You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bijih besi atau yang juga kita kenal dengan sebutan besi saja
merupakan salah satu unsur yang paling sering kita manfaatkan dalam
kehidupan sehari hari. Besi ini memang diperoleh dari bijih besi yang
kemudian dilebur dan dicampur dengan unsur lain lalu kemudian menjadi
banyak sekali jenis jenis besi. Manfaat biji besi sangat besar perannya
dalam kehidupan sehari hari.

Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang


umumnya dilakukan melalui empat tahap sebagai berikut : survei tinjau,
prosepeksi, eksplorasi umum, dan eksplorasi rinci. Sebelum melakukan
tahapan eksplorasi, perlu diketahui bagaimana model geologi dari endapan
bijih besi dilapangan yang mana model geologi merupakan konsep keadaan
geologi yang ideal dari suatu endapan. Yang meliputi: data geologi,
topografi lapangan, struktur geologi, dsb.

Teknologi eksplorasi sumber daya alam terus dikembangkan seiring


dengan meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber daya alam tersebut.

Metoda geofisika merupakan metoda yang cukup ampuh untuk


memetakan sumber daya alam tersebut di bawah permukaan bumi.
Beberapa metoda geofisika yang telah banyak digunakan untuk ekplorasi
sumber daya alam misalnya, seismik, gayaberat, geolistrik dan magnetik.
Makalah ini akan membahas tentang kemampuan metoda magnetik untuk
memetakan dan menghitung potensi bijih besi dibawah permukaan. Daerah
penelitian adalah di kawasan Gunung Peben pulau Belitung, yang
sebelumnya dikenal sebagai penghasil bijih timah. Daerah ini merupakan
bagian dari gugus zona vulkanik-plutonik yaitu intrusi granit berumur Trias-

1
Kapur yang mengandung mineral magnetik. Zona ini terbentang dari bagian
Tenggara Benua Asia (Thailand) kemudian menerus ke Semenanjung
Malayasia dan berakhir di kepulauan Bangka- Belitung.

1.1 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu bijih besi ?
2. Bagaimana Genesa Bijih Besi tersebut ?
3. Apa saja Manfaat dari Bijih Besi ?
4. Dimana saja Persebaran Bijih Besi di Indonesia ?
5. Bagaimana Teknik Eksplorasi Bijih Besi tersebut ?
1.2 TUJUAN

Untuk mengetahui apa itu bijih besi, Bagaimana Genesa Bijih Besi dan
juga manfaat dari Bijih Besi , Persebaran Bijih Besi di Indonesia , dan juga
Seperti apa Teknik Eksplorasi dari Bijih Besi.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 BIJIH BESI

Bijih besi adalah cebakan yang digunakan untuk membuat besi


gubal.Bijih besi adalah batuan yang mengandung mineral-mineral besi dan
sejumlah mineral gangue seperti silika, alumina, magnesia, dan lain-lain.
Biji besi terdiri atas oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam
molekul. Besi sendiri biasanya didapatkan dalam bentuk magnetit (Fe3O4),
hematit (Fe2O3), goethit, limonit atau siderit. Bijih besi biasanya kaya akan
besi oksida dan beragam dalam hal warna, dari kelabu tua, kuning muda,
ungu tua, hingga merah karat.
Besi merupakan unsur kuat golongan VIII B yang mempunyai
nomor atom 26. Dan besi bisa setiap kali kita lihat di mana-mana dalam
kehidupan sehari-hari. Saat ini, cadangan biji besi nampak banyak, namun
seiring dengan bertambahnya penggunaan besi secara eksponensial
berkelanjutan, cadangan ini mulai berkurang, karena jumlahnya tetap.
Sebagai contoh, Lester Brown dari Worldwatch Institute telah
memperkirakan bahwa bijih besi bisa habis dalam waktu 64 tahun
berdasarkan pada ekstrapolasi konservatif dari 2% pertumbuhan per tahun.
Besi diperoleh dengan mengolah biji besi menjadi besi kasar. Biji
besi diperoleh dari alam dalam bentuk oksida besi. Pengolahan biji besi
dilakukan untuk mengurangi oksigen, sehingga disebut proses reduksi. Biji
besi yang ditemukan di alam mempunyai berbagai bentuk.

Bentuk Biji Besi


1. Berbentuk batu :
Magnetite Rumus kimia 3 4 (72,36% Fe, 27,64 % O). Warna abu-
abu tua sampai hitam. Bersifat magnetik kuat. Kadang-kadang
magnetite mengandung Titanium dalam bentuk inklusi Ilmenite. Jika

3
kandungan Ti mencapai 2-15%, magnetite disebut Titaniferous
magnetite.
Hematite Komposisi kimia 2 3 (69,94% Fe, 30,06% O). warna
abu-abu sampai merah, bersifat magnet dan merupakan jenis bijih besi
yang paling penting dalam industri baja.
Limonite Merupakan hydrous oxide (oksida besi yang mengandung
air) yang secara mineralogis terdiri dari beberapa macam campuran
mineral goethite. Goethite adalah mineral yang mempunyai komposisi
kimia 2 (62,85% Fe, 27,01% O, dan 10,14% air), berwarna
kuning atau coklat mendekati hitam.
Ilmenite mempunyai komposisi kimia 3 (36,80% Fe, 31,57%
Ti, dan 31,63% O). Ilmenite sering dapat bersama-sama dengan
magnetite, ilmenite juga dikenal sebagai besi titanat. Umumnya,
ilmenite ditambang untuk mendapatkan unsur titaniumnya, sedangkan
Fe hanya sebagai produk samping. Siderite Merupakan mineral besi
karbonat. Komposisi kimia 3 (48,20% Fe, 37,99% CO2, dan
13,81% O). berwarna putih sampai abu-abu kehijauan dan coklat.
Umumnya mengandung sejumlah kalsium, magnesium, dan mangan.
Bijih besi karbonat biasanya di kalsinasi terlebih dahulu sebelumnya
dimasukkan kedalam tanur tinggi (blast furnace). Karena
mengandung Ca dan Mg dalam jumlah yang cukup, unsur-unsur
tersebut bertindak sebagai flux yang berasal dari bijih sendiri
2. Berbentuk pasir :
Pasir besi titan (2 ) yang mengandung oksida besi kira-kira 70%
dan bercampur dengan oksida titan (2 2) 9% - 10%.
3. Berbentuk butiran halus campur tanah liat :
Pasir besi spat (3) atau disebut (sperosiderit) dengan kandungan
besi 40% bercampur dengan tanah liat. Pasir besi spat ini mengandung
karbon 10% - 25%.

4
KARAKTERISTIK / SIFAT FISIK

Rumus Kimia : Fe (Elemental Iron)


Kelas : Elements
Warna : abu-abu, besi-hitam
Kilap : Logam (metallic)
Transparansi : Opaque
Sistem Kristal : Isometrik
Belahan : Tidak Sempurna
Pecahan : Hackly (Bergerigi)
Kekerasan : 4 - 4.5 skala mohs
Berat Jenis : 7.3 7.87 /3
Cerat : abu-abu
Karakteristik lain : Malleable dan Isotropik
Asosiasi : Hematite, Magnetite, Siderite, Limonite,
Goethite, Taenite
Lingkungan Geologi : jarang terdapat pada batuan beku, paling
utama dibentuk di dalam inti bumi

2.2 GENESA BIJIH BESI

5
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat
dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa
tektonik, terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona
lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma
menerobos batuan tua, dicirikan dengan penerobosan batuan granitan (Kgr)
terhadap Formasi Barisan (Pb,Pbl). Akibat adanya kontak magmatik ini,
terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian
(replacement) pada bagian kontak magma dengan batuan yang
diterobosnya.

Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair


(fluida) yang berasal dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan
magma pada zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan
kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping
sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan
metamorfik yang banyak mengandung bijih.

Proses terjadinya cebakan bijih besi didaerah penelitian berkaitan


dengan proses-proses tersebut diatas, dalam hal ini peristiwa tektonik,
metamorfosa dan metasomatisme kontak berperan untuk terjadinya cebakan
bijih besi di daerah penelitian. Bila dikaitkan dengan batuan yang tersingkap
didaerah penelitian yaitu batuan metamorfosa seperti marmer yang dulunya
merupakan batugamping, maka dapat disimpulkan bahwa terbentuknya
bijih karena terjadinya proses metamorfosa pada batugamping. Kemudian
akibat proses magmatisme pada batugamping terjadi proses penggantian
(replacement) sehingga larutan yang mengandung mineral bijih
terendapkan bersamaan dengan terbentuknya batuan metamorfosa
(marmer).

Setelah proses mineralisasi (pasca-mineralisasi), terjadi kembali


peristiwa tektonik setempat yang membentuk sesar mendatar dan sesar
normal, struktur tersebut akan membentuk kembali geometri dari cebakan
mineral atau akan terjadi dislokasi.

6
Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi
bernilai ekonomis antara lain :

1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite


2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite
5. Konsentrasi mekanik dan
residual: Hematite, Magnetite dan Limonite
6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
7. Letusan Gunung Api

Penggolongan bijih menurut pembentukkannya

Besi primer (ore deposits)

Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat


dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa
tektonik, terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona
lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma
menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah
proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement)
pada bagian kontak magma dengan batuan yang diterobosnya.

Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida)
yang berasal dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma
pada zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan kontak
metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping
sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan
metamorfik yang banyak mengandung bijih.

Besi sekunder (endapan placer)

7
Cebakan mineral alochton dibentuk oleh kumpulan mineral berat
melalui proses sedimentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan
dibantu pergerakan media cair, padat dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi
mineral-mineral berat tersebut tergantung kepada tingkat kebebasannya dari
sumber, berat jenis, ketahanan kimiawi hingga lamanya pelapukan dan
mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi
menyebut endapan alochtontersebut sebagai cebakan placer.

