You are on page 1of 8

wijaya kusuma, Volume I, Nomor 1, Januari 2007, 49-

56

DIAGNOSIS EPILEPSI

Oleh : Utoyo Sunaryo


Bagian Neurologi FK UWKS
RSUD Dr Moh . Saleh Kota Probolinggo

ABSTRACT.
The diagnosis of epilepsy is problematic because the routine diagnosis of epilepsy is therefore clinical, and
requires specific clinical knowledge and skills. Recognizing and correctly diagnosing seizures can lead to a
number of effective treatments. In the majority of patients with epilepsy, diagnosis can be made with a detailed
neurologic history and examination, an EEG, and brain imaging. However, in certain patients, diagnosis requires
recording the seizures during inpatient video-EEG monitoring. This article explains an approach for diagnosing
and evaluating this epilepsy patient’s population in the clinics.
Key words: diagnosis of epilepsy, etiology, classification of seizures, classification of
epilepsy syndromes.
ABSTRAK.
Diagnosis epilepsi merupakan masalah tersendiri karena membuat diagnosis epilepsi secara rutin memerlukan
pengetahuan klinis dan ketrampilan yang khusus. Dengan mengenali serangan kejang dan membuat diagnosis
yang benar dapat menjadikan pengobatan lebih efektif. Pada kebanyakan pasien epilepsi, diagnosis dapat
dibuat dengan mengetahui secara lengkap riwayat penyakit , pemeriksaan fisik dan neurologi, pemeriksaan
elektroensefalografi dan pencitraan otak. Akan tetapi pada pasien epilepsi tertentu diperlukan pemeriksaan
melalui rekaman video – EEG. Makalah ini menjelaskan suatu pendekatan cara membuat diagnosis dan evaluasi
pasien epilepsi yang datang berobat ke klinik.
Kata kunci: diagnosis epilepsi, etiologi, klasifikasi serangan kejang, klasifikasi sindrom
epilepsi.

PENDAHULUAN (Anonymous 2003).Tujuan penulisan makalah


ini adalah membahas bagaimana cara – cara
Salah satu masalah dalam penanggulangan menentukan diagnosis epilepsi yang baik dan
epilepsi ialah menentukan dengan pasti diagnosis cermat.
epilepsi oleh karena sebelum pengobatan dimulai ANAMNESIS .
diagnosis epilepsi harus ditegakkan dulu Langkah awal adalah menentukan
(Mardjono 2003). Diagnosis dan pengobatan untuk membedakan apakah ini serangan
epilepsi tidak dapat dipisahkan sebab kejang atau bukan , dalam hal ini
pengobatan yang sesuai dan tepat hanya dapat memastikannya biasanya dengan melakukan
dilakukan dengan diagnosis epilepsi yang tepat wawancara baik dengan pasien, orangtua atau
pula (Oguni 2004). Diagnosis epilepsi orang yang merawat dan saksi mata yang
berdasarkan atas gejala dan tanda klinis yang mengetahui Alamat Korespondensi. Dr Utoyo
karakteristik , jadi membuat diagnosis tidak Sunaryo Sp.S RSUD Dr Mohamad Saleh , Jalan
hanya berdasarkan dengan beberapa hasil Mayjen Panjaitan 65 Kota ProbolinggoTelp :
pemeriksaan penunjang diagnostik saja, justru 0335-433119, fax: 0335-432702. serangan
informasi diperoleh sesudah melakukan kejang itu terjadi. Beberapa pertanyaan yang
wawancara yang lengkap dengan pasien maupun perlu diajukan adalah untuk menggambarkan
saksi mata yang mengetahui serangan kejang kejadian sebelum , selama dan sesudah
tersebut terjadi dan kemudian baru dilakukan serangan kejang itu berlangsung. Dengan
pemeriksaan fisik & neurologi . Begitu mengetahui riwayat kejadian serangan kejang
diperkirakan diagnosis epilepsi telah dibuat tersebut biasanya dapat memberikan informasi
barulah dilanjutkan pemeriksaan tambahan yang lengkap dan baik mengingat pada
untuk memastikan diagnosis dengan mencari kebanyakan kasus , dokter tidak melihat sendiri
penyebabnya, lesi otak yang mendasari , jenis serangan kejang yang dialami pasien
serangan kejang dan sindrom epilepsi (Ahmed,Spencer 2004, Mardjono 2003).
