You are on page 1of 3

1.f.

Patofisiologi Fraktur

Patofisiologi Apabila tulang hidup normal dan mendapat kekerasan yang cukup
menyebabkan patah, maka sel-sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah
dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya juga mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast
berakumulasi menyebabkan peningkatan Sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbantuk bekuan
fibrin (hematom fraktur) dan berfungsi sebagai jalan untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas
osteoblas segera terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin
direabsorpsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan-lahan mengalami remodeling untuk tulang
sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami klasifikasi. Penyembuhan
memerlukan beberapa minggu sampai beberapa bulan (Corwin, 2001: 299).

Sumber : Corwin, J.E. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

2. Apakah dislokasi dapat terjadi pada panggul?

Dislokasi adalah pindahnya permukaan sentuh tulang yang menyusun sendi. Cedera ini
dihasilkan oleh gaya yang menyebabkan sendi melampaui batas normal anatomisnya. Pindahnya
ujung tulang yang incompletedisebut dislokasi tidak sempurna atau subluxation. Karena fungsi
ligament adalah juga untuk mencegah perpindahan atau pergerakan sendi yang abnormal,semua
sprains menghasilkan beberapa derajat subluxation. Dislokasi yang komplit, atau luxation, terjadi
saat ada pemisahan yang komplit dari ujung tulang.1
Dislokasi panggul
Dislokasi pinggul traumatik hampir selalu disebabkan oleh trauma berenergi tinggi. Adanya
cedera dislokasi menandakan bahwa ada gaya yang mencapai 90 pound atau bahkan lebih pada
mekanisme traumatik atau adanya patologi yang mendasari yang menyebabkan ketidakstabilan
sendi. Penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman lebih memiliki resiko
mengalaminya. Mekanisme klasik untuk dislokasi posterior adalah pada cedera dashboard, yaitu
terjadi gaya yang menekan kepala femur melewati posterior acetabular rim saat lutut yang
terfleksi dan pinggul terhantam dashboard pada kecelakaan. Selain oleh dashboard,dikatakan juga
bahwa cedera ini bisa terjadi saat mekanisme mengerem. Dislokasi anterior dihasilkan dari rotasi
eksternal dan abduksi panggul. Kasus dislokasi posterior mendekati 90% kasus, sementara
dislokasi anterior hanya 10%. Cedera nervus sciatic mungkin terjadi pada 10-20% kasus dan lebih
dari setengah pasien juga mengalami fraktur lain.
Pada pediatrik, dislokasi sendi mungkin terjadi pada gaya yang lebih kecil dan ada yang terjadi sesudah
manuver senam dan jatuh dari posis berdiri. Pasien yang lebih tua atau pada penderita Sindrom Ehlers-Danlos
atau down juga bisa mengalami dislokasi pinggul dengan gaya traumatik yang lebih kecil.

Secara khas, pasien dengan dislokasi pinggul posterior traumatik, nampak dengan pemendekan
ekstremitas bawah yang terjadi pada posisi fleksi pinggul, adduksi, dan rotasi internal. Adanya
caput femoris kadang-kadang dapat dipalpasi pada bokong ipsilateral. Hal ini dapat diandalkan
pada pasien dengan dislokasi pinggul sederhana, kehadiran patah tulang pada femur ipsilateral
atau pelvis dapat secara dramatis mengubah posisi pasien yang ditunjukan pasien.
Meskipun jarang, dislokasi pinggul bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti
avaskular necrosis caput femoris, kelumpuhan nervus sciatic sementara atau permanen, myositis
ossificans dan arthrosis degeneratif posttraumatik. Dislokasi pinggul posterior meregangkan dan
memelintir arteri iliac external, femoris comunis, dan circumflex sehingga terjadi perubahan
aliran darah extraosseous. Meskipun sirkulasi kontralateral dari pembuluh gluteal mungkin
mempertahankan aliran darah intraosseous, relokasi yang tertunda mungkin menghasilkan
kerusakan arteri yang progresif dan tertunda yang bisa menjadi osteonecrosis.
Anatomi
Kapsul sendi pinggul terdiri dari serat longitudinal yang tebal di samping banyak kondensasi
ligamentous yang lebih kuat (iliofemoral, ischiofemoral dan pubofemoral). Selain itu,
substansinya juga dikelilingi oleh massa otot. Hal tersebut mneyebabkan dislokasi pinggul jarang
terjadi kecuali dengan gaya yang benar-benar besar. Empat puluh persen kepala femur ditutupi
oleh tulang acetabulum dan labrum meningkatkan penutupan dan kestabilan sendi. Nervus sciatic
melewati secara langsung bagian posterior sendi pinggul sehingga rentan pada cedera dislokasi
posterior.
Klasifikasi
Dislokasi panggul dilklasifikasikan berdasarkan hubungan kepala femur dan acetabulum dan
dengan adanya fraktur yang berhubungan.
Dislokasi pinggul posterior dideskripsikan oleh Thompson dan Epstein:
Tipe I : Dislokasi simple dengan atau tanpa fragment dinding posterior yang tidak
signifikan
Tipe II : Dislokasi dengan fraktur tunggal yang besar dari rim posterior acetabulum
Tipe III : Dislokasi dengan fraktur comminuted rim, dengan atau tanpa fragmen mayor yang
besar
Tipe IV : Dislokasi dengan fraktur acetabular floor
Tipe V : Dislokasi dengan fraktur caput femoris
Dislokasi pinggul anterior dideskripsikan oleh klasifikasi Epstein: 2
Tipe I – Dislokasi superior (lokasi pubis dan subspinous)
A. Tidak ada fraktur yang terkait

