Jurusan Teknik Sipil

Susunan Tim Penguji :

1. Penguji I

Ir. Suryawan Murtiadi, M.Eng., Ph.D.


NIP. 19580718 199303 1 001
2. Penguji II

Hariyadi, ST.,MSc(MEng).,Ph.D.
NIP. 19731027 199802 1 001
3. Penguji III

Ni Nyoman Kencanawati, ST., MT.,Ph.D.


NIP. 19760804 200003 2 001

Mataram, November 2015


Dekan Fakultas Teknik
Universitas Mataram

Yusron Saadi, ST., M.Sc., Ph.D.


NIP. 19661020 1994031 003
MODIFIKASI PERENCANAAN SISTEM STRUKTUR GEDUNG HOTEL ARUM LOMBOK DENGAN
METODE FLAT SLAB DENGAN SHEAR WALL

Modification Of Planning System Structure Building Arum Lombok Hotel With Flat Slab Method
And Shear Wall
1 2 3
Indro Pratomo , Suparjo , I Wayan Sugiartha
JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS MATARAM

ABSTRAK

.
Hotel Arum Lombok dengan ketinggian total 42,8 m yang terdiri dari 11 lantai yang berada di kota
Mataram yang merupakan daerah dengan zonasi gempa kuat. Sistem struktural yang digunakan hotel
ini adalah sistem ganda, yaitu dengan SRPMK dan kombinasi dinding geser. Agar pekerjaan struktur
lebih cepat dan efisien dilakukan modifikasi dengan menggunakan sistem struktur flat slab dan
tambahan dinding geser untuk peredam beban lateral akibat gempa. Keunggulan dari flat slab jika
dibandingkan dengan SRPM dengan balok adalah lantai yang didapatkan terasa lebih luas dan tinggi
karena jika dibutuhkan, tidak perlu finishing dengan plafond; hemat biaya proyek karena mengurangi
pemakaian beton dan bekisting untuk elemen balok serta pekerjaan lebih cepat dan efisien karena
tidak adanya pekerjaan balok
Perencanaan ini menggunakan Software ETABS V.9.5. Hasil analisis struktur dijadikan data
dalam perencanaan struktur tahan gempa. Langkah analisis struktur dibagi menjadi tiga tahap yaitu
pemodelan struktur, pembebanan struktur dan analisa struktur. Tahap pemodelan struktur adalah
proses memasukkan data-data perencanaan struktur seperti geometri, material dan elemen struktur.
Pada tahap pembebanan struktur, beban-beban yang bekerja dikelompokkan menjadi beban statis
dan beban dinamis. Beban statis terdiri dari beban mati dan beban hidup sedangkan beban dinamis
adalah beban gempa yang dianalisis dengan metode respon spektrum dan time history. Data hasil
dari analisis struktur digunakan sebagai data dalam modifikasi perencanaan elemen struktur gedung
hotel Arum Lombok sesuai dengan ketentuan SNI 03-2847-2002.
Dari gaya dalam yang dihasilkan struktur, maka akan didesain komponen struktur yaitu flat slab,
kolom shear wall dan fondasi. Flat Slab menggunakan tulangan dua arah D16-85 arah X dan D16-100
arah Y, Drop Panel D16-120 arah X dan D16-120 arah Y, Kolom memliki tulangan yang bervariasi
pada setiap lantainya dengan tulangan terbesar K (100/100) = Tulangan pokok 28D22, Tulangan
geser = D10-445, tulangan utama Shear Wall D20 jarak antar tulangan 250 mm. Pondasi yang
didesain adalah menggunakan bore pile dengan diameter 0,45 m sebanyak 4 buah maksimum setiap
kolom dan dipancang sampai kedalaman 20.5 m.