Adapun beberapa pertanyaan adalah sebagai motorik yang dimulai dari satu sisi tubuh?
berikut (Ahmed,Spencer 2004, Hadi 1993, Apakah pasien dapat berbicara selama
Harsono 2001, Kustiowati dkk 2003 ) serangan kejang berlangsung? Apakah
1. Kapan pasien mengalami serangan kejang mata berkedip berlebihan pada serangan
yang pertama kali selama ini? Usia serangan kejang terjadi? Apakah ada gerakan
dapat memberi gambaran klasifikasi dan “automatism” pada satu sisi ? Apakah ada
penyebab kejang. Serangan kejang yang sikap tertentu pada anggota gerak tubuh?
dimulai pada neonatus biasanya penyebab Apakah lidah tergigit? Apakah pasien
sekunder gangguan pada masa perinatal, mengompol ? Serangan kejang yang
kelainan metabolik da malformasi kongenital. berasal dari lobus frontalis mungkin dapat
Serangan kejang umum cenderung muncul menyebabkan kepala dan mata deviasi
pada usia anak-anak dan remaja. Pada usia kearah kontralateral lesi. Serangan kejang
sekitar 70 tahunan muncul serangan kejang yang berasal dari lobus temporalis sering
biasanya ada kemungkinan mempunyai tampak gerakan mengecapkan bibir dan
kelainan patologis di otak seperti stroke atau atau gerakan mengunyah. Pada serangan
tumor otak dsb. kejang dari lobus oksipitalis dapat
2. Apakah pasien mengalami semacam menimbulkan gerakan mata berkedip yang
peringatan atau perasaan tidak enak pada berlebihan dan gangguan penglihatan.
waktu serangan atau sebelum serangan Lidah tergigit dan inkontinens urin
kejang terjadi? Gejala peringatan yang kebanyakan dijumpai dengan serangan
dirasakan pasien menjelang serangan kejang kejang umum meskipun dapat dijumpai
muncul disebut dengan “aura” dimana suatu pada serangan kejang parsial kompleks.
“aura” itu bila muncul sebelum serangan 4. Apakah yang terjadi segera sesudah
kejang parsial sederhana berarti ada fokus di serangan kejang berlangsung? Periode
otak. Sebagian “ aura” dapat membantu sesudah serangan kejang berlangsung
dimana letak lokasi serangan kejang di otak. adalah dikenal dengan istilah “post ictal
Pasien dengan epilepsi lobus temporalis period ” Sesudah mengalami serangan
dilaporkan adanya “déjà vu” dan atau ada kejang umum tonik klonik pasien lalu
sensasi yang tidak enak di lambung, tertidur. Periode disorientasi dan kesadaran
gringgingen yang mungkin merupakan yang menurun terhadap sekelilingnya
epilepsi lobus parietalis. Dan gangguan biasanya sesudah mengalami serangan
penglihatan sementara mungkin dialami oleh kejang parsial kompleks. Hemiparese atau
pasien dengan epilepsi lobus oksipitalis. Pada hemiplegi sesudah serangan kejang disebut
serangan kejang umum bisa tidak didahului “Todd’s Paralysis“ yang menggambarkan
dengan “aura” hal ini disebabkan terdapat adanya fokus patologis di otak. Afasia
gangguan pada kedua hemisfer , tetapi jika dengan tidak disertai gangguan kesadaran
“aura” dilaporkan oleh pasien sebelum menggambarkan gangguan berbahasa di
serangan kejang umum, sebaiknya dicari hemisfer dominan. Pada “Absens“ khas
sumber fokus yang patologis. tidak ada gangguan disorientasi setelah
3. Apa yang terjadi selama serangan kejang serangan kejang.
berlangsung? Bila pasien bukan dengan 5. Kapan kejang berlangsung selama siklus 24
serangan kejang sederhana yang kesadaran jam sehari? Serangan kejang tonik klonik
masih baik tentu pasien tidak dapat dan mioklonik banyak dijumpai biasanya
menjawab pertanyaan ini, oleh karena itu pada waktu terjaga dan pagi hari.
