You are on page 1of 14

Apa itu GPS, serta untuk apa GPS digunakan dalam GIS?

Jawaban

GPS adalah sistem navigasi yang menggunakan satelit yang didesain agar dapat menyediakan posisi
secara instan, kecepatan dan informasi waktu di hampir semua tempat di muka bumi, setiap saat dan
dalam kondisi cuaca apapun. Sedangkan alat untuk menerima sinyal satelit yang dapat digunakan oleh
pengguna secara umum dinamakan GPS Tracker atau GPS Tracking, dengan menggunakan alat ini
maka dimungkinkan user dapat melacak posisi kendaraan, armada ataupun mobil dalam keadaan
Real-Time.

Cara Kerja GPS


Bagian yang paling penting dalam sistem navigasi GPS adalah beberapa satelit yang berada di orbit
bumi atau yang sering kita sebut di ruang angkasa. Satelit GPS saat ini berjumlah 24 unit yang
semuanya dapat memancarkan sinyal ke bumi yang lalu dapat ditangkap oleh alat penerima sinyal
tersebut atau GPS Tracker. Selain satelit terdapat 2 sistem lain yang saling berhubungan, sehingga
jadilah 3 bagian penting dalam sistem GPS. Ketiga bagian tersebut terdiri dari: GPS Control Segment
(Bagian Kontrol), GPS Space Segment (bagian angkasa), dan GPS User Segment (bagian pengguna).

GPS Control Segment


Control segment GPS terdiri dari lima stasiun yang berada di pangkalan Falcon Air Force, Colorado
Springs, Ascension Island, Hawaii, Diego Garcia dan Kwajalein. Kelima stasiun ini adalah mata dan
telinga bagi GPS. Sinyal-sinyal dari satelit diterima oleh bagian kontrol, kemudian dikoreksi, dan
dikirimkan kembali ke satelit. Data koreksi lokasi yang tepat dari satelit ini disebut data ephemeris, yang
kemudian nantinya dikirimkan ke alat navigasi yang kita miliki.
GPS Space Segment
Space Segment adalah terdiri dari sebuah jaringan satelit yang tediri dari beberapa satelit yang berada
pada orbit lingkaran yang terdekat dengan tinggi nominal sekitar 20.183 km di atas permukaan bumi.
Sinyal yang dipancarkan oleh seluruh satelit tersebut dapat menembus awan, plastik dan kaca, namun
tidak bisa menembus benda padat seperti tembok dan rapatnya pepohonan. Terdapat 2 jenis
gelombang yang hingga saat ini digunakan sebagai alat navigasi berbasis satelit. Masing-masingnya
adalah gelombang L1 dan L2, dimana L1 berjalan pada frequensi 1575.42 MHz yang bisa digunakan
oleh masyarakat umum, dan L2 berjalan pada frequensi 1227.6 Mhz dimana jenis ini hanya untuk
kebutuhan militer saja.

GPS User Segment


User segment terdiri dari antenna dan prosesor receiver yang menyediakan positioning, kecepatan dan
ketepatan waktu ke pengguna. Bagian ini menerima data dari satelit-satelit melalui sinyal radio yang
dikirimkan setelah mengalami koreksi oleh stasiun pengendali (GPS Control Segment).

Fungsi dan Kegunaan GPS


Untuk apa tujuan Amerika Serikat membuat sistem GPS yang notabene telah memakan biaya sangat
besar untuk biasa pembuatan, pengoperasian dan perawatan. Tentunya bukan tanpa manfaat, ada
banyak manfaat yang bisa didapatkan dari sistem navigasi GPS bagi masyarakat seluruh dunia dan
khususnya bagi pemerint Amerika Serikat itu sendiri. Beberapa fungsi dan kegunaan GPS tersebut bisa
dibagi kepada 5 poin, yaitu:

GPS untuk Militer


GPS dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertahanan militer. Lebih jauh dari itu bisa
memantau pergerakan musuh saat terjadi peperangan, juga bisa menjadi penuntun arah jatuhnya bom
sehingga bisa lebih tertarget.