Kata kunci : Flat Slab, Drop Panel, Shear Wall, gempa, ETABS V.9.5
1
Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Mataram
2
Dosen Pembimbing Utama
3
Dosen Pembimbing Pendamping

I. PENDAHULUAN

Gedung yang dibangun dengan sistem tampilan gedung. Dari segi ekonomi, beton
rangka pemikul momen (SRPM) dengan balok yang diperlukan untuk membentuk struktur
masih mempunyai kekurangan bila ditinjau dari lebih banyak karena adanya balok jika
segi tinggi per lantai dan ekonomi. Dari segi dibandingkan dengan SRPM tanpa balok.
tinggi per lantai, tinggi ruang sedikit berkurang Ditambah lagi biaya untuk keperluan bekisting
dikarenakan finishing plafond (jika diperlukan) dan perancah balok. Salah satu solusi yang
untuk menutup atap karena adanya balok. digunakan untuk menutupi kekurangan SRPM
Finishing dilakukan untuk memperindah dengan balok adalah penggunaan metode flat
slab. Struktur flat slab merupakan struktur
gedung tanpa menggunakan balok. Ada
penebalan plat di sekitar kepala kolom yang
disebut dengan drop panel. Di ujung kepala
kolom bisa dibuat semakin membesar atau
tidak. Fungsi keduanya adalah untuk menahan
geser pons dan momen negatif tumpuan
karena tidak adanya balok. Menurut SNI 03- Gambar 1.1 Flat Slab
1726-2002 pasal 8.11 dan kinerja batas
ultimate SNI 03-1726-2002 pasal 8.2, dari Dalam penulangan pelat tanpa balok (Flat
hasil analisa drop panel pada flat slab penting Slab) perlu diperhatikan penulangan area jalur
dalam menahan momen tumpuan yang besar kolom dan jalur tengah. Dalam SNI 03 2847
serta gaya geser pelat disekitar kolom serta 2002 pasal 11.5.3.3 persyaratan tebal pelat
kontrol drift masih sesuai syarat kinerja batas minimum yang dapat digunakan dalam
layan perencanaan sistem pelat lantai 2 arah dalam
Keunggulan dari flat slab jika pengendalian lendutan.
dibandingkan dengan SRPM dengan balok Metode flat slab sendiri sebenarnya
adalah lantai yang didapatkan terasa lebih luas kurang cocok bahkan tidak diperbolehkan
dan tinggi karena jika dibutuhkan, tidak perlu untuk dibangun pada daerah gempa kuat.
finishing dengan plafond; hemat biaya proyek Untuk itu gedung tersebut direncanakan
karena mengurangi pemakaian beton dan dengan memadukan metode flat slab dan
bekisting untuk elemen balok serta pekerjaan sistem rangka gedung, dimana seluruh beban
lebih cepat dan efisien karena tidak adanya gempa akan dipikul oleh dinding geser (shear
pekerjaan balok. wall) sehingga metode flat slab dapat
digunakan pada daerah gempa kuat.
Flat Slab Studi kasus ini akan memberikan metode
dan tahapan tentang bagaimana menganalisis
Flat slab merupakan pelat dua-arah yang struktur gedung menggunakan meode Flat
mentransfer beban secara langsung ke kolom Slab. Objek perencanaan yang digunakan
pendukung tanpa bantuan balok yang dicirikan adalah Hotel Arum Lombok yang berada di
dengan adanya drop panel dan kepala kolom kota Mataram yang merupakan daerah dengan
yang membedakannya dengan pelat datar (flat zonasi gempa kuat. Sistem struktural yang
plate). Adapun pengertian dari keduanya yaitu: digunakan hotel ini adalah sistem ganda, yaitu
a. Drop panel yaitu pertambahan tebal pelat dengan SRPMK dan kombinasi dinding
didalam daerah kolom. Dimana pertebalan struktural. Agar perkerjaan struktur lebih cepat
pelat ini bermanfaat dalam mengurangi dan efisien sehingga perlu dilakukan
tegangan geser pons yang mungkin modifikasi yaitu dengan metode Flat Slab.
ditimbulkan oleh kolom terhadap pelat.
Pertebalan ini juga meningkatkan besarnya II. BATASAN PERENCANAAN
