You are on page 1of 12

LATIHAN PERNAPASAN TEKNIK BUTEYKO TERHADAP SATURASI OKSIGEN

PADA PASIEN ASMA

Awan Dramawan1
1
Politeknik Kesehatan Mataram Kemenkes RI Jurusan keperawatan

Abstrak
Latar belakang : Penyakit asma termasuk sepuluh besar penyebab kematian dan kesakitan di
Indonesia, data dari Rekam Medik RSUD P3 Gerung, tahun 2015 terjadi peningkatan kasus
asma dari tahun sebelumnya, menjadi 879 kasus, dengan 711 pasien rawat jalan, 168 pasien
rawat inap, dan 88 pasien mengalami kekambuhan. Tujuan : Mengetahui pengaruh latihan
pernapasan teknik Buteyko terhadap saturasi oksigen pasien asma. Metode : Desain penelitian
menggunakan penelitian pre eksperimental dengan rancangan one group pretest-
postest.Teknik pengambilan sempel adalah purposive sampling dengan sampel minimal untuk
penelitian experimen 15 responden dianalisa dengan uji wilcoxon. Hasil penelitian,
karakteristik responden jenis kelamin laki-laki 45% dan perempuan 55%, usia remaja awal
10%, remaja akhir 10%, dewasa awal 10%, dewasa akhir 20%, lansia awal 40% dan lansia
akhir 10%, pendidikan SD 50%, SMA 25%, Tidak sekolah 25%, pekerjaan Wiraswasta 25%,
IRT 10%, Buruh/petani 55%, Tidak bekerja 10%, saturasi oksigen pre test 80% (<95%),
20%(95-100%), saturasi oksigen post test 40%(<95%), 60%(95-100%). Hasil : Hasil uji Sig p
(0,000) < (0,05) maka H0 ditolak, H1 diterima. Kesimpulan : Latihan pernapasan buteyko
mempengaruhi peningkatan nilai saturasi oksigen pasien asma, dianjurkan untuk menerapkan
latihan pernapasan sebagai metode non farmakologi untuk meningkatkan nilai saturasi
oksigen.
Kata Kunci : Asma, Latihan Pernapasan Buteyko, Saturasi Oksigen

BUTEYKO BREATHING EXERCISE AGAINST OXYGEN SATURATION IN


ASTHMA PATIENTS

Abstract
Background: Asthma is among the top ten causes of death and morbidity in Indonesia, data
from Medical Record of RSUD P3 Gerung, in 2015 there was an increase of asthma case from
previous year, to 879 cases, with 711 outpatients, 168 inpatients, and 88 patients suffering
from recurrence.Objective : To know the effect of Buteyko breathing technique exercises on
oxygen saturation of asthma patients.Method : The research design used pre experimental
study with one pretest-postest one goup design. Sempel picking technique was purposive
sempling using Cohen theory which mentioned minimal seal for experimental research of 15
respondents analyzed by wilcoxon test.The results of the study, the characteristics of male sex
respondents 45% and women 55%, early adolescence 10%, late adolescents 10%, early adult
10%, late adulthood 20%, early 40% and late elderly 10%, elementary education 50%, 25%
high school, no 25% school, 25% self employed, 10% IRT, 55% workers / farmers, no 10%,
pre test saturation 80% (<95%), 20% (95-100 %), Post test 40% oxygen saturation (<95%),
60% (95-100%). Result : Sig p test result (0,000) < (0,05) then H0 rejected, H1 accepted.
Conclusion : Buteyko breathing exercises affect the increase in oxygen saturation value of
asthmatic patients, it is recommended to apply breathing exercises as nonpharmacology
method to increase oxygen saturation value.
150
Keywords: Asthma,Buteyko Respiratory Exercise, Oxygen Saturation

Pendahuluan dengan angka kunjungan 798 pasien dan


Asma secara relatif memang memiliki terendah di Kabupaten Lombok Utara
tingkat kematian yang rendah dengan angka kunjungan 432 pasien.
dibandingkan dengan penyakit kronis Menurut data dari Rekam Medik RSUD
lainnya, namun demikian sedikitnya Patut Patuh Patju Gerung, pada tahun 2013
ratusan ribu orang meninggal karena asma tercatat angka kejadian kasus asma
pada tahun 2005. Banyaknya penderita bronkial sejumlah 650 pasien, dengan 564
asma yang meninggal dunia, dikarenakan yang menjalani rawat jalan dan 66 yang
oleh kontrol asma yang kurang atau rawat inap. Sedangkan, jumlah pasien
kontrol asma yang buruk (Depkes, 2008). penderita asma bronkial yang pernah
Kematian akibat asma umumnya terjadi masuk rumah sakit lebih dari satu kali
pada pasien yang tidak diobati, dan sebanyak 54 orang. Pada tahun 2014,
ternyata dua pertiga kematian akibat asma terjadi jumlah peningkatan kasus kejadian
dapat dicegah dengan pengobatan yang asma. Tercatat sejumlah 766 kasus asma,
memadai. Di tahun 1990-an ada sedikit dengan 632 yang menjalani rawat jalan, 78
peningkatan dalam kematian akibat asma yang rawat inap, dan 76 pasien mengalami
pada pasien di atas usia 50 tahun (Ayres, kekambuhan berulang. Pada tahun 2015
2003). Penyakit asma termasuk lima besar juga terjadi peningkatan kasus kejadian
penyebab kematian di dunia. Sementara di asma menjadi 879 kasus, dengan 711
Indonesia, penyakit ini masuk dalam pasien yang menjalani rawat jalan, 168
sepuluh besar penyebab kesakitan dan pasien rawat inap, dan 88 pasien yang
kematian (Siswono, 2007 dalam mengalami kekambuhan berulang. Asma
Suharmiati.dkk, 2010). Menurut data adalah gangguan inflamasi kronik saluran
WHO 2013, sekitar 300 juta manusia di nafas yang melibatkan banyak sel dan
dunia menderita asma bronkial dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan
diperkirakan akan terus meningkat hingga peningkatan hiperresponsif jalan napas
mencapai 400 juta pada tahun 2025 yang menimbulkan gejala episodik
(Ratnawati, 2011). Dalam data berulang berupa mengi, sesak nafas, dada
terasa berat, dan batuk-batuk, terutama
RISKESDAS 2013 Kemenkes RI,
prevalensi asma bronkial di Indonesia yaitu malam dan atau dini hari. Episodik tersebut
4,5 persen per mil dan khusus di Provinsi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu 5,1 yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat
persen per mil. Prevalansi asma bronkial di reversibel dengan atau tanpa pengobatan
NTB cenderung lebih tinggi pada (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,
masyarakat dengan tingkat pendidikan 2006). Control Pause adalah Ukuran atau
rendah. Data RISKESDES NTB Tahun lamanya waktu seseorang dapat menahan
(2013) dengan prevalensi tertinggi berada napas sebelum dan sesudah melakukan
di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok latihan pernapasan pada pasien asma,
Timur sebesar 5,9 %, Bima 5,5 %, Lombok dengan mengurangi volume pernapasan,
Tengah dan Lombok Utara 5,3 %, karbondioksida meningkat dan control
Sumbawa 4,5 %, Mataram 4,1 %, Dompu pause juga akan meningkat (Fadhil,2009).
3,5 %, Kota Bima 3,1 % dan Sumbawa Hiperventilasi dapat menyebabkan
Barat 2,3%. Data Dinas Kesehatan NTB kadarkarbon dioksida yang rendah dalam
tahun 2015 angka kunjungan pasien asma darah(hypocapnea), yang kemudian dapat
tertinggi berada di Kabupaten Lombok menyebabkan gangguan keseimbangan
Barat dengan angka kunjungan 879 pasien asam basa dalam darah dan kadar oksigen
tertinggi ke dua Kabupaten Lombok Timur di jaringan jadi rendah (GINA, 2005).
Peningkatan control pause pada pasien
151
asma dapat dilakukan dengan terapi Metode
komplementer yaitu teknik olah napas atau Desain penelitian ini menggunakan
teknik pernapasan yang dikenal dengan penelitian pre eksperimental (tidak ada
teknik Buteyko (Fadhil,2009). Banyaknya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih
penderita asma di Indonesia, tentunya secara random) dengan rancangan one
membutuhkan suatu solusi agar penyakit goup pretest-postest. Penelitian ini
asma bisa berkurang, selain dengan dilakukan dengan cara memberikan
penanganan dokter, harus ada penanganan pretest/pengamatan awal terlebih dahulu
di luar itu yang berfungsi sebagai terapi sebelum diberikan intervensi. Setelah
untuk membantu mengurangi gejala asma. diberikan intervensi, kemudian dilakukan
Terapi yang tepat agar dapat membantu posttest/pengamatan akhir.
dan mengurangi penderita asma di
Populasi dan Sampel
Indonesia, yaitu dengan terapi a. Populasi : Penderita Asma yang
komplementer (nonfarmakologis) salah dirawat di Ruang Rawat Inap Rumah
satunya dapat dilakukan dengan olah Sakit Umum Daerah Patut Patuh Patju
teknik pernapasan. Dalam teknik ini pada tahun 2017.
diajarkan teknik mengatur napas bila b. Sampel : Sebagian Penderita Asma
pasien mengalami asma. Salah satu metode yang dirawat di Ruang Rawat Inap
yang dikembangkan untuk memperbaiki Rumah Sakit Umum Daerah Patut
cara bernapas pada pasien asma adalah Patuh Patju pada tahun 2017.
teknik olah napas, dapat berupa olahraga
Teknik Pengambilan Sampel :
aerobik, senam, dan teknik pernapasan menggunakan teknik purposive sampling,
seperti Thai chi, Yoga, Mahatma, Buteyko jumlahnya ditentukan oleh rumus atau
dan Pranayama (Fadhil, 2009). Buteyko suatu formula, dengan tujuan untuk
digunakan untuk mengontrol gejala asma, mewakili populasi dalam suatu uji oleh
banyak keunggulan dari buteyko seperti data dari suatu penelitian tertentu
dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, (Machfoedz, 2013). Pada penelitian
dan mudah dilaksanakan. Menurut Austin eksperimental, jumlah sampel minimum
G, (2013), keunggulan dari latihan yaitu 15 subyek. Sehingga peneliti dalam
pernapasan Buteyko yaitu, (1) mendorong penelitian ini menggunakan sampel
pasien untuk bernapas sedikit, (2) melatih
minimal 15 sampel hingga kurun waktu
pola pernapasan pasien menggunakan penelitian selama satu bulan. Adapun
serangkaian latihan pernapasan, (3) Kriteria sampel adalah :
meningkatkan kontrol gejala asma dan
Kriteria Inklusi :
kualitas hidup, (4) dapat digunakan a Penderita Asma yang di rawat inap di
bersama dengan obat konvensional, (5) RSUD Patut Patuh Patju.
dapat digunakan untuk orang dewasa dan b Pasien asma yang sudah dirawat selama
anak-anak. Keberhasilan metode Buteyko 6 jam
terhadap peningkatan control pause pada c Pasien dengan Hb normal ( pria 12-16
pasien asma yang didukung oleh data gr/dl, wanita 14-18 gr/dl)
ilmiah dengan uji klinis yang didanai oleh d Pasien yang tidak mengigil
Asosiasi Australia di Rumah Sakit Mater e Pasien yang Berusia > 12 Tahun
di Brisbane menunjukan bahwa penderita
Kriteria eksklusi :
asma mampu mengurangi asupan obat a Pasien tidak bersedia menjadi
simtomatik mereka dengan 90% dan obat responden
steroid mereka dengan 30%. Penurunan b RR>28 x/menit.
dalam pengobatan disertai dengan c Sampling
peningkatan kesehatan dan control pause
dan kualitas hidup.(McHugh, 2003).

152
Variabel Penelitian Data tentang saturasi oksigen (SpO2)
1. Variabel Bebas (Variabel Independen) : pasien Asma sebelum dilakukan Latihan
Pada peneitian ini variabel independen Pernapasan Buteyko dengan cara
adalah Latihan Pernapasan Buteyko. pengukuran menggunakan oksimetri nadi
2. Variabel Tergantung :Saturasi Oksigen yang dipasang pada ibu jari atau jari
(SpO2). telunjuk pasien Asma. Dengan melihat
Jenis Data Yang di Kumpulkan kriteria hasil sebagai berikut :
1. Data Primer : Adapun data primer 1) Normal apabila nila SpO2 95-100%
dalam penelitian ini adalah : 2) Hipoksia apabila nilai SpO2 <95%
a Data tentang karakterisitik pasien Data tentang saturasi oksigen (SpO2)
meliputi : usia, jenis kelamin, pasien Asma setelah dilakukan Latihan
pendidikan, dan pekerjaan. Pernapasan Buteyko dengan cara
b Data tentang saturasi oksigen pengukuran menggunakan oksimetri nadi
(SpO2) pasien Asma sebelum yang dipasang pada ibu jari atau jari
dilakukan Latihan Pernapasan telunjuk pasien Asma. Dengan melihat
Buteyko. kriteria hasil sebagai berikut :
c Data tentang saturasi oksigen 1) Normal apabila nila SpO2 95-100%
(SpO2) pasien Asma setelah 2) Hipoksia apabila nilai SpO2 <95%
dilakukan Latihan Pernapasan Data tentang gambaran umum tempat
Buteyko. penelitian ( RSUD Patut Patuh Patju)
2. Data Sekunder : gambaran umum diolah secara deskriptif.
tentang tempat penelitian yaitu RSUD Analisa Data
Patut Patuh Patju. Pada penelitian ini analisis data yang
Cara Pengumpulan Data digunakan adalah analisis statistis non
1. Data Primer parametrik.uji Wilcoxon atau uji beda satu
a Data karakteristik pasien meliputi kelompok dependen yang tidak
usia, jenis kelamin, pendidikan, dan mensyaratkan data berdistribusi normal.
pekerjaan diperoleh dengan Uji ini menguji efektifitas suatu perlakuan
kuesioner yang dibagikan kepada terhadap suatu besaran variabel yang ingin
responden.Data tentang saturasi ditentukan, selanjutnya nilai masing-
oksigen (SpO2) pasien Asma masing responden dibandingkan antara
sebelum dilakukan Latihan sebelum intervensi (pre-test) dengan
Pernapasan Buteyko dengan cara sesudah intervensi (post-test).
pengukuran menggunakan
oksimetri nadi. Hasil
b Data tentang saturasi oksigen Responden dalam penelitian ini adalah
(SpO2) pasien Asma setelah semua pasien yang menderita asma yang
dilakukan Latihan Pernapasan diambil dengan teknik purposip sempling
Buteyko dengan cara pengukuran selama penelitian dilakukan di RSUD Patut
menggunakan oksimetri nadi. Patuh Patju Gerung Tahun 2017 dalam
2. Data Sekunder : Data tentang gambaran waktu 1 bulan yang terbago dalam 4
umum tempat penelitian ( RSUD Patut bangsal tempat penelitian yakni bangsal
Patuh Patju) didapat melalui IRNA Paru, IRNA Anak, IRNA 2, dan
penelusuran di bagia Tata Usaha RSUD IRNA 3 dengan banyak sempel sejumlah
Patut Patuh Patju dan observasi oleh 20 responden.
peneliti.
Cara Pengolahan Data
Adapun cara pengolahan data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
Data karakteristik pasien
153
1. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin.

Diagram 1 Distribusi responden menunjukan bahwa dari 20 orang


berdasarkan jenis kelamin pada pasien responden 11 orang responden berjenis
Asma di RSUD Patut Patuh Patju Gerung kelamin perempuan dengan persentase
Tahun 2017 (n=20). Diagram diatas 55%.

2. Distribusi responden berdasarkan usia

Diagram 2 Distribusi responden


berdasarkan umur pada pasien Asma di
RSUD Patut Patuh Patju Gerung Tahun
2017 (n=20),bahwa dari 20 orang
responden 8 orang responden berada pada
usia dewasa awal dengan persentase 40 %.

154
3. Distribusi responden berdasarkan jenjang pendidikan

Diagram 3 Distribusi responden responden jenjang pendidikan yang


berdasarkan jenjang pendidikan pada terbanyak berada pada pendidikan sekolah
pasien Asma di RSUD Patut Patuh Patju dasar sebenyak 10 orang dengan persentase
Gerung Tahun 2017 (n=20), dari 20 orang 50%.

4. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan.

Diagram 4 Distribusi responden Saturasi Oksigen Sebelum Dan Setelah


berdasarkan pekerjaan pada pasien Asma Latihan Pernapasan Buteyko
di RSUD Patut Patuh Patju Gerung Tahun 1. Identifikasi nilai saturasi oksigen
2017 (n=20), dari 20 orang responden sebelum latihan pernapasan Buteyko
pekerjaan terbanyak sebagai Buruh/Petani pada pasien Asma.
Sebanyak 11 orang dengan persentase
55%.

Tabel 1. Identifikasi nilai saturasi oksigen sebelum latihan pernapasan pada pasien
Asma di RSUD Patut Patuh Patju Gerung Tahun 2017 (n=20)
No Saturasi Oksigen Sebelum Latihan ( Pre Frekuensi Persentase (%)
Tes)

1 <95% 16 80
2 >95% 4 20
Jumah 20 100%

155
Dari tabel 1 dapat diketahui dari 20 2. Identifikasi nilai saturasi oksigen
responden 16 orang responden memiliki setelah latihan pernapasan Buteyko
nilai saturasi oksigen dibawah nilai normal pada pasien Asma.
(<95%) dengan persentase 80%.

Tabel 2 Identifikasi nilai saturasi oksigen setelah latihan pernapasan pada pasien
Asma di RSUD Patut Patuh Patju Gerung Tahun 2017 (n=20).
No Saturasi Oksigen Setelah Latihan ( Post Frekuensi Persentase (%)
Tes)
1 <95% 8 40
2 >95% 12 60
Jumah 20 100%

Dari tabel 2 dapat diketahui dari 20 inspirasi semakin kecil compliance paru.
responden 12 orang responden memiliki Semakin kecil compliance paru yang
nilai saturasi oksigen normal (95-100%) dihasilkan akan berakibat pengembangan
dengan persentase 60%. paru menjadi tidak optimal. Pengembangan
paru yang tidak optimal berdampak pada
Pembahasan terjadinya penurunan kapasitas paru serta
Identidfikasi Saturasi Oksigen Pada peningkatan residu fungsional dan volume
Pasien Asma Sebelum Dilakukan residu paru (Guyton, 2007). Penurunan
Latihan Pernapasan kapasitas vital paru yang diikuti dengan
Berdasarkan hasil penelitian yang peningkatan residu fungsional dan volume
dilakukan pada 20 orang responden residu paru menyebabkan timbulnya
menunjukkan bahwa sebagian besar perbedaan tekanan parsial gas, antara
responden memiliki nilai saturasi oksigen tekanan parsial gas dalam alveoli dengan
di bawah nilai normal (<95%) sebanyak tekanan parsial gas dalam pembuluh
80% dan dan sebagian kecil yaitu 20% kapiler paru (Guyton, 2007). Penurunan
yang memiliki nilai saturasi oksigen tekanan parsial gas oksigen dalam alveoli,
normal (95-100%). Pada penderita asma, menyebabkan kecilnya perbedaan gradient
keluhan utama yang sering terjadi adalah tekanan gas oksigen dalam alveoli dengan
sesak napas. Sesak napas terjadi kapiler. Akibatnya tidak terjadi difusi
disebabkan oleh adanya penyempitan oksigen dari alveoli ke kapiler (Perry &
saluran napas. Penyempitan saluran napas Potter, 2006). Penurunan difusi oksigen
terjadi karena adanya hiperreaktivitas dari menyebabkan konsentrasi oksigen dalam
saluran napas terhadap berbagai darah akan berkurang dengan sehingga
rangsangan, sehingga menyebabkan dalam keadaan klinis akan terjadi
bronkospasme, infiltrasi sel inflamasi yang penurunan saturasi oksigen (Guyton,2007).
menetap edema mukosa, dan hipersekresi Penjelasan mengenai adanya penurunan
mukus yang kental (Price & Wilson, saturasi oksigen pada pasien asma
2006). Bronkospasme pada asma didukung oleh hasil penelitian yang
menyebabkan terjadinya penurunan dilakukan oleh Sajidin dkk (2010) di
ventilasi paru. Penurunan ventilasi paru RSUD. Prof. Dr. Soekandar Mojosari
menyebabkan terjadinya penurunan Kabupaten Mojokerto, pada 47 responden
tekanan transmural. Penurunan tekanan di dapatkan bahwa saturasi oksigen pada
transmural berdampak pada mengecilnya penderita asma didapatkan 59,6% dengan
gradient tekanan transmural (Perry & saturasi oksigen tidak normal, 40,4%
Potter, 2006). Semakin kecil gradient dengan saturasi oksigen normal.
tekanan transmural yang dibentuk selama Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Wedri dkk (2013) di Rumah Sakit
Umum Bangli, pada 47 responden

