You are on page 1of 24

Battlemarch

Chapter 1: Let the hell begins


Synopsis: introducing the first event of the story, this story was tell about the vision that
been saw by jack’s niece. His niece then told Jack about her dream. Jack, who
does not want something bad happens tells her that it was just a dream and
everything will be fine. Yet, from the bottom of his heart Jack also feels
something terrible is going to happen. He then tries to find it by himself without
anyone’s helps. And what of his findings will decide the entire life’s fate.

Story:

Bencana alam terjadi di mana-mana, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, dan
lain-lain, langit mendung berwarna hitam kemerahan dengan guntur sambar-menyambar,
sebongkah meteor raksasa jatuh ke bumi membentuk lubang yang sangat besar. Dari lubang itu,
terdengar suara menjerit, mengaum,meraung-raung yang sangat mengerikan, lalu terlihat
penampakan sepasang mata merah menyala dan tangan yang menjulur keluar.

Tiba-tiba suasana menjadi gelap.

Seorang perempuan muda berambut lurus panjang berwarna kecoklatan dengan kulit putih
bersih membuka matanya, mata yang berwarna kehijauan itu terlihat masih sembab, menandakan
bahwa dia masih sedikit mengantuk. Perempuan ini barusaja bangun dari kamar tidur di sebuah
rumah sederhana yang tampak bersih dan rapi. Saat itu suasana pagi hari yang hangat dan cerah.

Sang perempuan beranjak bangun dari pembaringan menuju ruang tamu yang sederhana
namun cukup luas dan tertata rapi, menghampiri seorang lelaki muda berambut coklat dan
bermata kehijauan yang duduk di kursi ruang tamu depan sembari memakan sarapan.

Lelaki itu menyapa, “ohh, sudah bangun yahh…selamat pagi”

Sang perempuan membalas dengan masih agak mengantuk, “mmmhhh….Selamat pagi kak
Jack,” jawabnya

Lelaki yang dipanggil Jack ini bertanya, “Bagaimana tidurmu, enak?”

Sang perempuan duduk di kursi, lalu menjawab, “Aku bermimpi buruk lagi kak….”

Jack bertanya, ‘Hmmm….lagi? mimpi apa lagi tadi malam?”

Sang Perempuan membalas, “Mimpi yang sama lagi….sudah kali keempat berturut-turut”

1
Jack terdiam menatap sang perempuan dengan wajah cemas

Perempuan itu lalu melanjutkan, “Aku merasa….hal yang buruk akan segera terjadi
kak…aku takut, takut sekali kaak”

Jack berusaha menghibur perempuan itu, “Sudahlah, tidak ada yang perlu dicemaskan,
semuanya akan baik-baik saja…kamu hanya lelah, banyak pikiran. Aku tahu kamu juga sangat
merindukan ibu dan ayahmu, Itulah yang membuatmu tidak tenang…sudahlah…jangan terlalu
dipikirkan lagi” ucapnya
Perempuan itu menjawab, “Iyya, semoga saja begitu ya kak…”
Jack melanjutkan “Tenang saja, jika ada apa-apa aku akan selalu ada untuk melindungi dan
menjagamu, jangan khawatir…”
Perempuan itu tersenyum, “Iyya kak…” ucapnya
Jack mulai bangkit berdiri lalu dia berkata, “Aku pergi ke kota dulu yaa…kamu baik-baik
di rumah, nanti malam kita akan makan (……….), pasti enak”
“Iyaa kaak hati-hati yaa…,” sahut si perempuan.
Jack mencium dahi sang perempuan, lalu pergi “daah” ucapnya singkat.

Jack pergi ke pinggiran kota yang cukup besar dan padat, menandakan bahwa tempat itu
merupakan pusat kegiatan dari orang-orang yang tinggal di bagian kota ini. Suasana jalanan kota
dipadati oleh orang-orang dan kendaraan (dalam hal ini, kereta kuda dan sepeda) yang berlalu
lalang. Di sisi-sisi jalan, terdapat bangunan dan gedung yang cukup besar serta kokoh berdiri. Di
jalan utama kota itu, jack berjalan sembari berpikir tentang sesuatu, suasana saat itu siang
menjelang sore hari.

Jack berbicara dalam hati sambil berjalan, “Dea…sebenarnya apa yang akan terjadi?
Apakah arti dari semua ini?” dalam hatinya, dia terus bergumam, “Mimpi yang sama, terus
menerus….sungguh sangat meresahkan,” kemudian, dia melanjutkan, “Masalahnya…..bukan
sekali ini saja dia berfirasat, dulu dia sering begitu dan akhirnya benar-benar terjadi,”

Lalu, Jack Berhenti berjalan seraya berpikir dalam hati, “ Jika memang benar terjadi hal
yang buruk….apa yang harus kulakukan? haruskah…haruskah aku…”

Tanpa disadari, Jack berjalan hingga sampai di jalan yang menyempit dan agak sepi. Di
sisi jalan yang berada di sudut kota, dia menghentikan langkahnya. Dilihatnya seorang pengemis
cacat yang sedang bersandar pada dinding sebuah bangunan. Jack melihat nya dengan saksama,
sampai akhirnya mereka bertatapan muka.

Jack menatap pengemis dengan rasa heran, “Hmmmmm??”


“Grrrrrrhh…,” Pengemis itu tampak menggeram dengan pelan

2
Jack hanya terdiam sambil menatap pengemis
“Grrrrh….grrrhhh….,” Pengemis itu menggeram semakin keras
Jack menatap pengemis itu cukup lama, dilihatnya, berangsur-angsur wajah sang pengemis
berubah menjadi semakin mengerikan menyerupai sesosok monster. Sesaat kemudian, sang
monster berupaya untuk menerkam jack.

“Huaarrrgh…,” Jack menjerit tertahan sambil melindungi badannya dengan tangan.


Sesaat kemudian, Jack tersadar bahwa yang dilihatnya itu hanyalah khayalannya semata,
tidak ada sesuatu yang berubah dari pengemis cacat yang dilihatnya itu. Begitu sadar, dia pun
berniat untuk pergi dari tempat itu dan melanjutkan untuk berjalan.

“Ahhh…bodohnya, apa yang ku pikirkan??” Gumam Jack sambil menutup wajah dengan
satu tangan
“Aku harus pergi, semua hal ini membuat pikiranku makin kacau…,” kata Jack sambil
mulai berjalan
Hari sudah malam. Di suatu tempat yang agak jauh dari kota, nampak sebuah rumah
sederhana yang terbuat dari kayu namun cukup besar dan bersih terawat, rumah itu tampak
diterangi oleh kristal cahaya yang berpendar kalem.
Hampir semua masyarakat di wilayah bumi ini menggunakan kristal cahaya sebagai sarana
penerangan, ini adalah sebuah batu yang memendarkan cahaya berwarna putih keunguan jika
keadaan sekitarnya gelap. Untuk bisa memancarkan sinar, kristal cahaya harus memiliki
cadangan cahaya yang sudah diserap sebelumnya, sehingga masyarakat biasanya menjemur
kristal ini selama beberapa lama di siang hari untuk kemudian digunakan sebagai lampu pada
malam hari. Tingkat intensitas cahayanya tergantung dari seberapa banyak kristal ini menyimpan
cahaya dan seberapa besar ukurannya. Namun untuk ukuran standar rumah, biasanya tingkat
intensitasnya sedikit lebih terang dari lilin biasa namun juga tidak secerah lampu bohlam listrik.
Kristal ini jumlahnya berlimpah ruah dan memiliki daya tahan hingga 4-5 tahun, untuk
mendapatkannya cukup membelinya di pasar di toko keperluan sehari-hari atau pergi
menambang ke daerah pegunungan di sebelah tenggara kota tempat dimana persediaan kristal ini
melimpah.

Adapun rumah yang dimaksud tidak lain adalah rumah Jack dan keponakan perempuannya
Dea, di dalam rumah, (tepatnya di ruang makan yang terletak di bagian tengah rumah) terlihat
Jack dan Dea sedang duduk menikmati makan malam bersama.

“Masakanmu enak yaa hehe,” ucap Jack sambil makan

“Ahh, kakak ini… ada niat apa nih, kok tau-tau ngomong begitu?” Sahut Dea agak tersipu

“Lhoo?? Kok dibilang ada niat?? Orang beneran enak kok,” balas Jack

3
“Bukannya begitu kaak, soalnya kakak udah sering nyobain masakanku…ini kan bukan
yang pertama kali,” kata Dea

“Hahaha…soalnya kemarin-kemarin aku nggak ada waktu buat ngomong itu, kamu kan
tahu aku sibuuk weee, ” jawab Jack sambil mengejek bercanda

Dea membalas “idiiihhhh, lagaknyaa…susah emang sama kakak, adaa aja jawabannya,”

Jack tertawa ringan, lalu melanjutkan makan.