wawancara dilakukan dengan saksi mata Serangan kejang lobus temporalis dapat
yang mengetahui serangan kejang terjadi setiap waktu, sedangkan serangan
berlangsung. Apakah ada deviasi mata dan kejang lobus frontalis biasanya muncul
kepala kesatu sisi? Apakah pada awal pada waktu malam hari.
serangan kejang terdapat gejala aktivitas
6. Apakah ada faktor pencetus ? Serangan Riwayat medik dahulu.
kejang dapat dicetuskan oleh karena kurang Dengan mengetahui riwayat medik yang
tidur, cahaya yang berkedip,menstruasi, dahulu dapat memberikan informasi yang
faktor makan dan minum yang tidak teratur, berguna dalam menentukan etiologinya. Lokasi
konsumsi alkohol, ketidakpatuhan minum yang berkaitan dengan serangan kejang dan
obat, stress emosional, panas, kelelahan fisik pengetahuan tentang lesi yang mendasari
dan mental, suara suara tertentu, “drug dapat membantu untuk pengobatan
abuse”, “ reading & eating epilepsy”. Dengan selanjutnya (Ahmed,Spencer 2004)
mengetahui faktor pencetus ini dalam 1. Apakah pasien lahir normal dengan
konseling dengan pasien maupun kehamilan genap bulan maupun proses
keluarganya dapat membantu dalam persalinannya?
mencegah serangan kejang. 2. Apakah pasien setelah lahir mengalami
7. Bagaimana frekwensi serangan kejang ? asfiksia atau “respiratory distress”?
Informasi ini dapat membantu untuk 3. Apakah tumbuh kembangnya normal
mengetahui bagaimana respon pengobatan sesuai usia?
bila sudah mendapat obat obat anti kejang . 4. Apakah ada riwayat kejang demam? Risiko
8. Apakah sejak dari awal ada periode bebas terjadinya epilepsi sesudah serangan
serangan kejang ? Pertanyaan ini mencoba kejang demam sederhana sekitar 2 % dan
untuk mencari apakah sebelumnya pasien serangan kejang demam kompleks 13 %.
sudah mendapat obat anti kejang atau belum 5. Apakah ada riwayat infeksi susunan saraf
? dan dapat menentukan apakah obat pusat seperti meningitis, ensefalitis? atau
tersebut yang sedang digunakan bermanfaat penyakit infeksi lainnya seperti sepsis,
? pneumonia yang disertai serangan kejang.
9. Apakah ada jenis serangan kejang lebih dari Dibeberapa negara ada yang diketahui
satu macam? Dengan menanyakan tentang didapat adanya cysticercosis.
berbagai jenis serangan kejang dan 6. Apakah ada riwayat trauma kepala seperti
menggambarkan setiap jenis serangan fraktur depresi kepala, perdarahan intra
kejang secara lengkap. serebral, kesadaran menurun dan amnesia
10. Apakah pasien mengalami luka ditubuh yang lama?
sehubungan dengan serangan kejang? 7. Apakah ada riwayat tumor otak?
Pertanyaan ini penting mengingat pasien 8. Apakah ada riwayat stroke?
yang mengalami luka ditubuh akibat
serangan kejang ada yang diawali dengan Riwayat sosial.
“aura“ tetapi tidak ada cukup waktu untuk Ada beberapa aspek sosial yang langsung
mencegah supaya tidak menimbulkan luka dapat mempengaruhi pasien epilepsi dan ini
ditubuh akibat serangan kejang atau penting sebagai bagian dari riwayat penyakit
mungkin tidak ada “aura“ , sehingga dalam dahulu dan sekaligus untuk bahan evaluasi (
hal ini informasi tersebut dapat dipersiapkan Ahmed ,Spencer2004).
upaya - upaya untuk mengurangi bahaya 1. Apa latar belakang pendidikan pasien?
