You are on page 1of 10

BAB IX

MANAJEMEN RESIKO

I. MANAJEMEN RESIKO LABORATORIUM

Manajemen resiko merupakan suatu proses yang menurut nalar manusia


dan sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisa, mengevaluasi dan
menindaklanjuti resiko yang berhubungan dengan segala aktifitas di
dalam laboratorium. Adapun rangkaian manajemen resiko secara umum
adalah:

1. Pelaksanaan kajian dampak dari kegiatan pemeriksaan laboratorium;


2. Pelaksanaan identifikasi resiko yang ada di laboratorium;
3. Pelaksanaan analisis resiko yand ada di laboratorium;
4. Pelaksanaan upaya pencegahan dan pengendalian.

II. PEMERIKSAAN BERESIKO TINGGI

Untuk beberapa pemeriksaan, diperlukan kehati-hatian yang lebih untuk


menghindari resiko dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan. Dimulai
dari penerimaan rujukan pemeriksaan laboratorium dari dokter yang perlu
diverifikasi, memberikan penjelasan kepada pasien tentang apa yang
akan dilakukan terutama dalam pengambilan spesimen, memastikan
pemakaian APD, mengambi/menerima spesiemen dengan hati-hati dan
mengelola spesiemen sesuai dengan ketentuan, melaksanakan
pemeriksaan sesuai dengan prosedur yang ada, jika pemeriksaan tidak
dapat dilakukan maka dirujuk, melaksanakan kegiatan pencatatan dan
pelaporan.

III. PELAPORAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG KRITIS

Jika setelah dilakukan pemeriksaan, didapatkan hasil yang jauh dari nilai
batas normal, maka diperlukan langkah-langkah agar hasil pemeriksaan
tidak menimbulkan resiko.

Adapun langkah-langkahnya adalah: melihat kondisi fisik pasien,


bertanya tentang kondisi dan perilaku kepada pasien yang berpotensi
menimbulkan hasil pemeriksaan yang jauh dari nilai batas normal,
melaksanakan pemeriksaan ulang, jika memungkinkan melakukan
pemeriksaan dengan alat yang berbeda, berkoordinasi dengan dokter
pemberi rujukan, menyarankan untuk melakukan pemeriksaan
pembanding, petugas melaporkan hasil pemeriksaan kepada Koordinator
pelayanan klinis.

Adapun nilai ambang yang dianggap kritis untuk beberapa pemeriksaan


adalah:
NILAI AMBANG KRITIS HASIL LABORATORIUM

No Pemeriksaan Kurang dari Lebih dari


1 Hemoglobin < 7 g/dl > 20 g/dl
2 Glukosa < 45 mg/dl > 500 mg/dl
3 Asam urat < 0,5 mg/dl > 20 mg/dl

1
IV. MONITORING PELAPORAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG
KRITIS

Untuk pemeriksaan laboratorium yang dianggap kritis maka perlu adanya


prioritas, dan untuk menjamin agar pemeriksaan tersebut terlaksana dan
hasil pemeriksaan dapat diterima pasien sesuai dengan yang diinginkan,
maka perlu dilakukan penilaian apakah petugas telah melaksanakan
prosedur yang ada.

Adapun kegiatan dalam monitoring pelaporan pemeriksaan yang kritis


adalah sebagai berikut:

1. Petugas laboratorium siap untuk memeriksa spesimen;


2. Petugas penilai siap untuk mengamati pemeriksaan laboratorium;
3. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan laboratorium yang
dianggap kritis;
4. Petugas laboratorium membaca hasil pemeriksaan;
5. Petugas laboratorium berkoordinasi dengan dokter perujuk
pemeriksaan laboratorium;
6. Petugas laboratorium mendokumentasikan hasil pemeriksaan yang
dianggap kritis;
7. Petugas laboratorium menyerahkan hasil pemeriksaan kepada
pasien;
8. Petugas melaporkan kepada koordinator pelayanan klinis;
9. Petugas penilai mengevaluasi pelaksanaan pemeriksaan yang
dianggap kritis.

2
BAB X
KEGIATAN LAINNYA

I. PELAYANAN DI LUAR JAM KERJA

Pelayanan di luar Jam kerja adalah pada hari Sabtu atau Minggu, di
Puskesmas Susunan Baru pelayanan Laboratorium dapat dilakukan
diluar jam Kerja dengan tahapan sebagai berikut:

1. Pemeriksaan Laboratorium harus berdasarkan permintaan dokter, dan


langsung menghubungi Petugas Laboratorium;
2. Petugas laboratorium akan memberikan konfirmasi dapat melakukan
pemeriksaan atau tidak;
3. Bila dapat melakukan pemeriksaan laboratorium, maka petugas akan
langsung ke Puskesmas.
4. Bila tidak bisa dilakukan pemeriksaan maka dilakukan penjadwalan
ulang.

