You are on page 1of 5

Pengaruh Kemampuan Matematis Terhadap Hasil Belajar

Menggunakan Pendekatan Pemodelan Matematika


(siswa kelas VII B SMP Al Furqan MQ Tebuireng)
Fani Inganati, Ain Musyapa, M. Shohibul Choir
Prodi S1 Pendidikan Matematika FIP UNHASY
Email: faniinganati79@gmail.com

Abstrak-Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan matematis terhadap hasil belajar
siswa menggunakan pendekatan Pemodelan Matematika. Metode yang digunakan adalah jenis
kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B SMP Al Furqan MQ Tebuireng sebanyak
35 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes tertulis dalam bentuk soal uraian.
Soal yang diujikan adalah soal pemecahan masalah sebanyak 3 buah. Analisis data yang
digunakan adalah dengan menganalisis hasil tes dengan menggunakan kriteria penilaian serta uji
normalitas, homogenitas, linieritas dan uji korelasi kemudian menarik kesimpulan. siswa kelas VII
B SMP Al Furqan MQ Tebuireng memiliki kemampuan matematis. Dan hasilnya adalah ada
pengaruh dari kemampuan matematis siswa terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa.

Kata Kunci : Matematis, Hasil Belajar, Pemodelan Matematika

I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan merupakan aspek penting untuk membentuk suatu bangsa, Oleh karena itu, agar terciptanya bangsa yang
berkualitas lembaga pendidikan saat ini dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan di dalam berbagai bidang,
diantaranya matematika [1].
Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak permasalahan sehari-hari yang bisa
diselesaikan dengan matematika. Matematika sebagai salah satu ilmu sains dapat dijadikan alat ukur untuk mengukur
kemampuan peserta didik. Misalnya, Kemampuan menganalisa, kemampuan logika, kemampuan prediksi, dan lain
sebagainya. Selain itu matematika juga di gunakan sebagai sarana pembuktian, perhitungan, dan perkiraan. Oleh karena
itu, sedikit atau banyak tingkat penguasaan matematika akan menentukan kualitas hasil pendidikan para peserta didik.
Melalui pendidikan matematika diharapkan siswa dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis,
kreatif, bekerjasama secara efektif [2].
Matematika juga merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi modern, dan
memajukan daya pikir serta analisa manusia. Tujuan dari pembelajaran matematika adalah memahami konsep
matematika, menjelaskan keterkaitan konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien
dan tepat dalam pemecahan masalah [3].
Berdasarkan pernyataan diatas, matematika tidak hanya bagaimana siswa memahami konsep matematika, tetapi siswa
harus menerapkan konsep tersebut ke dalam pemecahan masalah. Penyampaian konsep yang dimaksudkan ialah agar
konsep tersebut dapat dipahami , diingat, dan dapat diterapkan oleh siswa dalam memecahkan masalah. Siswa dianggap
dapat mengerti matematika ketika siswa mempunyai cara berpikir yang terstruktur dan memiliki kemampuan memecahan
masalah. oleh karena itu seorang guru harus memperhatikan hal ini secara serius [4].
Sering kali yang dianggap menjadi kendala dalam menyelesaikan permasalahan matematika tersebut adalah
konsep matematika yang bersifat abstrak, sehingga siswa menganggap matematika terlalu sulit untuk dipahami.
Mereka kurang terbiasa dengan tahap-tahap memahami masalah, merencanakan strategi, melakukan pengerjaan atau
perhitungan dan memeriksa jawaban [5]. Padahal seharusnya dengan konsepnya yang abstrak itulah siswa dapat
mengembangkan kemampuan berfikirnya untuk memahami konsep dan kemudian dapat menerapkannnya dalam
menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah. Agar siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik, maka
diperlukan kemampuan pemahaman matematis yang bermakna bagi setiap siswa [6]. Kemampuan Matematis
(Mathematical Abilities), yaitu pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk dapat melakukan manipulasi
matematika meliputi pemahaman konsep dan pengetahuan prosedural [7].
Dalam menemukan penyelesaian pada soal tipe pemecahan masalah sudah tentu akan memiliki beberapa tahapan.
Untuk itu diperlukan suatu cara dalam menjembatani antara matematika yang bersifat abstrak dan masalah didunia nyata
yang sering diaplikasikan dalam soal-soal pemecahan masalah. Masalah tersebut harus dipecahkan dengan konsep
matematika, yang diselesaikan secara sistematis, dan solusinya di terjemahkan lagi sebagai solusi masalah dari dunia
nyata. Alur tersebut yang dinamakan pemodelan matematika. Pemodelan matematika dapat dijadikan salah satu cara
menjembatani konsep matematika yang abstrak dengan masalah dari dunia nyata. Pemodelan matematika dapat
dipandang sebagai proses mematematikakan masalah dunia nyata [8].

1
Pemodelan matematika adalah proses mengubah atau mewakili masalah dalam dunia nyata ke dalam bentuk
matematika dalam upaya untuk menemukan solusi dari suatu masalah. Masalah dunia nyata diubah terlebih dahulu ke
dalam bentuk matematika atau masalah matematika, yang dikemudian diselesaikan secara sistematis, hasilnya
diterjemahkan kembali sebagai solusi masalah dunia nyata[9]. Pemodelan matematika ditandai oleh dua ciri utama, yaitu
(1) pemodelan bermula dan berakhir dengan dunia nyata, (2) pemodelan membentuk suatu siklus (lihat pada gambar 1)
[10].

Gambar 1. Pemodelan Matematika oleh Lovitt

Langkah pembelajaran pemodelan matematika menurut Biembengut dan Hein adalah : (1) Penyajian tema, yaitu guru
menyajikan masalah dunia nyata; (2) Pembatasan masalah, guru memilih satu atau dua pertanyaan yang terkait dengan
bahasan yang akan dipelajari; (3) Perumusan masalah, yaitu guru membimbing siswa merumuskan masalah; (4)
Pengembangan materi ajar, yaitu mengaitkan konsep matematika dengan masalah; (5) Penyajian contoh serupa, yaitu
membahas contoh yang serupa dengan masalah. Penggunaan teknologi seperti kalkulator atau komputer merpakan bagian
penting dalam pembelajaran; (6) Perumusan model matematika dan solusinya, yaitu guru mengajak siswa kembali
kemasalah awal dan mencoba untuk menyelesaikannya; dan (7) Interpretasi solusi dan validasi model, yaitu siswa
mengevaluasi hasil yang diperoleh [11].
Sementara itu, dalam memecahkan masalah juga diperlukan 4 tahapan menurut Polya yaitu memahami masalah
dengan menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanya, merancang rencana penyelesaian dengan menentukan
rumus, menyelesaikan masalah dengan melakukan perhitungan matematika yangg tepat, dan melakukan pengecekan
kembali terhadap semua langkah yang dikerjakan dengan menarik kesimpulan [12]. Salah satu cara pada tahap
perencanaan adalah mengubah masalah menjadi model matematika yang dapat diselesaikan secara matematis. Karena itu,
kemampuan pemodelan matematika pastilah mempunyai hubungan dengan kemampuan pemecahan masalah. Pemodelan
matematika dapat dijadikan alternatif pembelajaran untuk melatih kemampuan pemecahan masalah [13].
Maka dari itu siswa harus mengasah kemampuan pemodelan matematika sehingga akan berdampak positif pada
kemampuan siswa dalam menghadapi berbagai permaslahan, baik masalah dalam matematika maupun masalah dalam
kehidupan sehari-hari[14]. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampauan Matematis
menggunakan pendekatan Pemodelan Matematika.

II. METODE
Penilitian ini dilakukan pada bulan November 2017 di SMP Al Furqan Tebuireng Jombang dengan menggunakan
penelitian Quasi eksperimen. Subjek penelitian adalah kelas VII B yang berjumlah 35 siswa dengan menggunakan
pendekatan pemodelan matematika. Instrumen yang digunakan adalah soal lembar kerja siswa yang berisi soal-soal
pemecahan masalah atau soal-soal cerita yang berhubungan dengan kehidupan nyata. Sedangkan teknik analisis data
menggunakan normalitas, homogenitas, linieritas dan korelasi selanjutnya penarikan kesimpulan dan Analisis uji
normalitas[14].
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Melalui proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) peneliti menguji subjek dengan memberikan soal cerita yang
berjumlah 3 buah soal untuk mendapatkan data tentang kemampuan pemodelan matematika. Soal penelitian adalah soal
yang berhubngan dengan kehidupan nyata dengan materi pertidaksamaan satu variabel. Dengan waktu tertentu mereka
harus menjawab atau menyelesaikan ketiga soal tersebut meski banyak dari siswa yang hanya mengerjakan soal nomor 1.
Kriteria penilaian yang digunakan ialah sebagai berikut:
Tabel 1. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 36

2
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 11.53774251
Most Extreme Differences Absolute .175
Positive .139
Negative -.175
Test Statistic .175
Asymp. Sig. (2-tailed) .007c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.

Dari Tabel didapat bahwasanya dari data Shapiro-wilk didapat 0,007>0,05 maka data berdsitribusi normal

Table.2 Uji Homogenitas


Test of Homogeneity of Variances
Matematis
Levene Statistic df1 df2 Sig.
5.327 6 28 .001

Berdasarkan output SPSS diatas diketabahwa nilai signifikasi variable Prestasi Belajar (Y) berdasarkan variable

berfikir matematis (X)=0,001<0,05artinya data variable berfikir matematis berdasarkan variable X mempunyai varian

yang tidak sama.

Tabel.3 Uji Linearitas


ANOVA
Hasil belajar
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 12329.196 12 1027.433 1.795 .113
Within Groups 12589.375 22 572.244

Berdasarkan tabel.3 nilai siginifikasi diperoleh nilai = 0,113 > 0,05 yang artinya terdapat hubungan liniar secara
signifikan antara variabel berfikir matematis dengan variabel hasil belajar.

Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:


0,00 0, 199 = sangat rendah
0,20 0,399 = rendah
0,40 0,599 = sedang
0,60 0,799 = kuat
0,80 1,000 = sangat kuat [14]
Tabel.4 Korelasi
Correlations
Matematis Hasil Belajar
Matematis Pearson Correlation 1 .867**
Sig. (2-tailed) .000
N 36 36
Hasil Belajar Pearson Correlation .867** 1
Sig. (2-tailed) .000

3
N 36 36
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdsarkan nilai siginifikasi diperoleh nilai = 0.000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan liniar secara signifikan
antara variabel berfikir matematis dengan variable hasil belajar

Berdasarkan tabel.4 tanda bintang SPSS dari data diatas diketahui bahwa nilai pearson correlation yang dihubungkan
antara masing masing variabel mempunyai tanda bintang, ini berarti ada korelasi yang signifikan antar variabel yang
dihubungkan.

IV. SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan dari uraian pembahasan diatas menyatakan bahwa siswa kelas VII B di SMP Al Furqan MQ Tebuireng
dari 35 siswa yang hadir 31 siswa mengerjakan soal yang diujikan dan 4 siswa sisanya tidak mengerjakan. Dan dari yang
meegerjakan siswa kemampuan matematis siswa mempunyai hubungan dengan hasil belajar siswa artinya kemampuan
matematis yang dimiliki siswa mempengaruhi hasil belajar siswa melalui pendekatan pemodelan matematika.
Hal-hal yang dapat disarankan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah : 1) bagi peneliti juga bisa meneruskan
penelitian ini dengan metode yang lain dan atau dengan meneliti proses dari tiap tahapan-tahapan baik pemodelan
matematika maupun pemecahan masalah berdasarkan langkah polya. 2) bagi guru untuk lebih memperhatikan peserta
didiknya dalam hal kemampuan-kemampuan yang dimilikinya, serta penyampaian konsep kepada siswa sehingga siswa
dapat menghubungkan dunia nyata dengan konsep matematika yang abstrak serta dapat memahami materi yang
diajarkan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Wardhani, Sri. 2008. Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs Untuk Optimalisasi
Pencapaian Tujuan. Yogyakarta : PPPPTK hlm. 8
[2] Khabibah, Siti. Jurnal Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Berdasarkan Langkah Poly. Purworejo: -
[3] Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006
[4] Selvia, Febi Renico, dkk. 2014. Penerapan Pembelajaran Pemodelan Matematika Menggunakan Pendekatan Konstrutivisme Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Untuk Siswa Kelas VIII SMP. AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 03 Nomor 01,
.hlm. 66-68
[5] Firdaus, Muhamad dkk. 2014. Kemampuan Penalaran Matematis dan Motivasi Mahasiswa calon guru melalui model Reprocal teaching.
Jurnal Edukasi matematika dan sains. 2 (1), 22 32.
[6] Kesumawati, Nila. 2012. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa SMP Melalui Pendekatan Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia (PMRI). Jurnal Pendidikan Matematika. 6 (2), 31 44.
[7] NCTM. 1999
[8] Selvia, Febi Renico, dkk. 2014. Penerapan Pembelajaran Pemodelan Matematika Menggunakan Pendekatan Konstrutivisme Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Untuk Siswa Kelas VIII SMP. AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 03 Nomor 01,
.hlm. 66-68
[9] Wulandari, dkk. 2016. Pengaruh Pendekatan Pemodelan Matematika Terhadap Kemampuan Argumentasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri
15 Palembang. hlm. 115

[10] Turmudi, dkk. 2014. Pengembangan Pembelajaran Matematika dengan Pemodelan (Mathematical
Modeling) Berbasis Realistik untuk Mahasiswa. Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 19, Nomor 1 hlm. 3
[11] Selvia, Febi Renico, dkk. 2014. Penerapan Pembelajaran Pemodelan Matematika Menggunakan Pendekatan Konstrutivisme Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Untuk Siswa Kelas VIII SMP. AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 03 Nomor 01,
.hlm. 67
[12] Rofiqoh, Zeni. 2015. Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas x Dalam Pembelajaran Discovery Learning
Berdasarkan Gaya Belajar Siswa. Semarang: Universitas Negeri Semarang, hlm.3
[13] Selvia, Febi Renico, dkk. 2014. Penerapan Pembelajaran Pemodelan Matematika Menggunakan Pendekatan Konstrutivisme Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Untuk Siswa Kelas VIII SMP. AKSIOMA Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 03 Nomor 01,
.hlm. 67

[14] Ananda, dkk. 2016. Penerapan Pendekatan Saintifik Dengan Model Pembelajaran Think Talk Write (Ttw)
Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Pada Materi Pythagoras Kelas VIII-E Smp
Negeri 115 Jakarta.

4
[15] Sugiyono. Meetode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
hlm. 243