Jenis cebakan ini telah terbentuk dalam semua waktu geologi, tetapi
kebanyakan pada umur Tersier dan masa kini, sebagian besar merupakan
cadangan berukuran kecil dan sering terkumpul dalam waktu singkat karena
tererosi. Kebanyakan cebakan berkadar rendah tetapi dapat ditambang
karena berupa partikel bebas, mudah dikerjakan dengan tanpa
penghancuran; dimana pemisahannya dapat menggunakan alat semi-
mobile dan relatif murah. Penambangannya biasanya dengan cara
pengerukan, yang merupakan metoda penambangan termurah.

Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya:

Genesa Jenis

Terakumulasi in situ selama Placer residual


pelapukan

Terkonsentrasi dalam media Placer eluvial


padat yang bergerak

Terkonsentrasi dalam media Placer aluvial atau


cair yang bergerak (air) sungai Placer
pantai

Terkonsentrasi dalam media Placer Aeolian


gas/udara yang bergerak (jarang)

8
Placer residual : Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan
terakumulasi langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung
emas atau kasiterit) yang telah mengalami pengrusakan/peng-hancuran
kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan. Jenis
cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata,
dimana didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang
tahan reaksi kimia (misal : beryl).

Placer eluvial : Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini


diendapkan di atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah
ditemukan placer eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya yang bernilai
ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong (pockets) permukaan batuan
dasar.

Placer sungai atau aluvial : Jenis ini paling penting terutama yang
berkaitan dengan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi,
dimana konfigurasi lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi
faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi
mineral berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada fraksi
mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber
(beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil daripada mineral
utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan sedimen
dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio hidraulik).

Placer pantai : Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh


pemusatan gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang
melemparkan partikel-partikel pembentuk cebakan ke pantai dimana air
yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan dari mineral
berat. Bertambah besar dan berat partikel akan diendapkan/terkonsentrasi di
pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas yang jelas dan membentuk
lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan terbalik dari ukuran dan berat
partikel, dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan mineral

9
berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit
mengandung mineral berat.

Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda


yang disebabkan oleh perubahan muka air laut, dimana zona optimum
pemisahan mineral berat berada pada zona pasang-surut dari suatu pantai
terbuka. Konsentrasi partikel mineral/bijih juga dimungkinkan pada
terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineral-mineral terpenting yang
dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan,
monazit, rutil, xenotim dan zirkon.

Mineral ikutan dalam endapan placer : Suatu cebakan


pasir besi selain mengandung mineral-mineral bijih besi utama tersebut
dimungkinkan berasosiasi dengan mineral-mineral mengandung Fe lainnya
diantaranya : pirit (2), markasit (), pirhotit (Fe1-xS), chamosit
[Fe2Al2SiO5(OH)4], ilmenit (3), wolframit [(Fe,Mn)WO4], kromit
(FeCr2O4); atau juga mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan nilai
tambah seperti : rutil (TiO2), kasiterit (SnO2), monasit [Ce,La,Nd, Th(PO4,
SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim (YPO4), zirkon (ZrSiO4)
dan lain-lain.

2.3 MANFAAT BIJIH BESI

Seperti sudah diketahui sebelumnya, besi memiliki banyak


sekali manfaat bagi kehidupan seharihari, terutama dalam bidang
konstruksi, karena besi memiliki struktur yang kuat dan tangguh. Berikut
ini adalah beberapa pemanfaatan dari unsur besi yang sering kita temui
dalam kehidupan sehari hari :

1. Bahan baku pembuatan besi baja dan kabel / kawat baja

Bijih besi murni yang dileburkan dan langsung dicetak tanpa


campuran berbagai macam unsur lainnya akan membentuk besi baja. Besi
baja dinilai memiliki kekuatan yang dangat baik dan sering digunakan

10
sebagai penopang konstruksi konstruksi dari proyek proyek bangunan.
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari besi baja :

Sebagai penopang konstruksi bawah tanah


Sebagai rangka dari pembuatan gedung bertingkat
Sebagai struktur konstruksi jembatan
Kawat dan tali baja dapat digunakan sebagai alat pengangkut pada
crane, dan alat Derek
Digunakan sebagai beberapa spare part kendaraan, seperti roda, bodi
dan bagian lainnya, terutama pada kendaraan berat dan special.

2. Sebagai bahan dasar pembuatan tiangtiang rambu lalu lintas dan LPJ (
lampu penerangan jalan )

Bjih besi yang dilebur dapat dicampur dengan unsur lain, seperti
jenis alumunium untuk membuat tiang tiang lampu jalanan dan rambu lalu
yang kuat, namun ringan. Selain itu campuran ini juga dinilai ekonomis dan
mudah dalam perawatan, serta memiliki ketahan terhadap korosi atau karat
yang cukup bagus.