momen lawan di tempat-tempat dimana
momen-momen negatif besar (Mosley dan Ruang lingkup studi kasus ini dibatasi pada :
Bungey 1984).
1. Pada perencanaan ini tidak
b. Kepala kolom (column capital) yaitu
memperhitungkan dari segi analisis biaya
pelebaran mengecil dari ujung kolom atas.
proyek dari sistem struktur tersebut.
Tujuan dari kepala kolom adalah untuk
2. Tidak meninjau dari segi arsitekturnya.
mendapatkan pertambahan keliling sekitar
3. Analisa struktur menggunakan program
kolom untuk memindahkan geser dari
(Extended Three dimension Analysis of
beban lantai dan untuk menambah tebal
Building Systems) Etabs v.9.5
dengan berkurangnya perimeter di dekat
4. Program bantu gambar teknik
kolom (Wang dan Salmon, 1990)
menggunakan Autocad 2009.
5. Dalam perencanaan menggunakan data-
data proyek sebenarnya.
5
III. DESAIN DAN ANALISIS STRUKTUR meter, kemudian tinggi lantai dua adalah
3.1. Pemodelan Struktur 4,6 meter, serta tinggi antar lantai tipikal
Dalam tugas akhir ini dilakukan analisis selanjutnya adalah 3,6 meter.
beban gempa nominal dengan menggunakan 4. Struktur utama direncanakan dengan
analisis statik, respon spektrum dan time sistem Flat Slab dan Shear Wall .
history. Di mana dari hasil analisis digunakan Konstruksi kolom menggunakan struktur
sebagai data dalam modifikasi perencanaan beton bertulang, pelat atap dan pelat
struktur bangunan gedung tahan gempa lantai menggunakan pelat beton
dengan Sistem Flat Slab. Struktur dimodelkan bertulang.
(portal ruang) sebagai portal terbuka dengan 5. Material yang digunakan dalam
bantuan program Etabs v.9.5. Perencanaan merencanakan dan membangun struktur
dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan bangunan ini adalah material beton
berikut : bertulang yang mempunyai mutu fc 25
1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton MPa, fc 30 MPa dan fy 400 MPa.
Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847- Pendefinisian material akan dilakukan
2002). pada program 5. Etabs v.9.5.
2. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa 6. Data tanah menggunakan data tanah
Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI dilapangan yaitu data sondir dan boring
1726-2002)
3. Pedoman Perencanaan Pembebanan 3.3. Pembebanan Struktur
Untuk Rumah dan Gedung (1987) Pendefinisian beban-beban yang bekerja
pada struktur sesuai dengan Pedoman
untuk lebih jelasnya mengenai model struktur Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan
yang akan direncanakan dapat dilihat pada Gedung (1987)
gambar berikut.
Seluruh Beban-beban yang bekerja pada
struktur gedung antara lain :
1. Beban Mati (DL)
Beban mati adalah seluruh bagian dari
komponen struktur bangunan yang bersifat
tetap dan tidak terpisahkan dari bangunan
selama masa layannya. karena analisis
dilakukan dengan program ETABS V.9.5.,
maka berat sendiri akan terhitung secara
Gambar 3.1. Denah Gedung Arum Lombok langsung.
2. Beban Hidup Lantai dan Atap (LL)
3.2. Geometri Struktur
Beban hidup pada pelat lantai diperhitungkan
Pengerjaan dimulai dengan menggambar 2
adalah sebesar 250 kg/m (sudah termasuk
pemodelan struktur bangunan pada program 2
beban partisi q < 100 Kg/m ). Beban ini
Etabs v.9.5. Tugas akhir ini akan memodelkan disesuaikan dengan kegunaannya sebagai
struktur bangunan gedung Hotel 11 lantai gedung untuk fungsi Hotel. Sedangkan beban
hidup pada atap diperhitungkan sebesar 100
dengan lokasi wilayah gempa 5. Data 2
kg/m
karakteristik geometri bangunan adalah 3. Beban Gempa (E)