GPS untuk Navigasi


Dalam kebutuhan berkendara sistem GPS pun sangat membantu, dengan adanya GPS Tracker
terpasang pada kendaraan maka akan membuat perjalanan semakin nyaman karena arah dan tujuan
jalan bisa diketahui setelah GPS mengirim posisi kendaraan kita yang diterjemahkan ke dalam
bentuk peta digital.
GPS untuk Sistem Informasi Geografis
GPS sering juga digunakan untuk keperluan sistem informasi geografis, seperti untuk pembuatan peta,
mengukur jarak perbatasan, atau bisa dijadikan sebagai referensi pengukuran suatu wilayah.

GPS untuk Sistem Pelacakan Kendaraan


Fungsi ini hampir sama dengan navigasi, jika dalam navigasi menggunakan perangkat penerima sinyal
GPS berikut penampil titik koordinatnya dalam satu perangkat, sedangkan untuk kebutuhan sistem
pelacakan adalah alat penampil dan penerima sinyal berbeda lokasi. Contohnya kita bisa mengetahui
lokasi kendaraan yang hilang dengan melihat titik kordinat yang dihasilkan dari alat yang terpasang
dalam kendaraan tersebut, untuk melihatnya bisa melalui media smartphone atau alat khusus lainnya.

GPS untuk Pemantau Gempa


Saat ini teknologi GPS yang terus ditingkatkan menghasilkan tingkat ketelitian dan keakuratan yang
sangat tinggi sehingga GPS dapat dimanfaatkan untuk memantau pergerakan tanah di bumi. Dengan
hal itu maka para pakar Geologi dapat memperkirakan kemungkinan terjadinya gempa di suatu wilayah.

Untuk apa webgis?

Jawaban

Menurut Prahasta (2007), WebGIS adalah aplikasi GIS atau pemetaan


digital yang memanfaatkan jaringan internet sebagai media komunikasi yang
berfungsi, mempublikasikan, mengintegrasikan, mengkomunikasikan dan
menyediakan informasi dalam bentuk teks, peta dijital dan menjalankan
fungsi-fungsi analisis dan query yang terkait dengan GIS melalui jaringan
internet. Sedangkan menurut Setiawan dan Rabbasa, penggunaan data
spasial semakin dibutuhkan untuk berbagai keperluan seperti penelitian,
pengembangan dan perencanaan wilayah, serta manajemen sumber daya
alam. Data spasial informasi minimnya informasi mengenai bangun dan data
spasial yang dibutuhkan Penyebaran (diseminasi) data spasial yang selama
ini dilakukan dengan menggunakan media yang telah ada media yang
tercetak, cd-rom, dan media penyimpanan lainnya kurang mencukupi
kebutuhan pengguna. Pengguna diharuskan datang dan melihat langsung
data tersebut pada tempatnya (data provider). Hal ini mengurangi mobilitas
dan kecepatan dalam memperoleh informasi mengenai data
tersebut. Karena itu dirasakan perlu adanya WebGIS.

Sofware-sofware webgis?
Jawaban
MapInfo

MapInfo Professional adalah Sistem Informasi Geografis terkemuka (GIS) software di dunia yang
digunakan untuk analisis georeferensi untuk menghasilkan sebuah peta atau jenis lain bentuk data spasial.
MapInfo Professional tutorial terdiri dari pengenalan GIS dan MapInfo Professional, Display Geographic
Data, Pemetaan dengan Layer, Memilih Data, Map Labeling, Table atau Atribut / Tabular Data, Input
Graphic atau Data Spasial, Geocoding, Spatial Analysis, Thematic Mapping, Design Layout, dan Aplikasi
Contoh.
Baru-baru ini, GIS pada umumnya dan khususnya MapInfo Profesional tidak hanya digunakan sebagai alat
untuk menganalisis data spasial sumber daya alam, tetapi juga diterapkan di hampir semua bidang seperti
ekonomi dan perdagangan, sosial dan budaya, pariwisata, polisi, selular, layanan, dan lainnya. Lebih dari
80% data yang digunakan dalam perusahaan pemerintah dan swasta sebenarnya adalah data spasial
yang merujuk pada posisi geografis di permukaan bumi.

ArcGIS

Orang-orang menggunakan ArcGIS di semua jenis organisasi untuk meningkatkan alur kerja mereka dan
memecahkan masalah-masalah mereka yang paling menantang.