3. Sebagai bahan pembuatan besi tuang

Besi tuang merupakan salah satu jenis logam ferro. Logam ferro
merupakan jenis logam yang dibuat dengan campuran antara besi dan
karbon. Hasil campuran ini akan menciptakan logam yang sangat kuat dan
tahan lama. Biasanya jenis besi tuang ini diaplikaskan dan dimanfaatkan
untuk :

Alas mesin
Meja perata
Blok silinder pada mesin kendaraan dan mesin konstruksi
Cincin torak

11
4. Besi tempa

Beberapa bijih besi akan dicetak dengan ukuran ukran tertentu dan
dibuat menjadi lembaran lembaran. Hal ini diperuntukkan untuk keperluan
besi tempa. Besi tempa merupakan jenis besi yang mengandung 99% bijih
besi, yang akan dibuat menjadi suatu barang. Berikut ini adalah beberapa
aplikasi dari besi tempa :

Sebagai bahan senjata, seperti keris dan pedang


Sebagai plat penambal lubang atau kebocoran pada konstruksi besi
Sebagai peyambung konstruksi besi (dengan cara di las)
Untuk pembuatan bracket bracket atau dudukan

5. Pembuatan baja lunak

Berbeda dengan besi baja murni yang sangat kuat, terutama untuk
pembuatan proyek konstruksi, baja lunak merupakan campuran antara bijih
besi dengan karbon, dengan kandungan campuran karbon sebanyak 0.1
0.3%. biasanya jenis baja ini dapat ditempa, dan mudah dipotong dengan
menggunakan gergaji tangan. Berikut ini beberapa pemanfaatan dari baja
lunak :

Pembuatan mur, sekrup, dan baut


Pembuatan perkakas, seperti obeng dan semacamnya
Pembuatan pipa pia non pralon

6. Baja sedang

Merupakan jenis baja yang lebih keras dan kuat dibandingkan baja
lunak. Baja sedang memiliki kandungan campuran besi dan karbon, dengan
kadar karbon sebanyak 0.4 0.6%. Baja sedang ini sering dimanfaatkan
sebagai alas dan poros dari peralatn berat. berikut ini beberapa manfaat dari
baja sedang :

12
As roda dari alat berat dan beberapa truk besar
Membuat rel kereta
Alat tempa

7. Baja dengan campuran karbon yang tinggi dan tambahan campuran


lainnya

Bijih besi yang dibuat menjadi baja jenis ini biasanya memiliki
kandungan campuran karbon sebanyak 0.7 1.5 % dan juga biasanya sering
ditambahkan campuran unsur lain, seperti nikel, kobalt, dan krom. Baja
jenis ini memiliki kualitas yang baik dari segi kekuatan dan ketahanan dan
biasanya anti karat. Berikut ini adalah beberapa pemanfaatan dari baja jenis
ini :

Bahan dasar pembuatan perkakas berat, seperti gergaji, pahat, stempel.


Pembuatan mesin bubut dan peralatan untuk melakukan bubut, seperti
bor dan gerinda
Pembuatan peralatan dan spare part dari mesin mesin besar.

8. Sebagai aksesoris dan peralatan rumah tangga

Selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan peralatan


konstrukis, bijih besi juga dapat dimanfaatkan sebagai aksesoris dan
peralatan rumah tangga. Banyak aksesoris dan peralatan rumah tangga yang
dapat dibuat dengan menggunakan bijih besi, yang tentunya dicampur
dengan unsur lain, seperti nikel, krom, tembaga dan lainnya. Berikut ini
aksesoris yang memiliki bahan dasar besi :

Gelang, kalung dan cincin


Gagang kacamata
Pembuatan kunci rumah
Peralatan dapur

13
9. Sebagai bahan pembuatan rangka kendaraan

Bijih besi yang sudah menjadi besi juga dapat menjadi bahan baku
pembuatan rangka kendaraan, seperti sepeda, motor dan mobil. Dengan
menggunakan rangka dari bahan besi, kualitas kendaraan akan menjadi
lebih baik, dan kuat, namun mudah mengalmi korosi alias karat, sehingga
harus dirawat dengan tepat.

2.4 PERSEBARAN BIJIH BESI DI INDONESIA

PETA PERSEBARAN BIJIH BESI DI INDONESIA

Tambang bijih besi di Indonesia terdapat di:

1. Cilacap, Jawa Tengah


2. Cilegon, Banten
3. Gunung Tegak, Lampung
4. Lengkabana, Sulawesi Tengah

14
5. Longkana, Sulawesi Tengah
6. Peg. Verbeek, Sulawesi Tengah
7. Pulau Demawan, Kalimantan Selatan
8. Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan
9. Pulau Suwang, Kalimantan Selatan.

Pengolah bijih besi terbesar adalah PT. Krakatau Steel yang berada di Cilegon,
Jawa.