Dea melanjutkan “Oh, iyaaa…katanya tadi siang pas mau pulang, katanya kakak ketemu
pengemis di jalanan yaa?”

“Ohh…iyya, soal itu…aku lupa tadi mau ngomongin itu, iyya gitu lah…aku sedih
ngeliatnya,” kata Jack sembari menghentikan makan, tampaknya sudah habis.

Dea lalu berkata “Iyya ya kak, sedih sekali kalo melihat orang yang seperti itu sendirian
dan kedinginan…pasti dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi…tidak punya keluarga”

Dea mengulangi kata-katanya ”Tidak punya keluarga,” katanya kemudian air matanya
mulai turun

“Keluarga……” Dea mulai Terisak-isak, lalu menangis tertahan.

“Lho, lho lho…kok malah nangis? Yaaahh…udah deh, udaah, udah…kita ngomong yang
lain aja deh…yang lain aja,” sahut Jack berusaha menenangkan dengan lembut

Dea masih mengeluarkan air mata, namun berangsur tangisannya mulai reda

Mata Dea masih sembap, dia berkata “Maaf kak…aku memang cengeng dan memalukan,
mungkin aku terlalu sensitive”

Jack hanya terdiam sambil menghela nafas pendek, menatap Dea dengan iba)

Dea melanjutkan “Ya sudah, aku mau tenang dulu. Biar aku bereskan sisa makanan ini,
habis itu aku mau istirahat ke kamar”

“Yaaa…istirahat lah ya” jawab Jack

Dea beranjak dari kursi sambil membereskan sisa-sisa makanan untuk di bawa ke dapur.
Begitu berjalan ke arah dapur, tiba-tiba dia terdiam. Tanpa mengeluarkan kata-kata apapun…dia
diam mematung, wajahnya tampak ketakutan, nafas nya mulai terengah-engah. Di pikirannya
terbayang hal-hal yang aneh sekaligus menakutkan, meteor raksasa, gempa bumi, tanah longsor,
langit mendung berwarna hitam kemerahan yang mengerikan, sampai sesosok monster yang
ganas, jack yang melihat dea terpaku cukup lama merasa bingung, lalu jack pun memanggilnya.

4
“ Dea??… Ada apa De??” Panggil Jack
Dea tidak menjawab, keadannya masih sama
Jack beranjak dari kursi lalu menghampiri Dea, menepuk bahunya “De?”
Dea terkejut karena di tepuk “Ahhhh, kak…kak jack”
“Ada apa De? Kamu ngelamun?” Tanya Jack
Dea berusaha menyembunyikan “Ahhh, nggak apa-apa kok kaak, nggak apa-apa,”
“Yang bener ni? Ada yang kamu pikirkan kayaknya, ayo omongin ajaa, jangan disimpan”
kata Jack setengah mendesak

“Tidak kok kak, aku Cuma kecapekan aja kok ini. Ohh iyya, aku mau beresin ini dulu,
habis ini langsung tidur aja deh, malam kaak,” “kilah Dea sambil langsung pergi meninggalkan
Jack”

Jack menjawab pelan ‘Yaa….malamm…”


Jack menghela napas “Entah ada apa ini,”
Keesokan harinya, di pagi hari hujan turun dengan lebatnya dengan sesekali diiringi suara
gemuruh di langit kelabu. Rasa dingin hujan ditambah dengan udara pagi hari menimbulkan
hawa yang membuat siapapun enggan untuk pergi ke luar. Jack masih ada di dalam rumah
bersama dengan Dea, tampak bahwa mereka berdua baru selesai sarapan. Dia berniat untuk pergi
bekerja, namun terpaksa urung karena hujan turun dengan lebatnya.

Jack berdiri di dekat jendela kaca sambil menatap ke luar “Yaah… hujan nih,”
gumamnya.

Dea duduk di belakang Jack “Iyya, akhir-akhir ini kondisi cuaca sedang tidak menentu,
kadang-kadang ada yang sepanjang hari mendung tapi hujan tidak turun. Tapi ada juga pas cuaca
sedang terik-teriknya tahu-tahu malah turun hujan deras….entah ada apa ini,” katanya

Jack berkata “Yaaa, berdoalah semoga tidak terjadi hal-hal yang buruk,”

“Jadii, kakak masih ingin pergi ke tempat kerja?” Tanya Dea

“Melihat keadaannya seperti ini yaa tidak mungkin, tapi kalo tidak kerja kan sayang…tidak
dapat upah jadinya,” jawab Jack

“GLAAARRRR” Lalu terdengar suara Guntur

5
Jack menghela napas “Tapi kalo seperti ini terus ya sudahlah, mungkin hari ini bukan
rejekinya,” lanjutnya

“Ya sudah berarti kakak santai saja di rumah,” kata Dea

Setelah mengucapkan kata itu, Dea beranjak dari duduknya hendak pergi ke dapur sembari
membereskan sisa-sisa sarapan. Namun sesaat setelah dia berdiri dan berbalik arah, tiba-tiba dia
terdiam, matanya terbelalak, nafasnya mulai terengah-engah dan keringat mulai bercucuran di
tubuhnya, ibarat seperti orang yang sedang dirundung ketakutan. Di pikirannya, terbayang lagi
hal-hal menakutkan tentang bencana alam, kehancuran, dan monster-monster mengerikan.
Semakin lama, bayangan-bayangan itu terlihat semakin nyata sehingga Dea tidak mampu
mengendalikan pikirannya. Akhirnya, piring-piring bekas sarapan yang dibawanya pun
terhempas ke bawah hingga pecah sedangkan dea sendiri terjatuh bertumpu pada lutunya sambil
memegang kepalanya yang terasa sakit dengan kedua tangannya. Suara piring yang pecah itu
mengejutkan jack yang sedari tadi mengamati hujan yang masih turun dengan lebatnya.

Jack membalikkan badan “Dea, kenapa de?” katanya terkejut

Dea tidak menjawab, posisinya masih berlutut sambil menahan sakit

Jack Menghampiri Dea sambil mendekapnya “Dea, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Dea masih memegang kepalanya, dipikirannya masih terbayang hal-hal yang mengerikan
tersebut

“Mereka….Mereka datang,” kata Dea menatap kearah Jack. Posisinya masih memegang
kepalanya sambil menahan sakit,

“Mereka?? Mereka siapa de??…Siapa yang kamu bicarakan?? tanya Jack kebingungan

Tatapan Dea berubah, matanya memerah, suaranya berubah menjadi mengerikan “Mereka
sudah datang….kehancuran….tidak ada yang selamat,”

Jack makin kebingungan“Dea… ada apa ini?? Apa yang kau bicarakan?? Aku tidak
mengerti,”

Dea masih berusaha untuk mengendalikan pikirannya, semakin lama rasa sakit itu terasa
semakin besar hingga akhirnya Dea tidak tahan lagi. Terlihat hidungnya mengeluarkan darah
akibat beban pikiran yang ditanggungnya. Dia meronta-ronta lalu menatap ke arah langit-langit
sambil menjerit diiringi dengan suara guntur yang keras. Jack yang sedari tadi mencoba
menenangkannya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mendekap dan menahan tubuh dea
agar tidak berontak. Tak lama setelah jeritannya, Dea berhenti dari “amukannya” dan terkulai
lemah, seiring dengan hujan yang berangsur-angsur berhenti.

6
“Dea….kamu kenapa? apa yang kamu lihat?” katanya sambil memeluk Dea

Dea terkulai lemah dipelukan Jack “Haaahhhh….haahhhh...haaah…. kau


harus…selamatkan….sebelum….terlambat,” katanya. Setelah itu, dia pingsan.
“ Dea, Dea….sadar De, Deaaaa…”
Sesaat setelah dea pingsan, Jack yang tidak tahu harus berbuat apa segera berniat untuk
memanggil seorang dokter. Pikirannya tak menentu antara bingung, takut, dan sedih. Bingung
karena dia tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi, takut karena khawatir akan datang hal
yang mengerikan, dan sedih karena melihat keponakan perempuan yang sangat disayanginya
begitu menderita dan sakit-sakitan. Namun dia sadar, hal yang terpenting sekarang adalah
memanggil seorang dokter ke rumah untuk mengobati Dea, dan itulah yang akan dilakukannya.

