You are on page 1of 4

BAB IV

Pembahasan
Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, khas ditandai dengan terjadinya pembentukan granuloma dan nekrosis.
Infeksi ini paling sering mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai
organ-organ tertentu. Tuberkulosis dapat menyerang paru ataupu terdapat diektra
paru seperti pleura, pericardium, peritoneum, intestinum (ileo-caecal), tulang/sendi,
SSP Jarang pada orkitis/epididimitis, tubo-ovarial/endometrium, ginjal, adrenal,
kulit.

ANALISA KASUS
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang didapatkan dari pasien ini adalah:
1. Berdasarkan anamnesis seorang Laki-laki umur 35 tahun dengan adanya
riwayat personal merokok kurang lebih 5 tahun, mengeluh batuk disertai sesak nafas.

2. Pasien keadaan umum tampak sakit sedang, tampak sesak, demam, takikardi,
takipnea, Conjungtiva anemis, pernafasan menggunakan cuping hidung dan otot
bantu nafas m. Strenocleidomastoideus, Rhonki kasar pada kedua paru-paru, Nyeri
tekan pada regio epigastrium, akral dingin disertai pucat pada kedua ekstremitas.

3. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-
produktif) kemudian setelah timbul peradangan terjadi produktif menghasilkan
sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh
darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas,
tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
4. Sesak Nafas dikarenakan terbentuknya infiltrat yang menyebabkan terganggu
nya pertukaran difusi oksigen.

5. Anemia dikarenakan terjadinya proses radang yang merupakan respon


fisiologis tubuh terhadap berbagai rangsangan termasuk infeksi dan trauma. Pada fase
awal proses infamasi terjadi induksi fase akut oleh makrofag yang teraktivasi berupa
penglepasan sitokin radang seperti Tumor Necrotizing Factor (TNF)-, Interleukin
(IL)-1, IL- 6 dan IL-8. Interleukin-1 menyebabkan absorbsi besi berkurang akibat
pengelepasan besi ke dalam sirkulasi terhambat, produksi protein fase akut (PFA),
lekositosis dan demam. Hal itu dikaitkan dengan IL- 1 karena episode tersebut
kadarnya meningkat dan berdampak menekan eritropoesis. Bila eritropoesis tertekan,
maka kebutuhan besi akan berkurang, sehingga absorbsi besi di usus menjadi
menurun. IL-1 bersifat mengaktifasi sel monosit dan makrofag menyebabkan ambilan
besi serum meningkat. TNF- juga berasal dari makrofag berefek sama yaitu
menekan eritropoesis melalui penghambatan eritropoetin. IL-6 menyebabkan
hipoferemia dengan menghambat pembebasan cadangan besi jaringan ke dalam
darah.

FOLLOW UP
Pada hari kedua pasien diberikan tranfusi darah PRC sampai Hb menjadi
>10mg/dl. Transfusi darah dapat dilakukan apabila Hb di bawah 70 g/dl. Pasien
diberikan Potassium Chloride 600mg, disebabkan hasil lab menyatakan terjadinya
imbalance elekrolit. Potassium Chloride merupakan obat untuk perawatan
ketidakseimbangan elektrolit. Selain itu pasien diberikan ranitidine 150mg
disebabkan pasien mengeluh nyeri ulu hati dan lidah terasa pahit, mengingat indikasi
pemberian Ranitidine adalah Gastritis, GERD(Gastoresophageal Reflux Disease).
Pasien juga diberikan Pantoprazole yang merupakan obat Penghambat pompa proton
adalah golongan obat yang bekerja dengan menghambat produksi asam pada tahap
akhir mekanisme sekresi asam yaitu pada enzim (H+, K+)-ATPase dari pompa proton
suatu sel parietal.
Pada hari ketiga pasien masih tetap diberikan Ranitidine dan Pantoprazole.
Pasien diberikan Nystatin drop disebabkan pada pemeriksaan fisik lidah ditemukan
kotor berwarna putih yang diduga merupaka gejala klinis infeski jamur, pemberian
nystatin drop merupakan antibiotika antifungal yang berasal dari Streptomyces
noursei. Aktifitas antifungalnya diperoleh dengan cara mengikatkan diri pada sterol
membran sel jamur, sehingga permeabilitas membran sel tersebut akan terganggu.
Nystatin drop diindikasikan pada candidiasis pada rongga mulut. Selain itu pasien
diberikan cotrimosazole disebabkan pasien menderita B20, dengan pemberian
Cotrimosazole yang merupakan antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap kuman
gram positif dan gram negatif selain itu mencegah pasien terkena berbagai macam
infeksi disebabkan penurunan sistem imun.
Pada hari keempat pasien diberikan paracetamol, disebabkan pasien mengeluh
demam, mengingat kerja dari paracetamol menghambat kerja prostaglandin. Pasien
masih diberikan obat yang sama pada hari ketiga.
Pada hari kelima pasien diberikan obat yang sama, pasien kembali diberikan
Potassium Chloride karena mengeluh badan lemas.
Pada hari keenam pasien kembali diberikan tranfusi darah PRC disebabkan
pada pemeriksaan fisik pasien tampak lemas dan conjungtiva anemis. Pasien masih
diberikan terapi yang sama pada hari kelima.
Pada hari ketujuh, kedelapan dan kesembilan, pasien diberikan terapi yang
sama, sambil memantau hasil lab elektrolit.
BAB V

Kesimpulan

1. Telah dilaporkan Tn. M, Lakui-laki berumur 35 tahun seorang swasta datang ke


IGD Doris Sylvanus Palangka Raya tanggal 11 Mei 2017 dengan keluhan batuk dan
sesak nafas.

2. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat


didiagnosis sebagai TB paru kategori 1 dengan Anemia, Gastritis, Imbalance
Elektrolit, B20.

3. Penatalaksaan yang diberikan berupa terapi yang berdasarkan rekomendasi


Pedomana diagnosis dan penatalaksaan Tuberkulosis yaitu 2 RHZE/RH diberikan
sampai 6-9 bulan.