sebagai berikut: Gedung termasuk struktur tidak beraturan
sehingga direncanakan terhadap pembebanan
1. Bangunan dengan jenis tidak beraturan gempa akibat pengaruh gempa rencana dalam
untuk fungsi Hotel 11 lantai. arah pembebanan sesuai SNI 1726-2002
2. Komponen struktur balok, kolom, pelat, dengan metode Gempa Statik dan Dinamik.
dan pondasi direncanakan dimensi awal
terlebih dahulu (pra perencanaan).
3. Tinggi lantai dasar adalah 3,8 meter,
tinggi lantai Ground Floor adalah 6,4
6
3.4. Metode Analisa Data Data hasil dari analisis struktur digunakan
1. Input Data dan Analisis Struktur yang sebagai data dalam modifikasi perencanaan
Ditinjau Ada 3 (tiga) bagian utama dalam elemen Flat Slab struktur Hotel Arum yang
mengoperasikan software ETABS V.9.5. sesuai dengan ketentuan SNI 03-2847-2002.
dalam perencanaan ini antara lain: Selanjutnya hasil dari perencanan tersebut
1) Pemodelan struktur akan dituangkan dalam gambar pendetailan.
2) Pembebanan struktur Diagram alir pada Gambar di bawah ini
3) Analisa struktur menggambarkan bahwa analisis struktur
Berikut penjelasan secara umum tahapan adalah tahap yang menentukan dalam
dalam proses mengoperasikan software perencanaan, karena jika hasil analisis yang
ETABS V.9.5. tidak tepat dijadikan data masukan dalam
Pemodelan Struktur perencanaan maka otomatis hasil dari
Proses memasukkan data-data perencaaan perencanaan dapat dipastikan kurang tepat
struktur. Adapun data-data masukannya juga. Hal ini menjadikan bahwa hasil analisis
antara lain: berbanding lurus dengan hasil perencanaan
Grid lines (Geometri struktur), Material struktur komponen Struktur yang didesain.
dan Elemen struktur.
Pembebanan struktur Bagan Alir
Sebelum melakukan pembebanan pada
struktur, terlebih dahulu definisikan beban-
beban yang akan bekerja. Untuk analisis
struktur, diperlukan dua jenis Load case
(pembebanan) statis dan satu untuk
pembebanan dinamis.
-Pembebanan Statis (Beban mati dan Hidup)
Penentuan beban mati dan hidup merupakan
pendefinisian awal untuk meng-input tipe
beban yang akan dikenakan pada struktur.
-Pembebanan Dinamis (gempa)
Beban gempa adalah beban yang diakibatkan
pengaruh gempa bumi. Untuk perencanaan
gedung Hotel Arum ini, direncanakan terhadap
pembebanan gempa akibat pengaruh gempa
rencana dalam arah pembebanan sesuai SNI
1726-2002 dengan metode analisis Respons
Spektrum dan Time History.
-Pemodelan arah pembebanan gempa
rencana
Dalam pemodelan arah pembebanan
disesuaikan terhadap posisi sumbu pemodelan
struktur dalam ETABS V.9.5., efektif 100 %
arah sumbu lemah dan 30 % arah sumbu kuat.
Pembebanan ini akan ditinjau secara
bersamaan.
Analisis struktur
Tahap analisis struktur merupakan tahap akhir
dari proses mengoperasikan program, artinya
semua data yang telah didefinisikan bisa
langsung dianalisis. Hasil analisisnya adalah
displacement, gaya geser dasar dan gaya
dalam dari struktur yang dimodelkan.
.
7
IV. HASIL ANALISIS DAN PERENCANAAN bebas, diambil nilai terkecil dan tidak boleh
kurang dari 140 mm.
4.1. Umum Direncanakan tebal shear wall = 30 cm=300
Pada bagian ini akan ditampilkan data mm
masukan dan hasil analisis struktur dari output 300 mm
Etabs v.9.5. Hasilnya berupa gaya geser
300 mm 208
dasar maksimum, displacement maksimum
dan gaya dalam struktur. Selanjutnya hasil 300 mm 140 mm
analisis digunakan sebagai data dalam Jadi tebal shear wall sebesar 300 mm = 30
cm telah memenuhi syarat dan dapat
modifikasi perencanaan Struktur Gedung Hotel
Arum Lombok dengan Metode Flat Slab. digunakan.