ArcGIS membantu Anda dengan


 Asset/data management termasuk integrasi sistem, klaim / manajemen kasus, jasa / manajemen
wilayah daerah, dan konstituen / manajemen pelanggan
 Planning and analysis seperti analisis peramalan dan risiko
 Business operations seperti call center / pengirim; pemantauan dan pelacakan lapangan pengumpulan
data, inspeksi, pemeliharaan dan operasional, dan routing
 Situational awareness termasuk dukungan keputusan dan pelanggan / akses publik
ArcGIS Works Across the Enterprise
ArcGIS adalah sistem bagi orang yang mengandalkan informasi geografis yang akurat untuk membuat
keputusan. Ini memfasilitasi kolaborasi dan memungkinkan Anda dengan mudah penulis data, peta, bola
dunia, dan model pada desktop dan melayani mereka untuk digunakan pada desktop, di browser, atau di
lapangan, tergantung pada kebutuhan organisasi Anda. (sumber: http://www.esri.com)

ArcView

ArcView adalah sistem informasi geografis (SIG), software ini untuk


visualisasi, mengelola, menciptakan, dan menganalisa data geografis. Menggunakan ArcView, Anda dapat
memahami konteks geografis data Anda, memungkinkan Anda untuk melihat hubungan dan
mengidentifikasi pola-pola dalam cara-cara baru.
Dengan ArcView, Anda dapat

 Author maps dan berinteraksi dengan data Anda dengan menghasilkan laporan dan grafik dan
percetakan dan mencocokan peta Anda dalam dokumen-dokumen lainnya dan aplikasi.
 Save time menggunakan template peta untuk membuat gaya yang konsisten dalam peta Anda.
 Build process models, script, dan workflow untuk memvisualisasikan dan menganalisa data Anda.
 Read, impor, dan mengelola lebih dari 70 jenis data dan format termasuk demografi, fasilitas, gambar
CAD, citra, layanan Web, multimedia, dan metadata.
 Berkomunikasi secara lebih efisien dengan mencetak, menerbitan, dan berbagi data GIS dan konten
dinamis dengan orang lain.
 Menggunakan alat seperti Cari, Mengidentifikasi, Ukur, dan Hyperlink untuk menemukan informasi yang
tidak tersedia ketika bekerja dengan peta kertas statis.
 Membuat keputusan yang lebih baik dan memecahkan masalah lebih cepat.

Berikut ini adalah beberapa software yang dibutuhkan dan harus dipersiapkan untuk
pembuatan WebGIS:

Google Earth

Google Earth digunakan untuk mengcapture peta yang kemudian akan di digitizing dengan
menggunakan Quantum GIS.

Quantum GIS

Quantum GIS digunakan untuk membuat peta sesuai dengan keinginan dan yang dibutuhkan.

DBMS
Pengolah database untuk menyimpan informasi terkait dengan informasi peta atau yang lainnya.
Misal,PostgreSQL.

Web Editor

Web Editor digunakan untuk merancang atau scripting HTML Web, mapserver, dan lain-lain. Bisa
menggunakan Notepad++, Adobe Dreamweaver, dan lain-lain.

Browser

digunakan untuk menjelajahi atau melihat output web GIS yang telah dibuat. Misalnya seperti
Firefox, Chrome, Safari, Opera dan yang lainnya.

MapServer

Mapserver ini digunakan untuk mengatur, memanage peta yang di buat dengan menggunakan
Quantum GIS. Ada banyak jenis-jenis MapServer, seperti MS4W, OSGEO4W.

Apa yang dimaksud dengan data spasial?

Jawaban

Pengertian Data spasial adalahsebuah data yang berorientasi geografis dan memiliki sistem
koordinat tertentu sebagai dasar referensinya (Nuarsa IW. 2005.). Sebagian besar data yang akan
ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis,
memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting
yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif
(atribut) yang dijelaskan berikut ini(Yousman. 2004):

1. Informasi lokasi (spasial) merupakan informasi yang berkaitan dengan


suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) maupun koordinat
Cartesian XYZ (absis, ordinat dan ketinggian), termasuk diantaranya sistem proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non-spasial merupakan informasi suatu lokasi
yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengan lokasi tersebut, contohnya
jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya. Informasi atribut seringkali
digunakan pula untuk menyatakan kualitas dari lokasi.

Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode penyimpanan data
yang berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan
dalam dua format yaitu (Prahasta. 2005):

1) Model Data Raster


Data raster atau disebut juga dengan sel grid adalah data yang dihasilkan dari sistem
penginderaan jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid
yang disebut dengan piksel (picture element). Pada data raster, resolusi tergantung pada ukuran
piksel- nya. Dengan kata lain, resolusi piksel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan
bumi yang diwakili oleh setiap piksel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang
direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk
merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban
tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster adalah
besarnya ukuran file, semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya dan
sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia. Masing-masing format data
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung
pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang
diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Contoh gambar format data raster dapat dilihat pada
gambar 2.2.

Gambar 2.2 Format Data Raster

2) Model Data Vektor


Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area
(daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes
(merupakan titik perpotongan antara dua buah garis). Keuntungan utama dari format data vektor
adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat
berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basis data batas-
batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari
beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidak mampuannya dalam
mengakomodasi perubahan gradual. Contoh gambar format data vektor dapat dilihat pada gambar
2.3.

Gambar 2.3 Format Data Vektor


Sebutkan dan Jelaskan Sumber data Spasial?
Jawab

Sumber Data Spasial


Data spasial yang digunakan dalam proyek SIG dapat berasal dari berbagai sumber. Beberapa
sumber yang umumnya digunakan dalam pembangunan basis data spasial adalah sebagai
berikut (Nuarsa IW. 2005):

a) Peta Analog
Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah, peta kawasan hutan dan perairan, dan
sebagainya) yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik
kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin
dan sebagainya. Peta analog yang meliputi wilayah yang luas, seperti peta topografi, peta
penggunaan lahan dan peta lereng, umumnya bersumber pada citra satelit atau foto udara. Dalam
tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan
cara format raster diubah menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat
menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi. Proses digitasi dapat pula dilakukan
langsung bila tersedia meja digitasi. Namun dewasa ini sebagian besar digitasi peta analog
dilakukan on-screen atau langsung di monitor setelah peta dikonversi menjadi peta raster melalui
pemindai (scanner).

b) Citra Penginderaan Jauh


Data Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit dan foto-udara), merupakan sumber data yang
terpenting bagi SIG, utamanya untuk memantau kondisi lahan, karena ketersediaanya secara
berkala dan mencakup area tertentu yang cukup luas). Dengan adanya bermacam- macam satelit
di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing kita bisa memperoleh berbagai jenis citra
satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data citra satelit sebagian besar disediakan dalam format
raster.

c) Data Hasil Pengukuran


Data pengukuran lapangan yang dihasilkan berdasarkan teknik pemetaan
tersendiri, pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya batas
administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, trase (alur)
jalan hutan dan lain lain.

d) Data Global Positioning System


Teknologi Global Positioning System (GPS) memberikan terobosan penting dalam menyediakan
data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi.
Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.

Data Atribut
Data atribut memberikan gambaran atau menjelaskan informasi berkaitan dengan fitur peta atau
cara kerja SIG. Data atribut dapat disimpan dalam format angka maupun karakter. Pada Sistem
Informasi Geografis, utamanya di ArcView dan ARC/INFO data atribut dihubungkan dengan data
spasial melalui identifier (ID) yang terkait di fitur. Pada ArcView file dikenal dengan nama shapefile
(*.SHP) yang terdiri dari serangkaian file, atribut yang disimpan pada file berekstensi *.dbf (Nuarsa
IW. 2005).
Penentuan Atribut
Analisis kebutuhan atribut berganda sangat bergantung pada proses penentuan atribut oleh
pembuat keputusan karena dengan atribut tersebut pembuat keputusan akan mengevaluasi
pencapaian tujuan keputusan. Dalam melakukan pengambilan ide atribut ada dua cara yang dapat
ditempuh pembuat keputusan yaitu menggunakan panel ahli dan melakukan survey literatur.
Atribut yang digunakan harus mewakili tujuan yang ingin dicapai. Proses pencarian hingga sub-
sub atribut yang lebih kecil terus dilakukan hingga diperoleh atribut yang nyata. Hal-hal yang harus
dimilik oleh atribut sebagai berikut (Nuarsa IW. 2005):