B. Fraktur terkait atau impact caput femoris

C. Frakture terkait acetabulum

Tipe II – Dislokasi inferior (lokasi obturator dan perineal)


A. Tidak ada fraktur terkait

B. Fraktur terkait atau impact caput femoris

C. Fraktur terkait acetabulum

Deformitas klasik pada dislokasi pinggul posterior adalah fleksi pinggul, rotasi internal, dan
aduksi. Pasien mengalami sakit yang parah dan tidak bisa menggerakan ekstremitas bawah yang
terlibat.

Diagnosis
Dislokasi sendi, tidak peduli apapun etiologinya, merupakan emergenci ortopedik yang
membutuhkan diagnosis, evaluasi dan perawatan segera. Untuk menentukan diagnosis, survei
trauma penuh penting dilakukan. Uji neurovaskular termasuk evaluasi nervus sciatic (bagian tibia
paling sering terpengaruh) dan nervus/arteri femoris perlu dilakukan.
Radiograph anteroposterior (AP) pelvis dan cross-table lateral pinggul penting dilakukan. Kedua
caput femoris mestinya muncul dalam ukuran yang sama. Pada AP, jika caput femoris sisi yang
terpengaruh tampak lebih besar, bisa dicurigai anterior. Garis Shenton semestinya kontinyu. Saat
dislokasi sendi didiagnosis melalui sinar X, yang harus dilakukan adalah mengevaluasi sisa
tungkai dan pelvis untuk meyakinkan bahwa manuver reduksi tidak akan menyebabkan
kerusakan lebih besar. Sebagai contohnya, pada pelvis yang tidak stabil, kekuatan traksi yang
besar mungkin meningkatkan gangguan pada pelvis dan menyebabkan mortalitas sekunder yang
lebih besar akibat perdarahan. Juga, fraktur collum femoris non-displaced, yang ditemukan pada
sinar X bisa distabilkan dengan cannulated screw sebelum reduksi pinggul dengan anestesi
general.
Dislokasi pinggul posterior bisa nampak pada film AP dengan adanya caput femoris di luar dan di
superior acetabulum. CT scan juga bisa digunakan untuk mendiagnosis dan mendeskripsikan
dislokasi anatomis dan mengidentifikasi fraktur fragment kecil.
Reduksi emergent tertutup (emergent closed reduction)pada dislokasi sendi traumatik,
diindikasikan untuk:
 Dislokasi dengan atau tanpa defisit neurologis, saat tidak ada fraktur yang berkaitan.
 Dislokasi dengan fraktur yang berkaitan dengan defisit neural tidak terjadi
Reduksi tertutup, jika mungkin, sebaiknya dilakukan pada dasar perawatan karena resiko
osteonecrosis. Dengan mengabaikan arah dislokasi, reduksi bisa diusahakan pada pasien dengan
posisi terlentang dan penerapan traksi in-line. Anestesi umum paling disarankan, meskipun
begitu, reduksi tertutup lebih sering dilakukan di ruang emergency. Ada beberapa metode yang
dideskripsikan. Pada metode Allis, pembedah segaris dengan peregang. Dengan menarik tepat di
bawah lutut, traksi dilakukan segaris dengan femur. Asisten menerapkan counter traction dengan
mendorong ke bawah kedua ASIS. Dengan meningkatkan traksi, pinggul difleksikan sampai 70⁰.
Aduksi, rotasi internal dan eksternal yang gentle pada pinggul membantu pinggul melewati bibir
acetabulum. Gaya berarah lateral juga bisa membantu. Ini bisa diterapkan dengan tangan asisten
pada paha atas, atau dengan lembaran yang dililitkan di sekeliling kunci paha ipsilateral dan
ditarik pada arah lateral dan superior. Kestabilitasan sebaiknya diperiksa.

Reduksi tertutup diusahakan sebelum reduksi terbuka dengan pembedahan (open surgical
reduction).
 Open surgical reduction biasanya diperlukan untuk dislokasi sendi dengan fraktur dan defisit
neurologis (fragment fraktur yang berpindah tempat menekan saraf)
 Jika open reduction tidak bisa dilakukan dengan segera, usaha untuk menghilangkan tekanan
udara saraf dengan reduksi sebaiknya dilakukan.
Selain itu, open reduction diindikasikan jika reduksi tertutup tidak bisa dilaksanakan, reduksi
noncencentric, fraktur caput femori atau acetabulum yang membutuhkan eksisi dan fraktur
collum femoris ipsilateral.

Sumber : - Booher JM, Thibodean GA. Athletic Injury Assesment: Athletic Related Trauma. 1st
Ed. Missouri College Publishing, 1985. P. 147-50.

- Davenport, M D. Joint Rredution, Hip Dislocation, Posterior. Diunduh dari


http://emedicine.medscape.com/article/109225-overview. Diakses tanggal 13
Desember 2016
- Whiting WC, Zernicke RF. Biomechanics of Musculoskeletal Injury: Lower Extremity
Injury. 2nd Ed. United States of America: Human Kinetics, 2008. P. 159.