4.2. Data Masukan 4.2.2 Material Struktur


Material yang digunakan adalah beton
4.2.1. Dimensi komponen struktur
bertulang dengan mutu beton fc 25 Mpa
4.2.1.1 Perencanaan Dimensi Kolom
sedangkan shear wall menggunakan mutu
Dimensi kolom digunakan 100 cm x 100
beton fc 30 Mpa. Mutu Baja fy 400 Mpa.
cm pada lantai satu, 95 cm x 95 cm pada
lantai dua, 90 cm x 90 cm lantai tiga, 80 cm x
80 cm lantai empat, lima dan enam, 75 cm x 4.3.3. Pembebanan
4.3.3.1 Beban Mati
75 cm pada lantai tujuh sampai sebelas dan 2
70 cm x 70 cm pada lantai 12. Total beban mati 1.49 kN/ m
4.3.3.2 Beban Hidup
4.2.1.2 Perencanaan Dimensi Flat Slab 2
Tebal minimum pelat tanpa balok Total beban hidup 0.73 kN/ m
interior yang menghubungkan tumpuan- 4.3.3.3 Beban Gempa
Beban gempa statik dan beban gempa
tumpuannya dan mempunyai rasio bentang
panjang terhadap bentang pendek yang tidak dinamik
lebih dari dua, harus memenuhi ketentuan SNI
4.2.4. Perhitungan Analisa Struktur
03-2847-2002 pasal 11.5.3.2 yaitu :
Tebal minimum pelat dalam dan luar tanpa 4.2.4.1 Analisis Gaya Dalam
balok interior dan dengan penebalan : Dari hasil analisa struktur menggunakan
h= = 7450/40 = 186.25 = 190 mm = 19 cm Etabs v.9.5. didapatkan gaya-gaya dalam
pada struktur berupa momen dan gaya geser.
Dapat dilihat pada gambar berikut :
4.2.1.3 Perencanaan Dimensi Drop Panel
Pendefinisian dimensi drop panel
berdasarkan SNI 03 2847 2002 pasal
15.3.7.1 sebagai berikut :
Lebar drop panel pada setiap arah minimum
1/6 Ln panjang bentang dari sumbu ke sumbu
kolom.

Tebal drop panel minimum 1/4 t ( t = tebal Gambar 4.1. Diagram Momen dan Gaya Geser
pelat lantai). akibat beban hidup

4.2.1.4 Perencanaan Dimensi Shear Wall


Penentuan dimensi shear wall dan core
wall. Berdasarkan SNI 03 2847 2002
pasal 24.6.6.2 tebal dinding penumpu tidak
boleh kurang dari 1/24 tinggi atau panjang

8
Maka jumlah tulangan yang dibutuhkan =
9025/380 = 23.75 24 Tulangan agar dapat
tersebar disemua sisi kolom. Jadi tulangan
utama kolom adalah 24D22

Gambar detail penulangan kolom

Gambar 4.2.. Diagram Momen dan Gaya


Geser akibat beban Gempa Statik arah X

Gambar 4.3. Diagram Momen akibat beban


Gempa RS dan TH arah X Gambar 4.5. Detail Penulangan Kolom

Setelah di Run, Struktur gedung ini dapat 2. Desain dan Penulangan Flat Slab dan
dianalisa kekuatannya dalam menahan Drop Panel
berbagai macam beban yang di Input tadi Dari hasil analisis didapatkan Mu = 23.11 kNm
dengaan cara Concrete Frame Design

Gambar 4.4. Pengecekan struktur dengan Gambar 4.6. tegangan yang terjadi pada pelat
Etabs akibat beban mati

Output dari Concrete Frame Design Hasil analisis didapatkan Mu = 83.791 kNm
tersebut adalah dalam bentuk luas tulangan
Digunakan tulangan polos D16 85
minimum struktur. Dalam design tersebut tidak
Luas tulangan terpakai, As = x x d2 x b/S
ada struktur yang berlabel O/S (Overstress),
= x 3.14 x 162
yang berarti struktur tersebut aman dari
x1000/85
beban-beban yang berkerja.
= 2364.23 mm2
4.2.4.2 Desain dan Penulangan Kolom, Flat Tinggi blok regangan, a=
Slab, dan Shear Wall
1. Desain dan Penulangan Kolom =
Kolom yang ditinjau 950/950 Luas tulangan = 27.815 mm
2
utama dari hasil Etabs = 9025 mm -6
Momen nominal, Mn = As x fy x (d - ) x 10
Digunakan tulangan ulir diameter 22 mm,
2 -6
As = d = 6698.67 x 300 x (85 - ) x 10
= x 3.14 x 222 = 107.166 kNm
2
= 380 mm Syarat : Mn Mu
9
107.166 83.791
85.733 83.791 Ok, Plat Pemodelah elemen wall sebagai pilar
mampu menerima beban (Pier) dilakukan dengan memberikan tulangan
langsung, sehingga elemen pier tersebut harus
dimodelkan dengan General Reinforcement.
Bentuk dan desain wall dari lantai atas sampai
bawah bentuknya sama, maka Section at
Bottom dan at Top juga sama.
Pada pemodelan tulangan shear wall di
Etabs ukuran tulangan utama yang digunakan
adalah D20, sedangkan jarak antar tulangan
adalah 250 mm dan selimut betonnya adalah
25 mm.