2.5 TEKNIK EKSPLORASI BIJIH BESI

Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah


banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan
pedoman teknis eksplorasi bijih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan
acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan
eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan
tersebut di atas sampai pelaporan.

Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan


eksplorasi sebelum pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah
pekerjaan lapangan. Kegiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan
untuk mengetahui untuk mengetahui prospek cebakan bijih besi primer,
meliputi studi literature dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan
meliputi peta topografi, peta geologi, alat bor inti, alat ukur topografi, palu
dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali,
magnetometer, kappameter dan peralatan geofisika.

Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan


geologi meliputi pemetaan, pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran
topografi, survey geofisika dan pemboran inti.

Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain


adalah analisis laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium
meliputi analisis kimia dan fisika. Unsur yang dianalisis kimia antara lain:
Fe total, Fe2O3, Fe3O4, TiO2, S, P, SiO2, MgO, Cao, K2O, Al2O3, LOI.

15
Analisis fisika yang dilakukan antara lain: mineragrafi, petrografi, berat
jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari
penyelidikan lapangan dan analisis laboratorium.

Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang


umumnya dilakukan melalui empat tahap sbb: survey tinjau, prospeksi,
eksplorasi umum, eksplorasi rinci/detil.

Survey tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-


daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional.
Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah yang
mengandung endapan mineral yang potensial.

Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang merupakan deliniasi awal


dari suatu endapan yang teridentifikasi. Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi
untuk mendeliniasi secara rinci dalam 3 dimensi terhadap endapan mineral
yang telah diketahui dari percontohan singkapan, paritan, lobang bor, shafts
dan terowongan.

Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan


aspek-aspek geologi di antaranya: pemetaan geologi, parit uji, sumur uji.
Pemetaan adalah pengamatan dan pengambilan conto yang berkaitan
dengan aspek geologi di lapangan. Pengamatan yang dilakukan meliputi
jenis lithologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan
pengambilan conto berupa batuan terpilih.

Penyelidikan geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat


fisik batuan, untuk mengetahui struktur bawah permukaan, geometri
cebakan mineral, serta sebarannya secara horizontal maupun secara vertical
yang mendukung penafsiran geologi dan geokimia secara langsung maupun
tidak langsung.

Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geofisika. Penentuan


jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis
adalah suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar

16
perhitungan cadangan yang berlaku, karena akan berpengaruh terhadap
optimasi rencana usaha tambang, umur tambang dan hasil yang akan
diperoleh.

Dalam penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain :

Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi

Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasar korelasi seluruh data


eksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll.

Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio


dan kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya
bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah
permukaan.

Tatacara eksplorasi pasir besi meliputi urutan kegiatan eksplorasi pasir


besi mulai dari kegiatan sebelum pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan
lapangan yang dilakukan untuk mengetahui potensi pasir besi.

Kegiatan Sebelum Pekerjaan Lapangan :

Studi literatur yang dilakukan meliputi pengumpulan dan pengolahan


data serta laporan kegiatan sebelumnya.

Studi Penginderaan Jarak Jauh dengan jenis data yang dapat digunakan
dalam studi ini meliputi : data Citra Landsat MSS TM/Tematic mapper,
SLAR, Spot image dan foto udara. Dengan data jarak jauh ini dapat
dilakukan interpretasi gejala-gejala geologi yang berguna sebagai
acuan dala eksplorasi pasir besi.

Studi Geogisika dengan Eksplorasi Bijih Besi (Iron Ore) menggunakan


metode geomagnetik, geolistrik (geoelectric), metode gravitasi dan
seismik. Masing-masing metode diterapkan sesuai dengan objek bahan
galian yang akan diselidiki. Misalnya geolistrik sangat cocok untuk
mengetahui potensi air tanah ground water). Metode ini juga dapat

17
diterapkan untuk eksplorasi mineral seperti bijih besi dan mangan.
Namun akurasinya rendah dikarenakan nilai resistivitas skala
laboratorium untuk beberapa jenis mineral berbeda dengan skala
lapangan. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh struktur batuan.
Contoh lainnya adalah metode magnetik, cocok digunakan untuk
eksplorasi mineral megnetis seperti megnetit dan hematite. Metode ini
didasarkan pada nilai anomali medan magnet bumi di suatu kawasan
survey. Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi memiliki sifat seperti
magnet (dwikutub) yaitu kutub utara dan selatan. Dalam artikel ini akan
diulas secara singkat mengenai eksplorasi mineral dengan metode
magnetic atau biasa juga disebut sebagai metode geomagnetic. Untuk
memahami metode geomagnetic, ada baiknya diulas secara ringkas
beberapa teori dasar tentang kemagnetan dan beberapa kajian yang
berkaitan dengannya.

Kegiatan Pekerjaan Lapangan :

Pemetaan Geologi dalam penyelidikan pasir besi meliputi pemetaan


batas pasir pantai dengan litologi lainnya, sehingga dapat diperoleh
gambaran sebaran endapa pasir.

