You are on page 1of 6

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 57 responden mengenai

“hubungan kepatuhan minum obat dengan harga diri pada pasien TB paru di

wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung” dapat dilihat pada tabel

sebagai berikut:

1. Gambaran kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di wilayah kerja


Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi kepatuhan minum obat pada pasien TB
paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung
No Kategori F %
1 Patuh 13 22.8
2 Tidak Patuh 44 77.2

Total 57 100.0

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan hasil bahwa kepatuhan minum obat

pada pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung

lebih dari setengahnya responden tidak patuh, yaitu dengan 44 responden

(77,2%).

38
39

2. Gambaran harga diri pada pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas


Babakan Sari Kota Bandung
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi harga diri pada pasien TB paru di wilayah
kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung
No Kategori F %
1 Positif 18 31.6
2 Negativ 39 68.4

Total 57 100.0

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan hasil bahwa harga diri pada pasien

TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung lebih lebih

dari setengahnya harga diri responden negativ, yaitu dengan 39 responden

(68,4%).

3. Hubungan kepatuhan minum obat dengan harga diri pada pasien TB paru di
wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung
Tabel 4.3 Hubungan kepatuhan minum obat dengan harga diri pada
pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota
Bandung

Harga diri
Kepatuhan Total P Value

Positive Negative
n % n % n %

Patuh 10 76.9 3 23,1 13 100


0.000
Tidak patuh 8 18.2 36 81,8 44 100

Jumlah 18 31,6 39 68,4 57 100


40

Dilihat dari tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa frekuensi

kepatuhan terbesar adalah kategori tidak patuh, yaitu sebanyak 44 responden

(77,2%), jumlah kepatuhan tidak patuh yang dikategorikan positiv sebanyak

8 responden (18,2%) yang negativ 36 rsponden (81,8%). Hasil uji statistik

didapatkan nilai P= 0.000 maka keputusanya Ho ditolak dan dapat

disimpulkan ada hubungan kepatuhan minum obat dengan harga diri pada

pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung

B. Pembahasan

1. Gambaran kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di wilayah kerja

Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung

Berdasarkan hasil penelitian bahwa kepatuhan minum obat pada

pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung lebih

dari setengahnya responden tidak patuh, yaitu dengan 44 responden (77,2%).

Pasien yang dikatakan tidak patuh minum obat yaitu pasien yang

menghabiskan obatnya tidak sesuai dengan anjuran petugas kesehatan dan

tidak dating kembali ke puskesmas untuk mengambil obat berikutnya sesuai

dengan jadwal yang ditentukan oleh petugas kesehatan..

Kepatuhan pasien dalam menyelesaikan program pengobatan pada

kasus TB aktif merupakan prioritas paling penting, peningkatan persentase

pasien yang berobat teratur akan memberikan dampak positif, yaitu

mengurangi angka penularan, mengurangi kekambuhan, menghambat


41

pertumbuhan kuman terhadap obat. Jumlah pasien TB akan menurun

(Murtiwi, 2016). Kepatuhan pasien sebagai sejauh mana prilaku pasien sesuai

dengan ketentuan yang diberikan oleh professional kesehatan.

Kepatuhan pasien sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan

ketentuan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Pasien yang patuh berobat

adalah yang menyelesaikan pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa

terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 8 bulan (Depke RI, 2005).

2. Gambaran harga diri pada pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas

Babakan Sari Kota Bandung

Berdasarkan hasil penelitian bahwa harga diri pada pasien TB paru di

wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung lebih lebih dari

setengahnya harga diri responden negativ, yaitu dengan 39 responden

(68,4%).

Seseorang yang menderita penyakit kronis seperti TB Paru akan

mempengaruhi harga diri penderita baik secara langsung maupun tidak

langsung. Semakin banyak penyakit kronis yang mengganggu kemampuan

beraktivitas dan mempengaruhi keberhasilan seseorang, maka akan semakin

mempengaruhi harga diri.

Berdasarkan teori bahwa harga diri adalah perasaan tidak berharga,

tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif

terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang

kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan ideal
42

diri (Yosep, 2009). Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang

lain. Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang,

pelukan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk.

Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah.

Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif

dan mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa

aman. Individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan

cara negatif dan menganggap sebagai ancaman (Stuart, 2007).

Hasil riset Malhi 2008, (dalam Yosep, 2009) menyimpulkan bahwa

harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini

mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan

yang mudah menyebabkan upaya yang rendah.Selanjutnya hal ini

menyebabkan penampilan seseorang yang tidak optimal.Harga diri rendah

muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari

kemampuan.

3. Hubungan kepatuhan minum obat dengan harga diri pada pasien TB

paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari Kota Bandung

Berdasarkan hasil penelitian bahwa frekuensi kepatuhan terbesar

adalah kategori tidak patuh, yaitu sebanyak 44 responden (77,2%), jumlah

kepatuhan tidak patuh yang dikategorikan positiv sebanyak 8 responden

(18,2%) yang negativ 36 rsponden (81,8%).


43

Hasil uji statistik didapatkan nilai P= 0.000 maka keputusanya Ho

ditolak dan dapat disimpulkan ada hubungan kepatuhan minum obat dengan

harga diri pada pasien TB paru di wilayah kerja Puskesmas Babakan Sari

Kota Bandung.

Kepatuhan pasien dalam menyelesaikan program pengobatan pada

kasus TB aktif merupakan prioritas paling penting, peningkatan persentase

pasien yang berobat teratur akan memberikan dampak positif, yaitu

mengurangi angka penularan, mengurangi kekambuhan, menghambat

pertumbuhan kuman terhadap obat. Jumlah pasien TB akan menurun.

Secara umum, ganguaan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi

secara situsional atau kronik. Secara situsional misalnya karna trauma yang

muncul secara tiba-tiba, misalnya depresi, kecelakaan, pemerkosaan atau di

penjara termasuk dirawat di rumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah

disebabkan karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat

pasien tidak nyaman. Harga diri rendah situsional, biasanya dirasakan pasien

sebelum sakit atau sebelum dirawat pasien sudah memiliki pikiran negatif dan

meningkat saat dirawat

Hasil penelitian yang dilakukan Abdullah pada tahun 2015 menyatakan

bahwa variabel yang mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap

kapatuhan adalah harga diri. Variabel pendukung yang mempunyai pengaruh

terhadap kepatuhan adalah dukungan keluarga,