Gambar 4.7. Penulangan Flat Slab 4. Desain dan Penulangan Pondasi


Hasil uji boring menunjukan bahwa kedalaman
3. Desain dan Penulangan Shear Wall 0 m 6 m adalah tanah lunak dengan nilai Nspt
Elemen shear wall didesain mempunyai = 5 -25 . Tanah keras dengan N > 50 mulai
sifat yang sama dengan kolom yaitu menerima kedalaman 20.5m.
beban aksial dan lentur, maka shear wall
tersebut harus di modelkan sebagai pilar (Pier) Tabel 4.8 Kuat dukung pondasi Bore Pile
pada Etabs. Posisi shear wall ditempatkan dengan berbagai diameter
pada daerah yang diperkiran terdapat gaya-
gaya dalam yang besar. D Ap W
Nb Nb
Qd Qg Qijin
(m) (m2) (ton) (ton) (ton) (ton)
0.6 0.282 9.5 40 27.5 310.8 26.38 102.9
0.8 0.502 16.8 40 27.5 552.6 35.17 179.0
1 0.785 26.3 40 27.5 863.5 43.96 276.1
1.2 1.130 37.9 40 27.5 1243 52.75 394.0

Dari hasil analisa yang telah dilakukan,


diperoleh beban titik pondasi antara 73.19 ton
600 ton. Berdasarkan Tabel , jika pondasi
Gambar 4.8. Elemen Shear Wall pada gedung bore pile diameter 45 cm, maka daya dukung
pondasi adalah 190.764 ton.
Asumsi desain tulangan pada shear a. Jumlah tiang pondasi untuk beban 73.9 ton
wall dan dimensinya dapat diinput langsung = 73.9/190.764 = 0.387 2 tiang
dengan fasilitas Section Designer pada Etabs. b. Jumlah tiang pondasi untuk beban 600 ton
= 600/190.764 = 3.145 4 tiang