Pengukuran Topografi dilakukan untuk menggambarkan morfologi


pantai dan perencanaan penempatan titik-titik lokasi pemboran dan
sumur uji serta lintasan geofisika. Urutan kegiatan yang dilakukan
dalam pengukuran topografi adalah sebagai berikut:

Penentuan koordinat titik awal pada punggungan sand dune.

Pembuatan garis sumbu utama (base line) dan

Pengkuran siku-siku untuk garis lintang (cross line).

Garis sumbu utama diusahakan searah dengan garis pantai dan


garis-garis lintang yang merupakan tempat kedudukan titik bor,

18
arahnya dibuat tegak lurus terhadap sumbu utama dengan
interval jarak tertentu.

Geofisika (geomagnetik) metoda geofisika yang digunakan dalam


studi ini adalah metoda geomagnetic yang meliputi: aeromagnetic,
namun jarang diterapkan. Tujuan dari penerapan metoda ini adalah
untuk mencari sebaran anomaly magnetic daerah pantai yang
dieksplorasi.

Pemboran, ini dimaksudkan untuk mengambil conto-conto pasir besi


baik yang ada di atas permukaan laut maupun yang berada di
bawahnya.

Pekerjaan pemboran pasir besi dilakukan dengan menggunakan bor


dangkal baik yang bersifat manual (Doormer) maupun bersifat semi
mekanis. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Penentuan lokasi titik bor

Setting alat bor

Pembuatan lobang awal dengan menggunakan mata bor jenis


Ivan sampai batas permukaan tanah.

Setelah menembus lapisan air tanah, pemboran dilakukan


dengan menggunakan casing yang didalamnya dipasang bailer.

Pemboran dihentikan sampai pada batas batuan dasar.

Pengambilan conto pasir dipermukaan air tanah dilakukan dengan


sendok pasir (sand auger) jenis Ivan berdiameter 2.5 inchi, sedangkan
conto pasir yang berada di bawah permukaan air tanah dan bawah
permukaan air laut diambil dengan bailer yang dilengkapi ball valve.
Conto-conto diambil untuk setiap kedalaman 1,5 meter atau setiap satu
meter dan dibedakan antara conto dari horizon A, conto dari horizon B
dan conto dari horizon C.

19
Pola pemboran dan interval titik bor yang digunakan pada pekerjaan
ini disesuaikan dengan tahapan survey, sebagai contoh pada tahapan
eksplorasi rinci digunakan pola pemboran dengan intervakl 100 x 20
m.

Pembuatan sumur uji, pada umumnya dilakukan pada pasir besi undak
tua yang telah mengalami kompaksi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk
mengambil conto-conto pasir besi pantai sampai mencapai permukaan
air dan untuk mengetahui profil/penampang tegak perlapisan pasir besi.

Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Penentuan lokasi sumur uji

Penggalian dengan luas bukaan sumur 1m x 1m atau 1.5m x


1.5m.

Bila terjadi runtuhan maka dibuat penyangga.

Pembuatan sumur dihentikan apabila telah mencapai batuan


dasar.

Pengambilan conto pasir besi dari sumur uji diambil dengan interval
setiap 1 meter menggunakan metoda chanel sampling dengan ukuran
5cm x 10cm.

Preparasi conto, proses preparasi di lapangan untuk conto bor dan


sumur uji dapat dilakukan dengan dua metoda, yaitu : increment atau
riffle splitter. Conto yang diambil harus homogen dari setiap interval
kedalaman. Dengan pengambilan yang cukup representative akan
menjamin ketelitian dalam analisis kimia, perhitumgam sumber daya
atau cadangan dari endapan pasor besi pantai. Pengambilan conto-
conto tersebut tersebut didasari oleh prosedur baku dalam eksplorasi
endapan pasir besi pantai.

Kegiatan yang dilakukan dalam proses preparasi dengan metoda


increment mengacu pada Japan Industrial Standard (JIS), yaitu:

20
Conto pasir hasil pemboran atau sumur uji ditampung pada
wadah dan diaduk hingga homogen.

Conto tersebut di atas dimasukkan dalam kotak increment,


diratakan dan dibagi dalam kotak-kotak.

Conto di reduksi dengan menggunakan sendok increment dari


kotak increment, dari tiap-tiap kotak ditampung dalam kantong
conto.

Conto hasil reduksi kemudian dikeringkan.

Conto yang sudah dikeringkan dari tiap-tiap interval dibagi


menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk conto individu, satu bagian
untuk conto komposit dan satu bagian untuk duplikat.

Satu bagian conto dari tiap interval digabumgkan dengan


interval lainnya menjadi conto komposit.

Kegiatan yang dilakukan dalam proses preparasi denagn metoda riffle


splitter, yaitu :

Conto pasir hasil pemboran atau sumur uji ditampung pada suatu
wadah dan diaduk hingga homogen kemudian dikeringkan.