II. NILAI RENTANG RUJUKAN

Nilai rentang rujukan hasil pemeriksaan di Laboratorium Puskesmas


Susunan Baru adalah sebagai berikut:

No Jenis Pemeriksaan Nilai Rujukan Keterangan


Hematologi
12,0 - 16,0 g/dl(P)
1 Hemoglobin
13,0 – 18,0 g/dl(L)
Kimia Klinik
2 Glukosa 70-100 mg/dl
3,6 – 8,5 mg/dl (L)
3 Asam Urat
2,3 – 6,6 mg/dl (P)
Mikrobiologi
1 BTA Negatif
2 Malaria Negatif
Imunologi
1 HCG Test -
2 Golongan Darah -
Urinalisa
1 Makroskopis Kuning muda
2 pH 5,0 - 7,5
3 Protein Negative
4 Glukosa Negative

III. EVALUASI NILAI RENTANG RUJUKAN

Adanya perubahan alat, metode, ataupun reagen memungkinkan untuk


terjadinya perubahan nilai rentang rujukan, oleh karenanya perlu adanya
evaluasi nilai rujukan jika terjadi perubahan alat, metode, ataupun
reagen.

Jika terjadi adanya perubahan alat, metode, dan reagen, maka petugas
laboratorium memahami perubahan alat, metode, dan reagen, kemudian
petugas laboratorium memahami terjadinya perubahan nilai rentang
rujukan, setelah itu petugas laboratorium melaporkan kepada Koordinator
Pelayanan Klinis, dan Koordinator Pelayanan Klinis akan melaporkan

3
kepada Kepala Puskesmas untuk kemudian dilakukan evaluasi nilai
rentang rujukan.

IV. PROSEDUR BARU

Perubahan alat, metode, dan reagen dapat menyebabkan terjadinya


perubahan prosedur. Adanya perubahan prosedur ini perlu dilakukan
pengenalan/orientasi sehingga prosedur tersebut dapat dijalankan
dengan baik.

A. Orientasi Prosedur dan K3

Prosedur baru dan kegiatan K3 saat ini menjadi hal yang cukup
penting, oleh karenanya diperlukan pengenalan/orientasi agar
kegiatan tersebut dapat dijalankan dengan baik. Berikut adalah
kegiatan orientasi tersebut:

Petugas laboratorium mendapatkan prosedur baru dan


pedoman/kerangka acuan K3, petugas laboratorium melakukan
orientasi referensi/teori tentang prosedur baru dan kegiatan K3,
petugas melakukan orientasi pencatatan dan pelaporan prosedur dan
kegiatan K3, petugas laboratorium melakukan orientasi lapangan
terhadapprosedur baru dan kegiatan K3, dan terakhir petugas
laboratorium membuat laporan hasil kegiatan orientasi.

B. Pelatihan dan Pendidikan untuk Prosedur Baru, B3, Alat Bantu

Dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan laboratorium, jika


terdapat prosedur baru, alat bantu, dan kegiatan pengelolaan B3,
maka perlu dilakukan orientasi. Jika kegiatan orientasi ini
memerlukan adanya pelatihan, maka dilakukan kegiatansebagai
berikut:

Petugas menerima prosedur baru, pedoman/kerangka acuan


kegiatan pengelolaan B3 dan alat bantu maka dilakukan orientasi. Di
dalam proses orientasi jika diperlukan pendidikan/pelatihan, maka
petugas laboratorium melaporkan kepada Koordinator Pelayanan
Klinis, Koordinator Pelayanan Klinis mengajukan permohonan
pendidikan/pelatihan untuk prosedur baru, kegiatan pengelolaan B3
dan alat bantu. Kepala Puskesmas akan menyusun rencana
pendidikan/pelatihan.

4
BAB XI
PENUTUP

Pedoman Penyelenggaraan Laboratorium Puskesmas Susunan Baru ini


merupakan ketentuan tambahan dari Keputusan Kepala Puskesmas Susunan
Baru tentang Penyelenggaraan Laboratorium Puskesmas Susunan Baru.

Pedoman ini masih dapat terus berkembang, sehingga dapat direvisi


dikemudian hari untuk penyempurnaannya. Semoga dengan adanya
pedoman ini, kegiatan Laboratorium Puskesmas Susunan Baru dapat
berjalan dengan baik.