1. Atribut harus lengkap, atribut telah mewakili semua hal yang relevan terhadap keputusan
akhir.
2. Atribut saling terpisah satu dengan yang lain, atribut tidak harus tergantung pada atribut
lain sehingga dapat dilakukan proses trade off pada langkah selanjutnya dan menghindari
double-counting.
3. Atribut dibatasi pada hal penting (signifikan) bagi kinerja, atribut diawali oleh tujuan utama
yang abstrak dan ditingkat paling bawah.

Pembobotan Atribut
Atribut tidak selalu memilliki tingkat kepentingan yang sama. Dengan pemberian pembobotan
yang berbeda, pembuat keputusan dapat menuangkan pertimbangan nilai kepentingan yang
berbeda diantara atribut keputusan. Bobot juga akan membimbing seorang manajer proyek atau
program untuk mengupayakan hal terbaik dalam pencapaian target yang memilliki bobot terbesar
karena besarnya bobot juga menggambarkan tingkat tanggung jawab yang lebih besar terhadap
atribut tersebut.

Pada dasarnya, ada 3 pendekatan untuk mencari nilai bobot atribut, yaitu pendekatan subyektif,
pendekatan obyektif dan pendekatan integrasi antara subyektif & obyektif. Masing-masing
pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan. Pada pendekatan subyektif, nilai bobot ditentukan
berdasarkan subyektifitas dari para pengambil keputusan, sehingga beberapa faktor dalam proses
perankingan alternatif bisa ditentukan secara bebas. Sedangkan pada pendekatan obyektif, nilai
bobot dihitung secara matematis sehingga mengabaikan subyektifitas dari pengambil keputusan.

Konsep Sistem Informasi Geografis (SIG)


Posted in by Abdul Muin |
1.1. Pengertian Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG
merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data
atau informasi geografis (Aronoff, 1989).

Secara umum pengertian SIG sebagai berikut:

“Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan
sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan,
memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa
dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.”

Pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual. Namun dalam pembahasan selanjutnya SIG akan
selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer. SIG yang berbasis komputer akan sangat
membantu ketika data geografis yang tersedia merupakan data dalam jumlah dan ukuran besar, dan
terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi,
menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG
merupakan data spasial. Ini adalah sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang
memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab
beberapa pertanyaan, seperti lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang
membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.
Telah dijelaskan di awal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen.
Tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya, tapi harus tersedia data
geografis yang akurat dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan
dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG.

1.2. Data Spasial


Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial, data yang berorientasi
geografis. Data ini memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua
bagian penting yang berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif
(atribut) yang dijelaskan berikut ini :

1. lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan
koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. deskriptif (atribut) atau informasi nonspasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan
yang berkaitan dengannya. Contoh jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.

1.2.1. Format Data Spasial


Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode penyimpanan data yang
berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua
format, yaitu:

1.2.1.1. Data Vektor


Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang
dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (titik perpotongan
antara dua buah garis).

Gambar 1 Data Vektor

Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan
dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada
basis data batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan
spasial dari beberapa feature. Namun kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya
dalam mengakomodasi perubahan gradual.

1.2.1.2. Data Raster


Data raster (disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem penginderaan jauh.
Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel
(picture element).

Gambar 2 Data Raster

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi
pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra.
Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya.
Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis
tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster
adalah besarnya ukuran file. Semakin tinggi resolusi grid-nya, semakin besar ukuran filenya, dan ini
sangat bergantung pada kapasitas perangkat keras yang tersedia.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan
sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian
yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file
dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan dalam komputasi matematis. Sedangkan
data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih
rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara matematis.

1.2.2. Sumber Data Spasial


Salah satu syarat SIG adalah data spasial. Ini dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain:

1.2.2.1. Peta Analog


Peta analog yaitu peta dalam bentuk cetak. Seperti peta topografi, peta tanah dan sebagainya. Umumnya
peta analog dibuat dengan teknik kartografi, dan kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti
koordinat, skala, arah mata angin, dan sebagainya.
Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital. Caranya
dengan mengubah format raster menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat
menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.