156
didapatkan yaitu sebanyak 19 responden (Shaffer, 2012 dalam Samsuardi, 2012).
(40,4%) dengan saturasi oksigen normal Salah satu intervensi yang dapat dilakukan
(95 - 100%), sebanyak 26 responden pada pasien asma untuk meningkatkan
(55,3%) dengan saturasi oksigen (90-94%), kekuatan otot-otot pernapasan pada pasien
dan sebanyak 2 responden (4,3%) dengan asma sehingga dapat memaksimalkan
saturasi oksigen (75-89%). Hal ini ventilasi paru adalah Latihan Pernapasan.
menunjukkan adanya saturasi oksigen Identidfikasi Saturasi Oksigen Pada
tidak normal pada sebagian besar penderita Pasien Asma Setelah Dilakukan Latihan
asma. Menurut Sudoyo dkk (2009) Pernapasan
pengukuran saturasi oksigen dengan pulse Berdasarkan hasil penelitian yang
oximetry (SpO2) perlu dilakukan pada dilakukan pada 20 orang responden
seluruh pasien dengan asma untuk menunjukkan bahwa sebagian besar
mengekslusi hipoksemia. Jika saturasi responden memiliki nilai saturasi oksigen
oksigen dalam tubuh rendah (<95%) dapat normal (95-100%) yaitu sebanyak 60%
menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan sebagian responden yaitu 40% yang
diantaranya hipoksemia. Hipoksemia memiliki nilai saturasi oksigen normal
ditandai dengan sesak napas, peningkatan (<95%). Hal ini menunjukkan peningkatan
frekuensi napas 35 x/menit, nadi cepat dan jumlah responden yang memiliki nilai
dangkal, sianosis serta penurunan saturasi oksigen normal yang pada awalnya
kesadaran (Perry & Potter, 2006). hanya 20% meningkat menjadi 60%.
Peningkatan frekuensi napas saat serangan Latihan pernapasan sangat berperan
asma mengakibatkan peningkatan kerja penting dalam mengembalikan fungsi
otot-otot pernapasan sebagai bentuk pernapasan pada pasien asama yang
mekanisme tubuh untuk tetap sebelumnya mengalami hiperventilasi dan
mempertahankan ventilasi paru. Otot-otot menyebabkan kekurngan Co2 sehingga
pernapasan yang berperan pada proses tubuh menyesuaikan diri dengan
inpirasi adalah otot interkostalis eksterna, menurunkan kadar Oksigen di jaringan hal
sternokleidomastodeus, skalenus. ini yang menyebabkana terjadinya
Sedangkan otot yang berperan pada penurunan saturasi oksigen periifer, hal ini
ekspirasi adalah interkostalis internus, ditunjang oleh teori Robert L.Cowie,
rektus abdominis. (Guyton & Hall, 2008). (2007) Teknik pernapasan Buteyko
Pada penderita asma biasanya mampu dikembangkan untuk melatih penderita
melakukan inspirasi dengan baik dan asma untuk mengurangi ventilasi mereka.
adekuat tetapi sukar sekali melakukan Sebagian besar pasien asma akan
ekspirasi akibat bronkiolus yang sempit, mengalami keadaan dimana saturasi
mengalami edema dan terisi mukus (Price oksigen mereka akan berada di bawah
& Wilson, 2006). Pada kondisi ini kisaran normal, menurut Santosa
membutuhkan kerja keras otot-otot Giriwijoyo (2013) Gangguan pernapasan
pernapasan untuk mengeluarkan udara pada asma dapat menyebabkan terjadinya
ekspirasi (Price & Wilson, 2006). Pada insufiensi (ketidakcukupan) ventilasi
saat serangan asma, otot-otot yang lebih alveoli dan berkurangnya tingkat saturasi
sering digunakan adalah otot-otot (kejenuhan) O2 dalam arteri. Latihan
interkostalis daripada otot-otot rektus pernapasan dapat meningkatkan
abdominis, sedangkan otot pernapasan pengembangan paru sehingga ventilasi
paling utama adalah yaitu diafragma. alveoli meningkat dan akan meningkatkan
Penggunaan otot-otot interkostalis secara konsentrasi oksigen dalam darah sehingga
terus menerus akan menyebabkan kebutuhan oksigen terpenuhi (Smeltzer &
kelemahan pada otot pernapasan sehingga Bare, 2001). Sesuai dengan teori di atas
diperlukan suatu latihan penguatan otot- terlihat bahwa hasil penelitian
otot pernapasan bagi penderita asma menunjukkan peningkatan signifikan nilai
157
saturasi oksigen pada responden, dari 20 % Latihan pernapasan mengakibatkan paru-
yang memiliki nilai saturasi oksigen di atas paru akan lebih banyak menerima oksigen,
nilai normal sebelum dilakukan latihan jumlah oksigen yang masuk ke paru
pernapsan meningkat menjadi 60 % yang mempengaruhi kerja tubuh atau jaringan,
memiliki nilai saturasi oksigen di atas nilai sehingga dapat mempengaruhi nilai
normal setelah dilakukan latihan saturasi oksigen. Latihan pernapasan