5
DAFTAR PUSTAKA

1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 37 Tahun 2012 tentang


Penyelenggaraan Laboratorium di Pusat Kesehatan Masyarakat

2. Peraturan Menteri Kesehatan Tahun Nomor 43 Tahun 2013 tentang


Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik

3. Interprestasi Data Klinik, Kemenkes RI, Tahun 2011

4. Standar Prosedur Operasional: Pemeriksaan Mikroskopis TB,


Kemenkes RI, tahun 2012

6
LAMPIRAN

PROSEDUR PEMERIKSAAN LABORATORIUM

A. Pengambilan Darah Kapiler

a) Memberi salam kepada pasien.


b) Mempersilahkan pasien untuk duduk dan menjelaskan tentang
pemeriksaan yang akan dilakukan.
c) Mempersiapkan peralatan dan bahan untuk pengambilan dan
pemeriksaan sampel.
d) Mempersiapkan pasien untuk pengambilan sampel. Bersihkan tempat
tersebut memakai kapas/tissue alkohol 70% dan biarkan sampai kering.
e) Peganglah bagian yang akan ditusuk supaya tidak bergerak dan tekan
sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
f) Tusuklah dengan cepat memakai lancet steril. Pada jari tusuklah dengan
arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit jari, jangan sejajar dengan
itu. Bila memakai anak daun telinga tusuklah pinggirnya jangan sisinya.
Tusukan harus cukup dalam supaya darah mudah keluar.
g) Sebisa mungkin jangan menekan-nekan jari atau telinga itu untuk
mendapat cukup darah.
h) Buanglah tetes darah yang pertama keluar dengan memakai segumpal
kapas/tissue kering. Tetes darah yang berikutnya boleh dipakai untuk
pemeriksaan.

B. Pengambilan Darah Vena

1. Memberi salam kepada pasien.


2. Mempersilahkan pasien untuk duduk dan menjelaskan tentang
pemeriksaan yang akan dilakukan.
3. Memberikan Inform Consen kepada pasien
4. Mempersiapkan peralatan dan bahan untuk pengambilan dan
pemeriksaan sampel.
5. Mempersiapkan pasien untuk pengambilan sampel.
6. Pilih pembuluh darah pada lipat siku yang paling jelas dan paling besar,
yang paling baik yaitu pada salah satu cabang yang membentuk huruf Y.
7. Letakkan lengan pasien lurus diatas meja dengan telapak tangan
menghadap ke atas.
8. Lengan diikat dengan tourniquet, tetapi tidak boleh terlalu kencang
sebab dapat merusak pembuluh darah.
9. Pasien disuruh mengepal dan membuka lengannya beberapa kali untuk
mengisi pembuluh darah.
10. Dalam keadaan tangan pasien masih mengepal, ujung telunjuk kiri
pemeriksa mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk.
11. Bersihkan lokasi tersebut dengan kapas alkohol dan biarkan kering.
12. Peganglah spuit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada pangkal
jarum.
13. Tegangkan kulit dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri diatas pembuluh
darah supaya pembuluh darah tidak bergerak, kemudian tusukkan jarum
dengan posisi miring menghadap ke atas dan membentuk sudut ±25⁰.
14. Jarum dimasukkan sepanjang pembuluh darah ± 1-1 ½ cm.
15. Dengan tangan kiri, spuit perlahan-lahan sehingga darah masuk ke
dalam spuit.

7
16. Sementara itu kepalan tangan dibuka dan ikatan pembendungan
direnggangkan atau dilepas sampai didapat sejumlah darah yang
dikehendaki.
17. Letakkan kapas/tissue kering pada tempat tusukan, jarum ditarik
kembali.
18. Pasien disuruh menekan bekas tempat tusukan dengan kapas tersebut
selama beberapa menit dengan tangan masih dalam keadaan lurus (siku
tidak boleh ditekuk).
19. Lepaskan jarum dari spuitnya dan alirkanlah (jangan disemprotkan)
darah ke dalam wadah atau tabung yang tersedia melalui dindingnya.

C. Pemeriksaan Hemoglobin (Sahli)

1. Masukkan HCl 0,1 N kedalam tabung pengencer haemometer sampai


skala 2.
2. Isaplah darah (Kapiler atau darah+EDTA) dengan pipet haemoglobin
sampai garis tanda 20 µl.
3. Hapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet.
4. Masukkan darah sebanyak 20 µl ini ke dalam tabung yang berisi larutan
HCl tadi tanpa menimbulkan gelembung udara.
5. Bilas pipet sebelum diangkat dengan jalan menghisap dan mengeluarkan
HCl dari dalam pipet secara berulang-ulang 3 kali.
6. Tunggu 5 menit untuk pembentukkan asam hematin.
7. Asam hematin yang terjadi di encerkan dengan aquades/air biasa
setetes demi setetes sambil diaduk dengan batang pengaduk dari gelas
sampai didapat warna yang sama dengan warna standard.
8. Lihat miniskus (permukaan terendah) dari larutan dan dibaca. Bacalah
kadar hemoglobin dengan gram/100 ml darah.

D. Pemeriksaan Glukosa Darah

1. Ambil darah dengan cara mengusap ujung jari dengan kapas alkohol,
tusuk ujung jari dengan menggunakan lanset, hapus darah pertama
dengan tissue.
2. Masukkan darah kapiler ke dalam Strip .
3. Tunggu hingga alat menampilkan hasil
4. Baca hasil yang didapat.