Conto yang telah kering direduksi dengan riffle splitter hingga


mendapatkan berat yang diinginkan (3 kg).

Conto yang sudah mengalami splitting dari tiap-tiap interval


dibagi menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk conto individu, satu
bagian untuk conto komposit dan satu bagian untuk duplikat.

Satu bagian conto dari tiap interval digabungkan dengan interval


lainnya menjadi conto komposit.

Penentuan persentase kemagnetan (MD), di awali dengan pemisahan


mineral magnetic dengan non-magnetik, sebagai berikut:

21
Hasil preparasi conto di lapangan sebanyak 1 kg, direduksi
hingga 100gram menggunakan splitter (conto hasil reduksi).

Conto hasil reduksi ditaburkan dalam suatu tempat secara


merata.

Pemisahan dilakukan dengan menggerakkan magnet batang 300


gauss berulang-ulang minimal 7 kali di atas selembar kaca
setebal 2mm yang dibawahnya tertabur conto pasir untuk
mendapatkan conto konsentrat yang cukup bersih. Jarak antara
magnet batang dengan lapisan pasir harus dibuat tetap untuk
menghindari perbedaa kuat medan magnet.

Konsentrat yang diperoleh dari pemisahan medan magnet


ditimbang dalam satuan gram. Dengan membandingkan berat
konsentrat dan berat conto hasil reduksi maka didapatkan harga
persentase magnetik dengan rumus:

Berat konsentrat MD : x 100% Berat conto hasil reduksi

Penentuan Berat Jenis insitu dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Penghitungan volume conto dari bor berdasarkan perhitungan


volume bagian dalam casing dengan rumus:

V = x r2 x t

Keterangan : V = volume conto

= konstanta (3.14)

r = jari-jari bagian dalam casing

t = ketinggian conto dalam casing

Penentuan berat dengan cara menimbang setiap interval conto.

22
Kegiatan Setelah Pekerjaan Lapangan

Analisa Laboratorium dilakukan conto-conto setelah dikumpulkan.


Pekerjaan analisa laboratorium meliputi analisa kimia dan fisika.

Analisa kimia dilakukan terhadap conto individu untuk mengetahui


kandungan unsur dalam konsentrat, antara lain: Fe total (FeO dan
Fe2O3, Fe3O4) dan Titan. Analisa kimia dapat dilakukan dengan
beberapa metoda, antara lain AAS, volumetric, XRF dan ICP.

Analisa fisika yang dilakukan antara lain analisa besar butir, analisa
ayak, analisa sifat magnetik dan analisa berat jenis. Analisa mineral
butir dilakukan untuk mengetahui jenis dan persen berat mineral baik
untuk fraksi magnetik maupun nonmagnetik. Conto yang dianalisa
mineral butir berasal dari conto komposit, yang mewakili wilayah/blok
pemboran. Analisa ayak dimaksudkan untuk mengetahui ukuran butiran
pasir besi yang dominan. Analisa ayak dilakukan terhadap conto pilihan
berasal dari bagian-bagian blok interval dalam bentuk conto komposit
berat 500 gram yang dibagi menjadi 6 fraksi, yakni:

1. butiran yang lebih besar +2mm atau +10 mesh

2. butiran antara -2 +1mm atau -10 +18 mesh

3. butiran antara -1 +1/2mm atau -18 +35 mesh

4. butiran antara -1/2 + 1/4mm atau -35 +72 mesh

5. butiran antara -1/4 +1/8mm atau -72 +150 mesh, dan

6. butiran yang lebih kecil dari -1/8mm

Masing-masing fraksi jumlahnya dinyatakan dalam persen berat yang


dapat digambarkan dalam bentuk diagram balok sehingga sebaran fraksi
pasir besi yang dominan dapat diketahui.

Analisa berat jenis dimaksudkan untuk mengetahui berat jenis pasir


besi. Analisa dilakukan dengan cara conto asli (crude sand) seberat 100
gram dimasukkan ke dalam air yang diketahui volumenya di dalam

23
gelas ukur. Untuk memudahkan perhitungan ditetapkan volume 200 cc,
apabila kenaikan air menjadi A cc maka volume pasir yang dimasukkan
= A-200 cc. Jadi berat jenis + 100/(A-200) gram/cc.

Pengolahan Data dari hasil pengamatan dan analisa laboratorium


diolah dan ditafsirkan secara seksama untuk memberikan gambaran
tentang kondisi geologi daerah penelitian yang yang berkembang dari
aspek genetic, posisi, hubungan serta distribusinya.

Data hasil analisa MD dan pemboran dibuat profil penyebaran endapan


pasir besi terhadap sumbu panjang (sejajar pantai) dan sumbu pendek
(tegak lurus pantai) dan isograde. Lokasi-lokasi pengambilan conto di
plot dalam peta topografi hasil pengukuran (peta lokasi pengambilan
conto dan peta isograde).