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Sesuai dengan hasil analisis yang
dilakukan pada gedung dengan menggunakan
program Etabs v.9.5, maka dalam modifikasi
perencanaan gedung ini maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Setelah dianalisa sistem struktur flat slab
kurang cocok digunakan pada gedung yang
dibangun pada daerah dengan zona gempa
Gambar 4.9. Detail penulagan dan dimensi tinggi. Gedung tesebut akan aman bila
elemen Shear Wall dengan Section Designer sistem slat slab dikombinasikan dengan
10
shear wall untuk menahan beban lateral jarak antar tulangan adalah 250 mm dan
akibat gempa. selimut betonnya adalah 25 mm.
2. Hasil perhitungan komponen struktur e. Fondasi menggunakn Bore Pile dengan
gedung tersebut dengan dimensi yang jumlah bore pile maksimum per kolom
direncanakan aman terhadap kinerja batas adalah 4 tiang
layan dan batas ultimit gedung.
3. Dimensi komponen-komponen strukur 5.2 Saran
gedung adalah : Berdasarkan hasil analisis struktur
a. Dimensi Flat Slab 7.3 m x 8.95 m dengan gedung yang telah dimodifikasi, maka saran
ketebalan = 190 mm = 19 cm yang bisa dilakukan untuk perencana
b. Lebar drop panel 25 0 0 m m = 2.5 m berikutnya adalah :
Tebal drop panel 50 m m = 5 cm a. Pada perencanaan berikutnya agar bisa
c. Dimensi kolom digunakan 100 cm x 100 lebih menganalisa tentang pola
cm pada lantai satu, 95 cm x 95 cm pada sambungan pada kolom, flat slab dan
lantai dua, 90 cm x 90 cm lantai tiga, 80 drop panel yang tidak terlalu dianalisa
cm x 80 cm lantai empat, lima dan enam, pada perencanaan ini.
75 cm x 75 cm pada lantai tujuh sampai b. Perencanan berikutnya juga mencoba
sebelas dan 70 cm x 70 cm pada lantai membandingkan sistem struktur flat slab
12. dengan sistem balok-kolom portal dari sisi
d. Tebal shear wall sebesar 300 mm = 30 kekuatan, pengerjaan dan ekonomi.
cm
e. Fondasi menggunakan Bore Pile dengan
Daftar Pustaka
diameter 0.45 m dengan tanah keras
maksimum pada kedalaman 20.5 m American Institute of Steel Construction. 2005.
Seismic Design Manual (AISC 327-
f. Material yang digunakan adalah mutu 05). Chicago: American Institute of
beton fc = 25 Mpa untuk struktur Kolom, Steel Construction
Flat Slab dan Fondasi. Sedangkan Shear
Wall menggunakan mutu beton fc = 30 Arthur, H.Nilson.1993. Perencanaan Struktur
Mpa. Mutu baja fy = 400 Mpa Beton Bertulang
4. Penulangan komponen-komponen
Asroni, Ali. 2010. Balok dan Pelat Beton
struktur gedung adalah : Bertulang edisi pertama.Yogyakarta:
a. Flat Slab menggunakan tulangan dua Graha Ilmu
arah D16-85 arah X dan D16-100 arah Y
b. Drop Panel menggunakan tulangan dua Asroni, Ali.2010. Kolom Fondasi dan Balok T
arah D16-120 arah X dan D16-120 arah Y edisi kedua.Yogyakarta: Graha Ilmu
c. Kolom memliki tulangan yang bervariasi
Badan Standarisasi Nasional. 2002. Tata Cara
pada setiap lantainya Perencanaan Ketahanan Gempa
K (70/70) = Tulangan pokok 14D22, Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-
Tulangan geser = D10-445 1726-2002). Jakarta: Badan
K (75/75) = Tulangan pokok 16D22, Standarisasi Nasional
Tulangan geser = D10-445
K (80/80) = Tulangan pokok 18D22, Badan Standarisasi Nasional. 2002. Tata Cara
Perhitungan Struktur Beton Untuk
Tulangan geser = D10-445
Bangunan Gedung (SNI 03-2847-
K (90/90) = Tulangan pokok 22D22, 2002). Bandung : Badan Standarisasi
Tulangan geser = D10-445 Nasional
K (95/95) = Tulangan pokok 24D22,
Tulangan geser = D10-445 Bozorgnia, Y. and Bertero V. 2004.
K (100/100) = Tulangan pokok 28D22, Earthquake Engineering, From
Tulangan geser = D10-445 Engineering Seismology to
Performance-Based Engineering. New
d. Shear Wall menggunakan ukuran
York: CRC Press
tulangan utama adalah D20, sedangkan
11
Departemen Pekerjaan Umum. 1987.
Peraturan Pembebanan Indonesia
Untuk Gedung ( PPIUG ) 1987.
Jakarta : Departemen Pekerjaan
Umum

Farzad, Naeim. 2001. The Seismic Design


Handbook, 2nd ed. Boston: Kluwer
Academic Publishers

Ghosh, S.K. 2008. Seismic Design of RC


Structures using UBC/ACI Provisions.
Dubai.

M Hasan, Taufiq. 2010. Modifikasi


Perencanaan Struktur Gedung Graha
Pena surabaya Dengan Metode Flat
Slab. Skripsi. Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember

M Riza, Miftakhur. 2013. Aplikasi Perencanaan


Struktur Gedung Dengan ETABS.
Yogyakarta: ARS Group

McCormac, Jack C. 2001. Desain Beton


Bertulang Edisi Kelima Jilid 1 dan 2.
Jakarta: Erlangga

Nawy, Edward G.P.E. 1998 . BETON


BERTULANG (Suatu Pendekatan Dasar).
Bandung: Refika Adiatma

Purwono, R. Tavio, Imran. Raka, I.G.P. 2007.


Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-
2847-2002) Dilengkapi Penjelasan.
Surabaya: ITSPress

Taranath, B.S. 2010. Reinforced Concrete


Design of Tall Buildings. New York:
CRC Press.

Wang, Chu-Kia, Charles G. Salmon. 1992.


Binsar Hariandja. Disain Beton
Bertulang.

Widodo, 2000, Respons Dinamik Struktur


Elastik. Jogjakarta: UII Press

W.H.Mosley. Bungey, J.H. 2004. Perencanaan


Beton Bertulang edisi kedua

12