terjadinya luka. Tingkat pendidikan pasien epilepsi mungkin
11. Apakah sebelumnya pasien pernah datang ke dapat menggambarkan bagaimana
unit gawat darurat? Dengan mengetahui sebaiknya pasien tersebut dikelola dengan
gambaran pasien yang pernah datang ke unit baik. Dan juga dapat membantu
gawat darurat dapat mengidentifikasi derajat mengetahui tingkat dukungan masyarakat
beratnya serangan kejang itu terjadi yang terhadap pasien dan bagaimana potensi
mungkin disebabkan oleh karena kurangnya pendidikan kepada pasien tentang cara
perawatan pasien, ketidakpatuhan minum menghadapi penyakit yang dialaminya itu.
obat, ada perubahan minum obat dan 2. Apakah pasien bekerja? Dan apa jenis
penyakit lain yang menyertai. pekerjaannya? Pasien epilepsi yang
serangan kejangnya terkendali dengan baik Riwayat keluarga.
dapat hidup secara normal dan produktif. Mengetahui riwayat keluarga adalah penting
Kebanyakan pasien dapat bekerja paruh untuk menentukan apakah ada sindrom
waktu atau penuh waktu. Tetapi bila epilepsi yang spesifik atau kelainan neurologi
serangan kejangnya tidak terkendali dengan yang ada kaitannya dengan faktor genetik
baik untuk memperoleh dan menjalankan dimana manifestasinya adalah serangan
pekerjaan adalah merupakan suatu kejang. Sebagai contoh “Juvenile myoclonic
tantangan tersendiri. Pasien sebaiknya epilepsy (JME)“,“ familial neonatal
dianjurkan memilih bekerja dikantoran, convulsion“,“ benign rolandic epilepsy“ dan
sebagai kasir atau tugas - tugas yang tidak sindrom serangan kejang umum tonik klonik
begitu berisiko, tetapi bagi pasien yang disertai kejang demam plus ( Ahmed,Spencer
bekerja di bagian konstruksi, mekanik dan 2004)
pekerjaan yang mengandung risiko tinggi
diperlukan penyuluhan yang jelas untuk Riwayat allergi.
memodifikasikan pekerjaan itu agar supaya Bila pasien sebelumnya sudah minum obat-
tidak membahayakan dirinya. obatan seperti antiepilepsi, perlu dibedakan
3. Apakah pasien mengemudikan kendaraan apakah ini suatu efek samping dari
bermotor? Pasien dengan epilepsi yang gastrointestinal atau efek reaksi hipersensitif.
serangan kejangnya tidak terkontrol serta Bila terdapat semacam ”rash“ perlu dibedakan
ada gangguan kesadaran sebaiknya tidak apakah ini terbatas karena efek fotosensitif
mengemudikan kendaraan bermotor. Hal ini yang disebabkan eksposur dari sinar matahari
bisa membahayakan dirinya maupun atau karena efek hipersensitif yang sifatnya
masyarakat lainnya. Dibeberapa negara lebih luas? (Ahmed,Spencer 2004)
mempunyai peraturan sendiri tentang pasien
epilepsi yang boleh tidaknya mengemudikan Riwayat pengobatan.
kendaraan bermotor. Bila pasien sebelumnya sudah minum obat-
4. Apakah pasien menggunakan kontrasepsi obatan antiepilepsi, perlu ditanyakan
oral? Apakah pasien merencanakan bagaimana kemanjuran obat tersebut, berapa
kehamilan pada waktu yang akan datang? kali diminum sehari dan berapa lama sudah
Pasien epilepsi wanita sebaiknya diberi diminum selama ini, berapa dosisnya, ada atau
penyuluhan terlebih dahulu tentang efek tidak efek sampingnya. (Ahmed,Spencer 2004)
teratogenik obat-obat anti epilepsi, demikian
juga beberapa obat anti epilepsi dapat Riwayat Pemeriksaan penunjang lain.
menurun efektivitasnya bila pasien juga Perlu ditanyakan juga kemungkinan apa pasien
menggunakan kontrasepsi oral, contohnya sudah dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti fenitoin, karbamasepin dan seperti elektroensefalografi atau CT Scan
fenobarbital. Dan bagi pasien yang sedang kepala atau MRI (Ahmed,Spencer 2004)
hamil diperlukan obat tambahan seperti
asam folat untuk mengurangi risiko PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGI.