Gedung pusat kesehatan masyarakat itu terletak begitu megah berdiri dengan warna putih
yang agak berkilauan karena cahaya matahari dan ditopang oleh pilar-pilar dari beton yang
kokoh di bagian depan bangunan, serupa dengan parthenon yang ada di negeri yunani.
Keseluruhan bangunan ini terbuat dari beton berwarna putih kecuali bagian lantai nya yang
terbuat dari marmer berwarna hitam mengkilap yang senantiasa bersih karena selalu rutin
dibersihkan oleh petugas kebersihan. Bagian dalamnya terdiri dari beberapa ruangan yang biasa
digunakan untuk praktik dokter, ruang tunggu untuk pasien-pasien, ruang administrasi, dan ruang
untuk penyimpanan obat. Terlihat banyak orang yang memiliki berbagai riwayat penyakit datang
berobat , menjadikan tempat ini selalu sibuk, juga sesekali tercium bau obat yang keluar dari
ruangan penyimpanan obat. Di tempat ini lah jack menemui seorang dokter untuk mengobati
keponakannya yang tak sadarkan diri.

Jack berlari dengan cepat menyusuri lorong sementara di dekat situ ada seorang petugas
kebersihan yang membersihkan lantai, Jack terus berlari tanpa memperhatikan Petugas
Kebersihan di dekatnya. Karena tidak lihat-lihat, Jack hampir saja menabrak petugas kebersihan
itu. “Wododoohh” katanya terkejut”, “hati-hati nak, jalannya licin, bisa kepeleset lhooo”
Lanjutnya

“Maaf paak….” Jawab Jack sementara dia terus berlari meninggalkan Petugas Kebersihan
Jack sampai di depan ruangan dokter dengan terengah-engah. Begitu sampai, dia langsung
berkata kepada sang dokter “kau harus ikut denganku, kumohon,”
Sang dokter masih duduk di kursi ruangannya “Oh…Jack? Ada apa ini, soal itu lagi ya?”
tanyanya seolah bisa menebak permasalahan Jack.
“Iyaaa, bahkan lebih parah, sekarang dia….dia pingsan,” jawab Jack sambil masih
terengah-engah
“Iya, baiklah, lagi pula aku sedang tidak ada pasien,” Kata sang dokter, kemudian dia
bangkit berdiri “Oh iyya, kamu ikut juga,” lanjutnya sambil menatap ke arah seorang perempuan
perawat

7
“Baik dok,” jawab Perawat itu sembari bersiap-siap
Kembali ke rumah, tampak seorang dokter muda sedang memeriksa dea yang terbaring
lemah. Dari penampilannya, dokter ini terlihat sangat rapi dan elegan dengan baju dokter
panjang berwarna putih yang dibiarkan terbuka dengan dasi berwarna merah, memperlihatkan
kemeja yang juga berwarna putih dibalik baju dokter tersebut, celana panjangnya yang berwarna
hitam nampak serasi dengan pakaian atasnya yang serba putih. Dokter ini berkulit putih dan
memiliki rambut pirang yang disisir rapi serta mata berwarna kebiruan, usianya sekitar 24 tahun.
Sekilas, memang tidak ada yang terlihat aneh dari dokter muda tersebut, hanya saja, jika dilihat
dengan lebih seksama, tampak sesuatu yang tidak biasa dari dokter muda yang bernama Wilhelm
Von Konrad ini. Keanehan itu ada di bagian telinganya yang tampak meruncing di bagian atas,
menandakan kalau dokter ini bukan sekedar manusia biasa.

Diperkirakan, Wilhelm ini merupakan salah satu, atau setidaknya, salah satu keturunan dari
bangsa elf. Ini adalah suku bangsa yang memiliki keahlian dan kecerdasan di atas rata-rata
manusia biasa, bangsa elf terkenal dengan kemampuan mereka di berbagai bidang seperti
pengobatan, seni, memanah, ilmu alam, pandai besi, bahkan sampai memasak dan menjahit
pakaian juga. Bangsa elf dikaruniai umur yang lebih panjang dari manusia dan selalu terlihat
awet muda, mereka memiliki ciri fisik berupa kulit putih bersih dan telinga yang meruncing ke
atas, ciri-ciri lain yang tampak dari mereka adalah rata-rata dari mereka sangat tampan dan
cantik. Mereka sangat mencintai alam lingkungan dan akan sangat marah jika ada pihak-pihak
yang merusak dan mengeksploitasi alam secara berlebihan dan tanpa ada alasan yang jelas.

Zaman dulu sekali, mereka hidup berdampingan dengan manusia dalam damai. Namun,
setelah manusia semakin maju dengan teknologi dan industrinya, bangsa elf menjadi tidak betah
hidup dengan manusia yang menurut mereka terlalu berlebihan dalam mengeruk sumber daya
alam sehingga merusak lingkungan. Mereka kemudian hidup mengasingkan diri jauh ke arah
selatan di mana di sana mereka hidup bersahaja sambil memelihara lingkungan sekitar mereka,
menjaga hutan terbesar di dunia yang dikeramatkan oleh para elf di negeri mereka yang disebut
Elvenor.

Berkaitan dengan asal-usul dirinya ini, Wilhelm selalu menampik jika ditanya tentang hal
itu. Karena memang, pada kenyataannya, Wilhelm tidak pernah mengenali siapa ayah dan
ibunya. Sejak kecil Wilhelm diasuh oleh seorang wanita kaya keturunan bangsawan bernama
Therena Von Konrad. Wanita ini lantas menggunakan nama keluarganya kepada wilhelm supaya
kelak anak itu bisa diakui sebagai keturunan Konrad yang kaya-raya.

Di dalam kamar, dokter muda Wilhelm dengan cermat memeriksa sang pasien dea yang
kini sudah mulai sadarkan diri. Terlihat Dea masih lemah sehingga dia tidak mengucap sepatah
kata pun dan hanya bisa berbaring. Tampak juga sang dokter menyuntikkan sesuatu ke lengan
kanan dea, sesuatu yang sepertinya adalah obat penenang atau mungkin vitamin, atau entah
apapun itu. Dokter Wilhelm ditemani oleh seorang suster perempuan muda yang sejak tadi

8
dengan sigap membantu sang dokter memeriksa Dea, suster ini berwajah manis dengan kulit
putih dan mata agak bulat berwarna hitam. Rambutnya pendek sebahu berwarna hitam serta
hidung dan mulut yang mungil, membuatnya tampak terlihat manis dan imut, usianya sekitar 20
tahun. Suster ini aslinya bernama Evaline Wallard namun orang-orang biasa memanggilnya
dengan sebutan nurse Eva.

Sementara di luar kamar, Jack duduk menunggu dengan cemas, perasaannya tampak tidak
karuan, gabungan antara sedih, takut, dan bingung karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
dan harus melakukan apa, cukup lama dia menunggu seperti itu hingga akhirnya dokter Wilhelm
dan suster Eva keluar dari kamar.

Jack berdiri Menghampiri Wilhelm dan Eva “Jadiii…Bagaimana keadaannya Wil?” tanya
Jack

Wilhelm menghela nafas “Dia sedang tertekan dan gelisah, hal itu memacu jantungnya
hingga menaikkan tekanan darahnya, lalu membuatnya kejang, sepertinya ada hal
dipikirkannya,” jawab Wilhelm.

”Hmmmh, seandainya aku tahu apa yang sedang dipikirkannya…semuanya serba gelap,”
kata Jack menundukkan kepala.

Wilhelm memegang bahu Jack “Jack, aku tahu ini memang sulit tapi kau harus mencoba
untuk menghiburnya, ajak dia bicara, jangan biarkan dia berpikiran buruk, setiap kali dia mulai
seperti itu kau harus mengalihkannya,” sahut Wilhelm

“Aku sudah mencobanya, tapii kadang-kadang susah, hmmmhh…tapi, aku akan


mencobanya lagi,” sahut Jack seperti ingin mengeluhkan masalahnya kepada Wilhelm

Wilhelm hanya terdiam.

Lalu Jack bertanya “Jadi…….apa resepnya?”

Wilhelm menjawab “Mmmm…obat penenang tipe satu, beberapa vitamin, lalu kau jugaa
bisaa….”