pernapasan. Hasil penelitian ini sesuai Butyeko menggabungkan teknik Deep
dengan penelitian yang dilakukan breathing dan kontrol pernapasan, Deep
Sivakumaar (2011) yang menyatakan breathing merupakan pernapasan dengan
bahwa latihan pernapasan teknik deep tehnik bernapas secara perlahan dan dalam,
breathing selama 5-10 menit memiliki efek menggunakan otot bantu napas, sehingga
akut terhadap peningkatan yang signifikan memungkinkan abdomen terangkat
pada kemampuan fungsi paru sesaat perlahan dan dada mengembang penuh,
setelah diberikan sehingga dapat dengan demikian jumlah udara yang masuk
mempengaruhi nilai saturasi oksigen, ke dalam paru-parupun akan menjadi lebih
diperkuat dengan penelitian yang banyak (Smeltzer, et al, 2008). Sehingga
dilakukan Sivakumar (2011) ini juga latihan pernapasan teknik Deep Breathing
menerangkan bahwa latihan pernapasan mendukung teknik pernapasan buteyko
teknik deep breathing selama 5-10 menit dalam meningkatkan nilai saturasi oksigen
akan merangsang pengeluran surfaktan setalah dilakukan latihan pada pasien
yang di sekresikan oleh sel-sel alveolus asma. Pada saat latihan Buteyko dilakukan
tipe II. Penelitian serupa dengan judul akan menyebabkan terjadinya peregangan
Pengearuh latihan napas dalam terhadap alveolus. Peregangan alveolus ini akan
oksigen perifer pada pasien TB Paru di RS merangsang pengeluaran surfaktan yang
Hasan Sadikin Bandung oleh Etika disekresikan oleh sel-sel alveolus tipe II
Emilyawati (2009) pada 34 orang yang mengakibatkan tegangan permukaan
responden memperoleh hasil bahwa alveolus dapat diturunkan (Sherwood,
terdapat hubungan signifikan antara latihan 2006). Pendapat tersebut mempunyai
napas dalam terhadap saturasi oksigen tujuan yang sama dengan latihan
pada pasien TB Paru dengan nilai pernapasan teknik Buteyko untuk
signifikansi p =0,046 < = 0,05. mengurangi keadaan hiperventilasi yang
Pengaruh Latihan Pernapasan Teknik biasa terjadi pada pasien asma. Latihan
Buteyko Terhadap Saturasi Oksigen pernapasan dalam juga akan
Pada Pasien Asma mengakibatkan meningkatnya aktifitas beta
Berdasarkan hasil uji wilcoxon didapatkan adrenergik saluran pernafasan yang
hasil uji Sig p (0,000) < (0,05), maka H0 menyebabkan terjadinya dilatasi bronkus
ditolak atau dapat disimpulkan bahwa ada dan menghambat sekresi mukus, sehingga
pengaruh signifikan latihan pernapasan paru dapat memasukkan dan mengeluarkan
teknik Buteyko terhadap peningkatan udara dengan lebih baik. Terjadinya
saturasi oksigen pada pasien Asma di dilatasi pada bronkus dan masuknya
Ruang Rawat Inap RSUD Patut Patuh jumlah oksigen yang banyak tersebut akan
Patju Tahun 2017. Dari hasil pengukuran berikatan dengan hemoglibin sebagai
saturasi oksigen pada pasien asma yang oksiohemoglobin (HbSO2)
dilakukan sebelum dan setelah latihan (Lueckenotte,2008). Latihan pernapasan
didapatka ada peningkatan yang terjadi dirancang dan dijalankan untuk mencapai
antara pengukuran awal dan setelah ventilasi yang terkontrol yang terutama
latihan, hal ini menunjukkan adanya diindikasikan pada penderita Asma.
pengaruh yang signifikan dari latihan Penelitian serupa lainnya oleh Dewi
pernapasan dengan teknik Buteyko, sesuai Natalia, dkk (2010) Efektifitas Latihan
dengan teori dari Lueckenotte (2006) pernapasan teknik Buteyko dalam
158
peningkatan saturasi oksigen pada pasien kemampuan fungsi paru sesaat setelah
asma bronchial di RSUP Banyumas diberikan (Sivakumaar, 2011).
dengan respoden 52 orang. Hasil yang
diperoleh pada penelitian dari Dewi Kesimpulan
Natalia terbukti bahwa latihan pernapasan 1. Saturasi oksigen sebelum latihan
teknik Buteyko efektik dalam pernapasan pada pasien Asma diperoleh
meningkatkan saturasi oksigen pada pasien 80 % yang berada di bawah nilai normal
asma bronchial dengan uji statistik paired dan 20 % yang berada pada nilai normal
T-Test p =0,025 < =0,05. Dalam (nilai normal 95% -100%).
penelitian Bernardi et al pada tahun 2006 2. Saturasi oksigen setelah latihan
membandingkan pernapasan pasien asma pernapasan pada pasien Asma diperoleh
sebelum dilakukan latihan pernapasan, 60 % yang berada di bawah nilai normal
diperoleh bahwa nilai saturasi oksigen dan 40 % yang berada pada nilai normal
lebih rendah pada saat bernapas spontan (nilai normal 95% -100%).