terjadinya “ neural tube defects“ pada
bayinya. Pemeriksaan fisik harus menapis sebab-
5. Apakah pasien peminum alkohol? Alkohol sebab terjadinya serangan kejang dengan
merupakan faktor risiko terjadinya serangan menggunakan umur dan riwayat penyakit
kejang umum, sebaiknya tidak dianjurkan sebagai pegangan. Pada pasien yang berusia
minum-minuman alkohol. Selain berinteraksi lebih tua sebaiknya dilakukan auskultasi
dengan obat-obat anti epilepsi dapat juga didaerah leher untuk mendeteksi adanya
menimbulkan eksaserbasi serangan kejang penyakit vaskular. pemeriksaan kardiovaskular
khususnya sesudah minum alkohol . sebaiknya dilakukan pada pertama kali
serangan kejang itu muncul oleh karena
banyak kejadian yang mirip dengan serangan PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
kejang tetapi penyebabnya kardiovaskular
seperti sinkop kardiovaskular. Pemeriksaan kulit Hiponatremia , hipoglikemia,
juga untuk mendeteksi apakah ada sindrom hipomagnesia, uremia dan hepatik ensefalopati
neurokutaneus seperti “ café au lait spots “ dan “ dapat mencetuskan timbulnya serangan
iris hamartoma” pada neurofibromatosis, “ Ash kejang. Pemeriksaan serum elektrolit bersama
leaf spots” , “shahgreen patches” , “ subungual dengan glukose, kalsium, magnesium, “ Blood
fibromas” , “ adenoma sebaceum” pada Urea Nitrogen” , kreatinin dan test fungsi hepar
tuberosclerosis, “ port - wine stain “ ( capilarry mungkin dapat memberikan petunjuk yang
hemangioma) pada sturge-weber syndrome. sangat berguna. Pemeriksaan toksikologi
Juga perlu dilihat apakah ada bekas gigitan serum dan urin juga sebaiknya dilakukan bila
dilidah yang bisa terjadi pada waktu serangan dicurigai adanya “ drug abuse”
kejang berlangsung atau apakah ada bekas luka (Ahmed,Spencer 2004, Oguni 2004)
lecet yang disebabkan pasien jatuh akibat
serangan kejang, kemudian apakah ada PEMERIKSAAN
hiperplasi ginggiva yang dapat terlihat oleh ELEKTROENSEFALOGRAFI.
karena pemberian obat fenitoin dan apakah ada
“dupytrens contractures” yang dapat terlihat oleh Pemeriksaan penunjang yang paling
karena pemberian fenobarbital jangka lama sering dilakukan adalah pemeriksaan elektro-
( Ahmed,Spencer 2004, Harsono 2001, ensefalografi ( EEG). Pemeriksaan EEG rutin
Oguni sebaiknya dilakukan perekaman pada waktu
2004). sadar dalam keadaan istirahat, pada waktu
Pemeriksaan neurologi meliputi status tidur, dengan stimulasi fotik dan
mental, “gait“ , koordinasi, saraf kranialis, fungsi hiperventilasi.Pemeriksaan EEG ini adalah
motorik dan sensorik, serta refleks tendon. pemeriksaan laboratorium yang penting untuk
Adanya defisit neurologi seperti hemiparese membantu diagnosis epilepsi dengan beberapa
,distonia, disfasia, gangguan lapangan pandang, alasan sebagai berikut ( Duncan, Kirkpatrick,
papiledema mungkin dapat menunjukkan adanya Harsono 2001, Oguni 2004)
lateralisasi atau lesi struktur di area otak yang 1. Pemeriksaan ini merupakan alat diagnostik
terbatas. Adanya nystagmus , diplopia atau utama untuk mengevaluasi pasien dengan
ataksia mungkin oleh karena efek toksis dari serangan kejang yang jelas atau yang
obat anti epilepsi seperti karbamasepin,fenitoin, meragukan. Hasil pemeriksaan EEG akan
lamotrigin. Dilatasi pupil mungkin terjadi pada membantu dalam membuat diagnosis,
waktu serangan kejang terjadi.” Dysmorphism “ mengklasifikasikan jenis serangan kejang
dan gangguan belajar mungkin ada kelainan yang benar dan mengenali sindrom
kromosom, dan gambaran progresif seperti epilepsi.
