You are on page 1of 2

M

ATA pelajaran (mapel) bahasa Jawa di sekolah oleh kalangan guru selama ini dirasa
kurang mendapatkan perhatian. Mapel bahasa Jawa kurang dihargai atau bahkan
disepelekan karena hanya sebagai mapel muatan lokal (mulok) dalam kurikulum SD dan
SLTP. Nilai mapel bahasa Jawa dalam rapor dianggap tidak ikut menentukan kenaikan
kelas dan dalam ujian akhir tidak ikut menentukan kelulusan siswa. Bahkan ada sebagian kalangan siswa
yang mengaanggap bahwa mata pelajaran bahasa jawa merupakan mata pelajaran tambahan dan tidak
perlu dipedalami. Kenyataan ini sangat memprihatikan. Mengingat kita hidup di tanah Jawa tetapi tidak
memehami budaya sekaligus warisan luhur nenek moyang kita. Oleh karena perlu kiranya jika di sekolah
menengah pmata pelajaran bahasa jawa diterapkan. Bangsa lain saja senang mempelajari bahasa jawa,
tetapi mengapa bangsa sendiri sepertinya enggan menyentuhnya. Anak-anak jaman sekarang hanya
dikenalkan bahasa asing, padahal mereka hidup dan tinggal di tanah jawa. Ini terasa memalukan.
Adanya Penjelasan atas UU RI No 20 Th 2003 tersebut (Tambahan Lembaran Negara RI Th 2003 No
4301) khususnya Pasal 37 ayat (1) tentang butir bahasa dijelaskan sebagai berikut: Bahan kajian bahasa
mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dengan pertimbangan: satu, bahasa
Indonesia merupakan bahasa nasional. Dua, bahasa daerah
merupakan bahasa ibu peserta didik. Tiga, bahasa asing
terutama bahasa Inggris merupakan bahasa internasional
yang sangat penting kegunaannya dalam pergaulan global,
bisa menjadi dasar diterapkannya mata pelajaran bahasa
Jawa di tingakat sekolah menengah. Menyadari akan hal
tersebut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng
mengadakan persiapan pelaksanaan Kurikulum Bahasa Jawa
Th 2004 tahun pelajaran 2005 / 2006 dengan kegiatan
antara lain memberikan informasi awal kepada Kasubdin/
Kabid Dinas Pendidikan Kab/ Kota se-Jateng tentang
Kurikulum 2004 Mapel Bahasa Jawa di Bandungan 17 Juni
2004. Pengembangan Kurikulum 2004 Mapel Bahasa Jawa
di Bandungan 17 19 Juni 2004. Pengkajian Draft Kurikulum
2004 Mapel Bahasa Jawa oleh Dinas Pendidikan dan Guru-guru SMA/ SMK se-Jawa Tengah dan
penjajakan kesiapan pelaksanaan di lapangan.
Dengan adanya sikap positif dan apresiasi terhadap bahasa Jawa di kalangan peserta didik sebagai
generasi penerus, maka kelestarian bahasa Jawa akan memperoleh jaminan dan munculnya
kekhawatiran akan masa depan suram bagi bahasa Jawa akan dapat dihindarkan. Dengan kemauan baik
dari semua pihak, kita yakini Kurikulum Bahasa Jawa Tahun 2004 akan dapat dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab. Keberhasilan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah akan memberikan kontribusi dan
penjaminan bagi kelestarian bahasa Jawa, identitas daerah (Jawa), dan pemberian pendidikan budi
pekerti yang efektif demi peningkatan kualitas moral anak bangsa. Sehingga jangan sampai ada kejadian
pengklaiman bahasa jawa oleh bangsa lain.
Pembelajaran bahasa Jawa di tingkat SMA/SMK/MA mungkin sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan
kita, apalagi setelah sekian lama pembelajaran bahasa Jawa hanya berhenti pada tingkat SMP/MTs.
Undang Undang Nomor : 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang digulirkan pemerintah
pusat secara tidak langsung menghegemoni dan memberi keleluasaan daerah untuk lebih
memperhatikan potensi daerahnya masing masing. Dengan diberlakukannya Undang Undang Nomor
: 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan Pemerintah Pusat di bidang Bahasa dan
Sastra sastra Daerah telah menjadi kewenangan dan tanggung jawab daerah, dengan demikian
diharapkan Bahasa dan Sastra Daerah dapat di lestarikan dan dikembangkan untuk memperkaya
khasanah budaya Nasional.

Sumber: