Вы находитесь на странице: 1из 9

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bunuh diri dan percobaan bunuh diri atau membahayakan diri sendiri
(Suicide) dengan sengaja atau lebih sering dikenal dengan sebutan DSH
(deliberate self-harm), istilah yang terakhir ini menjadi topik besar dalam
psikiatri kontemporer, karena jumlah yang terlibat dan riset yang mereka
buat. Di dunia, lebih dari 1000 bunuh diri terjadi tiap hari; di inggris ada
lebih dari 3000 kematian bunuh diri tiap tahun. Percobaan bunuh diri 10
kali lebih sering; sekarang peracunan diri sendiri bertanggung jawab bagi
15% dari pasien medis yang masuk rumah sakit (Ingram, 1993).

Berdasarkan data WHO tahun 2012 mencatat ada 800 ribu kejadian
bunuh diri terjadi setiap tahun, bukan hanya itu kejadian bunuh diri
merupakan penyebab ke-5 kematian tertinggi di dunia. Di indonesia
sendiri angka kejadian bunuh diri tahun 2010 berjumlah 1,8 per 100 ribu
orang dan pada tahun 2012 menjadi 4,3 per 100 ribu orang pertahunnya
atau berjumlah 10 ribu kasus bunuh diri pertahun.

Perilaku bunuh diri termasuk dalam perilaku dekstruktif, dimana pada


perilaku tersebut merupakan suatu kondisinya yang apabila tida dicegah
akan mengarah kepada kematian. Salah satu dari perilaku ini adalah
ketika seseorang mengalami kekerasan secara seksual pada perempuan
yang melakukan pernikahan di usia muda, dimana ketika seseorang
tersebut mengalami tingkat depresi yang berat akan mengarah pada cara
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri (Purwanto, 2015).

Di indonesia ketika ada seseorang yang gagal melakukan bunuh diri


maka perawatan mentalnya tidak akan mendapatkan penanggungan dari
asuransi kesehatan (BPJS), padahal pada pasien dengan perilaku bunuh
diri yang mengalami perubahan secara patologis adalah mental bukan
fisiknya. Hal inilah yang membuat tenaga kesehatan terkadang berbohong
dengan menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan suatu
kecelakaan, maka berdasarkan latar belakang tersebut kami sebagai
kelompok hendak membuat makalah dengan pembahasan kedaruratan
psikiatri dengan kasus suicide.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana pengertian dari suicide ?
b. Bagaimana etiologi dari suicide ?
c. Bagaimana manifestasi dari suicide ?
d. Bagaimana patofisiologi dari suicide ?
e. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari suicide ?
f. Bagaimana penatalaksanaan dari suicide ?
g. Bagaimana komplikasi dari suicide ?
h. Bagaimana asuhan keperawatan dari suicide ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Umum
Dengan disusunnya makalah ini, Mahasiswa dan semua pihak
yang bersangkutan dengan dunia kesehatan semoga bisa menjadikan
makalah ini sebagai salah satu sumber refrensi untuk
mengembembangkan dan memberikan asuhan keperawatan kegawat
daruratan psikiatri dengan baik khususnya pada klien dengan suicide.

1.3.2 Khusus
a. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
pengertian dari suicide.
b. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
etiologi dari suicide.
c. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
manifestasi klinis dari suicide.
d. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
pathofisiologi dari suicide.
e. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
pemeriksaan penunjang dari suicide.
f. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
penatalaksanaan dari suicide.
g. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami
komplikasi dari suicide.
h. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan asuhan
keperawatan kegawat daruratan psikiatri dengan baik pada
klien suicide.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa, baik penyusun maupun
pembaca adalah untuk menambah wawasan asuhan keperawatan
kegawat daruratan psikiatri dengan baik pada klien suicide.

1.4.2 Bagi institusi


Makalah ini bagi institusi pendidikan kesehatan adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik
dalam menelaah suatu fenomena kesehatan yang spesifik tentang
suicide.