demensia, mioklonus yang makin memberat 2. Dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan
dapat diperkirakan adanya kelainan fisik dan neurologi , pola epileptiform pada
neurodegeneratif. Automatism unilateral EEG ( spikes and sharp waves) sangat
kemungkinan bisa menunjukkan kelainan fokus mendukung diagnosis epilepsi. Adanya
di lobus temporalis ipsilateral sedangkan adanya gambaran EEG yang spesifik seperti “3-Hz
distonia bisa menggambarkan kelainan fokus spike-wave complexes“ adalah karakteristik
kontralateral dilobus temporalis (Ahmed,Spencer kearah sindrom epilepsi yang spesifik.
2004, Harsono 2001, Oguni 2004, 3. Lokalisasi dan lateralisasi fokus epileptoge-
Sisodiya,Duncan 2000). nik pada rekaman EEG dapat menjelaskan
manifestasi klinis daripada “ aura “ maupun
jenis serangan kejang . Pada pasien yang
akan dilakukan operasi, pemeriksaan EEG
ini selalu dilakukan dengan cermat.
Sebaliknya harus diketahui pula bahwa terdapat serangan kejang epilepsi ( Kirpatrick,
beberapa alasan keterbatasan dalam menilai Sisodiya,Duncan 2000, Stefan ,2003).
hasil pemeriksaan EEG ini yaitu:
1. Pada pemeriksaan EEG tunggal pada PEMERIKSAAN RADIOLOGI.
pertama kali pasien dengan kemungkinan
epilepsi didapat sekitar 29-50 % adanya CT Scan ( Computed Tomography Scan
gelombang epileptiform, apabila dilakukan ) kepala dan MRI ( Magnetic Resonance
pemeriksaan ulang maka persentasinya Imaging ) kepala adalah untuk melihat apakah
meningkat menjadi 59-92 %. Sejumlah kecil ada atau tidaknya kelainan struktural diotak
pasien epilepsi tetap memperlihatkan hasil (Harsono 2003, Oguni 2004)
EEG yang normal, sehingga dalam hal ini Indikasi CT Scan kepala adalah: ( Kustiowati
hasil wawancara dan pemeriksaan klinis dkk 2003)
adalah penting sekali. - Semua kasus serangan kejang yang
2. Gambaran EEG yang abnormal interiktal bisa pertama kali dengan dugaan ada kelainan
saja tidak menunjukan adanya epilepsi sebab struktural di otak.
hal demikian dapat terjadi pada sebagian - Perubahan serangan kejang.
kecil orang-orang normal oleh karena itu - Ada defisit neurologis fokal.
hasil pemeriksaan EEG saja tidak dapat - Serangan kejang parsial.
digunakan untuk menetapkan atau - Serangan kejang yang pertama diatas usia
meniadakan diagnosis epilepsi. 25 tahun.
3. Suatu fokus epileptogenik yang terlokalisasi - Untuk persiapan operasi epilepsi.
pada pemeriksaan EEG mungkin saja dapat CT Scan kepala ini dilakukan bila pada MRI ada
berubah menjadi multifokus atau menyebar kontra indikasi namun demikian pemeriksaan
secara difus pada pasien epilepsi anak. MRI kepala ini merupakan prosedur pencitraan
4. Pada EEG ada dua jenis kelainan utama yaitu otak pilihan untuk epilepsi dengan sensitivitas
aktivitas yang lambat dan epileptiform, bila tinggi dan lebih spesifik dibanding dengan CT
pada pemeriksaan EEG dijumpai baik Scan. Oleh karena dapat mendeteksi lesi kecil
gambaran epileptiform difus maupun yang diotak, sklerosis hipokampus, disgenesis
fokus kadang kadang dapat membingungkan kortikal, tumor dan hemangioma kavernosa,
untuk menentukan klasifikasi serangan maupun epilepsi refrakter yang sangat
kejang kedalam serangan kejang parsial atau mungkin dilakukan terapi pembedahan.
serangan kejang umum . Pemeriksaan MRI kepala ini biasanya meliputi
“T 1 dan T 2 weighted“ dengan minimal dua
PEMERIKSAAN VIDEO – EEG. irisan yaitu irisan axial, irisan coronal dan irisan
Pemeriksaan ini dilakukan bila ada saggital ( Duncan, Kirkpatrick, Kustiowati dkk
keraguan untuk memastikan diagnosis epilepsi 2003).
atau serangan kejang yang bukan oleh karena
epilepsi atau bila pada pemeriksaan rutin PEMERIKSAAN NEUROPSIKOLOGI.