Peta-peta yang dihasilkan bertujuan untuk keperluan penambangan,


misalnya peta isograde dan peta topografi serta penampang tegak
sebaran bijih besi kea rah kedalaman baik sejajar garis pantai maupn
yang memotong tegak lurus garis pantai. Bentuk-bentuk gumuk pasir
baik yang front maupun back dunes dipetakan secara rinci.

Perhitungan sumberdaya secara manual dilakukan dengan beberapa


metoda, antara lain:

Metoda Daerah Pengaruh dengan rumus:

C = (L x t) x MD x SG

Di mana

C = Sumberdaya dalam ton

L = Luas daerah pengaruh dalam m2

T = Tebal rata-rata endapan pasir besi dalam meter

MD = Prosentase kemagnetan dalam %

SG = Berat jenis dalam ton/m3

24
Metoda Geostatistik

Metoda ini digunakan untuk membantu dalam perhitungan


estimasi sumberdaya/cadangan endapa bahan galian di mana
nilai conto merupakan realisasi fungsi acak (statistic spasial).
Pada hipotesis ini, nilai conto merupakan suatu fungsi dari posisi
dalam cebakan, dan posisi relative conto dimasukkan dalam
pertimbangan. Kesamaan nilai0nilai conto yang merupakan
fungsi jarak conto serta yang saling berhubungan ini merupakan
dasar teori statistic spasial.

Metoda ini jarang dilakukan dalam perhitungan estimasi


sumberdaya/cadangan pasir besi. Untuk mengetahui sejauh mana
hubungan spasial antara titik-titik d dalam cebakan, maka harus
diketahui fungsi strukturalnya yang dicerminkan oleh model
semivariogramnya. Menetapkan model semivariogram
merupakan langkah awal dalam perhitungan geostatistik,
selanjutnya dengan perhitungan varian estimasi, varian dispersi,
varian kriging, dan lain-lain.

Metoda geostatistik yang digunakan dalam eksplorasi pasir besi


adalah varian estimasi. Pada metoda ini estimasi suatu cadangan
dicirikan oleh suatu ekstensi/pengembangan satu atau beberapa
harga yang diketahui terhadap daerah sekitarnya yang tidak
dikenal. Suatu harga yang diketahui (diukur pada conto inti, atau
pada suatu blok) diekstensikan terhadap bagian-bagian yang
diketahui pada suatu endapan bijih.

Ada beberapa cara estimasi yang sudah dikenal pada kegiatan


pertambangan antara lain:

a. Estimasi kadar rata-rata suatu kadar yang di dapat dari analisis conto
pemboran/sumur uji.

25
b. Estimasi endapan bijih pada suatu tambang atau blok-blok
penambangan denagn menggunakan sistem poligon sebagai daerah
pengaruh, yang antara lain di dasari oleh titik-titik pengamatan
berkutnya, pembobotan secara proporsional yang berbanding terbalik
dengan jarak dan lain-lain.

c. Tujuan dari penggunaan metoda ini antara lain untuk memperoleh


gambaran tiga dimensi dari bentuk endapan pasir besi. Pada
penerapannya untuk perhitungan dalam geostatistik umumnya
memerlukan bantuan computer. Geoplan merupakan perangkat lunak
yang diperlukan dala paket perhitungna variagram. Selain itu juga
digunakan perangkat lunak program KRIG3D yang merupakan paket
program kriging, varian estimasi dan varian dispersi.

BAB III
PENUTUP

26
3.1 KESIMPULAN
Bijih besi adalah cebakan yang digunakan untuk membuat besi
gubal.Bijih besi adalah batuan yang mengandung mineral-mineral besi dan
sejumlah mineral gangue seperti silika, alumina, magnesia, dan lain-lain.
Biji besi terdiri atas oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam
molekul.

Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat


dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa
tektonik, terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona
lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma
menerobos batuan tua, dicirikan dengan penerobosan batuan granitan (Kgr)
terhadap Formasi Barisan (Pb,Pbl). Akibat adanya kontak magmatik

Manfaat dari Bijih Besi bisa di aplikasikan pada : Bahan baku


pembuatan besi baja dan kabel / kawat baja, Sebagai bahan pembuatan besi
tuang, Pembuatan baja lunak, Besi tempa, Baja sedang, Baja dengan
campuran karbon yang tinggi , Sebagai bahan pembuatan rangka kendaraan

Persebaran Bijih besi di Indonesia terdapat di :Cilacap (Jawa


Tengah), Cilegon (Banten), Gunung Tegak (Lampung), Peg. Verbeek
(Sulawesi Tengah), Pulau Demawan (Kalimantan Selatan)

Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah


banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan
pedoman teknis eksplorasi bijih besi.v Pedoman dimaksudkan sebagai
bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum
dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan
kegiatan tersebut di atas sampai pelaporan.

27
3.2 SARAN
Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar dapat
mengetahui dan mengambil manfaat dari pengenalan Bijih Besi serta
mampu mampu menerapkan nya dalam kehidupan sehari-hari.

28