1.2.2.2. Data Sistem Penginderaan Jauh


Data penginderaan jauh, seperti hasil citra satelit, foto-udara dan sebagainya, merupakan sumber data
yang terpenting bagi SIG. Karena ketersediaan data secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan
adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasi masing-masing, kita bisa
memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya
direpresentasikan dalam format raster.

1.2.2.3. Data Hasil Pengukuran Lapangan


Data pengukuran lapangan merupakan data yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri.
Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya batas administrasi, batas kepemilikan
lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dan lain-lain.

1.2.2.4. Data GPS (Global Positioning System)


Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran
GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format
vektor. Pembahasan mengenai GPS diterangkan dalam subbab terpisah.

1.3. Peta, Proyeksi Peta, Sistem Koordinat, Survei dan GPS


Data spasial yang dibutuhkan pada SIG dapat diperoleh dengan berbagai cara. Salah satunya melalui
survei dan pemetaan, yaitu penentuan posisi/koordinat di lapangan. Berikut ini akan dijelaskan secara
ringkas beberapa hal yang berkaitan dengan posisi/koordinat serta metode-metode untuk mendapatkan
informasi posisi tersebut di lapangan.

1.3.1. Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah
permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena
dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi).
Untuk itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.

1.3.2. Proyeksi Peta


Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar, tapi mendekati bulat. Maka untuk menggambarkan sebagian
muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang
mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol. Caranya dengan melakukan
proyeksi ke bidang datar.

1.3.2.1. Pengelompokan Proyeksi Peta

1.3.2.1.1. Yang Mempertahankan Sifat Asli

1. Luas permukaan yang tetap (ekuivalen)


2. Bentuk yang tetap (konform)
3. Jarak yang tetap (ekuidistan) Perbandingan dari daerah yang sama untuk proyeksi yang berbeda
:

Gambar

1.3.2.1.2. Yang Menggunakan Bidang Proyeksi


 Bidang datar
 Bidang kerucut
 Bidang silinder
Gambar

1.3.2.2. Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)


Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu proyeksi ini menjadi standar
untuk pemetaan topografi

1.3.2.2.1. Sifat-sifat Proyeksi UTM

1. Proyeksi ini adalah proyeksi Transverse Mercator yang memotong bola bumi pada dua buah
meridian, yang disebut dengan meridian standar. Meridian pada pusat zone disebut sebagai
meridian tengah.
2. Daerah di antara dua meridian ini disebut zone. Lebar zone adalah 6 sehingga bola bumi dibagi
menjadi 60 zone.
3. Perbesaran pada meridian tengah adalah 0,9996.
4. Perbesaran pada meridian standar adalah 1.
5. Perbesaran pada meridian tepi adalah 1,001.
6. Satuan ukuran yang digunakan adalah meter.

1.3.2.2.2. Sistem Koordinat UTM

Gambar

Untuk menghindari koordinat negatif, dalam proyeksi UTM setiap meridian tengah dalam tiap zone diberi
harga 500.000 mT (meter timur). Untuk harga-harga ke arah utara, ekuator dipakai sebagai garis datum
dan diberi harga 0 mU (meter utara). Untuk perhitungan ke arah selatan ekuator diberi harga 10.000.000
mU.

Gambar

Wilayah Indonesia (90° – 144° BT dan 11° LS – 6° LU) terbagi dalam 9 zone UTM. Artinya, wilayah
Indonesia dimulai dari zone 46 sampai zone 54 (meridian sentral 93° – 141° BT).