EEG hasilnya negatif tetapi serangan kejang Pemeriksaan ini mungkin dilakukan
masih saja terjadi , atau juga perlu dikerjakan terhadap pasien epilepsi dengan pertimbangan
bila pasien epilepsi dipertimbangkan akan akan dilakukan terapi pembedahan .
dilakukan terapi pembedahan. Biasanya Pemeriksaan ini khususnya memperhatikan
pemeriksaan Video - EEG ini berhasil apakah ada tidaknya penurunan fungsi
membedakan apakah serangan kejang oleh kognitif, demikian juga dengan pertimbangan
karena epilepsi atau bukan dan biasanya selama bila ternyata diagnosisnya ada dugaan
perekaman dilakukan secara terus menerus serangan kejang yang bukan epilepsi(Oguni
dalam waktu 72 jam, sekitar 50 – 70 % dari 2004, Sisodiya 2000).
hasil rekaman dapat menunjukkan gambaran
ETIOLOGI.( Anonymous 2003,Kustiowati dkk - Tonik.
2003, Sirven,Ozuna 2005) - Atonik.
1. Idiopatik epilepsi: Biasanya berupa epilepsi  Tak tergolongkan.
dengan serangan kejang umum, penyebab-
nya tidak diketahui. Pasien dengan idiopatik KLASIFIKASI ILAE 1989 untuk sindroma
epilepsi mempunyai inteligensi normal dan epilepsi ( Kustiowati dkk 2003)
hasil pemeriksaan juga normal dan umumnya
predisposisi genetik. Berkaitan dengan letak fokus.
2. Kriptogenik epilepsi: Dianggap simptomatik  Idiopatik ( primer ).
tapi penyebabnya belum diketahui. Kebanya- - Epilepsi anak benigna dengan gelombang
kan lokasi yang berhubungan dengan epilepsi paku di sentrotemporal ( Rolandik benigna
tanpa disertai lesi yang mendasari atau lesi ).
diotak tidak diketahui. Termasuk disini adalah - Epilepsi pada anak dengan paroksismal
sindroma West, Sindroma Lennox Gastaut oksipital.
dan epilepsi mioklonik. Gambaran klinis - Primary reading epilepsy”.
berupa ensefalopati difus.  Simptomatik ( sekunder ).
3. Simptomatik epilepsi: Pada simptomatik - Lobus temporalis.
terdapat lesi struktural di otak yang menda- - Lobus frontalis.
sari , contohnya oleh karena sekunder dari - Lobus parietalis.
trauma kepala , infeksi susunan saraf pusat , - Lobus oksipitalis.
kelainan kongenital, proses desak ruang di - Kronik progresif parsialis kontinua.
otak, gangguan pembuluh darah diotak,  Kriptogenik.
toksik ( alkohol, obat) , gangguan metabolik
dan kelainan neurodegeneratif. Umum.
 Idiopatik ( primer ).
KLASIFIKASI ILAE 1981 - Kejang neonatus familial benigna.
untuk tipe serangan kejang/bangkitan epilepsi - Kejang neonatus benigna.
(Kustiowati dkk 2003, Sirven,Ozuna 2005). - Kejang epilepsi mioklonik pada bayi.
Serangan parsial. - Epilepsi absans pada anak.
 Serangan parsial sederhana ( kesadaran - Epilepsi absans pada remaja.
baik ). - Epilepsi mioklonik pada remaja.
- Motorik. - Epilepsi dengan serangan tonik klonik
- Sensorik. pada saat terjaga.
- Otonom. - Epilepsi tonik klonik dengan serangan
- Psikis. acak.