dibandingkan Latihan Napas Dalam pada 3. Ada pengaruh signifikan latihan
penderita Empisema, hal ini menunjuukan pernapsan terhadap saturasi oksigen
pengaruh latihan pernapasan berfungsi pada pasien Asma dengan hasil uji
untuk mengembalikan efektifitas dari Wilcoxon menunjukan nilai sig
pernapasan dan meningkatkan intake O2 (0,000)< =(0,05) yang berarti H0
serta meningkatkan saturasi oksigen ditolak dan H1diterima.
perifer. Penelitian yang dilakukan selama 3
hari ini mengukur jumlah saturasi oksigen Saran
sebelum dan sesudah pemberian deep
breathing exercise, latihan diberikan Diharapkan DPD PPNI Lombok Barat
selama 5 menit dengan deep breathing 6 dalam hal ini rating kecamatan Gerung
kali permenit. Hasil penelitian ini sesuai untuk melakukan update ilmu keperawatan
dengan penelitian yang dilakukan terkait terapi komplementer. Diharapkan
Sivakumar (2011) yang menyatakan bahwa rumah sakit memberikan pelatihan dan
deep breathing selama 2-5 menit memiliki seminar keperawatan terkait tindakan
efek akut terhadap peningkatan yang mandiri keperawatan dalam memberikan
signifikan pada kemampuan fungsi paru asuhan keperawatan pada pasien.
sesaat setelah diberikan sehingga dapat
Daftar Pustaka
mempengaruhi nilai saturasi oksigen.
Penelitian yang dilakukan Sivakumar A Potter, & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar
(2011) ini juga menerangkan bahwa deep Fundamental Keperawatan: Konsep,
breathing exercise akan merangsang Proses, Dan Praktik, edisi 4,
pengeluran surfaktan yang di sekresikan Volume.2. Jakarta: EGC.
oleh sel-sel alveolus tipe II. Keluarnya Andarmoyo, S. 2012. Kebutuhan Dasar
surfaktan tersebut akan mengakibatkan Manusia (Oksigenasi) Konsep, Proses
tegangan permukan pada alveolus dapat dan Praktik Keperawatan.
diturunkan (Sherwood, 2005). Menurut Yogyakarta: Graha Ilmu.
Bilo et al (2012) sebagian besar perbaikan Ayres, Jon. 2003. Bimbingan Dokter pada
oksigenasi darah hilang dalam waktu 5 Asma. Dian Rakyat : Jakarta
menit setelah pemulihan pola pernapasan Aziz, A. 2007. Metode Penelitian dan
spontan, dan tidak ada perbedaan Teknik Analisa Data. Penerbit
dibandingkan dengan awal setelah 30 Salemba Medika :Surabaya.
menit .Bahkan dalam penelitian disebutkan Badan Pusat Statistik (BPS) diakses dari
bahwa deep breathing selama 2-5 menit http://www.bps.go.id/, diakses pada
terjadi peningkatan signifikan terhadap tanggal 2 Februari 2016 pada jam
20.20 WIB.
159
Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Glance-Asthma-Management-
Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Reference
Jakarta: Balitbang Kemenkes RI GINA. (2012). Global Strategy for Asthma
Brunner dan Suddarth. (2001). Buku Ajar Management and Prevention.
Keperawatan Medikal Bedah edisi 8, http://www.ginasthma.org/documents/
Jakarta : EGC 1/Pocket-Guide-for-
Bruton, A., & Thomas, M. (2006). AsthmaManagement-and-Prevention
Breathing Therapies and diunduh tanggal 7 Januari 2017.
Bronchodilator. Griwijoyo, S. dkk. (2007). Ilmu Kesehatan
Thorax , 643-644. Olahraga. Bandung:FPOK UPI.
Claudia S. Lope,s dkk. 2010. 100 Tanya Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku
Jawab Mengenai Asma. Jakarta: Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Indeks Jakarta: EGC.
Cohen, 2007. Research Methods In Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku
Education. London :Routledge Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Denny, A., Kafi, A., & Achmad, D. 2007. Jakarta: EGC
Metode Buteyko pada Penderita Asma Hidayat, A. H. (2010). Riset Keperawatan
, Bagian Ilmu Faal Fakultas Dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta:
Kedokteran UGM, Yogyakarta Salemba Medika.
DEPKES R.I., 2008. Profil Kesehatan Hidayat. A. A. 2012. Riset Keperawatan
Indonesia. Jakarta Dan teknik Penulisan Ilmiah.Salemba
DEPKES. (2009). Pedoman Pengendalian Medika. Jakarta
Penyakit Asma. Jakarta: Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning:
http://pppl.depkes.go.id/_asset/_downl Experience as the source of learning
oad/buku_pedoman_asma.pdf di and development. Englewood Cliffs,
unduh pada tanggal 7 Januari 2017. N. J.: Prentice-Hall.
Dharma. KK. 2011. Metodologi Penelitian Kowalak. 2011. Buku Ajar Patofisiologi.
