You are on page 1of 3

NAMA : WULAN SAFITRI

NPM : 161210123

PENDAHULUAN

Artikel ini adalah sebuah esai yang sebenarnya lengkap dengan panjang tertentu yang
dibuat untuk dipublikasikan (melalui koran, majalah, buletin, dll) dan bertujuan untuk
menyajikan ide-ide dan fakta-fakta yang dapat meyakinkan, men didik, dan menghibur.
Isi artikel bisa bermacam – macam, beberapa contoh yang sering kita bacaseperti
Sejarah, Petualangan, argumentasi, penelitian, bimbingan untuk melakukan /
mengajarkan sesuatu.

PEMBAHASAN

PEMISKINAN PETANI PANGAN SEMAKIN MELUAS.

SLAWI, KOMPAS.com — Pemiskinan petani pangan semakin meluas. Pendapatan


rumah tangga petani saat ini ada yang hanya Rp 300.000 per bulan. Itu pun kalau panen
padinya dalam kondisi bagus dan iklim bersahabat. Perlu kebijakan revolusioner untuk
mencegah pemiskinan petani yang semakin meluas. Penelusuran Kompas di sejumlah
sentra produksi padi di wilayah pantai utara Jawa dari Karawang, Jawa Barat, hingga
Tegal, Jawa Tengah, sejak Minggu hingga Selasa (22/2/2011), menunjukkan,
pemiskinan petani memang nyata terjadi. Di lapangan, Mujib (35), pemuda warga Desa
Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, menyatakan, saat ini ia hanya
mengolah lahan sawah 0,25 bau atau sekitar 1.700 meter persegi (1 bau sekitar 0,7
hektar atau 7.096 meter persegi). Lahan ini pemberian orangtuanya, mantan pegawai
Kantor Urusan Agama Tegal. Pemilik lahan satu bau itu saat ini menggarap lahan sewa
0,25 hektar. Dengan mengolah lahan 1.700 meter persegi, pendapatan bulanan Mujib
hanya Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan. Itu pun dengan catatan kalau panen padi tidak
ada gangguan. Karena tidak mencukupi kebutuhan, sekalipun dia masih membujang,
Mujib mencari tambahan penghasilan dari berjualan benih dan pupuk. Paling tidak
untuk kedua usaha sampingannya itu, Mujib mendapatkan tambahan penghasilan
bulanan Rp 100.000-Rp 200.000 per bulan. Dengan begitu, total penghasilannya
menjadi Rp 500.000-Rp 600.000. Jumlah ini berbeda jauh dari pendapatan ayahnya
yang dulu sebagai petani dengan lahan satu bau dan bekerja sebagai pegawai negeri
sipil. ”Meski saya sudah cari tambahan penghasilan, tetap kecil pendapatannya,” kata
Mujib, yang pernah juga mencoba membudidayakan lele, tetapi malah merugi Rp
700.000. Berharap mendapat tambahan penghasilan, ia justru merugi.Hadi Subeno (50),
petani dari Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, saat ditemui
sedang menjadi buruh panen di Desa Selapura, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten
Tegal, mengatakan, selama ini ia hanya bertani pada lahan sewa seluas 1.700 meter
persegi. Dengan biaya sewa tanah sebesar Rp 1,5 juta sekali musim tanam, ia sering
tidak bisa mendapatkan hasil. Rata-rata, hasil penjualan padi pada lahan tersebut sebesar
Rp 2,5 hingga Rp 3 juta. Padahal, ia juga masih harus mengeluarkan biaya tanam sekitar
Rp 1 juta. ”Sering tidak dapat apa-apa, tidak nombok, tetapi juga tidak untung,”
katanya.

PENUTUP

Penulis Artikel adalah orang atau individu yang bertindak dalam pengarangan sebuah
tulisan, penggabungan beberapa kata menjadi kalimat yang menarik dan enak dibaca
sehingga membuat pembaca merasakan dapat mengetahui apa yang sebelumnya tidak
mereka ketahui sebelumnya. Sebuah artikel berasal dari pengalaman
seseorang, imajinasi, pengetahuan umum atau penelitian ilmiah.

Penulis artikel bermacam-macam kriterianya, sebagai berikut :

Penulis Artikel Buku

Penulis Artikel Berita

Penulis Artikel Marketing

Penulis Artikel Online

Penulis Artikel Narasi

Penulis Artikel Naskah

Teknik menulis Artikel : Menyusun Kerangka, Membuat Judul, dan membuat Lead.
Pada dasarnya terdapat beberapa tahap dalam menulis artikel yaitu : Menemukan ide,
Mencari bahan-bahan referensi untuk mengembangkan ide, Membuat Outline untuk
mengorganisasikan paduan antara ide dan referensi sehingga sistematis, Free
writing atau menulis bebas berupa penulisan naskah awal (first draft), Menulis ulang
naskah (rewriting) atau revisi tulisan, Menyunting naskah (editing) yakni memperbaiki
naskah secara redaksional dan substansial. Dalam tahap ini diperlukan kecermatan
sehingga tidak ada substansi yang tidak akurat, tidak factual, dan tidak ada kata atau
kalimat yang sulit dipahami.