“Heeeeeehhhh….” potong Jack

Wilhelm jadi bingung “Lho, kenapa Jack?” tanyanya

Jack berjalan kearah kursi lalu duduk “Wil….kamu tahu sendiri kan? Dari mana aku punya
uang untuk menebus obat-obat itu?? Obat penenang yang semacam itu kan mahal, sedangkan
obat yang tempo hari lalu saja belum lunas kutebus,” sahut Jack sambil memegang kepala
dengan kedua tangan

9
Wilhelm Mendekati Jack “Jack, aku disini bukan untuk mengharapkan uang atau imbalan,
aku melakukan ini demi alasan kemanusiaan, tidak ada istilahnya aku memeras temanku sendiri.
Jika aku menganjurkan obat untukmu, itu artinya kau bisa menebus obat itu sekalipun kau tidak
punya uang” kata Wilhelm berusaha meyakinkan Jack

“Tapiii…aku tidak enak, masa’ begini-begini terus, mau sampai kapan?” sahut Jack lagi

”Tidak apa-apa kok, untuk pasien yang kurang mampu memang diberi keringanan untuk
membeli obat, dan ini adalah aturan pemerintah juga, jika kami tidak melakukannya, bukankah
itu artinya kami melawan peraturan?” Tambah suster Eva

Kemudian Wilhelm berkata “Kau bisa ambil obatnya di klinik Jack, aku dan Eva akan
membawamu kesana”

“Baiklah…terimakasih teman-temanku, silakan kalian pergi duluan, aku ingin menjenguk


Dea dulu,” balas Jack

Setelah itu dokter Wilhelm serta suster Eva beranjak dari rumah Jack dan meninggalkan
pemuda itu. Selepas kepergian mereka, Jack masuk ke dalam kamar Dea untuk melihat
keadaannya. Tampak Dea sudah agak kuat dan sudah bisa bangun, namun dia masih belum bisa
meninggalkan tempat tidurnya, Jack menghampiri gadis itu lalu duduk di sisi tempat tidurnya
untuk mengajaknya bicara.

”Bagaimana keadaanmu De?” Tanya Jack

Dea menjawab dengan suara agak lemah “Sudah agak enakan kaak”.
Jack “Hmmm, syukurlah…aku senang kamu sudah baikan”
Dea berkata dengan suara parau menahan tangis “Kak….sebenarnya aku ini kenapa?
Kenapa aku harus melihat hal-hal itu?? Itu sebenarnya apa maksudnya kaaak?” kemudian dia
benar-benar menangis

Jack berusaha menenangkan “Sudah, sudah…itu bukan apa-apa kok, itu hanya khayalanmu
saja. Kau terlalu banyak berpikiran buruk, masih ingat kan pembicaraan kita dulu, Jika hidup kau
buat sedih, maka akan sedih. Tapi jika kau mencoba untuk bahagia, maka kau akan senang. Oleh
karena itu berpikir positflah maka semuanya akan baik-baik saja,”

Dea memeluk Jack sambil menangis “Aku takuut kaaak, takuuuut,”

Jack mendekap Dea “Sudah…Jangan takut, aku akan selalu menjagamu, jika ada apa-apa
maka akulah yang akan melindungimu,tidak ada alasan untuk takut De….jangan menangis lagi”

“Iyyaa, iya kaak…” sahut Dea, tangisnya mulai mereda.

10
Jack memegang kedua bahu Dea, “Naah…sekarang begini, obat mu bisa diambil di klinik
Pusat Kesehatan Masyarakat, ayo kita siap-siap,” katanya

Dea menggelengkan kepala dengan pelan “Tidak ah kak, akuu mau istirahat di rumah aja,
sekalian menjaga rumah” kata Dea

“Kamu yakin? tidak papa nih kalo aku tinggal sendiri? kata Jack

Dea tersenyum ”Iyaaa, tidak papa kok, ini aku juga udah enakan,” jawabnya

Jack lalu berkata “Ya sudah, kalo gitu aku pergi dulu yaaa,” kemudian bangkit berdiri
keluar kamar

”Mmmh, Kak Jack” panggil Dea

Jack berhenti sejenak lalu sedikit membalikkan badan “Iyya De?”

“Terima kasih yaa kaak, maaf kalo terus aku merepotkan kakak,” kata Dea lirih

“Ah…ngomong apa sih kamu ini? Namanya orang tua itu yaa memang harus begini kan…
nggak merepotkan kok, ya sudah, aku pergi dulu,” tepis Jack seraya keluar kamar

Jack pergi ke klinik pusat kesehatan masyarakat untuk menebus obat. Selepas dari sana,
Jack tidak langsung pulang kerumah, melainkan berjalan-jalan menyusuri kota sambil
memikirkan apa sebenarnya yang menimpa dirinya dan Dea. Karena, sekalipun Jack selalu
meyakinkan Dea kalau semuanya akan baik-baik saja, di lubuk hatinya yang paling dalam jack
juga merasa takut kalau-kalau mimpi buruk dan penglihatan yang selalu dilihat oleh Dea akan
menjadi kenyataan. Sebab, hal itu sudah pernah terbukti beberapa kali sebelumnya di mana Dea
sering bermimpi dan melihat hal-hal buruk hingga akhirnya benar-benar terjadi.

Jack berjalan terus sambil berpirkir tentang hal tersebut, semakin lama, Jack berjalan
semakin tak tentu arah, hingga akhrinya dia merasa kelelahan. Kemudian, dia memutuskan untuk
duduk di bagian tepi sungai yang diberi pembatas beton, lama dia duduk di tempat itu sambil
merenung hingga akhirnya seorang lelaki menghampiri dan mengajaknya bicara.

Laki-laki itu menyapa “Jack…Jack, lama nggak kelihatan batang hidungnya, eh tahu- tahu
malah nangkring di sini,”
Jack memandang kearah sumber suara “Oh, kamu toh rupanya, kukira siapaa,” sahutnya
Jack menoleh kearah suara yang menyapa dirinya, terlihat seorang lelaki muda berambut
pirang dan bermata biru sedang berdiri di dekatnya. Lelaki muda ini berperawakan tinggi, agak
kurus, namun nampak gagah karena tubuhnya yang lumayan kekar dan berisi. Penampilannya
memang sedikit tidak biasa, sekilas, dia terlihat seperti seorang bangsawan dengan rambut pirang
dan mata birunya, wajahnya pun sebenarnya cukup manis. Hanya saja, rambutnya yang panjang
menutupi telinga dan rada acak-acakan seperti sengaja tidak disisir rapi serta pakaiannya yang

11
lusuh dan agak kumal membuatnya terlihat agak dekil. Pemuda ini bernama asli Wayne
Trelawney, usianya 25 tahun, dan dia adalah teman lama Jack.

Wayne menanyai Jack “kenapa nih? Kayaknya kamu lagi sewot deh,”

“Susah ngejelasinnya Wayne…soal si Dea nih,” jawab Jack

“Soal si Dea yaah, ya udah kita omongin di tempat lain aja deh, jangan disini, kayak
gembel aja nongkrong di sini,” kata Wayne

Jack mengelak “Mau ke mana sih ini? Aku lagi nggak ada uang”

“Kita ke kafe Light Box, udah jangan banyak omong…aku yang bayarin” ucap Wayne
sambil menarik tangan Jack

”Iyyaa, Iyyaaa, ini…lepasin tanganmu”

Jack dan Wayne duduk berhadapan di satu meja di sebuah kafe terbuka yang terletak di
pinggir sungai, pemandangan tepi sungai terlihat indah dengan cahaya matahari yang memantul
di permukaan air yang tenang. Sungguh suasana yang indah sekaligus menenangkan hati, namun,
tidak dengan suasana hati jack saat itu. Dalam hatinya, Jack masih menyimpan rasa gelisah dan
tidak tenang atas apa yang baru saja menimpanya. Setelah minuman yang mereka pesan datang,
Jack pun mulai membuka pembicaraan, suasana saat itu siang menjelang sore hari.