Keperawatan Panduan Melaksankan Jakarta: EGC
dan Menerapkan Hasil Penelitian. Kozier & Erb. 2002. Keperawatan Medikal
Jakarta : TIM Bedah. EGC: Jakarta
Dupler, D. (2005). Gale Encyclopedia of Kozier. Erb, Berman. Snyder. (2010).
Alternative Medicine. Buku Ajar Fondamental Keperawatan
http://www.encyclopedia.com/doc/1G : Konsep, Proses & Praktik, Volume :
2-3435100140.html diakses tanggal 7 1, Edisi : 7, EGC : Jakarta
Januari 2017.. Lauralee Sherwood. 2001. Fisiologi
Elizabeth J. Corwin. (2009). Buku Saku Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 2.
Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya Jakarta: EGC
Media Lewis,.(2011).Medical-Surgical Nursing:
Emaliyawati, Etika. 2009. Pengaruh latihan Assessment and Management of
napas dalam terhadap oksigen perifer Clinical Problems, 8th Edition. United
pada pasien TB Paru di RS Hasan States of America: Elsevier Mosby.
Sadikin Bandung. McHugh, P. A. (2003). Buteyko Breathing
Fadhil. (2009). Teknik Pengolahan Nafas, Technique for Asthma: An Effective
Diakses pada tanggal 6 Januari .New Zealand Medical Journal , 1187.
2017darihttp://www.wikipedia.com/te Murphy, A. (2005). The Buteyko (Shallow
knik_pengo lahan_nafas.html. Breathing) Method for Controlling
GINA, 2011. At A Glance Asthma Asthma, Diakses pada tanggal 2
Management Reference. Diakses pada Oktober
tanggal 6 Desember 2017 dari 2012 dari
http://www.ginasthma.org/At-a- http://www.btinternet.com/~andrew.m
160
ur Rochimah, dkk., 2011. Keterampilan Dasar
phy/asthma_buteyko_shallow_breathi Praktik Klinik (KDPK). Jakarta :
ng. html. Penerbit Trans Info Media Jakarta.
Murphy, K. R., Meltzer, E. O., Blaiss, M. Setiady. 2007. Konsep dan penulisan riset
S., Nathan, R. A., Stoloff, S. W., & keperawatan. Graha Ilmu. Yogyakarta
Doherty, D. E. (2012). Asthma Sherwood, L. (2007). Human Physiology
Management and Control in the from Cells to System, USA :
United States: Results of the 2009 ThomsonBook Cole.
Asthma Insight and Management Sivakumar G., Krishnamoorthi Prabhu,
Survey. Allergy and Rekha Baliga, M. Kirtina Pai & S.
Asthma Proceedings , 54-61. Manjunatha. 2011. Acute Efects of
Mutaqqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Deep Breathing for a Short Duration
Keperawatan Klien Dengan Gangguan (2-10 Minutes) on Pulmonary
Sistem Pernapasan. Salemba : Jakarta. Functions in Healthy Young
Natalia, Dewi., Saryono., Indriati, Dina. Volunteers.Department of Physiology,
2007. Efektifitas latihan pernapasan Kasturba Medical College, Manipal
Butyeko terhadap saturasi oksigen Manipal University,
pada pasien Asma Manipal Udupi 576104, Karnataka
bronchiale di RSUD Banyumas Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar
Notoatmodjo, 2012. Metodologi Penelitian Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8
Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta: Volume 1. Jakarta : EGC
Rieneka Cipta Smeltzer, S. C., Bare, B., Hinkle, J. L.,
Nursalam, 2015. Konsep dan Penerapan Cheever, K. H. (2010). Handbook
Metodologi Penelitian Ilmu forBrunner & Suddarths Textbook of
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medical-Surgical Nursing, 12th
Medika. edition. United States of America:
Patricia. dkk. 2012. Keperawatan Kritis Wolters Kluwer Health.
Pendekatan Asuhan Holistik (Critical Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. 2012. Buku
Care Nursing : A Holistic Approach) Ajar keperawatan Medikal Bedah.
Volume 1. Jakarta : EGC Volume 1. Edisi 8. Jakarta: EGC
Price, S. A. dan Wilson, L. M. (2006). Vita Health. (2005). Asma: Informasi
Patofisiologi : Konsep Klinis Lengkap Untuk Penderita dan
ProsesProses Penyakit, Edisi 6, Keluarga. Jakarta: PT Gramedia
Volume 1. Jakarta: EGC. Pustaka Utama.
Profil RSUD Patut Patuh Patju Kabupaten Wahid, A & Suprapto, I. 2013. Asuhan
Lombok Barat Tahun 2016 Keperawatan Pada Gannguan Sistem
Riwidikdo, H. (2008). Statistik Kesehatan, Respirasi. Jakarta :Trans Info Media.
Yogyakarta : Mitra Cendekia Press Wasis. 2008. Pedoman Riset Prraktis
Yogyakarta. Untuk Profesi Perawat. Jakarta:EGC
Riwidikdo, H. 2012. Statistik Kesehatan. WHO. 2012. World Health Statistics 2012.
Yogyakarta: Mitra Cendikia Press Perancis: Who Library Cataloguing-in
Publication Data.

161