1.4.3 Bagi masyarakat


Makalah ini bagi masyarakat adalah sebagai penambah
wawasan terhadap fenomena kesehatan yang saat ini menjadi
momok tersendiri di kalangan masyarakat ini.
BAB 2
Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi

Bunuh diri (bahasa Inggris: suicide, berasal dari


kata Latin suicidium, dari sui caedere, "membunuh diri sendiri") adalah
sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri.
Bunuh diri (suicide) merupakan suatu respon perilaku maladaptif
dari perilaku destruktif, perilaku dekstruktif merupakan suatu perilaku yang
apabila tidak dicegah akan dapat mengarah pada kematian karena orang
dengan perilaku destruktif akan menyakiti dirinya (Purwanto,2015).

2.2 Etiologi

Menurut William dan Rawlins mengemukakan bahwa beberapa


perilaku maladaptif yang dapat menimbulkan seseorang untuk bunuh diri,
yaitu;

1. Ketidakberdayaan
2. Putus asa
3. Apatis
4. Gagal dalam kehidupan
5. Sedih dan depresi
6. Pernah bunuh diri sebelumnya

2.3 Manifestasi Klinis

Menurut David A. Tomb tahun 2003 mengemukakan beberapa hal


yang menjadi manifestasi klinis dari terjadinya bunuh diri, yaitu ;

1. Pasien pernah mencoba bunuh diri.


2. Keinginan untuk bunuh dinyatakan secara terang terangan maupun
tidak, atau berupa ancaman. Misalkan pasien berkata saya tidak
akan bertemu lagi dengan kalian.

3. Secara objektif terlihat mood depresif atau kecemasan.

4. Baru mengalami kehilangan yang bermakna (misal, pekerjaan, harga


diri, pasangan hidup).

5. Perubahan sikap mendadak; mudah marah, sedih atau menarik diri.

6. Perubahan perilaku yang tidak terduga, menyampaikan pesan


pesan, membagikan barang barang miliknya.

2.4 Patofisiologi

Bunuh diri dapat terjadi karena stres yang berlebihan yang dialami
individu. Faktor pencetus seringkali berupa peristiwa kehidupan yang
memalukan seperti masalah hubungan interpersonal, dipermalukan di
depan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman penahanan dan dapat juga
pengaruh media yang menampilkan peristiwa bunuh diri. Ketika
seseorang dengan perilaku maladaptif terhadap sesuatu dan merasakan
depresi dan ketidakberdayaan akan sesuatu serta merasakan rasa putus
asa maka akan muncul rasa untuk melakukan bunuh diri, maka ketika
seseorang tersebut berfikir cara untuk melakukan bunuh maka ia akan
memikirkan bagaimana cara yang bagi dia untuk melakukan bunuh diri
sehingga ia akan berhasil melakukan bunuh diri.

2.5 pemeriksaan penunjang

Intensitas bunuh yang dikemukakan oleh Bailey dan Dreyer (1997,


dikutip oleh Shivers, 1998, hal. 475) mengkaji intensitas bunuh diri yang di
sebut SIRS (Suicidal intertion rating scale), intensitas bunuh diri dengan
skor 0-4 di jelaskan dengan tabel di bawah ini:
skor Intensitas
0 Tidak ada ide bunuh diri yang lalu atau sekarang
1 Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak
mengancam bunuuh diri.
2 Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh
diri.
3 Mengancam bunuh diri, misalnya: tinggalkan saya sendiri atau
saya bunuh diri
4 Aktif mencoba bunuh diri

2.6 Penatalaksanaan

Dalam memberikan tindakan keperawatan perilaku pasien yang


cenderung destruktif tidaklah boleh mempengaruhi perawat, karena pada
pasien dengan kecenderungan destruktif akan menyakiti bahkan
membunuh dirinya sendiri maka perawata tidak boleh percaya kepada
pasien. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah menjauhkan
pasien dari perilaku yang membahayakan diri sendiri secara fisik, pada
pasien dengan bunuh diri difokuskan pada melindungi pasien dari
perilakunya sendiri yang dapat membahayakan diri sendiri.