Maaf ya Wayne, sudah hampir satu bulan aku tidak datang ke tempatmu,” kata Jack
sambil meminum minumannya

“Ahhh, nggak papa kok, kan nggak mungkin juga kamu tiap hari harus datang ke kafe ku,”
Jawab Wayne

Jack berkata lagi “Lagipula, aku juga malu, soalnya aku kebanyakan ngutang sama kamu.
Yang ini juga kamu yang bayarin, hedeeeh…bikin malu emang,”

“Lhaaah…ngomong apa sih? kamu ini udah berapa lama kenal sama aku? Kayak baru
kenal aja, tidak usah gitu juga kalii,” tepis Wayne sembari meminum minumannya

“Habisnyaa…saban kali aku datang ke kafe mu pasti kamu kasih gratis, kalo nggak gitu,
kamu kasih bonus, kan maluu,” ucap Jack

“Jack, orang hidup itu harus saling berbagi, kebetulan aja aku punya kelebihan rezeki, ya
musti dibagi dong….nanti deh kalo aku tidak punya duit, baru aku minta ke kamu…kamu harus
siap yaaa” kata Wayne sambil bercanda

“Haalah… macem-macem, dikasih kaya mau miskin, ya udah lah terserah kamu,” sergah
Jack

12
“Hahahaha…oh iyaa, tadi kamu bilang soal si Dea kan? Emangnya kenapa lagi itu
keponakanmu?” Tanya Wayne

Jack menceritakan kisahnya “Jadi gini Wayne, si Dea ini…baru-baru ini dia terus
bermimpi dan melihat hal-hal yang aneh dan mengerikan,”

“Aneh dan mengerikan? Seperti apa?” tanya Wayne bingung

Jack melanjutkan “Seperti…seperti bencana alam, kehancuran, dan juga…monster,”

Wayne agak terkejut dibuatnya “Monster?? Waww… aku baru dengar nih, apa artinya
itu?” tanyanya lagi

“Itulah yang aku pikirkan sampai sekarang. Berkali-kali Dea melihat hal ini dalam
tidurnya, bahkan juga di saat terjaga sekalipun. Tadi pagi saja, dia sampai kejang dan berteriak-
teriak seperti kesetanan gara-gara melihat itu, aku sampai harus memanggil Dokter Wilhelm ke
rumah untuk memberinya penenang…gara-gara itu juga hari ini aku tidak pergi bekerja” jawab
Jack

Kemudian, Jack menambahkan “Wayne, aku merasa…aku merasa ada ancaman besar yang
akan melanda kehidupan kita,”

Wayne bangkit berdiri berjalan ke tepi sungai membelakangi Jack


“Hmmmh…ancaman…sudah lebih dari lima puluh tahun sejak kerajaan-kerajaan antar wilayah
saling berdamai, dan sudah genap delapan tahun sejak pemberontakan Singa Hitam ditumpas…
sekarang orang gila mana lagi yang berniat untuk membuat kekacauan?” katanya dengan nada
serius

“Hmmmh…sepertinya ancaman kali ini bukan datang dari orang,” ucap Jack

Wayne menoleh ke arah jack “Haaah?? Lalu apa?”

Jack menjawab “Entahlah…mungkin makhluk asing, atau iblis mungkin”

Wayne mengepalkan kedua tangan lalu disatukan “Yahh, apapun itu…kita akan lawan, kita
akan bertarung…lagipula, badan ini sudah lama nggak “dipake”, aku akan siap menghadapi
segala ancaman,”

“Kok kamu malah bersemangat?? Ini bukan permainan Wayne, jika memang benar terjadi,
bukan hanya aku dan kamu, tapi semua kehidupan ini akan musnah,” kata Jack dengan nada
sedikit kesal, sepertinya dia tidak suka dengan reaksi Wayne.

Wayne membalikkan badan “Siapa juga yang main-main…aku berkata sesuai


kenyataan…coba kamu pikir, kepada siapa lagi kita menyandarkan nasib jika tidak pada diri
sendiri?? Siapa emangnya yang mau membantu?? Bangsa Elf?? Kamu masih ingat kan kata-kata

13
mereka saat kita terdesak dan memohon bantuan mereka?? Dengan pongahnya mereka berkata
“Kami Bangsa Elf Tidak akan Melibatkan Diri dengan Perang Manusia…” sahutnta sambil
menirukan gaya dan suara Elf.

Jack “Hmmmhh….Bagaimana dengan Paladin?” Tanya Jack

“Paladin?? Hmph” kata Wayne sinis “Kesatria putih, kesatria suci, kesatria sombong
kupikir…mereka berlagak melindungi, kenyataannya hanya ngomongnya saja. Jika berjalan
angkuhnya setengah mati, tidak peduli sama yang disekitarnya…kalau kamu ngomongin ini
sama mereka, mereka tidak bakal percaya, yang ada kamu malah diketawain,” lanjutnya

“Hmmmh…sepertinya kita tak punya pilihan,” ucap Jack sambil tertunduk

Wayne bertanya “Jack, kenapa sih kamu begitu cemas dengan mimpi Dea ini?”

“Siapa yang tidak cemas coba, kamu tahu sendiri kan, bukan cuma sekali ini saja dia
bermimpi lalu benar terjadi, hampir semua yang dimimpikannya itu benar-benar jadi nyata.
Pemberontakan, korban-korbannya, bahkan kematian ayah-ibunya, itu semua sudah dia lihat
dalam mimpi sebelumnya jawab Jack, matanya sembab menahan tangis

Wayne terdiam sambil merasa iba

Jack melanjutkan “Lagian juga si Dea ini…kenapa selalu saja dia memimpikan hal-hal
yang buruk?? Tidak bisakah dia memimpikan hal-hal yang baik barang sekaliii saja, ohh
Tuhaaaan….huuuu,” Jack menangis, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan

Wayne kembali duduk menghampiri Jack “Jack,sudahlah… aku tahu ini memang berat
untuk kamu, tapii, coba kamu lihat, kamu sudah menghadapi banyak kesulitan, dan berhasil
melaluinya. Hingga hari ini kamu bertemu dengan ku kamu masih sehat dan kuat seperti dulu, itu
berarti kamu berhasil”

Jack menangis Tertahan “Aaku…kali ini aku tidak kuat lagi Wayne, aku tidak tahan
lagii…tidak tahan lagii,”

“Dengar, dulu kamu pernah mengalami hal yang buruk dan berhasil melaluinya, jika dulu
kamu bisa mengatasi masalah maka sekarangpun berarti juga bisa,” ucap Wayne menyemangati
Jack

Tangisan Jack mulai reda

Wayne melanjutkan “Hidup memang tidak banyak pilihan kawan, apalagi untuk orang
seperti kita-kita ini, kau jangan berkata mentang-mentang aku kaya dan punya uang jadi aku bisa
ngomong seperti ini, tidak…aku juga senasib denganmu. Kita pernah sakit sama-sama dan
ketawa bersama-sama. Aku paham kesulitanmu kawan,”

14
“Berkaitan dengan mimpi itu…jika memang benar terjadi, maka kita harus melawan, yaa
seperti yang kubilang, pilihan kita tidak banyak, kita melawan, menang, atau mati. Sederhana
saja,” katanya menyimpulkan

“Hggghh, kau benar Wayne,” Jack berhenti menangis

Wayne berkata lagi “Nah, bagus…berhenti menangis, dan jadilah kuat seperti Jack yang
kukenal,”

Jack mengangguk, kemudian dia berkata “Ohhh…hari sudah mau sore, aku harus
memberikan obat ini kepada Dea, kasian dia menunggu dirumah,”

“Oh gituu yaa, ya udah… kalogitu biar aku yang manggil pelayan, kamu pergilah duluan,”
ucap Wayne

“Aku pergi dulu ya Wayne,” kata Jack sambil beranjak pergi

“Eh Jack, tunggu sebentar,” Panggil Wayne

“Apaan?”

“Gini, Kalo kamu dan Dea jenuh dirumah, silakan saja datang ke kafeku, kita ngobrol-
ngobrol santai di sana. Kalo perlu sekalian nginap di sana aja deh, toh sepupuku nggak ada
temannya juga, dia pasti seneng kalo ada Dea menginap, yaa itung-itung ngurangin stress juga
kaan, okke yaa?” kata Wayne

“Ohhh gitu yaa, siip laah,” jawab Jack sampil mengacungkan jempol

Jack pergi meninggalkan Wayne lalu kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah,


diserahkannya obat yang sedari tadi dia bawa kepada Dea.

Jack membuka pintu ”Maaf ya De, agak lamaa, soalnya aku tadi Ketemu si Wayne di jalan
terus ditraktir minum di kafe,” jelas jack sambil kembali menutup pintu

Dea menjawab “Ahh nggak papa kok kak, kakak kan sudah lama tidak ketemu kak
Wayne,”

“Oh iyaa…ini obatnya,” ucap Jack sambil menyerahkan bungkusan

Dea menerima bungkusan “Terima Kasih ya kaak nanti aku minum setelah makan malam,”

Suasana kembali menjadi tenang untuk sementara, Jack dan Dea melewati malam itu
dengan tenang tanpa ada gangguan apapun. Keesokan harinya, pada pagi hari, Jack pergi untuk
melakukan rutinitasnya.