1.3.2.3. Metode Penentuan Posisi


Metode penentuan posisi adalah cara untuk mendapatkan informasi koordinat suatu objek di lapangan,
contohnya koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain. Metode penentuan posisi dapat
dibedakan dalam dua bagian, yaitu metode penentuan posisi terestris dan metode penentuan posisi extra-
terestris (satelit).
Pada metode terestris, penentuan posisi titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap target
atau objek yang terletak di permukaan bumi. Beberapa contoh metode yang umum digunakan adalah:

1. Metode poligon.
2. Metode pengikatan ke muka.
3. Metode pengikatan ke belakang.
4. Dan lain-lain.

Pada metode ekstra terestris, penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap benda atau
objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan manusia. Beberapa contoh penentuan
posisi extra terestris adalah sebagai berikut:

1. Astronomi geodesi.
2. Transit Dopler.
3. Global Positioning System (GPS).
4. Dan lain-lain.

1.3.3. Sistem Koordinat


Posisi suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi atau tiga-dimensi) yang mengacu
pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat itu sendiri dapat didefinisikan melalui spesfikasi
tiga parameter berikut:

1.3.3.1. Lokasi Titik Nol dari Sistem Koordinat


Posisi suatu titik di permukaan bumi umumnya ditetapkan dalam/terhadap suatu sistem koordinat
terestris. Titik nol dari sistem koordinat terestris ini dapat berlokasi di titik pusat massa bumi (sistem
koordinat geosentrik), maupun di salah satu titik di permukaan bumi (sistem koordinat toposentrik).

1.3.3.2. Orientasi dari Sumbu-sumbu Koordinat


Posisi tiga-dimensi (3D) suatu titik di permukaan bumi umumnya dinyatakan dalam suatu sistem koordinat
geosentrik. Tergantung dari parameter-parameter pendefinisi koordinat yang digunakan. Ada dua sistem
koordinat yang umum digunakan, yaitu sistem koordinat Kartesian (X,Y,Z) dan sistem koordinat Geodetik
(L,B,h), yang keduanya diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar

Koordinat 3D suatu titik juga bisa dinyatakan dalam suatu sistem koordinat toposentrik. Umumnya dalam
bentuk sistem koordinat Kartesian (N,E,U) yang diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar

Parameter-parameter (kartesian, curvilinear) itu digunakan untuk mendefinisikan posisi suatu titik dalam
sistem koordinat tersebut. Posisi titik juga dapat dinyatakan dalam 2D, baik dalam (L,B), ataupun dalam
suatu sistem proyeksi tertentu (x,y) seperti Polyeder, Transverse Mercator (TM) dan Universal Transverse
Mercator (UTM).

1.3.4. Metode Penentuan Posisi Global (GPS)


GPS adalah sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang dikembangkan dan dikelola
oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan
dan waktu di mana saja di muka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan posisi dalam fraksi
milimeter hingga meter. Kemampuan jangkauannya mencakup seluruh dunia dan dapat digunakan banyak
orang setiap saat pada waktu yang sama (Abidin,H.Z, 1995). Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS
adalah perpotongan ke belakang dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS
seperti gambar berikut:

Gambar

1.3.4.1. Sistem GPS


Untuk dapat melaksanakan prinsip penentuan posisi di atas, GPS dikelola dalam suatu sistem yang terdiri
dari 3 bagian utama, yaitu bagian angkasa, bagian pengontrol dan bagian pemakai, seperti gambar
berikut:

Gambar

1.3.4.1.1. Bagian Angkasa


Terdiri dari satelit-satelit GPS yang mengorbit mengelilingi bumi. Jumlah satelit GPS adalah 24 buah.
Satelit GPS mengorbit mengelilingi bumi dalam 6 bidang orbit dengan tinggi rata-rata setiap satelit ±
20.200 Km dari permukaan bumi.

Gambar

Setiap satelit GPS secara kontinu memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada 2 frekuensi L-band
(dinamakan L1 dan L2). Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup,
kemudian data yang diterima tersebut dapat dihitung untuk mendapatkan informasi posisi, kecepatan
maupun waktu.

1.3.4.1.2. Bagian Pengontrol


Adalah stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit yang berfungsi untuk memonitor dan mengontrol
kelayakan satelit-satelit GPS. Stasiun kontrol ini tersebar di seluruh dunia, seperti di Pulau Ascension,
Diego Garcia, Kwajalein, Hawai, dan Colorado Springs. Di samping memonitor dan mengontrol fungsi
seluruh satelit, ia juga berfungsi menentukan orbit dari seluruh satelit GPS.