E. Pemeriksaan Asam Urat Darah

1. Ambil darah dengan cara mengusap ujung jari dengan kapas alkohol,
tusuk ujung jari dengan menggunakan lanset, hapus darah pertama
dengan tissue.
2. Masukkan darah kapiler ke dalam Strip .
3. Tunggu hingga alat menampilkan hasil
4. Baca hasil yang didapat.

F. Pemeriksaan Kolesterol Darah

1. Ambil darah dengan cara mengusap ujung jari dengan kapas alkohol,
tusuk ujung jari dengan menggunakan lanset, hapus darah pertama
dengan tissue.
2. Masukkan darah kapiler ke dalam Strip .
3. Tunggu hingga alat menampilkan hasil, Baca hasil yang didapat.

8
G. Pemeriksaan BTA

1. Ambil specimen pada bagian yang purulen dengan ose


2. Hapuskan dahak diatas kaca sediaan dengan bentuk oval sekitar
2x3 cm
3. Keringkan di dalam suhu kamar, sediaan siap di lakukan
pengecatan
4. Letakkan sediaan pada rak pengecatan
5. Genangi sediaan dengan larutan karbol fuchsin
6. Panasi dari bawah dengan api
7. Singinkan minimal 5 menit
8. Bilas dengan air mengalir secara hati-hati
9. Genangi dengan asam alcohol hingga tampak warna merah hilang
10. Bilas dengan air mengalir dengan hati-hati
11. Genangi dengan larutan methylen bluse selama 20-30 menit
12. Bilas dengan air mengalir dengan hati-hati
13. Keringkan dan siap diperiksa dengan mikroskop.

H. Pemeriksaan Malaria Metode Hapusan Darah

1. Ambil darah menurut pengambilan darah kapiler;


2. Kemudian teteskan 1 tetes kecil darah dibagian tengah kaca
sediaan, selanjutnya 2-3 tets kecil dibagian ujung kaca sediaan;
3. Letakkan kaca sediaan di merja dengan permukaan rata
4. Buat sediaan darah tipis dengan kaca sediaan baru dari 1 tetes
kecil darah di tengah
5. Buat sediaan darah tebal dari 2-3 tetes kecil darah dipinggir
6. Beri label kaca sediaan dengan nama pasien dan tanggal
pembuatan
7. Lakukan pengeringan ditempat datar
8. Sediaan tipis di fiksasi, kemudian diletakkan pada rak pewarnaan
9. Campur giensa 3% dengan buffer/air biasa dengan perbandingan
3:97
10. Tuangan campuran giemsa tersebut ke atas sediaan, biarkan
selama 30-45 menit
11. Tuangkan air bersih dari samping kaca sediaan secara perlahan
hingga warna larutan giemsa yang terbuang jernih.
12. Angkat dan keringkan sediaan dan siap diperiksa dibawah
mikroskop.

I. Pemeriksaan Malaria Metode RDT

1. Tambahkan darah hingga batas pipet ke dalam sumur specimen


2. Putar dan tarik ujung tabung untuk membuka wadah buffer
3. Teteskan semua buffer ke sumur buffer
4. Baca hasil sesudah 20 menit

J. Pemeriksaan HCG/PP test

1. Tempatkan alat dan bahan pemeriksaan di suhu kamar


2. Buka wadah specimen
3. Tempatkan strip test secara vertical ke dalam specimen selama 10-
15 detik
4. Jangan biarkan specimen naik melebihi batas maksimal dari strip
test

9
5. Baca hasil pemeriksaan dalam rentang 3 - 10 menit.

K. Pemeriksaan Golongan Darah

1. Petugas melakukan pengambilan darah kapiler,


2. Kemudian tetskan darah di kartu golongan darah sesuai kotak
specimen
3. Tambahkan antisera sesuai dengan petunjuk di korak specimen,
4. Aduk dengan pengaduk secara perlahan
5. Lakukan pembacaan golongan darah
6. Golongan A jika terdapat aglutinin dalam kotak A, Golongan B jika
terdapat aglutinin dalam kotak B, Golongan AB jika terdapat
aglutinin dalam kotak AB, Rhesus + jika terdapat agglutinin dalam
kotak Rhesus.

L. Pemeriksaan Urinalisa Markoskopis

1. Masukkan specimen ke dalam tabung reaksi


2. Lakukan pengamatan meliputi warna dan kejernihan
3. Catat hasil pengamatan

M. Urinalisa Glukosa, Protein, dan Ph

1. Buka wadah specimen


2. Masukkan strip test kedalam spesimen, segera angkat
3. Baca hasil protein segera, glukosa dalam waktu 30 edtik, dan pH
urine dalam waktu 60 detik.

10