15
Jack berpamitan kepada Dea “Oke, aku pergi dulu ya De, daah”

“Iyaa, hati-hati kaak,”

Jack berjalan kaki menyusuri kota menuju tempat kerjanya. Di tengah jalan, tiba-tiba ada
suara orang yang memanggilnya dari kejauhan, suara yang seperti sudah dia kenal. Jack pun
menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara

“Baaang,” panggil orang itu sambil melambaikan tangan

Jack terdiam sesaat, dilihatnya orang yang memanggilnya itu dengan seksama “Ituu,
Andersen?”

“Abaaaang,” orang itu memanggil sambil menghampiri Jack)

“Ohh iya bener, Andersen,” gumam Jack

Lelaki yang memanggil jack itu bernama Andersen Pullman, usianya 21 tahun. Andersen
ini berperawakan sedang, badannya kurus namun kekar, rambutnya berwarna hitam dengan mata
yang juga berwarna hitam, kulitnya putih sedikit kecoklatan, wajahnya sebenarnya tampan dan
cukup manis, namun terlihat kusam dan berdebu karena dia kurang mengurus dirinya. Andersen
sudah cukup lama menjadi rekan kerja Jack, dan dia sudah menganggap Jack sebagai kakak
kandung sekaligus mentornya dalam berbagai hal.

Andersen mendatangi Jack “Weehh abang,untung abang baik-baik saja,”

“Andersen? tumben kamu lewat jalan sini? biasanya nggak,” tanya Jack sedikit heran

Andersen menjawab “Anuu, sebenarnya aku mau ke rumah abang, kan kemarin abang
nggak masuk kerja, aku kira abang sakit, ya udah mau aku jenguk hari ini…eh, tahunya malah
ketemu di jalan,”

“Ya emang bener ada yang sakit, tapi bukan aku, si Dea yang sakit,” jelas Jack

Andersen terkejut “Haah? Beneran bang?? Terus gimana Dea nya?? Biar aku tengok,”

Jack menjawab “Dia udah baikan kok, kemarin aja dia sempat pingsan, mungkin
kecapekan… sekarang udah nggak, kalo mau nengok, tengokin aja,”

“Eh? Udah baikan? Eh kalo gituu…nggak, nggak jadi deh ehee,” kilah Andersen

“Kenapa?? Kok aneh?” tanya Jack

“Ehh, nggak, nggak kok…ehemm, jadii ni abang mau ke “markas” kan? Kita bareng yuk,”
sahut Andersen mengalihkan pembicaraan

“Yaudah, jalan,”

16
Jack dan Andersen melanjutkan langkah mereka menuju tempat kerja mereka, sesampainya
di sana, mereka langsung membuka pakaian dan bertelanjang dada dikarenakan debu dan asap
hitam bisa merusak pakaian. Mengingat pekerjaan mereka yang hanya buruh pabrik bata, hal
tersebut lumrah untuk dilakukan. Jack sudah lama menggeluti pekerjaan ini, tepatnya di saat
usianya 21 tahun, sedangkan Andersen masuk dua tahun kemudian, saat usianya baru 17 tahun.
Mereka bekerja hingga lewat tengah hari, setelah selesai dari bekerja, mereka berniat untuk
pulang.

Andersen menghampiri Jack sambil memasang baju “Bang, udahan yuk yang lain udah
pada pulang tuh,”

”Ya, ini aku juga sudah mulai bersiap,” sahut Jack sambil mengemas barang dan
memasang baju

“Abang langsung pulang?” tanya Andersen

Jack menjawab “Iyya sih, habis mau kemana lagi?”

“Kalogitu aku ikut abang sampai di persimpangan deh, biarin agak jauh,” kata Andersen

“Yaudah, ayo kita pulang,”

Jack dan Andersen pulang menyusuri jalan di kota yang cukup ramai, saat itu hari sudah
menjelang sore, sambil jalan, andersen mulai bercakap-cakap dengan Jack.

“Bang, biasanya sepulang kerja…kita sering pergi ke tanah kosong yang luas, abang
biasanya ngajarin aku ilmu berkelahi dan kemiliteran, terus kita latihan sama-sama. Sekarang
udah nggak yaa.” ucap Andersen mengawali pembicaraan

Jack menjawab “Lhaa, terus gimana? orang ilmunya sudah habis…semuanya sudah
kuajarin ke kamu, mau diajarin apalagi?”

“Beneran sudah habis bang?” tanya Andersen

“iyyaa…sudah habis,”

“Jadi segitu doang?” tanya Andersen lagi

“Ya terus mau apa lagi coba?” sahut Jack

“Aaasiiikk…akhirnya aku sudah menguasai semua ilmu dari abang Jack yang hebat, suatu
hari nanti aku pasti bisa sehebat abang,” kata Andersen kegirangan

Jack hanya tersenyum, kemudian berkata “Hmmph, Kamu sangat percaya diri ya,
memangnya apa perkembanganmu selama ini?”

17
“Hohoo…abang jangan kaget yaa, sekarang aku sudah bisa melakukannya lhooo,” jawab
Andersen dengan percaya diri

“Melakukan apa?” Tanya Jack keheranan

Andersen menjawab “Yaa abang tahuu lah…Melakukan ituu, membangkitkan kekuatan itu
dalam diri kitaa,”

Jack sedikit terkejut “Apa? Yang bener? Bagaimana caranyaa?”

“Tuhh, abang pasti kaget kaan, sebenarnya aku juga tidak sengaja bang, saat aku
melakukan latihan rutin, tiba-tiba saja seberkas daya memancar dalam tubuhku, setelah
kufokuskan, ternyata bisaa…waah gilaa, rasanya menakjubkan sekali bang, aku merasa berbeda
dari sebelumnya,” jelas Andersen

“Sejak kapan kamu bisa?” Tanya Jack

“Belum lama kok bang, paling lama sih sekitar dua minggu yang lalu, aku lupa ngitung
karena terlalu senang, juga lupa bilang sama abang hehe,” jawab Andersen enteng

Tiba-tiba Jack menghentikan langkah “Apa kamu pernah bicara soal ini sebelum-
sebelumnya?” tanyanya dengan serius

“Tidak…tidak kok bang…abang orang pertama yang kuberitahu…emang kenapa bang?”


jawab Andersen dengan sedikit tegang

Jack memegang bahu Andersen “Dengar Andersen, bagaimanpun juga, kekuatan itu bukan
untuk diumbar-umbar, jika memang kau bisa melakukannya, kau simpan saja kemampuan itu
dan gunakan hanya di saat yang tepat, mengerti?” ucapnya

Andersen menjawab dengan gugup “Mmm…mengerti bang, mengerti”

Jack menambahkan “Dan satu hal lagi, jangan sekali-kali membicarakan hal ini di
sembarang tempat, perkara ini sangat sensitive, jika ketahuan oleh pihak berwajib seperti Paladin
dan kroni-kroninya kita semua bakal diburu. Kau paham kan?”

“Iiii…iyaa bang, paham…mengerti,” jawab Andersen lagi

“Bagus, aku cuma mengingatkan saja, untuk kebaikan bersama” kata Jack

Sesaat setelah jack selesai berbicara, tiba-tiba mereka melihat salah seorang penduduk
membawa kereta buruan yang kosong tanpa hasil apapun, jack yang merasa heran lalu
memanggil orang itu.

“Yoo Chuck, bagaimana hasil hari ini?” panggil Jack sambil melambaikan tangan

18
Chuck menjawab sambil menjalankan kereta ”Waaah, kosong, tidak ada buruan sama
sekali, hutan sepi,” kemudian berlalu meninggalkan Jack dan Andersen

“Hmmm…ini aneh, masa’ hutan di luar kota bisa sepi, tidak ada hewan yang lewat gitu?”
piker Jack

“Emang, abang sudah dengar kabar?” tanya Andersen

Jack menanya balik “Kabar apaan?”

“Soal hewan-hewan di hutan, aku dapat kabar ini dari para pemburu rusa, kata mereka
hewan-hewan nampak bertingkah aneh, mereka seperti mencoba melarikan diri dari hutan,” jelas
Andersen

Jack bertanya “Melarikan diri? Kenapa?”