Gambar

1.3.4.1.3. Bagian Pengguna


Adalah peralatan (Receiver GPS) yang dipakai pengguna satelit GPS, baik di darat, laut, udara
maupun di angkasa. Alat penerima sinyal GPS (Receiver GPS) diperlukan untuk menerima dan
memproses sinyal-sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan,
maupun waktu.
Secara umum receiver GPS dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Receiver militer
2. Receiver tipe navigasi
3. Receiver tipe geodetik
1.3.4.2. Metode-metode Penentuan Posisi dengan GPS
Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan satelit GPS adalah pengikatan ke belakang dengan
jarak, yaitu mengukur jarak ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Perhatikan
gambar berikut :

Gambar

Prinsip Dasar Penentuan Posisi dengan GPS (sumber Abidin H.Z)


Penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokan atas beberapa metode, di antaranya:
 Metode absolut,
 Metode relatif (differensial).

1.3.4.2.1. Metode Absolut


Penentuan posisi dengan GPS metode absolut adalah penentuan posisi yang hanya menggunakan sebuah
alat receiver GPS. Karakteristik penentuan posisi dengan cara absolut ini adalah sebagai berikut:

1. Posisi ditentukan dalam sistem WGS 84 (terhadap pusat bumi).


2. Prinsip penentuan posisi adalah perpotongan ke belakang dengan jarak ke beberapa satelit
sekaligus.
3. Hanya memerlukan satu receiver GPS.
4. Titik yang ditentukan posisinya, bisa diam (statik) atau bergerak (kinematik).
5. Ketelitian posisi berkisar antara 5 sampai dengan 10 meter.

Aplikasi utama metode ini untuk keperluan navigasi. Metode penentuan posisi absolut ini umumnya
menggunakan data pseudorange. Namun metode ini tidak dimaksudkan untuk aplikasi-aplikasi yang
menuntut ketelitian posisi yang tinggi.

1.3.4.2.2. Metode Relatif (Differensial)


Yang dimaksud dengan penentuan posisi relatif atau metode differensial adalah menentukan posisi suatu
titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui koordinatnya. Pengukuran dilakukan secara bersamaan
pada dua titik dalam selang waktu tertentu. Selanjutnya, data hasil pengamatan diproses dan dihitung
sehingga akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga dengan
baseline antar titik yang diukur.

Karakteristik umum dari metode penentuan posisi ini adalah sebagai berikut:

1. Memerlukan minimal dua receiver, satu ditempatkan pada titik yang telah diketahui koordinatnya.
2. Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.
3. Konsep dasar adalah differencing process, dapat mengeliminir atau mereduksi pengaruh dari
beberapa kesalahan dan bias.
4. Bisa menggunakan data pseudorange atau fase.
5. Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan dm.
6. Aplikasi utama: survei pemetaan, survei penegasan batas, survei geodesi dan navigasi dengan
ketelitian tinggi.

1.3.4.3. Ketelitian Penentuan Posisi dengan GPS

Penentuan posisi dengan GPS dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Ketelitian data terkait dengan tipe data yang digunakan, kualitas receiver GPS, level dari
kesalahan dan bias.
2. Geometri satelit, terkait dengan jumlah satelit yang diamati, lokasi dan distribusi satelit dan lama
pengamatan.
3. Metode penentuan posisi, terkait dengan metoda penentuan posisi GPS yang digunakan, apakah
absolut, relatif, DGPS, RTK dan lain-lain.
4. Strategi pemrosesan data, terkait dengan real-time atau post processing, strategi eliminasi dan
pengoreksian kesalahan dan bias, pemrosesan baseline dan perataan jaringan serta kontrol
kualitas.

1.3.4.4. Aplikasi-aplikasi GPS


Beberapa aplikasi dari GPS di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Survei dan pemetaan.
2. Survei penegasan batas wilayah administrasi, pertambangan dan lain-lain.
3. Geodesi, Geodinamika dan Deformasi.
4. Navigasi dan transportasi.
5. Telekomunikasi.
6. Studi troposfir dan ionosfir.
7. Pendaftaran tanah, Pertanian.
8. Photogrametri & Remote Sensing.
9. GIS (Geographic Information System).
10. Studi kelautan (arus, gelombang, pasang surut).
11. Aplikasi olahraga dan rekreasi.