 Serangan parsial kompleks ( kesadaran  Kriptogenik atau simptomatik.
terganggu ). - Sindroma West ( Spasmus infantil dan
- Serangan parsial sederhana diikuti dengan hipsaritmia ).
gangguan kesadaran. - Sindroma Lennox Gastaut.
- Gangguan kesadaran saat awal serangan. - Epilepsi mioklonik astatik.
 Serangan umum sekunder. - Epilepsi absans mioklonik.
- Parsial sederhana menjadi tonik klonik.  Simptomatik.
- Parsial kompleks menjadi tonik klonik. - Etiologi non spesifik.
- Parsial sederhana menjadi parsial kompleks - Ensefalopati mioklonik neonatal.
menjadi tonik klonik. - Sindrom Ohtahara.
 Serangan umum. - Etiologi / sindrom spesifik.
- Absans ( lena ). - Malformasi serebral.
- Mioklonik . - Gangguan Metabolisme.
- Klonik.
Epilepsi dan sindrom yang tak dapat Kirkpatrick M: Diagnosis of Epilepsy in Children,
ditentukan fokal atau umum. available from:
 Serangan umum dan fokal. http://www.rcpe.ac.uk/publications/articl es/e
- Serangan neonatal. pilepsy_supplement/F_Kirkpatrick.pdf
Kustiowati E, Hartono B, Bintoro A, Agoes A
- Epilepsi mioklonik berat pada bayi.
(editors) (2003): Pedoman Tatalaksana
- Sindroma Taissinare.
Epilepsi, Kelompok Studi Epilepsi
- Sindroma Landau Kleffner. Perdossi .
 Tanpa gambaran tegas fokal atau umum. Mardjono M (2003): Pandangan Umum Tentang
Epilepsi dan Penatalaksanaannya dalam
 Epilepsi berkaitan dengan situasi. Dasar-Dasar Pelayangan Epilepsi &
- Kejang demam. Neurologi , Agoes A ( editor ) ; 129 -148.
- Berkaitan dengan alkohol. Oguni H (2004): Diagnosis and Treatment of
- Berkaitan dengan obat-obatan. Epilepsy, Epilepsia , 48 ( Suppl.8): 13-16.
- Eklampsi. Sirven J.I, Ozuna J (2005): Diagnosing epilepsy
in older adults, Geriatrics, 60, 10: 30 - 35.
- Serangan berkaitan dengan pencetus
Sisodiya S.M, Duncan J (2000): Epilepsy:
spesifik ( reflek epilepsi).
Epidemiology, Clinical Assessment,
Investigation and Natural History,
KESIMPULAN. Medicine International, 00(4); 36-41.
Stefan H (2003): Differential Diagnosis of
Diagnosis epilepsi merupakan masalah tersendiri Epileptic Seizures and Non Epileptic
karena membuat diagnosis epilepsi secara rutin Attacks, Teaching Course: Epilepsy,
memerlukan pengetahuan klinis dan ketrampilan 7thConggres of the European Federation of
yang khusus. Dengan mengenali serangan Neurological Societies, Helsinki.
kejang dan membuat diagnosis yang benar
dapat menjadi pengobatan lebih efektif. Pada
kebanyakan pasien epilepsi, diagnosis dapat
dibuat dengan mengetahui secara lengkap
riwayat penyakit , pemeriksaan fisik dan
neurologi, pemeriksaan elektroensefalografi dan
pencitraan otak. Akan tetapi pada pasien epilepsi
tertentu diperlukan pemeriksaan melalui video –
EEG.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed Z, Spencer S.S (2004): An Approach to the


Evaluation of a Patient for
Seizures and Epilepsy, Wisconsin Medical Journal,
103 (1): 49-55.
Anonymous (2003): Diagnosis of Epilepsy,
Epilepsia , 44 (Suppl.6): 23-24.
Duncan R: Diagnosis of Epilepsy in Adults,
available from:
http://www.rcpe.ac.uk/publications/articles/epi
l epsy_supplement/E_Duncan.pdf
Hadi S (1993): Diagnosis dan Diagnosis Banding
Epilepsi, Badan Penerbit UNDIP Semarang :
55-63.
Harsono (2001): Epilepsi, edisi 1, GajahMada
University Press, Yogyakarta .

48