“Kurang jelas bang, yang pasti menurut para pemburu, hewan-hewan itu nampak gelisah
dan ketakutan, seperti ada yang mengejar gitu,” jawab Andersen

“Apa?? Hmmmhh…ada apa lagi ini,” gumam Jack

Andersen lalu berkata “Oh, iyya bang, persimpangan udah dekat, hari sudah mau senja,
aku pulang lewat jalan itu, duluan ya bang…” lalu meninggalkan Jack

“Eh, i..iyaa, hati-hati,” sahut Jack

Jack terdiam sendiri “Hmmmm…nampak ketakutan….ck, ada-ada saja,” kemudian


melanjutkan langkah

Jack pulang ke rumah dengan rasa penasaran, dia terus berpikir tentang informasi yang dia
dapat tadi sore. Namun untuk membuat suasana tetap tenang, sengaja dia tidak
membicarakannya kepada Dea. Malam hari itu, jack nampak gelisah, tidurnya tidak keruan
hingga pagi harinya.

Pagi harinya, Jack kembali melakukan rutinitasnya, ditemani dengan Andersen, mereka
bekerja hingga lewat tengah hari. Sepulang dari kerja, mereka dikejutkan dengan kejadian aneh
yang mereka lihat di tepi sungai.

“Bang, lihat orang-orang pada berkerumun, ada apa yaa? “kata Andersen sambil menunjuk
kearah kerumunan

“Ayo kita lihat”

19
Jack dan Andersen pergi menuju kerumunan banyak orang di tepi sungai, nampak suatu
pemandangan yang sungguh tidak biasa, puluhan atau mungkin ratusan ikan mati mengambang
di permukaan sungai. Tidak bisa dijelaskan alasan kenapa mereka semua mati. Karena
penasaran, jack pun menanyai seseorang yang ada di sana.

Jack menanyai seorang bapak tua yang ada di sana “Permisi pak, ikan-ikan ini kenapa ya?”
“Entahlah nak, aku baru mau memancing di sini dan tahu-tahu aku melihat mereka semua
pada mati. Ini bukan ikan asli sungai ini, ikan-ikan ini berasal dari sungai di hutan, mereka
terbawa arus hingga sampai kesini,” jawab pak tua itu

Andersen menimpali “Bang, sepertinya memang ada yang aneh di hutan,”

Jack hanya terdiam

Sejak kejadian itu, Jack sering mendengar kabar tentang kejadian aneh yang ada di hutan,
seperti hewan yang lari ketakutan, pohon-pohon yang tiba-tiba mengering, hingga sosok
misterius yang tampak di sana. Semakin lama, kabar itu semakin menjadi pembicaraan hingga
membuat jack tidak tahan lagi).

“Cukup sudah dengan semua omongan itu, aku akan menyelidikinya sendiri” katanya

Beberapa hari kemudian, di pagi hari, jack berpamitan pura-pura hendak berangkat kerja.
Setelah cukup jauh dari rumah, dia pergi berbelok arah agar tidak dilihat oleh rekan-rekan
kerjanya-termasuk Andersen-jack berjalan kaki menempuh jalan yang cukup jauh hingga
akhirnya tiba di luar kota bagian selatan, tempat di mana hutan “Woodroft” berada. Setelah tiba
di luar kota, Jack harus menempuh jalan yang jauh hingga benar-benar sampai di mulut hutan.
Sebuah perjalanan yang memakan waktu dan melelahkan, terutama karena dilakukan dengan
berjalan kaki. Namun, Jack tidak peduli dengan itu, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah
melihat apa yang sebenarnya terjadi di hutan hingga membuat orang-orang resah.

Mulut hutan Woodroft terdiri dari pohon-pohon yang tinggi dan besar, jika dilihat dari luar,
bagian dalam hutan ini begitu gelap dan nyaris tidak bisa dilihat. Untuk mengetahui seperti apa
bagian hutan ini, seseorang harus masuk ke dalam dan pergi menyusuri tanah yang terkadang
basah dan berlumpur. Jack telah sampai di hutan ini, dia langkahkan kakinya dengan penuh
kewaspadaan, mata dan telinganya selalu siaga dalam setiap keadaan, terus masuk ke dalam
jantung hutan yang rimbun, sepi, dan misterius.

Lama Jack menjelajahi hutan ini, selama itu juga, dia tidak melihat satu ekor satwapun dan
tidak mendengar bebunyian melainkan hanya desir angin yang terkadang menimpa pohon-
pohon, jack terus masuk lebih jauh lagi, melebihi jejak yang pernah dijelajahi oleh pemburu
manapun. Akhirnya, dia tiba di sebuah tanah kering, di mana dia melihat sebuah pemandangan
yang menggetarkan hati, nampak banyak pohon besar telah tumbang dan sebagiannya telah
rontok mengering. Jack sangat terkejut dan berpikir dalam hati, apa atau siapakah yang telah

20
melakukan perbuatan mengherankan ini, terus saja dia berjalan lebih jauh hingga tiba di sebuah
tanah lapang dimana pohon mulai jarang tumbuh, maka terkejutlah jack atas apa yang dilihatnya.

Tampak sesosok makhluk aneh yang tidak ada padanannya di dunia manusia sedang asyik
menyantap bangkai seekor hewan besar. Makhluk ini tingginya seukuran manusia dewasa,
dengan kulit berwarna merah yang dikelilingi oleh tulang-tulang yang mencuat keluar dari
dagingnya seperti duri, di bagian wajahnya juga terdapat tulang-tulang yang sama, terus tumbuh
hingga bagian atas kepalanya, matanya berwarna merah menyala dengan mulut yang bertaring
berlumuran darah, darah dari bangkai yang dimakannya. Makhluk ini berpenampilan sangat
mengerikan, membuat gentar siapapun yang berhadapan dengannya, tak terkecuali Jack, dia
hanya bisa melongo atas apa yang terpampang dihadapannya, baru sekarang dia melihat ada
makhluk seperti itu di bumi ini.

Jack terkejut keheranan “Demi Tuhan, makhluk apa ini?”

Makhluk itu berhenti makan, melihat kearah Jack “Grrrrhh…graaaahh,” geramnya

Makhluk aneh itu merasakan kehadiran Jack yang berdiri tidak jauh darinya.entah merasa
terusik atau mungkin melihat mangsa yang lebih “lezat”, makhluk itu mulai mengalihkan
perhatiannya ke arah jack dan maju menerkam lelaki muda itu. Jack yang sudah bisa menguasai
rasa terkejutnya dengan sigap menghindari terkaman makhluk itu dengan melempar tubuhnya ke
tanah. Merasa serangannya luput, makhluk itu menjadi garang, dia serang jack dengan membabi-
buta dan dengan menggunakan kedua tangannya yang juga sebagai kaki ketika berjalan.
Memang, makhluk ini memiliki kedua belah tangan yang besar dan bercakar tajam sehingga bisa
digunakan sebagai senjata mematikan.

Jack yang sejak tadi berusaha untuk mengenali pola serangan si makhluk dengan lincahnya
menghindari sabetan-sabetan cakar yang dilancarkan. Suatu ketika, sang makhluk bermaksud
menusukkan cakarnya ke arah lambung Jack, Jack yang gesit dan lincah dengan mudahnya
menghindari tusukkan maut si makhluk. Saat itu, terbuka celah untuk menyerangnya dan Jack
langsung meninju badan makhluk itu dengan sekuat tenaganya. Ternyata Jack ini kuat, tinjunya
itu membuat si monster ganas terpental cukup jauh dan jatuh ke tanah.

Namun, bukannya berhenti menyerang, monster itu justru semakin ganas dengan mencoba
untuk menerkam Jack lagi. Kali ini, dengan sigapnya, Jack menunggu saat yang tepat hingga
monster itu berjarak cukup dekat dengannya. Kemudian, dia rebahkan badannya ke tanah, dan di
saat yang tepat ketika bagian dada sang monster dengan jelas terlihat, jack menggunakan kedua
kakinya untuk menendang monster itu kuat-kuat. Kembali, monster itu dibuat terpental oleh
kekuatan tendangan Jack, bahkan, kali ini sang monster terpental lebih tinggi dan jatuh lebih
keras dari serangan pertama. Terlihat, dalam pertarungan ini, jack mampu menguasai keadaan.

21
Namun ternyata, monster ini mulai mempersiapkan serangan lain, dia kembangkan kedua
telapak tangannya dan nampak tepat di telapak tangannya terdapat semacam bulatan yang cukup
besar berwarna hitam pekat. Kemudian, bulatan itu memancarkan cahaya berwarna merah
kehitaman yang semakin lama semakin jelas, Jack yang sedari tadi mengamati tindakan sang
monster berusaha memprediksi apa yang akan dilakukan olehnya. Dan benar dugaan Jack, sang
monster memuntahkan seberkas sinar seperti lava berwarna merah darah bercampur hitam yang
langsung menuju ke arah jack. Sebenarnya Jack sudah bisa menduga hal itu, namun terjangan
sinar lava itu begitu cepat sehingga akhirnya Jack pun terkena ledakan yang diakibatkannya.