Pertama tama di ICU harus diatasi akibat dari bunuh diri.


Selanjutnya diadakan penilaian psikologis dan faktor resiko. Evaluasi
dilakukan untuk meilhat status mental secara keseluruhan dan faktor
resiko. Pengobatan yang paling tepat dengan mengatasi masalah.
Kebanyakan bunuh diri dapat dicegah, pasien dirawat sampai tidak
terdapat faktor resiko. Pertama tama yang harus diperhitungkan usaha
untuk melakukan bunuh diri kimia, fisik atau usaha usaha lainnya.
Selanjutnya apakah terdapat penyakit penyakit dasar seperti depresi
dan penyakit primer.

Selain dari psikoterapi diberikan pula benzodiazepin, akan tetapi


benzodiazepin juga menimbulkan iritabilitas dan merupakan faktor resiko
untuk menjadi bunuh diri. Lorazepam dapat diberikan dalam waktu yang
lama (3 kali dalam 1 mg dalam waktu 2 atau 3 minggu). Aripripazol juga
dapat diberikan sebagai bentuk golongan obat antipsikotika yang juga
sudah disetujui oleh FDA (Food and Drugs Administration).

2.7 Komplikasi

Pada pasien dengan bunuh diri hanya terdapat satu komplikasi


yang akan terjadi, yaitu : kematian.

2.8 Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1. Tinjau kembali riawayat klien untuk adanya stressor pencetus dan


data signifikan tentang ;

a. Kerentanaan genetika biologik.

b. Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan kehilangan yang


baru dialami.

c. hasil dari alat pengkajian yang terstandardidasi untuk depresi.

d. Episode episode gangguan mood atau perilaku bunuh diri di


masa lalu.

e. Riwayat pengobatan.

f. Penyalahgunaan obat dan alkohol.

g. Riwayat pendidikan dan pekerjaan.

2. Catat ciri ciri respon fisiologik, kognitif, emosional, dan perilaku dari
individu dengan gangguan mood.

3. kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas perilaku bunuh diri
klien; tujuan klien bunuh diri, rencana bunuh diri, keadaan jiwa,
sistem pendukung, stresor saat ini.
4. kaji sistem pendukung keluarga.

B. Analisi dan diagnosis keperawatan

1. Ansietas

2. Gangguan citra tubuh

3. Ketidakefektifan koping

4. Ketidakpatuhan

5. Harga diri rendah situasional

6. Distres spiritual

7. Resiko bunuh diri

8. Resiko kesepian

9. resiko harga diri rendah situasional

10. resiko terhadap diri sendiri perilaku kekerasan

C. Perencanaan

D. Implementasi

E. Evaluasi

Evaluasi pada tingkah laku bunuh diri memerlukan pemantauan


yang teliti tentang tingkah laku klien setiap hari, perubahan dapat segera
terjadi yang memerlukan modifikasi perencanaan. Peran serta klien pada
perencanaan, evaluasi dan modifikasi rencana sangat membantu
pencapaian tujuan asuhan keperawatan.

Terdapat tujuh hal yang dapat kita evaluasi pada pasien dengan
resiko bunuh diri :

1. Apakah ancaman terhadap integritas fisik atau sistem diri


pasien telah berkurang sifat, jumlah, asal atau waktunya ?
2. Apakah perilaku pasien mencerminkan kepeduliannya terhadap
kesejahteraan fisik, psikologis dan kesejahteraan sosial ?
3. Apakah sumber koping pasien telah dikaji dan dimobilisasi
secara adequat ?
4. Apakah pasien menggambarkan diri dan perilaku secara akurat
dan aequat ?
5. Apakah pasien menggunakan respon koping yang adaptif ?
6. Apakah pasien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri ?
7. Apakah pasien mengambil resiko yang cukup beralasan, yang
dapat meningkatkan pertumbuhan personal ?