Sinar itu ternyata sangat kuat, apapun yang ditabraknya akan membuat ledakan yang
sangat besar sehingga membuat area di sekitarnya terbakar, beruntung bagi jack karena
tembakan sinar itu tidak sampai ke tubuhnya namun itu pun membuat dia terpental dan terlihat
terluka di beberapa bagian tubuhnya. Jack yang roboh di tanah itu pun berusaha untuk bangun).

Kini setelah merasa mampu mengalahkan lawannya, monster itu kian menjadi-jadi, kedua
belah telapak tangannya melancarkan serangan sinar lava yang bertubi-tubi kearah Jack. Jack
yang sudah bangkit berdiri dengan susah payah menghindari terjangan sinar-sinar maut itu.
Namun tetap saja, kali ini dia kembali terkena ledakan sinar itu untuk yang kedua kalinya
sehingga kembali dia terpental seraya menjerit kesakitan dan roboh ke tanah. Saat itu, dilihatnya
sang monster berjalan makin mendekat ke arahnya, melihat keadaan yang makin gawat, Jack
yang sudah terlihat kepayahan dan kesakitan itu pun segera melakukan inisiatif.

“uuugggghh… makhluk ini tidak bisa dilawan dengan cara biasa, aku harus melakukan
sesuatu,” kata Jack sambil bangkit berdiri menahan sakit

Sang monster berjalan semakin dekat kearahnya

Jack berkata “Sepertinya, tak ada jalan lain, aku harus melakukannya, ya, apa boleh buat,”

“Tidak kusangka, setelah delapan tahun tidak pernah kupakai, aku harus menggunakannya
di saat seperti ini, huh,” lanjutnya

“ Ya sudah, inilah saatnya, akan kuperlihatkan pada monster itu,”

Jack Mengokohkan badan, menguatkan posisi “BAIKLAH MONSTER, JIKA KAU


MENGINGINKAN PERANG DENGAN KU, MAKA ITULAH YANG KAU DAPATKAN!
AWAKE!”

Setelah mengucapkan kata itu, Jack mengonsentrasikan pikiran dan memfokuskan seluruh
dayanya, sesaat kemudian, nampak tubuh Jack dikelilingi oleh kumpulan sinar berwarna
kehijauan, semakin lama, sinar itu membentuk semacam lapisan yang melindungi tubuh Jack.
Sinar itu lalu berubah menjadi dua lapis sinar yang saling terhubung, lapis pertama menerangi
area di sekitar Jack, sedangkan lapisan kedua menutupi bagian-bagian tubuh Jack. Semakin
lama, seluruh tubuhnya semakin tertutup oleh sinar hijau itu hingga terlihat bentuk badannya saja

22
yang tampak terangkat ke atas. Sinar ini sangat menyilaukan mata sehingga si makhluk yang
sudah berjarak cukup dekat dengan jack harus melindungi penglihatannya dengan tangan.
Akhirnya, setelah kumpulan sinar itu lenyap, tampak Jack berubah menjadi sosok yang sama
sekali berbeda.

Sosok perubahan wujud jack terlihat tidak biasa, wujudnya menyerupai seekor capung
dengan mata merah besar, dua buah antena yang cukup panjang berwarna kuning, serta kepala
yang berwarna hijau tua. Di bagian tengah wajahnya, terdapat hiasan berbentuk capung berwarna
coklat.

Sosok ini nampak terbang diatas langit dengan ditopang oleh empat sayap yang berbentuk
seperti sayap capung. Tubuhnya terlihat gagah dan nampak memiliki semacam zirah pelindung
di badannya, sosok ini memiliki warna yang dominan hijau dengan sedikit warna hitam di
beberapa bagian tubuhnya seperti bagian rusuk, lengan dan dan bawah lututnya, serta sedikit
warna kuning di bagian tengah tubuhnya. Yang lebih unik lagi, sosok ini memliki empat buah
tangan, masing-masing tangan terdiri dari lima jari, hanya saja bentuk di sepasang tangan agak
berbeda dari sepasang tangan lainnya. Sepasang tangan pertama memiliki jari yang berbentuk
biasa dengan kuku yang sedikit tajam dan lengan yang memiliki duri-duri kecil, sedangkan
sepasang tangan yang lain lebih berbentuk seperti cakar yang kelihatannya sangat kokoh dan
tajam. Inilah perubahan wujud jack yang selama ini dia sembunyikan kepada orang banyak.
Sosok yang dia sebut dengan Skyperion.

Nampak sang monster menjadi keheranan dengankejadian itu, dia hanya bisa melihat sosok
jack yang telah berubah wujud menjadi Skyperion itu melayang di atas langit. Setelah beberapa
saat, nampak sang monster melanjutkan aksinya, kembali dia menembakkan sinarnya ke arah
skyperion. Tentu saja, jack dalam wujud Skyperion menjadi jauh lebih gesit ketimbang dalam
wujudnya yang biasa, selain karena kekuatan dan kegesitannya meningkat, kali ini dia bisa
terbang dengan bebas di angkasa. Skyperion pun dengan lincahnya terbang kesana-kemari
menghindari tembakan-tembakan sinar itu, kali ini tampak sang monster menjadi semakin berang
mencecari skyperion dengan tembakan sinarnya yang membabi buta, mengakibatkan area di
sekitar pertarungan keduanya menjadi terbakar api.

Sang monster mengikuti kemana skyperion terbang sambil menembakkan sinarnya, kini
Skyperion terlihat menguasai keadaan, nampak dia dengan mudah menghindari serangan-
serangan monster yang sepertinya tidak mempunyai taktik bertarung ini. Setelah puas
“mempermainkan musuhnya”, Skyperion berancang-ancang mengambil posisi menyerang, dia
arahkan dirinya agar berhadapan dengan sang monster. Setelah itu, dia menukik ke bawah dan
maju menyerang sang monster yang masih berjarak cukup jauh darinya.

Melihat posisinya tengah diserang, sang monster hanya bisa menembakkan sinar dengan
harapan agar Skyperion tumbang karenanya. Namun Skyperion kembali dengan mudah
menghindar dengan manuver udaranya yang terlihat menakjubkan, bahkan, terlihat Skyperion

23
sengaja menepis tembakan sinar itu dengan tangannya. Menandakan kalau sebenarnya sinar itu
tidak cukup kuat untuk membuatnya terluka, setelah posisinya cukup dekat dengan sang monster,
Skyperion melancarkan serangannya. Terlihat kedua pasang tangannya tampak bernyala
kehijauan lalu dimajukan kedepan dengan maksud untuk memukul sang monster. Pukulan maut
skyperion ditambah dengan daya dorongnya membuat sang monster mendapat pukulan telak di
bagian depan tubuhnya, sang monster terpental jauh dan terlihat bekas pukulan Skyperion
menimbulkan tanda seperti bekas terbakar. Namun ternyata sang monster belum mati, serangan
itu belum cukup untuk membunuhnya.

Merasa serangannya kurang ampuh, Skyperion berniat melancarkan serangan kedua. Kali
ini, sepasang tangannya yang seperti cakar nampak mengembang dan memancarkan sinar
berwarna hijau. Sang monster yang meskipun terluka namun masih mampu memberikan
perlawanan dengan serangan-serangan yang sudah bisa ditebak, skyperion yang dengan gesit
menghindari setiap serangan dari monster akhirnya melakukan serangan mautnya. Sepasang
tangan cakarnya lalu menembakkan dua buah sinar yang berukuran lebih besar dari sinar sang
monster dan dengan telak menghantam tubuhnya, monster itu pun langsung tewas terkena
serangan sinar itu diiring raungannya yang ganas.

Setelah itu, tampak skyperion turun dari terbangnya mendarat dihadapan tubuh si monster
yang sudah tak bernyawa, kembali ke wujud Jack, dia merasa lelah karena sudah lama dia tidak
bertarung mempertaruhkan nyawa seperti ini. Terlihat nafasnya tersengal-sengal setelah
bertarung mati-matian. Dalam kelelahannya, Jack hanya bisa terdiam sambil berpikir makhluk
apa yang dihadapinya ini dan dari manakah datangnya?? Bersamaan dengan itu, hujan pun turun
dengan lebatnya membasahi bumi.

(Bersambung)

24